Anda di halaman 1dari 18

2.

2 KENDALA-KENDALA DALAM MEWUJUDKAN KERUKUNAN

Dalam mewujudkan cita-cita luhur yaitu terciptanya kerukunan umat bergama , hal

tersebut mengalami berbagai kendala-kendala yang menjadikannya sulit untuk diwujudkan.

Adapun kendala-kendala yang dihadapi dalam mewujudkan hal tersebut adalah sebagai berikut :

1. Rendahnya Sikap Toleransi

Toleransi mengandung arti sikap saling menghargai, sikap yang pro kerukunan dan

kontra pada perpecahan. Toleransi terhadap agama – agama bukan berarti manyakini, apalagi

mengikuti ajaran agama – agama tersebut. Hal tersebut dikarenakan tiap agama mempunyai

pegangan dan keyakinan masing-masing. Masing-masing pihak tidak usah saling memaksa untuk

mengikuti kehendak masing-masing. Pada pada era modern ini masyarakat belum sepenuhnya

pemikirannya ikut modern dengan lebih bisa menghargai perbedaan. Sebagian orang

menganggap bahwa agama adalah urusan pribadi dengan Tuhannya. Namun, kesalahpahaman

sering terjadi disini. Yaitu bahwa masyarakat menganggap bentuk toleransi yang sebisanya di

aplikasikan yaitu dengan sikap cuek atau acuh tak acuh, seperti yang tidak mau tahu. Sikap

seperti ini mengarah pada sikap toleransi malas-malasan.

Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama

sekarang ini adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana

diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung

(indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif.

Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan.

Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda

keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain.


Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan

satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi

hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat

menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan

timbullah yang dinamakan konflik.

2. Kepentingan Politik

Faktor Politik, Faktor ini dapat menjadi salah satu kendala dalam mewujudkan sebuah

kerukunan terutama kerukunan antar umat beragama. Sebuah kerukunan yang telah dibangun

dengan dalam waktu lama bisa saja rusak karena dipengaruhi kepentingan politik. Kepentingan

politik dapat ikut serta memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan merusak hubungan

antaragama seperti yang sedang terjadi di Indonesia saat ini, dimana isu agama seringkali

digunakan dalam Pilkada.

3. Sikap Fanatisme

Sikap fanatisme timbul karena adanya kemajemukan sosial, sikap fanatik tak mungkin

ada tanpa didahului perjumpaan dua kelompok sosial. Dalam kemajemukan itu manusia

menemukan kenyataan bahwa ada orang yang segolongan dan ada yang berada di luar

golongannya. Kemajemukan itu kemudian melahirkan pengelompokan "ingroup" dan

"outgroup". Fanatisme dalam persepsi ini dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap orang-

orang yang sepaham, dan tidak menyukai kepada orang yang berbeda paham.Ketidaksukaan itu

tidak berdasar argumen logis, tetapi sekedar tidak suka kepada sesseorang yang tidak

segolongan. Sikap fanatik itu merupakan hal yang bias dimana seseorang tidak dapat lagi

melihat masalah secara jernih dan logis, disebabkan karena adanya masalah dalam sistem

persepsi.
2.3. SIKAP TERHADAP KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Ada beberapa sikap masyarakat dalam kaitannya dengan kerukunan antar umat

beragama. Yaitu :sikap eksklusif, inklusif, dan pluralis. Tiga sikap ini dipengaruhi oleh pola

pikir, pengalaman, visi serta kemampuan memahami perwujudan kasih bagi sesama manusia.

