Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bunuh diri adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Bunuh diri
adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Istilah
yang terakhir ini menjadi topik besar dalam psikatri kontemporer, karena jumlah yang
terlibat dan riset yang mereka buat. Resiko bunuh diri adalah resiko untuk menciderai diri
sendiri yang dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri
karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya (Stuart, 2006).

Berdasarkan data WHO, setidaknya 800 ribu orang di seluruh dunia melakukan bunuh
diri setiap tahun. Bunuh diri menjadi salah satu faktor penyebab kematian tertinggi,
khususnya usia muda 15-29 tahun. Sebanyak 75 persen bunuh diri terjadi di negara dengan
penduduk berpendapatan rendah-menengah. Di Indonesia, kasus bunuh diri yang diketahui
oleh kepolisian berkisar di angka 900-an pertahun. Jika dirinci kasus bunuh diri di
Indonesia mencapai 3,7 per 100.000 penduduk. Dibandingkan negara-negara Asia lain,
prevalensi itu lebih rendah. Namun dengan 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh
diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam. (BPS, 2016). Di dunia lebih dari 1000
tindakat bunuh diri terjadi tiap hari, di Inggris ada lebih dari 3000 kematian bunuh diri tiap
tahun (Ingram, Timbury dan Mowbray, 1993). Di Amerika Serikat, dilaporkan 25.000
tindakan bunuh diri setiap tahun (Wilson dan Kneisl,1988), dan merupakan penyebab
kematian kesebelas. Rasio kejadian bunuh diri antara pria dan wanita adalah tiga
berbanding satu (Stuart dan Sundden, 1987, hlm. 487). Pada usia remaja, bunuh diri
merupakan penyebab kematian kedua (Leahey dan Wright, 1987, hlm.79).
Selain karena faktor kecelakaan. Pada laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh
diri daripada wanita, karena laki-laki lebih sering menggunakan alat yang lebih efektif
untuk bunuh diri, antara lain dengan pistol, menggantung diri, atau lompat dari gedung
yang tinggi, sedangkan wanita lebih sering menggunakan zat psikoaktif overdosis atau
racun, namun sekarang mereka lebih sering menggunakan pistol. Selain itu wanita lebih
sering memilih cara menyelamatkan dirinya sendiri atau diselamatkan orang lain.Ada
banyak penyebab orang sampai nekad untuk melakukan bunuh diri, bahkan ada yang
sampai lebih dari satu kali melakukan percobaan karena sebelumnya gagal. Laporan Badan

1
Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa terdapat tiga pemicu utama bunuh diri di
Indonesia. Kasus terbanyak adalah putus cinta, disusul masalah ekonomi, dan soal
pendidikan. Melihat data tersebut, berarti yang paling mendominasi terjadinya bunuh diri
adalah faktor eksternal walaupun faktor internal juga tidak dapat dipungkiri juga
mempengaruhi hal tersebut.
Klien dengan resiko bunuh diri dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya atau
menciderai dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti menyerang orang lain,
memecahkan perabot, membakar ru,ah, dan lain-lain.
Bunuh diri terjadi karena seseorang merasa dirinya sedang menanggung beban
permasalahan yang besar dan dianggap sudah tidak bisa diselesaikan. Sebagai seorang
perawat, peran yang dapat dilakukan adalah sebagai konselor. Perawat dalam hal ini dapat
menjadi sebuah fasilitator yang dapat digunakan untuk sarana berkonsultasi terkait
permasalahan-permasalahan yang dihadapi seseorang dan sebagai seorang individu kita
wajib mengengarahkan pikiran kita untuk selalu berpikir positif.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana konsep asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan resiko bunuh diri

1.3 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan resiko bunuh diri
b. Tujuan khusus
1. Untuk memahami definsi resiko bunuh diri
2. Untuk mengetahui jenis-jenis perilaku bunuh diri
3. Untuk mengetahui rentang respon resiko bunuh diri
4. Untuk mengetahui etiologi resiko bunuh diri
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala resiko bunuh diri
6. Untuk mengetahui sumber dan mekanisme koping pada perilaku bunuh diri
7. Untuk mengetahui penatalaksaan medis dan keperawatan pada klien dengan resiko
bunuh diri
8. Untuk mengetahui dan memahami konsep dasar asuhan keperawatan pada klien
dengan resiko bunuh diri

2
BAB II

TIJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Resiko bunuh diri adalah resio untuk menciderai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk
mengakhiri kehidupannya (Stuart, 2006).

Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).
Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapan –
putus harapan merupakan rentang adaptif – maladaptif.
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian (Gail w. Stuart, 2007). Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa
sendiri (Ann Isaacs, 2004.)
Kesimpulan dari pengertian diatas bahwa bunuh diri adalah suatu tindakan agresif
yang merusak diri sendiri dengan mengemukakan rentang harapan-harapan putus asa,
sehingga menimbukan tindakan yang mengarah pada kematian.
Prilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas yang jika tidak di cegah dapat mengarah
kepada kematian. Rentang respon protektif diri mempunyai peningkatan diri sebagai
respon paling adaptif, sementara perilaku destruktif diri, pencederaan diri, dan bunuh diri
merupakan respon maladaptif (Wiscarz dan Sundeen, 1998).

