Anda di halaman 1dari 32

B.

PENILAIAN PORTOFOLIO

1. Pengertian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan pendekatan baru yang akhir-akhir ini


sering diperkenalkan para ahli pendidikan untuk dilaksanakan di sekolah. Di
beberapa negara maju, portofolio telah digunakan dalam dunia pendidikan
secara luas, baik untuk penilaian di kelas, daerah, maupun untuk penilaian secara
nasional.
Portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan hasil evidence atau hasil
belajar atau karya peserta didik yang menunjukkan usaha, perkembangan,
prestasi belajar peserta didik dari waktu ke waktu dan dari satu mata
pelajaran ke pelajaran yang lain. (Surapranata & Hatta, 2006).
Portofolio berfungsi untuk mengetahui perkembangan pengetahuan pe
serta didik dan kemampuan dalam mata pelajaran tertentu, serta pertumbuhan
kemampuan peserta didik.
Dalam prakteknya, portofolio berusaha dilandasi 4 pilar pendidikan,
yaitu learning to do, learning to know, learning to be, learning to live together.
1. Learning to do, peserta didik diberdayakan agar mau dan mampu
berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan
meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun
budaya.
2. Learning to know, peserta didik diajak untuk mampu
membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia
sekitarnya.
3. Learning to be, peserta didik difasilitasi untuk mampu
membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya.
4. Learning to live together, peserta didik diberi kesempatan
berinteraksi dengan kelompok yang bervariasi untuk membentuk
kepribadiannya, memahami kemajemukkan dan melahirkan sikap-
sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan
hidup.
Penilaian portofolio lahir dari pemikiran konstruktivisme yang
menganggap inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari “apa yang
diketahui peserta didik” dan guru berperan sebagai “fasilisator dan penyedia
kondisi”. Teori konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Bagi konstruktivist, dalam
belajar, yang dipentingkan adalah bagaimana strategi memperoleh
pengetahuan, bukan seberapa banyak pembelajar memperoleh pengetahuan.
Konstruktivistik memandang bahwa penilaian merupakan bagian utuh dari
belajar, untuk itu pembelajaran dilaksanakan dengan cara memberikan tugas-
tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa
yang dipelajari dalam konteks nyata. Selain itu juga merupakan upaya
menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui upaya
menghargai terhadap beragam kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan
persamaan kesempatan dan memperhatikan keragaman peserta didik.
Penilaian portofolio didasarkan pada koleksi atau kumpulan pekerjaan
yang diberikan guru kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui
penilaian portofolio siswa dapat menunjukkan perbedaan kemampuan dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dari waktu ke waktu dan atau
dibandingkan dengan hasil karya siswa lain.
Penilaian portofolio dapat terfokus pada proses belajar mengajar serta
dapat memberikan informasi tentang kelebihan dan kekurangan siswa. Dalam
penilaian portofolio siswa memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk
menilai diri sendiri dari waktu ke waktu.
Pada waktu kita menerapkan penilaian portofolio hendaknya
diperhatikan beberapa hal berikut :
a. Memperhatikan perkembangan pemahaman siswa pada perode
tertentu (misalnya portofolio meliputi pengkopian catatan,
kerangka awal, draft kasar, kritik struktur, dan finalisasi tulisan);
b. Menunjukkan suatu pemahaman dari banyak konsep dan topic
yang diberikan (misalnya portofolio meliputi beberapa tulisan
pendek, uraian singkat);
c. Mendemonstrasikan perbedaan bakat (misalnya portofolio
meliputi hasil ilustrasi kemampuan menulis, kombinasi cetak, dan
bukan cetak);
d. Mendemonstrasikan kemampuan untuk menunjukkan pekerjaan
yang original (misalnya portofolio meliputi hasil produksi
artistic/estetik seperti sajak, music, gambar, rencana pelajaran,
videotape);
e. Mendemonstrasikan kegiatan selama periode waktu tertentu dan
merangkum arti dari kegiatan tersebut (misalnya portofolio
meliputi hasil kegiatan selama internsip atau proyek riset dengan
menyesuaikan kategori yang ada, catatan harian, jurnal)
f. Mendemonstrasikan kemampuan menampilkan dalam suatu
variasi konteks tempat tertentu
g. Mendemonstrasikan kemampuan untuk mengintegrasikan teori
dan praktek
h. Merefleksikan nilai-nilai individu, pandangan dunia baru atau
orientasi filosofi.

Pada waktu kita menerapkan penilaian portofolio hendaknya


diperhatikan beberapa hal berikut :
i. Memperhatikan perkembangan pemahaman siswa pada perode
tertentu (misalnya portofolio meliputi pengkopian catatan,
kerangka awal, draft kasar, kritik struktur, dan finalisasi
tulisan);
ii. Menunjukkan suatu pemahaman dari banyak konsep dan topic
yang diberikan (misalnya portofolio meliputi beberapa tulisan
pendek, uraian singkat);
iii. Mendemonstrasikan perbedaan bakat (misalnya portofolio
meliputi hasil ilustrasi kemampuan menulis, kombinasi cetak,
dan bukan cetak);
iv. Mendemonstrasikan kemampuan untuk menunjukkan
pekerjaan yang original (misalnya portofolio meliputi hasil
produksi artistic / estetik seperti sajak, music, gambar, rencana
pelajaran, videotape);
v. Mendemonstrasikan kegiatan selama periode waktu tertentu dan
merangkum arti dari kegiatan tersebut (misalnya portofolio
meliputi hasil kegiatan selama internsip atau proyek riset
dengan menyesuaikan kategori yang ada, catatan harian, jurnal)
vi. Mendemonstrasikan kemampuan menampilkan dalam suatu
variasi konteks tempat tertentu
vii. Mendemonstrasikan kemampuan untuk mengintegrasikan teori
dan praktek
viii. Merefleksikan nilai-nilai individu, pandangan dunia baru atau
orientasi filosofi.

