Anda di halaman 1dari 36

C ATATA N K E B U D AYA A N

2 Pulang
Muhammad Akhyar

PUISI
Indra Eka Widya Jaya
5 Dongeng Malam
6 Antara Wanara, Kerbau dan Buaya

Laila Rahma
7 Malin Kundang Mencari Ibu
8 Putri Salju Mencari Cermin Ajaib

Hikmatul Laili
9 Earth’s Diary

Iradati Rabbul Izzati


10 Derai Kelabu

OPINI
11 Alien
Ada ironi dalam dongeng. Di satu sisi Taufik Akbar
dongeng disampaikan kepada anak-anak sebagai
ikhtiar mengenalkan bahwa yang mungkin itu C E R I TA P E N D E K
ada. Namun, seiring berjalannya waktu, himpunan 13 Li Si Kecoa
semesta bernama mungkin tadi semakin mengecil. Kawako Tami

Racun itu bernama realistis. Akibatnya, seiring 19 Mentalité


bertambahnya usia, dongeng tak lagi dipandang Alfi Syahriyani

sebagai ruang mungkin, tetapi kamar bual. Untuk 21 Miguel Dorado


inilah sastra lahir, agar kata mungkin terus ada, Tegar Hamzah Asadullah

selamanya. 25 Darragh Si Leprechaun


Roswitha Muntiyarso

KRITIK
28 Cinderella dalam Cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari”
Karya Intan Paramaditha
Jenni Anggita

RESENSI
30 Kisah Klasik Untuk Masa Kini
Johan Rio Pamungkas

PANTAU
33 SAS
Johan Rio Pamungkas

HER VOICE
35 Metaphor and Social Critique
Alfi Syahriyani

Koordinator Komunitas: Muhammad Akhyar


Pemimpin Redaksi: Johan Rio Pamungkas adalah salah satu produk dari
Editor: Johan Rio Pamungkas, Fina Febriani,
Nila Rahma, Tery Marlita
Penata Letak: Indra Eka Widya Jaya Komunitas Langit Sastra
Pemasaran: Al�i Syahriyani email: katajiwa.langitsastra@gmail.com
Tahun III, no.7/2013, April 2013 twitter: @langitsastra
majalah-katajiwa.tumblr.com
C atatan K ebudayaan
P ada awalnya manusia adalah
bagian yang tak terpisahkan dari
alam. Hidup di alam. Bergantung pada alam.
Hingga sampailah masa ketika manusia mencapai
tahap kesadaran diri, ia insaf, ia berbeda dari alam.
Ia bukan lagi bagian dari alam. Ia tercerabut dari

Pulang
sesuatu yang sebelumnya menjadi rumahnya.
Sayangnya, ketika kesadaran ini muncul manusia
malah merasa sepi, terisolasi, dan kehilangan
rumah. Singkatnya, anugerah bernama kesadaran
diri, imajinasi, dan akal harus dibarengi kenyataan
pahit berupa hilangnya insting bertahan hidup yang
sebelumnya pernah ada. Erick Fromm menyebut
fenomena ini sebagai dilema kemanusiaan.
Sejalan dengan ini, Fromm juga melihat
bahwa secara historis, semakin seseorang
mendapat lebih banyak kebebasan entahkah itu di
bidang ekonomi atau politik, semakin meningkat
Muhammad Akhyar
pula perasaan terisolasi pada dirinya. Hal ini
terjadi karena dengan kebebasan yang bertambah
artinya semakin besar pula tanggung jawab yang
diembannya. Jika sebelum kebebasan itu hadir, ia
hanya perlu menyerahkan apapun kepada pihak
yang memiliki otoritas, namun ketika otoritas ini
sudah tiada, ia tak lagi memiliki tempat bersandar.
Inilah kecemasan dasar dari kemanusiaan yaitu
harus menanggung konsekuensi dari kebebasan itu
sendirian. Ia kesepian dalam kebebasannya itu.
Selanjutnya, tentu saja kita bisa
melanjutkan asumsi yang dikemukakan Fromm
tadi dengan satu pertanyaan pelik, bisakah manusia
bertahan dengan perasaan kesepian seperti itu?
Hal ini layak dipikirkan karena menurut Fuad
Hassan ketika manusia “mengada sebagai pribadi”
(being person), tidak dapat tidak, berarti “mengada
bersama pribadi yang lain” (being-with-other-
person). Artinya, jika seseorang merasa sendiri,
terisolasi dari yang lain, ia akan mengalami
keretakan dalam proses kemenjadiannya. Dengan

2 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C atatan K ebudayaan
kata lain, ia tak akan pernah mencapai hakikat kemanusiaannya.
Keterisolasian manusia yang satu dengan manusia lainnya begitu mudah kita lihat dewasa ini,
khususnya di wilayah urban. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kota saat ini adalah pusat kegiatan
perekonomian dengan janji kesejahteraan ekonomi yang tinggi kepada para penghuninya. Tak sekadar itu,
karena manusia kota adalah manusia yang hidup dalam kepadatan yang tinggi, heterogenitas yang beragam,
kebebasan berpendapat adalah hal yang wajar kita saksikan. Namun, sebagaimana yang telah dijelaskan
di atas, di sinilah dimulainya fenomena keterisolasian, kesepian tadi, di antara serpih bernama kebebasan
finansial, di antara janji bernama kebebasan politik.
Kita mungkin berpikir menyatakan manusia kota sebagai manusia yang sepanjang waktu
merasa kesepian adalah hal yang aneh. Jelas, secara kasat mata kota adalah tempat berkerumunnya manusia.
Sejauh mata memandang kita akan melihat manusia di mana-mana. Hanya saja jika kita melihat lebih
dekat, lebih hati-hati, kita akan melihat hal yang menarik, yang membenarkan asumsi ini. Coba perhatikan
betapa manusia kota tidak pernah betah berada di rumah. Perasaan sepi yang senantiasa menghantuinya
memaksanya untuk terus-menerus berada di luar rumah. Mereka selalu butuh berada dalam keramaian untuk
menghalau rasa sepi itu.
Perilaku seperti ini pada akhirnya membuat rumah dengan segala pengertian tradisional yang
melekat padanya, menjadi tidak relevan lagi. Rumah telah direduksi menjadi sekadar kamar tidur dan kamar
mandi. Karena memang hanya tidur dan mandi yang harus dilakukan di rumah, selainnya bisa dilakukan
di luar rumah. Tak sekadar bisa, merujuk pada kebutuhan menghilangkan rasa sepi tadi, kegiatan yang bisa
dilakukan di luar harus dilakukan di luar, di keramaian. Kegiatan-kegiatan di dalam rumah sebisa mungkin
harus dipersingkat, sekadarnya saja. Selanjutnya, kita mulai mengurangi ruang-ruang yang tidak lagi
penting. Siapa lagi yang butuh ruang tamu. Siapa pula yang hendak bertamu. Siapa pula yang butuh ruang
keluarga. Semuanya sudah meninggalkan rumah sebelum matahari terbit dan kembali setelah gelap sudah
tiba. Kemudian siapa pula yang butuh dapur hari ini. Jika semuanya bisa dipesan-antarkan.
Selanjutnya, kita pun akan melihat orang-orang kota lebih banyak di dua tempat: jalan dan mall.
Mereka pikir dua tempat inilah muara pengusir rasa sepi. Walaupun begitu, mereka secara tidak sadar tetap
membawa rumah di ruang penuh manusia itu. Coba kita lihat di jalan dan mall betapa banyak aksesoris-
aksesoris berbau rumah dalam bertebaran di sana. Mungkin saja ini terjadi untuk memunculkan rasa bahwa
mereka bagaimanapun masih berada di rumah. Rumah yang begitu besar, rumah yang bisa membebaskan
dari rasa sepi.
Lihat saja foto-foto manusia yang bertebaran di pinggir jalan, dipaku di pohon-pohon peneduh jalan.
Hal ini membuat suasana pinggir jalan yang penuh foto tadi seperti dinding rumah yang biasanya juga
terdapat foto. Lihat pula konsep tempat makan yang mempersilahkan pengunjungnya untuk membeli ikan
segar kemudian bisa langsung dimasak di restoran itu. Selain itu ada pula tempat makan yang menawarkan
bahan makanan mentah, berupa daging atau ikan yang sudah dipotong potong untuk kemudian bisa dimasak
sendiri oleh pelanggan mereka. Lihat betapa ini sebenarnya dulu dilakukan di rumah masing-masing, di
ruangan bernama dapur. Kemudian orang-orang kota mulai memperlakukan bioskop seolah menjadi ruang
keluarga mereka. Sementara untuk mendapatkan sensasi ruang tamu, orang kota memiliki tempat yang

Tahun III, no.7/2013, April 2013 3


C atatan K ebudayaan
bernama café jika ingin bertemu dengan seseorang atau berbincang-bincang tentang sesuatu.
Kita bisa menangkap ini sebagai sebuah kerinduan. Kerinduan pada sesuatu yang dulu ada, namun
kini tiada. Lalu dengan dukungan finansial, mereka mencoba untuk menghadirkan yang dirindukan itu
kembali. Dan di sinilah tragedi materialisme menjadi bersemi. Seolah-olah dengan uang segala kerinduan
tersebut akan terbayar lunas, impas. Akhinya, segala bentuk kerinduan yang ihwalnya bersifat spiritual
menjadi tak lebih sebatas material.
Jika di agama diajarkan untuk mengingat mati adalah hal yang terpuji. Bahkan kaum sufi
mengajarkan untuk membeli kain kafan dan diletakkan di kamar tidur sebagai simbol bahwa kematian itu
sungguh dekat. Hal ini diterjemahkan orang-orang kota dengan membeli tanah untuk tempat kuburannya
sesegera mungkin. Bukan untuk mengingat bahwa kematian itu dekat, tetapi ini dilakukan karena betapa
terbatasnya tanah yang tersedia. Jika tak buru-buru, harga tanah akan semakin mahal. Lebih gila lagi, bisa
jadi nanti ketika mati sudah tidak ada lagi tanah kuburan yang tersedia. Munculnya cara berpikir seperti
ini menciptakan bisnis baru, perkuburan elit. Dan orang-orang berduit berlomba-lomba untuk membeli
area yang disediakan sebagai rumah masa depan anggota keluarganya. Lagi-lagi ini bukan tentang betapa
religiusnya mereka, betapa mereka mempersiapkan diri bertemu dengan Tuhan, ini tentang rasa prestise.
Bahwa mereka akan dikuburkan di tempat elit, di kuburan bermerk.
Belum lagi jika kita perhatikan semakin marak ceramah-ceramah agama yang ujung-ujungnya
memotivasi pendengarnya untuk bersegera kaya. Bahwa kaya akan lebih dekat dengan bahagia karena akan
lebih mudah membantu sesama. Lalu ritual-ritual agama mulai dihubung-hubungkan dengan ikhtiar agar
semakin kaya. Ada dengan menggunakan metode sedekah. Ada dengan menggunakan ritual shalat dhuha.
Kita tak lagi mendengarkan agama yang mengisi lubuk jiwa, tetapi bagaimana agama menjawab kebutuhan
bernama uang.
Jika kita tarik lebih jauh, kerinduan-kerinduan tadi sebenarnya mengacu pada kerinduang untuk
kembali ke rumah. Lebih lanjut kerinduan untuk kembali ke rumah ini adalah representasi dari kerinduan
pada kampung halaman. Lebih jauh kerinduan pada kampung halaman ini bermuara kerinduan kepada alam
sebagaimana yang dikatakan Fromm. Lihat saja, jika di kampung, kita masih sering melihat orang-orang
masih saling menyapa tetangganya, orang-orang kota pun melakukan itu. hanya saja tetangganya bukan lagi
orang-orang di area yang sama tetapi yang berhobi sama. Mereka bertegur sapa setiap pagi lewat twitter.
Bertegus sapa dengan tetangga sebelah rumah, hanya relevan ketika banjir tiba, jika tidak ramah hanya akan
diartikan sebagai sikap ingin masuk ke wilayah privat orang lain. Dari sini, lahirlah komunitas-komunitas
yang bukan seperti di kampung, karena kedekatan wilayah, tetapi karena kedekatan passion. Muncullah,
Indonesia Berkebun, bike to work, komunitas nebengers, dan lain-lain.
Saya menduga hal-hal ini dilakukan karena sumber kebahagiaan itu adalah kegiatan untuk pulang.
Pulang ke rumah. Pulang ke kampung. Pulang ke alam. Jika Aristoteles menengarai bahwa ilmu adalah
ikhtiar untuk mendapatkan kebahagiaan, saya curiga jangan-jangan studi tentang urban, adalah ikhtiar untuk
menciptakan suasana berpura-pura dalam perjalanan pulang ke rumah, kampung atau alam, di titik bernama
kota. Lalu, kita sampai pada titik adakah ikhtiar ini sudah bisa menjembatani keretakan proses kemenjadian
manusia. Saya kira belum. Menurut anda?