2.2 Jenis-jenis Perilaku Bunuh Diri

Perilaku bunuh diri dibagi menjadi 3 kategori yaitu (Stuart, 2006):

1. Ancaman bunuh diri

Yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan


untuk bunuh diri.Ancaman menunjukkan ambevalensi seseorang tentang kematian

3
kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk
melakukan tindakan bunuh diri.

2. Upaya bunuh diri

Yaitu semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang
dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah.

3. Bunuh diri

Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan.Orang yang


melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada
mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.Percobaan bunuh
diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat suatu
masalah yang menjatuhkan harga dirinya.

Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat 3 jenis bunuh diri, meliputi:

1. Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasarkan oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan sehingga mendorong seseorang untuk bunuh diri.
2. Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
3. Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri
seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.

Menurut Keliat (2009) terdapat 3 macam perilaku bunuh diri yaitu:

1. Isyarat bunuh diri

Ditunjukkan dengan perilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri.Dalam kondisi
ini klien mungkin sudah mempunyai ide untuk mengakhiri hidupnya tetapi tidak
disertai dengan ancaman bunuh diri.Klien umunya mengungkapkan rasa bersalah,
bersedih, marah, putus asa, klien juga mengungkapkan hal-hal negative tentang
dirinya yang menggambarkan harga diri rendah.

4
2. Ancaman bunuh diri

Klien secara aktif telah memiliki rencana bunuh diri, tetapi tidak diserta dengan
rencana bunuh diri.Klien memerlukan pengawasan yang ketat karena dapat setiap
saat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melaksanakan rencana bunuh diri.

3. Percobaan bunuh diri

Adalah tindakan klien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri


kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh diri dengan berbagai
cara.

2.3 Rentang Respon

Self enhancement Growth promoting Indirect self- Self injury. Suicide risk taking
destruktive behaviour . Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang
yang penuh stress Perilaku bunuh diri berkembang dalam beberapa rentang diantaranya :
Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon
yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh
norma-norma sosial dan budaya setempat. Respon maladaptif antara lain :
a. Ketidakberdayaan, keputusasaan,apatis.: Individu yang tidak berhasil memecahkan
masalah akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan
koping yang bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan
koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu.
b. Kehilangan, ragu-ragu :Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak
realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya :
kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa
gagal dan kecewa, rendah diri yang semua dapat berakhir dengan bunuh diri.
c. Depresi : Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan
kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar dari
keadaan depresi berat.
d. Bunuh diri Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
e. Mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi

5
Rentang Respons, YoseP, Iyus (2009)

a. Peningkatan diri.
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap
situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.
b. Beresiko destruktif.
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif atau
menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri,
seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal
terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung.
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang
membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan
pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak
masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
d. Pencederaan diri.
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat hilangnya
harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri.
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.

2.4 Etiologi Resiko Bunuh Diri


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri ada dua faktor,
yaitu factor predisposisi (factor risiko) dan factor presipitasi (factor pencetus).

a. Faktor predisposisi Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang


menunjang perilaku resiko bunuh diri meliputi:
1. Diagnostik

6
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,
mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat
membuat individu beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh diri
adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian,
kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor
penting yang berhubungan dengan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko
penting untuk prilaku destruktif.
5. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik
menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.
Selain itu terdapat pula beberapa motif terjadinya bunuh diri, Motif bunuh diri
ada banyak macamnya. Disini penyusun menggolongkan dalam kategori sebab,
misalkan :
a. Dilanda keputusasaan dan depresi
b. Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.
c. Gangguan kejiwaan / tidak waras (gila).
d. Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta / Iman / Ilmu)
e. Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.

Sebagai perawat perlu mempertimbangkan pasien memiliki resiko apabila


menunjukkan perilaku sebagai berikut :
o Menyatakan pikiran, harapan dan perencanaan tentang bunuh diri
o Memiliki riwayat satu kali atau lebih melakukan percobaan bunuh diri.
o Memilki keluarga yang memiliki riwayat bunuh diri.
o Mengalami depresi, cemas dan perasaan putus asa.
o Memiliki ganguan jiwa kronik atau riwayat penyakit mental
o Mengalami penyalahunaan NAPZA terutama alkohol

7
o Menderita penyakit fisik yang prognosisnya kurang baik
o Menunjukkan impulsivitas dan agressif
o Sedang mengalami kehilangan yang cukup significant atau kehilangan yang
bertubi-tubi dan secara bersamaan
o Mempunyai akses terkait metode untuk melakukan bunuh diri missal pistol,
obat, racun.
o Merasa ambivalen tentang pengobatan dan tidak kooperatif dengan
pengobatan
o Merasa kesepian dan kurangnya dukungan sosial.