2. Perbedaan Tes dan Penilaian Portofolio


Penilaian portofolio memiliki kelebihan dalam beberapa hal,
terutama lebih objektif dilihat dari hasil kerja siswa yang dilakukannya, dan
secara langsung berhubungan dengan proses kegiatan belajar mengajar.
Perbedaan antara penilaian portofolio dan tes sebagai alat evaluasi adalah
sebagai berikut:

No Tes Portofolio

1. Menilai siswa berdasarkan sejumlah Menilai siswa berdasarkan seluruh


tugas yang terbatas. tugas dan hasil kerja yang berkaitan
denga kinerja yang dinilai.
2. Yang menilai hanya guru Siswa turut serta dalam menilai
berdaarkan masukan yang terbatas. kemajuan yang dicapai dalam
penyelesaian berbagai tugas dan
perkembangan yang berlangsung
selama proses pembelajaran.
3. Menilai semua siswa dengan Menilai setiap siswa berdasarkan
menggunakan satu kriteria. pencapaian masing-masing dengan
mempertimbangkan juga faktor
perbedaan individual.
4. Proses penilaian tidak kolaboratif Mewujudkan proses penilaian yang
(tidak ada kerja sama terutama kolaboratif.
antara guru, siswa dan orang tua).
5. Penilaian diri oleh siswa bukan Siswa menilai dirinya sendiri menjadi
merupakan sutau suatu tujuan. suatu tujuan.
6. Yang mendapatkan perhatian dalam Yang mendapatkan perhatian dalam
penilaian hanya pencapaian. penialain meliputi kemajuan, usaha,
dan pencapaian.
7. Terpisah antara kegiatan Terkait erat antara kegiatan penilaian,
pembelajaran, testing dan pengajaran dan pembelajaran.
pengajaran.

3. Fungsi Portofolio
Portofolio tidak hanya merupakan tempat penyimpanan hasil
pekerjaan siswa, tetapi juga merupakan sumber informasi untuk guru dan
siswa. Portofolio berfungsi untuk mengetahui perkembangan pengetahuan
siswa. Portofolio memberikan bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan yang
telah dilakukan siswa sehingga guru dan siswa berkesempatan untuk
mengembangkan kemampuannya. Portofolio dapat pula berfungsi sebagai
alat untuk melihat:
1. Perkembangan tanggungjawab siswa dalam belajar
2. Perluasan dimensi belajar
3. Pembaharuan kembali proses belajar-menagajar
4. Penekanan pada pengembangan padangan siswa dalam belajar.

4. Bentuk Portofolio
Menurut Nitko, secara umum penilaian portofolio dapat dibedakan
menjadi 5 bentuk yaitu:
1) Portofolio ideal (ideal portofolio)
2) Portofolio penampilan (show portofolio)
3) Porofolio dokumentasi (documentary portofolio)
4) Portofolio evaluasi (evaluation portofolio)
5) Portofolio kelas (classroom portofolio)
Sedangkan menurut Fosters dan Masters ( 1998 ) membedakan
penilaian portofolio dalam 3 kelompok yaitu :
1) Portofolio kerja (working portofolio)
Portofolio kerja adalah usaha mandiri yang telah dilakukan siswa
atau usaha bersama dari kelompok siswa. Hal-hal yang harus dilakukan
siswa dan dinilai dalam penilaian portofolio antara lain berupa draft,
pekerjaan yang belum selesai, atau pekerjaan terbaik yang bisa
dilakukan siswa.
Berbagai macam tugas yang setara atau yang berbeda disajika
kepada siswa siswa boleh memilih tugas-tugas yang dianggap cocok
untuk mereka. Guru juga dapat memutuskan apa yang harus dikerjakan
siswa. Siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam mengerjakan
tugas tertentu. Portofolio kerja menyediakan data tentang cara siswa
mengorganisasi dan mengelola kerja. ditunjukkan melalui prestasi
belajar siswa (chievement). Hasil kerja siswa dalam penilaian siswa dan
portofolio jenis ini digunakan dalam diskusi antara siswa dan guru. Ini
akan membuat guru mengenal kemajuan siswa dan memungkinkan
guru menolong siswa untuk mengidentifikasi kelemahan, kelebihan
serta kelayakan dalam merancang dan meningkatkan pengajaran.
2) Portofolio dokumentasi (documentary portofolio)
Portofolio dokumentasi adalah koleksi hasil kerja siswa yang khusus
digunakan untuk penilaian. Tidak seperti portofolio kerja yang
pengkoleksiannya dilakukan dari hari ke hari, dokumentasi portofolio
adalah seleksi hasil kerja terbaik siswa yang akan diajukan dalam
penilaian. Dengan demikian portofolio dokumentasi adalah koleksi dari
sekumpulan hasil kerja siswa selama kurun waktu tertentu.
Portofolio dokumentasi tidak hanya berisi hasil kerja siswa, tetapi
semua proses yang digunakan oleh siswa untuk menghasilkan karya
tertentu. Portofolio dokumentasi dalam penilaian portofolio bahasa
inggris, misalnya mungkin tidak hanya berisi tentang hasil akhir tulisan
siswa, tetapi juga berbagai macam draf dan komentar siswa tentang
hasil tersebut. Draf dan komentar siswa harus dipilih untuk menyajikan
draf yang paling bagus dari yang dihasilkan siswa. Semua ini dilakukan
dalam rangka menunjukkan proses penilaian, dan guru dapat
menggunakannya sebagai bahan penilaian dan pengkajian tentang
bagaimana siswa merencanakan, dan menghasilkan tulisan serta cara
mereka menulis.
Kegunaan portofolio dokumentasi sebagai sumber portofolio
bergantung pada:
 Bagaimana hasil karya siswa berhubungan dengan indicator
hasil belajar yang telah diterapkan, dan
 Isi penilaian portofolio yang dihasilkan siswa menunjukan
kelemahan dan kelebihan siswa
Isi penilaian portofolio harus menyajikan suatu bukti yang berkaitan
dengan kompetensi dasar dan indicator pencapaian haisil belajar yang
telah ditentukan. Untuk menunjukkan hal ini, kegiatan belajar mengajar
harus sesuai dengan indicator pencapaian hasil belajar yang telah
ditentukan. Jika kemampuan problem solving sebagai salah satu tujuan
yang hendak dicapai dalam pembelajaran matematika misalnya, tetapi
kegiatan belajar mengajar dikelas hanya memfokuskan pada latihan
menghitung, maka hasil kerja siswa tidak akan menunjukan hasil kerja
yang berkaitan dengan problem solving sebagai bagian dari
documentary portofolio dokumentasi, melainkan hanya menghitung.
3) Portofolio penampilan (show portofolio)
Portofolio penampilan (show fortofolio) digunakan untuk memilih
hal-hal yang paling baik yang menunjukan bahan atau pekerjaan
terbaik yang dihasilkan oleh siswa. Portofolio pertunjukan bertujuan
untuk menyeleksi pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh siswa. Tidak
seperti portofolio dokumentasi, portofolio pertunjukan tidak mencakup
proses pekerjaan, perbaikan dan penyempurnaan pekerjaan siswa.
Portofolio pertunjukan di gunakan untuk tujuan seperti seleksi,
sertifikasi, maupun penilaian kelas. Untuk tujuan yang lebih rumit,
yang sangat memerlukan perbandingan, validitas perbandingan
haruslah benar-benar diperhatikan oleh beberapa penilai adalah
perlunya reliabilitas, yaitu apakah skor yang diberikan kepada hasil
kerja siswa konsisten.
Perencanaan Portofolio Pertunjukan :
Portofolio pertunjukan dirancang untuk menunjukan hasil kerja
siswa yang terbaik dalam satu tujuan pembelajaran atau dalam kurun
waktu tertentu. Portofolio pertunjukan sangat berguna untuk penilaian
sumatif yang bergantung :
 Seberapa baik isi portofolio mengacu pada tujuan pembelajaran
yang telah ditentukan
 Seberapa baik hasil kerja siswa telah menujukan kemampuan
siswa yang sebenarnya
Penilaian portofolio haruslah menunjukan kemampuan siswa yang
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kurikulum, yaitu hasil kerja
peserta didik harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan hasil belajar
yang telah ditetapkan.
Tidaklah mudah menjawab pertanyaan seberapa banyak hasil
pekerjaan siswa dapat menunjukkan kemampuan peserta didik sesuai
dengan cakupan yang dituntut oleh kurikulum. Edward Haertel
menyarankan untuk menggunakan prinsip nilai tambah “value-added
principel” yaitu para pengembang portofolio memilih hasil kerja
peserta didik dan bertanya: “Informasi apa yang akan bertambah
apabila suatu hasil kerja siswa akan dimasukkan sebagai bahan
penelitian?jika jawabannya tidak ada untuk beberapa hasil kerja siswa,
maka kurikulum telah tercapai.
Jika dalam portofolio dimasukkan untuk menjawab penilaian yang
akan valid tentang kemampuan peserta didik dalam bidang tertentu,
maka faktanya tidak boleh dicampur dengan hal-hal yang tidak ada
kaitannya dengan kemampuan peserta didik dalam bidang tertentu.
Tugas portofolio dirancang untuk menilai kemampuan matematika
misalnya, maka isi portofolio tidak akan menyangkut penilaian
kemampuan membaca (reading ability).
 Portofolio pertunjukan hanya menunjukan hasil kerja terbaik dan
hanya menunjukan hasil akhir
 Portofolio menunjukan harus menggambarkan kurikulum dan
menunjukkan hasil kerja sendiri

