Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Ultrasonography (USG) merupakan salah satu imaging diagnostic untuk

pemeriksaan alat-alat tubuh, dimana bisa dipelajari bentuk, ukuran anatomis,

gerakan, serta hubungan dengan jaringan sekitarnya. Pemeriksaan ini bersifat

nonivasif, tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien, dapat dilakukan dengan

cepat, aman dan data yang diperoleh memiliki nilai diagnostic yang tinggi

Penggunaan ultrasonography (USG) dalam mendeteksi kelainan pancreas

menempati posisi yang penting, atas dasar kerjanya yang non invasive dan dapat

dikerjakan setiap saat tanpa banyak persiapan. USG cukup spesifik dan sensitive

dalam mendeteksi adanya kelaianan pada pancreas.

Ultrasonography dapat menentukan keadaan patologis pancreas seperti ;

pancreatitis akut, pancreatitis kronik, pseudokista pancreas, dan karsinoma

pancreas.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

USG (Ultrasonography)
USG adalah suatu alat yang memanfaatkan gelombang ultrasonic, yaitu
gelombang suara yang memiliki frekuensi tinggi (250 kHz – 2000 kHz), untuk
pemeriksaan organ-organ dalam tubuh dalam memperlajari bentuk, ukuran
anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya.
Komponen USG :
1. Pulser, alat yang berfungsi sebagai penghasil tegangan untuk merangsang
Kristal transduser dan membangkitkan pulsa ultrasound.
2. Transducer, komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang
diperiksa yang akan memancarkan sekaligus menerima gelombang suara.
3. Monitor
4. Mesin USG, sebagai pengolah data yang diterima dalam bentuk
gelombang diubah menjadi gambar

Prinsip kerja USG :


Transducer berfungsi sebagai pemancar sekaligus penerima gelombang
suara. Pulsa listrik yang dihasilkan oleh generator diubah menjadi energi akusitik
oleh transducer yang akan dipancarkan dengan arah tertentu pada bagian tubuh
yang akan diperiksa. Sebagian gelombang akan dipantulkan dan sebagian lagi
akan merambat menembus jaringan yang akan menibulkan berbagai macam
pantulan sesuai jaringan. Pantulan (echo) yang berasal dari jaringan akan
membentur transducer dan kemudian diubah menjadi pulsa listrik oleh kristal-
kristal dalam transduser lalu diperkuat. Selanjutnya diperlihatkan dalam bentuk
cahaya pada layar oscilloscope.

Interpretasi USG :
Prinsip interpretasi gambar dalam USG berdasarkan kepada kekuatan ata
intensitas gelombang yang dipantulkan kembali oleh jaringan ke transduser.
Masing-masing jaringan tubuh mempunyai impedance acoustic tertentu.
Dalam jaringan yang heterogen akan menimbulkan bermacam-macam bayangan

2
echo, jaringan tersebut dikatakan echogenic. Sedangkan jaringan yang homogen
atau sama sekali tidak ada echo disebut anecho atau echofree. Suatu rongga yang
berisi cairan bersifat anechoic, misal kista, asites, pembuluh darah besar,
pericardial dan pleural effusion.

1. Putih (hyperechoic/hyperechoigenic) : tulang, udara, benda keras.

Gambar 1. Hyperechoic pada Vertebrae Fetus

2. Abu-abu (hypoechoic) : jaringan lunak (hepar otak, uterus, renal).

3
Gambar 2. Hypoechoic Hepar

3. Hitam (anechoic/anechoigenic) : cairan dan sejenisnya.

Gambar 3. Anechoic pada Efusi Pleura Dextra

Artefak dalam diagnostic USG penting diketahui dan dipahami agar tidak
terjadi kesalahan dalam interpretasi gambar.
1. Acoustic shadowing.

4
Tulang dan udara bersifat menghambat laju suara, mengakibatkan
timbulnya garis echogenic yang kuat pada permukaan struktur jaringan,
sebaliknya hal ini mengakibatkan tidak ada jaringan apapun yang dapat
terdeteksi di bawah bagian tersebut.
Acoustic shadowing berguna diantaranya untuk deteksi batu di ginjal atau
vesica urinaria, tertimbunnya udara dalam saluran pencernaan.

