Anda di halaman 1dari 20

TUGAS REFERAT

PATIENT CONTROL ANALGETIA (PCA)

Tutor :

dr. Wisnu Budi Pramono, Sp.An

Oleh:

1. Putri Rahmawati Utami G4A016113


2. Naufal Sipta Nabilah G4A0160112

KEMENTERIAN RISTEK DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PENDIDIKAN PROFESI KEDOKTERAN
SMF ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF
RSUD PROF. DR MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

PATIENT CONTROL ANALGETIA (PCA)

Disusun Oleh:

1. Putri Rahmawati Utami G4A016113


2. Naufal Sipta Nabilah G4A016112

Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Pada

SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif

RSUD Prof. Margono Soekarjo

Purwokerto

Disetujui dan Disahkan

Pada tanggal, Februari 2018

dr. Wisnu Budi Pramono, Sp.An

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang


dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Berdasarkan
International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman
sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan
adanya kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan atau keadaan
yang menunjukkan suatu kerusakan jaringan.
Nyeri yang berkepanjangan dapat mengganggu kualitas hidup pasien serta
dapat memperlama penyembuhan serta pemulihan pada pasien pasca operasi.
Analgetik biasanya diberikan secara intravena pada pasien rawat inap dan
dilanjutkan dengan per oral. Saat ini terdapat metode yang efektif dan aman untuk
mengatasi nyeri yang melibatkan pasien secara aktif dalam memanajemen nyeri
yang dirasakannya (Brian et al, 2009).
Patient Controlled Analgesia (PCA) merupakan suatu metode interaktif
dan mutakhir dalam penanganan nyeri, dimana pasien diikutsertakan secara aktif
dalam menentukan jumlah analgetik yang diberikan yang sesuai untuk dirinya
sendiri. Konsep PCA secara luas adalah pasien segera mendapat analgetik sesuai
nyeri yang dirasakannya, baik melalui intravena, epidural, inhalasi, transkutan
maupun oral. Dalam konteks saat ini, penanganan nyeri dengan PCA di rumah
sakit menggunakan suatu mesin alat infus elektronik dengan pompa dan
dilengkapi dengan tombol kontrol untuk memasukkan sejumlah dosis analgesia.
Obat analgesia akan masuk bila pasien menekan tombol dengan dosis analgesia
yang telah terprogram sebelumnya (Igor,2009).
Penggunaan mesin PCA adalah salah satu metode pemberian analgetik
yang memungkinkan untuk kontrol nyeri dengan cepat dan efektif, namun

3
penggunaannya perlu dokter dan tenaga medis yang terlatih serta edukasi pasien
yang baik agar keefektifitasan penggunaannya dapat maksimal (Hudcova, 2012).

B. Tujuan
1. Untuk memenuhi syarat mengikuti ujian SMF Anestesi dan Terapi Intensif
Rumah Sakit Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto.
2. Berbagi informasi dan pengetahuan tentang Patient Control Analgetia (PCA).

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan mengenai manajeman nyeri.
2. Manfaat Praktis
Mengetahui penanganan nyeri dengan PCA.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Patient Controlled analgesia (PCA) adalah pemberian analgesia secara


intermiten, sesuai kebutuhan pasien yang dikendalikan oleh pasien sendiri (APS,
2003). Jalur pemberian analgetik dengan mesin PCA umumnya dan paling sering
melalui intravena, yang disebut dengan Patient Controlled Analgesia-Intravena
(PCA-IV). Terdapat juga pemberian melalui epidural yang disebut Patient
Controlled Epidural Analgesia (PCEA). Meskipun medikasi dapat diberikan
melalui berbagai jalan, konsep dasar PCA dalam pemberian medikasi dilakukan
melalui pompa infus analgesik. PCA merupakan metode pengelolaan nyeri post
operasi (Jeleazcov, et al, 2016).