b. Faktor presipitasi Stuart (2006) menjelaskan bahwa pencetus dapat berupa


kejadian yang memalukan, seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan
umum,kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan. Selain itu, mengetahui
seseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau terpengaruh media untuk
bunuh diri, juga membuat individu semakin rentan untukmelakukan perilaku
bunuh diri. Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah
perasaan terisolasi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan
hubungan yang berarti, kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi
stres, perasaan marah/bermusuhan dan bunuh diri sebagai hukuman pada diri
sendiri, serta cara utuk mengakhiri keputusasaan.

c. Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat
melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk
melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan banyak
faktor, baik faktor social maupun budaya. Struktur social dan kehidupan bersosial
dapat menolong atau bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi
social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk
melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu
menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam kegiatan
keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

8
d. Respon terhadap stres
1) Kognitif: Klien yang mengalami stress dapat mengganggu proses kognitifnya,
seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang,
dan pikiran tidak wajar.
2) Afektif: Respon ungkapan hati klien yang sudah terlihat jelas dan nyata akibat
adanya stressor dalam dirinya, seperti: cemas, sedih dan marah.
3) Fisiologis: Respons fisiologis terhadap stres dapat diidentifikasi menjadi dua,
yaitu Local Adaptation Syndrome (LAS) yang merupakan respons lokal tubuh
terhadap stresor (misal: kita menginjak paku maka secara refleks kaki akan
diangkat) dan Genital Adaptation Symdrome (GAS) adalah reaksi menyeluruh
terhadap stresor yang ada.
4) Perilaku: Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam
kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini
secara sadar memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Perilaku bunuh
diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun budaya.
5) Sosial: Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan
mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat
menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang untuk
melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih
mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam
kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan
bunuh diri.

2.5 Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2009)

a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.


b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis
mematikan).

9
h. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan
mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis
dan menyalahgunakan alcohol).
j. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal).
k. Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kegagalan
dalam karier).
l. Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun.
m. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).
n. Pekerjaan.
o. Konflik interpersonal.
p. Latar belakang keluarga.
q. Orientasi seksual.
r. Sumber-sumber personal.
s. Sumber-sumber social.
t. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.

2.6 Sumber dan Mekanisme Koping

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) terdapat sumber dan mekanisme koping pada perilaku
bunuh diri yaitu:
1. Sumber Koping
Pasien dengan penyakit kronik, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali orang ini secara sadar memilih
untuk bunuh diri. Kulaitas hidup menjadi isu yang mengesampingkan kuantitas
hidup. Dilema etik mungkin timbul bagi perawat yang menyadari pilihan pasien
untuk berperilaku merusak diri. Tidak ada jawaban yang mudah mengenai
bagaimana mengatasi konflik ini. Perawat harus melakukannya sesuai dengan sistem
keyakinannya sendiri.
2. Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif-diri tak
langsung adalah :
a. Denial, mekanisme koping yang paling menonjol
b. Rasionalisme

10
c. Intelektualisasi
d. Regresi
Mekanisme pertahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa memberikan cara
koping alternatif. Mekanisme pertahanan ini mungkin berada diantara individu
dan bunuh diri.
Perilaku bunuh diri menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme koping.
Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan
kegagalan koping dan mekanisme adaptif
Perilaku bunuh diri menunjukkan terjadinya kegagalan mekanisme koping.
Ancaman bunuh diri menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan
agar untuk mengatasi masalah. Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang
mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup.
Perilaku yang muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk
melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri
sendiri.

Faktor presipitasi Faktor predisposisi

Faktor predisposisi

Ketidakefektifan
Mekanisme koping maladaptif koping individu

Respon konsep diri maladaptif

Gangguan konsep diri: Harga Diri Rendah


(HDR)
Malu, merasa bersalah

Menarik diri

Risiko gangguan persepsi Isolasi sosial


sensori: halusinasi

Perilaku kekerasan
Risiko
membahayakan diri:
risiko bunuh diri

11
2.7 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

1. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien resiko
bunuh diri salah satunya adalah dengan terapi farmakologi. Menurut (videbeck, 2008),
obat-obat yang biasanya digunakan pada klien resiko bunuh diri adalah SSRI
(selective serotonine reuptake inhibitor) (fluoksetin 20 mg/hari per oral), venlafaksin
(75-225 mg/hari per oral), nefazodon (300-600 mg/hari per oral), trazodon (200-300
mg/hari per oral), dan bupropion (200-300 mg/hari per oral). Obat-obat tersebut sering
dipilih karena tidak berisiko letal akibat overdosis. Mekanisme kerja obat tersebut akan
bereaksi dengan sistem neurotransmiter monoamin di otak khususnya norapenefrin dan
serotonin. Kedua neurotransmiter ini dilepas di seluruh otak dan membantu mengatur
keinginan, kewaspadaan, perhataian, mood, proses sensori, dan nafsu makan

