Anda di halaman 1dari 36

UNIVERSITAS UDAYANA

FAKULTAS TEKNIK – PRODI MAGISTER TEKNIK SIPIL

UTS Pemodelan dan Perancangan


Struktur

HARI / TANGGAL : Selasa / 17 Oktober 2017


DOSEN : Ir. Made Sukrawa, MSCE, Ph.D

1. Sebuah rangka terbuka beton bertulang (MOF) diperkuat dengan teknik perkuatan berupa bresing
(MBFA, MBFV, MBFX), dinding pengisi (MIFM dan MIFC), wing wall (MW) dengan ketentuan
berikut.

MOF MIFM dan MIFC MBFX, MBFA, MBFV MW

MOF: Balok dan tie beam 250/350, bentang 6,N meter. Kolom 250/250 tinggi 4 meter. Fc: 25
MPa
N adalah nomor urut absen
MIF: Dinding pengisi tebal 150 mm bahan masonry Fm: 3 MPa, bahan concrete fc: 15
MPa
MW: Wingwall tebal 150 mm lebar 350 mm bahan concrete fc: 15 MPa.
Beban vertical pada balok 10 kN/m. Beban lateral 10 kN dikerjakan
bertahap.

Modelkan 7 struktur di atas dengan parameter linier dan non linier sesuai dengan referensi
(cantumkan rujukannya) kemudian buatlah grafik beban-simpangan masing-masing model dan
bandingkan dengan grafik berikut.

Catatan: gunakan non linier material untuk beton dan masonry dan penampang retak sesuai SNI
terkait.
2. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang:
a) Struktur komposit. Apakah Rangka dengan dinding pengisi termasuk di
dalamnya?
b) Pelajaran yang dapat diambil dari video City Corp Crisis di
NYC.

1
JAWABAN:
1. Pemodelan dengan menggunakan software SAP, dengan bentang balok 6300 mm dan
tinggi 4000 mm

Model 1 (MOF)

Model 2 (MIFM) Model 3 (MIFC) Model 4 (MBFX)

Model 5 (MBFA) Model 6 (MBFV) Model 7 (MW)

Data material seperti nilai fc dan fm diinput sesuai dengan ketentuan yang sudah
diberikan dengan cara Define – Material – Add New Material. Nilai modulus elastisitas (E)
yang diinput adalah dengan cara dihitung. Modulus Elastisitas merupakan perbandingan antara
tegangan dan regangan dari suatu material/bahan. Setiap material mempunyai modulus
elastisitas tersendiri yang memberikan gambaran mengenai perilaku material itu bila
mengalami beban tarik atau beban tekan. Bila nilai E semakin kecil, akan semakin mudah bagi
material unuk mengalami perpanjangan atau perpendekan. Untuk mengetahui nilai

2
karakterisitik material dapat dilihat dari kurva tegangan dan regangan. Berdasarkan SNI
2847:2013, modulus elastisitas pada material beton dapat dicari dengan rumus berikut:
a. Untuk beton dengan berat volume antara 1440 dan 2560 kg/m3 menggunakan rumus
𝐸𝑐 = 𝑤𝑐 1.5 0.043√𝑓′𝑐
b. Untuk beton normal dapat menggunakan rumus
𝐸𝑐 = 4700√𝑓′𝑐

Pada material dinding dapat diketahui nilai modulus elastisitasnya berdasarkan pendekatan dari
FEMA-356 dengan rumus
𝐸𝑚 = 550𝑓′𝑚
Terdapat beberapa sumber lain yang membahas rumus modulus elastisitas pada dinding, yaitu:
 MIA, 1998
𝐸𝑚 = 750𝑓′𝑚
 Sahlin, 1971
𝐸𝑚 = 400 − 1000𝑓 ′ 𝑚
 Schubert , 1982
𝐸𝑚 = 2116√𝑓′𝑚
 Sinha and Pedresichi, 1983
0.83
𝐸𝑚 = 1180𝑓′𝑚
 EC 6 and CIB (Bull, 2001)
𝐸𝑚 = 1000𝑓′𝑚

Karena banyaknya referensi yang membahas mengenai rumus untuk E dinding dan
variasinya sangat besar yang tidak diketahui yang mana seharusnya digunakan maka pada UTS
pemodelan ini menggunakan nilai Em bedasarkan pendekatan FEMA – 356 sedangkan untuk
E beton menggunakan rumus dengan berat volume 1440 dan 2560 kg/m3.
Jadi untuk data-data material untuk model tersebut adalah:
 Untuk beton f’c 25 MPa, nilai E = 25278.73 MPa, berat jenis 2400 kg/m3
 Untuk beton f’c 15 MPa, nilai E = 19580.82 MPa, berat jenis 2400 kg/m3
 Untuk dinding fm 3 MPa, nilai E = 1650 MPa, berat jenis 1700 kg/m3
 Untuk mutu baja bresing digunakan ASTM992, fy = 344.73 MPa, nilai E = 200000
MPa, berat jenis 7850 kg/m3.
Sedangkan untuk dimensi balok, kolom, dan bresing, serta tebal dinding adalah
 Dimensi balok adalah 250x350 mm, dimensi kolom adalah 250x250 mm

3
 Dimensi bresing memakai L4x4x7/16
Tinggi penampang = 101.6 mm
Lebar penampang = 101.6 mm
Tebal sayap = 11.11 mm
Tebal badan = 11.11 mm
 Tebal dinding untuk infilled masonry, dan infilled concrete ialah 150 mm
 Ukuran wingwall ialah 150x350 mm

Dinding dimodelkan dengan shell element, dengan elemen gap yang digunakan sebagai
penghubung ke frame. Pada program SAP2000 terdapat fitur link element atau elemen
penghubung yang dapat digunakan sebagai elemen gap. Elemen ini bekerja dengan cara
mengikat dua buah titik simpul dan dapat dilepas sesuai kondisi tertentu. Gambar dibawah ini
menunjukkan elemen gap dan komponennya, dengan i dan j sebagai simpul (titik ujung) dari
elemen gap. Simpul atau titik ujung yang dimaksud nodal dari elemen frame dan nodal elemen
shell sedangkan k merupakan nilai kekakuan dari elemen gap.

