Anda di halaman 1dari 10

Makalah Hukum Islam

MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN DALAM MAKALAH


kritik dan saran sangatlah diharapkan. :D

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I
PENDAHULUAN
1. Definisi Sumber-Sumber Hukum Islam.
2. Rumusan masalah
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Macam Sumber Hukum Islam yang Wajib Dipatuhi dan Digunakan Sebagai
Pedoman dalam Berkehidupan Hablumminallah wa Hablumminanas.
1.1. Al-Qur’an
1.2 Al hadist
1.3 Ijtihad
1.4 Ijma’
1.5 Qiyas
2. Tujuan Diciptakannya Hukum Islam Tersebut oleh Allah SWT kepada Seluruh Umat
Islam
BAB III
PENUTUP
3. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunianya
kami dapat menyelesaikan pembuatan tugas makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini
berjudul “Definisi Hukum Islam “.

Di dalam pembuatan makalah ini, kami berusaha menguraikan dan menjelaskan


tentang definisi hukum islam. Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati kami
menyampaikan terima kasih kepada Ibu Hj. Liliek Istiqomah, S.H., M.H selaku dosen Hukum
Islam Fakultas Hukum. Yang telah memberikan kami waktu dan kesempatan untuk
menyelesaikan makalah ini.

Akhir kata kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna
dan banyak kekurangannya, oleh karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan petunjuk
dari berbagai pihak untuk pembuatan makalah ini menjadi lebih baik dikemudian hari.

Semoga makalah yang telah kami buat ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan
informasi pada masa yang akan datang, khususnya bagi Mahasiswa/I Fakultas Hukum
Universitas Jember. Terima kasih

Jember, 25 maret 2013

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1. Definisi Sumber-Sumber Hukum Islam.


Sumber-sumber hukum islam adalah sumber-sumber yang dipakai acuan sebagai
pedoman untuk berkehidupan Hablumminallah wa Hablumminanas. Sumber-sumber hukum
islam antara lain : Al-Qur’an, Al-hadist, Ijtihad, Ijma’, Qaul shahabi, Qiyas, Maslahah,
Mursalah, Urf syari’at umat sebelum islam, dan Istihan. Namun yang penulis bahas dalam
makalah ini hanyalah sumber-sumber hukum islam yang berkaitan dengan Al-Qur’an, Al-
hadist, Ijtihad, Ijma’, dan Qiyas.
Sumber-sumber hukum di atas bersifat naqli, yaitu Al-Qur’an, Al-hadist, Ijma’.
Sedangkan yang bersifat aqli yaitu Qiyas dan Ijtihad, dalam hal ini berperan menjelaskan
adalah akal.
Sumber-sumber hukum islam itu adalah aturan-aturan dalam agama Islam tidak
bermaksud untuk memberatkan manusia dalam kehidupannya di dunia. Namun aturan Islam
memuat berbagai manfaat yang dapat diraih oleh manusia bila mereka melaksanakannya
dengan sempurna.

2. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari sumber hukum islam yang terdiri dari Al-Qur’an, Al-hadist, Ijtihad,
Ijma’, dan Qiyas ?
2. Apa Tujuan Diciptakannya Hukum Islam Tersebut oleh Allah SWT kepada Seluruh Umat
Islam ?

BAB II

PEMBAHASAN

1. Definisi Macam Sumber Hukum Islam yang Wajib Dipatuhi dan Digunakan Sebagai
Pedoman dalam Berkehidupan Hablumminallah wa Hablumminanas.

