Anda di halaman 1dari 8

Sinonasal Tumor: Studi Klinis Dan Manajemen

Shweta Sawant*, Somanath B. Megalamani


Department of Otorhinolaryngology, Karnataka Institute of Medical Science, Hubballi, Karnataka, India

Received: 19 January 2017


Accepted: 23 January 2017

ABSTRAK
Latar Belakang: Tumor Sinonasal jarang terjadi. Lesi ganas lebih sering terjadi dari pada yang
jinak disertai dengan prognosisnya buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran
klinis, histologist, pemeriksaan diagnostik, hasil pengobatan, kelangsungan hidup dan faktor
prognostik pada tumor sinonasal.
Metode: Penelitian deskriptif di Departemen THT, KIMS, HUBLI, pada 31 pasien yang datang
dengan kecurigaan tumor sinonasal dari Oktober 2014 hingga September 2016. Semua pasien
dilakukan endoskopi hidung untuk diagnostik, biopsi dan penilaian radiologi hidung dan sinus
paranasal .
Hasil: 31 pasien dengan sinonasal Tumor dimasukkan dalam kelompok penelitian. Perbandingan
pasien laki-laki dengan pasien perempuan (2,4: 1). Asap rokok menjadi faktor risiko paling
penting dan signifikan secara statistik ( p <0,05). Pasien dengan keluhan seperti hidung
tersumbat, cairan hidung, sakit kepala, Hiposmia / anosmia, wajah bengkak, nyeri wajah, dll
Kesimpulan: Sinonasal Tumor jarang terjadi. Diagnosis dini penting. Pemeriksaan endoskopi
hidung dan CT scan dapat mendiagnosa sinonasal tumor pada tahap awal penyakit. Terdapat
banyak factor penyebab yang diketahui seperti, merokok ditemukan menjadi faktor risiko
penting pada tumor sinonasal.
Kata kunci: Inverted papilloma, tumor Sinonasal , juvenile nasopharyngeal angiofibroma

PENGANTAR
Tumor sinonasal jarang terjadi dan kanker sinonasal hanya terdiri dari 3% dari semua kanker
kepala dan leher dan 1% dari semua keganasan, dengan insidensi puncak pada dekade ke 5
hingga ke-7 dan paling banyak terjadi pada pria.
Lesi ini dapat berasal dari salah satu komponen histopatologi dari rongga sinonasal, termasuk
mukosa Schneiderian, kelenjar ludah kecil, jaringan saraf dan limfatik. Enam puluh persen
sinonasal Tumor timbul di sinus maksilaris, sedangkan sekitar 20% timbul di rongga hidung, 5%
di sinus ethmoid , dan 3% di sinus sphenoid dan frontal.
Tumor jinak rongga hidung dan sinus paranasal memiliki penyebab, gejala klinis, pengobatan
dan prognosis yang berbeda. Secara klinis sulit untuk membedakan kondisi peradangan yang
muncul seperti polip, lesi polypoidal, polipoid jinak,Gambaran klinis dan radiologis massa
rongga hidung dan sinus Paranasal tumpang tindih dan seringkali hanya diagnosis sementara.

Diagnosis pasti memerlukan pemeriksaan histopatologi karena sebagian besar lesi tidak dapat
dilakukan aspirasi jarum halus atau FNAC tidak dianjurkan karena resiko perdarahan.
Keganasan sinonasal adalah keganasan yang jarang terjadi dan memiliki subtype secara
histologis. Keganasan ini memiliki prognosis yang buruk karena sifat dari gejala yang
nonspesifik, kebanyakan pasien terlambat didiagnosis dan biasanya didiagnosis ketika sudah
stadium lanjut. Oleh karena itu sebagian besar keganasan sinonasal cenderung dirawat dengan
pembedahan dan radioterapi pasca operasi