Pompa infus analgesik (pompa PCA) merupakan mesin mikro-


prossesing elektronik yang dapat diprogram untuk memberikan/mengeluarkan
sejumlah obat yang telah diresepkan sesuai permintaan pasien, pada interval
tertentu dengan cara mengaktifkan/menekan suatu tombol. Pompa tersebut juga
memiliki pilihan program untuk pemberian bolus pada pasien seiring dengan
infus kontiniyu, atau infus kontinyu tanpa bolus. Pompa tersebut juga dapat
digunakan untuk pemberian bolus suplemen atau dosis awal (loading dose) suatu
pengobatan.
B. Cara Pemberian
Patient Controlled Analgesia (PCA) merupakan suatu metode interaktif
dan mutakhir dalam penanganan nyeri, dimana pasien diikutsertakan secara aktif
dalam menentukan jumlah analgetik yang diberikan yang sesuai untuk dirinya
sendiri. Konsep PCA secara luas adalah pasien segera mendapat analgetik sesuai
nyeri yang dirasakannya, baik melalui intravena, epidural, inhalasi, transkutan
maupun oral.

5
1. Oral
Pemberian analgesi oral merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan sehari-
hari, contoh pemberian analgesik apabila seseorang sakit kepala dapat
ditingkatkan dosisnya dengan penyesuaian.
2. Epidural
Pemberian melalui epidural yang disebut Patient Controlled Epidural
Analgesia (PCEA).
3. Intravena
Jalur pemberian analgetik dengan mesin PCA umumnya dan paling sering
melalui intravena, yang disebut dengan Patient Controlled Analgesia-
Intravena (PCA-IV). Pada seting rumah sakit cara ini paling banyak
ditemukan, seringkali dijadikan manajemen nyeri pasca operasi atau
manajemen nyeri pada pasien kanker stadium akhir.
4. Inhalasi
Inhaler sekali pakai yang memungkinkan pemberian sendiri uap
methoxyflurane untuk analgesia. Karena kesederhanaan Analgizer dan
karakteristik farmakologi dari methoxyflurane, mudah bagi pasien untuk
mengelola obat sendiri dan cepat mencapai tingkat analgesik yang dapat
dipelihara dan disesuaikan seperlunya selama periode waktu yang
berlangsung dari beberapa menit sampai beberapa jam (Brian, et al, 2009;
Igor, 2009).
5. Nasal
Patient Controlled Intranasal Analgesia (PCINA or Nasal PCA) adalah jenis
PCA model spray dengan fungsi sama dan dapat dikontrol dosisnya
berdasarkan jumlah semprotan yang dibutuhkan.
6. Trankutaneus
Sistem pemberian transkutan, termasuk sistem iontophoretic, telah tersedia.
Metode ini adalah populer untuk pemberian opioid seperti fentanyl, atau

6
anestesi lokal seperti lidokain. Iontocaine adalah salah satu contoh sistem
tersebut (Brian, et al, 2009; Igor, 2009; Madeira, 2008).

Gambar 1. Pompa Infus PCA; biasanya digunakan untuk pemberian


analgesik pasca operasi melalui jalur epidural (Medical Subject Headings,
2010).

Gambar 2. Pompa Infus PCA melalui jalur intravena (Drivedave, 2010).

Dalam konteks saat ini, penanganan nyeri dengan PCA di rumah sakit
menggunakan suatu mesin alat infus elektronik dengan pompa dan dilengkapi
dengan tombol kontrol untuk memasukkan sejumlah dosis analgesia. Obat
analgesia akan masuk bila pasien menekan tombol dengan dosis analgesia yang