5. Merancang Portofolio
Serangkaian gagasan yang diperlukan guru ketika mereka
merancang penilaian portofolio. Gagasan ini mencakup tujuan portofolio,
isi, seleksi dan penilaian.
a. Penentuan Tujuan
Beberapa hal yang sangat penting dalam penentuan tujuan penilaian
porfolio adalah sebagai berikut:
a. Guru harus menentukan tujuan portofolio, apakah guru akan
memantau proses atau mengevaluasi hasil akhir (product)
b. Guru harus menetapkan apakah penggunaan portofolio untuk
proses mengajar atau sebagai alat untuk penilaian.
c. Guru harus menetapkan apakah portofolio dilakuakan dalam
memantau perkembangan siswa ataukah guru hanya bermaksud
mengoleksi hasil kerja siswa.
d. Penentuan tujuan portofolio akan sangat berpengaruh terhadap
penggunaan jenis portofolio (penilaian portofolio kerja,
penilaian portofolio dokumentasi, atau penilaian portofolio
pertunjukkan)
e. Jika guru ingin mengevaluasi baik proses maupun hasil
portofolio siswa, mungkin guru akan menggunakan portofolio
dokumentasi.
f. Guru harus menentukan pihak yang akan terjadi audience dan
untuk apakah portofolio digunakan? Apakah portofolio
digunakan untuk menunjukkan proses belajar mengajar yang
sedang berlangsung kepada orang tua, penilaian pada akhir
tahun pelajaran, pada akhir jenjang pendidikan, atau untuk
memantau sistem.
Bagaimana anda menjawab keenam hal tersebut di atas akan
berpengaruh pada isi dan seleksi portofolio kriteria yang digunakan untuk
melaporkan hasil belajar yang dicapai siswa.

