Anda di halaman 1dari 6

Judul Effectiveness of Global Postural Re-Education in Patients With Chronic

Nonspecific Neck Pain: Randomized Controlled Trial

Jurnal Physical Therapy

Volume dan Volume 96 halaman 1408-1416


Halaman
Tahun 2016
Penulis Pillastrini, P., Resende, F., Banchelli, F., Burioli, A., Ciaccio, E., Guccione, A.,
Villafane, J.H., Vanti, C.

Reviewer Desak Made Wahyu Ariningsih


Tanggal 22 Maret 2018
Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektifitas pengaplikasian
Penelitian intervensi Global Postural Re-Education (GPR) dibandingkan dengan Manual
Therapy (MT) pada pasien dengan nyeri leher nonspesifik kronis
Subjek a. kriteria inklusi
Penelitian  Pasien telah terdiagnosa mengalami nyeri leher non spesifik kronis
sejak 3 bulan terakhir
 Usia antara 18-80 tahun
 Mampu berkomunikasi dengan Bahasa Italia
b. kriteria eksklusi
 Nyeri leher non spesifik akut dan subakut
 Gangguan neurologi central maupun peripheral
 Gangguan kognitif
 Riwayat operasi tulang belakang
 Menjalani fisioterapi sejak 6 bulan terakhir
Metode  Desain penelitian yang digunakan adalah randomized controlled trial
Penelitian  Randomisasi dilakukan dalam 2 langkah. Sistem pengacakan dilakukan
menggunakan software komputer. Pengukuran dilakukan setelah intervensi dan
6 bulan setelah intervensi oleh peneliti yang sebelumnya sudah dilakukan
blinding.
 Analisis data menggunakan SAS/STAT 9.3 software
Definisi Nyeri Leher Non Spesifik Kronis
Operasional Nyeri leher merupakan kondisi klinis yang umum terjadi yang mempengaruhi
Variabel aspek social dan ekonomi karena menimbulkan disabilitas dan berkurangnya
Dependen kemampuan kerja. Adanya ketidakseimbangan otot dalam mengontrol kerjanya
seperti meningkatnya aktivitas otot superfisial, meningkatnya koaktivasi otot leher
superfisial dan upper trapezius selama kontraksi isometric, dan aktivasi yang
lambat dari otot deep dilaporkan terjadi pada penderita nyeri leher. Postur cervical
spine mempengaruhi mempengaruhi aktivasi otot leher bagian dorsal baik pada
posisi istirahat maupun beraktivitas. Postur forward head secara tidak langsung
akan mengakibatkan kifosis pada thoracal spine dan akan mengakibatkan fleksi
cervical dan rotational range of motion. Dan para pekerja yang bekerja di depan
computer dengan waktu yang lama berisiko mengalami nyeri leher.
Alat Ukur a. Visual Analogue Scale (VAS)
Variabel Nyeri selama 24 jam terakhir sebelum pengukuran diukur menggunakan
Dependen VAS dengan skala 0-100. Dengan nilai 0=tidak nyeri dan 100=sangat
nyeri.
b. Neck Dissability Index (NDI)
Disabilitas cervical dinilai dengan Italian version of the Neck Disability
Index (NDI-I). NDI merupakan kuesioner yang umum digunakan untuk
menilai neck disability.
c. Inklinometer
ROM cervical diukur menggunakan inklinometer dalam posisi duduk.
Pengukuran ROM cervical terdiri dari 2 gravity-dependent goniometer,
satu menggunakan compass dial dan head mounted yang memungkinkan
pengukuran dilakukan pada 3 bidang gerak (fleksi/ekstensi, lateral fleksi,
rotasi)
d. Tampa Scale of Kinesiophobia (TSK)
TSK digunakan untuk menilai ketakutan subjek untuk melakukan
pergerakan atau mengalami injuri. TSK versi Italia terdiri dari 2 subskala
yaitu avoidance subscale dan harm subscale.
e. Physical Therapy Patient Satisfaction Questionnaire (PTPSQ-I) versi Italia
Pengukuran kepuasan subjek dengan intervensi yang dilakukan
menggunakan PTPSQ-I yang terdiri dari 2 faktor struktur yaitu overall
experience dan professional impression.
Definisi Global Postural Re-Education (GPR)
Operasional GPR merupakan salah satu intervensi konservatif untuk nyeri leher yang
Variabel dikembangkan oleh Souchard. Intervensi ini berdasar pada konsep bahwa otot
Independen postural bekerja secara bersamaan sebagai rantai otot (muscle chain) baik yang
berada di bagian anterior maupun posterior. Gangguan nyeri leher berhubungan
dengan adanya retraksi pada rantai otot. Tujuan GPR adalah untuk melakukan
stretch dan elongasi pada otot postural yang mengalami pemendekan dengan
mengkontraksikan otot antagonis untuk meningkatkan keseimbangan otot dan
postural yang simetris.
Manual Therapy (MT)
MT mampu mengurangi nyeri, spasme otot dan meringankan gejala nyeri leher.
Teknik MT terdiri dari teknik stretching untuk otot cervical superfisial, mobilisasi
pasif melalui mekanisme fisiologis dan gerakan asesoris, massage, manipulasi
fasia atau release.
Langkah- Kedua kelompok mendapatan intervensi sebanyak 9 kali selama 1 jam per sesi.
langkah Intervensi dilakukan 1 atau 2 kali seminggu tergantung pada kebutuhan subjek. 3
Intervensi orang fisioterapis yang expert di bidang GPR dan 5 orang fisioterapis yang expert
di bidang MT melakukan intervensi pada subjek. Semua subjek pada kedua
kelompok dianjurkan untuk melakukan posisi ergonomis dan mengulangi latihan
pertama yang telah diberikan fisioterapis 2 kali seminggu selama 15 menit. Setiap
kelompok mendapatkan home exercise yang berbeda tergantung intervensi yang
diberikan.
Global Postural Re-Edukasi (GPR)
 pada penelitian ini hanya 2 posisi postur yang digunakan dari 8 posisi yang
ada pada teknik GPR. Posisi supine dengan kaki ekstensi yang bertujuan
untuk stretch bagian anterior muscle chain dan posisi supine dengan kaki
fleksi yang bertujuan untuk stretch bagian posterior muscle chain.
 Posisi pertama dilakukan pada posisi supine dimulai dengan fleksi hip,
abduksi, dan eksternal rotasi, dengan telapak kaki bersentuhan. Kemudian
subjek diinstruksikan untuk melebarkan hip dari posisi awal, posisi telapak
kaki tetap bersentuhan dan di axis tubuh. Progresif latihan dilakukan dengan
ekstensi ekstremitas bawah dan adduksi ekstremitas atas.
 Posisi kedua dilakukan pada posisi supine dimulai dengan fleksi hip,
progresif latihan dilakukan dengan meningkatkan fleksi hip, ekstensi knee,
dan dorsofleksi ankle.