1.1. Al-Qur’an
Mengenai asal kata Al-Qur’an para pemuka agama berselisih pendapat. Menurut Asy-
Syafi’i dalam sebuah buku yang berjudul “sumber-sumber hukum islam” kata Al-Qur’an itu
ditulis dan dibaca tanpa hamzah. Al-Qur’an tidak berasal dari suatu kata tetapi ia merupakan
sebutan khusus bagi kitab suci yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW.
Menurut Al Asy’ari dalam sebuah buku yang berjudul “sumber-sumber hukum islam”
kata Al-Qur’an diambil dari kata “Qarana” yang berarti menggabungkan. Karena Al-Qur’an
adalah meruipakan gabungan ayat-ayat dan surat-surat.
Menurut penelitian Dr. Subhi shalih, pendapat paling kuat dalam sebuah buku yang
bejudul “sumber-sumber hukum islam” bahwa kata Al-Qur’an merupakan asdar dan muradif
dengan “Qara’ah” sebagaimana dalam firman Allah syrat Al Qiyamah yang artinya :
“sesunnguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila kami
telah selesai membacanya maka ikutilah bacaan itu” (QS. Al Qiyamah : 17-18)
Menurut istilah Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya
Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab yang di riwayatkan secara muatawatir dan
tertulis dalam mushaf.
Ada beberapa ulama yang mengartikan Al-Qur’an menurut bahasa antara lain adalah
Az-Zajjaj, beliau mengartikan bahwa Al-Qur’an artinya adalah mengumpulkan karena Al-
Qur’an berasal dari kata “Qar’I” dan firman Allah disebut demikian, karena Al-Qur’an
mengumpulkan surat-suratnya menjadi satu kesatuan, atau karena mengumpulkan saripat
kitab-kitab suci Allah yang turun sebelumnya.
1.2 Al hadist
Hadist menurut bahasa mempunyai beberapa arti yaitu : Jadid berarti baru ; Qarib
berarti dekat ; Khabar berarti berita atau warta dan sebagainya.
Dari ketiga arti tersebut yang sesuai dengan pembahasan adalah Hadist dalam arti
Khabar. Allah memakai kata “Hadist” dengan arti Khabar dalam firman-Nya yang artinya :
“maka hendaklah mereka mendatangkan suatu kabar yang sepertinya (Al-Qur’an) jika
mereka itu orang-orang yang benar” (QS. At thur :34).
Dalam hadist kata “Hadist” juga dipakai dalam arti Khabar yaitu sabda Nabi saw yang
artinya :
“Hampir-hampir aka nada seseorang diantara kamu yang akan berkata : ”Ini
kitabullah. Apa halal didalamnya kami halalkan. Apa yang haram kami haramkan.
Ketahuilah, barang siapa sampai kepadanya suatu “Khabar” dari aku, lalu ia dustakan berarti
ia telah mendustakan 3orang, dia mendustakan Allah, dia mendustakan Rasul-Nya, dan dia
mendustakan orang yang menyampaikan berita itu”. (HR. ahmad dan Ad Damiry).
Sebagian muhatsin berpendapat bahwa pengertian hadist di atas merupakan
pengertian yang sempit. Menurut mereka hadist mempunyai cakupan pengertian yang lebih
luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi SAW. (hadist marfu’) saja,
melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadist mauquf), dan tabi’in
(hadist maqtu’), sebagaimana disebut oleh Al-Tirmizi.
Artinya : “bahwasannya hadist itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’, yaitu
sesuatu yang sisadarkan kepada Nabi SAW, melainkan bisa juga untuk sesuatu yang maukuf,
yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in”.
Menurut istilah hadist mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. Perbedaan ini
disebabkan oleh berbedanya para ulama dalam memandang hadist.
Menurut istilah hadist ialah segala ucapan segala perbuatan dan segla keadaan Nabi
SAW. Sedangkan menurut para ulama ahli ushul, hadist adalah segala perkataan segala
perbuatan dan segala taqrir (ketetapan) NabiSaw yang berkaitan dengan hukum. Berdasarkan
pengertian hadist menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadist adalah segala sesuatu yang
bersumber dari Nabi SAW. Baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan
dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah yang disyari’atkan kepada manusia. Selain itu
tidak bisa dikatakan hadist. Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad
sebagai Rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatakan Hadist adalah sesuatu yang
berkaitan dengan misi dan ajaran Allah yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai
Rasulullah SAW. Inipun menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta
ketetapan-ketetapannya. Sedangkan kebiasaan-kebiasaannya tata cara berpakaian cara tidur
dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat
dikategorikan sebagai hadist.
Berdasarkan pengertian hadist di atas maka hadist dapat di bedakan menjadi tiga
macam yaitu : Hadist Qouliyah, Hadist Fi’liyah, dan Hadist Taqririyah.
 Hadist Qouliyah
Hadist yang berupa perkataan. Seperti sabda Rasulullah SAW.
 Hadist Fi’liyah
Hadist Fi’liyah atau amaliyah adalah hadist yang berupa perbuatan. Seperti praktek wudhu
Rasulullah shalat dan haji beliau, putusan beliau yang berdasarkan seorang saksi ditambah
sumpah penggugat.
 Hadist Taqririyah
Ketetapan atau persetujuan Raslullah terhadap apa saja yang muncul dari tindakan sahabat
beliau, baik berupa perbuatan perkataan, dengan cara diam dan tidak mengingkari atau
menyatakan kerelaan dan menganggap baik hal tersebut.

