Anda di halaman 1dari 34

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisikan tinjauan pustaka yang dikumpulkan oleh peneliti yang bersumber

dari buku/text book dan jurnal-jurnal penelitian yang disearch engine pada google scholar

dengan kata kunci : pengetahuan, kanker serviks, pemeriksaan IVA. Pada Bab ini, akan

dibahas mengenai konsep teori kanker serviks , mulai dari definisi, penyebab, faktor resiko,

tanda dan gejala, stadium, dan pencegahan. Selain itu, akan dibahas juga mengenai variabel

dependent yaitu pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat (IVA) dan variabel indepent yaitu

pengetahuan ibu tentang kanker serviks serta akan ditampilkan penelitian-penelitian yang

terkait dengan topik penelitian ini dan selanjutnya berisi mengenai teori keperawatan.

2.1 Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan jenis tumor ganas yang terdapat pada leher rahim.

Definisi dari kanker serviks akan dijelaskan dari beberapa pendapat. Menurut, Astried

Savitri,dkk (2015) kanker serviks atau biasa disebut dengan kanker leher rahim adalah jenis

tumor ganas yang mengenai daerah lapisan permukaan (epitel) dari leher rahim atau mulut

rahim. Kanker serviks merupakan kanker yang tumbuh dan berkembang pada bagian mulut

rahim yang berasal dari lapisan epitel atau lapisan terluar permukaan serviks

(Riskani,2016). Sama halnya dengan definisi kanker serviks yang dikemukakan oleh

Nugroho & Bobby (2014) menjelaskan bahwa tumor ganas yang tumbuh di dalam leher

rahim/serviks merupakan kanker serviks dan wanita usia 35-55 tahun biasanya terserang

kanker serviks. Jadi, kanker serviks adalah jenis tumor ganas yang tumbuh dan

berkembang pada daerah leher rahim.


Kanker serviks yang tumbuh dan berkembang pada leher rahim ditularkan melalui

Human Papiloma Virus. Penyebab dari kanker serviks yaitu Human Papilloma Virus yang

ditularkan melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan atau berhubungan

seksual dengan pasangan yang memiliki banyak mitra seksual (Riskani,2016). Tingginya

angka penderita kanker leher rahim disebabkan oleh berbagai faktor antara lain adalah

Human Papiloma Virus (HPV), hubungan seksual yang dilakukan pada usia dini, seringnya

berganti pasangan seksual, dan perilaku seksual pasangan. Namun, dari beberapa faktor

tersebut, 95% penyebab utama kanker leher rahim dikarenakan oleh HPV yang ditularkan

melalui kontak kulit (Safryna,dkk, 2016). Jadi dapat disimpulkan penyebab kanker serviks

disebabkan oleh Human Papilloma Virus yang menular pada saat melakukan hubungan

seksual dengan banyak pasangan.

Penyebab kanker serviks bukan hanya disebabkan oleh Human Papiloma Virus

tetapi hubungan seksual diusia dini juga menjadi penyebab terjadinya kanker serviks.

Hubungan seksual yang dilakukan pada usia dini (dibawah 20 tahun) menjadi faktor

penyebab terjadinya kanker serviks, karena sebelum usia 20 tahun organ reproduksi wanita

belum memiliki tingkat kematangan yang sesuai (Astried Savitri,dkk,2015). Menurut

Riskani, (2016) wanita yang melakukan hubungan seksual diusia dini, misalnya diusia

dibawah 20 tahun mempunyai resiko tinggi untuk mengalami kanker serviks, hal ini

dikarenakan pembentukan sel epitel atau lapisan dinding vagina dan serviks belum matang

sacara sempurna, disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal. Dari pernyataan tersebut

dapat disimpulkan hubungan seksual diusia dini menjadi salah satu faktor pemicu

terjadinya kanker serviks.


Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kanker serviks pada

wanita dikarenakan gaya hidup yang salah. Kanker serviks tidak hanya disebabkan oleh

Human Papillpma Virus tetapi dipengaruhi dengan adanya faktor resiko (Riskani,2016).

Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kanker serviks pada wanita

dikarenakan gaya hidup yang salah. Faktor terjadinya kanker serviks yang disebabkan oleh

gaya hidup yang salah seperti kurang menjaga kebersihan genetalia, kebiasaan merokok,

keputihan yang hanya dibiarkan terus menerus, memiliki banyak anak, penggunaan

kontrasepsi , kekurangan nutrisi, dan juga ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan

kanker serviks yakni, usia dan riwayat kanker serviks pada keluarga (Astried Savitri,dkk

2015). Jadi dapat disimpulkan bahwa wanita terkena kanker bukan hanya disebabkan oleh

Human Papiloma Virus yang ditularkan melalui hubungan seksual dengan banyak

pasangan, hubungan seksual diusia dini tetapi ada beberapa faktor gaya hidup yang salah

dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks.

Wanita yang beresiko terkena kanker serviks memiliki berbagai gejala yang dapat

dirasakan seperti gejala awal dan berujung pada gejala lanjutan. Menurut, Astried Savitri,

dkk (2015) Human Papiloma virus (HPV) menjadi penyebab kanker serviks yang

menyerang leher rahim dan biasanya pada tahap awal wanita tidak akan mengalami

keluhan yang berarti, bahkan hampir tidak ada gejala yang muncul pada infeksi tahap awal

HPV, dan stadium awal kanker serviks. Tetapi berbeda halnya dengan yang dijelaskan oleh

Riskani (2016) ada beberapa gejala yang dirasakan pada stadium awal kanker serviks yaitu

keputihan yang berulang tetapi ada dua jenis keputihan yaitu keputihan fisiologis dan

keputihan non fisiologis dan pendarahan melalui vagina.


Kemudian, ada gejala lanjutan yang dapat dirasakan wanita pada stadium lanjut.