Aplikasi kontak ini pada dinding pengisi salah satunya dibahas dalam penelitian dari Dorji &
Thambiratnam (2009). Pada penelitian tersebut dijelaskan tentang perbandingan kekakuan
yang dimiliki oleh elemen gap dengan kekakuan dari dinding pengisi. Persamaan kekakuan
gap dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kg = 0,0378 (Eit) + 347
dengan Kg adalah kekakuan dari gap element, E adalah modulus elastistas dan t dan tebal
dinding. Jadi kekakuan gap ada dua macam yaitu untuk dinding bata adalah 9705.2 N/mm,
sedangkan untuk dinding beton adalah 103558.13 N/mm.
Elemen bresing hanya mampu menerima gaya aksila tekan maupun tarik, oleh karena
itu pada model dengan bresing, elemen bresingnya sendiri diharuskan tidak ada momen. Pada
program diinput melalui fitur Moment Release. Nantinya bresing harus dicek mengenai rasio
kekuatan sesuai dengan peraturan apakah sudah memenuhi syarat atau tidak.

4
Tipe pembebanan yang dikerjakan ada beban mati dengan berat sendiri dihitung yaitu
sebesar 10 kN/m (Dead Load), dan beban terpusat pada joint sebesar 10 kN (Lateral Load-Tipe
Quake) yang nantinya akan dikerjakan analisis secara linier dan non linier. Kombinasi beban
yang digunakan adalah DL+E.

Hasil Analisis:
A. Analisis Linier
Untuk pemodelan dengan analisis linier, hanya beban lateral yang divariasikan bertahap
dengan beban maksimum adalah 10 kN. Beban diberikan pada seluruh model dengan
beban lateral awal 2.5 kN kemudian 5 kN, 7.5 kN, dan 10 kN. Hasil simpangan yang
didapat adalah sebagai berikut:
Tabel Hubungan antara Beban dengan Simpangan

Displacement (mm)
No Force (kN)
MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW
1 0 0 0 0 0 0 0 0
2 2.5 1.302 0.16 0.043 0.04 0.044 0.05 0.92
3 5 2.59 0.31 0.063 0.073 0.085 0.09 1.84
4 7.5 3.88 0.44 0.086 0.11 0.12 0.14 2.75
5 10 5.17 0.58 0.11 0.14 0.16 0.18 3.66

Sedangkan untuk rasio simpangan dari model open frame sebagai acuan adalah

Displacement (mm)
No Force (kN)
MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW
1 0 0 0 0 0 0 0 0
2 2.5 100% 12.29% 3.30% 3.07% 3.38% 3.84% 70.66%

3 5 100% 11.97% 2.43% 2.82% 3.28% 3.47% 71.04%


4 7.5 100% 11.34% 2.22% 2.84% 3.09% 3.61% 70.88%

5 10 100% 11.22% 2.13% 2.71% 3.09% 3.48% 70.79%

5
Sedangkan untuk grafik simpangannya ditampilkan pada gambar dibawah ini.

TYPICAL LOAD-DISLACEMENT
10
MOF

MIFM
7.5

MIFC
LOAD (KN)

5 MBFX

MBFA

2.5
MBFV

MW
0
0 1 2 3 4 5 6
DISLACEMENTS (MM)

Dari grafik simpangan dapat diketahui bahwa grafik tersebut hampir menyerupai grafik
yang diberikan pada soal UTS, dengan model dinding concrete (model 3) yang
memiliki simpangan paling kecil kemudian model rangka terbuka (model 1) yang
memiliki simpangan paling besar. Sedangkan untuk urutannya sendiri dari simpangan
yang paling kecil ke simpangan yang paling besar untuk simpangan maksimum adalah
MIFC (2.13%) – MBFX (2.71%) – MBFA (3.09%) – MBFV (3.48%) – MIFM
(11.22%) – MW (70.79%) – MOF (100%).

6
B. Analisis Non Linier dengan Penurunan EI
Untuk pemodelan non linier, bukan hanya beban lateral yang divariasikan bertahap
tetapi juga dilakukan penurunan EI hingga penampang retak. Penurunan nilai E
dilakukan berdasarkan grafik tegangan regangan beton dan dinding berdasrkan fc dan
fm yang sudah ditentukan.

Penurunan E untuk beton dengan nilai fc 25 MPa adalah sebagai berikut:

Beban
%
Tahap Lateral Stress (Mpa) Strain Ec (MPa) Ket
Beban
(kN)
1 0 0 0 0 25278.73415 -
2 30 3 7.5 0.000307 24429.96743 Ec1
3 60 6 15 0.0006795 20134.22819 Ec2
4 80 8 20 0.0010395 13888.88889 Ec3
5 90 9 22.5 0.001323 8818.342152 Ec4
6 95 9.5 23.75 0.001544 5656.108597 Ec5
7 100 10 25 0.0022 1905.487805 Ec6

Kurva hubungan tegangan-regangan untuk beton dengan nilai fc 25 MPa dan penurunan
Modulus Elastisitas
30

Concrete
25
25
23.75 Ec1
22.5
20 20 Ec2
Stress (MPa)