1.3 Ijtihad
Secara etimologi kata ijtihad terbentuk dari kata dasar “jahada” yang berarti seseorang
telah mencurahkan segala kemampuannya untuk memperoleh hakikat suatu tertentu.
Sedangkan menurut istilah dalam ilmu fiqih ijtihad berarti mengarahkan tenaga dan
fikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki dan mengeluarkan (mengistibatkan)
hukum-hukum yng terkandung dalam Al-Qur’an dan hadist dengan syarat-syarat tertentu.
Sebagian ulama’ mendefinisikan ijtihad dalam pengertian umum bahwa ijtihad adalah
menhasilakn (memaksimalkan) kesungguhannya dalam mencari sesuatu yang ingin dicapai
sehingga dapat diharapkan tercapainya atau diyakini sampai kepada tujuannya.
Menurut praktek sahabat ijtihad adalah penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan
sesuatu yang terdekat dengan kitab Allah SWT, dan sunnah Rasulullah SAW baik melalui
suatu nasakh yang disebut qiyas maupun melalui sesuatu maksud dan tujuan umum.
Menurut mayoritas ulama’ ushul ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan oleh
seorang ahli fiqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian ijtihad dhann (pendugaan
kuat) mengenai hukum syara’.
Dari definisi secara etimologi diatas mengandung pengertian bahwa mujtahid
mengerahkan kemampuannya artinya mencurahkan kemampuan seoptimal mungkin sehingga
ia merasakan bahwa dirinya tidak sanggup lagi melebihi dari tingakt itu.

1.4 Ijma’

Ijma’ berasal dari derivasi kata “jama’a” yang berarti gabungan, kumpulan, satuan
dan yang semisalnya. Secara etimologi berarti ketetapan atau kesepakatan. Dinamakan
demikian karena ijma’ “konsensus” muncul dari sekumpulan pendapat yang tertampung
setelah melalui proses sharing pendapat dan hujjah yang dikemukakan.
Secara terminology Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid tehadap suatu
permasalahan hukum syara’ pada zaman setelah wafatnya Rasullulah SAW. Umumnya
pemasalahan syara’ yang muncul tidak ditemui dalam nashsecara jelas. Semua mujtahid
berkumpul dan saling berbagi pandangan. Pandangan-pandangan mereka itu dilandaskan
dengan Al-Qur’an dan Hadist. Dengan tujuan diperolehnya konklusi yang disepakati oleh
seluruh mujtahid yang hadir. Menurut bahasa Ijma’ mempunyai dua arti yaitu :
a) Kesepakatan seperti perkataan : “Jamaal qaumu ‘alaa kadzaa idzaa itafaquu alaihi”. Artinya
suatu kamu telah berijma’ begini, jika mereka sudah sepakat kepadanya.
b) Kebulatan tekat atau niat.
Imam Syafi’I dalam bukunya ar-risalah yang telah dikutip dalam buku Materi
Pendidikan Islam Untuk Perguruan Tinggi menyatakan bahwa Ijma’ adalah kesepakatan
seluruh umat islam dalam permasalahan tetentu yang sudah ma’ruf. Sebagai contoh Ijma’nya
umat islam dalam pengharaman khamar, wajibnya puasa Ramadhan dan jumlah rakaat dalam
shalat fardu. Mereka menyatakan bahwa kesepakatan seluruh umat islam tidak akan terjadi
kecuali dalam hal-hal yang sudah jelas kedudukan hukumnya.