2. Penatalaksanaan Keperawatan Setelah dilakukan pengkajian pada klien dengan resiko


bunuh diri selanjutnya perawat dapat merumuskan diagnosa dan intervensi yang tepat
bagi klien. Tujuan dilakukannya intervensi pada klien dengan resiko bunuh diri adalah
(Keliat, 2009)
1) Klien tetap aman dan selamat
2) Klien mendapat perlindungan diri dari lingkungannya
3) Klien mampu mengungkapkan perasaannya
4) Klien mampu meningkatkan harga dirinya
5) Klien mampu menggunakan cara penyelesaian yang baik

Penatalaksanaan Klien Dengan Perilaku Bunuh Diri Menurut Stuart dan Sundeen (1997,
dalam Keliat, 2009:13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk perilaku bunuh
diri yaitu :
1) Melindungi Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai
dirinya. Intervensi yang dapat dilakukan adalah tempatkan klien di tempat yang aman,
bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan, temani klien terus-menerus sampai
klien dapat dipindahkan ke tempat yang aman dan jauhkan klien dari semua benda yang
berbahaya.

12
2) Meningkatkan harga diri Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah. Bantu
klien mengekspresikan perasaan positif dan negatif. Berikan pujian pada hal
yang positif.
3) Menguatkan koping yang konstruktif/sehat Perawat perlu mengkaji koping yang sering
dipakai klien. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif. Untuk koping
yang destruktif perlu dimodifikasi atau dipelajari koping baru.
4) Menggali perasaan Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama mencari
faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien.
5) Menggerakkan dukungan sosial Untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan
sistem sosial klien, yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga pelayanan di
masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien

Tindakan keperawatan
a. Tindakan keperawatan untuk pasien
1) Tujuan :
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
b) Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
c) Klien dapat mengekspresikan perasaannya
d) Klien dapat meningkatkan harga diri
e) Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
2) Tindakan keperawatan
a) Membina Hubungan Saling percaya kepada pasien
1. Perkenalkan diri dengan klien
2. Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
3. Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
4. Bersifat hangat dan bersahabat.
5. Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.
b) Melindungi pasien dari perilaku bunuh diri
1. Jauhkan klien dari benda benda yang dapat membahayakan (pisau,
2. silet, gunting, tali, kaca, dan lain lain).
3. Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh
4. perawat.
5. Awasi klien secara ketat setiap saat.
c) Membantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya

13
1. Dengarkan keluhan yang dirasakan.
2. Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan,
3. ketakutan dan keputusasaan.
4. Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana
5. harapannya.
6. Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan,
7. kematian, dan lain lain.
d) Membantu pasien untuk meningkatkan harga dirinya
1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya
2. Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.
3. Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal: hubungan
4. antar sesama, keyakinan, hal hal untuk diselesaikan).
e) Membantu pasien untuk menggunakan koping individu yang adaptif
1. Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman yang menyenangkan
setiap hari (misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll.)
2. Bantu untuk mengenali hal hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya
terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam
kesehatan.
3. Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu
masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif
dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif

. Tindakan keperawatan untuk keluarga


1) Tujuan :
a) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
rasa ingin bunuh diri
2) Tindakan keperawatan
Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang ingin bunuh diri adalah :
a) Membina hubungan saling percaya
 Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
 Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
b) Membantu pasien untuk mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki

14
 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
 Hindari penilaian negatif detiap pertemuan klien
 Utamakan pemberian pujian yang realitas
c) Membantu pasien dalam menilai kemampuan yang dapat digunakan untuk diri
sendiri dan keluarga
 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan
 setelah pulang ke rumah
d) Melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan
 setiap hari sesuai kemampuan.
 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang klien lakukan.
 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
e) Memanfaatkan sistem pendukung yang ada
 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara
 merawat klien
 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

15
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN RESIKO


BUNUH DIRI

I. PENGKAJIAN

Nama : Tanggal Dirawat : …………………

Umur : Tanggal Pengkajian : ……………........

Alamat :

Pendidikan :

Agama : Ruang Rawat : …………………

Status :

Pekerjaan :

JenisKel. :

No RM :

II. ALASAN MASUK


a. Data Primer
Klien mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan, klien seringkali mengatakan
“segala sesuatu akan lebih baik jika tanpa saya. Saya adalah orang yang selalu
membawa musibah sudah sepantasnya saya pergi jauh dari sini”.
Klien selalu membicarakan tentang kematian dan menanyakan tentang dosis obat yang
mematikan.
b. Data Sekunder
Keluarga klien mengatakan klien tampak. murung dan sedih, sering menyendiri, selalu
menjauh bila ada yang mendekati.

Keluarga klien mengatakan bahwa klien memiliki riwayat percobaan bunuh diri dengan
meminum racun serangga 1 bulan yang lalu.