Perbedaan pandangam dan sikap seseorang terhadap agama yang dianutnya dan dianut oleh

orang lain, potensi konflik antar umat beragama menjadi sangat besar. Karena ekspresi

keberagaman

a. Eksklusivisme

Eksklusivisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran dan keselamatan

hanya ada di dalam agama Kristen, sedangkan tradisi agama lain di luar Kristen tidak

mendatangkan keselamatan.Agama-agama lain di luar kekeristenan dianggap tidak dapat

menyelamatkan, karena itu orang beragama lain harus dikristenkan. Eksklusivisme merupakan

karakteristik dari kebanyakan kelompok Kristen yang konservatif, terutama kalangan Injili. Salah

satu tokoh yang mewakili pandangan ini adalah Karl Barth. Eksklusivisme merupakan sikap

yang hanya mengakui agamanya sebagai agama yang paling benar dan baik. Sifat fanatisme

sempit seperti ini akan melahirkan berbagai konsekuensi, antara lain perpecahan, perseteruan

antar umat beragama, dan konflik. Bentuk eksklusivisme merupakan pola umum yang ada di

abad pertengahan dan makin menipis seiring dengan perkembangan paradigma berpikir dalam

masyarakat. Meskipun tak dapat disangkal bahwa sampai saat ini, sikap tersebut masih

mendominasi kelompok kecil pemeluk agama-agama.

b. Inklusivisme

Inklusivisme adalah sikap atau pandangan yang melihat bahwa agama-agama lain di luar

kekristenan juga dikarunia rahmat dari Allah dan bisa diselamatkan, namun pemenuhan
keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Kristus hadir dan berkeja juga di kalangan

mereka yang mungkin tidak mengenal Kristus secara pribadi. Dalam pandangan ini, orang-orang

dari agama lain, melalui anugerah atau rahmat Kristus, diikutsertakan dalam rencana

keselamatan Allah.

Inklusivisme terbagi dalam dua model, yakni model In Spiteof dan model By Meansof

Model In Spiteof, walaupun melihat institusi agama lain sebagai hambatan untuk

menerima keselamatan, tidak menolak bahwa ada kemungkinan bahwa orang-orang yang

beragama lain dapat diselamatkan oleh anugerah atau rahmat dari Allah. Sementara itu model By

Meansof bersikap lebih positif terhadap agama lain. Model ini melihat bahwa Allah juga

memberikan rahmat melalui Kristus di dalam agama-agama lain, dalam kepercayaan dan ritual-

ritual agama lain tersebut. Karena rahmat dan kehadiran Kristus di dalam diri dan mealalui

agama-agama lain, maka orang-orang beragama lain itu juga terorientasi ke dalam gereja

Kristen, dan disebut sebagai "Kristen Anonim". Pandangan ini dikemukakan oleh Karl

Rahner.Inklusivisme adalah sikap yang dapat memahami dan menghargai agama lain dengan

eksistensinya, tetapi tetap memandang agamanya sebagai satu-satunya jalan menuju

keselamatan.

c. Pluralisme

Pluralisme, adalah padangan bahwa Allah, yang disebut sebagai "Yang Nyata" (The

Real) dapat dikenal melalui bermacam-macam jalan.Semua agama menuju pada satu "Yang

Nyata" (The Real) yaitu Allah.[6] Yesus Kristus dilihat sebagai salah satu dari jalan keselamatan

di antara jalan-jalan keselamatan lain, bukan satu-satunya jalan keselamatan. John Hick adalah

salah satu tokoh yang menggunakan pandangan ini. Menurut Hick, "Yang Nyata" sebenarnya

adalah satu, namun7 dimaknai dalam berbagai simbol dan tradisi keagamaan yang berbeda-beda.
Pandangan ini dinilai mengesampingkan keunikan dalam agama-agama karena semua agama

disamakan. Pluralisme adalah sikap yang menerima, menghargai, dan memandang agama lain

sebagai agama yang baik serta memiliki jalan keselamatan. Dalam perspektif pandangan seperti

ini, maka tiap umat beragama terpanggil untuk membina hubungan solidaritas, dialog, dan

kerjasama dalam rangka mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan lebih berpengharapan.

2.5 PERAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK SIKAP YANG MENJAGA

KERUKUNAN

Hidup rukun di dalam suatu keluarga merupakan hal yang sangat penting karena di dalam

menjalani hidup, manusia sendiri sebagai makhluk sosial selalu memerlukan bantuan dari orang

lain, terutama dari keluarga terdekatnya. Tetapi dalam kehidupan keluarga, tidak jarang dijumpai

bahwa ada diantara anggota keluarga tersebut yang tidak rukun atau terjadi permasalahan.