METODE
Data untuk studi deskriptif ini dikumpulkan dari pasien yang rawat jalan datang ke departemen
THT, di Karnataka Institute of Medical Sciences, Hubballi, Karnataka, India antara Oktober
2014 hingga September 2016. Sebanyak 31 pasien dengan Tumor sinonasal jinak dimasukkan
dalam penelitian. Semua kasus didiagnosis secara klinis sebagai Tumor sinonasal dengan gejala
terdapat sumbatan hidung, cairan pada hidung, sakit kepala, anosmia, pembengkakan wajah dan
nyeri wajah.
Setiap pasien didokumentasikan mulai dari nama, usia, jenis kelamin, alamat dan gejala klinis,
termasuk keluhan THT dan lamanya keluhan. Semua kasus dilakukan pemeriksaan secara umum
semua temuan klinis dicatat secara rinci. Setelah mendapat persetujuan dari pasien maka
dilakuakn pemeriksaan seperti hemoglobin , waktu pendarahan, waktu pembekuan, gula darah,
ESR dan investigasi serologis, HIV I dan HIV II dan HBsAg .
Semua data dimasukkan ke dalam perangkat lunak SPSS versi 20.0 untuk analisis deskriptif dan
hasil yang disajikan dalam tabel dan gambar. Tingkat signifikansi dianggap pada p <0,05 pada
interval Keyakinan 95%. Analisis statistik parameter dilakukan dan dua parameter dibandingkan
menggunakan uji Chi-square.

HASIL
Pasien laki-laki lebih banyak dari pasien perempuan dengan rasio laki-laki dan perempuan 2,4 :
1. Dalam penelitian kami, pasien termuda berusia 12 tahun dan yang tertua adalah 90 tahun.
Sekitar setengah pasien termasuk dalam kelompok usia >41 tahun. Pasien berasal dari berbagai
latar belakang pekerjaan seperti buruh , rumah tangga, petani dan siswa. Merokok didapatkan
pada hampir seperempat (delapan) pasien. Menganalisis faktor risiko pria dan wanita, merokok
tembakau ditemukan menjadi faktor risiko yang signifikan secara statistik. Asap rokok
ditemukan menjadi salah satu faktor risiko, dan secara statistik signifikan (p <0,05) (Tabel 1).
Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh pasien adalah sumbatan hidung, epistaksis , sakit kepala,
hyposmia / anosmia , pembengkakan wajah, nyeri wajah, diplopia , dan kelainan gigi. Gejala
yang terlihat pada tumor jinak adalah sumbatan hidung, epistaksis , sakit kepala, pembengkakan
wajah dan hyposmia / anosmia .
Gejala yang didapatkan pada tumor ganas mirip dengan tumor jinak selain itu pasien tumor
ganas juga mengalami nyeri wajah, diplopia dan kelaianan pada gigi. Sumbatan hidung yang
merupakan gejala yang paling umum tercatat pada 22 (70,97%) pasien, unilateral pada 15
(48,39%) pasien dan bilateral pada 7 (22,58%) pasien. Tanda-tanda seperti neuropati dan
proptosis kranial yang terlihat pada 5 kasus semuanya ternyata ganas. Kekambuhan didapatkan
sebanyak 25% tumor ganas pada penelitian ini. Di antara tumor jinak, kekambuhan terlihat pada
1 pasien (3,22%) yang terlihat pada papilloma Inverted.