16
III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG dan FAKTOR PRESIPITASI
Kondisi ini mulai terjadi setelah kematian sahabatnya Nina, dikarenakan saat mereka
sedang bermain bersama, Nina mengalami kecelakaan yang menyebabkan Nina
meninggal. Sejak saat itu klien menyalahkan dirinya yang paling bersalah atas kejadian
itu. Ia selalu tampak murung, sedih, dan suka menyendiri. Ibu dan ayahnya sangat cemas
melihat kondisi klien sekarang.

Faktor presipitasi: rasa bersalah yang besar karena merasa menjadi penyebab kematian
sahabatnya.

IV. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
Tidak pernah
2. Pengobatansebelumnya
Tidak pernah
3. a. Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
 Tidak pernah
b. Pernah ada riwayat NAPZA

 Tidak pernah
c. Riwayat Trauma

Usia Pelaku Korban Saksi

1. Aniayafisik - - - -
2. Aniayaseksual ………… ………… ………… …………
3. Penolakan ………… ………… ………… …………
4. Kekerasan dalam keluarga ………… ………… ………… …………
5.Tindakan kriminal ………… ………… ………… …………
6.Usaha Bunuh diri 20 tahun Klien - Ibu klien
Masalah/ DiagnosaKeperawatan :
Resiko bunuh diri
4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Kehilangan sahabat
Masalah/Diagnosa Keperawatan:
Berduka disfungsional

17
5. Riwayat penyakit keluarga

Anggota keluarga yang gangguan jiwa ?


Tidak ada
Kalau ada :-

Hubungan keluarga :-

Gejala :-

Riwayat pengobatan :-

Masalah / Diagnosa Keperawatan: -

V. PEMERIKSAAAN FISIK
Tanggal : 12 Maret 2018

1. Keadaan umum : Klien tampak tidak rapi, pakain kusut, rambut tidak disisir, dan sering
melamun
Kesadaran Compos mentis 4-5-6

2. Tanda vital:
TD:120/80 mm/Hg

N:80 x/m

S: 36,5 derajat Celcius

P: 20x/m

3. Ukur: BB: 50 kg TB: 163cm


4. Keluhan fisik: Tidak ada keluhan

VI. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL


1. Genogram: -
Masalah / Diagnosa Keperawatan :-
2. Konsep Diri :

Citra tubuh :
Tampilan klien tidak rapi, baju tampak kusut, serta pandangan kosong

18
Identitas :
Klien seorang mahasiswa berumur 20 tahun, namun sekarang terpaksa cuti kuliah
karena kondisinya

Peran :
Klien merupakan anak tunggal dari kedua orangnya.

Ideal diri :
Klien menyatakan bahwa kalau nanti sudah pulang/sembuh klien ingin kembali kuliah
dan berkunjung ke rumah alm. Sahabatnya.

Hargadiri :
Klien tampak murung, sedih, depresi, putus asa dan jarang berinteraksi dengan orang
lain.

Masalah / DiagnosaKeperawatan :

Harga diri rendah situasional

3.Hubungan sosial
a. Orang yang berarti/terdekat:
Ibu klien

b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat:


Sebagai warga biasa

c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain:


Klien sering diam, menyendiri, murung dan tak bergairah, jarang berkomunikasi
[menarik diri]

Masalah/Diagnosa Keperawatan:

Isolasi sosial

4. Spiritual

a. Nilai dan keyakinan


Klien percaya akan adanya Tuhan tetapi dia sering mempersalahkan Tuhan atas
hal yang menimpanya.

19
b. Kegiatan ibadah
Klien mengaku jarang beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Masalah / DiagnosaKeperawatan:
Distress spiritual

VII. STATUS MENTAL


1. Penampilan
Tidak rapi

Pada penampilan fisik: Tidak rapi, mandi dan berpakaian harus di suruh,
rambut tidak pernah tersisir rapi dan sedikit bau, Perubahan kehilangan fungsi,
tak berdaya seperti tidak interest, kurang mendengarkan.
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Defisit perawatan diri

2. Pembicaraan
Klien hanya mau bicara bila ditanya oleh perawat, jawaban yang diberikan
pendek, afek datar, lambat dengan suara yang pelan, tanpa kontak mata dengan
lawan bicara, kadang tajam, terkadang terjadi blocking.
Masalah/Diagnosa keperawatan:
kerusakan komunikasi verbal

3. Aktivitas Motorik:
Klien lebih banyak murung dan tak bergairah, serta malas melakukan
aktivitas
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Defisit aktivitas

4. Afek dan Emosi


a. Afek
 Tumpul
 Dangkal/datar
Masalah/Diagnosa keperawatan:

20
Kerusakan komunikasi
b. Emosi
 Apatis
 Sedih
 Depresi
 Keinginan bunuh diri
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Resiko bunuh diri

5. Interaksi selama wawancara:


Kontak mata kurang, afek datar, klien jarang memandang lawan bicara saat
berkomunikasi.
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Kerusakan interaksi sosial

5. Memori
Tidak ada keluhan
Masalah/Diagnosa keperawatan: -

6. Persepsi – Sensorik
 Tidak ada halusinasi
 Tidak ada ilusi
 Tidak ada depersonalisai
 Tidak ada realisasi
 Tidak ada gangguan somatusensorik
Masalah/Diagnosa keperawatan: -