Di dalam keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak ini pasti memiliki kepribadian yang

berbeda-beda. Oleh karena itu kerukunan dapat dimulai di dalam keluarga, agar tercipta

kehidupan yang harmonis, nyaman, dan tentram. Kerukunan tidak tercipta atau terpelihara begitu

saja secara tiba-tiba tapi merupakan kesadaran dan usaha dari masing-masing anggota keluarga

untuk bertanggung jawab menciptakan dan memelihara kerukunan.

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kerukunan antar anggota

keluarganya, diantaranya adalah :

1. Menumbuhkan toleransi

Toleransi dalam kehidupan keluarga sangatlah diperlukan, karena kerukunan didapatkan

dari adanya toleransi dari masing-masing anggota keluarga. Dengan adanya toleransi akan

membuat anggota keluarga itu dapat terhindar dari konflik. Misalnya jika ada saudara yang
berbeda keyakinan yang berkunjung maka haruslah disambut sebagaimana mestinya, terutama

dalam hal makanan.

2. Mengajarkan untuk saling menghargai

Dalam keluarga juga diperlukan adanya sikap saling menghargai. Misalnya antara adik

dan kakak, orang tuanya harus mengajarkan sikap saling menghargai jika adik dan kakak ini

terjadi perbedaan pendapat. Caranya bukan membiarkan mereka berkelahi untuk

mempertahankan argumen mereka. Peran orang tua haruslah mengajarkan mereka, untuk dapat

menerima dan menghargai pendapat orang lain.

3. Mengajarkan untuk saling menghormati

Dalam hubungan antar anggota keluarga, seorang anak haruslah dapat menghormati

orang tuanya, ataupun orang lain yang lebih tua darinya. Dengan ditumbuhkannya sikap

menghormati ini di dalam keluarga, maka anak maupun orang tua tidak akan semena-mena

dalam berinteraksi. Di keluarga merupakan tempat yang paling utama untuk mengajarkan kepada

anak sikap saling menghormati. Contohnya seorang anak yang berada di sekolah wajib

menghormati gurunya, dan juga teman-temannya agar tercipta suasana yang nyaman dalam

proses belajarnya.

4. Menciptakan suasana yang nyaman

Di dalam lingkungan keluarga, orang tua harus dapat melindungi dan memberikan rasa

nyaman saat berada di rumah. Dengan seperti itu anak akan lebih betah dirumah dan tidak akan

mencari perhatian dari luar karena rasa aman dan nyaman itu sudah ia dapatkan di rumah.

Misalnya menyediakan fasilitas yang baik untuk keperluan anak dan anggota keluarga yang

lainnya, memyempatkan diri untuk berkumpul bersama di suatu waktu senggang untuk sekedar

bercanda dan berbagi kisah.


5. Memberikan dukungan penuh

Seorang anak maupun orang tuanya sendiri pasti sangat senang jiga mendapat dukungan

dari orang terkasihnya. Anak pasti akan merasa memiliki tertantang untuk melakukan yang

terbaik agar dapat membahagiakan orang tuanya. Dukungan dapat memberikan motivasi untuk

sukses. Contohnya saat seorang anak akan mengikuti lomba, yang sangat diinginkannya adalah

seluruh orang yang dikasihinya dapat memberikan dukungan kepadanya.

6. Memahami hak dan kewajiban masing-masing

Anak dan orang tua masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Dalam membina

keluarga, orang tua haruslah memberikan hak yang akan diterima anak secara adil. Dengan

begitu anak tidak akan merasa iri dan dengki terhadap saudaranya sendiri, mereka juga secara

bertahap akan menjalankan kewajibannya di dalam keluarga itu.