Seperti yang dijelaskan oleh Nugroho (2014) gejala yang muncul saat sel serviks yang

abnormal berubah menjadi keganasan dan menyebar ke jaringan sekitarnya. Pada saat ini

akan timbul gejala seperti perdarahan vagina yang abnormal terutama saat menstruasi dan

melakukan hubungan seksual, atau gejala utama keputihan yang menetap dengan cairan

cair berwarna pink, coklat, tercampur darah atau hitam serta berbau busuk, kurangnnya

nafsu makan, berat badan menurun, mudah lelah, nyeri panggul beserta punggung,tungkai,

dan akan keluar air kemih atau tinja dari vagina. Sehingga dapat disimpulkan wanita yang

beresiko tinggi atau bahkan menderita kanker serviks dapat mengalami beberapa gejala

awal dan lanjutan dari penyakit kanker serviks tersebut seperti keputihan yang berulang,

pendarahan melalui vagina, serta nyeri bagian panggul, susah berkemih, berat badan

menurun dan kurang nafsu makan serta mudah lelah.

Kanker serviks yang terjadi pada wanita memiliki berbagai tingkat stadium mulai

dari stadium awal sampai stadium akhir atau dari stadium satu sampai satidum empat.

Stadium kanker dapat ditentukan dilihat dari sejauh mana kanker menyebar pada bagian

tubuh yang lain (Astried Savitri, dkk 2015). International Federation of Gynecology and

Obstetrics (FIGO) memperkenalkan system yang dapat digunakan untuk pembagian

stadium kanker serviks . Pada sistem ini, angka romawi O sampai IV menggambarkan

stadium kanker (Subagja,2014). Penyakit pra kanker, setiap tahap kanker utama dari I

sampai IV. Jadi dapat disimpulkan kanker serviks memiliki tingkat stadium mulai dari

stadium awal sampai stadium akhir yang dapat ditentukan dari proses penyebaran

terjadinya kanker serviks.


Pertama, stadium awal atau stadium 0 yang merupakan stadium terendah ini disebut

juga dengan nama karsinoma in situ karena sel-sel belum menyebar pada jaringan lain, sel

kanker ini masih bertahan pada lapisan leher rahim atau serviks. Ukurannya pun masih

sangat kecil . Dan jika penderita mengetahui kanker serviks sejak awal akan mempermudah

penanganan dan memiliki kemungkinan besar terhadap proses penyembuhan. Selanjutnya,

kanker stadium I sel kanker mulai ditemukan pada serviks (leher rahim itu sendiri).

Walaupun pertumbuhan kanker hanya sebatas pada bagian serviks, akan tetapi infeksinya

sudah mulai menyerang leher rahim bagian bawah lapisan atas dari sel-sel serviks.

Stadium I kembali terbagi menjadi dua stadium yakni stadium IA dan IB. Stadium

IA1 didapati invasi stroma sedalam ≤ 3 mm dan seluas ≤ 7 mm. Stadium IA2 didapati

Invasi stroma sedalam > 3mm dan seluas >7 mm. Selanjunya, Stadium IB lesi yang

nampak secara klinis, terbatas pada serviks uteri atau kanker preklinis yang lebih besar

daripada stadium IA. Stadium IB terbagi lagi menjadi stadium IB1 yang didapati lesi yang

tampak ≤ 4 cm, dapat dilihat dengan mata telanjang dan stadium IB2 didapati lesi yang

tampak > 4 cm, pertumbuhan kanker serviks semakin terlihat. Jadi dapat disimpulkan pada

stadium 0-1 merupakan tahap awal dari kanker serviks yang belum menyebar ke organ lain

tetapi infeksinya sudah mulai menyerang daerah leher rahim.

Kedua, pada tingkat stadium II sel kanker telah melalui serviks dan mengivasi bagian

atas vagina. Namun, sel kanker tidak menyebar ke dinding pelvic (sepertiga bagian bawah

vagina) ataupun dinding panggul. Lokasi yang terserang kanker pada stadium ini adalah

serviks dan uterus. Stadium II terbagi menjadi II tahap yakni stadium IIA dan IIB. Pada

stadium IIA ini, lesi telah meluas ke sepertiga proksimal vagina. Kanker memang meluas

sampai ke atas vagina, tetapi belum menyebar ke dalam vagina. Kanker tidak menginvasi
paametrium. Stadium ini terbagi lagi menjadi dua stadium stadium IIA1 didapti lesi yang

tampak ≤ 4 cm dan stadium IIA2 didapati lesi yang tampak > 4 cm. Kemudian stadium IIB

pada stadium ini, lesi telah mencapai parametrium, akan tetapi tidak mencapai dinding

panggul. Jadi dapat disimpulkan pada stadium II kanker sudah mulai menyebar bagian atas

vagina.

Setelah itu masuk pada stadium III dimana sel kanker telah menyerang bagian pelvic

atau sepertiga bagian bawah vagina. Bisa jadi sel kanker telah menyerang dinding panggul.

Jika kanker yang ada berukuran besar, mungkin memblok saluran urin dari ginjal sehingga

menyebabkan ginjal tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, kanker juga telah menyebar

ke simpul-simpul getah bening yang berdekatan. Tahapan ini juga terbagi menjadi dua

stadium yaitu stadium IIIA didapti lesi telah menyebar ke sepertiga vagina distal. Tetapi

tanpa adanya ekstensi ke dinding pelvis. Sel kanker juga sudah menyerang sampai dinding

sampai panggul. Kemudian, stadium IIIB dimana sel kanker telah menyerang dinding

sampai vagina. Karenanya, penderita akan mulai kesulitan berkemih karena ada timbunan

air seni di ginjal. Stadium ini juga mulai merusak kerja ginjal.