4 Tahun III, no.7/2013, April 2013


P uisi
Indra Eka Widya Jaya

Dongeng Ibuku
1980
selalu berceritera tentang dongeng sebelum aku tidur
Karena ibuku tahu imajiku akan terbang jauh
Menembus bilik kamar ini, suwungan atap dan membumbung jauh

Malam
Dari tempat ini,
Keramat Tunggak
Aku harap

Ibuku selalu berceritera tentang dongeng lewat jam dua malam


Karena ibuku tahu aku belum tidur jam segitu
Menembus dari pintu, dengan make-up meluntur, dan bau rokok
Dari kamar ini,
Keramat Tunggak
Aku senang

Ibuku selalu berceritera tentang monyet yang jadi gembong porkas


dengan musuhnya
Karena ibuku tahu dia akan tertangkap malam ini
Menembus dari imajinasiku aku akan bertanya kapan akhirnya
Dari hotel mewah, ke penjara
Keramat Tunggak
Aku Meminta

Ibuku selalu berceritera tentang kancil yang hobi mencuri di ladang


ganja
Karena ibuku tahu aku suka ganja
Menembus kelambu dan suwungan asap yang kuhembuskan
Dari bilik ini
Keramat Tunggak
Aku Hembuskan

Ibuku selalu berceritera tentang sita yang berselingkuh dan bercinta


dengan rahwana
Karena ibuku tahu aku suka, dan ketika itu diusapkan tangannya dibalik
celanaku
Menembus gedhek dan ngiang di dalam seprei
Dari bilik ini
Keramat tunggak
Aku....

Tanjung Priok
Berpuluh tahun setelahnya

Tahun III, no.7/2013, April 2013 5


P uisi

Indra Eka Widya Jaya

Antara Wanara, Kerbau dan Buaya


Ei selamatkan sedikit
Dari batang yang himpit
Perutku sudah lama berderit
Ei ada buaya
Kau diam dan menangis sahaja
Tak bisa kulihat dirimu merana
Bantu aku kerbau
Agar aku bisa hirup bebas tanpa sengau
Aih, angkatkan padaku batang enau
Biar kutanduk dan singkirkan itu
Agar kau bisa pergi ke hulu
Jangan sungkan padaku
Ei jasamu begitu kerbau
Namun lama aku tak mengayau
Aih naik aku pada dikau
Mengapa kau hendak memakan
Diriku yang tak sungkan
Membantumu ketika kau sedu sedan

Mengapa buaya di atas kerbau


Bukankah dia harusnya di segara payau
Hei mari kemari sejenak
Wanara ingin tahu pada sanak
Apa yang dilakukan hingga begini
Sungguh aku masih bingung jadi

.......

Aih, aku tak paham yang terjadi


Mari kita ulangi lagi
Biar paham diriku ini
Buaya biar rebah kembali
Dan rendah ditindih
Nah, kutinggalkan kau disitu dan jangan meminta juga merintih

6 Tahun III, no.7/2013, April 2013


P uisi

Laila Rahma

Malin Kundang Mencari Ibu

Sudah kukatakan,
aku ini bukan ibumu, Malin.
Aku memang memiliki anak,
tapi ia sudah mati.
Kata orang, ia menjadi batu.
Jadi, jangan sekali-kali memaksaku
untuk mengakuimu sebagai anak.

Sudahlah,
jangan kau dengarkan kata orang!
Kau harus hadapi orang-orang itu.
Katakan pada mereka bahwa
aku bukan ibumu dan
ceritakanlah siapa kau sebenarnya!
Kalau kau tidak bicara,
selamanya kita akan dijadikan dongeng
oleh mereka.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 7


P uisi

Laila Rahma

Putri Salju Mencari Cermin Ajaib

Sudah kukatakan,
aku tak punya cermin itu, Putri.
Kau harus percaya.
Bukankah seisi kamarku telah kau geledah
dan kau tetap tak menemukan apa-apa?
Aku ini bukan orang jahat, Putri.
Aku orang baik-baik.
Kau harus tahu itu.
Kalau tidak, mana mungkin
ayahmu jatuh cinta kepadaku
dan mau menikahiku.
Kau takut aku mempunyai cermin ajaib lalu aku membuangmu ke hutan hanya karena aku iri ketika
cerminku berkata bahwa kau gadis tercantik di dunia ini.
Kau takut aku meracunimu dengan sisir beracun dan apel beracun. Kau takut akan mati di tanganku.
Ketakutan-ketakutanmu itu
sangatlah tidak beralasan, Putri.
Aku tidak punya cermin
dan aku sadar wajahku biasa-biasa saja.
Aku menyayangimu
sama seperti aku mencintai ayahmu.
Jadi apa yang kau takutkan, Putri?
Jangan kau dengarkan apa kata orang!
Kau harus berani jelaskan
bahwa tak semua ibu tiri itu jahat.
Ceritakan yang sebenarnya!
Kalau tidak,
selamanya kita hanya akan dijadikan dongeng oleh mereka.

8 Tahun III, no.7/2013, April 2013


P uisi

Hikmatul Laili

Earth’s Diary

Dia bersedih kau diam, dia menangis kau diam

hanya melihat dan menghapus air matanya saja


dia marah...
meraung-raung
meledakkan sebagian emosinya yang tertahan

namun hanya sebagian dari kawanmu saja yang bergerak

hanya mampu membersihkan sebagian yang terserak

dan selanjutnya berlagak seperti tak terjadi apa-apa


tak pernahkah kau bertanya

apa sebenarnya yang terjadi

tak inginkah kau tahu,

mengapa dia sampai manangis

apa kalian menunggu,,,

sampai kemarahannya mencapai puncak


dan meledakkan semua beban yang terpendam
dan semakin menumpuk
lalu kalian takkan lagi bisa
berbuat apa-apa.
hanya penyesalan yg tak kunjung REDA

Tahun III, no.7/2013, April 2013 9


P uisi

Iradati Rabbul Izzati

Derai Kelabu

Saat itu kau datang padaku


Membawa secangkir madu
Juga sebait puisi rindu

Kau bentangkan peta-peta kehidupan


Dalam bingkai harapan
Masa depan

Begitu indah
Hingga mawar pun merekah
Membiru langit cerah

Aku membaca puisi yang kau ramu


Lalu seketika bibirku kelu
Kau tahu?

: Kau hanyalah pangeran di negeri dongeng

~Hujan di hati November, 23 November 2012

10 Tahun III, no.7/2013, April 2013


O pini

Alien
S aya sedang tersesat di planet bumi. Bumi yang
begitu asing dengan manusianya yang begitu
asing pula. Dan sungguh celaka, manusia menamai saya alien.
Alien yang berkepala besar, bertubuh ramping kecil dan berjari
tiga. Sungguh imajinasi yang luar biasa.

Tau�ik Akbar Potret tubuh saya tidak seperti itu, secara teknis tubuh
saya seperti kebanyakan manusia-manusia yang lain. Berkepala
satu, bertangan dua, berjari 5 pasang, berjalan tegak. Hanya saja
imajinasi itu tercipta disebabkan saya enggan menampakkan
diri karena saya membenci manusia. Saya menjauhi manusia.
Tak ingin berhubungan dengan manusia. Tidak. Sama sekali
tidak.

Manusia adalah makhluk yang mengerikan.

Pada level individual manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Segala urusan dikangkangi asal
itu berfaedah ya tentu saja untuk dirinya sendiri.

Pada level keluarga manusia senang sekali memperlakukan orang lain seperti apa yang dikehendakinya.
Ayah mengganggap Ibu sebagai babu profesional yang bekerja tanpa bayaran 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam
seminggu. Ibu mengganggap ayah adalah mesin uang yang pergi pagi pulang malam. Anak mengganggap ayah
dan ibu mereka adalah inang yang bisa diparasiti, dihisab habis sari pati hidupnya. Ayah Ibu mengasetkan
anak untuk mengangkat status sosialnya.

Pada level masyarakat:


Lembaga pendidikan. Guru adalah agen cuci otak yang menguras habis kapasitas intelenjensia muridnya
lalu mengisinya dengan jika A benar maka A adalah benar, jika B salah maka B adalah salah. Mengapa A
benar dan mengapa B salah? Tak ada yang tahu karena menteri pendidikan memfatwakan seperti itu. Dan
siswa lebih senang membolos, menonton film senggama, menenggak tembakau di toilet ataupun kantin, baku
hantam dengan siswa sekolah lain lalu memperolok kelakuan guru-guru mereka.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 11


O pini
Rukun tetangga. Tetangga satu tak pernah tahu siapa tetangga di sebelahnya. Tetangga satunya lagi
mengutuk kelakukan tetangganya. Bergunjing sepanjang waktu. Saya hanya menunggu waktu ada pertumbahan
darah dalam relasi seperti ini. Dan koran kuning nanti akan memasang berita besar-besar dengan judul yang
provokatif: A MENGHABISI NYAWA TETANGGANYA Z KARENA KESAL SERING DIGOSIPI PUNYA
KEMALUAN YANG KECIL.
Pada level negara:
Kepala negara setiap hari mengucapkan pidato kepresidenan perihal bencana sosial, budaya, ekonomi,
dan politik. Ia berkeringat dingin, matanya celingak-celinguk melihat teks pidato, tak tahu benar apa yang ia
sedang baca. Rakyat tertawa terbahak-bahak menatap layar televisi. Dungu. Ujar mereka.
Anggota dewan tidur saat rapat, membuang-buang anggaran negara saat plesir, berdebat panjang
tentang omong kosong, membela diri: kita sedang memperbaiki kinerja karena itu anggaran untuk perawatan
otak ditambah agar kami tetap waras. Pandir. Teriak kesal rakyat.
Hakim pun tak kalah menggilanya. Ada duit habis semua perkara. Rakyat tak pernah tahu maka mereka
cuma mendengkur saja.