7
telah terprogram sebelumnya. Biasanya analgetik yang diberikan melalui mesin
PCA berupa golongan opioid, namun tidak jarang NSAID juga diberikan melalui
mesin PCA.
C. PCA by Proxy
Istilah PCA by Proxy atau secara medasar berarti PCA dengan perwalian
telah digunakan untuk mendeskripsikan praktik manajemen nyeri yang tidak
aman maupun yang aman, dimana istilah tersebut memiliki makna yang bervariasi
dalam praktik dan telah digunakan untuk menjelaskan baik aktivasi resmi dan
tidak resmi dari alat tersebut.
1. AACA (Authorized Agent Controlled Analgesia) merupakan metode kontrol
nyeri dimana individu yang secara konsisten tersedia dan kompeten diberi
kewenangan oleh pembuat resep dan diedukasi untuk mengaktifkan tombol
dosis dari pompa infuse analgesic saat pasien dapat mengaktifkan sendiri
ketika merasakan nyeri.
2. NCA (Nurse Controlled Analgesia) merupakan pihak yang berwenang, yaitu
perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien.
3. CCA (Caregiver Controlled Analgesia) pihak yang berwenang, yaitu individu
non professional (seperti orang tua atau yang lainnya ).

PCA mensyaratkan pasien untuk sadar memberikan sendiri dosis medikasi


yang diperlukan. Pasien yang tersedasi atau tidur biasanya tidak akan menekan
tombol pengaktif obat, sehingga dapat menghindarkan terjadinya overdosis.
Namun, aktivasi tombol PCA diluar dari pasien misalnya oleh sahabat, penjaga,
atau bahkan pemberi layanan kesehatan yang tidak berwenang dapat
menimbulkan efek yang secara signifikan menganggu.

8
Gambar 3. PCA by Proxy (Benjamin, 2009)

D. Komponen Dasar dalam Patient Control Analgetia (PCA)


1. Loading Dose
Satu dosis bolus yang diberikan pada awal PCA yang biasanya lebih
besar dari dosis PCA. Dosis awal yang dibutuhkan untuk membangun
analgesia. Dosis pemuatan sangat bervariasi antara pasien tetapi tampaknya
berkorelasi dengan analgesia berikutnya. Oleh karena itu, ukuran dosis awal
skor nyeri selama 30 menit pertama mungkin berharga untuk memprediksi
manajemen nyeri individu (Chasman, 2006).
2. Bolus Dose
Dosis bolus adalah jumlah obat yang diberikan oleh pompa PCA
ketika pasien menekan tombol. Satu dosis yang sama dengan loading dose
yang diberikan diantara pemberian PCA. Ukuran dari bolus mempengaruhi
keberhasilan PCA: jika terlalu kecil analgesia tidak akan memadai; jika terlalu
besar efek samping akan berlebihan. Dosis bolus optimal adalah dosis yang
menyediakan analgesia memuaskan tanpa efek samping yang berlebihan;

9
dosis morfin optimal adalah 1 mg, tetapi pasien bisa secara parsial
mengkompensasi dengan meningkatkan tingkat permintaan mereka jika dosis
ini terbukti terlalu kecil. Ukuran dosis bolus mungkin perlu disesuaikan
dengan pasien berikutnya berdasar skor nyeri. Telah dikemukakan bahwa
perubahan cepat konsentrasi morfin dalam darah berkaitan dengan pengiriman
bolus PCA dapat berkontribusi untuk efek samping seperti mual dan muntah
(Chasman, 2006).
3. Lockout Interval
Interval lockout adalah waktu setelah pengiriman dosis bolus dimana
tidak ada obat lebih lanjut akan disampaikan oleh perangkat PCA. Penentuan
periode waktu dimana pasien tidak dapat memencet tombol untuk
memberikan bolus dose. Interval lockout harus cukup lama untuk
kemungkinkan pasien mengukur apakah rasa sakit telah memadai. Panjang
interval lockout dipengaruhi oleh obat yang digunakan, ukuran dosis bolus,
dan rute administrasi. Konvensional, interval lockout antara 5 dan 10 menit
telah digunakan, namun beberapa penelitian yang telah meneliti pengaruh
interval lockout belum menunjukkan perbedaan (Chasman, 2006).
4. Background Infus
Sebuah infus analgesia konstan pada tingkat yang dapat dilengkapi
dengan dosis bolus. Secara intuitif, itu mungkin diharapkan bahwa
background infus akan meningkatkan kualitas anti nyeri pada orang dewasa.
Namun, background infus benar-benar meningkatkan jumlah opioid dan
meningkatkan risiko efek samping tanpa secara signifikan meningkatkan
analgesia atau profil tidur. Background infus juga meningkatkan risiko depresi
pernapasan dan oleh karena itu tidak direkomendasikan untuk penggunaan
rutin pada orang dewasa. Namun, background infus mungkin wajar pada
beberapa pasien. Misalnya, pada pasien yang sudah menerima opioid dan
yang cenderung memiliki beberapa toleransi opioid, background infus dapat
digunakan untuk menggantikan dosis pemeliharaan pasien dari opioid. Jika
pasien menerima background infus tidak menuntut dosis bolus yang terlalu