15 15 Ec3

Ec4
10
7.5 Ec5

5
Ec6

0 0
0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005
Strain

7
Penurunan E untuk beton dengan nilai fc 15 MPa adalah sebagai berikut:

%
Tahap Beban Stress (Mpa) Strain Ec (MPa) Ket
Beban

1 0 0 0 0 19580.82327 -
2 30 3 4.5 0.0002445 18404.90798 Ec1
3 60 6 9 0.000567 13953.48837 Ec2
4 80 8 12 0.000908 8797.653959 Ec3
5 90 9 13.5 0.001195 5226.480836 Ec4
6 95 9.5 14.25 0.001435 3125 Ec5
7 100 10 15 0.0022 980.3921569 Ec6

Kurva hubungan tegangan-regangan untuk beton dengan nilai fc 15 MPa dan penurunan
Modulus Elastisitas
16
15
Concrete
14 14.25
13.5
Ec1
12 12

10 Ec2
Stress (MPa)

9
8 Ec3

6 Ec4
4.5
4
Ec5
2
Ec6
0 0
0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005
Strain

Perhitungan tegangan (stress) untuk kurva beton diperoleh dari persamaan:


𝜀 𝑟
𝑓 ′ 𝑐 ( 𝜀𝑛 )
0
𝑓′𝑐𝑛 =
𝜀 𝑟
((𝑟 − 1) + ( 𝜀𝑛 ) )
0

Perhitungan penurunan modulus elastisitas diperoleh dari persamaan:


𝑓′𝑐𝑛 − 𝑓′𝑐𝑛−1
𝐸𝑛 =
𝜀𝑛 − 𝜀𝑛−1

8
Penurunan E untuk dinding bata dengan nilai fm 3 MPa adalah sebagai berikut:

%
Tahap Beban Stress (Mpa) Strain Eb (MPa) Ket
Beban

1 0 0 0 0 1650 -
2 30 3 0.9 0.000665 1353.383 Eb1
3 60 6 1.8 0.0015 1077.844 Eb2
4 80 8 2.4 0.00225 800 Eb3
5 90 9 2.7 0.00278 566.0377 Eb4
6 95 9.5 2.85 0.00315 405.4054 Eb5
7 100 10 3 0.004 176.4706 Eb6

Kurva hubungan tegangan-regangan untuk dinding bata dengan nilai fm 3 MPa dan
penurunan Modulus Elastisitas
3.50
Brick
3.00 Mansory
2.85 3
2.7 Eb1
2.50
2.4
Eb2
Stress (MPa)

2.00
1.8 Eb3
1.50
Eb4
1.00
0.9
Eb5
0.50
Eb6
0.00 0
0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005 0.006 0.007 0.008
Strain

9
Sedangkan untuk penurunan inersia hinga retak dapat dilihat pada SNI 2847:2013
halaman 80 seperti dibawah ini:

Pada pemodelan UTS ini koefisien inersia untuk kolom dan balok diasumsikan seperti
dibawah:

Koefisien Koefisien
% Beban
Tahap Inersia Inersia
Beban (kN)
Kolom Balok
0 0 0 1I 1I
1 30 3 1I 1I
2 60 6 1I 1I
3 80 8 0.95 I 0.9 I
4 90 9 0.85 I 0.8 I
5 95 95 0.75 I 0.7 I
6 100 10 0.70 I 0.5 I

Hasil simpangan yang didapat untuk pemodelan non linier adalah

Force Displacement (mm)


Tahap
(kN) MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW
1 0 0 0 0 0 0 0 0
2 3 1.61 0.2 0.048 0.047 0.05 0.058 1.14
3 6 3.9 0.41 0.084 0.08 0.1 0.11 2.72
4 8 8.1 0.65 0.13 0.12 0.14 0.16 5.4
5 9 16.05 0.93 0.21 0.14 0.18 0.2 9.96
6 9.5 29.95 1.28 0.31 0.15 0.22 0.23 17.44
7 10 117.78 2.82 0.87 0.07 0.45 0.31 63

10
Sedangkan untuk rasio simpangan dari model open frame sebagai acuan adalah

Force Displacement (mm)


Tahap
(kN)
MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW

1 0 0 0 0 0 0 0 0

2 3 100% 12.42% 2.98% 2.92% 3.11% 3.60% 70.81%

3 6 100% 10.51% 2.15% 2.05% 2.56% 2.82% 69.74%

4 8 100% 8.02% 1.60% 1.48% 1.73% 1.98% 66.67%

5 9 100% 5.79% 1.31% 0.87% 1.12% 1.25% 62.06%

6 9.5 100% 4.27% 1.04% 0.50% 0.73% 0.77% 58.23%

7 10 100% 2.39% 0.74% 0.06% 0.38% 0.26% 53.49%

Sedangkan untuk grafik simpangannya ditampilkan pada gambar dibawah ini

TYPICAL LOAD-DISLACEMENT
10

6
LOAD (KN)

1 MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW

0
0 20 40 60 80 100 120 140
DISLACEMENTS (MM)

11
Berdasarkan hasil analisis non linier tersebut, telah diperoleh simpangan
akibat beban kombinasi antara beban merata dengan beban joint terpusat. Model yang
paling kaku atau simpangan terkecil dimiliki oleh model 4 (MBFX) dengan rasio
simpangan maksimum sebesar 0.06% dari model acuan. Tetapi hasil yang diperoleh
untuk model 4 (MBFX) agak sedikit aneh dikarenakan ketika beban sudah bekerja
100% simpangan struktur malah mengecil, dari beban 95% simpangannya 0.15 mm,
kemudian beban ditingkatkan sampai 100% simpangannya malah menjadi 0.07 mm.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik dibawah ini.

Grafik simpangannya model 4 (MBFX) analisis non linier

Typical Load-Dislacement
10

9 MBFX
8

6
Load (kN)

0
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 0.14 0.16 0.18
Dislacements (mm)

Hal ini disebabkan karena ketika beban maksimum dikerjakan, elemen kolom beton
maupun balok sudah diasumsikan retak (modulus elastisitas berkurang dan inersia
berkurang), sehingga bresing baja masih mampu untuk menahan beban yang ada.
Karena elemen bresing yang menggunakan material baja tidak dilakukan analisis non
linier (variasi modulus elastisitas), sehingga untuk semua model bresing sangat kaku
jika dibandingkan dengan model lain. Tentu hal ini tidak sesuai dengan grafik yang
diberikan pada soal. Untuk lebih jelasnya mengenai grafik simpangan analisis nonlinier
akan ditampilkan secara satu persatu semua model.