b. Isi Portofolio
Beberapa hal yang sangat penting dalam penentuan isi penilaian
portofolio adalah sebagai berikut:
a) Guru harus menentukan apakah isi portofolio yang akan
dilaksanakan.
b) Guru harus menentukn relevansi antara hasil karya siswa
dengan tujuan yang akan dinilai. Apakah penilaian diri (self
assesment), open ended, essay, audio akan digunakan sebagai
bagian penilaian portofolio? Apakah guru akan
memperbolehkan hasil kerjasama siswa?
c) Guru harus menunjukkan hubungan antara pencapaian hasil
belajar siswa dengan kompetensi dasar dan indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan daam
Kompetensi Berbasis Kompetensi.
d) Guru harus menunjukkan seberapa banyak portofolio akan
digunakan sebagai bahan penilaian? Akankah portofolio berisi
hasil karya siswa yang begitu banyak dan luas atau hanya berisi
hasil karya pilihan saja? Apakah seluruh karya siswa yang
terpilih dapat menunjukkan kompetensi dasar dan atau indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum
berbasis kompetensi.
Selain itu ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan isi portofolio, misalnya: siapa yang memilih, bagaimana
memilih, bagaimana melibatkan siswa, bagaimana peranan guru, bagaimana
kriteria eksternal, kapan harus dipilih, apa yang perlu dilakukan oleh guru
terhadap setiap isi.
 Siapa yang memilih?
Pihak yang memilih ditentukan oleh tujuan. Apabila tujuan portofolio
lebih pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan
belajarnya, maka siswa harus diberi kesempatan juga untuk ikut memilih
calon isi portofolio. Akan tetapi, apabila portofolio lebih ditekankan pada
usaha guru untuk menilai dan memperbaiki pembelajarannya, guru harus
menen-tukan apa saja yang harus disajikan dalam portofolio.
 Bagaimana cara memilih?
Ada beberapa cara menentukan butir-butir yang perlu disajikan dalam
portofolio. Guru dan siswa perlu bekerja sama untuk menentukan butir-butir
itu. Dan setelah ada kesepakatan, perlu dibuat daftar kategori atau pedoman
tertulis.
 Bagaimana cara melibatkan siswa?
Siswa perlu menjelaskan secara tertulis, mengapa suatu butir atau topik
perlu disajikan dalam portofolio masing-masing. Bila perlu, siswa dan guru
dapat melakukan diskusi tentang hal tersebut.
 Bagaimana peranan guru?
Di samping membantu siswa, guru perlu mengambil sampel isi
portofolio, terutama dalam rangka memahami cara-cara siswa berpikir,
bekerja, bekerja sama dalam kelompok, dan bagaimana pemahaman siswa
atas materi tertentu berkembang.
 Bagaimana kriteria eksternal?
Guru atau pihak lain yang menugasi siswa membuat portofolio dapat
menggunakan kriteria tertentu untuk mengetahui cara-cara siswa
‘mendekati’ masalah atau perkara tertentu. Dalam hal demikian, guru dapat
mendiskusikan kriteria itu dengan sesama guru atau dengan pihak luar
tersebut.
 Kapan harus dipilih?
Waktu kapan butir-butir dipilih untuk dimasukkan ke dalam portofolio
tergantung kepada tujuan. Apabila hasil yang menjadi tujuan, maka hasil
kerja terbaik saja, atau hasil kerja terakhir saja yang perlu dimasukkan ke
dalam portofolio. Akan tetapi, kalau kemajuan siswa lebih dipentingkan,
maka portofolio harus berisi bukti-bukti tentang perkembangan
pengetahuan dan keterampilan siswa atau perkembangan sikap siswa.
 Apa yang perlu dilakukan oleh guru terhadap setiap isi?
Selain menilai guru sebaiknya memberikan komentar pada setiap butir
isi portofolio, baik yang berupa saran pningkatan belajar, maupun yang
berupa pujian atas prestasi siswa yang bersangkutan.
c. Seleksi
Beberapa hal yang sangat penting dalam evaluasi hasil belajar siswa
untuk portofolio adalah sebagai berikut:
a. Guru harus menentukan pihak yang melakukan seleksi terhadap
hasil karya siswa. Apakah siswa atau guru yang akan
bertanggung jawab dalam melakuakn seleksi hasil karya siswa?
Apakah siswa bekerjasama dengan guru dalam melakukan
seleksi hasil karya siswa?
b. Guru harus menentuka cara penseleksian terhadap hasil karya
siswa.
c. Guru harus menetukan dengan cara apakah pemilihan hasil
karya siswa dilakukan, khususnya dalam rangka meningkatkan
refleksi diri dan penilaian diri? Apakah guru akan
mengembangkan prosedur untuk melaksanakan seleksi?
Dapatkah anda menggunakan proses selksi ini untuk melihat
lebih dalam tentang kemampuan siswa?
d. Guru harus menentukan proses penilaian portofolio di kelas.
Sistem apakah yang digunakan untuk melaksanakan portofolio?
Siapakah yang memiliki aksis ke portofolio dan kapan? (Lihat
penilaian porofolio dokumentasi). Dapatkah guru menggunakan
proses ini untuk melihat lebih dalam tentang kemampuan siswa?
d. Pengamatan dan Penilaian
Beberapa hal yang penting dalam pengamatan dan penilaian
portofolio adalah sebagai berikut:
a. Guru harus membedakan antara penilian portofolio secara
individual dan secara kelompok. Untuk memahami hal ini
perhatikan kembali bab tentang penilaian portofolio
dokumentasi dan penilaian portofolio pertunjukan.
b. Guru harus membuat penilaian portofolio sesuai mungkin
dengan kompetensi dasar maupun dengan indikator pencapaian
hasil belajar yang telah ditentukan.
c. Guru harus membuat penilaian portoflolio individu dan
kelompok ini sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan.
d. Guru harus memastikan dengan benar kriteria yang akan
digunakan dalam penilaian portofolio baik yang digunakan
untuk kelompok maupun untuk siswa secara individu
e. Kriteria yang dikebangkan harus sesuai dengan indikator
pencapaian hasil belajar.
f. Kriteria yang dikembangkan harus mencakup rentang
kemampuan yang jelas mulai dari kemampuan yang kurang
sampai kemampuan yang baik.
g. Kriteria yang dikembangkan juga harus mudah
dikomunikasikan kepada siswa, orang tua, atau pun pihak lain
sehingga mereka dapat dengan mudah memahami kriteria yang
dimaksud.
h. Kriteria penilaian haruslah terbebas dari perbedaan jenis
kelamin siswa. Jangan sampai terjadi lebih baik untuk laki-laki
atau sebaliknya.
i. Kriteria penilaian harus dapat digunakan oleh siapa saja (guru
yang berbeda) dan dapat menghasilkan pegertian yang sama
untuk hasil kerja yang sama. Penempatan siswa dalam peta
kemampuan :
- Guru harus membedakan antara laporan siswa dalam bentuk
kedudukan mereka dalam garis kontinum atau kedudukan
mereka dalam peta kemampuan.
- Guru harus membedakan antara estimasi objektif dan estimasi
subjektif dalam penilaian portofolio.
Untuk menilai portofolio harus lebih dulu tersedia rubrik (pedoman
terperinci) penilaian. Penilaian portofolio hendaknya tidak hanya
ditekankan kepada keberhasilan siswa dalam memperoleh jawaban yang
diinginkan oleh guru, tetapi lebih ditekankan kepada proses berpikir siswa
yang terdapat atau tersirat dalam isi portofolio. Salah satu cara penilaian
portofolio, atau pembuatan rubrik, adalah cara dengan menggunakan
kriteria berikut :
Contoh Informasi Portofolio Fisika SMP kelas IX

Standar Kompetensi : 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya


dalam kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Materi Kegiatan


Indikator
Dasar Pembelajaran pembelajaran

4.1 Menyelidiki Kemagnetan  Merumuskan  Menunjukkan sifat


gejala karakteristik kutub magnet.
kemagnetan dan sifat kutub  Menjelaskan cara
cara membuat magnet, sifat membuat magnet dan
magnet. medan magnet, sebab-sebab
dan pengertian hilangnya sifat
teori magnet kemagnetan suatu
bumi. bahan.
 Mengkaji  Memaparkan teori
pustaka untuk kemagnetan bumi.
mencari cara  Menunjukkan medan
membuat magnet di sekitar
magnet dan cara penghantar berarus
menghilangkan listrik.
sifat
kemagnetan.
 Melakukan studi
pustaka untuk
mencari
informasi
tentang teori
kemagnetan
bumi.
 Merancang dan
melaksanakan
percobaan untuk
mengungkap
hubungan antara
arah arus, medan
magnet, dan
kuat arus listrik.
Contoh Format Penilaian Portofolio untuk ata pelajaran fisika kelas IX SMP

Kompetensi Dasar Nama peserta didik : …………...............


Tanggal : ………...................
4.2 Menyelidiki gejala
kemagnetan dan cara
membuat magnet.
Penilaian
Indikator
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
 Menunjukkan sifat
kutub magnet.

 Menjelaskan cara
membuat magnet dan
sebab-sebab
hilangnya sifat
kemagnetan suatu
bahan.

 Memaparkan teori
kemagnetan bumi.

 Menunjukkan medan
magnet di sekitar
penghantar berarus
listrik.