10
tinggi. Sebaliknya, background infus bermanfaat pada anak-anak, meskipun
ada beberapa keraguan mengenai tingkat ideal infus (Chasman, 2006).
5. Four Hour Limit
Penentuan volume obat maksimum yang diberikan selama periode 4
jam. Dosis limit adalah Batas dosis adalah jumlah maksimum dosis pasien
dapat menerima selama periode waktu tertentu. Tidak ada bukti nyata yang
membatasi dosis meningkatkan keamanan PCA (Chasman, 2006).
6. PCA Dose
Besarnya dosis yang diberikan setiap waktu pasien mengaktifkan
tombol pompa.
7. Basal Rate
Besarnya dosis obat yang diberikan secara kontinyu. Rasio
injection/attempts lebih sering dicatat sebagai upaya/suntikan atau
permintaan/ pengiriman, adalah jumlah sukses dosis analgesia pasien telah
diterima dibandingkan dengan jumlah kali pasien telah menuntut dosis. Hal
ini dapat digunakan untuk “profil” kecukupan analgesia, sebuah rasio
pengiriman lebih besar dari 3. Permintaan 1 menunjukkan sebagai program
pompa tidak memadai (biasanya interval lockout adalah terlalu lama) atau
pemahaman pasien kurang (Chasman, 2006).

E. Dosis dan Variabel

Analgesi opioid tetap menjadi andalan untuk pengobatan nyeri sedang sampai
nyeri berat pasca operasi. Untuk mencapai manfaat optimal analgesi, beberapa
prinsip farmakokinetik harus diperhatikan, diantaranya (Benjamin, Enu dan
Sinatra, 2009) :

(1) kadar plasma terapi yang memadai pada sistem saraf pusat (CNS) dan kadar
yang cukup untuk aktivasi reseptor opiat.

(2) Terapi konsentrasi untuk agonis opioid yang berbeda menunjukkan lebar
variabilitas diantara pasien

11
(3) Untuk sebagian besar opioid, dosis terapi tersebut relatif sempit maka
underdosis dan overdosis dapat dengan mudah terjadi. Mengingat variabel
tersebut dan dalam upaya untuk mengoptimalkan manfaat analgesik,
penggunaan IV PCA menawarkan pilihan administrasi secara titrasi.

Dasar teoritis PCA adalah bahwa pasien akan mentitrasi opioid untuk
mencapai konsentrasi plasma obat yang konsisten dengan analgesia yang baik dan
minim efek samping. Semua opioid yang digunakan umumnya memiliki sifat
kinetic dan dinamis yang membuat mereka cocok untuk digunakan dalam PCA.
Gambar 4 merangkum variabel farmakokinetik untuk opioid yang digunakan di
PCA (Purnomo, Mahmud, dan Uyun, 2015).