Rakyat. Apa yang mereka lakukan? Membunuh saudaranya yang berbeda keyakinan. Saling memaki
di tengah jalanan yang macet. Membuang sampah di sungai, membabat hutan, lalu mengutuk saat hujan
datang. Berebut sembako. Saling injak. Saling desak-desakan. Di kereta. Di Bis. Di jalan. Di bursa kerja. Di
liang lahat. Kepala negara, anggota dewan, dan hakim dengan kompak lagi serasi berujar dengan simpatik,
“Saya prihatin.”
Pada level dunia:
Perang! Perang! Perang!
Perang ekonomi. Perang budaya. Perang senjata.
Jeda! Jeda! Jeda!
Genjatan ekonomi. Gencatan budaya. Gencatan senjata.
Nuklir! Nuklir! Nuklir!
Di adu nuklir. Dunia pun berakhir.
(Saya kira ini jadi lirik yang asik jika dinyanyikan H.Rhoma Irama)

Lihatkan. Tak sudi saya bergaul dengan jenis makhluk seperti ini. Itulah manusia.
Untuk itu saya menulis catatan kecil ini agar manusia-manusia durjana itu mengerti nama saya bukan
alien. Nama saya sebetulnya adalah nasi. Saya sedang tersesat di planet bumi. Bumi yang begitu asing dengan
manusianya yang begitu asing pula. Dan sungguh jahaman, manusia menamai saya alien. Walau sebenarnya
nama saya nasi. Alienasi.

12 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen

K eramaian itu sudah melegenda di antara para


penghuni pemukiman kumuh. Dari satu
pemukiman liar di sudut ibukota, ke lingkungan kumuh
di sudut lainnya. Tak banyak hiburan bagi rakyat kelas
bawah, tak banyak yang bisa dinikmati oleh beragam
usia. Mereka memanggilnya Bu Li. Seorang pendongeng
keliling, yang muncul setiap bulan bersinar di langit
Kawako Tami
ibukota. Beliaulah yang menyajikan sebuah hiburan
tambahan yang langka bagi para pemulung, pengemis,
anak-anak jalanan, dan mereka yang cuma bisa berkhayal
untuk sebuah tiket dongeng yang ditayangkan di layar
lebar. Bu Li, menghadirkan tradisi kuno bangsa ini,

Li dongeng. Ketinggalan zaman? Sepertinya tak ada yang


peduli. Karena mungkin dongeng sejak dulu adalah
makanan bagi para papa, pun juga putra-putri di istana para

Si Kecca
raja. Tapi kisah Bu Li, bukanlah dongeng biasa. Kisahnya
tak pernah dituturkan dinegeri manapun. Hanya kisah dari
mulutnya yang bersikeras disebutnya, nyata. “Ini bukan
dongeng! Ini adalah kejadian nyata!” Bentaknya pada
suatu malam pertunjukan ketika ada seorang pengemis
yang mengejeknya menebar omong kosong. Ada yang
percaya, ada yang tidak. Namun percaya atau tidak,
panggungnya tak pernah sepi, tak terkecuali malam ini.
Panggungnya yang melegenda, kali ini di bantaran kali,
dekat dengan rel kereta.
“Kulihat sekarang kehidupan kalian sudah banyak
yang berubah. Hmm tapi semakin banyak saja yang berkumpul di sini. Apa tidak bosan jadi orang susah?” Bu
Li melihat para penontonnya malam ini. Jangan mengira dia adalah wanita tua! Tubuhnya mungkin gemuk dan
pendek, pakaiannya ketinggalan zaman, bersih, tapi membuatnya terlihat seperti wanita tua. Tapi wajahnya
mulus, bulat dengan kulit putih merona, meski hidungnya seolah tertarik oleh kedua pipi montoknya. Dia
tak mungkin lebih dari 30 tahun. Namun legenda tentangnya sudah ada lebih tua dari itu. Dan dia tak pernah
berubah.
“Bosan sih bosan, Bu! Tapi mau bagaimana lagi? Sudah takdir kali, Bu!” Iwan si pedagang asongan
yang sudah mendengarkan Bu Li sejak usia lima tahun, saat masih jadi pengamen, menjawab asal. Gerutuan
menyebar seketika di antara penonton. Ada yang protes soal harga yang terus melambung, ada yang protes
soal penggusuran, soal kantib yang mengejar, dan banyak lainnya.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 13


C erpen
“Sudahlah! Aku melihat bersemangat dari pembukaannya. lainnya. Dia adalah putri ke 88 dari
banyak yang berubah. Wajah kanak- Penonton hening. Raut bingung Sang Raja. Li bertubuh besar, tak
kanak kini berubah jadi dewasa, tak dapat memahami celoteh sang seperti saudara-saudaranya. Kecoa
bahkan sudah beranak pula. Dulu pendongeng. tidak begitu cerdas, tapi Li sangat
duduk di depanku membawa anak- “Ini adalah kisah nyata. cerdas. Terlalu cerdas untuk seekor
anaknya, sekarang sudah membawa Sebuah kisah yang tak pernah kecoa.” sebuah KRL ekonomi
cucunya. Bukan begitu Parmin? kuceritakan di manapun juga. melintas dalam keriuhan, memberi
Hehe..” Bu Li menggebrak meja Sebuah kisah rahasia yang hanya jeda bagi sang pendongeng untuk
mendiamkan penonton yang duduk kalian, yang beruntung dapat bernapas.
di tumpukan ban bekas. Parmin mendengar langsung dariku. Kisah “Li mengagumi manusia,
yang di tegur hanya tersenyum ini nyata dan benar-benar ada. sekaligus membencinya. Manusia
lemah sambil memeluk salah satu Senyata busuknya bau tempat membasmi rakyatnya. Manusia
dari tiga cucunya yang berbaris ini, senyata suramnya matahari membenci bangsanya. Tapi,
duduk di depan meja domino esok pagi di ibukota, senyata manusia begitu menarik. Mereka
yang kini dikuasai Bu li sebagai kemiskinan dan suntuk di wajah berkembang biak tak ubahnya
panggungnya. dan otak kalian.” Suara itu semakin kecoa, namun juga berkembang
Bu Li mendesah dalam dalam dan menyentak atmosfir kehidupannya. Kecoa memiliki
sebuah napas panjang. Tangannya disekeliling para penonton. Tak ada daya hidup yang tinggi namun
bergetar, wanita itu meremas sudut yang peduli dengan deru commuter tertinggal pada kebodohannya.
meja dan terlihat buku-buku jemari line beberapa meter dari sana. Manusia sangat rapuh, makhluk
itu memutih. Rokok di tangannya “Dia seorang putri. generasi baru tapi kecerdasan
yang lain segera dijatuhkannya, Namanya Li.” cekikikan kanak- yang nyaris tanpa batas. Diam-
lalu diinjaknya hingga padam. kanak dihadapannya merebak. diam Li memata-matai manusia
“Aku mungkin sudah “Ya, aku tahu namanya dan berkenalan dengan seorang
bosan dengan dunia yang berubah, sama denganku. Tapi aku serius, penyihir tua. Malin namanya.
tapi tak pernah melihat syukur di dia seorang putri. Putri dari Lelaki ini menawarkan sesuatu
antara perubahan itu. Kurasa aku kerajaan kecoa. Putri Li, begitulah yang berbahaya, namun
akan pensiun. Banyak pemukiman para rakyatnya memanggilnya, menjanjikan. Sebuah hal yang tak
kumuh yang sudah disulap jadi terlahir dari keluarga ningrat yang pernah dimimpikan putri malang
mall, apartemen, atau sekedar memimpin kerajaan kecoa di tersebut. Malin menawarkan
taman kota. Orang sepertiku sebuah tempat sampah raksasa, di Li untuk menjadi manusia. Li
semakin tidak diterima. Bahkan ibukota. Itu adalah tempat sampah dapat berubah menjadi manusia
oleh kalian. Beruntunglah kalian yang sangat besar, sangat kotor, seutuhnya dan memiliki kehidupan
hadir malam ini. Ini dongeng dan sangat bau. Tak ada tempat baru. Tentu saja seperti kisah
terakhir yang akan kalian dengar yang lebih bau lagi di muka bumi, ajaib pada umumnya, syarat
dari mulutku.” Mukadimah lebih dari kerajaan itu. Namun Li dan ketentuan berlaku!” Bu Li
panjang yang berujung pada adalah putri yang sangat berbeda mengedipkan salah satu matanya
suara batuk-batuk yang tak kalah dari pangeran dan putri kecoa dengan nakal. Penonton berdecak

14 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen
riuh. Seperti iklan operator telepon Putri kabur menuju kastil sang bersandar pada dinding terbangun
seluler saja! penyihir. dan menghela napas kesal pada
Li mendapat tentangan “Maafkan aku, Yuang. Aku seekor kecoa yang bertengger di
dari kedua orang tuanya. Li tidak bisa terus hidup sebagai kecoa. jempol kakinya yang bau. Dia
mendapat tentangan dari saudara- Aku merasa ini bukan hidupku. Ini tak mendengar suara apapun.
saudaranya. Li juga ditentang bukan duniaku. Aku ingin menjadi Namun, dengan kemampuan sihir
oleh para pengawal kerajaan. Dan manusia, Yuang. Aku tak peduli ribuan tahunnya, meski lama
yang terutama, Li ditentang oleh apapun resikonya, aku ingin jadi tak digunakan; masih mampu
tunangannya. Ternyata Li, meski manusia! Aku tidak akan menggali menerjemahkan maksud kecoa
dengan segenap keanehannya, tong sampah lagi. Aku ingin yang mengaku Tuan Putri ini.
sudah dijodohkan dengan pangeran kehidupan layak yang berbeda.” “Kau! Nyaris terlambat!
dari kerajaan kecoa lainnya Li membulatkan tekadnya. Kedua Cepatlah! Semoga kekuatan
yang datang dari tanah andalas, antena panjangnya bergerak-gerak gerhana masih tersisa.. Pergilah
Kerajaan Kapu Yuah. Pangeran cepat mengawasi sekitar. ke tempatnya! Kau tahu dia ada
Yuang. Pangeran bertubuh mungil, “Tapi kau tahu sendiri di atas!” Lelaki menguap dan
pemalu, dan berfisik lemah itu, syaratnya, sulit! Kau harus menghentak-hentakkan kakinya
menolak keras keinginan Putri Li mencium pangeran sejati dari agar Putri Li bergegas.
untuk berubah menjadi manusia. manusia, dalam wujud kecoamu, “Tapi.. bagaimana kalau
“Aku menerimamu Putri. dan membuatnya menikahimu, terlambat? Bagaimana kalau dia
Aku akan menjadikanmu betina atau kau akan...” tidak menikahiku?” Li menjadi
paling berbahagia di muka bumi. “Aku sudah panik, entah karena gugup atau
Pikirkanlah! Ribuan bahkan jutaan menemukannya. Dan aku tak peduli mulai meragu.
anak yang akan kita hasilkan. Tak jika gagal. Setidaknya.. setidaknya.. “Hmm aku tidak tahu!
akan ada seekor kecoa pun di muka aku akan jadi manusia. Dan aku.. Bukan salahku kau terlambat.
bumi ini yang akan mengejekmu tidak perlu mati telentang sebagai Sejak awal kau yang memutuskan.
lagi. Aku tak peduli kau bertubuh kecoa!” Li berlari dalam kecepatan Kau yang ingin jadi manusia, kau
besar seperti prajurit. Atau kau super seekor kecoa. Dia memang yang memilih pangeranmu, kau
yang ribuan kali lebih cerdas dari kecoa yang sangat istimewa. yang menyanggupi semuanya,
kecoa mana pun di muka bumi. Putri yang sangat tangguh dan tentu kau harus siap menanggung
Kau adalah putri yang kupilih. Kau perkasa. Bahkan puluhan anak konsekuensi dari sebuah keajaiban.
akan menjadi ratu di kerajaan yang buah Pangeran Yuang tak mampu Seperti halnya semua keajaiban,
akan kita dirikan! Kumohon putri! mengejarnya. syarat dan ketentuan berlaku!
Demi leluhur kecoa yang telah “Tuan Malin! Tuan! Ini aku Selamat berjuang Tuan Putri!”
menguasai dunia serangga selama Putri Li! Aku tahu aku sedikit telat, Cengirannya memudar bersama
jutaan tahun, jangan ikuti penyihir ada gangguan!” Kecoa besar yang tubuh bau dan dekil itu, melebur
itu! Jangan tinggalkan aku!” tak lain adalah Putri Li, bergerak ke dalam asap.
Pangeran Yuang membujuknya cepat ke arah seorang lelaki tua di “Baiklah, kamarnya di
malam itu, tepat sebelum Sang pojok ruangan. Lelaki yang duduk lantai dua. Hah! Coba aku kecoa