Dicapai melalui : Kometar guru :


- Pertolongan guru
- Seluruh kelas
- Kelompok kecil
- Sendiri
Komentar orangtua :

Dalam pengamatan dan penilaian portofolio, guru bisa saja meminta peserta
didik untuk memberi komentar terhadap tulisan atau tugas yang dihasilkannya.
Guru biasanya menyediakan penilaian diri (self assessment) dan kuisioner yang
digunakan oleh peserta didik. Penilaian diri adalah penilaian yang digunakan
peserta didik untuk menilai evidence mereka. Peserta didik harus memiliki
kemampuan (skill), pengetahun (knowledge), dan keyakinan diri (confidence) untuk
mengevaluasi proses yang sedang mereka kerjakan (Surapranata & Hatta, 2006).
Dalam kegiatan penilaian, penilaian diri berguna untuk melihat keterlibatan
peserta didik sepenuhnya dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Skala rating (rating scale) pada contoh penilaian diri dapat digunakan untuk
mencatat partisipasi peserta didik dalam kelompok diskusi. Peserta didik mengisi
kuisioner dengan pernyataan, jaang sekali, jarang, dan selalu.
Contoh Penilaian diri

PENILAIAN DIRI (SELF ASSESSMENT)

 Nama : .
 Anggota Kelompok : .
.
 Kegiatan Kelompok : .

Untuk pertanyaan 1 sampai dengan 5 tulis masing-masing huruf sesuai


dengan pendapatmu.
o A = selalu
o B = jarang
o C = jarang sekali
o D = tidak pernah

1. Selama diskusi saya memberikan saran kepada kelompok untuk


didiskusikan.
2. Ketika kami berdiskusi, setiap anggota memberikan masukan
untuk didiskusikan.
3. Semua anggota kelompok harus melakukan sesuatu dalam kegiatan
kelompok.
4. Setiap anggota kelompok mengerjakan kegiatannya sendiri dalam
kegiatan kelompok .
5. Selama kegiatan kelompok saya.......
mendengarkan mengendalikan kelompok
bertanya mengganggu kelompok
merancang gagasan tidur
6. Selama kegiatan kelompok, tugas apa yang kamu lakukan ?
6. Pedoman Penerapan Penilaian Portofolio
a. Pedoman Penerapan
Dalam penerapan portofolio, beberapa hal berikut ini perlu
diperhatikan:
1. Menerapkan pembelajaran siswa
2. Memperjelas apa yang dikerjakan oleh siswa
3. Memisahkan dan membedakan dokumen komulatif siswa
4. Mengamati pekerjaan siswa yang tersirat dan tersurat dalam
kegiatan
5. Merasionalkan
b. Langkah-Langkah Kegiatan
 Memastikan bahwa siswa memiliki berkas portofolio
1. Menentukan bentuk dokumen atau hasil pekerjaan yang perlu
dikumpulkan
2. Siswa mengumpulkan dan menyimpan dokumen dari hasil
pekerjaannya
3. Menentukan kriteria penilaian yang digunakan
4. Mengharuskan siswa menilai hasil pekerjaannya sendiri secara
berkelanjutan
5. Menentukan waktu dan menyelenggarakan pertemuan portofolio
6. Melibatkan orang tua dalam proses penilaian portofolio
c. Bahan Penelitian
Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai bahan- penilaian
portofolio disekolah antara lain sebagai berikut:
1. penghargaan tertulis
2. penghargaan lisan
3. hasil kerja biasa clan hasil pelaksanaan tugas-tugas oleh
siswa
4. daftar ringkasan hasil pekerjaan
5. catatan sebagai peserta dalam suatu kerja, kelompok
6. contoh hasil pekerjaan
7. catatan/laporan dari pihak yang relevan
8. daftar kehadiran
9. hasil ujian/tes
10. presentase tugas, yang telah selesai dikerjakan
11. catatan tentang peringatan yang diberikan guru manakala
siswa melakukan kesalahan
Bahan-bahan tersebut dapat dipilih dan ditentukan yang dipandang
relevan. saja dan dapat pula dengan berbagai bahan lain apabila dipandang
relevan dan perlu. Untuk menentukan bahan apa saja yang perlu
dikumpulkan, ada dua pertanyaan pokok yang harus dijawab, yaitu:
 Bahan apa sajakah yang dapat memberikan informasi tentang
perkembangan yang dalam siswa?
 Bahan apa sajakah yang dapat memberikan informasi yang
bermanfaat dalam dalam pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan kurikulum dan pengajaran?
Guru diharapkan tidak menentukan secara sepihak dalam
menentukan bahan penilaian tersebut, tetapi dengan ikut melibatkan siswa,
dengan melalui proses diskusi. Melalui proses diskusi tersebut, perlu dicapai
kesepakatan bersama tentang bahan yang perlu dikumpulkan, cara
mengumpulkannya, dan kriteria penilaiannya. Hal ini penting supaya siswa
mempunyai kesempatan untuk menyatakan kesulitan atau masalah yang
mungkin mereka hadapi ketika mengumpulkan bahan-bahan tersebut.
Namun yang lebih penting dari itu, proses pengambilan keputusan dengan
diskusi semacam ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri
siswa untuk bekerja sesuai dengan yang diharapkan.
Selanjutnya perlu ditentukan juga bobot penilaian untuk masing-
masing bahan yang ditentukan perlu dikumpulkan, dan cara penilaiannya.
Hal ini pun perlu dikomunikasikan dan dimintakan tanggapan siswa.
d. Prinsip Penilaian
Dalam memberikan penilaian portofolio ada beberapa prinsip yang
perlu diperhatikan dan dijadikan sebagai pedoman dalam penggunaan
penilaian portofolio di sekolah antara lain :
1. Saling percaya (mutual trust) antara guru dan siswa

Dalam proses penilaian portofolio Guru dan siswa harus

memiliki rasa saling mempercayai. Mereka harus merasa sebagai

pihak-pihak yang saling memerlukan dan memiliki semangat untuk

saling membantu. Oleh karena itu, mereka harus saling terbuka dan

jujur satu sama lain. Dengan demikian, akan terwujud hubungan

yang wajar dan alami, yang memungkinkan proses pendidikan

berlangsung dengan baik.

2. Kerahasiaan bersama (confidentiality) antara guru dan siswa

Kerahasiaan hasil pengumpulan bahan dan hasil

penilaiannya perlu dijaga dengan baik, tidak disampaikan

kepada pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan. Pelanggaran

terhadap norma ini, selain menyangkut etika, juga dapat member

dampak negative kepada proses pendidikan anak siswa.