12
Grafik simpangannya model 1 (MOF) analisis non linier

10
Typical Load-Dislacement
MOF
9
8
7
6
Load (kN)

5
4
3
2
1
0
0 20 40 60 80 100 120 140
Dislacements (mm)

Grafik simpangannya model 2 (MIFM) analisis non linier

Typical Load-Dislacement
10

9
MIFM
8

6
Load (kN)

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Dislacements (mm)

13
Grafik simpangannya model 3 (MIFC) analisis non linier

Typical Load-Dislacement
10

6
Load (kN)

1 MIFC
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Dislacements (mm)

Grafik simpangannya model 5 (MBFA) analisis non linier

10
Typical Load-Dislacement
9

6
Load (kN)

1 MBFA
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5
Dislacements (mm)

14
Grafik simpangannya model 6 (MBFV) analisis non linier

Typical Load-Dislacement
10

6
Load (kN)

1 MBFV

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35
Dislacements (mm)

Grafik simpangannya model 7 (MW) analisis non linier

Typical Load-Dislacement
10

6
Load (kN)

1 MW

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Dislacements (mm)

15
Dari grafik simpangan dapat diketahui bahwa grafik tersebut tidak menyerupai grafik
yang diberikan pada soal UTS, dengan model bresing X (model 3) yang memiliki
simpangan paling kecil kemudian model rangka terbuka (model 1) yang memiliki
simpangan paling besar. Sedangkan untuk urutannya sendiri dari simpangan yang
paling kecil ke simpangan yang paling besar untuk beban 100% (10 kN) adalah MBFX
(0.06%) – MBFV (0.26%) – MBFA (0.38%) – MIFC (0.74%) – MIFM (2.39%) – MW
(53.49%) – MOF (100%). Jika ingin grafik hasil analisis menyerupai grafik pada soal
yang diberikan bisa saja untuk material baja divariasikan modulus elastisitasnya E
ataupun diubah dimensi bajanya menjadi lebih kecil dari sebelumnya.

Kesimpulannya:
• Berdasarkan kedua pemodelan dengan analisis linier maupun non linier tersebut dengan
menghasilkan urutan simpangan yang sama maka rekomendasi untuk perkuatan
struktur adalah dengan menggunakan dinding beton atau bresing X. Karena 2 perkuatan
ini memiliki simpangan yang paling kecil diantara model perkuatan lainnya, sehingga
struktur menjadi lebih kaku.

16
2. a. Struktur Komposit merupakan gabungan tipe 2 struktur yang berbeda yaitu bisa antara
balok (beam dengan truss) atau lebih, sehingga membuat suatu sistem struktur yang
kompleks. Contohnya adalah struktur King Post, Queen Post, dan salah satunya rangka
dinding pengisi. Rangka dengan dinding pengisi merupakan salah satu contoh struktur
komposit, karena terdiri dari elemen frame (portal), dan elemen dindingnya sendiri yang
tentu perilakunya akan berbeda jika dianalisis antara portal dengan dinding pengisi atau
portal saja. Sistem dinding pengisi merupakan sistem struktur yang kompleks karena
terbentuk dengan adanya interaksi antara portal dengan dindingnya dan tentu antara
komponen-komponen bahan material penyusunnya. Tentu rangka dinding pengisi ini jika
dibandingkan dengan portal akan memiliki simpangan yang lebih sehingga struktur
menjadi lebih kaku.

b. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus City Corp Center: Didalam merencanakan suatu
struktur gedung baik itu gedung, tinggi ataupun medium, sebagai seorang perencana
struktur harus memperhitungkan segala sesuatu kemungkinan yang terjadi, perhitungan
harus dilakukan dengan hati-hati, teliti, dan cermat agar nantinya bisa meminimalisir
dampak buruk yang terjadi nantinya. Sebagai seorang structural engineer akan selalu
dihadakan dengan berbagai macam bentuk bangunan atau gedung yang tidak beraturan,
Melihat dari kasus City Corp Center, penempatan kolom yang tidak di pojok bangunan
tentu akan merepotkan structural engineernya sendiri dikarenakan perhitungan akan
semakin rumit. Beban-beban yang bekerja tentu harus diperhitungkan dengan baik missal
beban angina, beban gempa, ataupun beban hidup. Karena tujuan dari structural engineer
adalah merencanakan struktur gedung dengan baik, agar gedung tersebut aman dan kuat,
dan nyaman bagi penghuninya.