7. Proses Pikir
a. Arus pikir :
 Koheren
 Bicara lambat
 Pengulangan Pembicaraan/perseverasi
 Blocking

21
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Gangguan proses pikir
b. Isi pikir:
 Pikiran Bunuh Diri
 Pikiran Isolasi sosial
 Pikiran Rendah diri
 Pesimisme
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Gangguan proses pikir

8. Kesadaran
 Compos mentis
 Apatis
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Gangguan proses pikir

9. Orientasi
Tidak ada keluhan
Masalah/Diagnosa keperawatan: -

10. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Tidak mampu berkonsentrasi
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Gangguan proses pikir

11. Kemampuan penilaian


Tidak ada
Masalah/Diagnosa keperawatan: -

12. Daya tilik diri


Tidak ada
Masalah/Diagnosa keperawatan: -

22
VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Makan
Mandiri
Masalah/Diagnosa keperawatan:
2. BAB/BAK
Mandiri
Masalah/Diagnosa keperawatan: -
3. Mandi
Bantuan minimal
4. Sikat gigi
Bantuan minimal
5. Keramas
Bantuan minimal
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Defisit perawatan diri
6. Berpakaian/Berhias
Bantuan minimal
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Defisit perawatan diri
7. Istirahat dan tidur
Tidur siang:-
Tidur malam: Tidak menentu
Aktifitas sebelum/sesudah tidur: Ngelamun
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Gangguan pola tidur
8. Penggunaan Obat
Bantual minimal
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Ketidakefektifan penatalaksanaan regiment terapeutik
9. Pemeliharaan Kesehatan
Perawatan bantuan: YA
Sistem pendukung: Keluarga
Masalah/Diagnosa keperawatan:

23
Perilaku mencari bantuan kesehatan
10. Aktivitas dalam rumah
Mempersiapkan makanan : Tidak
Menjaga kerapihan rumah : Tidak
Mencuci pakaian : Tidak
Pengaturan Keuang : Tidak
11. Aktivitas di luar rumah
Belanja : Tidak
Transportasi : Tidak
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah

IX. MEKANISME KOPING


Adaptif Maladaptif

 Mau bicara dengan orang lain  Menghindar


 Menciderai diri

Masalah/Diagnosa keperawatan:
Koping individu tidak efektif

X. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


 Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya
Klien mengatakan tidak ada waktu bergaul dengan yang lain, karena klien lebih
senang sendiri.
 Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya
Tidak ada masalah
 Masalah dengan pendidikan, spesifiknya
Klien mengambil cuti karena harus di bawa ke rumah sakit jiwa
 Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya
Tidak ada
 Masalah dengan perumahan, spesifiknya
Tidak ada

24
 Masalah dengan ekonomi, spesifiknya
Tidak ada
 Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya
Tidak ada
 Masalah lainnya, spesifiknya
Tidak ada
Masalah/Diagnosa keperawatan:
Kerusakan interaksi sosial

XI. ASPEK PENGETAHUAN


Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan denganpengetahuan yang kurang
tentang suatu hal?

Tidak ada

Masalah / DiagnosaKeperawatan:-

XII. ASPEK MEDIS


Diagnosis medik : Axis 1 : F. 20,13

Axis 2 : Kepribadian : Introvert

Axis 3 : -

Axis 4 : Pasien pengangguran

Axis 5 : 20-30

Terapimedik :-

25
XIII. ANALISA DATA
NO. Data Keperawatan

1. DS: Klien mengungkapkan rasa Resiko perilaku bunuh diri


bersalah dan keputusasaan, Klien
seringkali mengatakan “segala
sesuatu akan lebih baik jika tanpa
saya. Saya adalah orang yang selalu
membawa musibah sudah
sepantasnya saya pergi jauh dari
sini”.

DO: Ada isyarat bunuh diri, ada ide


bunuh diri, pernah mencobabunuh
diri.

2. DS: Klien selalu mengatakan ingin Isolasi sosial


sendiri apabila didekati

DO: Klien sering menyendiri, selalu


menjauh bila ada yang mendekati

3. DS: Klien menyatakan putus asa dan Harga diri rendah


tak berdaya, tidak bahagia, tak ada
harapan.

DO: Pandangan mata klien kosong,


dan lebih sering menundukkan mata
ke bawah

26
4. Ds : Klien mengatakan bahwa Berduka disfungsional
dirinya adalah penyebab utama
kematian sahabatnya, dia adalah
orang yang paling bersalah.