Gambar 4. Acoustic Shadowing pada Nephrolithiasis

2. Acoustic/distant enhancement
Gelombang suara diteruskan tanpa impedansi ketika melalui cairan, oleh
karena itu ditemukan area terang dibawah cairan.
Artifact ini sangat berguna untuk konfirmasi organ-organ yang berbentuk
“kantong” dan berisi cairan.

5
Gambar 5. Acoustic/Distant Enhancement pada Ascites dan Vesika
Urinaria.

3. Reverberation
Artefak terjadi pada jaringan dengan derajat refleksi interface yang tinggi,
seperti pada interface jaringan lunak-udara atau cairan-udara. Echo yang
kembali ke transduser akan direfleksikan kembali masuk ke jaringan
tubuh. Proses ini terjadi beberapa kali menghasilkan multiple image
paralel si sekeliling/sekitar organ.

Gambar 6. Reverberation

4. Mirror image artifact

6
Artefak ini juga terjadi pada interface yang bersifat highly reflective, yaitu
jaringan lunak-udara atau cairan-udara, misalnya diafragma denga paru.
Prinsip terjadinya artefak ini sama dengan reverberation yang multiple.

Pemakaian Klinis USG untuk mebantu diagnosis dalam berbagai kelainan

organ tubuh. USG digunakan antara lain untuk :

 menemukan dan menentukan letak massa dalam rongga perut dan pelvis.

 Membedakan kista dengan massa yang solid

 Mempelajari pergerakan organ (Jantung, Aorta, vena cava), maupun

pergerakan janin dan jantungnya

 Pengukuran dan penentuan volum. Pengukuran Aneurisma arterial, fetal

sefalometri, menentukan kedalaman dan letak suatu massa ataupun organ tubuh

tertentu.

 Menentukan perencanaan dalam suatu radioterapi. berdasarkan besar tumor

dan posisinya, dosis radioteraphy dapat dihitung dengan cepat. besar dan posisi

tumor dapat juga ditentukan.

A. USG PANKREAS

1. Indikasi Pemeriksaan USG pada pancreas adalah :

 evaluasi pasien dengan :

 nyeri epigastrik

 massa tumor di daerah epigastric

 pasien dengan diagnosis klinis pancreatitis

 untuk mencari komplikasi bedah pada pancreatitis,

misalnya, abses atau pseudokista

7
 Serial ultrasonogram yang dibuat untuk mengevaluasi keadaan

proses penyembuhan suatu pancreatitis

2. Teknik Pemeriksaan

 Persiapan pasien

Untuk menghindari masalah yang timbul karena udara dan

makanan dalam usus, maka pemeriksaan dilakukan pada waktu

pagi hari dalam keadaan pasien puasa 6 jam.

 Transduser

Pada umumnya untuk mendapatkan hasil gambaran pancreas

dan daerah sekitarnya digunakan transduser 3,5 MHz; untuk

pasien yang gemuk dapat digunakan transduser 2,25 MHz

 Cara pemeriksaan

Pasien diperiksa dalam keadaan terlentang (supine).

Pemeriksaan dimulai dengan irisan membujur (longitudinal)

yang dibuat kira-kira bagian tengah sepanjang aksis vena cava,

biasanya akan memperlihatkan kaput pancreas yang terletak

anterior dari vena cava inferior dan sedikit caudal dari vena

porta.

Untuk memperlihatkan korpus dan kauda dapat dipergunakan

potongan melintang (transversal) yang dibuat melalui lobus kiri

hati sebagai acoustic window.

3. Gambaran Normal USG Pankreas

 Ukuran pancreas

8
Ukuran pancreas yang normal amat bervariasi. pada beberapa

kasus, pancreas tampak rata dan tipis, tidak lebih dari 1 cm

tebalnya, pada yang lain terlihat bagian kaput yang gemuk

dengan kauda yang kurus menyerupai kecebong. Bentuk lain

dapat pula dijumpai kaput dan korpus yang tipis dengan bagian

kauda agak bulat.

