Anda di halaman 1dari 2

Penatalaksanaan Ekstraksi Gigi

DM bukan merupakan kontra indikasi untuk setiap perawatan kedokteran gigi terutama
dalam tindakan operatif seperti pencabutan gigi, kuretase pada poket dan sebagainya. Bila
penderita dibawah pengawasan dokter ahli sehingga keadaannya terkontrol maka hal ini tidak
menjadi masalah bagi dokter gigi untuk melakukan perawatan gigi dan mulut penderita tersebut.
Tetapi walaupun demikian ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan
perawatan yang dapat menentukan keberhasilan perawatan, antara lain kadar gula dalam darah dan
urin penderita, keadaan umum penderita dan asepsis (Sonis ST et al., 1995). Penatalaksanaan
ekstraksi gigi pada penderita DM harus dilakukan dengan hati-hati, karena tindakan invasif tanpa
pengendalian gula darah dapat berakibat fatal.
Pasien yang mengetahui dirinya menderita DM harus diketahui jenis yang dideritanya,
perawatan yang pernah dilakukan, kontrol yang memadai pada Dmnya, dan adanya komplikasi
pada syaraf, vaskuler, ginjal, dan infeksi lainnya.
Pasien harus di anamnesa secara spesifik tentang riwayat penyakit ini, kejadian
hipoglikemik, ketoasidosis dan lain sebagainya. Bagi pasien yang melakukan pemeriksaan glukosa
darah di rumah, hasil dari pengujian glukosa darag yang terbaru harus dicatat.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, pasien dapat dikelompokkan ke dalam kategori
kelompok resiko spesifik (Sonis ST et al., 1995), yaitu:
 Pasien dengan resiko rendah
Yaitu kontrol metaboliknya baik dengan obat-obatan yang dalam keadaan stabil,
asimtomatik, dan tidak ada komplikasi.
 Pasien dengan resiko menengah
Yaitu memiliki simptom yang sama namun berada dalam kondisi metabolik yang
seimbang. Tidak terdapat riwayat hipoglikemik atau ketoasidosis.
 Pasien dengan resiko tinggi
Yaitu memiliki banyak komplikasi dan kontrol metaboliknya sangat buruk, seringkali
mengalami hipoglikemi atau ketoasidosis dan sering membutuhkan injeksi insulin.

Ekstraksi gigi pada pasien dengan DM resiko rendah membutuhkaan perhatian khusus pada
kontrol diet, mengurangi stres, dan resiko infeksi pada seluruh prosedur pembedahan. Biasanya,
tidak dibutuhkan penyesuaian pada terapi insulin. Begitu juga ekstraksi gigi pada pasien DM
dengan resiko menengah, membutuhkan kontrol diet, stres, dan infeksi namun pelaksanaan
ekstraksi gigi hanya dapat dilakukan setelah konsultasi dengan dokter yang merawat pasien atau
dokter spesialis penyakit dalam. Untuk tindakan bedah yang lebih besar dan reseksi gingiva perlu
dipertimbangkan teknik sedasi tambahan dan perawatan dalam rumah sakit (Hendrayani Kiki,
2008).
Sedangkan pada pasien dengan resiko DM tinggi, tidak dapat dilakukan perawatan dental
terlebih dahulu termasuk ekstraksi gigi, diharuskan memperoleh perawatan pendahuluan untuk
menurunkan tingkat stress. Seluruh tindakan perawatan dilakukan bila kondisi medis dalam
keadaan stabil. Pengecualian yang penting pada pasien DM terkontrol, tetapi mengalami infeksi
gigi yang aktif maka tindakan yang dilakukan berupa kontrol terhadap infeksi tersebut
(Hendrayani Kiki, 2008).

Sonis ST. Fazio RC. Fang L. Principles and practise of oral medicine 2nd edition. WB saunders.
Phyladelphia. 1995: 131
Kiki Hendrayani. 2008. Penatalaksanaan Gigi dan Mulut Penderita DM. 2005.USU: e-repository
diakses tanggal 10 januari 2014.