Pilihan opioid yang paling populer digunakan pada PCA adalah morphine,
tetapi golongan opioid lainnya dapat pula digunakan. Idealnya analgesik yang
digunakan pada PCA haruslah memiliki mulai kerja analgesik yang cepat, efikasi
yang tinggi untuk mengatasi nyeri dan mempunyai lama kerja yang sedang/
intermediate (sekitar 30 sampai 60 menit), tidak menimbulkan ketergantungan atau
toleransi serta memiliki efek samping atau interaksi obat yang minimal. Pemberian
morphine dengan PCA setelah operasi besar, pada pasien dewasa membutuhkan 2-
3 mg/ jam dalam 24-48 jam dan 1-2 mg/jam dalam 36-72 jam (Miller, 2005).

Morfin memiliki metabolit aktif, morphine-6-glukuronide (M6G), yang juga


memberikan efek analgesia, sedasi, dan depresi pernapasan. Morfin tereliminasi
terutama oleh glucuronidasi, dimana metabolit aktif ini eliminasinya bergantung
terutama pada ekskresi ginjal. Depresi nafas yang dalam dan berkepanjangan
dengan onset yang lambat telah dilaporkan terjadi pada pasien dengan gagal ginjal
yang menerima morfin parenteral. Beberapa penulis menyarankan menghindari
morfin untuk PCA-IV (dan menghindari pengulangan dosis kumulatif morfin
parenteral) pada pasien dengan serum kreatinin > 2,0 mg/dL (Madeira et al, 2008).

Hidromorfon adalah alternatif yang baik untuk pasien dengan morfin-


intoleran atau mereka yang mengalami kegagalan fungsi ginjal, karena

12
metabolismenya terutama dalam hati dan diekskresikan sebagai metabolit
glukuronat yang tidak aktif. Hidromorfon memiliki efektivitas enam kali lebih kuat
dari morfin, demand dose 0,2 mg dianggap equianalgesic untuk 1,0 mg morfin
sehingga umumnya digunakan dalam PCA dengan konsentrasi 0,5 mg / mL atau 1
mg / mL, sangat cocok untuk pasien dengan opioid-toleran (Brian et al, 2009).

Fentanil dianggap 80-100 kali lebih kuat daripada morfin jika diberikan
sebagai dosis tunggal atau jika diberikan dalam periode singkat. Namun, karena
durasinya pendek, terutama pada fase awal administrasi (karena farmakokinetik
redistribusi),penelitian double blind PCA - IV menyarankan 25-30 μg fentanyl
equianalgesic untuk 1 mg morfin sebagai demand dose PCA – IV. Karena sifatnya
yang lipofilik fentanyl memiliki onset lebih cepat daripada morfin, mungkin hal ini
yang menjadikannya lebih cocok untuk PCA - IV. Fentanil telah dapat digunakan
dengan baik untuk PCA – IV. Hal ini merupakan alternatif yang sangat baik untuk
pasien dengan morfin-intoleran dan cocok untuk pasien dengan gagal ginjal karena
eliminasinya tidak bergantung pada ekskresi ginjal (ASA, 2010).

Meperidin memiliki metabolit yang bersifat neurotoksik, normeperidine, yang


tidak memiliki efek analgetik dan sebagian besar eliminasinya bergantung pada
ekskresi ginjal. Akumulasi normeperidine menyebabkan eksitasi SSP,
menyebabkan sejumlah reaksi toksik mulai dari cemas dan tremor hingga kejang
grand mal. Kejang yang tidak disaksikan dan disertai dengan hilangnya refleks
saluran napas dapat mengakibatkan cedera otak berat yang permanen atau
kematian akibat anoxia. Dosis yang dapat diberikan yaitu 10 mg / kg meperidine
per hari (dosis relatif kecil) sebagai dosis maksimum yang aman untuk PCA – IV
dan tidak digunakan lebih dari 3 hari. Meperidin memiliki potensi 1/10 morfin dan
demand dose 10 mg equianalgesic untuk 1 mg morfin (Cheung et al, 2009).