Pada keadaan normal, tebal antero-posterior pancreas dapat

diambil batas maksimumnya yaitu 3cm. tebalnya korpus

pancreas sekitar 10-30 mm, tebalnya kauda 24-32 mm. ukuran

tersebut diambil pada posisi transversal.

 Struktur Eko Jaringan pancreas

Struktur eko dan densitas pancreas pada orang muda umumnya

akan memperlihatkan eko yang teratur dengan densitas sedang

sedikit lebih tinggi daripada eko parenkim hati

pada orang yang lebih tua akan tampak densitas eko yang lebih

tinggi lagi bila dibandingkan dengan hati dan kadang-kadang

bisa memberikan gambaran yang sedikit heterogen.

9
 Duktus Pankreatikus

Duktus Pancreaticus dapat dilihat pada kebanyakan pasien,

yaitu berupa suatu garis ekodens yang berjalan dibagian tengah

10
pancreas pada potongan transversal atau berupa suatu struktur

tubuler, sonolusen (echofree) yang lebarnya 1 -1,5 mm.

4. Gambaran USG Patologis Pankreas

 Pankreatitis Akut

Definisi

Pankreatitis akut adalah inflamasi pankreas yang biasanya

terjadi akibat alkoholisme dan penyakit saluran empedu seperti

kolelitiasis dan kolesistisis

Etiologi

Batu Empedu, Alkoholisme , Obat-obat, seperti furosemide

dan azathioprine, Gondongan (parotitis) , Kadar lemak darah yang

tinggi, terutama trigliserida, Kerusakan pankreas karena

pembedahan atau endoskopi , Kerusakan pankreas karena luka

tusuk atau luka tembus, Kanker pankreas , Berkurangnya aliran

darah ke pankreas, misalnya karena tekanan darah yang sangat

rendah, Pankreatitis bawaan .

Patofisiologi

Pankreatitis akut dimulai sebagai suatu proses autodigesti

di dalam kelenjar akibat aktivasi prematur zimogen (precursor dari

enzim digestif) dalam sel-sel sekretor pankreas (asinar), sistem

saluran atau ruang interstisial. Patogenesis yang pasti tidak

diketahui, tetapi dapat meliputi udem atau obstruksi dari ampula

Vateri yang mengakibatkan refluks isi duodenum atau cairan

11
empedu ke dalam saluran pankreas atau trauma langsung pada sel-

sel asinar. Keadaan ini akan menyebabkan kerusakan sel-sel asinar

dan nekrosis, udem dan inflamasi. Selain aktivasi enzim digestif

tersebut, stres oksidatif dan gangguan mikrosirkulasi juga

merupakan contributor yang penting pada kerusakan pankreas.

Perluasan dari proses inflamasi keluar pankreas akan menimbulkan

komplikasi- komplikasi setempat dan dapat mengakibatkan

berbagai penyulit sistemik seperti komplikasi kardiovaskuler (hipo-

volemia, syok), ginjal (gagal ginjal), hematologi (DIC, trom-

bosis), paru (ARDS, gagal paru), metabolik (hipokalsemia,

hiperglikemia, hipertrigliseridemi, asidosis metabolik), perdarahan

gastrointestinal.

 Gejala pancreatitis Akut

Keluhan yang sangat menyolok adalah rasa nyeri yang

timbul tiba-tiba, intens, terus menerus dan makin lama makin

bertambah; lokasinya kebanyakan di epigastrium, dapat menjalar

ke punggung, kadang-kadang ke perut bagian bawah, nyeri

berlanngsung beberapa hari. Gejala lain yakni mual, muntah-

muntah dan demam

 Gambaran USG Pankreatitis akut

Bila Intensitas eko pancreas lebih rendah daripada intensitas

eko hati, maka hal ini merupakan suatu keadaan yang abnormal.