7. Memperkuat kerukunan itu dengan komunikasi sesering mungkin

Komunikasi di dalam keluarga sangatlah diperlukan, walaupun pada kenyataannya

sekarang komunikasi itu sudah tergantikan oleh teknologi. Banyak orang tua yang sangat sibuk

sampai melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua, mereka jarang mengetahui

kabar anaknya dirumah karena kesibukannya itu. Seharusnya dalam mencapai kerukunan, orang

tua harus lebih banyak waktu bersama anggota keluarganya agar komunikasi itu terjalin.

Contohnya disaat liburan mengajak anak untuk berlibur, rekreasi, piknik, ataupun mengunjungi

saudaranya yang lain.

2.5 KERUKUNAN DALAM HUMA BETANG

Kalimantan Tengah memiliki tidak hanya budaya yang sangat beragam tetapi juga

agama, suku dan bahasa, Waalaupun demikian masyarakat Dayak Penduduuk asli Kalimantan
Tengah tetap menjaga persatuan agar perbedaan yang ada tidak menjadi masalah bagi mereka.

Adanya sikap toleransi di Kalimantan Tengah karena masyarakat yang masih menjunjung dan

menghayati Falsafah hidup Budaya Huma Betang.

Huma Betang adalah rumah adat masyarakat Kalimantan Tengah. Rumah yang dibangun

dengan cara gotong royong ini berukuran besar dan panjang mencapai 30 – 150 meter , lebarnya

antara 10-30 meter , bertiang tinggi antara 3-4 meter dari tanah. Penghuni Huma Betang bisa

mencapai seratusbahkan dua ratus jiwa yang merupakan satu keluarga besar dan dipimpin oleh

seorang Bakas lewu atauKepala Suku. Huma Betang dibuat tinggi dengan maksud untuk

menghindari dari banjir, serangan musuh, dan juga binatang buas. Lantai dan dindingnya terbuat

dari kayu , sedangkan dibagian atap terbuat dari sirap. Kayu yang dipilih untuk membangun

Huma Betang ini ialah kayu ulin selain ati rayap , kayu ulin mampu bertahan hingga ratusan

tahun. Huma Betang atau rumah Betang merupakan rumah yang panjangnya rata-rata 30—150

meter, dengan material hampir seluruhnya terbuat dari kayu dengan resistensi tinggi terhadap

cuaca. Tinggi tiangnya mencapai 2—3 meter dari permukaan tanah. Ia dihuni oleh 100—200

orang (Depdikbud 1978).

Pada masa lalu, huma betang telah mengemban fungsi ideal sebagai tempat berlindung

(shelter) bagi masyarakat suku Dayak. Selain fungsi tersebut, ia juga merupakan sarana

pemupukan nilai-nilai budaya komunal dengan ikatan solidaritas dan toleransi yang tinggi bagi

sesama penghuninya. Didirikannya huma betang (Kalimantan Tengah) secara analitis setidaknya

atas dasar naluriah manusiawi manusia akan kebutuhan terhadap rasa aman dari berbagai

ancaman eksternal. Ancaman eksternal tersebut berupa serangan binatang buas—untuk itu

didirikan agak tinggi, 2—3m, serangan cuaca (banjir), lebih mudah memantau serangan musuh

(bdk. Coomans 1987; Depdikbud 1978) (asang dan kayau), dan pemerolehan sirkulasi udara
pada kolong rumah yang memadai. Di samping itu, pada bagian kolongnya yang tinggi tersebut

tercermin berbagai kegiatan komunal (kegiatan milik umum) yang terpadu, misalnya sebagai

tempat anak-anak bermain, para ibu bercengkerama dan sebagai tempat pengolahan hasil

pertanian manakala musim panen tiba. Proses hidup dan berkehidupan berawal dari huma

betang, yang di dalamnya telah diatur sedemikian rupa agar tercipta kehidupan yang selaras,

serasi dan seimbang, antara sesama penghuni, dengan masyarakat lainnya, dengan alam, serta

dengan Sang Pencipta.