 Selama pemberian intervensi GPR , traksi manual dilakukan pada area


cervical dan lumbar, dan kontraksi isometrik dilakukan pada otot yang kaku
untuk menimbulkan efek post-isometric relaxation. Pada akhir intervensi
GPR, subjek diminta untuk mengkoreksi postur mereka, tidak hanya postur
pada area cervical, melainkan juga seluruh vertebra dan pelvis. Hal ini
bertujuan untuk fasilitasi dari integrasi koreksi postural pada aktivitas
fungsional sehari-hari.
Manual Terapi (MT)
 Program manual terapi yang diberikan merupakan kombinasi dari beberapa
teknik yang berbeda. Traksi axial cervical dan mobilisasi fasia otot (skalenus,
levator scapula, upper trapezius, strenokelidomastoideus, dan pektoralis
minor) dilakukan selama 30 menit. Kemudian mobilisasi pasif dilakukan pada
cervical dengan teknik Maitland untuk pergerakan asesoris anterior dan
posterior dengan melatakkan ibu jari di prosesus spinosus dan melakukan
gentle pressure secara ritmik. Mobilisasi grade II dilakukan dari C0-C1
sampai C3-T1 selama 1 menit pada setiap ruas. Massage diberikan pada area
leher dan bahu selama 15 menit. Pasien diminta untuk mengatur nafas selama
pemberian intervensi ini.
Hasil Data hasil penelitian dapat dilihat pada table berikut:
Penelitian