3. Milik bersama (joint ownership) antara siswa dan guru

Guru dan siswa perlu merasa memiliki bersama berkas

portofolio. Oleh karena itu, guru dan siswa perlu menyepakati

bersama di mana hasil karya yang telah dihasilkan siswa akan

disimpan, dan bahan-bahan baru yang akan dimasukkan. Dengan


demikian siswa akan merasa memiliki terhadap hasil kerja mereka,

dan akhirnya akan tumbuh rasa tanggung jawab pada diri mereka.

4. Kepuasan (satisfaction)

Hasil kerja potofolio seyogyanya berisi keterangan-

keterangan dan atau bukti-bukti yang memuaskan bagi guru dan

siswa. Portofolio hendaknya juga merupakan bukti prestasi

cemerlang siswa dan keberhasilan pembinaan guru.

5. Kesesuaian (relevance)

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang

berhubungan denga tujuan pembelajaran yang relevan dengan

tujuan pembelajaran dalam kurikulum.

6. Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses

belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan perilaku harian

siswa (anecdot) mengenai sikapnya dalam belajar, antusias tidaknya

dalam mengikuti pelajaran dan sebagainya. Aspek lain dari

penilaian portofolio adalah penilaian hail, yaitu menilai hasil akhir

suatu tugas yang diberikan oleh guru.

Untuk keberhasilan penilaian portofolio, ada sejumlah prinsip

yang harus dipegang teguh oleh guru, yaitu:

1. Akurasi data, artinya karya siswa yang dapat dijadikan


portofolio adalah kumpulan dokumen peserta didik pada
tahun pelajaran yang sedang berlangsung.
2. Ketepatan waktu, artinya karya anak dibuat berdasarkan
tahapan indicator yang harus dipelajari, jangan samapi
ditumpuk diakhir atau dikerjakan dalam satu waktu, tetapi
dipetakan dalam kurun semester.
3. Kelengkapan informasi, artinya evidence yang dikumpulkan
anak lengkap mulai dari apa yang dipelajari, apa yang
pernah dikerjakan, berikut lembar kerja dan hasil-hasil
pekerjaan yang dikerjakan.
4. Keterbacaan dokumen, artinya dokumen portofolio harus dalam
keadaan yang jelas terbaca, sehingga setiap saat diperlukan
dapat segera diperoleh informasinya.
5. Kepraktisan dokumen, artinya karya siswa yang beragam
bentuk harus disesuaikan dalam satu bendelan atau satu set
bendelan.
6. Perencanaan. Kemungkinan siswa dapat menghasilkan
banyak evidence maka guru harus merencanakan secara cermat,
kapan? Pada materi yang mana? Berapa banyak? Evidence
menjadi tagihan bagi anak.
7. Penataan dokumen. Untuk kepentingan penggunaan
dokumen, maka guru menata evidence apakah berdasarkan
kelompok evidence, atau berdasar waktu pengumpulan atau
kategori lainnya.
8. Pengadministrasian dokumen. Setiap karya yang mendukung
terhadap pencapaian kompetensi peserta didik harus dicatat
dalam buku harian anak atau buku catatan nilai anak.
e. Teknis Portofolio
1. Validitas Portofolio
Validitas dalam asesmen portofolio mengacu kepada bukti
yang tersedia untuk interpretasi asesmen dan konsekuensi potensial
dalam pemanfaatan asesmen (Klenowski, 2002). Semua asesmen
pada dasarnya berdasarkan sampling perilaku atau kinerja yang
digunakan untuk generalisasi ke ‘semesta perilaku’ (Nuttal, dalam
Klenowski, 2002). Sampling perilaku ini pada akhirnya bergantung
pada asesor/guru, sehingga hal ini menjadi titik kritis validitas
asesmen, termasuk asesmen portofolio. Dikaitkan dengan istilah-
istilah validitas yang umum, Nitko (dalam Klenowski, 2002)
menyatakan sebagai berikut:
a. Validitas isi di dalam portofolio antara lain ditunjukkan
apakah karya di dalam portofolio searah dengan tujuan
pembelajaran.
b. Validitas konstruk di dalam portofolio antara lain
ditunjukkan, apakah karya di dalam portofolio
mencerminkan keterampilan yang sesuai dengan konstruk
keterampilan. (Sebagai contoh, keterampilan pemecahan
masalah memiliki konstruk yang berbeda dengan
keterampilan komunikasi).
c. Validitas kriteria menunjukkan seberapa baik korelasi atau
prediksi pengukuran kriteria eksternal dengan fokus
asesmen.
Friedman et al. (2001) menyatakan bahwa kekuatan asesmen
portofolio adalah asesmen portofolio memiliki kekuatan validitas
prediktif, yakni menunjukkan kekuatan untuk memprediksi kinerja
atau profesionalitas selanjutnya.
2. Reliabilitas Portofolio
Esensi dari reliabilitas portofolio adalah apakah hasil
asesmen dari portofolio serupa masih sama jika dilakukan oleh dua
orang asesor? Garret et al. (2003), setelah menganalisis bahwa
berbagai penelitian yang ada masih memfokuskan pada bagaimana
menerapkan asesmen alternatif dan dampak asesmen alternatif,
merumuskan dasar metodologi untuk proses establishing dan
refining sistem penskoran asesmen alternatif untuk skala luas,
dengan memfokuskan pada reliabilitas asesmen portofolio.
Garret et al. (2003) merumuskan enam kriteria untuk
penskoran portofolio yang reliabel, yakni:
1) Penskoran harus terjadi pada kondisi yang sama.
2) Kriteria yang spesifik, dibuktikan oleh rubrik penskoran, harus
dipahami dan digunakan.
3) Contoh-contoh (eksemplar) harus tersedia untuk tiap tingkat skala
penskoran.
4) Pengecekan berkala untuk reliabilitas harus dilakukan.
5) Penilaian multipel harus digunakan dalam penskoran.
6) Pencatatan akurat dan evaluasi proses harus dilakukan untuk
memonitor hasil-hasilnya.
7) Berbagai pilihan statistik tersedia untuk melaporkan analisis hasil
reliabilitas, antara lain interrater agreement, kappa Cohen, dan
koefisien korelasi Pearson untuk reliabilitas (Garret et al., 2003).
Interrater agreement didefinisikan sebagai proporsi dari total
pasangan penilai, digunakan untuk pengukuran reliabilitas parsial.
Interrater agreement = number of actual pairwise agreement
number of potential agreement
Kappa Cohen, dilambangkan k, menggambarkan proporsi
agreement yang diamati yang lebih besar daripada sekedar
kemungkinan.
k = Proportion of Occurance – Proportion of Expected
= 1- Proportion of Expected
Harga k terentang antara -1,00 hingga 1,00. Jika k = 1,00, ini
menunjukkan adanya agreement yang sempurna antar penilai. Jika k =
0, ini menunjukkan tingkat agreement yang didapatkan oleh
kemungkinan/peluang. Harga k kurang dari nol menunjukkan tingkat
agreement yang lebih kecil dari sekedar kemungkinan. Interrater
agreement dan Kappa Cohen tidak dapat digunakan untuk skor yang
berupa rentangan. Koefisien korelasi Pearson dapat memberikan data
yang menggambarkan keseluruhan distribusi skor, serta memberikan
informasi untuk monitoring dan training penilai (Garret et al., 2003).