Ruang-ruang komunal (Ruang ruang milik umum atau publik) yang tercipta

mengedepankan transformasi nilai-nilai etik dan kebudayaan yang egaliter (sederajat). Hal ini

dapat dilihat dari fungsionalitas interior yang diperuntukkan bagi kebutuhan tersebut, misalnya

terdapat ruang untuk bermusyawarah dan berinteraksi (ruang publik), kamar-kamar penghuni

(ruang privat), los-los serta bagian dapur sebagai tempat pemenuhan kebutuhan penghuninya. Di

dalamnya terdapat aturan-aturan (biasanya tidak tertulis) dan berupa pantangan-pantangan

(pamali) sebagai bimbingan moral (moral guidance) yang mendorong penghuninya harus sadar

untuk melakukan dan tidak boleh melakukan sesuatu yang melanggar norma-norma yang luhur

dan menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Huma Betang tidak saja sebagai simbol kebudayaan

Dayak atas transformasi nilai-nilai dan kebudayaan yang diwarisi kepada generasi kini, Huma

Betang sekaligus merupakan kearifan tradisional masa lalu yang memberikan sumbangsih bagi

tatanan dan refleksi atas pengelolaan sistem kehidupan yang majemuk pada masa kini. Huma

Betang sebagai filosofi hidup memandang perbedaan sebagai mozaik bagi kekayaan—kekayaan

huma betang yang multidimensi dengan aneka latar belakang, agama, dan status sosial

penghuninya. Kehidupan yang tiada membeda-bedakan, egaliter, dan perspektif gender yang

dulu didengungkan. Falsafah hidup budaya Hidup Huma Betang yang diartikan sebagai ‘di mana
bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Falsafah hidup budaya Hidup Huma Betang tertuang

dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 tentang

Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah, Pasal 10 Ayat 2 Huruf e yang berbunyi

“.....selalu mengingatkan dan mendorong agar seluruh warga masyarakat adat Dayak ikut

bertanggung jawab dalam menjaga, melestarikan, mengembangkan, dan membudayakan falsafah

hidup budaya Huma Betang atau Belom Bahadat.

Falsafah hidup Huma Betang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat

suku Dayak, dimana konteks kebudayaan masa lampau dipahami bersama dan dipegang sebagai

falsafah bersama dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah. Budaya Huma Betang

atau Belom Bahadat merupakan sikap hidup yang menjunjung tinggi norma, serta sifat toleran

dan saling menghargai. Hal ini sejalan dengan penjelasan Pasal 10 Ayat 2 Huruf e Peraturan

Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 mengenai pengertian falsafah hidup

budaya Huma Betang atau Belom Bahadat adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi

kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum (hukum negara, hukum

adat dan hukum alam). Apabila telah mampu melaksanakan perilaku hidup Belom Bahadat,

maka akan teraktualisasi dalam wujud belom bahadat hinje simpei yaitu hidup berdampingan,

rukun dan damai untuk kesejahteraan bersama.

Budaya Huma Betang sebagai kearifan lokal mengandung nilai-nilai positif yang dapat

mendukung pembinaan rasa persatuan dan kesatuan bangsa di tengah masyarakat Indonesia yang

multikultural, secara khusus penduduk di Kalimantan Tengah yang juga multikultural. Huma

Betang memiliki nilai nilai kehidupan yang sangat dalam dan mendasar dalam kehidupan saat

ini, nilai nilai terebut antara lain adalah :


1. Hidup rukun dan damai walaupun terdapat banyak perbedaan.

Huma Betang dihuni oleh 1 keluarga besar yang terdiri dari berbagai agama dan

kepercayaan, namun mereka selalu hidup rukun dan damai. Perbedaan yang ada tidak dijadikan

alat pemecah diantara mereka. Seiring dengan berkembangnya zaman , masyarakat Dayak sudah

mulai meninggalkan rumah adatnya dan beralih kepada tempat tinggal yang lebih modern.

Walaupun demikian keharmonisan tidak hanya terjadi di Huma Betang. Tetapi di dalam

masyarakat yang selalu menjaga keharmonisan itu dengan cara saling hormat menghormati dan

juga sikap toleransi.