Do : Klien tampak menangis

5 Ds : Klien merasa lemah, malas Defisiti perawatan diri


beraktifitas, tidak berdaya
Do : Klien tampak tidak rapi, mandi
dan berpakaian harus disuruh,
rambut tidak pernah tersisir rapi dan
sedikit bau

6. Ds : Klien mengatakan percaya akan Distres spiritual


adanya Tuhan tetapi dia sering
menyalahkan Tuhan atas hal yang
menimpanya
Do : Klien jarang beribadah
7. Ds : Klien selalu mengatakan bahwa Kerusakan komunikasi
dirinya adalah penyebab kematian
sahabatnya.
Do : Klien menunduk, tidak
melakukan kontak mata dengan
lawan berbicara, terkadang sering
terjadi blocking, afek tumpul dan
datar

27
8. Ds : Klien mengatakan malas dan Defisit aktifitas
tidak bergairah
Do : Klien banyak murung dan
melamun

9 Do : Klien mengatakan kurang Gangguan pola tidur


bergairah (letih,lesu,lemah)
Ds : Klien jarang tidur karena lebih
sering melamun

10 Ds : Klien selalu mengatakan Gangguan proses pikir


bahwa sesuatu akan lebih baik
tanpa saya
Do : Bicara klien lambat, terjadi
pengulangan pembicaraan, bloking
serta pesimisme
11. Ds : Klien mengatakan bahwa saya Koping individu tidak efektif
orang yang paling bersalah atas
kematian sahabat saya, serta klien
selalu bertanya tentang obat dan
dosis yang menyebabkan kematian.
Do: klien menghindar dan berusaha
mencederai diri

28
XIV. DAFTAR MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko bunuh diri
2. Berduka disfungsional
3. Harga diri rendah situasional
4. Isolasi sosial
5. Distress spiritual
6. Defisit perawatan diri
7. Kerusakan komunikasi verbal
8. Defisit aktivitas
9. Kerusakan komunikasi
10. Kerusakan interaksi sosial
11. Gangguan proses fikir
12. Gangguan pola tidur
13. Ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik
14. Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
15. Koping individu tidak efektif

XV. POHON MASALAH


Resiko bunuh diri

Isolasi social

Harga diri rendah

Koping keluarga tidak efektif Kegagalan Perpisahan

29
XVI. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko bunuh diri

Jombang, ……………………….

Perawat yang mengkaji

___________________________
_

NIM/NIRM: …………………….

XVII. INTERVENSI KEPERAWATAN


Tanggal No Diagnosa Perencanaan
. Keperawat Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Dx an
Resiko TUM : Klien 1. Setelah ...x Bina hubungan saling
Bunuh tidak melakukan interaksi klen percaya dengan:
Diri percobaan menunjukkan  Perkenalkan diri
bunuh diri. tanda-tanda dengan klien
percaya kepada  Tanggapi
TUK 1 : Klien perawat : pembicaraan
dapat membina klien dengan
hubungan saling sabar dan tidak
percaya menyangkal.
 Bicara dengan
tegas, jelas, dan
jujur.
 Bersifat hangat
dan bersahabat.
 Temani klien
saat keinginan

30
mencederai diri
meningkat.

TUK 2: Klien 2. Setelah ...x  Jauhkan klien dari


dapat terlindung interaksi klen benda benda yang
dari perilaku menunjukkaan: dapat
bunuh diri membahayakan
(pisau, silet,
gunting, tali, kaca,
dan lain lain).
 Tempatkan klien di
ruangan yang
tenang dan selalu
terlihat oleh
perawat.
 Awasi klien secara
ketat setiap saat.

TUK 3: Klien 3. Setelah ...x  Dengarkan


dapat interaksi klen keluhan yang
mengekspresika menunjukkaan: dirasakan.
n perasaannya  Bersikap
empati untuk
meningkatkan
ungkapan
keraguan,
ketakutan dan
keputusasaan.
 Beri dorongan
untuk
mengungkapka
n mengapa dan

31
bagaimana
harapannya.
 Beri waktu dan
kesempatan
untuk
menceritakan
arti
penderitaan,
kematian, dan
lain lain.
 Beri dukungan
pada tindakan
atau ucapan
klien yang
menunjukkan
keinginan
untuk hidup.

TUK 4: 4. Klien 4. Setelah ...x  Bantu untuk


dapat interaksi klen memahami bahwa
meningkatkan menunjukkaan: Klien dapat
harga diri  Klien mengatasi
menyadari keputusannya
kemampuannya  Kaji dan kerahkan
dalam sumber-sumber
mengatasi internal individu.
keputusan,  Bantu
 Klien dapat mengindentifikasi
memanfaatkan sumber-sumber
potensi diri, harapan (Misal :
 Klien dapat Hubungan antar
memanfaatkan sesama, keyakinan,
sumber-sumber