 Total sampel awal dalam penelitian ini adalah 94 orang. Satu subjek drop
out sebelum dilakukan intervensi. Kelompok intervensi GPR berjumlah 46
orang dan kelompok intervensi MT 47 orang. Rerata usia pada kedua
kelompok=47,5 tahun, SD=11,3; 23,7% laki-laki. Pengukuran outcome
penelitian pertama dilakukan pada 89 subjek (44 pada kelompok GPR dan
45 pada kelompok MT), dan 87 subjek pada pengukuran outcome kedua
(43 pada kelompok GPR dan 44 pada kelompok MT)
 Waktu x interaksi kelompok signifikan pada VAS, NDI-I, TSK-2, ROM
fleksi dan ekstensi, dan ROM lateral fleksi (p=0,0043, p=0,0113,
p=0,0448, p=0,0109, dan p=0,0120) berdasarkan F test.
 Ada perbedaan signifikan antar kelompok pada VAS, NDI-I, TSK-2,
ROM fleksi dan ekstensi, dan ROM lateral fleksi pada pengukuran kedua.
Semua outcome kecuali TSK-1 9p=0,0527) signifikan secara statistik
(p<0,01)
Pembahasan  Hasil penelitian ini menunjukan intervensi GPR lebih efektif dibandingkan
MT untuk menguranfi nyeri dan disabilitas setelah 6 bulan follow-up.
Intervensi GPR menghasilkan kinetic chain pada keseluruhan otot jika
dibandingkan dengan MT yang hanya diberikan secara segmental atau
regional. ROM cervical menunjukkan perbedaan hasil antara 2 kelompok.
Hal ini disebabkan oleh perubahan pada pola aktivasi otot pada nyeri leher,
dimana peningkatan aktivitas otot superfisial lebih tinggi dibandingkan
pada otot yang deep. GPR memberikan pola aktivasi otot yang berdampak
positif pada peningkatan ROM cervical dengan merekrut otot fleksor
cervical yang deep. Hasil penelitian ini juga menyangkut komponen
psikososial yang berpengaruh pada pasien dengan nyeri kronis. Intervensi
GPR bertujuan untuk melakukan pergerakan tanpa menimbulkan nyeri,
melalui pola pernafasan yang ritmis, dan melalui koreksi postur.
Kekuatan a. Penelitian ini menggunakan jumlah subjek yang memenuhi syarat untuk
Penelitian penelitian experimental yaitu 25 subjek untuk masing-masing kelompok.
b. Dilakukan follow up setelah 6 bulan pemberian intervensi
c. Hasil penelitian ini mampu diaplikasikan dalam praktik klinis karena
intervensi yang diberikan mudah dan tidak mahal.
Kelemahan a. Beberapa alat ukur yang digunakan masih bersifat subjektif, seperti alat
Penelitian ukur nyeri dengan menggunakan VAS.
b. Sampel dalam penelitian ini untuk kategori jenis kelamin tidak homogen
sehingga kemungkinan hasil penelitian bias
c. Dosis latihan GPR dalam penelitian ini tidak disebutkan secara detail
d. Dalam penelitian ini teknik yang dibandingkan adalah teknik manual terapi
dan terapi latihan, sehingga jika dibandingkan mungkin saja tidak sepadan.