Tahun III, no.7/2013, April 2013 15


C erpen
kecil yg tidak terlalu panas jika menyadari sebuah keganjilan. Jangan ganggu tidurku, apalagi
harus terbang. Tubuh besar ini Di mana istananya? Di mana mencoba menciumku” Lelaki itu
sebentar lagi akan lenyap. Aku pangerannya? Mengapa dia ada kembali bergelung meninggalkan
Putri Li, putri yang cantik. Bukan di kamar gelap dan bau ini? Putri Li termenung sendiri. Putri
putri kecoa! Ketemu! Itu dia! Oh, Lalu lelaki yang terbengong Li mencari pakaian dalam lemari
Pangeranku! Putri Li datang untuk dalam kantuknya itu menarik dan menyadari, dia tidak sedang
menciummu!” Kecoa besar itu perhatiannya. Bukankah dia di istana, melaikan sebuah rumah
menyerbu masuk ke sebuah kamar pangeran? Mengapa berbaju kumal besar tua yang telah lama kosong.
besar tanpa daun jendela. Lubang dan bau begini? Selama berbulan- Ini adalah markas pengamen dan
jendela terbuka lebar sehingga bulan dia mengikuti lelaki ini. gelandangan. Dan yah lelaki itu
angin dingin tengah malam bertiup Dia lelaki baik yang selalu ramah bukanlah pangeran sungguhan,
masuk ke kamar besar itu. Di pada anak-anak. Memberi mereka melaikan kepala gelandangan.
pojok kamar itu lah, seoraang makanan, tertawa bersama, dan “Untunglah kekuatan
pria muda tertidur dalam posisi melindungi mereka di istananya. gerhananya saat itu melemah.
bergelung. Dan saking lelahnya, Apa ini? Mengapa jadi begini? Kau belum sepenuhnya manusia,
tak menyadari seekor kecoa besar “Hei kau! Bukankah Putri.”
merayap di wajahnya menuju seharusnya kau itu pangeran? Dan “Kau! Penyihir jahat!
bibirnya, saat terbuka. bukankah ini istanamu?” Putri Li Penipu!” Putri Li tersadar saat tiba-
membentak lelaki kumal yang jauh tiba Malin duduk di sampingnya.
“Cuiih! Bangke! Apaan dari tampilan seorang pangeran. “Hei! Kau sendiri yang
nih masuk ke mulut gue! Sialan!” Lelaki itu tergelak hingga harus memutuskan kau sendiri yang
Lelaki itu meludahkan binatang menahan sakit di perutnya. Putri memilih! Untunglah kau tak
malang yang masuk ke mulutnya Li gemas mengapa lelaki itu malah harus menikahi ‘Pangeran’
itu. Tapi sebuah omelan lain tertawa. gelandangan itu. Kau memang
mengejutkannya. “Kalau aku pangeran, berwujud manusia, tapi kau tetap
“Dasar tolol! Aku cuma dan ini istana, tentu kau adalah seekor kecoa. Waktu tak bisa
ingin mencium bibirmu, mengapa seorang putri! Sayang putri yang memakanmu, Putri. Tapi nasib tak
kau malah memakanku! Siaaal! ini terlalu miskin untuk punya akan berpihak padamu. Kau punya
Persetan lelaki tua itu bilang apa! pakaian. Hahaha.. kau terlalu tugas Putri! Kau akan menemukan
Aku akan jadi manusia, tapi aku banyak mendengar dongeng- mereka yang bernasib sama
tak sudi menikahimu!” Putri Li dongeng sampah itu. Pangeran, denganmu, korban keajaiban. Kau
berteriak marah. Rambut, wajah, putri, istana, hahaha... Sudahlah! harus wartakan pada dunia, bahwa
dan kulitnya basah oleh liur. Kau cari baju ukuranmu di lemari keajaiban akan terus datang, namun
Tunggu! Rambut? Wajah? Kulit? pojok sana! Besok kau ngamen tetap merupakan sebuah pilihan.
“Yes! Wooohooo ! Aku dengan anak-anak! Selama di sini Hingga kau sadari, tak seorangpun
manusiaaa!” Perempuan bertubuh kau aman! Aku akan menjamin lagi percaya pada keajaiban. Kau
telanjang tanpa sehelai benang makanan dan keselamatanmu, akan terbebas.”
itu menari berputar-putar dan selama kau menjamin uangku! “Tapi kapan itu? Berapa

16 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen
lama?” Putri Li tak pernah tahu, khayalan tidak bisa memuaskan memohon pada penonton terakhir
karena Malin sudah lenyap, hanya mereka yang lain. Tidak dikala yang akan meninggalkannya.
menyisa asap. perut lapar dan desakan kebutuhan Parmin tak juga berbalik. Berusaha
Satu, dua, tiga, empat .. hidup. Aku tak percaya pada mengabaikan hatinya yang merasa
hanya tinggal empat penonton di keajaiban, Bu. Tidak sejak dia berhutang banyak pada wanita
sana. Bu Li menghitung dengan engga datang dan membentengi itu. Tapi akalnya menutup pintu
jarinya yang seolah tinggal tulang putriku dari maut. Yah, keajaiban imajinasi itu sejak lama.
berbalut kulit keriput. Di sanalah tak bisa mengisi perut laparnya.” Wanita itu mengkerut,
Parmin beserta ketiga cucunya. Parmin mengusap matanya yang semakin mengecil, dan akhirnya
Sementara penonton lain sudah basah. Ah, kenangan buruk itu tak lenyap. Yang tersisa hanya
bubar entah sejak kapan. urung mengundang air matanya. tumpukan baju kumal, dan ribuan
“Kau masih percaya Ketiga anak piatu itu mengikutinya, kecoa yang berlarian kesana
padaku, Parmin?” suara itu semakin berbalik, pulang ke rumah. kemari. Pemandangan terakhir
lemah. Nyaris tak terdengar. “Tunggu, Parmin! yang di pandang cucu sulung
“Cucuku senang sekali Setidaknya biarkan anak-anak itu Parmin.(*)
dongengmu, Bu. Tapi.. sepertinya percaya!” Bu Li berteriak setengah

Tahun III, no.7/2013, April 2013 17


C erpen

Mentalité
“Tiiiiin....tiiin” suara klakson sambar menyambar seperti petir menjelang
petang. Mendung menggelayut di atas langit kota Jekardah. Gradasi hitam abu-
abunya tidak lebih gelap dibanding kepulan asap mobil yang berlalu-lalang.
Al�i Syahriyani Tidak juga lebih hitam dibanding asap rokok yang sudah merambati celah paru-

paru warga Jakarta. Para lelaki perkasa yang sedaritadi sibuk memaki-maki.
“Kampret!” seorang supir memukul setir mobil
“Heeeh! Ini jalan punya babe lu apaaa!” supir mobil satunya lagi mendongakkan kepala ke luar
jendela sambil berteriak. Ia mematikan rokok yang tinggal seujung jari di tangannya itu, lalu melemparkannya
sembarang ke jalan.
Di dalam angkot, seorang anak kecil berseragam putih-merah batuk-batuk karena asap polusi. Seorang
ibu yang membawa bayi resah karena sang anak mulai menangis. Seorang remaja tak bergeming, sibuk dengan
earphone-nya, sementara seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil mewah. Kesal. Macet ternyata tidak
kunjung reda.
“Tiiiin..tiiin!” Suara klakson lagi. Makin melengking kali ini. Jalanan protokol tidak pernah jauh
dari sepi. Silih berganti mahasiswa menyebrang jalan, satu per satu mobil, motor, truk, hingga sepeda saling
menyikut satu sama lain. Tidak ada beda manusia dan mesin. Tapi kali ini, terlihat jelas mana benda mati dan
mana benda hidup.
“Sial!” kata seorang supir bus begitu mengetahui penyebab kemacetan. Ada kecelakaan mobil di
perempatan. Mobil itu menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Pohon yang dahannya sudah sangat
panjang, daunnya rimbun hingga seringkali menghalangi pandangan pengguna jalan. Entah bagaimana
mulanya, subuh tadi, mobil yang menabrak pohon itu terpelanting dan terjungkal. Bangkai badannya terbalik
dan mengganggu jalan protokol. Sedaritadi orang-orang sibuk menyelamatkan korban, tapi belum ada yang
berani memindahkan bangkai mobil.
“Haduuuh, pohon ini kan harusnya ditebang sejak dulu. Kenapa pemkot dan DPU gak gerak-gerak
juga sih? Mobilnya juga kenapa gak dipindah-pindah?” seorang lelaki gendut mengaduh. Jalanan makin gaduh
dengan suara-suara pengguna jalan yang meriuh.
“Ssst, hati-hati Bapak ngomong. Pohon ini ada penunggunya, Pak. Dengar-dengar tiap malam Jum’at
kliwon bulan ke sekian, pak presiden suka kemari minta berkah”
Pohon yang kramat. Banyak orang yang sudah sering mengaduh, tapi tak ada yang berani menebang.
Masyarakat percaya bahwa pohon itu memiliki kekuatan gaib. Pernah ada seorang warga yang mencoba