Penggunaan sufentanil, alfentanil, dan remifentanil untuk PCA - IV telah


dilaporkan, dengan sufentanil paling banyak dipelajari. Dengan sufentanil, dosis
permintaan awal (initial demand dose) 4-6 μg tampaknya paling tepat. Berbeda

13
dengan opioid longer-acting yang dibahas di atas, dukungan infuse kontinyu
mungkin diperlukan untuk mempertahankan analgesia dengan sufentanil
(Hudcova,2012).

Tramadol merupakan analgetik yang bekerja secara sentral dengan


mekanisme kerja analgetik opioid dan non-opioid. Tramadol berikatan dengan
reseptor μ sekitar 6000 kali lebih lemah jika dibandingkan dengan morfin dan
memiliki afinitas yang lemah untuk reseptor ĸ dan µ. Metabolit tramadol, Mono-
O-desmethyl (M1), memiliki afinitas yang lebih besar untuk reseptor opiat dan
dianggap memberikan kontribusi terhadap efek analgetiknya. Tramadol juga
menghambat uptake sentral norepinefrin dan serotonin. Dengan demikian,
antinosisepsi tramadol dimediasi oleh kedua mekanisme, opioid dan non-opioid
(penghambatan uptake monoamin), yang berinteraksi secara sinergis untuk
mengurangi nyeri. Tramadol memiliki potensi 1/6 - 1/10 dibandingkan morfin,
ketika intensitas dan durasi dipertimbangkan. Demand dose tramadol 10 mg
equianalgesic terhadap 1 mg morfin. Walaupun tidak ada perbedaan pada kualitas
sedasi, analgesia, dan kepuasan pasien, dua uji klinis menyimpulkan bahwa
menggunakan tramadol untuk PCA - IV setelah operasi perut bagian bawah dan
rekonstruksi payudara dikaitkan dengan kejadian mual dan muntah yang lebih
banyak jika dibandingkan dengan morfin. (Igor, 2009).

Gambar 2.1 Variabel farmakokinetik analgesi opioid yang digunakan pada PCA
(Purnomo, Mahmud, dan Uyun, 2015).

14
Gambar 2.2 Pedoman Dosis Bolus, Lockout Interval, dan Background Infusion Rate
untuk opioid Analgesik yang digunakan dalam Pasien-Controlled Analgesia intravena
(Chasman, 2006).

Gambar 2.3 Pedoman Dosis Bolus dan Lockout Interval untuk opioid Analgesik
yang digunakan di subkutan pada Pasien-Controlled Analgesia (Chasman, 2006).

F. Indikasi dan Manfaat


Manfaat PCA adalah setiap pasien memiliki variabilitas respon terhadap
opioid, sehingga dengan menggunakan PCA dosis dan titrasi dari obat lebih
terindividualisasi, sistem kontrol umpan balik negatif, dan menambah sistem
keselamatan untuk menghindari depresi pernafasan. Kemudian saat pasien
tersedasi akibat pemberian opioid, pasien tidak akan mampu menekan tombol
untuk menerima dosis opioid yang lebih banyak lagi. Keuntungan yang lain adalah
tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi dalam mengontrol nyeri dan efektifitas
analgesia yang lebih baik dibandingkan menggunakan sistem analgesia yang
konvensional (Brian et al, 2009).