Ijma’ dapat di bagi menjadi dua macam yaitu :


1. Ijma’ Bayani
Ijma’ Bayani merupakan pendapat dari para ahli fiqih yang mengeluarkan pendapatnya
masing-masing untuk menentukan suatu masalah, dan semua pendapat ini sama atau
disepakati (ijmali). Ijma’ ini dilakukan dengan ijtihad yaitu berpikir sungguh-sungguh dengan
mempergunakan intelektual atau akal, mempelajari sumber hukum islam yang asli (murni)
yaitu Al-Qur’an dan Hadist Rasul kemudian mengalirkan garis hukum baru daripadanya.
2. Ijma’ sukuti
Suatu pendapat dari seorang ahli hukum atau beberapa ahli hukum tetapi ahli-ahli hukum
lainnya tidak membantah. Misalnya : semasa hidup Nabi, Nabi melakukan shalat tarawih
sebanyak 8 rakaat, di zaman Umar Bin Khattab r.a20 rakaat tidak ada sahabat yang
membantah. Dengan ini shalat tarawih diterima dengan Ijma’ Suyuti.

1.5 Qiyas
Menurut bahasa qiyas berarti “menyamakan”. Menurut istilah ahli ushul Qiyas adalah
menyamakan hukum suatu perkara yang belum ada hukumnya dengan hukum perkara lain
yang sudah di tetapkan oleh nash karena adanya persamaan dalam illat (alasan) hukum yang
tidak bisa diketahui dengan semata-mata memahami lafadh-lafadhnya dan mengetahui
dilalah-dilalah bahasanya.
Secara bahasa Qiyas berasal dari bahasa arab yang artinya hal mengukur,
membandingkan aturan. Ada juga yang mengartikan Qiyas dengan mengukur suatu atas
sesuatu yang lain dan kemudian menyamakan antara keduanya. Ada kalangan ulama yang
mengartikan Qiyas sebagai mengukur dan menyamakan.
Menurut istilah ushul fiqh, sebagaimana dikemukakan Wahbah al-Zuhaili, Qiyas
adalah menhubungkan atau menyamakan hukum suatu yang ada ketentuan hukumnya karena
ada illat antara keduanya. Ibnu subkhi mengemukakan dalam kitab Jam’u al-jawami, Qiyas
adalah menghubungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui Karena
kesamaan dalam illat hukumnya menurut mujtahid yang menghubungkannya.
Qiyas sebagaimana yang diamalkan oleh para mujtahid adalah menghubungkan
hukum suatu perkara dengan hukum perkara lain yang sudah ditetapkan, karena adanya
persamaan dalam illat hukum, yang tidak diketahui dengan semata-mata memahami
bahasanya. Qiyas merupakan hujjah ilahiyah yang datang dari sisi Allah untuk mengetahui
hukum-hukum-Nya dan bukan merupakan perbuatan yang didatangkan bagi seseorang.
Makna Qiyas majazi merupakan amalan para mujtahid yang ditegakkan untuk
mengistibatkan hukum syara’. Berdasarkan keterangan tersebut maka sebagian ulama
mengatakan bahwa Qiyas itu adalah mengeluarkan hukum bukan menetapkan hukum.