Setelah itu masuk pada tahap stadium akhir yaitu stadium IV dimana sel kanker telah

menyebar ke bagian tubuh lain. Lesi telah keluar dari vagina, dan kondisi ini tentu sangat

parah. Bisa jadi karsinoma telah menyebar dan menyerang organ lain seperti kandung

kemih, rektum, paru-paru, tulang, bahkan hati. Tahapan dalam stadium IV terbagi menjadi

beberapa tahapan yaitu stadium IVA terjadi pertumbuhan kanker telah menyebar dan

menyerang organ sekitar serviks. Stadium IVB dimana pertumbuhan kanker telah

menyebar dan menyerang organ tubuh yang lebih jauh dari serviks. misalnya paru-paru,

hati dan tulang. Metastase sudah jauh (Savitri, Astrid, dkk, 2015). Menurut, Riskani (2016)
menjelaskan bahwa kanker yang belum menyebar diluar leher rahim berada pada tahap

stadium I, kemudian kanker yang sudah menyebar ke jaringan sekitar berada pada tahap

stadium II,III,IVA selanjutnya kanker yang sudah menyebar ke tempat yang lebih jauh atau

bermatastasis ke organ tubuh lainnya masuk pada tahap stadium IVB. Sesuai dengan

penjelasan diatas maka dapat disimpulkan kanker serviks yang terjadi pada wanita

memiliki berbagai tingkat keparahan yang dapat dilihat dari tingkat stadium yang diderita,

tingkatan stadium terdiri dari stadium 0-IV atau mulai dari stadium awal sampai stadium

akhir.

Untuk mencegah terjadinya kanker serviks, wanita perlu tahu tentang upaya

pencegahan kanker serviks. Pencegahan yang dapat dilakukan seorang wanita agar

terhindar dari kanker serviks bisa dimulai dengan vaksinasi HPV, kedua menghindari

faktor resiko terjadinya kanker serviks seperti gaya hidup yang salah pada wanita. Ketiga,

adalah dengan melakukan deteksi dini, terutama bagi perempuan yang aktif menjalankan

kegiatan seksual. Banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diserang oleh

virus HPV. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan HPV

dan kanker serviks di stadium awal adalah dengan melakukan deteksi dini (Astried

Savitri,dkk 2015). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kanker serviks pada wanita

dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini, dan IVA menjadi salah satu cara untuk

deteksi dini terhadap kanker serviks selain itu wanita perlu menghindari faktor resiko yang

mengakibatkan kanker serviks.

Pencegahan kanker serviks yang ketiga yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara

dini. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan HPV dan

kanker serviks dengan melakukan deteksi dini karena deteksi dini lebih efektif dari pada
membiarkan kanker menjadi lebih ganas. Adapun beberapa upaya deteksi dini yang dapat

dilakukan yakni, Pap smear, Pap net, servikografi, tes IVA (Inspeksi Visual Asam), tes

HPV, kolposkopi, dan sitology.

2.2 Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam asetat IVA

Untuk mengatasi masalah mengenai kanker serviks harus ada tindakan pencegahan

yang cepat seperti melakukan deteksi dini menggunakan pemeriksaan IVA. Inspeksi

Visual Asam Asetat atau biasa disebut dengan IVA adalah salah satu cara untuk deteksi

dini terhadap kanker serviks dengan menggunkan larutan asam asetat . Sama halnya, yang

dijelaskan oleh Anggreany dkk (2017) yaitu IVA kepanjangan dari Inspeksi Visual Asam

Asetat merupakan suatu metode pemeriksaan dengan cara mengoles larutan asam asetat

pada serviks atau leher rahim. Definisi IVA dapat dilihat juga dari pendapat Abdul Aziz

dkk (2015) bahwa Inspeksi Visual Asetat (IVA), merupakan pemeriksaan kanker serviks

dengan cara mengamati serviks yang diolesi asam asetat 3-5% di permukaan porsio, jika

positif maka akan menimbulkan gambaran acetowhite (bercak putih). Pemeriksaan IVA

adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti dokter, bidan dan

perawat pada leher rahim yang telah diberi asam asetat/asam cuka 3-5% kemudian

dilakukan inspeksi untuk melihat lesi prakanker jaringan ektoserviks rahim yang diolesi

larutan asam asetoasetat (asam cuka) akan berubah warna menjadi putih (acetowhite) (Eva

&Anna, 2014). Jadi dapat disimpulkan bahwa IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan larutan asam asetat yang

diolesi pada leher rahim untuk melihat adanya ke abnormalan dengan begitu metode IVA

merupakan salah satu cara untuk deteksi dini terhadap kanker serviks.
Dilakukannya deteksi dini melalui pemeriksaan IVA harus tepat sasaran. Dapat

ditinjau dari segi usia terlebih khusus bagi wanita sudah pernah melakukan hubungan

seksual, wanita yang merokok, wanita yang memiliki banyak anak serta wanita yang sering

ganti pasangan seksual beresiko tinggi terhadap kanker servik yang menjadi sasaran dalam

pemeriksaan IVA. Menurut (WHO) sasaran skrining kanker leher rahim yang ditetapkan

yakni, setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun dan yang belum pernah menjalani

tes pap sebelumnya, atau pernah mengalami tes pap 3 tahun sebelumnya atau lebih,

perempuan yang pernah mengalami lesi abnormal pada pemeriksaan tes pap sebelumnya.,

kemudian perempuan yang mengalami perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan

pasca sanggama atau perdarahan pasca menopause atau mengalami tanda dan gejala

abnormal dan juga perempuan yang ditemukan ketidaknormalan pada leher rahimnya. Jadi

dapat disimpulkan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan IVA harus tepat pada sasaran

yaitu pada wanita yang aktif berhubungan seksual dan juga bagi wanita yang beresiko

tinggi terhadap kanker serviks.

Pemeriksaan IVA harus dilakukan sesuai dengan prosedur, seperti persiapan pasien

dalam melakukan test, kesediaan alat dan bahan dan juga langkah-langkah dalam

pemeriksaan IVA. Menurut Astried Savitri, dkk (2015) menjelaskan bahwa prosedur

pemeriksaan IVA yang pertama adalah, persiapan pasien menjalani test IVA dimana

sebelum menjalani pemeriksaan tes IVA, pasien sebaiknya memperhatikan syarat-syarat

untuk dilakukan test. Misalnya, tidak melakukan hubungan seksual minimal 24 jam

sebelum pemeriksaan, tidak mencuci vagina menggunakan larutan antiseptic, atau jenis

pembersih lainnya. Kedua, persiapan alat untuk melakukan pemeriksaan IVA yakni,

setiap tenaga kesehatan yang akan melakukan tes ini tentu perlu mempersiapkan peralatan

tes IVA sebaik-baiknya. Berikut peralatan yang harus dipersiapkan untuk melakukan tes
IVA menurut Putri (2013:21) antara lain yaitu sabun untuk mencuci tangan, cahaya atau

lampu terang untuk melihat serviks speculum (alat pelebar) dengan desinfeksi tingkat

tinggi, sarung tangan sekali pakai yang didesinfeksi tingkat tinggi, meja ginekologi, lidi

wotten dan kapas, Asam asetat 3-5%; Larutan iodin lugol, Larutan klorin 0,5% dalam

wadah untuk dikontaminasi, instrument dan sarung tangan, format pencatatan. Jadi, dapat

disimpulkan untuk melakukan pemeriksaan IVA harus dilakukan sesuai dengan prosedur

seperti persiapan klien dan persiapan tenaga kesehatan untuk menyiapkan peralatan

dengan sebaik-baiknya.