18 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen
menebang, esok harinya ia jatuh sakit. Ada lagi warga lain yang mencoba menebas sebagian dahan pohon
agar tak menghalangi pandangan, esoknya dikabarkan kecelakaan. Pohon yang sangat besar itu sudah menarik
perhatian banyak masyarakat. Hanya dari mulut ke mulut saja berita mengenai pohon kramat itu sampai.
Dari kasak-kusuk yang entahlah siapa dulu yang memulai, pesan itu berubah menjadi mitos yang akhirnya
dipercaya oleh warga secara turun temurun.
“Tapi ini! Lihat lah ini, sudah ada korban gara-gara pohon ini!” sergah bapak yang lain. Orang-orang
mulai keluar dari kendaraan masing-masing, lalu sibuk menyalahkan satu sama lain.
“Hei, Pak, yang kecelakaan di depan pohon itu, bapak tahu gak siapa? Itu kan anggota ormas Front
Penentang Syirik yang katanya kemarin koar-koar mendatangi walikota, minta pohon itu ditebang. Nah, nanti
Bapak bisa-bisa bernasib sama lagi!”
Si bapak yang diperingati tiba-tiba diam. Gelisah menyergap. Lututnya gemetaran. Agak lemas ia
melangkah meninggalkan kerumunan yang masih kasak-kusuk itu. Ia masuk kembali ke dalam mobil. Berdoa
agar malam ini tidak akan bermimpi buruk, atau didatangi sang penunggu pohon.
Sirine berbunyi nyaring. Polisi datang dan segera memasang garis pembatas. Tempat kejadian perkara
dirapikan satu per satu. Seorang anak berseragam putih-merah masih batuk-batuk di dalam angkot, seorang
bayi yang digendong ibunya belum juga berhenti menangis, seorang remaja sudah bosan mendengarkan musik
yang itu-itu saja, sementara seorang lelaki paruh baya kembali masuk ke dalam kendaraan mewahnya dengan
keringat membasahi sekujur kening. Kondisi lalu lintas mulai berubah, merayap pelan, hingga akhirnya
kembali normal.
****
Keesokan harinya, karena kecelakaan yang menyebabkan kemacetan itu, media mulai berdatangan
untuk meliput. Tapi bukan kecelakaan yang menjadi fokus, bukan juga kelalaian pemerintah yang tak sigap
menebang pohon yang sudah sangat besar dan menghalangi jalan itu, bukan pula ketidakcekatan polisi dalam
memindahkan bangkai mobil. Wartawan lebih tertarik memberitakan unsur mistik pohon besar dengan sulur
yang memanjang, akar yang mencuat ke permukaan, serta batang yang diameternya lebih besar dari lebar
trotoar. Pagi-pagi sekali, di Warta Jekardah tertulis headline besar-besar:
POHON SAKTI MANDRAGUNA DI JALAN MARGANDA
Pemberitaan itu membuat banyak orang penasaran. Pada malam-malam tertentu, beberapa orang
sering datang untuk meminta berkah, pesugih, jodoh, dan permintaan-permintaan aneh lainnya. Dari mulut ke
mulut, kesaktian pohon itu tersebar, dan makin banyaklah orang datang menengok. Bahkan dari seberang kota
Jekardah. Makin membludaklah jama’ah pohon kramat tersebut saat seseorang berteriak-teriak terimakasih
sambil berlari-lari menuju pohon.
“Terimakasih Mbah, terimakasih Mbah, saya dapat undian berhadiah mobi!!” teriaknya membuat
orang di sekitarnya mendeilik, sekaligus iri, dan tentu saja semakin rajin datang meminta kepada pohon yang
berdasarkan konvensi dipanggil si Mbah itu. Ada lagi yang mengaku sembuh dari penyakit asma setelah
merebus sulurnya sebagai jamu. Ada lagi yang bilang suaminya kembali setelah bertahun-tahun menyia-
nyiakannya di Malaysia, dan sebagainya, dan sebagainya.
Jalan protokal semakin ramai, tidak terkendali dan menimbulkan kemacetan parah. Polisi semakin

Tahun III, no.7/2013, April 2013 19


C erpen
sering diterjunkan. Ratusan petisi melayang ke pemerintahan kota, meminta agar pohon ditebang, tapi tak
sedikit juga yang menghendaki pohon itu tetap berdiri, atau kalau tidak, akan semakin banyak orang mati
tanpa sebab. Setiap kali mobil sang walikota melewati pohon itu, yang ada dalam pikirannya adalah, “periode
selanjutnya, periode selanjutnya...” sambil memandang harap ke arah rimbun daunnya yang tumbuh subur
itu.
***
“Tiiiiin....tiiin” suara klakson sambar menyambar kembali. Mendung menggelayut di atas langit kota
Jekardah. Tidak lebih kelabu dibanding wajah para pengguna jalan di tengah kemacetan jalan protokol yang
semakin parah saja. Makian para supir semakin terdengar keras, tapi sebagian besar hanya bisa menelan ludah
karena takut kualat.
Sejak media memberitakan eksistensi pohon tersebut dalam berbagai sudut pandang, berbagai ormas
keagamaan mulai merumuskan untuk menebang pohon itu bersama-sama. Sementara itu, para wartawan
memburu Ki Jaka Bada, seorang paranormal, untuk dimintai wawancara. Ki Jaka Bada hanya melontarkan
kata-kata sederhana, “Bagus kalau untuk pariwisata. Buat pendapatan daerah itu bagus”.
Dalam kemacetan yang parah, para anggota ormas berpakaian putih-putih itu maju tanpa tedeng aling-
aling. “Kami akan buktikan, tidak akan ada apa-apa dengan kami! Pohon ini sudah menimbulkan banyak
kemudharatan!” teriak salah satu anggotanya. Mesin pemotong pohon sudah dinyalakan. Suaranya bergetar,
menyaingi suara guntur yang sambar menyambar di langit kota Jekardah.
“Jangan!!!” kata sebagian orang yang tidak sepakat
“Serbu saja!”
“Stoooop!”
“Ayo tebaang!!”
“Hentikan!”
Akhirnya terjadilah perkelahian. Argumen dengan argumen. Mata dengan mata. Tangan dengan tangan.
Kaki dengan kaki. Bahu dengan bahu. Semua beradu menjadi satu.
Saat mencapai titik puncak, dari arah yang tiada disangka-sangka, “Taaaar!” petir menyambar pohon
besar itu, dan krek..krek...suara patah-patah. “Awas menyingkiiiir!” teriak seseorang dari kejauhan. Kerumunan
orang itu menyingkir sigap. Lari tunggang langgang begitu tahu pohon itu hendak tumbang.
Brug! Pohon itu jatuh menghantam badan jalan, bersamaan dengan suara deras hujan dan guntur yang
bersahutan. Rimbun daunnya basah oleh hujan dan air mata para pemuja, kegagahannya seketika hilang,
batangnya yang kokoh menyisakan bekas hangus. Untungnya tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Orang-orang yang semula bertengkar di sekitar pohon itu tercengang dan kehabisan kata, tetapi tidak dengan
headline warta Jekardah esok harinya:
PULUHAN WARGA MENGAMBIL SISA-SISA POHON SAKTI MANDRAGUNA YANG
TUMBANG TERSAMBAR

20 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen

MIGUEL DORADO
“Levantarse, salir del camino, señor“
“Donde estaba?”
Tegar Hamzah
“Enviar San Angel Carril Galeón de Manila”*
Asadullah

K elasi kapal itu mengganggu istirahatku, membangunkanku diantara tumpukan dan celah muatan
kapal. Tubuhku, berat sekali rasanya. Baju ini, sudah hampir seminggu melekat ditubuhku, tak
heran wangi semerbaknya membuat beberapa orang yang berjalan di sepanjang geladak kapal mengernyitkan
dahi dan memandang tajam padaku. Ah persetan dengan mereka. Aku berjalan, bangkit dari pembaringanku
diantara kotak-kotak besar berisi barang dagangan para saudagar.

Entah bagaimana akupun tak dapat mengingat kejadian semalam yang membuatku terdampar di kapal
ini. Oh ya, aku ingat, Federico memaksaku bertaruh dalam sebuah kedai minum milik si tua Raphael. Manila
malam itu sungguh indah untuk dihabiskan berdua dengan Sally, tapi buaian Federico nampaknya lebih kuat
dari sekedar rayuan manis Sally. Akupun tergoda untuk ikut bermain kartu, tapi tidak, malam ini aku hanya
akan melihat mereka bertaruh di tengah hiruk pikuk kedai minum. Nampaknya seteguk dua teguk Mojito*
takkan merobohkanku, sampai seseorang membawakan sebotol minuman tak bernama yang seketika membuat
dunia sekitarku berputar, ah tidak. Minuman ini, berapa kadar alkoholnya?

Cukup lama, Aku berusaha berdiri tegak dan mencari jalan keluar dari kedai ini, Sial, Federico, mana
dia? Lalu siapa dua orang ini? Mereka berpakaian tentara kerajaan Spanyol dan menggiringku ke suatu
tempat.
“Orang ini? Apakah benar dia yang kita cari?”
“Sejauh ini ia yang paling sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Signore Gonzales. Cepat geledah
pakaiannya.”
Kedua orang itu mulai mencari dan memeriksa setiap jengkal pakaian yang terlekat di tubuhku. Haha.
Orang bodoh, mana mungkin barang yang begitu bernilai kusimpan di dalam pakaian lusuh ini.
“Percuma, dia tidak menyimpannya, lalu bagimana selanjutnya.”
Seseorang nampaknya mulai putus asa, ia mulai membawaku berjalan kembali, aku mulai memulihkan
kesadaran walau tidak sepenuhnya berhasil, dengan sisa kekuatan yang ada kulepaskan tangan-tangan yang
memegang erat bahuku dan berlari menyusuri lorong-lorong permukiman padat Manila. Untungnya mereka
tak berlari menyusulku. Akupun yakin mereka tak sepenuhnya tertarik padaku, karena apa yang mereka cari
dalam pakaianku memang lebih berharga dari sekedar lelaki paruh baya dengan wajah dan perawakan tak

Tahun III, no.7/2013, April 2013 21


C erpen
terawat.
Oh tidak, efek minuman itu, muncul kembali. Akupun mencoba bertahan. Ayolah, sedikit lagi, di dalam
loker itu, sebuah benda tersimpan dengan aman dan sedang menungguku. Toot.. Suara kereta itu, sedikit lagi,
stasiun itu berada tepat beberapa meter dariku.
“Hei kau, cepat pergi, pengemis dilarang masuk.”
Petugas bodoh, Stasiun Tutuban Manila sedari dulu memang tidak ramah terhadap para pribumi. Aku
tak ingin mencari masalah, cukup banyak masalah yang kualami malam ini.
“Tunggu sebentar tuan, ada yang ingin saya berikan” akupun mulai mencopot sepatuku dan membuka
salah satu tapaknya,
“Ini, aku punya barang yang kusimpan di loker stasiun ini.”
Nampaknya si petugas sedikit tak percaya dengan kartu tanda penyimpanan yang kuberikan padanya,
namun ia tak punya alasan untuk melarangku masuk dan membuka loker. Akupun berjalan menyusuri lorong
stasiun dan masuk ke sebuah bilik kaca yang di dalamnya berjajar lemari-lemari besi penyimpanan bagi para
penumpang. Hm..Baiklah, ornamen kayu serta arsitektur bergaya Spanyol memang membuat Tutuban sedikit
lebih modern dan berkelas. Tapi tetap saja, mereka para penjajah tak lebih dari penjahat berkedok bisnis dan
kemanusiaan. Akupun mengambil kunci yang kusimpan dalam sepatu, perlahan ku telusuri satu persatu loker
yang ada di ruangan itu.
Loker 41, 42, 43, ini dia, loker 44. kubuka sembari memastikan bahwa tidak ada yang mengawasiku,
baik, sepertinya aman. Akupun mengambil kertas itu dan membukanya.
“Ah El Dorado, kali ini perjalanan bersama Galeon De Manila* takkan sia-sia.”
**
Suster Caecilia selalu berpesan padaku.
“Kehidupan itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada kalian. Jangan biarkan kehidupan kalian kini
menghalangi kalian untuk meraih mimpi.”
Kata-kata itu selalu terngiang dalam benakku sejak aku menyadari bahwa tempat tinggalku adalah
sebuah Panti Asuhan. Orfanato Ninos de Maria*, didirikan 50 tahun lalu tepatnya tahun 1759 oleh seorang
Pastur yang berasal dari Madrid. Aku tak tahu persis bagaimana sejarah dan cikal bakal panti asuhan ini, aku
pun tak terlalu peduli. Yang aku tahu seorang ibu meletakkan anaknya dalam sebuah keranjang 40 tahun lalu
di depan sebuah pintu dengan hanya meninggalkan selembar selimut.
Sejak tahu bagaimana asal-asulku bisa terdampar di tempat itu, akupun tak ambil pusing. Toh akupun
tak sendiri, ditambah lagi, suasana panti asuhan kala itu benar-benar membuatku gembira apalagi ketika sesi
mendongeng dimulai. Oh senangnya. Akupun segera berlari menghampiri suster ataupun bapa yang akan
bercerita dan segera duduk di depan mereka.
Cerita-cerita Hansel dan Gretel, Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, Sinterklas, semuanya membawaku
pada sebuah dunia yang berbeda. Dunia yang tak sekedar ironi dan tangisan para penghuninya, dunia anak-
anak panti asuhan. Aku bosan, aku lelah menjadi orang terbuang. Dongeng membawaku pada sebuah dunia
impian yang serba indah dan berakhir bahagia. Suatu kali Bapa bercerita tentang El Dorado, kota emas di
pedalaman Meksiko yang dikenal sebagai surga yang hilang.