Pada peradangan pancreas akan terjadi pembengkakan yang

menyeluruh karena edema sehingga pancreas akan membesar dan

12
intensitas ekonya kan berkurang bahkan kadang-kadang bisa

hampir sonolusen (echofree). Batas pancreas menjadi kabur dan

irregular. Pada irisan transversal tampak pembesaran yang merata

disemua bagian pancreas. Pembesaran yang bersifat local biasanya

ditemukan pada karsinoma

B. USG HEPAR

Hal-hal yang penting yang harus diperhatikan waktu melakukan USG


hati adalah :

1. Permukaan hati : Parameter ini menurut penelitian paling besar artinya.


Permukaan hati dapat bersifat :

 Rata (smooth)
 Tidak rata lagi (fine irrigular)
 Nodular

2. Tepi dari hati (liver edge) :

 Tajam rata (sharp smooth)


 Tajam tidak rata ( sharp irrigular)
 Tumpul rata ( blunt smooth)
 Tumpul tidak rata ( blunt irrigular)

3. Ukuran hati : Normal, membesar atau mengkerut.

4. Echolevel :

 Hypoechoic ( echo rendah )

atau sering disebut dark liver

 Isoecho (echo normal)


 Slight hyperechoic(echo agak meningkat)
 Hyperechoic (echo tinggi) sering juga disebut bright liver

Dark liver didapatkan pada hepatitis acut karena udema hati sehingga

mudah meneruskan gelombang suara.

13
Brigth liver didapatkan pada fatty liver.
Perubahan echolevel pada hati sering juga dinyatakan sebagai livervkidney
contrast.
Liver kidney contrast : Perbedaan echopattern hati dibandingkan dengan ginjal :
Positif : Parenkim hati lebih putih dibandingkan parenkim ginjal.
Negatif : Echopattern antara ginjal dan berbeda.
5. Echopatrn :
 Normal
 Kasar
 Diffuse atau homogin
 Heterogin
6. Dinding pembuluh darah :
 Tidak tampak
 Tampak jelas
 Reflektif (putih mengkilat)
7. Vena porta :
 Ukuran maksimal 12 mm
 Pembuluhnya patent atau ada trombus
8. V. Hepatika : Melebar (kongestif) atau normal
9. Ukuran limpa : Normal atau membesar.

C. USG TRAKTUS BILIARI

Nyeri dan rasa tidak Nyaman pada daerah kuadran kanan atas atau daerah

epigastrium adalah indikasi utama untuk melakukan USG biliary.

14
Dasar-dasar pemeriksaan

Kandung empedu normalnya berbentuk seperti buah pir (pear-shape),


berbentuk hypoechoic pada USG. Pengamatan kandung empedu tersebut melalui
perpotongan transversal dan longitudinal. Gambaran yang terbaik seringkali
didapatkan diantara tulang-tulang kosta dengan menggunakan hati sebagai
acoustic window. Untuk melihat adanya batu empedu pada kandung empedu, akan
tampak hyperechoic dengan acoustic shadowing pada bagian posterior untuk
meyakinkan yang terlihat adalah leher kandung empedu (neck of gallbladder).
Pengukuran dinding anterior kandung empedu paling mudah dilakukan pada
penampang longitudinal. Ketebalan dinding lebih dari 3 mm dapat dikatakan
abnormal dan disebut penebalan (thickened). Menilai adanya Murphy sign dengan
menciptakan nyeri pada abdomen pasien dengan menggunakan probe ultrasound
pada kandung empedu. Melihat hiphoechoic rim pada pericholecystic fluid (PCF)
menunjukkan bukti adanya inflamasi pada penyakit kandung empedu tetapi dapat
juga berupa penyakit sekunder seperti hepatitis atau congestif heart failure.
Mengidentifikasi common bile duc (CBD), yaitu suatu struktur tubuler
disebelah anterior dari vena portal yang bersifat hipoekoik. Hal ini dapat dilihat di
dekat leher kandung empedu pada penampang longitudinal atau penampang
transversal dari epigastrium.
Pasien diposisikan dengan posisi :
1. Posisi supinasi atau terlentang tetapi kandung empedu sering berubah-ubah dan
mungkin susah untuk dilihat posisi ini, sehingga harus dipertimbangkan
menggunakan posisi lateral decubitus kiri.
2. Untuk menemukan kandung empedu :
- Tria porta (vena porta, common bile duct, dan arteri hepatica)
- Fisura lobaris utama (main lobar fissure). Kandung empedu berada didalam
main lobar fissure (hyperechoic line)
3. Memberikan tekanan dengan probe footprint ukuran besar dapat membantu
menyingkirkan gas usus dan memudahkan dalam melihat kondisi aorta.
4. Pencitraan melalui hati dari garis mid dan anterior aksila menuju lokasi
kandung empedu dan kemudian mengerakkan probe ke atas