17
SISTEM STRUKTUR DENGAN PERKUATAN
ANALISIS NON LINIER DENGAN PUSHOVER

Analisis statik nonlinier merupakan prosedur analisa untuk mengetahui perilaku


keruntuhan suatu bangunan terhadap beban lateral atau gempa dan sering disebut sebagai
analisis pushover atau analisa beban dorong statik. Analisa ini memerlukan bantuan program
komputer untuk dapat merealisasikannya pada bangunan nyata. Salah satu program yang
digunakan untuk menganalisis pushover ini adalah SAP2000.
Analisis pushover dilakukan dengan memberikan suatu pola beban lateral statis pada
struktur, yang kemudian secara bertahap ditingkatkan sampai satu target perpindahan lateral
dari suatu titik acuan tercapai yang kemudian akan menghasilkan kurva pushover, yaitu kurva
yang menggambarkan hubungan antara gaya geser dasar (V) dan perpindahan titik acuan (D).
Pada proses pushover struktur didorong sampai mengalami leleh disatu atau lebih lokasi
di struktur tersebut. Kurva pushover akan memperlihatkan suatu kondisi linier sebelum
mencapai kondisi leleh dan selanjutnya berperilaku non-linier dan dipengaruhi oleh pola
distribusi gaya lateral yang digunakan sebagai beban dorong. Tujuan analisa pushover adalah
untuk memperoleh level kinerja dan deformasi yang terjadi serta untuk memperoleh informasi
bagian mana saja yang kritis. Selanjutnya dapat diidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan
perhatian khusus untuk pendetailan dan stabilitasnya. Adapun tahapan utama dalam analisis
pushover yaitu:
1. Menentukan titik kontrol untuk memonitor besarnya perpindahan struktur. Rekaman
besarnya perpindahan titik kontrol dan gaya geser dasar digunakan untuk menyusun
kurva pushover.
2. Membuat kurva pushover berdasarkan berbagai macam pola distribusi gaya lateral
terutama yang ekivalen dengan distribusi dari gaya inertia, oleh karena itu sifat gempa
adalah tidak pasti, maka perlu dibuat beberapa pola pembebanan lateral yang berbeda
untuk mendapatkan kondisi yang paling menentukan.
3. Estimasi besarnya perpindahan lateral saat gempa rencana (target perpindahan). Titik
kontrol didorong sampai taraf perpindahan tersebut, yang mencerminkan perpindahan
maksimum yang diakibatkan oleh intensitas gempa rencana yang ditentukan.
4. Mengevaluasi level kinerja struktur ketika titik kontrol tepat berada pada target
perpindahan, merupakan hal utama dari perencanaan berbasis kinerja (performance
based design). Komponen struktur dan aksi perilakunya dapat dianggap memuaskan
jika memenuhi kriteria yang dari awal sudah ditetapkan, baik terhadap persyaratan

18
deformasi maupun kekuatan. Karena yang dievaluasi adalah komponen maka
jumlahnya relatif sangat banyak, oleh karena itu proses ini sepenuhnya harus dikerjakan
oleh komputer (fasilitas pushover dan evaluasi kinerja yang terdapat secara built-in
pada program SAP2000, mengacu FEMA-356).

Pemodelan sendi digunakan untuk mendefinisikan perilaku nonlinier force-


displacement atau momen-rotasi yang dapat ditempatkan pada beberapa tempat berbeda
disepanjang bentang balok atau kolom. Dalam hal ini, elemen kolom menggunakan tipe sendi
plastis P-M3 dengan pertimbangan bahwa elemen kolom terdapat hubungan gaya aksial dengan
momen (diagram interaksi P-M). Sedangkan untuk elemen balok menggunakan M3, dengan
pertimbangan bahwa balok efektif menahan momen dalam arah sumbu kuat (sumbu-3)
mengacu pada tabel 5-6 FEMA 356 (Lampiran A).
Pada model bresing, perilaku nonlinier elemen bresing dapat dimodel dengan
mengansumsikan sendi platis terletak ditengah-tengah bentang. Sendi plastis untuk beban axial
dimodel untuk semua bresing. Sedangkan pada model infilled concrete dan wing wall, perilaku
non linier elemen shell dimodel dengan pilihan layered. Dimensi elemen kolom, balok, bresing,
dan dinding masih sama dengan pemodelan dengan analisis linier. Untuk elemen beton
tulangannya didefinisikan dengan memakai mutu tulangan longitudinal fy 400 MPa, dan
tulangan transversal fy 240 MPa.

1. MOF (Open Frame)


Pemodelan sendi pada elemen kolom dan balok

Setelah melakukan analisis pushover dengan SAP 2000, maka akan didapatkan kurva
pushover yang menunjukkan hubungan perpindahan dan gaya geser dasar suatu struktur.
Berikut adalah kurva pushover untuk model MOF.

19
30.00
Load - Displacement Curve

25.00

20.00
Load (kN)

15.00

10.00

5.00
MOF

0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MOF

Displacement BaseForce Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
B IO LS CP C D E E
mm KN
0 0.01 0.00 8 0 0 0 0 0 0 0 8
1 4.78 9.23 7 1 0 0 0 0 0 0 8
2 6.56 11.25 6 2 0 0 0 0 0 0 8
3 10.54 14.16 5 3 0 0 0 0 0 0 8
4 26.54 18.38 5 3 0 0 0 0 0 0 8
5 34.99 20.61 4 4 0 0 0 0 0 0 8
6 50.99 20.93 4 1 3 0 0 0 0 0 8
7 66.99 21.25 4 1 3 0 0 0 0 0 8
8 82.99 21.58 4 0 1 3 0 0 0 0 8
9 98.99 21.90 4 0 1 3 0 0 0 0 8
10 101.49 21.95 4 0 1 1 0 2 0 0 8
11 118.93 21.02 4 0 0 1 0 3 0 0 8
12 134.93 20.15 4 0 0 1 0 3 0 0 8
13 153.75 18.82 4 0 0 0 0 4 0 0 8
14 160.01 18.35 4 0 0 0 0 4 0 0 8

20
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (pengguanaan
sedang), LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate
Point (titik batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 10 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model open frame (MOF) menunjukan
bahwa kinerja struktur telah mencapai C (titik batas), dengan kondisi leleh pertama kali terjadi
pada elemen tie beam step 1 dengan gaya geser dasar dan perpindahan yang terjadi sebesar
9,23 KN dan 4,78 mm. Pada kondisi batas, elemen balok atas dan tie beam masing-masing
telah mencapai level kinerja C (titik batas), dengan gaya geser dasar dan perpindahan pada step
10 yang terjadi sebesar 21,95 KN dan 101,49 mm.