Adapun teknik dalam pemeriksaan IVA. Langkah pemeriksaan IVA dilakukan

dengan cara mengoleskan asam asetat pada leher rahim pasien. Saat pemeriksaan

dilakukan, pasien dalam keadaan posisi litotomi diatas meja ginekologi. Langkah pertama,

pemeriksa harus mencuci tangan dengan benar, dan mengeringkan tangannya. Kemudian,

pasang speculum yang steril dan masukan ke dalam vagina untuk leher rahim, langkah

selanjutnya yaitu atur pencahayaan agar serviks terlihat jelas, bersihkan darah, mucus, dan

kotoran lain pada serviks menggunakan lidi wotten, identifikasi daerah sambungan zona

transformasi (skuamo-kolumnair junction) dan area sekitarnya, selanjutnya lidi wotten

yang telah dicelupkan dengan larutan asam asetat 3-5% dimasukan ke dalam vagina sampai

menyentuh porsio, dan oleskan ke seluruh permukaan porsio.

Dan untuk melihat perubahan pada serviks tunggu 1-2 menit. Setelah itu amati

dengan cermat daerah yang diolesi asam asetat. Inspeksi serviks yang mudah berdarah dan

terdapat plaque dan tebal atau epitel acetowhite bila menggunakan larutan asam asetat atau

warna kekuningan bila menggunakan larutan lugol, bersihkan sisa larutan asam asetat dan

lerutan lugol dengan lidi wotten atau menggunakan kasa bersih. Selanjutnya lepas
speculum dengan hati-hati dan yang terakhir hasil pengamatan dan gambar daerah temuan

dicatat. Dari penjelasan mengenai prosedur pemeriksaan IVA yang telah diuraikan diatas

maka dapat disimpulkan pemeriksaan IVA harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang

ada dengan memperhatikan kesiapan pasien, kelengkapan alat dan bahan serta langkah-

langkah yang sesuai dalam pemeriksaan IVA tersebut.

Gambar 2.2 Hasil pembacaan tes IVA

Sumber:http://bit.ly/1GTnen

Pemeriksaan IVA positif terinfeksi sel kanker, apabila ditemukan adanya area putih

dan permukaanya meninggi serta memiliki batas yang tegas disekitar zona transformasi.

Jika hasil pemeriksaan IVA menunjukkan adanya ke abnormalan, pasien

direkomendasikan untuk melakukan biopsy (Astried Savitri,dkk 2015). Dapat

disimpulkan bahwa hasil test IVA yang positif dapat dilihat dengan adanya bercak putih

pada daerah yang diperiksa.


2.3 Pengetahuan Ibu tentang Kanker Serviks

Rendahnya pengetahuan ibu tentang kanker serviks menjadi salah satu penyebab

tingginya tingkat kejadian kanker serviks. Menurut ,Aprilia, dkk (2013) Tingginya

penderita kanker serviks di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan

ibu tentang kanker serviks. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Lely Safrina,dkk

(2016) tingginya angka kematian yang disebabkan kanker leher rahim dapat dicegah

apabila wanita dewasa muda mempunyai pengetahuan dan menyadari bahwa kanker leher

rahim merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa

rendahnya pengetahuan ibu tentang kanker serviks menjadi salah satu penyebab tingginya

tingkat kejadian kanker serviks.

Dalam hal ini pengetahuan ibu tentang kanker serviks dengan deteksi dini akan

dijelaskan dijelaskan dari beberapa pendapat. Pertama, menurut dr.Laila Nurana dalam Ni

Made (2013) mengatakan bahwa rendahnya pengetahuan perempuan tentang kanker

serviks membuat rendahnya keinginan perempuan untuk melakukan deteksi dini terhadap

kanker serviks, hal ini dikarenakan karena perempuan di Indonesia masih awam dengan

kanker serviks. Sama halnya dengan pendapat yang kedua oleh Abdul Aziz (2015)

menjelaskan bahwa tingkat pengetahuan wanita di Indonesia tentang deteksi dini kanker

serviks dapat berpengaruh terhadap angka wanita yang melakukan deteksi dini kanker

serviks. Untuk itu, perempuan memerlukan pengetahuan untuk menjalani multiperannya.

Perempuan memiliki jadwal rutin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mandiri secara

berkala, yaitu per minggu, per bulan, atau per tahun (Afiyanti dalam Anggreany dkk,

(2017). Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas bahwa dengan rendahnya pengetahuan

ibu terhadap kanker serviks akan membuat ibu kurang menyadari akan bahaya kanker
serviks serta tidak memiliki keiginan untuk melakukan pencegahan terhadap kanker

serviks dengan cara melakukan deteksi dini sejak awal.

2.4 Penelitian Terkait

Jurnal yang digunakan dalam penelitian terkait ini didapati melalui jurnal yang di

search engine pada google scholar dengan menggunakan kata kunci pengetahuan, kanker

serviks, pemeriksaan IVA. Berikut ini terdapat lima penelitian terkait yang berhubungan

dengan judul yaitu Hubungan pengetahuan ibu tentang kanker serviks dengan jumlah ibu

yang melakuka pemeriksaan IVA.