2. Bergotong Royong.

Perbedaan yang ada tidak membuat penghuni Huma betang memikirkan kelompoknya

sendiri. Mereka salalu bahu-membahu dalam melakukan sesuatu, misalnya apabila ada

kerusakan di Huma Betang . mereka bersama-sama memperbaikinya , tidak memandang agama

ataupun suku. Tidak hanya di Huma Betang,tetapi masyarakat juga dapat bahu-membahu dalam

membangun daerahnya tidak memandang suku bahkan agama.

3. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan kekeluargaan.

Pada dasarnya setiap penghuni rumah menginginkan kedamaian dan kekeluargaan. Apabila

ada perselisihan akan di cari pemecahnya dengan cara damai dan kekeluargaan. Begitu pula di

Huma Betang , masyarakat Dayak cinta damai dan mempunyai rasa kekeluargaan yang tinggi.

4. Menghormati Leluhur.

Setelah masuknya agama-agama baru seperti Hindu, Kristen, dan Islam, banyak masyarakat

Dayak berganti kepercayaan. Walaupun demikian masih ada sebagian dari mereka yang

menganut agama nenek moyang yaitu Kaharingan. Untuk menghormati leluhur mereka ,
masyarakat suku Dayak melakukan upacara adat. Upacara adat tersebut terdiri dari ritual

membongkar makam leluhur dan membersihkan tulang belulangnya untuk kemudian disimpan di

dalam sanding yang telah dibuat bersama-sama.

2.6 CARA MEWUJUDKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

Kerukunan hidup umat beragama di Indonesia dipolakan dalam Trilogi Kerukunan yaitu:

1. Kerukunan intern masing-masing umat dalam satu agama Ialah kerukunan di antara aliran-

aliran / paham-paham /mazhab-mazhab yang ada dalam suatu umat atau komunitas

agama.Kerukunan intern umat beragama berarti adanya kesepahaman dan kesatuan untuk

melakukan amalan dan ajaran agama yang dipeluk dengan menghormati adanya perbedaan

yang masih bisa ditolerir. Misal dalam protestan ada GBI, Pantekosta dsb. Dalam katolik ada

Roma dan ortodoks.Dalam islam ada NU, Muhammadiyah, dsb. Hendaknya dalam intern

masing-masing agama tercipta suatu kerukunan dan kebersatuan dalam masing-masing

agama.

2. Kerukunan di antara umat / komunitas agama yang berbeda-beda Ialah kerukunan di antara

para pemeluk agama-agama yang berbeda-beda yaitu di antara pemeluk islam dengan

pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Kerukunan antar umat beragama

adalah menciptakan persatuan antar agama agar tidak terjadi saling merendahkan dan

menganggap agama yang dianutnya paling baik. Ini perlu dilakukan untuk menghindari

terbentuknya fanatisme ekstrim yang membahayakan keamanan, dan ketertiban umum.

Bentuk nyata yang bisa dilakukan adalah dengan adanya dialog antar umat beragama yang

didalamnya bukan membahas perbedaan, akan tetapi memperbincangkan kerukunan, dan


perdamaian hidup dalam bermasyarakat. Intinya adalah bahwa masing-masing agama

mengajarkan untuk hidup dalam kedamaian dan ketentraman.

3. Kerukunan antar umat / komunitas agama dengan pemerintah Ialah supaya diupayakan

keserasian dan keselarasan di antara para pemeluk atau pejabat agama dengan para pejabat

pemerintah dengan saling memahami dan menghargai tugas masing-masing dalam

rangka membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang beragama.Terakhir adalah

kerukunan umat beragama dengan pemerintah, maksudnya adalah dalam hidup beragama,

masyarakat tidak lepas dari adanya aturan pemerintah setempat yang mengatur tentang

kehidupan bermasyarakat. Masyarakat tidak boleh hanya mentaati aturan dalam agamanya

masing-masing, akan tetapi juga harus mentaati hukum yang berlaku di negara Indonesia.