DISKUSI
Penelitian ini mengevaluasi pasien dengan Tumor sinonasal baik jinak maupun ganas. Penelitian
ini dilakukan pada 31 pasien, di mana pada laki-laki lebih sering dengan rasio laki - laki :
perempuan adalah 2,4 : 1, sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Fasunla AJ dan
Ogunkeyede SA perempuan melebihi jumlah pasien laki-laki, tetapi penelitian kami sebanding
dengan studi “ Sinonasal Tract Malignancies: Prognostic Factors and Surgery Outcomes ”yang
dilakukan oleh Abdurrahman Bugra Cengiz dan mengungkapkan bahwa laki-laki lebih sering
terkena tumor sinonasal dan rasio pria / wanita adalah 3: 1.
Hampir setengah pasien dalam kelompok studi rata-rata adalah laki-laki berusia lebih dari 40
tahun yang merokok, sedangkan Carolina M, menemukan bahwa kelompok usia rata-rata adalah
68 tahun di kedua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan, hampir 70% di antara laki-laki
dan sekitar 40% di antara perempuan. Kami menemukan hubungan lebih dekat antara merokok
dan karsinoma sel skuamosa, seperti yang ditemukan oleh Carolina M et al.
Menurut Bist SS et al dalam studinya “Profil clinicopathological massa sinonasal” pada 110
kasus, pasien ibu rumah tangga, yaitu 28, siswa sebanyak 21 pasien, sedangkan pada kelompok
studi, lebih dari 50% pasien adalah pekerja manual dengan status sosial ekonomi rendah, 7
pasien adalah mahasiswa dan 3 pasien adalah ibu rumah tangga. Binazzi A et al mengungkapkan
hubungan yang signifikan menjadi penyebab adalah paparan debu kayu, debu kulit,
formaldehida, senyawa nikel / kromium, pelarut organik, asap las dan arsenik.
Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien berasal dari masyarakat pedesaan. Pengamatan
umum kelas sosial ekonomi pasien menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak pasien dalam
kelas sosial ekonomi rendah dari pada yang di kelas ekonomi atas seperti yang diamati oleh
Fasunla "Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil manajemen yang buruk dari keganasan
sinonasal di barat daya Nigeria".
Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien mengalami obstruksi nasal yang merupakan gejala
paling umum yang ditemukan dan seperti penelitian yang dilakukan oleh Abdurrahman dalam
penelitian mereka. Epistaksis didapatkan pada setengah pasien. Massa intranasal pada
pemeriksaan adalah temuan klinis yang paling umum diikuti oleh massa intraoral, deformitas
wajah dan massa pada leher. Lebih dari separuh pasien mengalami pembengkakan wajah dalam
penelitian kami. Sedangkan Das S, Kirsch CF10 melakukan pengamatan serupa pada hampir
separuh pasien dalam penelitian mereka mengalami pembengkakan pada wajah, “Pencitraan
benjolan di hidung”.
Proptosis muncul pada 2 pasien dalam kelompok studi kami, yang unilateral sedangkan studi
yang dilakukan oleh Das S dan Kirsch CF melaporkan kejadian 5,88% dan 24% masing-masing
terjadi, Proptosis terjadi karena penekanan oleh tumor pada mata.
Gigi yang lepas ditemukan pada 9 pasien, hyposmia pada 7 pasien dan Neuropati kranial terdapat
pada 3 pasien, dimana saraf kranial I adalah yang paling sering terlibat diikuti oleh saraf kranial
VI, sedangkan Bist SS menemukan hyposmia pada sekitar 35% pasien. pemeriksaan mata, 6%
pasien mengalami diplopia dan keterlibatan saraf kranial pada 35% pasien, dimana saraf kranial I
adalah yang paling umum terlibat, diikuti oleh saraf kranial II dan V.
Tidak ada bukti metastasis jauh dalam studi mereka. Keganasan diklasifikasikan menurut
klasifikasi AJCC.
Anestesi transnasally menggunakan endoskopi seperti yang dilakukan oleh Abdurrahman. Bist
SS melaporkan tingginya insiden lesi neoplastik ganas. Di antara lesi ganas, karsinoma rongga
hidung adalah lesi yang paling umum terlihat pada 45,83% pasien dan tipe histopatologi yang
paling umum adalah karsinoma sel skuamosa (SCC) yang didapatkan pada 33,33% pasien. Lesi
jinak muncul pada dua puluh pasien dan Angiofibroma adalah yang paling banyak.