7. Hambatan Penilaian Portofolio


Ada beberapa hambatan dalam penilaian portofolio di sekolah.
Hambatan- hambatan tersebut dapat terjadi dalam kondisi-kondisi, antara
lain sebagai berikut:
a. Apabila guru memiliki kecenderungan untuk memperlihatkan
hanya pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi, berarti proses tidak
mendapat"' perhatian sewajarnya. Dengan demikian, siswapun akan
hanya berorientasi pada pencapaian akhir semata dengan
kecenderungan melakukan berbagai upaya dan strategi dan bahkan
mungkin dengan menghalalkan segala cara. Dengan demikian,
penggunaan penilaian portofolio dalam hal ini tidak dapat mengubah
sikap dan perilaku siswa, yang sebenarnya diharapkan dapat terjadi
dengan menjalani dan, mengalami proses pcmbelajarannya.
b. Apabila guru dari siswa terjebak dalam suasana hubungan ‘top-
down’. Jika kondisi ini terwujud, maka inisiatif dan kreativitas siswa
akan hilang. Pada akhirnya siswa hanya menjadi manusia penurun
dan mengikuti perintah. Suasana pembelajaran akan tidak bergairah.
Segala sesuatu yang berlangsung dalam kelas akan sangat
bergantung kepada guru. Pada akhirnya, pendidikan sekolah hanya
akan menghasilkan manusia-manusia pasif, yang tidak memiliki
inisiatif dan kreativitas
c. Penyediaan format yang digunakan secara lengkap dan detail, dapat
juga menjebak. Siswa akan terjerumus ke dalam suasana yang kaku
dan mematikan, yang pada akibatnya juga akan mematikan
kreativitas.
d. Menyita waktu dan memerlukan tempat penyimpanan berkas yang
memadai, bila jumlah siswa cukup besar.
Oleh karena itu, guru perlu mewaspadai beberapa hambatan
tersebut. Apabila kondisi ini dapat diwaspadai dan dihindari, maka
penggunaan penilaian portofolio akan bermanfaat sebagai salah satu upaya
urtuk meningkatkan mutu pendidikan, sebagaimana yang kita harapkan.

8. Keuntungan dan Manfaat Penilaian Portofolio


Beberapa keuntungan penilaian portofolio adalah:
7. Mampu merefleksikan perubahan penting dalam proses
kemampuan intelektual peserta didik dari waktu ke waktu;
8. Menunjukkan prestasi akademik dan memotret kompetensi peserta
didik;
9. Mampu memfokuskan pada kepentingan dan proses kemampuan
belajar-mengajar serta menginformasikan pengajaran praktis
tentang kelebihan dan kekurangan peserta didik.
Adapun manfaat penilaian portofolio adalah:
a. Portofolio menyajikan atau memberikan:“bukti” yang lebih jelas
atau lebih lengkap tentang kinerja siswa daripada hasil tes di kelas.
b. Portofolio dapat merupakan catatan penilaian yang sesuai dengan
program pembelajaran yang baik.
c. Portofolio merupakan catatan jangka panjang tentang kemajuan
siswa.
d. Portofolio memberikan gambaran tentang kemampuan siswa.
e. Penggunaan portofolio penilaian memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menunjukkan keunggulan dirinya, bukan kekurangan
atau kesalahannya dalam mengerjakan soal atau tugas.
f. Penggunaan portofolio penilaian mencerminkan pengakuan atas
bervariasinya gaya belajar siswa.
g. Portofolio memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan
aktif dalam penilaian hasil belajar
h. Portofolio membantu guru dalam menilai kemajuan siswa
i. Portofolio membantu guru dalam mengambil keputusan tentang
pembelajaran atau perbaikan pembelajaran
j. Portofolio merupakan bahan yang relatif lengkap untuk berdiskusi
dengan orang tua siswa, tentang perkembangan siswa yang
bersangkutan.
k. Portofolio membantu pihak luar untuk menilai program
pembelajaran yang bersangkutan
Selain itu adapun keunggulan penilaian portofolio dibandingkan dengan
model penilaian lainnya. Keunggulan penilaian portofolio antara lain adalah:
a. Perubahan paradigma penilaian. Penilaian portofolio memberikan
pengertian yang lebih bermakna tentang perubahan perilaku peserta
didik.
b. Akuntabilitas. Portofolio dapat dijadikan sebagai salah satu perwujudan
penilaian yang bertanggung jawab kepada konstituen (peserta didik,
orang tua, sekolah, dan masyarakat).
c. Peserta didik sebagai individu dan peran aktif peserta didik. Ini adalah
ciri khas penilaian portofolio, dimana guru dapat menilai siswa sebagai
individud engan sejuta keunikan.
d. Identifikasi. Menolong guru untuk mendokumentasikan kebutuhan dan
asset komunitas yang berminat.
e. Keterlibatan orang tua dan masyarakat. Melibatkan banyak pihak,
termasuk orang tua dan masyarakat dalam prosesnya.
f. Penilaian diri. Memungkinkan bagi peserta didik melalukan penilaian diri
sendiri, refleksi, dan pemikiran yang kritis.
g. Penilaian yang fleksibel. Akan sangat bergantung pada indikator
pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan.
h. Tanggungjawab bersama. Memungkinkan guru dan peserta didik secara
bersama-sama bertanggungjawab untuk merancang proses pembelajaran
dan mengevaluasi kemauan sesuai dengan kompetensi yang harus
dikuasai.
i. Keadilan. Dengan “sejuta keunikan”, portofolio merupakan alat penilaian
yang adil.
j. Ada kriteria penilaian. Hasil pekerjaan peserta didik akan dinilai semata-
mata berdasarkan kriteria yang relevan dengan penampilan mereka.

KESIMPULAN
1. Portofolio adalah kumpulan hasil karya seorang siswa, sebagai hasil pelaksanaan
tugas kinerja, yang ditentukan oleh guru atau oleh siswa bersama guru, sebagai
bagian dari uasaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang
ditentukan dalam kurikulum.
2. Uraian di atas mencoba mengaitkan bahwa untuk menjadi guru professional, maka
seorang guru harus menguasai penilaian portofolio sebagai bagian dari
kompetensi pedagogik seorang guru.

DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Sudrajat. 2008.
http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2008/08/pedoman-
pengembangan-portofolio.pdf
Dasim Budimansyah. (2002). Model pembelajaran dan penilaian berbasis
portofolio. Bandung: Genesindo.
Eko putro Widoyoko. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Surapranata, S., & Hatta,M. 2006. Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum
2004. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
TAMBAHAN LEEEE, SEMOGA BERMANFAAT ^^
A. Penilaian Autentik
Kata “autentik” berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu
autarkos yang berarti berasal dari diri. Berpijak pada pemikiran autensitas
dalam pendidikan, penilaian autentik memperhatikan hubungan
bahan/materi pembelajaran yang dipelajari siswa dan kehidupan sehari-hari.
Jadi, pennilaian autentik berfokus pada apa yang dipelajari siswa. Oosterhof
(2003) mengemukakan bahwa penilaian autentik merupakan penilaian
kinerja, tetapi tidak semua penilaian kinerja merupakan penilaian autentik.
Mengapa penilaian kinerja sering pula disebut penilaian autentik?
Janesick (2001) mengemukakan bahwa penilaian kerja disebut sebagai
penilaian autentik jika :
1. Sifatnya realistis.
Artinya, tugas kinerja yang dilakukan siswa harus sesuai dengan
kemampuan siswa dalam konteks kehidupan sehari-hari atau
mendekati konteks realistis.
2. Menggunkan suatu judgment dan inovasi.
Siswa mendemonstrasikan penguasaan pengetahuan dan
keterampilan untuk memecahkan masalah yang terkait dengan
tugas kinerja. Inovasi tersebut ditunjukkan dengan kemampuan
siswa memecahkan masalah dalam tugas kinerja.
3. Siswa sebagai subjek.
Siswa melakukan sendiri sebagai pembelajar aktif, sementara
guru merupakan fasilitator pembelajaran.
4. Menyimulasikan hal-hal yang dialami siswa sendiri dalam
kehidupan sehari-hari sebagai individu maupun sebagai warga
masyrakat.
5. Menilai kemampuan siswa secara efektif dan efisien dalam
menggunakan beragam keterampilan untuk menyelesaikan ugas
kinerja.
6. Membuka kesempatan siswa berlatih, berkonsultasi,
memperoleh umpan balik, memperbaiki kinerja belajar, dan
menghasilkan produk belajar.
Dengan demikian, siswa harus belajar sesuatu dan melakukan
tugaas dengan lebih baik lagi.

Penilaian autentik dikembangkan berdasarkan desain instruksional,


kompetensi, dan indikator pembelajaran. Penilaian autentik memberikan
penekanan yang lbh besar kepada kemampuan siswa melakuakan
pemecahan masalah, berpikir kritis, pemahaman, penalaran dan meta-
kognitif, refeleksi diri, dan keterampilan (Lungo-Orlando, 2003). Produk
akhir dari penilaian ini sebagai hasil belajar siswa meliputi portofolio,
pameran, pertunjukkan, penelitian, eksperimen, presentasi, dan berbagai
bentuk lain yang membuka peluang bagi siswa menyajikan beragam
pemecahan masalah.

Berkaitan dengan penilaian kinerja, Lungo-Orlando (2003)


menjelaskan bahwa penilaian hasil kinerja merupakan metode autentik
dalam penilaian belajar siswa dimana siswa menerapkan pengeahuan dan
keterampilan melalui demonstrasi praktis atau produk kreatif yang
menggambarkan hasil pembelajaran. Dalam hal ini, guru memberikan tugas
kinerja berdasarkan dunia nyata atau kontteks realistis yang mengharuskan
siswa menyintesiskan dan mengaplikasikan konsep, strategi, dan kebiasaan
belajar yang dikembangkan melalui aktivitas pembelajaran di kelas maupun
di luar kelas. Pada saat melakukan tugas kinerja, siswa diharapkan
melakukan kegiatan, melakukan respons, atau menciptakan produk (hasil)
belajar yang menampilkan penguasaan kompetensi mereka (Lungo-
Orlando,2003).

B. Penilaian Alternatif
Penilaian kinerja disebut penilaian alternatif. Pemakaian istilah
“alternatif” karena penilaian kinerja adalah alternatif lain dari penilaian
tradisional (tes objektif dan tes subjektif). Meskipun demikian, penilaian
kinerja mempunyai sifat komplementer dengan penilaian tradisional.
Penilaian kinerja termasuk salah satu jenis tes (Russel and
Airasian,2011). Seperi yang dikemukakan didepan,tes merupakan prosedur
formal atau sistematik yang digunakan guru untuk mengumpulkan atau
memperoleh informasi hasil belajar, perilaku, atau keterampilan siswa.
Berdasarkan hal tersebut, penilaian kinerja juga merupakan pengujian
(testing) seperti jenis tes lainnya (Russel and Airasian,2011).

C. Penilaian Proyek
Salah satu bentuk penilaian kinerja yaitu dalam bentuk proyek.
Penilaian proyek merupakan penilaian yang diberikan kepada siswa untuk
tugas yang harus diselesaikan selama kurun waktu tertentu, misalnya
seminggu, sebulan, atau selama satu semester. Siswa melakukan aktivitas
pembelajaran yang berupa mengumpulka, mengorganisasikan,
mengevaluasi, dan menyajikan bahan, data atau informasi tertentu. Masalah
yang menjadi proyek tidak hanya satu topik pembelajaran tertentu, atau satu
mata pelajaran saja, melainkan bersifat kompleks, meliputi beragam topik
pembelajaran atau seluruh mata pelajaran yang terkait dengan masalah yang
diajukan atau menjadi proyek atau dua atau lebih kompetensi dasar yang
dituntut. Misalnya, penilaian proyek untuk siswa SMP kelas X pada topik
pembelajaran tentang pengukuran guru menyusun tugas proyek sebagai
berikut :
Tugas proyek :
 Bentuklah kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa.
 Lakukan pengamatan pada jam-jam tertentu selama seminggu
(Senin hingga Sabtu)
 Pada saat melakukan pengamatan, ukurlah suhu cuaca
menggunakan termometer dan catatlah jenis awan yang terjadi pada
saat melakukan pengamatan.
 Data suhu dicatat dan disajikan dalam bentuk grafik garis.
 Jennis awan yang terjadi pada saat pengamatan dicatat dalam tabel.
DAFTAR PUSTAKA

Endrayanto, H.Y.S., & Harumurti, Y. W. 2014. Penilaian Belajar Siswa di Sekolah.


Yogyakarta : PT KANISIUS