2. Tujuan Diciptakannya Hukum Islam Tersebut oleh Allah SWT kepada


Seluruh Umat Islam.
Tujuan Allah SWT menciptakan hukum islam adalah agar umat manusia dalam
menjalankan kehidupannya dapat memperoleh manfaat, tidak kacau dan tidak tersesat.
Hukum islam sendiri sebenarnya sudah jelas dan lengkap, sebenarnya tidak ada alasan lagi
bagi manusia untuk mengabaikan hukum islam.
Hukum islam diciptakan agar umat islam mengenal aturan islam, pelaksanaan hukum
bagi kaum muslimin sebenarnya tidak hanya mengejar tujuan hukum islam yang dijelaskan di
atas. Namun lebih kea rah ketundukan seorang muslim kepada perintah dan larangan Allah
SWT.
Hukum islam telah menerapkan aturan-aturan beserta hukum yang betujuan
mencegah terjadinya kerusakan atas nasab dan keturuna manusia. Islam menetapkan aturan
yang melarang umatnya mengosumsi segala sesuatu yang dapat merusak akal. Islam
mengharamkan minuman yang memabukkan dan merusak ingatan seperti alcohol, narkoba,
dan ganja. Disisi lain islam mewajibkan umatnya agar menuntut ilmu, mentadabuuri alam,
dan berpikir untuk mengembangkan kemampuan akal. Allah memuji orang-orang yang
memiliki ilmu pengetahuan.

BAB III
PENUTUP
3. Kesimpulan
Sumber-sumber hukum islam adalah aturan-aturan didalam agama Islam tidak
bermaksud untuk membertakan manusia dalam kehidupannya di dunia. Namun aturan islam
memuat berbagai manfaat yang dapat diraih oleh manusia bila mereka melaksanakannya
dengan sempurna,
Definisi macam-macam hukum islam :
 Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW
dengan bahasa arab secara mutawatir dan tertulis dalam mushaf.
 Al-Hadist adalah segala ucapan, segala perbuatan, dan segala keadaan Nabi SAW. Sedangkan
menurut para ulama’ ahli ushul, hadist adalah segala perkataan, segala perbuatan, dan segala
taqrir (ketetapan) Nabi SAW yang berkaitan dengan hukum. Berdasarkan pengertian hadist
menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadist adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi
SAW. Baik ucapan perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau
ketentuan-ketentuan Allah yang di syari’atkan kepada manusia.
 Ijtihad berarti mengarahkan tenaga dan fikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki
dan engeluarkan (mengistibatkan) hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan
Hadist dengan syarat-ayarat tertentu.
 Ijma’ adalah kesepakan para mujtahid terhadap suatu permasalahan syara’ pada zaman setelah
wafatnya RasulullahSAW. Umumnya permasalahan syara’ yang muncul tidak ditemui dalam
nash yang jelas. Semua mujtahid berkumpul dan saling berbagi pandangan. Pandangan-
pandangan mereka itu dilandaskan dengan Al-Qur’an dan Hadist.
 Qiyas adalah menghubungkan atau menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada ketentuan
hukumnya dengan sesuatu yang ada ketentuan hukumnya karena ada illat antara keduanya.

Tujuan diciptakannya hukum islam tersebut oleh Allah SWT kepada seluruh umat
islam adalah tujuan Allah SWT menciptakan hukum islam adalah agar umat manusia dalam
menjalankan kehidupannya dapat memperoleh manfaat, tidak kacau dan tidak tersesat.
Melatih ketundukan seorang muslim kepada perintah dan larangan Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA
Lismanto dalam Pembaharuan Hukum Islam Berbasis Tradisi: Upaya Meneguhkan
Universalitas Islam dalam Bingkai Kearifan Lokal
Azyumardi azra,toto suryana, h. iskhak abdulhaq, h. hafiduddin. 2002. Pendidikan agama islam
pada perguruan tinggi islam. Jakarta.departemen agama RI

Daradjat,zakiah dkk, 2000. Ilmu pendidikan islam. Jakarta : bumi aksara