15
5. Jika ternyata kandung empedu sulit unuk dilihat walaupun pasien sudah dalam
posisi dan sudah inspirasi, pertimbangkan untuk mengulang pemeriksaan
6. Kandung empedu yang berisi penuh dengan batu dapat terjadi wall-echo-
shadow (WES) sign, dimana bagian anterior dinding kandung empedu terlihat
garis hyperechoic hanya pada bagian belakang dan luas serta tampak bayangan
gelap pada bagian posterior.

GAMBAR USG TRAKTUS BILIARI

Penampang longitudinal kandung empedu (gb) menunjukkan adanya batu


empedu yang besar (st) yang terletak di dekat leher kandung empedu.

16
Penampang longitudinal kandung empedu dengan 2 batu yang besar yang
tampak pada fundus, dinding anterior, tidak tampak penebalan, ini menunjukkan
tidak adanya cairan pericholecystic.

Penampang longitudinal bagian kuadran kanan atas, tampak hyperechoic


material pada bagian fundus. Tampak posterior shadowing yang sesuai dengan
cholellithiasis. Tampak dinding anterior menebal dan tampak garis yang sempit
pada hypoechoic fluid sepanjang dinding anterior (proses inflamasi) yang sesuai
dengan cholecystitis.

D. USG GINJAL

longitudinal
Sagital plane / Pendekatan anterior

 Mulai dengan transduser


tegak lurus, dari inferior ke
bagian sudut paling lateral
dari margin costae kanan.

 Jika ginjal tidak terlihat disini,


geser transduser ke medial
dan inferior sampai ginjal
terlihat.

 Jika ginjal sudah terlihat,


putar transduser beberapa

17
derajat ( oblik ) untuk
menentukan lokasi dari
panjang aksis ginjal.

 Jika lokasi panjang aksis


sudah ditemukan, pindahkan
transduser kanan ke kiri lalu
geser ke medial untuk
menentukan batas ginjal
kanan

 bergerak kembali ke bagian


medial ginjal dan geser
melalui bagian lateral dari
ginjal sampai terasa berada di
luar lapang.

Gambaran Melintang

Gambaran melintang / pendekatan anterior


 masih dalam potongan
sagital, cari panjang axis
dari ginjal kanan. putar
transduser 90 derajat
melintang ginjal
 mulai dengan potongan
melintang dengan
transduser tegak lurus,
dibawah tepi kosta dari
sudut medial tulang rusuk.
gerakkan transduser di
bagian lateral dan inferior
kanan sampai ginjal

18
 dari hilus, sedikit geser
transduser superior ke
inferior dan pada saat yang
sama geser transduser
superior dan medial untuk
menemukan kutub atas
ginjal.
 Kemudian geser kembali
transduser ke kutub atas
ginjal. geser transduser
inferior dan lateral melalui
midkidney untuk
menemukan kutub inferior.

Pemeriksaan Ginjal Kiri

Gambaran Longitudinal
Coronal Plane/ Left Lateral Approach

 meskipun pendekatan ini


dapat dilakukan dengan
pasien supine, umumnya
lebih mudah dengan
pasien dalam posisi right
lateral decubitus.
Pencitraan kualitas bisa
diperbaiki dengan
menempatkan handuk
spons atau digulung di
bawah sisi kanan pasien.
ini membuka ruang rusuk
 mulai dengan transduser
tegak lurus, pesawat
midkoronal diatas dari
krista iliaka

19
 sekali panjang aksis
ketemu, sedikit geser sisi
transduser ke samping
dan pada saat yang sama
geser transduser ke bagian
depan pasien, pemindaian
melalui bagian anterior
ginjal sampai berada di
luar itu
 bergerak kembali ke
bagian anterior ginjal.
geser menuju pasien
kembali, scannning
melalui bagian posterior
dari ginjal sampai Anda
berada di luar itu
 survei longitudinal ginjal
kiri mungkin harus
dilakukan intercostal,
Dalam beberapa kasus
hanya kutub superior
yang dapat dievaluasi idi
intercostal.