22 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen
“Ah benarkah itu bapa? Ada tempat seperti itu?”
Bapa pun hanya tersenyum dan berkata
“Ya Miguel.”
Ia nampak tak ingin merusak angan seorang bocah dengan mengatakan bahwa itu semua cuma khayalan.
Tapi tidak, aku yakin bahwa tempat itu benar adanya. Pasti ada suatu tempat di dunia ini yang penuh dengan
kebahagiaan. Dan aku akan menemukannya.
**
El Dorado terkenal dengan kebijaksanaannya, penghuninya hidup dalam sebuah aturan dan tata kelola
kehidupan yang harmonis. Ditambah dengan berbagai kekayaan alam yang meliputinya, membuat setiap
orang yang datang kesana tak ingin kembali ke tempatnya berasal. El Dorado pun tertutup dari orang-orang
yang berhasrat buruk padanya, sehingga ia hanya terlihat bagi orang-orang yang memang berniat baik dan
membawa kedamaian.
Cerita El Dorado begitu membekas padaku, akupun nekat mencuri sebuah manuskrip kuno dari Museum
nasional Manila, Sebuah rute menuju kota emas, tak apa, semua ini demi Eldorado. Pasukan patroli kerajaan
spanyol, mereka bukan orang pertama yang mengincarku. Telah banyak dan ini semua takkan membuatku
gentar untuk menyiapkan secara matang kepergianku menuju El Dorado.
“Miguel, kemana saja kau kawan, dari semalam aku mencarimu?”
Tiba-tiba sosok Federico muncul di hadapanku, sesuatu yang biasa ia lakukan, pergi dan menghilang
tanpa kabar. Sejak kabur dari panti Asuhan, Ia selalu setia menemaniku dalam setiap perburuan Eldorado. Ini
adalah perjalanan kami yang kesekian kalinya menggunakan jalur Galeon de Manila.
“Kau, kemana kau semalam? Padahal Aku butuh bantuanmu. Dua orang polisi menangkapku semalam,
nampaknya mereka sudah tau banyak tentang El Dorado.”
“Ah tak usah kau hiraukan mereka, yang jelas kau bisa selamat dan kali ini kau membawa petanya.
Sedikit lagi kawan, sedikit lagi. El Dorado menanti.”
Wajah penuh optimisme Federico membuatku semangat kembali. Tapi entah mengapa, sepertinya Raut
wajah, potongan rambut, dan pakaian yang dipakainya tak pernah berubah sejak kami bertemu 25 tahun lalu.
“Tangkap dia. Jangan biarkan ia kabur. Dokter, mana dokter, suntik dia. Tertangkap juga kau Miguel”

Sial, orang-orang ini lagi, tak henti-hentinya mereka mengejarku.


”Lari Federico, lari, jangan biarkan mereka menangkapmu juga” dan Federico hanya berdiri melihatku,
ia tidak melarikan diri. Oh tidak, tolong, jangan lakukan ini.
**
”Bangun Miguel !”
Seseorang memanggilku, sudah kuduga, tempat ini lagi.
”Bagaimana perjalanmu kali ini, sudah kau temukan Eldorado?”
”Sedikit lagi, sebelum kalian menggagalkan rencanaku.”
Seperti biasa orang-orang ini mengikatku dengan pakaian ketat dengan tali kekang yang membelenggu
tanganku. Aku tak bisa bergerak.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 23


C erpen
”Jadi Federico masih mengajakmu mencari Eldorado? Coba kau tunjukkan kini dimana ia berada? Kau
bilang ia teman baikmu, lalu dimana ia saat kau terjerat seperti ini?”
“Ia kabur lebih dulu, ia punya kaki yang kuat dan tubuh yang gesit, ia berhasil bersembunyi di kapal
itu hingga berlabuh di Meksiko.”
Orang itu hanya tersenyum, sosok pria tua berbaju putih dengan janggut dan kacamata yang selalu
menghias penampilannya.
“Federico, yang kau sebut selalu, ia tak pernah ada. Kami sudah mencari ke seluruh pelosok kapal
dan tak menemukannya. Tentara Spanyol, orang yang memburumu, Sally, manuskrip peta itu semua yang kau
ceritakan, semuanya tidak ada, tidak pernah ada.”
“Bohong, kau mencoba menipuku, aku masih melihat dengan jelas saat Federico berdiri disampingku
ketika orang-orangmu menangkapku. Ia tepat berada di hadapanku.”
Mereka coba menipuku, takkan berhasil. Federico yang telah memberiku saran, Federico temanku
bercengkrama, Federico, ia yang telah menyusun semua rencana ini.

”Miguel, kami berada disana, di kapal San Angel di jalur Galeon de Manila, aku sendiri yang
menyuntikmu. Dalam kondisi kau terjatuh di lantai, tak ada yang berdiri di depanmu. Hanya ada aku dan para
penjaga rumah sakit.”
”Bohong, aku bersamanya, kami akan ke Eldorado. Semuanya sudah sempurna. Kalian penipu.”
Akupun berteriak sejadinya dan tak habis pikir mengapa orang-orang ini gigih menghalangiku untuk
meraih mimpiku, persetan dengan dongeng, persetan dengan khayalan.
Orang itu memegang rambutnya dan melepaskan kacamata saat para penjaga membawaku keluar
ruangan, di wajahnya tersirat rona kekecewaan. Ah aku tak peduli, suatu saat, aku akan kembali keluar dari
tempat ini.

Ket:
“Bangun, minggir dari jalan tuan”
“Di mana aku?”
“Kapal San Angel jalur Manila Galleon”
Mojito : minuman Alkohol khas Spanyol beraroma jeruk nipis.
Orfanato Ninos de Maria : Panti Asuhan de Maria
Galeon de Manila : Jalur perdagangan dari Filipina ke Meksiko atau Amerika Selatan yang membawa Emas,
rempah-rempah, dan barang dagangan untuk dijual.

24 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen

C
erita ini dimulai di sebuah pedalaman
hutan Uragh di daerah Kerry, Irlandia.
Jauh di kedalaman pepohonan ek, di
tengah rimbunnya kayu dan dedaunan, terdapat sebuah
Roswitha Muntiyarso desa yang tidak pernah dilihat orang. Desa ini tak tampak
kasat mata, hanya orang beruntung yang bisa melihat
keberadaan desa ini.
Di sini cerita bermula ketika Darragh, seorang

Darragh
leprechaun yang dihajar oleh teman sesamanya. Darragh
menolak untuk berbuat usil kepada si peternak Padraig
yang kadang kala sering lewat di jalan batas desa mereka

Si Leprechaun untuk mencari kayu bakar. Darragh bimbang karena


dirinya sendiri lebih suka ada di dalam rumah kecilnya di
bawah pohon ek tua ketimbang keluyuran dan mengerjai
manusia. Karena kebaikan hatinya yang tidak lumrah itu,
Darragh pun dikerjai dan dihajar teman-temannya.

Memang pekerjaan seorang Leprechaun sangatlah membosankan. Hanyalah tukang sepatu yang
bekerjanya pun serabutan, pasangan sepatu dibuat satu demi satu demi kepentingan peri-peri yang memesannya.
Leprechaun memang satu-satunya peri yang punya pekerjaan tetap. Mereka pembuat sepatu para peri. Tinggal
di dalam lubang-lubang bawah tanah atau di dalam pohon. Sembari duduk di atas cendawan, para Leprechaun
menyelesaikan pesanan-pesanan sepatu. Tak heran Leprechaun juga adalah yang terkaya di antara para peri.
Sepatu-sepatu mereka dibayar emas oleh peri lain. Mereka senang menabung dan menaruh emas-emas mereka
di pundi-pundi yang ada di tempat tinggal mereka.
Legenda yang merajalela di kalangan manusia pun sudah sebegitu parahnya. Mereka tahu tentang
adanya pundi emas kepunyaan Leprechaun di ujung pelangi. Kadang malah ada yang dengan aktif mencoba
berburu Leprechaun. Leprechaun punya kekuatan ajaib lainnya yaitu bisa mengabulkan tiga permintaan
orang yang menangkapnya untuk kemudian bisa lari setelah permintaan si penangkap terwujud. Kadang juga
Leprechaun terpaksa memberikan satu dari pundi emasnya untuk menyelamatkan diri. Biasanya Leprechaun
akan meratapi pundi yang diambil agar sang penangkap berpikir bahwa pundi yang dimilikinya hanyalah satu
dan tidak berminat mengambil pundi-pundi lain di rumahnya.
Leprechaun bukanlah seorang peri jahat selayaknya wanita peratap kematian tapi juga bukan peri baik
seperti peri pemekar bunga. Mereka punya pekerjaan tetap sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka
dan mengumpulkan kekayaan. Tapi mereka sangatlah jahil dan usil. Kadang ternak dan manusia bisa cedera
karenanya.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 25


C erpen
Darragh berada di tengah kebingungan dalam sikap baiknya. Awalnya ia diajak oleh Carrig untuk
mencederai sapi peternak Padraig. Carrig senang sekali menyangkutkan kepala sapi-sapi itu di antara pagar
peternakan. Darragh merasa kasihan tidak hanya pada Padraig tapi juga si sapi. Ia melenguh kesakitan dan
meminta pertolongan. Memang Darragh tidak mengetahui apa yang dikatakan si sapi tapi lenguhannya jelas
penuh derita.
Kali itu, pertama kalinya Darragh menolak dengan keras. Darragh malah membebaskan si sapi yang
sudah disangkutkan. Ia kemudian dimarahi dan dipukuli oleh Carrig dan teman-temannya yang seketika
berkumpul. Darragh pun menjadi lemah dan terkapar di sana tak sadarkan diri.
Ketika terbangun Darragh terkejut karena berada di dalam keranjang penuh dengan kain-kain lembut
dan hangat. Darragh langsung menyadari bahwa itu adalah rumah Padraig. Samar-samar ia mengingat kata-kata
Carrig kepadanya. “Mati kamu mudah-mudahan ditemukan manusia dalam keadaan begini. Paling disekap,”
sambil tertawa-tawa bersama temannya.
Darragh tahu dia harus segera pergi sebelum semua kekayaannya ditanyakan dan dijarah. Di tengah
perjalanannya menuju pintu keluar, petani Padraig datang dan mengangkat Darragh ke atas meja.
“Mau kemana manusia kecil? Bukankah badanmu luka-luka? Tinggalah sebentar sampai sembuh lalu
kembali lagi ke hutan bersama teman-temanmu,” kata petani Padraig penuh sayang,
Darragh terkejut. Tidak membayangkan petani akan mengeluarkan perkataan semulia itu. “Bapak tahu
saya ini makhluk apa? Kenapa tidak takut?”
“Saya tidak tahu apa sebenarnya kalian tapi saya sering melihat kalian bermain-main di dekat
peternakanku. Kadan bermain dengan ternak-ternakku. Kadang kembali ke desa kalian sambil bernyanyi-
nyanyi riang,”
“Bapak tahu? Bapak tahu bahwa kami sering menyusahkan Bapak? Menyangkutkan kepala sapi-sapi
ke pagar, menakut-nakuti ayam sehingga tidak bertelur dan mengadu para domba sehingga bulu-bulunya
tumbuh gersang?”
“Saya tidak punya perasaan dendam kepada kalian. Saya tahu ada bagian para peri juga di setiap
apa yang saya punya. Tuhan memberikan sesuatu kepada semua orang tapi jalurnya berbeda-beda. Tidak
terkecuali cobaan. Mungkin saja kalian cobaan bagi saya dan begitu pula, tinggalnya saya di sini merupakan
rejeki untuk kalian.”
Darragh terdiam dan kemudian mulai menangis. “Maafkan kami Pak. Saya sendiri tidak ingin
melakukan hal jahil dan usil tapi sudah sifat dasar kami. Saya tidak ingin melawan takdir yang tertulis sebagai
peri yang jahil.”
Peternak Padraig tersenyum, “Baik dan jahatnya dirimu tidak ditentukan dari apa yang telah tertulis
untuk dirimu. Mungkin kamu ditakdirkan menjadi peri jahat tapi hatimu berkata lain. Percaya pada apa yang
menurutmu benar sehingga kamu bisa menjalankan peranmu dalam siklus dunia.”
Darragh hampir saja menitikkan air mata ketika mendengarnya. Sepintas kemudian dia teringat tetap
harus membebaskan diri dari kungkungan manusia. Spontan dia langsung mengeluarkan jurus yang biasa
dikeluarkan manusia sebangsanya.