2. MBFX (bresing type X)


Pemodelan sendi pada elemen kolom, balok, dan bresing

21
Berikut adalah kurva pushover untuk model MBFX.

Load - Displacement Curve


1000.00

800.00
Load (kN)

600.00

400.00

200.00

MBFX

0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MBFX

Displacement BaseForce Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
B IO LS CP C D E E
mm KN
0 0.01 0.00 12 0 0 0 0 0 0 0 12
1 5.32 403.45 10 2 0 0 0 0 0 0 12
2 19.51 936.10 5 5 2 0 0 0 0 0 12
3 35.51 991.89 5 5 0 2 0 0 0 0 12
4 35.98 993.53 4 6 0 1 0 1 0 0 12
5 51.98 977.05 4 3 3 1 0 1 0 0 12
6 67.98 960.29 4 1 5 1 0 1 0 0 12
7 83.98 943.30 4 0 3 4 0 1 0 0 12
8 99.98 926.30 4 0 1 6 0 1 0 0 12
9 118.33 905.73 4 0 0 4 0 3 1 0 12
10 118.33 905.73 4 0 0 4 0 3 0 1 12
11 124.57 898.64 4 0 0 2 0 5 0 1 12
12 133.98 829.38 4 0 0 2 0 5 0 1 12
13 154.51 733.56 4 0 0 1 0 6 0 1 12
14 160.01 707.90 4 0 0 1 0 6 0 1 12

22
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 4 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model bresing frame X (MBFX)
menunjukan bahwa kinerja struktur telah mencapai E (titik runtuh), dengan kondisi leleh
pertama kali terjadi pada elemen tie beam, dan bresing pada step 1 dengan gaya geser dasar
dan perpindahan yang terjadi sebesar 403,45 KN dan 5,32 mm. Pada kondisi batas step 4,
elemen balok atas dan tie beam telah mencapai level B, dan bresing telah mencapai level kinerja
C, dengan gaya geser dasar dan perpindahan pada step 4 yang terjadi sebesar 993,52 KN dan
35,98 mm. Kinerja struktur telah mencapai titik keruntuhan pada step 14.

3. MBFA (bresing type A)


Pemodelan sendi pada elemen kolom, balok, dan bresing

23
Berikut adalah kurva pushover untuk model MBFA.

Load - Displacement Curve


250.00

MBFA
200.00

150.00
Load (kN)

100.00

50.00

0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MBFA

Displacement BaseForce Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
B IO LS CP C D E E
mm KN
0 0.00 0.00 12 0 0 0 0 0 0 0 12
1 2.34 141.68 11 1 0 0 0 0 0 0 12
2 10.76 218.33 7 4 0 1 0 0 0 0 12
3 11.52 222.15 7 4 0 0 0 1 0 0 12
4 28.49 185.15 6 5 0 0 0 1 0 0 12
5 38.49 163.23 6 3 2 0 0 1 0 0 12
6 48.49 141.30 6 2 3 0 0 1 0 0 12
7 58.49 119.38 6 1 3 1 0 1 0 0 12
8 69.26 93.17 6 1 2 1 0 2 0 0 12
9 79.26 68.65 6 0 3 1 0 2 0 0 12
10 90.40 39.47 6 0 1 2 0 2 1 0 12
11 90.40 39.47 6 0 1 2 0 2 0 1 12
12 100.00 13.95 6 0 1 2 0 2 0 1 12

24
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 3 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model bresing type A (MBFA)
menunjukan bahwa kinerja struktur telah mencapai E (titik runtuh), dengan kondisi leleh
pertama kali terjadi pada elemen bresing pada step 1 dengan gaya geser dasar dan perpindahan
yang terjadi sebesar 141,68 KN dan 2,34 mm. Pada kondisi batas step 3, elemen balok atas dan
tie beam masih mencapai level B, dan bresing telah mencapai level kinerja C, dengan gaya
geser dasar dan perpindahan pada step 3 yang terjadi sebesar 222,15 KN dan 11,52 mm. Kinerja
struktur telah mencapai titik keruntuhan pada step 12.

4. MBFV (bresing type V)


Pemodelan sendi pada elemen kolom, balok, dan bresing

25
Berikut adalah kurva pushover untuk model MBFV.

Load - Displacement Curve

700.00

600.00

500.00
Load (kN)

400.00

300.00

200.00

100.00

MBFV
0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MBFV

Displacement BaseForce Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
B IO LS CP C D E E
mm KN
0 0.00 0.00 12 0 0 0 0 0 0 0 12
1 2.88 161.84 11 1 0 0 0 0 0 0 12
2 19.28 629.44 7 4 0 1 0 0 0 0 12
3 19.84 630.95 7 4 0 0 0 1 0 0 12
4 35.84 647.22 7 3 1 0 0 1 0 0 12
5 58.15 666.37 6 1 4 0 0 1 0 0 12
6 74.15 679.06 5 1 4 1 0 1 0 0 12
7 97.75 696.71 5 1 2 2 0 2 0 0 12
8 117.21 710.52 5 0 2 1 0 4 0 0 12
9 136.11 629.81 5 0 2 0 0 5 0 0 12
10 152.11 561.32 5 0 2 0 0 5 0 0 12
11 160.00 527.50 5 0 1 1 0 5 0 0 12

26
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 8 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model bresing type V (MBFV)
menunjukan bahwa kinerja struktur telah mencapai C (titik batas), dengan kondisi leleh
pertama kali terjadi pada elemen bresing pada step 1 dengan gaya geser dasar dan perpindahan
yang terjadi sebesar 161,84 KN dan 2,88 mm. Pada kondisi batas step 8, elemen balok atas
mencapai level kinerja C, kolom telah mencapai level kinerja C, tie beam mencapai level LS,
dan bresing telah mencapai level kinerja C, dengan gaya geser dasar dan perpindahan pada step
11 yang terjadi sebesar 710,52 KN dan 117,21 mm.