Dalam penelitian kami, semua pasien menjalani pemeriksaan histopatologi spesimen. Tumor
ganas lebih banyak dibandingkan tumor jinak. Di antara lesi ganas Karsinoma Maxilla terdapat
jenis keganasan histopatologi yang paling banyak yaitu karsinoma sel skuamosa (21,7%). Cantu
G et al telah melaporkan kecenderungan serupa dalam studinya.
Dalam penelitian kami, semua tumor jinak (8 pasien), diobati dengan pendekatan rhinotomy
lateral, sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Bathma S et al "manajemen
endoskopi papilloma Inverted papilloma" pada 13 pasien, semua pasien diobati dengan
pendekatan endoskopi transnasal. Sedangkan Kazi M et al, dalam penelitiannya "Manajemen
sinonasal Tumor : faktor prognostik dan hasil: pengalaman 10 tahun di rumah sakit perawatan
tersier” mengamati bahwa, tumor ganas dirawat dengan pembedahan pada kasus 50 (79%)
pasien, 38 (60%) silakukan operasi diikuti oleh radiasi ( 22%) dan empat belas menjalani operasi
diikuti oleh kemoradiasi, di mana pada penelitian kami 4 pasien dirawat dengan operasi, 2 pasien
diobati dengan kemoradioterapi dan 10 pasien dengan operasi gabungan dan radioterapi.
Dosis radiasi yang diberikan adalah, total 60 Gy dalam 25-30 fraksi, dan komplikasi yang terkait
dengan radioterapi adalah kekambuhan, kebutaan yang disebabkan radiasi, retinopati yang
diinduksi radiasi, glaukoma neovaskular dan osteoradionekrosis rahang atas.
Dua pasien diobati dengan kemoterapi, obat kemoterapi yang digunakan adalah kombinasi
siklofosfamid , doxorubicin, vincristine dan prednisone. Cengiz AB et al melakukan penelitian
pada 36 pasien, dan mengamati tingkat kelangsungan hidup selamna 1 sampai 3 tahun, pada
tahap awal (I-II) 82,5% dan stadium lanjut (III- IVa ) 39,3% seperti dalam penelitian kami,
tingkat kelangsungan hidup tiga tahun pertama sekitar 85% dan pada stadium lanjut sebanyak
40% .
Kami mengamati kekambuhan pada satu pasien (12,5%) dengan Inverted papilloma ( IP),
sedangkan Bathma S et al melakukan penelitian “Manajemen endoskopi Inverted papilloma
sinonasal ” pada tiga belas pasien, dan mendapat kekambuhan pada dua pasien. Tujuh (30,43%)
tumor ganas dalam kelompok penelitian kami kambuh, sedangkan Abdurrahman diamati
kambuh pada enam belas (44,4%) pasien dengan margin bedah positif dan enam (16,6%) pasien
dengan margin bebas.
Meskipun diagnosis patologis tidak selalu mungkin, oleh karena itu pengetahuan CT dan MRI
diperlukan untuk melakuakn diagnosis secara tepat. Blanch JL et al melakukan penelitian dan
menemukan bahwa prognosis keganasan sinonasal buruk, karena tumor biasanya secara klinis
memburuk pada saat diagnosis. Dalam penelitian ini, periode follow up singkat, sehingga kami
tidak dapat menarik kesimpulan tentang prognosis
KESIMPULAN
Sinonasal Tumor jarang terjadi. Pasien laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dengan
rasio laki-laki dan perempuan 2,4: 1. Kelompok usia yang lebih sering terjadi adalah usia > 41
tahun. Asap rokok ditemukan menjadi faktor risiko utama. Pekerja kasar dengan status sosial
ekonomi yang buruk paling sering terkena dampaknya. Pasien dengan gejala seperti sumbatan
hidung, epistaksis, sakit kepala, hyposmia, pembengkakan wajah dll. Diagnosis dini penting
mengingat prognosis yang buruk dari tumor ganas. Pemeriksaan endoskopi hidung dan CT scan
berguna untuk mendiagnosis sinonasal tumor pada tahap awal.
Meskipun diagnosis patologis tidak selalu mungkin, pengetahuan tentang fitur CT dan MR
Imaging individu diperlukan untuk melakuakn diagnosis banding. CT dan MR Imaging penting
dilakukan untuk mendiagnosis dan memberikan terapi yang tepat. Prognosis buruk, karena gejala
semakin memburuk sejak didiagnosis. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat
kelangsungan hidup dan jenis operasi. Tumor sinonasal sangat agresif, karena anatominya dekat
dengan struktur vital dan bahkan dengan pendekatan multimodality pengobatan, hasilnya tidak
selalu bagus.