Penelitian terkait pertama, yang dilakukan oleh Dewi L Ni Made Sri, Suryani

Nunuk, dan Murdani Pancrasia (2013). Tempat penelitian Puskesmas Buleleng I.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan pengetahuan WUS dengan pemeriksaan

IVA, hubungan sikap WUS dengan pemeriksaan IVA dan hubungan pengetahuan dan

sikap WUS dengan pemeriksaan IVA di Puskesmas Buleleng I. Desain penelitian yang

digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi

dalam penelitian ini yaitu jumlah WUS yang ada di wilayah keja Puskesmas Buleleng I

yang berjumlah 10960 orang dan sampel berjumlah 40 orang, dengan menggunakan

teknik simple random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian yaitu

kuesioner untuk data pengetahuan, sikap dan pemeriksaan IVA yang diuji dengan analisis

Regresi Logistik.

Dari hasil penelitian ini diketahui pengetahuan WUS dengan p=0,007 dan dengan

sikap WUS p=0,014 sehingga dapat disimpulkan pengetahuan dan sikap WUS

berpengaruh terhadap perilaku pemeriksaan IVA di Puskesmas Buleleng I, Kecamatan

Buleleng, sebesar 72,7%. Jadi, dapat disimpulkan dari penelitian ini terdapat hubungan
positif antara tingkat pengetahuan dan sikap WUS dengan pemeriksaan IVA di Puskesmas

Buleleng I. Kelebihan dari penelitian ini adalah meneliti dua variabel sekaligus yaitu

pengetahuan dan sikap WUS dengan pemeriksaan IVA.

Penelitian terkait kedua yaitu, penelitian oleh Eva Sulistiowati dan Anna Maria

Sirait (2013). Tempat penelitian di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Tujuan

penelitian untuk menilai pengetahuan faktor risiko, perilaku dan deteksi dini kanker serviks

dengan pemeriksaan IVA pada wanita di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Penelitian ini menggunakan metode desain potong lintang dengan data analisis berasal dari

subset baseline data penelitian “Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular” 2012.

Responden berjumlah 5237 orang di wawancara dengan alat ukur kuesioner terstruktur,

sampel yang digunakan dalam analisis ini adalah wanita berjumlah 3303 orang.

Hasil dari penelitian ini yaitu dari 3303 responden wanita, didapati pengetahuan

tentang HPV sebagai penyebab kanker serviks sebanyak 17,3%, pengetahuan faktor risiko

kanker serviks kategori baik 19,3% dan pernah melakukan IVA 3,8%. Wanita yang tidak

melakukan pemeriksaan IVA berjumlah 1055 orang dengan berbagai alasan seperti bagian

epitel serviks tidak kelihatan, belum kawin, hamil dan alasan lainnya seperti (malu, takut).

Dan dari hasil pemeriksaan IVA dari 2248 responden menunjukan 98,1% negatif, 1,7%

positif, kanker serviks 0,1%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pengetahuan responden

tentang penyebab dan faktor risiko kanker serviks masih rendah dan perilaku pemeriksaan

deteksi dini juga masih rendah. Manfaat penelitian ini menunjukan hubungan yang

bermakna bagi peneliti untuk meneliti kembali variabel yang sama mengenai pengetahuan

wanita tentang kanker serviks karena diantara 3303 responden pengetahuan tentang HPV

penyebab kanker serviks hanya 17,3% dan hanya 3,8% yang melakukan pemeriksaan IVA.
Penelitian ketiga, oleh Anggreany T. C. Pamaruntuan, Grace D. Kandou, Billy J.

Kepel, (2017). Tempat penelitian di Kelurahan Kinilow Kecamatan Tomohon Utara.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

tindakan WUS dalam melakukan pemeriksaan IVA. Penelitian ini menggunakan metode

kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional

study. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah wanita yang sudah menikah usia

25-65 tahun dan tinggal di Kelurahan Kinilow yang berjumlah 440 orang dengan teknik

pengambilan sampel yaitu simple random sampling (n = 201 orang).

Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik chi square (x2) dan uji Fisher

Exact dengan CI = 95% pada tingkat kesalahan 5% (α = 0,05). Sehingga, dari penelitian

ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan,sikap,dukungan

petugas dengan tindakan wanita usia reproduktif untuk melakukan pemeriksaan IVA,dan

tidak terdapat hubungan antara dukungan suami dengan tindakan wanita usia reproduktif

untuk melakukan pemeriksaan IVA, dalam penelitian ini sikap merupakan variabel yang

paling kuat hubungannya dengan tindakan wanita usia reproduktif untuk melakukan

pemeriksaan IVA. Manfaat dari penelitian ini menjelaskan adanya hubungan yang

bermakna antara pengetahuan dengan tindakan wanita usia reproduktif untuk melakukan

pemeriksaan IVA.

Penelitian terkait berikutnya dilakukan oleh Nurma Ika Zuliyanti dan Wiastuti,

(2013). Tempat penelitian di Puskesmas Rowokele Kabupaten Kebumen. Tujuan dari

penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan WUS tentang kanker serviks,

mengetahui motivasi pemeriksaan IVA dan menganalisis hubungan pengetahuan WUS

tentang kanker serviks dengan motivasi pemeriksaan IVA. Metode penelitian yang

digunakan yaitu metode penelitian kuantitatif cross sectional dengan desain survei analitik.
Populasi dalam penelitian ini seluruh Wanita Usia Subur (WUS) di Puskesmas Rowokele.

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 orang dengan penarikan sampel menggunakan

consecutive sampling.

Hasil penelitian menunjukan sebagian besar WUS memiliki pengetahuan tentang

kanker serviks dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 40 orang (53,3%), sebagian besar

WUS yang memiliki motivasi tinggi melakukan pemeriksaan IVA yaitu sebanyak 39 orang

(52,0%) dan hasil analisa statistik menunjukkan bahwa nilai korelasi Kendall Tau sebesar

0,354 atau p-value sebesar 0,001 berarti p-value < a (0,05). Jadi kesimpulan dari penelitian

ini terdapat hubungan pengetahuan ibu tentang kanker serviks dengan motivasi

pemeriksaan IVA di Puskesmas Rowokele tahun 2013. Manfaat dari penelitian ini, yakni

menambahkan referensi bagi peneliti bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang

kanker serviks dengan pemeriksaan IVA.