26 Tahun III, no.7/2013, April 2013


C erpen
“Maaf Pak, saya harus secepatnya pergi dari penglihatan manusia. Saya tahu Bapak tidaklah meminta
apa-apa atas balasan kepergian saya, tapi saya harap Bapak mau menerima sedikit hadiah dari saya,” ujar
sang Leprechaun sambil berdiri sopan. Seketika juga muncul sebuah pundi emas di hadapan sang peternak.
Alangkah kagetnya peternak Padraig.
“Sudahlah nak, itu harta kepunyaan anda jangan dibuang sia-sia hanya untuk seorang peternak seperti
saya,” petani Padraig menolak dengan hormat.
“Mungkin kelak Bapak akan tahu siapa saya dan mendengar cerita bahwa pundi itulah satu-satunya
yang saya miliki. Saya memiliki banyak di tempat tinggal saya. Hasil membuat sepatu selama ratusan tahun.
Bapak telah mengajarkan saya hal penting dalam hidup, saya merasa berhutang budi.”
“Pembuat sepatu? Memiliki pundi-pundi emas? Kamu ini sebenarnya makhluk apa , Nak?”
“Leprechaun, panggil saja saya begitu, manusia berbadan kecil dalam bahasa kuno Irlandia.”

Tahun III, no.7/2013, April 2013 27


K ritik
Cinderella dalam Cerpen
“Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari”
Karya Intan Paramaditha

D alam kumpulan cerpen Sihir Perempuan,


Intan Paramaditha hadir dengan cerita-
cerita yang dikemas horor, menggabungkan berbagai
mitos tentang perempuan, dan dongeng-dongeng.
Dia bercerita tentang hantu, kuntilanak, vampir, dan
pembunuh. Terselip sejumlah isu perempuan seperti
citra negatif sekretaris, soal aborsi, tubuh, seksualitas
Jenni Anggita perempuan, dan lainnya. Hampir semua cerpen di
dalamnya bertokoh utama perempuan. Salah satu cerita
pendek yang paling menarik adalah “Perempuan Buta
Tanpa Ibu Jari” karena cerpen tersebut merupakan
adaptasi dari dongeng Cinderella.
Cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” ternyata merupakan versi cerita Cinderella dari Jerman yang
ditulis oleh dua bersaudara, Jacob dan Wilhem pada abad ke-19, berjudul “Aschenputtel”. Intan memang
menulis cerpen tersebut dengan gayanya sendiri, namun sayang ide cerita tersebut ternyata tidak orisinil.
Kesamaan plot “Aschenputtel” dengan “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” terletak pada bagian kedua kakak tiri
Cinderella berusaha mengelabuhi pangeran dengan memotong bagian-bagian kaki mereka agar dapat memakai
sepatu Cinderella. Usaha tersebut gagal karena pangeran diperingatkan oleh burung gagak.
“Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” ditulis Intan dengan memakai sudut pandang kakak tiri Cinderella
dengan alur mundur. Penggunaan sudut pandang ini berhasil menggambarkan sisi lain tokoh-tokoh perempuan
di dalamnya. Cinderella dalam cerpen Intan bernama Sindelarat, biasa dipanggil Larat. Larat digambarkan
sebagai seorang putri yang manis, lembut dan lugu (hlm. 29). Sementara itu, namanya merujuk pada arti sedih
sekali, miskin, dan sengsara. Apabila di dalam dongeng Cinderella, Cinderella ditampilkan sebagai sosok
perempuan ideal, Larat digambarkan sebagai gadis yang matrealistis (hlm. 31) dan suka memanipulasi (hlm.
35) lantaran keinginannya untuk pergi ke pesta dansa menjumpai pangeran.
Tokoh-tokoh dalam dongeng Cinderella bersifat hitam putih—yang baik, baik sekali, sedangkan
yang jahat, jahat sekali. Pesan didaktis bahwa kebaikan selalu menang dari kejahatan memang tersampaikan
secara jelas dalam cerita. Berbagai tawaran mimpi-mimpi untuk anak perempuan tersaji di sana. Mulai dari
kecantikan, kebahagiaan, perubahan nasib, gaun indah, sepatu kaca, labu yang berubah menjadi kereta, pesta
dansa, pangeran tampan dan kaya yang membebaskan perempuan dari penderitaan.
Intan dalam cerpennya berusaha membongkar konstruksi tersebut. Dia menuliskan kembali dongeng

28 Tahun III, no.7/2013, April 2013


K ritik
Cinderella dengan menjadi kakak tiri Larat. Intan berusaha menggugat kisah Cinderella yang dikotomik,
penuh dengan mitos-mitos, dan mimpi-mimpi belaka. Penceritaan dengan menguak dari sisi kakak tiri Larat
merupakan sebuah ide kreatif dalam mendekonstruksi dongeng Cinderella. Pembaca menjadi sadar alasan
kakak tiri Larat berbuat jahat kepadanya, karena mereka iri dengan semua milik Larat termasuk kecantikan dan
tubuh Larat yang sempurna. Kedua kakak tiri Larat disebutkan lebih mewarisi rupa ayah daripada kecantikan
Ibu—bertubuh besar dan berkulit gelap (hlm. 32).
Cerpen ini terasa begitu keras dan lugas. Intan menulis begitu mengalir, tanpa ragu atau takut. Dia
tidak tanggung-tanggung menyebut ibu peri dengan Ibu Bidadari keparat (hlm. 28) karena membantu Larat.
Selain itu, bagian cerita yang membuat bergidik, saat kedua kakak tiri Larat rela memutilasi kaki mereka agar
muat dengan sepatu Sindelarat.
Dalam cerita ini, Intan berusaha menggugat hal-hal tentang perempuan, dia menolak ke-patriarki-an
yang selama ini membelenggu perempuan dengan memperlihatkan bahwa ada perempuan yang menderita dan
diperlakukan tidak adil oleh kehidupan. Beberapa kutipan berikut membuat pembaca cukup terhenyak karena
kespontanitasan kata-kata yang menyiratkan berbagai isu soal perempuan.

Kutipan Makna
“potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, Para perempuan rela melakukan apa saja, rela
kau tak akan terlalu banyak berjalan. Jadi kau tak menderita, untuk menjadi cantik, mulai dari diet
membutuhkannya.” (hlm. 33). sampai operasi plastik.

“... kami benci menjadi nomor dua.” (hlm. 30) Tidak ada seorang pun perempuan yang mau
dijadikan yang kedua, isu poligami muncul di
sini.

“Ayah tiri kami memang tak mungkin menjadi ayah Terkait dengan dunia patriarki: masyarakat lebih
kandung, tapi kami ingin mendapat perhatiannya mengutamakan laki-laki. Laki-laki berkuasa
juga. Kami belajar bahwa di dunia ini, para ayah dalam segala hal. Namun, pada dua kalimat
punya kekuasaan di atas segala-segalanya. Karena terakhir, muncul pesan bahwa perempuan
itu kami memeluknya, naik di atas pundaknya, seringkali memanfaatkan laki-laki untuk
menungganginya seperti menunggangi kekuasaan.” mendapatkan kekuasaan.
(hlm. 31)

“Apa boleh buat, kami dulu percaya bahwa pencapaian Hal ini terjadi pada banyak perempuan yang
terbesar gadis remaja adalah gaun mewah berlimpah.” tergila-gila pada penampilan dengan memiliki
(hlm. 29) berbagai pakaian, sepatu, perhiasan yang indah
dan bermerek. Keadaan atau kesukaan macam
ini merupakan konstruksi sosial yang telah
dirancang dunia kapitalisme untuk mengeruk
keuntungan sebanyak-banyaknya dari para
perempuan.

“Begitulah dalam kompetisi para perempuan harus Kutipan di samping seolah berpesan kepada
menyingkirkan lawan dengan penuh kebencian.” pembaca: hati-hatilah kepada perempuan,
(hlm. 32) mereka tidak seperti Cinderella. Antara satu
perempuan dengan yang lainnya dapat saling
menyingkirkan untuk mendapatkan sesuatu yang
mereka inginkan.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 29


K ritik
“Tunggu, tunggu, belum. Mereka belum hidup Penundaan pada ending cerita berusaha
berbahagia untuk selama-lamanya, karena kami terus mengubah kebiasaan dongeng-dongeng yang
menghantui.” (hlm. 35) berakhir dengan pernikahan dan kebahagiaan.
Ini menunjukkan bahwa pernikahan tidak
serta merta menghadirkan kebahagian untuk
selamanya.

“Oiya Larat tidak hidup bahagia selama-lamanya Kutipan di samping menyatakan betapa
seperti yang dikira banyak orang. Ia meninggal saat berharganya anak laki-laki sebagai pewaris
melahirkan putrinya yang keenam. Hampir setiap keturunan. Hal ini mengingatkan kita pada
tahun ia hamil karena kerajaan membutuhkan putra beberapa etnis seperti Tionghoa, Batak, dan
mahkota.” (hlm. 36) Jawa yang lebih mengutamakan anak laki-laki,
daripada anak perempuan.

Dekonstruksi plot Cinderella terasa begitu tragis dan menakutkan pada akhir cerita, kedua kakak tiri
Larat menjadi pengemis, mengamen di jalan, dan buta karena mata mereka dipatuk burung gagak. Selain
itu, tidak seperti dongeng Cinderella yang bahagia untuk selama-lamanya, akhirnya Larat meninggal setelah
melahirkan putri keenam. Wajahnya tidak lagi cantik dan tubuhnya tidak lagi indah, Larat terus-menerus
hamil karena pangeran menginginkan putera mahkota. Bagi penggemar cerita Cinderella pastilah cerpen ini
membuat pembaca menjadi lebih menyadari sisi lain perempuan.