Bahwasanya Indonesia itu bukan negara agama tetapi adalah negara bagi orang yang

beragama.

Menciptakan kerukunan umat beragama baik di tingkat daerah, provinsi, maupun pemerintah

merupakan kewajiban seluruh warga negara beserta instansi pemerintah lainnya. Mulai dari

tanggung jawab mengenai ketenteraman, keamanan, dan ketertiban termasuk memfasilitasi

terwujudnya kerukunan umat beragama, menumbuh kembangkan keharmonisan saling

pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama bahkan

menertibkan rumah ibadah.

Wujud nyata sikapKerukunan antar umat beragama berdasarkan trilogi diatas adalah sebagai

berikut

1. Saling hormat menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.


2. Saling hormat menghormati dan bekerja sama intern pemeluk agama, antar berbagai golongan

agama dan umat-umat beragama dengan pemerintah yang sama-sama bertanggung jawab

membangun bangsa dan Negara.

3. Saling tenggang rasa dan toleransi dengan tidak memaksa agama kepada orang lain. Sikap

tenggang rasa, menghargai, dan toleransi antar umat beragama merupakan indikasi dari

konsep trilogi kerukunan.

2.8 PANDANGAN ALKITAB TENTANG KERUKUNAN

Dalam komunitas yang terdiri dari berbeda-beda kebudayaan dan latar belakang memang

sulit untuk mendapatkan kerukunan dan menyatukan pikiran. Juga dalam gereja, yang terdiri dari

berbagai-bagai latar belakang, sulit untuk merukunkan walaupun sama-sama percaya kepada

Yesus. Alkitab menyatakan bahwa kerukunan itu bukan berasal dari kita tapi diberikan oleh

Tuhan (karunia). Manusia yang berdosa sulit untuk rukun, tetapi oleh berkat Tuhan bisa rukun.

Jadi semua hal-hal baik dalam kehidupan Kristiani adalah pemberian Tuhan. Supaya

terwujudnya kerukunan itu kita harus: meminta kepada Tuhan dan berdoa. Kunci meminta dan

berdoa kepada Tuhan yaitu percaya, dengan iman. Dalam Alkitab, mengenai kerukunan antar

umat beragama terdapat pada beberapa nats, yaitu :

-Mazmur 133:1-3

(1) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara

diam bersama dengan rukun!

(2) Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun

dan ke leher jubahnya.


(3) Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah

TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Dalam Mazmur 133:1-3 ini menyatakan bahwa kerukunan itu baik dan indah. Di mana

setiap orang dapat merasakan kebaikan dari kerukunan bagi dirinya sendiri, bagi satu dengan

yang lainnya menjadi berkat bukan menjadi batu sandungan, dan kerukunan itu merupakan

berkat Tuhan yang akan menjadikan orang-orang merasakan kedamaian dan kebahagiaan.

-Amsal 10:12, Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Dalam ayat ini kita diingatkan bahwa kerukunan atau harmoni dalam kehidupan tidak

pernah terjadi dengan sendirinya atau otomatis melainkan harus diusahakan secara sengaja dan

serius. Bagaimanapun kondisi hati kita maka akan mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Hati

yang dipenuhi rasa benci, walaupun tidak kita perlihatkan, akan membawa dampak hubungan

yang rusak dengan orang lain. Sebaliknya hati yang diliputi kasih justru akan melakukan segala

hal yang diperlukan agar terjalin hubungan yang sehat. Satu hal yang dapat menciptakan

kerukunan yaitu dengan sikap saling menerima dan saling menghormati dalam keunikan dan

kepribadian masing-masing.

Dalam Ayat yang lain juga dijelaskan tentang panndangan Alkitab mengenai kerukunan yaitu

pada :

- Roma 15:7. "Oleh sebab itu terimalah satu akan yang lain sama seperti Yesus menerima kita."

