Anda di halaman 1dari 4

BAB IX

ANALISA EKONOMI

Analisa ekonomi diperlukan untuk menentukan jumlah modal yang


dibutuhkan untuk mendirikan dan mengoperasikan pabrik serta tinjauan kelayakan
suatu pabrik. Faktor – faktor yang perlu ditinjau dalam analisa ekonomi adalah :
1. Investasi yang dibutuhkan untuk pendirian suatu pabrik sampai beroperasi
yang dikenal dengan istilah Total Capital Investment.
2. Biaya produksi (Total Production Cost).
3. Harga jual produk yang dihasilkan.
4. Tinjauan kelayakan dari investasi yang disebut Profitability Measure of
Investment. Tinjauan kelayakan ini terdiri atas perhitungan laba kotor dan laba
bersih, laju pengembalian modal (Rate of Return), waktu pengembalian modal
(Pay Out Time), serta titik impas (Break Event Point).

9.1 Total Capital Investment (TCI)


Total Capital Investment (TCI) adalah sejumlah modal yang
ditanamkan/diresikokan untuk mendirikan pabrik sampai pabrik siap beroperasi.
Total Capital Investment terbagi 2, yaitu :
a. Fixed Capital Investment (FCI)
Fixed Capital Investment atau investasi biaya tetap adalah modal yang
dikeluarkan untuk pembelian dan pemasangan peralatan pabrik serta alat
penunjang lainnya sehingga pabrik dapat beroperasi. Berdasarkan perhitungan
Lampiran D didapatkan Fixed Capital Investment sebesar US$ 38.440.893,19
atau Rp 513.474.230.801,27.
b. Working Capital Investment (WCI)
Working Capital Investment atau investasi biaya kerja adalah modal atau biaya
yang dikeluarkan untuk mengoperasikan pabrik sampai menghasilkan produk
perdana. Biaya ini dimaksudkan untuk membiayai start up, gaji karyawan,

98
pembelian bahan baku, pajak dan kebutuhan lainnya. Berdasarkan
perhitungan Lampiran D didapatkan Working Capital Investment sebesar US$
5.766.133,98 atau Rp 77.021.134.620,19.
Dengan demikian, Total Capital Investment adalah sebesar US$ 44.207.027,17
atau Rp 590.495.365.421,46.

9.2 Biaya Produksi (Total Production Cost)


Total Production Cost adalah biaya yang diperkirakan untuk menjalankan
pabrik. Biaya produksi terbagi 2, yaitu:
a. Manufacturing Cost
Manufacturing cost adalah biaya yang berhubungan dengan produksi yang
terdiri dari Direct Production Cost, biaya tetap dan biaya overhead.
Berdasarkan perhitungan Lampiran D, didapatkan harga manufacturing cost
seperti berikut.
- Direct Production Cost = US$ 43.391.014,54
= Rp 579.595.476.740,63
- Fixed Charge = US$ 55.074.197,90
= Rp 67.778.598.465,77
- Plant Overhead Cost = US$ 7.678.115,73
= Rp 102.560.430.829,92
b. General Expenses (GE)
General expenses adalah biaya yang diperlukan untuk keperluan administrasi,
distribusi, penjualan produk, penelitian dan pembiayaan lainnya. Berdasarkan
perhitungan Lampiran D, general expenses yang didapatkan adalah
US$ 16.798.771,24 atau Rp 224.389.586.847,92.

9.3 Harga Jual (Total Sales)


Produk utama yang dihasilkan pada pabrik MSG dari molasses ini berupa MSG
yang telah dikemas dalam bentuk pack. Harga jual MSG ini di pasaran yaitu
US$ 2,2/kg. Pabrik menjual MSG ke pasar dengan perkiraan 30% dari harga pasar,
sehingga harga MSG yang dijual oleh pabrik sebesar US$ 1,54/kg. Total penjualan
99
MSG di pabrik MSG dengan kapasitas 60.000 ton/tahun sebesar US$ 92.400.000 atau
Rp. 1.234.233.000.000.

9.4 Tinjauan Kelayakan Pabrik


Tinjauan kelayakan pabrik MSG dari molasses dengan kapasitas produksi
60.000 ton/tahun ini dapat dilihat dari 4 bagian berikut ini.
9.4.1 Laba Kotor dan Laba Bersih
Laba adalah hasil yang diperoleh dari total penjualan dikurangi total biaya
produksi. Laba kotor adalah laba sebelum dikeluarkan pajak, sedangkan laba bersih
adalah laba yang diperoleh setelah dikeluarkan pajak. Berdasarkan perhitungan
Lampiran D, diperoleh laba sebagai berikut.
- Laba kotor yang diperoleh adalah = US$ 15.618.842,73
= Rp 208.628.691.700,80
- Laba bersih yang diperoleh adalah = US$ 13.666.487,38
= Rp 182.550.105.238,20

9.4.2 Laju Pengembalian Modal (Rate of Return)


Rate of Return (ROR) merupakan perbandingan antara laba yang diperoleh
tiap tahun terhadap modal yang ditanamkan. Berdasarkan perhitungan Lampiran D
didapatkan nilai ROR sebesar 31%. Hal ini menandakan bahwa pabrik MSG dari
molasses dengan kapasitas produksi 60.000 ton/tahun layak didirikan.

9.4.3 Waktu Pengembalian Modal (Pay Out Time)


Pay Out Time (POT) merupakan lamanya waktu yang diperlukan untuk
mengembalikan modal yang dipinjam. Berdasarkan perhitugan Lampiran D, POT
yang didapatkan adalah 2 tahun 7 bulan 0 hari.

9.4.4 Titik Impas (Break Event Point)

100
Break Event Point (BEP) atau yang lebih dikenal dengan sebutan titik impas
merupakan suatu kondisi dimana hasil penjualan produk sama dengan biaya produksi.
Berdasarkan perhitungan Lampiran D didapatkan BEP sebesar 55,90 %. Hal ini
menunjukkan bahwa pada 55,90 % dari kapasitas produksi yang terjual di pasaran
pabrik sudah bisa menutupi biaya produksi atau pabrik dinyatakan baru balik modal.
Kurva BEP ini dapat dilihat pada Gambar 9.1.

Titik BEP

Gambar 9.1 Grafik Break Event Point (BEP)

101