Penelitian terkait terakhir yang dilakukan oleh Lely Safrina, Kartika Sari, Marty

Mawarpury (2016). Tempat penelitian di Banda Aceh. Tujuan penelitian untuk mengetahui

hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku wanita dewasa muda terhadap kanker

leher rahim. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode

survey, dan didapati responden berjumlah 269 orang.

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan perempuan terhadap kanker

leher rahim cukup karena tidak terpapar dengan informasi tentang kanker leher rahim

secara maksimal, sikap responden terhadap kanker leher rahim tergolong positif.

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu peneliti tidak bisa menggambarkan dinamika

hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku dewasa muda terhadap kanker leher rahim.

Berdasarkan hasil dari lima penelitian terkait diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa
penelitian ini dapat membantu peneliti berikut yang meneliti tentang hubungan

pengetahuan tentang kanker serviks dengan pemeriksaan IVA. Penelitian terkait ini juga

dapat memberikan referensi bagi peneliti dengan hasil penelitian yang menunjukkan nilai

yang signifikan antara pengetahuan kanker serviks dengan tindakan pemeriksaan IVA.
Tabel 2.4 Tabel Penelitian Terkait

No Penulis Tempat Tahun Tujuan Desain / Populasi / Hasil Manfaat /


Metode Sampel / Keterbatasan
Penelitian Sampling

1 Ni Made Puskesmas 2013 Untuk menguji Observasio Populasi dalam Dari hasil Manfaat
Sri Dewi Buleleng I hubungan nal analitik penelitian ini penelitian ini penelitian ini
L, Nunuk pengetahuan dengan yaitu WUS yang diketahui memperhatikan
Suryani, WUS dengan pendekatan ada di wilayah pengetahuan hasil penelitian
Pancrasia pemeriksaan cross keja Puskesmas WUS dengan yang ada, bagi
Murdani IVA, hubungan sectional Buleleng I yang p=0,007 dan tenaga kesehatan
sikap WUS study berjumlah 10960 dengan sikap agar lebih
dengan orang dan sampel WUS p=0,014 meningkatkan
pemeriksaan berjumlah 40 sehingga dapat promosi tentang
IVA dan orang,dengan disimpulkan program
hubungan menggunakan pengetahuan pemeriksaan
pengetahuan teknik simple dan sikap IVA, melalui
dan sikap WUS random sampling WUS pemberian
dengan berpengaruh pendidikan
pemeriksaan terhadap kesehatan dalam
IVA di perilaku bentuk
Puskesmas pemeriksaan penyuluhan.
Buleleng I IVA di
Puskesmas
Buleleng I,
Kecamatan
Buleleng,
sebesar 72,7%.
Jadi, dapat
disimpulkan
dari penelitian
ini terdapat
hubungan
positif antara
tingkat
pengetahuan
dan sikap
WUS dengan
pemeriksaan
IVA di
Puskesmas
Buleleng I.

2 Eva Kecamatan s2014 Untuk menilai Desain Populasi : semua Hasil dari Penelitian ini
Sulistiow Bogor pengetahuan potong responden penelitian ini dapat dijadikan
ati,Anna Tengah, faktor risiko, lintang berjumlah 5237 yaitu dari 3303 landasan bagi
Maria Kota Bogor perilaku dan dengan data orang di responden peneliti lainnya
Sirait deteksi dini analisis wawancara wanita, untuk ada upaya
kanker serviks berasal dari menggunakan didapati meningkatkan
dengan subset kuesioner yang pengetahuan pengetahuan.
pemeriksaan baseline terstruktur. tentang HPV peningkatan
IVA pada data Sampel yang sebagai pengetahuan,
wanita di penelitian digunakan dalam penyebab pemeriksaan
Kecamatan “Studi analisis ini kanker serviks deteksi dini
Bogor Tengah, Kohor adalah wanita sebanyak kanker serviks
Kota Bogor Faktor berjumlah 3303 17,3%, yang dilakukan
Risiko orang pengetahuan secara
Penyakit faktor risiko komprehensif
Tidak kanker serviks dan multi sektor
Menular” kategori baik disiplin guna
2012 19,3% dan mencegah
pernah kanker serviks.
melakukan
IVA 3,8%.
Wanita yang
tidak
melakukan
pemeriksaan
IVA berjumlah
1055 orang
dengan
berbagai alasan
seperti bagian
epitel serviks
tidak kelihatan,
belum kawin,
hamil dan
alasan lainnya
seperti (malu,
takut). Dan
dari hasil
pemeriksaan
IVA dari 2248
responden
menunjukan
98,1% negatif,
1,7% positif,
kanker serviks
0,1%.
Kesimpulan
dari penelitian
ini yaitu
pengetahuan
responden
tentang
penyebab dan
faktor risiko
kanker serviks
masih rendah
dan perilaku
pemeriksaan
deteksi dini
juga masih
rendah

3 Anggrea Kelurahan 2017 Untuk Deskriptif Populasi : wanita Hasil Peneliti


ny T. C. Kinilow mengetahui analitik yang sudah penelitian mengatakan agar
Pamarunt Kecamatan faktor-faktor dengan menikah usia 25- dianalisis peneliti
uan, Tomohon yang pendekatan 65 tahun dan menggunakan selanjutnya
Grace D. Utara berhubungan cross tinggal di uji statistik chi dapat
Kandou, dengan tindakan sectional Kelurahan square (x2) mengeksplorasi
Billy J. wus dalam study Kinilow yang dan uji Fisher lebih dalam
Kepel melakukan berjumlah 440 Exact dengan faktor-faktor
pemeriksaan orang dengan CI = 95% pada lain yang
IVA teknik tingkat berhubungan
pengambilan kesalahan 5% yang belum
sampel yaitu (α = 0,05). sempat diteliti
simple random Kesimpulan melalui
sampling (n = dari penelitian penelitian ini.
201 orang) ini terdapat
hubungan
antara
pengetahuan,si
kap,dukungan
petugas dengan
tindakan
wanita usia
reproduktif
untuk
melakukan
pemeriksaan
IVA,dan tidak
terdapat
hubungan
antara
dukungan
suami dengan
tindakan
wanita usia
reproduktif
untuk
melakukan
pemeriksaan
IVA, dalam
penelitian ini
sikap
merupakan
variabel yang
paling kuat
hubungannya
dengan
tindakan
wanita usia
reproduktif
untuk
melakukan
pemeriksaan
IVA