Kita semua orang berdosa, kita yang seharusnya binasa tetapi Yesus merangkul kita. Tuhan

menerima semua suku, semua kaum dan bahasa. Untuk itu kita harus bisa menerima satu akan

yang lain, supaya terwujud kerukunan dan berkat-berkat-Nya Tuhan perintahkan kepada kita.

- Imamat 19:33-34 - (33) Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu

menindas dia. (34) Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel
asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di

tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa jika ada orang asing yang tinggal di dalam rumah kita

sekalipun orang itu berbeda keyakinan, maka haruslah kita berbuat baik dan hidup rukun agar

tidak terjadi perselisihan dan tidak ada perbuatan-perbuatan yang akan menyakiti perasaan orang

lain. Tuhan juga menginginkan kita unuk selalu hidup rukun dengan siapapun juga walaupun

orang itu berbeda keyakinan. Kita sebagai orang Kristen diajarkan untuk tidak memilih-milih

teman untuk berhubungan, melainkan akan selalu mencoba untu hidup rukun dan bertoleransi

dengan sesama.

Pada beberapa bagian dari Alkitab ini memberikan penjelasan mengenai bagaimana perlakuan

umat Allah yang semestinya terhadap kelompok orang yang berbeda dari mereka, yaitu dengan

menyatakan kasih persaudaraan kepada mereka. Pada contoh lain yang terdapat dalam Perjanjian

Baru yaitu Kisah orang Samaria yang murah hati (Luk 10:29-37).

Cerita ini begitu dikenal mengingat latar belakang konflik yang terjadi antara orang Yahudi

dan orang Samaria saat itu. Sejarah mencatat bahwa terjadi lebih dari satu kali konflik yang ada

kekerasan dan penindasan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Dimana orang-orang Yahudi

tidak ingin berhubungan dengan orang-orang Samaria, mereka sama sekali tidak ingin untuk

menginjakkan kakinya di tanah orang Samaria. Bangsa Samaria dianggap sebagai bangsa yang

tidak berkenan dihadapan Tuhan. Tetapi menariknya adalah Yesus menceritakan seorang

Samaria yang menolong orang yang dirampok para penjahat yang sangat besar kemungkinan

adalah orang Yahudi, seorang yang adalah musuh bangsanya maupun agamanya. Maka di sini

jelas Tuhan Yesus mengajarkan bahwa di dalam hal menolong atau berbuat baik kepada orang

lain, perbedaan agama/kepercayaan tidak boleh menjadi halangan.


- Gal 6:10 - Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik

kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Dasar-dasar Alkitab bagi kehidupan manusia yang bertoleransi dengan orang-orang beragama

lain. Dengan demikian seorang Kristen haruslah orang yang bisa hidup bertoleransi dan rukun

dengan kelompok-kelompok lain yang seiman maupun yang berbeda keyakinan.

B. Hukum kasih

Matius 22: 36 - 40

(36) "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (37) Jawab Yesus

kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan

dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan

hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu

sendiri. (40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Hukum yang pertama dan terutama adalah :”Mengasihi Allah”. Sedangkan hukum yang kedua

adalah “Mengasihi sesamamu manusia.” Yesus menegaskan bahwa hukum yang kedua adalah

“sama dengan itu” yaitu sama dengan hukum yang pertama, jadi hukum yang kedua juga adalah

hukum yang sama-sama pentingnya.

Kalau kasih sudah ada di hati kita maka kita akan mudah melaksanakan perintah-perintah

itu. Kita diajarkan Oleh Tuhan Yesus untuk saling mengasihi, termasuk mengasihi musuh kita

seperti yang terdapat dalam Matius 5:43-44: (43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah

sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah

musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (45) Karena dengan demikianlah
kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang

jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak

benar.

Dalam pengajaran Yesus tentang kasih terdapat unsur pengakuan terhadap keterikatan

manusia secara keseluruhan sebagai anak-anak Bapa. Kasih memikirkan yang baik bagi orang

lain bukan hanya mementingkan diri sendiri. Dengan demikian hubungan manusia dengan Allah

maupun dengan sesamanya akan baik.