32
yang biasa hal-hal untuk
digunakan diselesaikan).
untuk mengatasi
keputusannya.
TUK 5: Klien 5. Setelah ...x  Ajarkan untuk
dapat interaksi klen mengidentifikasi
menggunakan menunjukkaan: pengalaman yang
koping yang  Klien dapat menyenangkan
adaptif menyebutkan setiap hari ( misal:
pengalaman- berjalan-jalan,
pengalaman yang membaca buku
menyenangkan, favorit, menulis
keberhasilan- surat dan lain-
keberhasilan lainnya).
yang telah  Bantu untuk
dialami, hal-hal mengenali hal-hal
yang dilakukan yang ia cintai dan
saat mengalami yang ia sayangi,
kegagalan dan dan pentingnya
cara terhadap
menghadapinya kehidupan orang
sehingga lain,
berhasil, mengesampingkan
 Klien mau tentang kegagalan
berbagi dengan dalam kesehatan.
orang lain  Beri dorongan
mengenai untuk berbagi
masalahnya. keprihatinan pada
orang lain yang
mempunyai suatu
masalah atau
penyakit yang
sama dan telah

33
mempunyai
pengalaman positif
dalam mengatasi
masalah tersebut
dengan koping
yang efektif).
TUK 6: Klien 6. Setelah ...x  Kaji dan
dapat interaksi klen manfaatkan
menggunakan menunjukkaan: sumber-sumber
dukungan sosial  Klien dapat eksternal individu
memanfaatka ( orang-orang
n sistem terdekat, tim
pendukung pelayanan
yang ada kesehatan,
disekitar, kelompok
 Klien mau pendukung, agama
melakukan yang dianut).
konseling  Kaji sistem
pendukung
keyakinan ( Nilai,
pengalaman masa
lalu, aktifitas
keagamaan,
kepercayaan
agama).
 Lakukan rujukan
sesuai indikasi (
misal: konseling
pemuka agama )
TUK 7: Klien 7. Setelah ...x  Diskusikan tentang
dapat interaksi klen obat ( nama, dosis,
menggunakan menunjukkaan: frekuensi, efek dan

34
obat dengan  Klien mau efek samping
benar dan tepat minum obat minum obat )
sesuai  Bantu menggunakan
intruksi, obat dengan prinsip
 Klien 5 benar ( benar
mengerti pasien, obat, dosis,
manfaat obat cara, waktu ).
yang  Anjurkan
diminum, dan membicarakan
efek efekdan efek
sampingnya. samping yang
dirasakan
 Beri reinforcement
positif bila
menggunkan obat
dengan benar

XVIII. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Resiko bunuh diri Pasien I Pengawasan ketat
Amankan benda berbahaya
Kontrak treatment
Cara mengendalikan dorongan
bunuh diri
II Aspek positif diri
Koping konstruktif 1 dst
III Koping konstruktif ...
Rencana masa depan

35
Keluarga I Masalah resiko bunuh diri
Pengawasan ketat
Amankan benda berbahaya
Pemberian obat
Rujuk segera
II Dukungan koping konstruktif
III Merencanakan masa depan

XIX. EVALUASI
Merupakan perkembangan pada klien dapat dilihat dari hasilnya, tujuannya untuk
mengetahui sejauh mana tujuan keperawatan dapat dicapai.
a. Evaluasi formatif
Disebut dengan evaluasi proses atau evaluasi berjalan yaitu yang dilakukan sampai
tujuan tercapai.
b. Evaluasi sumatik
Merupakan evaluasi yang dilakukan pada akhir tindakan atau keperawatan dan
menjadi suatu metode dalam memonitoring kualitas dan efisiensi tindakan yang
digunakan biasanya menggunakan SOAP.
Ket : S : Subjektif
O : Objektif
A : Analisa data
P : Planning

36
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan dan Pada umumnya merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress dan
berkembang dalam beberapa rentang. Banyak penyebab/alasan seseorang melakukan
bunuh diri diantaranya kegagalan beradaptasi,perasaan marah dan terisolasi, dan
lainnya. Bunuh diri biasanya didahului oleh isyarat bunuh diri,ancaman bunuh diri
serta percobaan bunuh diri. Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah
orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk
melakukan rencana bunuh diri tersebut

4.2 Saran
Hendaknya perawat memiliki pengetahuan yang cukup tentang ciri-ciri klien yang
ingin mengakhiri hidupnya sehingga dapat mengantisipasi terjadinya perilaku bunuh
diri pasien. Perawat juga perlu melibatkan keluarga dalam melakukan asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa.

37
Daftar Pustaka

Captain. 2008. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC

Isaac, Ann. 2004. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan psikiatrik. Jakrta: EGC

Stuart dan Sundeen. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: EGC

Stuart dan Laraia. 2005. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Eight Edition. USA:

Elsevier Mosby

Stuart. 2009. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Bandung: Penerbit Refika Aditama.

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 1991. Tingkah laku Bunuh Diri. Jakarta : Arcan

Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC

Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Ingram, I.M., dkk. 1993. Catatan Kuliah PSIKIATRI edisi 6. Jakarta : EGC

Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC

Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.

Jenny., dkk. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan

Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.

Yosep Iyous. 2009. Keperawatn Jiwa. Bandung: Refika Adira

Keliat, Budi Ana. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I. Jakarta: EGC.

Keliat, Budi Ana. 1999. Gangguan Konsep Diri, Edisi I. Jakarta : EGC.

38

Anda mungkin juga menyukai