4 Nurma Puskesmas 2013 Untuk mengetahui Desain Populasi dalam Hasil Manfaat dari
Ika Rowokele tingkat pengetahuanpenelitian penelitian ini penelitian penelitian ini,
Zuliyanti Kabupaten ibu tentang kanker survei seluruh Wanita menunjukan yakni
,Wiastuti Kebumen serviks, mengetahuianalitik Usia Subur sebagian besar menambahkan
motivasi dengan (WUS) di WUS memiliki referensi bagi
pemeriksaan IVA pendekatan Puskesmas pengetahuan peneliti bahwa
dan menganalisis cross Rowokele. tentang kanker ada hubungan
hubungan sectional. Sampel dalam serviks dalam antara
pengetahuan ibu penelitian ini kategori tinggi pengetahuan ibu
tentang kanker berjumlah 75 yaitu sebanyak tentang kanker
serviks dengan orang dengan 40 orang serviks dengan
motivasi penarikan sampel (53,3%), pemeriksaan
pemeriksaan IVA. menggunakan sebagian besar IVA.
WUS yang
consecutive memiliki
sampling. motivasi tinggi
melakukan
pemeriksaan
IVA yaitu
sebanyak 39
orang (52,0%)
dan hasil
analisa statistik
menunjukkan
bahwa nilai
korelasi
Kendall Tau
sebesar 0,354
atau p-value
sebesar 0,001
berarti p-value
< a (0,05).
Kesimpulan
dari penelitian
ini terdapat
hubungan
pengetahuan
ibu tentang
kanker serviks
dengan
motivasi
pemeriksaan
IVA di
Puskesmas
Rowokele
tahun 2013.

5 Lely Banda 2016 Untuk mengetahui Penelitian Sampel Hasil dari Keterbatasan
Safrina, Aceh hubungan ini penelitian ini penelitian ini
Kartika pengetahuan, menggunak merupakan menunjukan yaitu,peneliti
Sari, sikap, dan perilaku an wanita usia muda bahwa hanya
Marty wanita dewasa pendekatan berjumlah pengetahuan mendapatkan
Mawarpu muda terhadap 269 orang perempuan data kuantitatif,
ry kanker leher rahim kuantitatif terhadap sehingga tidak
dengan kanker leher bisa
metode rahim cukup menggambarkan
survei. karena tidak dinamika
terpapar hubungan
dengan
informasi bahwa adanya
tentang kanker pengetahuan
leher rahim yang tidak selalu
berimplikasi
secara pada praktek
maksimal, manajemen
sikap kesehatan
responden seperti skrining
terhadap tes untuk kanker
kanker leher leher rahim.
rahim
tergolong
positif.
Kesimpulan
dari penelitian
ini yaitu
peneliti tidak
bisa
menggambarka
n dinamika
hubungan
pengetahuan,
sikap dan
perilaku
dewasa muda
terhadap
kanker leher
rahim.
2.5 Teori Konseptual Keperawatan

Teori Keperawatan Imogene King pernah dipakai dan diaplikasikan oleh beberapa

peneliti. Terdapat beberapa penelitian yang telah menggunakan karya King sebagai

landasan teoritis. Penelitian tersebut akan dijelaskan satu persatu, pertama, Langford

(2008) memasukkan konsep transaksi dalam penelitian dengan “praktisi perawat dan

penurunan berat badan pada remaja obesitas,” kemudian penelitian yang kedua dilakukan

oleh Firmino, de Fatmina, Cavalcante, dan Celia (2010) yang menggunakan konsep

personal dan interpersonal untuk penelitian dengan pasien yang mengalami hipertensi. Dan

yang ketiga, penelitian yang dilakukan oleh George, Roach, dan Andrade (2011) yang

melakukan penelitian mengenai pandangan keperawatan yang dimilki oleh konsumen, ahli

bedah, dan perawat (Raile Martha,2017). Jadi dapat disimpulkan bahwa teori keperawatan

Imogene King telah digunakan dan diaplikasikan sebagai suatu landasan dalam penelitian.

2.5.1 Asumsi utama teori Keperawatan Imogene King

Didalam buku pertama yang berjudul Toward a Theory for Nursing, King

mengusulkan sebuah kerangka konsep keperawatan bukan kerangka teori keperawatan.

Kerangka konsep yang diidentifikasi oleh King sebagai kerangka konsep sistem terbuka

dan teori merupakan satu tujuan yang dicapai. King memperkenalkan dan menjelaskan

beberapa asumsi yang menjadi dasar kerangka konseptualnya. Pertama, keperawatan yang

merupakan perilaku yang dapat diobservasi yang ditemukan dalam sistem perawatan

kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk menolong individu mempertahankan

kesehatannya sehingga dapat berfungsi dalam berbagai peran masing-masing.

Kedua, individu. Asumsi yang dijelaskan King mengenai individu adalah individu

sebagai makhluk sosial, individu sebagai makhluk berakal, rasional, memiliki perasaan,
individu yang dapat mengontrol, yang memiliki tujuan, yang berorientasi pada tindakan,

dan waktu. Sehingga, menurut King individu memiliki hak untuk mengetahui berbagai hal

yang berhubungan dengan dirinya, hak untuk berpartisipasi dalam mengambil suatu

keputusan yang dapat berpengaruh pada kehidupan dan kesehatannya dan juga individu

memiliki hak untuk menerima atau menolak perawatan kesehatan.

Ketiga, kesehatan yang dipandang sebagai bagian yang dinamis dalam lingkaran

kehidupan, sedangkan penyakit merupakan bagian yang berada dalam kehidupan.