30 Tahun III, no.7/2013, April 2013


R esensi

Johan Rio Pamungkas

KISAH KLASIK UNTUK MASA KINI


Judul Film : Snow White and the Seven Dwarfs
Pengisi Suara : Adriana Caselotti (Putri Salju), Lucille La
Verne (Ratu), Harry Stockwell(Pangeran), Roy
Atwell (Doc),Pinto Colvig (Grumpy & Sleepy),
Otis Harlan (Happy), Scotty Mattraw (Bashful),
Billy Gilbert (Sneezy), Eddie
Collins (Dopey, efek vokalnya saja), Moroni
Olsen (Cermin Sakti), Stuart Buchanan
(Pembunuh Bayaran)
Produksi : Walt Disney Pictures Tahun 1937
Sutradara : DavidHanid
Produser : Walt Disney
Durasi : 83 Menit

K
lasik adalah sebuah cara pandang unik melihat sesuatu pada masa kini. Berapa banyak orang yang
mendengar musik klasik ? Berapa banyak penonton yang masih menonton film hitam putih ? Berapa
banyak manusia yang masih ingin menyaksikan film bisu ? Tentu tidak banyak, tetapi biasanya para
manusia yang melakukan hal tersebut adalah manusia-manusia unik karena mengambil pelajaran dari kisah
klasik.

Maka sedikit mengajak para pembaca majalah katajiwa untuk meresapi kisah klasik untuk memandang masa
kini, saya meresensi film Snow White and the Seven Dwarfs Film yang diproduksi Walt Disney pada tahun
1937 ini adalah tonggak film-film Disney selanjutnya seperti Pinocchio, Bambi bahkan film Miki Tikus yang
menjadi penyihir yakni; Tales of Fantasia lahir setelah film Putri Salju ini.

Saya yakin semua pembaca sudah tahu kisah Snow White ini. Saya hanya sekadar mengingatkan bagi yang
sudah menonton dan memberitahukan sedikit bagi yang belum menonton. Film dibuka dengan sebuah buku

Tahun III, no.7/2013, April 2013 31


R esensi
cerita dan narator yang membacakan buku tersebut lewat kata-kata yang legendaris di semua cerita dongeng,
“Once upon a time…” Putri Salju adalah seorang putri yang karena rasa iri dari ibu tirinya maka, dia harus
terusir dari istana yang sebenarnya justru adalah milik dia dari ayah kandungnya.

Ratu yang notabene adalah seorang penyihir dan memiliki cermin sakti, yang sepertinya bisa mengetahui
segala yang terjadi di dunia, ingin melenyapkan Putri Salju dari muka bumi. Sang Ratu pun menyewa
Pembunuh Bayaran untuk membunuh Putri Salju. Sebelum Pembunuh Bayaran menemukan Putri Salju, Putri
Salju bertemu terlebih dahulu dengan seorang Pangeran yang membuat mereka langsung saling jatuh cinta di
pandangan pertama alias love at first sight.

Malang tak dapat ditolak. Rupanya hati berbunga-bunga sang Putri Salju tidak berlangsung lama karena
dia sudah ditemukan Pembunuh Bayaran. Namun, Pembunuh Bayaran tidak tega untuk membunuh Putri
Salju, akhirnya Pembunuh Bayaran mengajak Putri Salju ke hutan dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di
hutan. Pembunuh Bayaran lalu membawa jantung babi sebagai bukti bahwa dia telah membunuh Putri Salju.
Bagaimana nasib Putri Salju selanjutnya ? Secara umum, sekali lagi, saya yakin bahwa pembaca katajiwa
sekalian telah mengetahuinya.

Film ini mendapatkan Honorary Academy Awards pada perhelatan Piala Oscar yang ke-11 karena berkat film
inilah teknologi animasi berwarna dan bersuara muncul. Tidak mengherankan memang karena film animasi
ini kemudian membawa dampak ke media lain seperti teater; dibuat musikal Broadwaynya, wahana theme
park; dibuat istana kacanya, video game; dibuatkan cerita dengan game dari mulai Nintendo sampai X Box
ada game Snow White and the Seven Dwarfs.

Belum lagi seperti disebutkan di atas bahwa, film ini adalah permulaan dari kesuksesan Disney membuat film
animasi berwarna pertama yang dilanjutkan oleh kesuksesan Pinocchio dan Fantasia. Snow White walaupun
kemudian secara teknik animasi dikalahkan film lain, tapi cerita dongeng sederhana tentang seorang putri
yang diselamatkan dari salah seorang oknum ibu tiri yang jahat serta menjadi peletak dasar film animasi
berwarna pertama membuat karya klasik ini, kembali layak disimak untuk merenungi dan berpikir hal-hal
yang baik di masa ini.

*Film ini dapat diperoleh di Pusat Koleksi Langit Sastra


Hubungi : katajiwa.langitsastra@gmail.com
atau mention Twitter @langitsastra

32 Tahun III, no.7/2013, April 2013


P antau

SAS
Johan Rio Pamungkas

Dok. Langit Sastra / Johan Rio Pamungkas

S
AS bukan tentang resimen khusus negara Inggris, Special Air Service atau duet maut tim
nasional Inggris di Euro ’96, Shearer and Sheringham. SAS yang saya maksudkan adalah
“Sejarah Adalah Sekarang” sebuah acara dari kineforum untuk memperingati bulan film
nasional yang jatuh pada bulan Maret. kineforum sendiri adalah ruang pemutaran film alternatif di Jakarta,
yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Studio 21.

Jika kita sejenak menengok lagi ke akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013, maka sesaat kita bisa tersenyum
karena melihat tidak sedikit jumlah bioskop yang menayangkan film Indonesia. Lebih daripada itu, banyaknya
film makers yang menikmati hasil jerih payahnya, berhasil lolos seleksi maupun berkompetisi di festival-
festival film, di luar sana. Semangat yang membuat mereka menciptakan sejarahnya sendiri, sejarah baru.
Berangkat dari semangat dan senyum yang melingkar itu pulalah “Sejarah adalah Sekarang” (SAS) kembali
diadakan oleh kineforum untuk memperingati Bulan Film Nasional.

Tahun III, no.7/2013, April 2013 33


P antau
Tahun ini adalah tahun ketujuh penyelenggaraan. Seperti sebelumnya, semangat untuk menghormati
generasi pendahulu dengan melestarikan bukti kerja mereka, dirangkum oleh kineforum dalam beberapa
kemasan program.

Saya sendiri hanya bisa berkesempatan menghadiri tiga acara yang pertama adalah pemutaran dan
diskusi film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” Sebuah film kocak tentang cinta dan kedudukan suami-istri
dalam rumah tangga. Usai menonton film, acara dilanjutkan dengan diskusi bertajuk “Antara Kejarlah Daku
Kau Kutangkap dan Screwball Comedy” dengan pembiacara M. Ariansah. Ariansah mengomentari film tersebut
justru adalah komedi filsafat, “Di akhir film, segala filsafat Markum tentang cewek dan lembaga perkawinan
jadi terjungkir setelah Markum naksir seorang cewek, yakni, Marni. Tapi, ceramah-ceramah Markum terlanjur
membuat kita berpikir ulang tentang hubungan cowok-cewek, sebuah film screwball comedy yang justru lebih
kepada komedi filosofis.”

Lalu yang kedua, saya menghadiri Pemutaran Perdana dan diskusi film “Anak Sabiran, Di Balik Cahaya
Gemerlapan (Sang Arsip)” Film yang menceritakan tentang perjuangan Bapak Arsip Film Indonesia, Misbach
Jusa Biran, mendokumentasikan, menyimpan dan merawat film-film Indonesia di Sinematek Indonesia, pusat
arsip perfilman pertama di Asia Tenggara. Diskusi film ini berlangsung sampai tengah malam karena para
peserta diskusi begitu bersemangat mengungkapkan kekaguman dan pertanyaan bagaimana caranya menjadi
seperti Misbach.

Terakhir pada puncak Hari Film Nasional, 30 Maret 2013, kineforum mengadakan Soft Launching dan
diskusi buku “Surat Cinta untuk Film Indonesia” Sekali lagi saya datang, sebelum soft launching diputar film
“Puspa Indah Taman Hati” Sekuel film “Gita Cinta dari SMA” .“Surat Cinta untuk Film Indonesia” adalah
kumpulan tulisan dari para pembuat film, kritikus dan pecinta film Indonesia yang dikurasi oleh kritikus film
Adrian Jonathan dan Hikmat Darmawan.

34 Tahun III, no.7/2013, April 2013


H er V oice

Al�i Syahriyani

Metaphor and Social


Critique

Most of us think that metaphor is just a device of the poetic imagination. Aristotle even said that
metaphor is extraordinary language rather than ordinary language. According to him, metaphor is the rhetorical
flourish, a matter of rhetorical words. However, in our everyday life, sometimes we don’t realize that we use
metaphor a lot. In fact, the metaphor is pervasive, not just in words, but in our thought and action.

John and Lakoff, linguists studying metaphor, talk much about this issue in their book ‘Metaphor, We
Live By’. They argue that our ordinary conceptual system is largely metaphorical in nature. Therefore, the
way we think, what we experience, and what we do every day is very much a matter of metaphor. John and
Lakoff calls this concept as “conceptual metaphor”, in which language can reflect the conceptual system of
the speakers.

To get an idea of how conceptual metaphor works in nature, we can take an example of the concept
TIME IS MONEY in English. We use the words ‘spend’, ‘waste’, or ‘cost’ that specifically refer to money
when we talk about time. For example, “don’t waste your time!”, or “I’m going to spend my holiday in
Bali”, or “The flat tire costs me two hours”. In the Western culture, money is limited resource and valuable
commodity; therefore, time is considered as valuable commodity as well. Another example is the statement
ARGUMENT IS WAR. We use the concept in sentences such as “Use this strategy to argue!”, “Attack his
argument, shoot!”

The conceptual metaphor is also used to compose a song lyric since it has poetic elements. To explain
an abstract concept, we use a concret concept like LOVE IS JOURNEY. Interestingly, in a song titled Opiniku
(My Opinion), Iwan Fals briliantly uses the conceptual metaphor to refer to the negative behaviour of our
country rulers. Let’s consider this song lyric:

Tahun III, no.7/2013, April 2013 35


H er V oice
Manusia sama saja dengan binatang

(Human is like animal)

Selalu perlu makan

(Always need to eat)

Namun caranya berbeda

(But the way is different)

Dalam memperoleh makanan

(To get the food)

Binatang tak mempunyai akal dan pikiran

(Animal has no reason and thought)

Segala cara halalkan demi perut kenyang

(All the way done for the sake of full stomach)

He doesn’t directly say what the ‘animal’ implies. However, he constructs the abstract concept,
which is “the corrupt or the inhuman government”, by using the concret concept ‘animal’, so the conceptual
metaphor is RULER IS ANIMAL. One more interesting conceptual metaphor I found in a short story written
by Adkhilni Mudkhola Shidqi titled ‘Kacamata Sidik’. The story tells about a man named Sidik, who worked
in a local government agency as an office boy. He accidentally found a pair of glasses on the way he walked.
Surprisingly, everytime he used his glasses, he saw that the people’s face in that government agency was
changed into animal; a pig, a snake, and a wolf. In that story, in fact, the author tries to criticize the negative
action of the local government when Banten Province was just established.

As we have seen, metaphor can be a powerful legal tool that gives effects to our social lives. In the
Literary Mind (Turner, 1996 in John and Lakoff, 2003) also demonstrated how metaphoric blends lie behind
the construction of fables and of other common products of the literary imagination. So, we can’t live without
metaphor (*)

36 Tahun III, no.7/2013, April 2013