Potongan Transversal

Transverse plane / left lateral approach


 masih pada bidang
pemindaian koronal, cari
sumbu panjang dari
ginjal kiri. Putar
transduser 90 derajat dan
melintang ginjal
 gerakkan transduser dari
superior ke inferior
untuk menemukan
midportion dan hilus
ginjal. Gerakan ringan
dan sedikit obliques
transduser mungkin
diperlukan untuk
menemukan hilus

20
 dari hilus sedikit
geserkan transduser
superior untuk
mengetahui kutub atas
ginjal.
 gerakkan transduser
kembali ke kutub atas
ginjal. geser transduser
ke inferior melalui
midkidney untuk
menemukan kutub
inferior.

Gambaran Ginjal Kanan


Gambaran Longitudinal
Sagittal Plane / Pendekatan Anterior
1. Gambar Panjang axis ginjal kanan dengan pengukuran superior ke inferior.

panjang aksis sagital ginjal kanan

2. Gambar Panjang axis ginjal kanan dengan pengukuran superior ke inferior.

21
panjang aksis sagital ginjal kanan

3. Gambaran melintang kutub atas ginjal kanan

Kutub atas ginjal kanan gambaran melintang

4. Gambaran longitudinal kutub inferior ginjal kanan

Kutub bawah ginjal kiri gambaran sagital

22
5. Gambaran longitudinal ginjal kanan medial dari panjang axis

Ginjal kanan sagittal medial

6. Gambaran longitudinal ginjal kanan pada lateral dengan sumbu panjang


menyertakan bagian dari hati untuk perbandingan parenkim.

Ginjal kanan sagittal lateral

 Gambaran Transversal

Transverse Plane / Anterior Approach

7. Gambaran transversal kutup superior ginjal kanan

23
Gambaran transversal kutup superior ginjal kanan

8. Gambaran Transversal midportion ginjal kanan termasuk hilum dengan


pengukuran anterior to posterior.

Gambaran transversal ginjal kanan midportio

9. Gambaran transversal kutub inferior ginjal kanan

24
Kutub inferior ginjal kanan

Gambaran Ginjal Kiri


Gambaran Longitudinal
Coronal Plane/ Left Lateral Approach
1. Gambaran panjang aksis ginjal kiri dengan pengukuran superior ke inferior

panjang aksis ginjal kiri

2. Gambaran panjang aksis ginjal kiri dengan pengukuran superior ke inferior

25
Gambaran coronal panjang aksis ginjal kiri

3. Gambaran panjang aksis ginjal kiri dengan pengukuran superior ke inferior

Gambaran coronal panjang aksis ginjal kiri

4. Gambaran longitudinal kutub atas ginjal kiri

26
Gambaran coronal kutup atas ginjal kiri

5. Gambaran longitudinal kutub bawah ginjal kiri

Kutub bawah ginjal kiri

6. Gambaran longitudinal posterior aksis ginjal kiri

Coronal anterior ginjal kiri

27
7. Gambaran longitudinal posterior aksis ginjal kiri

coronal posterior ginjal kiri

 Transverse images

Transverse plane/ left lateral Approach

8. Gambaran transversal kutub atas ginjal kiri

9. Gambaran transversalmidportion ginjal kiri dengan hilum pada pengukuran


anterior-posterior

28
10. Gambaran transversal kutub inferior ginjal kiri

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Patel, R. Pradip. Lecture Notes : Radiologi. Edisi 2. Jakarta. Penerbit Erlangga.

2007.

2. Rasad, Sjahriar. Radiologi diagnostik. Edisi 2. Jakarta. Balai penerbit FKUI.

2006.

3. Maleuka, RG. Radiologi diagnostik. Pustaka Candika Press. Yogyakarta. 2007

4. Moore, L.Keith. Anatomi Klinis dasar. Hipokrates.Jakarta. 2002

30