15
Keuntungan lain yang didapat adalah efek onset cepat (5-10 menit), waktu
yang lebih pendek antara persepsi nyeri yang terjadi dan penanganan nyeri, sedasi
yang ringan selama pemberian obat, mengatasi nyeri dengan penggunaan obat-
obatan yang minimal, meminimalkan “screening” yang tidak tepat, mengurangi
komplikasi pulmoner post operatif, menurunkan insiden infeksi, pemulihan fungsi
usus lebih cepat terjadi, kembalinya aktivitas fisik dan rehabilitasi lebih dini,
mempercepat pemberian obat-obatan secara oral (Benjamin, Enu, dan Sinatra,
2009).
Kekurangan PCA adalah tidak semua pasien dapat mengerti instruksi yang
perlu diketahui untuk mempertahankan keamanan dan efektifitas penggunaan
mesin-mesin PCA, potensi terjadinya kesalahan dosis opioid dimana hal ini
berhubungan dengan faktor alat, petugas medis yang meresepkan atau
memprogram, serta biaya yang lebih tinggi (Igor, 2009).
Indikasi penggunaan PCA yaitu pasien menyetujui penggunaan PCA dan
mengerti cara menggunakannya, pasien dengan nyeri sedang sampai berat setelah
operasi, pasien yang tidak dapat diterapi dengan analgesia oral. Beberapa contoh
mengenai indikasi penggunaan PCA intravena yaitu : manajemen nyeri post
operatif, trauma, luka bakar, krisis siklus sel, dan untuk setiap pasien yang tidak
bisa menggunakan analgesia dari oral dan memerlukan jumlah yang tetap dari
analgesia opioid kuat (Chasman, 2006).
F. Masalah-masalah yang Timbul pada PCA

1. Operator errors (Benjamin, Enu, dan Sinatra, 2009) :


a. Kesalahan memprogram alat PCA
b. Kerusakan pada klem pipa atau pipa tidak terklenjaminm.
c. Pengisian syringe yang tidak tepat.
d. Ketidakmampuan untuk berespons terhadap alarm pengaman
e. Alarm pengaman yang tidak berfungsi.
f. Pemberian dosis yang tidak sesuai perintah.
g. Keterlambatan penyediaan syringe pengganti dari farmasi.

16
h. Penempatan kunci pompa PCA yang salah.
2. Patient errors (Benjamin, Enu, dan Sinatra, 2009) :
a. Tidak memahami terapi PCA.
b. Ketidakmampuan menekan tombol dosis secara efektif.
c. Pengertian yang salah tentang alat pompa PCA.
d. Bingung atau cepat lupa.
e. Penggunaan analgesik yang disengaja.
3. Mechanical problems (Benjamin, Enu, dan Sinatra, 2009) :
a. Tidak dapat diberikan sesuai kebutuhan.
b. Syringe atau botol obat yang retak.
c. Katup penghubung konektor yang rusak
d. Sistem alarm rusak
e. Kateter intravena yang bocor.
f. Alat tidak berfungsi.

17
BAB III
KESIMPULAN
Patient-Controlled Analgesia (PCA) umumnya diasumsikan sebagai
pemberian opioid intravena,on-demand, intermitten di bawah kontrol pasien.
Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dari pemakaiaan PCA untuk
penatalaksanaan nyeri akut maupun kronik. Maka dari itu wajib mempertimbangkan
jalur pemberian, jenis opioid, dosis regimen awal serta dosis penyesuaian, dan
penatalaksanaan efek samping.
Keamanan dan efikasi penggunaan PCA ditentukan oleh beberapa kondisi
yaitu efikasi obat analgesia, faktor pasien, faktor peralatan, faktoroperator dan
monitoring yang secara keseluruhan saling berkaitan dalam mengatasi nyeri. Pasien
dengan PCA sebaiknya di evaluasi kemampuan kognitif dan fisiknya dalam
mengaktifkan tombol pompa PCA. Pasien harus memahami hubungan antara nyeri,
aktivasi tombol pompa PCA, dan tujuan pengurangan nyeri. Umumnya anak usia< 5
tahun belum memiliki kapasitas perkembangan untuk memahami hubungan antara
aktivasi tombol pemberi obat dan tujuan pengurangan rasa nyeri (APS, 2003). Tujuan
utama dari The American Society for Pain Management yaitu untuk memberikan
manajemen nyeri yang bersifat cepat, aman dan efektif terhadap seluruh individu
dengan keluhan nyeri.