Kesehatan adalah sebuah keadaan dinamis dalam siklus hidup, sementara penyakit

mengganggu proses tersebut. Kesehatan “berarti penyesuaian terus-menerus untuk

memberikan tekanan di lingkungan internal dan eksternal,melalui penggunaan sumber

daya seseorang secara optimal untuk mencapai potensi maksimal dalam kehidupan sehari-

hari” (King, 1981, hal 5 dalam Raile Martha,2017).

Keempat, lingkungan didalamnya King menyatakan, “Pemahaman mengenai tata

cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya guna mempertahankan kesehatan

merupakan inti bagi perawat”. Selanjutnya, “penyesuaian untuk hidup dari kesehatan

dipengaruhi oleh sebuah interaksi individu dengan lingkungan dimana setiap manusia

memiliki persepsi bahwa dunia sebagai total kumpulan orang-orang yang melakukan

transaksi dengan individu dan benda-benda di lingkungannya. (King,1981, hal 141 dalam

Ralie Martha 2017). Sistem terbuka terlibat pada suatu keadaan terciptanya interaksi antara

sistem dan lingkungan. Kerangka konsep sistem terbuka tersusun atas tiga sistem interaksi

yakni, sistem personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial (Asmadi,2008).

Kerangka kerja konseptual Imogene King terdiri dari tiga sistem yaitu sistem

personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial. Teori Imogene King dalam buku
Potter&Parry (2009) juga mengatakan bahwa teori Imogene King (1971,1981,1987)

berfokus pada interaksi tiga sistem ini yakni, sistem personal, sistem interpersonal dan

sistem sosial sehingga ketiganya membentuk hubungan personal antara perawat dan klien.

King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan

sistem terbuka dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan sehingga King

mengemukakan dalam model konsep interaksi. Dalam mencapai hubungan interaksi, King

mengemukakan konsep kerjanya yang meliputi adanya system personal, system

interpersonal, dan sitem social yang saling berhubungan satu dengan yang lain

(Budiono,2015). Sehingga dapat disimpukan teori Imogene King menyusun sistem

konseptualnya terdiri dari sistem personal, interpersonal dan sistem sosial.

Gambar 2.5.1 Sistem konseptual dinamis Imogene King

Diunduh dari : http://nursingtheories.weebly.com/imogene-m-king.html


Menurut King, system personal merupakan system terbuka dimana didalamnya

terdapat persepsi, adanya pola tumbuh kembang, gambaran tubuh, ruang dan waktu dari

individu dan lingkungan, kemudian hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan

antara perawat dan pasien, serta hubungan sosial dalam menegakkan sistem sosial, sesuai

dengan situasi yang ada. Melalui dasar sistem tersebut, King memandang manusia

merupakan individu yang reaktif, yakni bereaksi terhadap situasi, orang, dan objek.

Manusia sebagai makhluk yang berorientasi terhadap waktu tidak lepas dari masa lalu dan

sekarang yang dapat mempengaruhi masa yang akan datang dan sebagai mahluk sosial

manusia akan hidup bersama orang lain yang akan berinteraksi satu dengan yang lain.

Berdasarkan hal tersebut, manusia memiliki tiga kebutuhan dasar, yakni infromasi

kesehatan, pencegahan penyakit ,kebutuhan terhadap perawat ketika sakit (Budiono,2015).

2.5.2 Aplikasi Teori Imogene King dalam penelitian

Dalam penelitian ini peneliti mengaplikasikan teori keperawatan yang menggunakan

teori Imogene King dimana kerangka kerja konseptual (Conceptual Framework) sebagai

sebuah kerangka kerja sistem terbuka, dan teori ini sebagai suatu pencapaian tujuan. King

mempunyai asumsi dasar terhadap kerangka kerja konseptualnya, bahwa manusia

seutuhnya (Human Being) merupakan suatu sistem terbuka yang secara konsisten

berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia (Human being) mempunyai tiga dasar

kebutuhan kesehatan yaitu informasi kesehatan, pencegahan penyakit, dan kebutuhan

terhadap pelayanan kesehatan (Budiono,2015). Hal ini dapat dikaitan dengan penelitian

yang membahas mengenai pengetahuan ibu tentang kanker serviks dengan jumlah ibu yang

melakukan pemeriksaan IVA.


Dimana dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti mengenai pengetahuan ibu

tentang kanker serviks dengan jumlah ibu yang melakukan pemeriksaan IVA, maka teori

Imogene King digunakan peneliti sebagai suatu acuan untuk membuat kerangka konsep.

Sesuai dengan kebutuhan dasar yang pertama, manusia membutuhkan informasi kesehatan

yang dapat dipergunakan pada saat dibutuhkan hal ini dapat dikaitkan dengan pengetahuan

ibu tentang kanker serviks karena pengetahuan tersebut diperoleh dari informasi kesehatan

yang ada, jadi semakin banyak informasi kesehatan mengenai penyakit kanker serviks

semakin tinggi pula pengetahuan ibu tentang penyakit kanker serviks , tetapi jika kurangnya

informasi mengenai penyakit kanker serviks pasti semakin rendah pengetahuan ibu tentang

penyakit kanker serviks tersebut. Kedua, manusia mempunyai kebutuhuan dasar terhadap

pencegahan penyakit dan hal ini dapat dikaitkan dengan penelitian mengenai jumlah ibu-

ibu yang melakukan pemeriksaan IVA, karena pemeriksaan IVA merupakan suatu tindakan

deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker serviks.

Dan terakhir kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan, dimana melalui perawat ibu

dapat memperoleh informasi kesehatan dan tindakan pencegahan terhadap penyakit kanker

serviks,karena perawat memiliki tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kesehatan

dengan wajib menyampaikan informasi kesehatan terhadap klien sehingga lewat informasi

yang diberikan dapat menambah pengetahuan ibu mengenai kanker serviks dan ibu dapat

melakukan tindakan pencegahan deteksi dini terhadap kanker serviks lewat pemeriksaan

IVA, dan pemeriksaan IVA ini tidak terlepas dari tanggung jawab perawat karena

pemeriksaan IVA hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang professional salah

satunya perawat.