5. MIFC (infilled concrete)


Pemodelan sendi pada elemen kolom, dan balok

27
Dinding beton dimodel dengan elemen shell, sehingga perilaku non linier dimodel dengan
pilihan Layered/Nonlinier, dengan memakai tulangan D10 mutu baja fy 240 MPA.
Berikut adalah kurva pushover untuk model MIFC.

Load - Displacement Curve


3500.00

3000.00

2500.00
Load (kN)

2000.00

1500.00

1000.00

500.00
MIFC
0.00
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MIFC


Displacemen BaseForc
t e Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond Tota
Step
B IO LS CP C D E E l
mm KN
0 0.01 0.00 8 0 0 0 0 0 0 0 8
1 5.22 2344.63 7 1 0 0 0 0 0 0 8
2 7.01 2847.36 5 3 0 0 0 0 0 0 8
3 10.13 3374.58 5 3 0 0 0 0 0 0 8
4 11.51 3501.16 4 4 0 0 0 0 0 0 8
5 11.58 3493.13 4 4 0 0 0 0 0 0 8
6 12.57 3507.26 4 4 0 0 0 0 0 0 8
7 12.86 3509.50 4 4 0 0 0 0 0 0 8
8 14.43 3425.67 4 4 0 0 0 0 0 0 8
9 14.87 3376.84 3 5 0 0 0 0 0 0 8
10 17.67 2711.70 3 4 1 0 0 0 0 0 8
11 18.18 2520.22 3 4 1 0 0 0 0 0 8
12 18.69 2214.89 3 4 1 0 0 0 0 0 8
13 19.04 2080.12 3 4 1 0 0 0 0 0 8
14 19.17 2050.43 3 4 1 0 0 0 0 0 8

28
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 7 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model infiled concrete (MIFC)
menunjukan bahwa kinerja struktur baru mencapai IO, dengan kondisi leleh pertama kali
terjadi pada tie beam pada step 1 dengan gaya geser dasar dan perpindahan yang terjadi sebesar
2344,63 KN dan 5,22 mm. Pada kondisi batas step 7, elemen balok, kolom, dan tie beam masih
mencapai level kinerja B, dengan gaya geser dasar dan perpindahan pada step 7 yang terjadi
sebesar 3509,50 KN dan 12,86 mm.

6. MW (wing wall)
Pemodelan sendi pada elemen kolom, dan balok

29
Dinding beton pada wing wall dimodel dengan elemen shell, sehingga perilaku non linier
dimodel dengan pilihan Layered/Nonlinier, dengan memakai tulangan D10 mutu baja fy
240 MPA.
Berikut adalah kurva pushover untuk model MW.

120.00 Load - Displacement Curve

90.00
Load (kN)

60.00

30.00

MW
0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
Displacement (mm)

Berikut merupakan tabel pushover MW

Displacement BaseForce Ato Bto IOtoL LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
mm KN B IO S CP C D E E
0 0.01 0.00 8 0 0 0 0 0 0 0 8
1 6.85 26.65 8 0 0 0 0 0 0 0 8
2 21.81 64.38 6 2 0 0 0 0 0 0 8
3 48.02 95.91 5 2 1 0 0 0 0 0 8
4 74.93 116.12 4 2 2 0 0 0 0 0 8
5 82.84 117.96 4 2 1 1 0 0 0 0 8
6 82.84 117.96 4 2 1 1 0 0 0 0 8
7 82.84 117.96 4 2 1 1 0 0 0 0 8
8 82.87 117.96 4 2 1 1 0 0 0 0 8
9 84.31 118.04 4 2 1 1 0 0 0 0 8
10 85.47 118.00 4 2 1 1 0 0 0 0 8
11 88.35 117.75 4 2 1 1 0 0 0 0 8
12 91.23 117.04 4 2 1 1 0 0 0 0 8
13 101.96 108.22 4 1 2 1 0 0 0 0 8

30
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 2 (leleh) b. Pushover step 9 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model wing wall (MW) menunjukan
bahwa kinerja struktur baru mencapai LS, dengan kondisi leleh pertama kali terjadi pada tie
beam dan balok pada step 2 dengan gaya geser dasar dan perpindahan yang terjadi sebesar
64,38 KN dan 21,81 mm. Pada kondisi batas step 12, elemen balok mencapai level kinerja IO,
dan tie beam mencapai level kinerja LS, dengan gaya geser dasar dan perpindahan pada step
12 yang terjadi sebesar 118,04 KN dan 84,31 mm.

7. MIFM (infilled masonry)


Pemodelan pada MIFM, dinding masonry dimodel dengan elemen strut, dengan rumus
perhitungan lebar strut diperoleh dari FEMA 273, dengan sudut yang dibentuk harus 450:

Dari rumus tersebut diketahui lebar strut yang digunakan adalah sebesar 525 mm, karena
menggunakan 2 elemen strut lebar tersebut harus dibagi dua. Elemen strut sendiri
berperilaku seperti batang dan tidak mampu menerima gaya tarik. Sehingga pada
pemodelan dengan SAP2000, strut harus di-release dan tension-limitnya harus dinolkan.

31
Pemodelan sendi pada elemen kolom, balok, dan strut

Berikut adalah kurva pushover untuk model MIFM.