18
DAFTAR PUSTAKA
American Society of Anesthesiologists. 2010. “In: Practice Guidelines for Chronic
Pain Management. An Updated Report by the American Society of
Anesthesiologists Task Force on Chronic Pain Management and the American
Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine”.Lippincott Williams &
Wilkins, 112:810-33.
Benjamin, S., I.Enu.,dan R.S.Sinatra. 2009.”Patient Controlled Analgesia Devices
and Analgesic Infusion Pump: Acute Pain Management”. Cambridge
University Press. 302-209.
Brian, M., N. Winnie, H. Rodney, G. Josh, S. Jeff. 2009. ‘The Rate and Costs
Attributable to Intravenous Patient Controlled Analgesia Errors”. Hosp
Pharm, Vol. 44: 312-324.
Cathy S. Jewell;chambers, James Q.;Chearney, Lee Ann; Romaine, Deborah
S.;Candance B., PhD. Levy (2007). The Facts on file encyclopedia of health
and medicine
Chasman, J.N. 2006. Patient-Controlled Analgesia In Mechanisms of Postoperative
Pain- Nociceptiv. An Evidence-Based Guide To Practice. ]Philadephia:
Saunders Elsevier. 157-161
Cheung CW et al. 2009. “An audit of postoperative intravenous patient-controlled
analgesia with morphine: Evolution over the last decade”. European Journal
of Pain, Vol. 13:464 –471.
Hudcova J, McNicol ED, Quah CS, Lau J, Carr DB. 2012. “Patient controlled opioid
analgesia versus conventional opioid analgesia for postoperative pain”. The
Cochrane Collaboration,Vol 6: 1-11
Igor, K. 2009. “Patient Controlled Analgesia Analgesimetry and Its Problems”.
Anesth Analg, Vol. 108: 1945-1949.
Jayadi, I.G.A.B.K. 2014. Pain Management dengan PCA (Patient Controlled
Analgesia). Jembrana: IDI Jembrana. (available at
http://www.idijembrana.or.id/index.php?module=artikel&kode=17 diakses
pada 4 Desember 2017)

Jeleazcov, C., H. Ihmsen, T.I. Saari, D. Rohde, J. Mell, K. Frohlich, L. Krajinovic, J.


Fechner, et al. 2016. Patient Controlled Analgesia with Target Controlled
Infusion of Hydromorphone in Postoperative Pain Therapy. Anesthesiology.
124: 56-68.
Madeira I et al.2008. “Morphine Patient Controlled Analgesia for Postoperative
Analgesia in Patients Who Have Transplanted Cadaver Donor
Kidneys”.Oporto HospitalCentre. 125-130.

Miller,R.D. 2005. Acute Postoperative Pain. Miller’s Anesthesia, sixth edition, 2741-
2742.
Morgan GE, 5th ed 2013, Pain Management, Clinical Anesthesiology Thomson,
Inc.2010, Patient controlled analgesia for adults.

19
Purnomo, D.P., Mahmud, dan Y.Uyun. 2015. “Patient Controlled Analgesia (PCA)
Post Operation”. Jurnal Komplikasi Anestesi, Vol.2 (2) : 95-111
. Wilson, M., C. MacArthur, F.G. Smith, L. Homer, K. Handley, J. Daniels. 2016.
The RESPITE Trial: Refentanil Intravenously Administered Patient
Controlled Analgesia (PCA) Versus Pethidine Intramuscular Injection for
Pain Relief in Labour: Study Protocol for a Randomised Controlled Trial.
Trials. 17(591): 1-9

http://www.medscape.com; Patient Controlled Analgesia (PCA), 2006


http://www.paincommunitycentre.org/article/pca-indications-and-advantages-and-
disadvantages-patient-controlled-analgesia; PCA:The indications for and the
advantages and disadvantages of patient controlled analgesia
http://www.spineuniverse.com/treatments/surgery/patient-controlled-analgesia-pca

20