250.00 LOAD - DISPLACEMENT CURVE

200.00

150.00
LOAD (KN)

100.00

50.00

MIFM
0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
DISPLACEMENT (MM)

32
Berikut merupakan tabel pushover MIFM

Displacement BaseForce Ato Bto IOto LSto CPto Cto Dto Beyond
Step Total
mm KN B IO LS CP C D E E

0 0.00 0.00 18 0 0 0 0 0 0 0 18
1 11.38 79.81 17 1 0 0 0 0 0 0 18
2 15.57 102.71 15 3 0 0 0 0 0 0 18
3 35.32 162.98 13 4 1 0 0 0 0 0 18
4 56.09 219.98 13 2 2 0 0 1 0 0 18
5 58.96 226.55 10 5 2 0 0 1 0 0 18
6 78.37 220.21 10 0 5 2 0 1 0 0 18
7 81.97 219.04 10 0 5 2 0 0 1 0 18
8 81.97 219.04 10 0 5 2 0 0 0 1 18
9 86.19 217.66 10 0 5 0 0 2 0 1 18
10 89.04 215.97 10 0 5 0 0 2 0 1 18
11 105.04 217.13 10 0 4 1 0 2 0 1 18
12 121.04 218.28 10 0 0 5 0 2 0 1 18
13 123.40 218.45 10 0 0 4 0 3 0 1 18
14 128.45 218.42 10 0 0 1 0 6 0 1 18
15 146.86 211.23 10 0 0 0 0 7 0 1 18
16 160.00 206.02 10 0 0 0 0 7 0 1 18
Catatan: A: Origin Point (titik awal), B: Yield Point ( titik leleh), IO: Immediate Occupancy (penggunaan sedang),
LS: Life Safety (Aman untuk dihuni), CP: Collapse Prevention (Pecegahan Keruntuhan), C: Ultimate Point (titik
batas), D:Residual Point (titik sisa), E: Failure Point (titik keruntuhan).

a. Pushover step 1 (leleh) b. Pushover step 5 (batas)

Pada Tabel diatas dan Gambar mengenai kinerja model infilled masonry (MIFM)
menunjukan bahwa kinerja struktur telah mencapai level E, dengan kondisi leleh pertama kali
terjadi pada balok dengan gaya geser dasar dan perpindahan yang terjadi sebesar 79,81 KN dan

33
11,38 mm. Pada kondisi batas step 5, elemen balok mencapai level kinerja C, dan tie beam
mencapai level kinerja IO, elemen strut baru mencapai level kinerja B, dengan gaya geser dasar
dan perpindahan pada step 5 yang terjadi sebesar 226,55 KN dan 58,96 mm.
Berikut ketujuh kurva pushover dikelompokkan menjadi satu.

LOAD - DISPLACEMENT CURVE


3600.00

MOF MBFX MBFV MW MBFA MIFM MIFC


3000.00

2400.00
LOAD (KN)

1800.00

1200.00

600.00

0.00
0.00 15.00 30.00 45.00 60.00 75.00 90.00 105.00 120.00 135.00 150.00 165.00
DISPLACEMENT (MM)

Dari Gambar diatas terlihat perbedaan kurva pushover dari ketujuh model yang ditinjau
beserta titik leleh dan titik batas masing-masing model. Titik leleh merupakan kondisi dimana
struktur mengalami kelelehan pertama kali, sedangkan titik batas merupakan kondisi saat
struktur mencapai gaya geser dasar maksimalnya. Kurva Pushover untuk MOF memiliki
kekakuan yang paling kecil diantara semua model, sedangkan MIFC memiliki kekakuan yang
paling besar. Terdapat perbedaan yang cukup jauh antara model MIFC dengan model yang lain
berdasarkan gaya geser dan perpindahan yang dihasilkan. Hal ini menyatakan bahwa dengan
perkuatan dinding beton jauh lebih kuat dibandingkan dengan elemen balok kolomnya sendiri.

34
Berikut kurva pushover semua model tanpa model infilled concrete (MIFC).

LOAD - DISPLACEMENT CURVE


1100.00
MOF MBFX MBFV MW MBFA MIFM
1000.00

900.00

800.00

700.00
LOAD (KN)

600.00

500.00

400.00

300.00

200.00

100.00

0.00
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
DISPLACEMENT (MM)

Tabel gaya geser dasar pada kurva pushover


Gaya Geser
Dasar MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW
Pada Kondisi
Leleh (kN) 9.23 79.81 2344.63 403.45 141.68 161.84 64.38

Presentase (%) 100.00% 865.17% 25416.08% 4373.49% 1535.80% 1754.37% 697.92%


Pada Kondisi
Batas (kN) 21.95 226.55 3509.50 993.53 222.15 710.52 118.04

Presentase (%) 100.00% 1032.25% 15990.81% 4526.93% 1012.21% 3237.44% 537.85%

Tabel perpindahan pada kurva pushover

Perpindahan MOF MIFM MIFC MBFX MBFA MBFV MW


Pada Kondisi
Leleh (mm) 4.78 11.38 5.22 5.32 2.34 2.88 21.81

Presentase (%) 100.00% 123.31% 56.63% 57.64% 25.36% 31.25% 236.40%


Pada Kondisi
Batas (mm) 101.49 58.96 12.86 35.98 11.52 117.21 84.31

Presentase (%) 100.00% 268.64% 58.60% 163.93% 52.50% 534.07% 384.13%

35
Berdasarkan tabel diatas untuk gaya geser dan perpindahan yang terjadi struktur yang
paling kaku urutannya dimulai dari MIFC – MBFX – MBFV – MIFM – MBFA – MW – MOF,
hasil tersebut berbeda dengan hasil pada analisis non linier dengan mempergunakan penurunan
EI (Modulus Elastisitas dan Inersia).

Kesimpulannya:
• Berdasarkan analisis non linier dengan mempergunakan analisis pushover, struktur
yang paling tepat untuk dijadikan sistem perkuatan adalah model MIFC (infilled
concrete) karena model MIFC memiliki Gaya Geser Dasar yang paling besar diantara
model lain, dengan kondisi leleh yaitu 2344.63 kN dengan simpangan 5.22 m. Begitu
pula pada kondisi batas model MIFC memiliki gaya geser dasar sebesar 3509.50 kN
dengan simpangan 12.86 mm. Sehingga dapat disimpulkan MIFC merupakan model
yang paling kaku dibandingkan keenam model lainnya.

36