Anda di halaman 1dari 10

MODUL-

PENGELOLAAN KELAS
I. BASIS TEORETIS

Banyak strategi dan tindakan guru yang dimaksudkan sebagai pengajaran efektif
berlangsung secara simultan, tetapi dengan diam-diam, untuk mengurangi perilaku
menyimpang. Beberapa tindakan guru secara khusus bersifat pengajaran, yang lain secara
khusus pendisiplinan. Di antara kedua ekstrem ini adalah daerah tumpang-tindih yang
dikenal sebagai pengelolaan kelas. Strategi pencegahan dan pengelolaan, seperti
menyatakan harapan secara jelas dan menentukan rutinitas kelas yang efisien berada
dalam daerah ini. Strategi ini dialamatkan sebagai hal yang berkaitan dengan suasana
kelas.
Berikut adalah beberapa prinsip mengenai pengelolaan kelas yang selayaknya
perlu mendapat perhatian:
a. Tugas pengelolaan kelas guru pertama-tama adalah tugas untuk menetapkan dan
menegakkan sistem kerja untuk kelas, lebih daripada memeriksa dan menghukum
perilaku menyimpang, meremediasi perilaku melanggar aturan, atau memaksimalkan
janji siswa individual.
b. Aturan, prosedur, rutinitas, dan larangan semuanya mempunyai peran untuk
menopang tata tertib kelas, tetapi itu hanyalah tambahan terhadap apa yang guru
kerjakan untuk menspesifikasi dan memainkan program tindakan.
c. Dalam situasi di mana siswa-siswa kekurangan baik kecenderungan dan kemampuan
untuk mengikuti tuntutan utama guru, atau guru kekurangan keterampilan
mengemudikan program tindakan, tata tertib sering kali adalah sebuah perjuangan
yang berkepanjangan.
d. Adalah sulit dan secara potensial menyimpang untuk mempelajari proses pengelolaan
kelas tanpa perhatian ke kurikulum, atau untuk mendesain kurikulum tanpa perhatian
ke proses kelas.
e. Penggunaan aktivitas yang familiar seperti hafalan dan kerja duduk serta praktek
standar merutinkan sebagian besar prosedur dan aktivitas kelas terlihat menjadi
strategi yang dapat dipertanggung jawabkan untuk mengimbangi keadaan yang
genting tata tertib kelas.
f. Kunci untuk sukses guru dalam pengelolaan kelas adalah pemahaman mereka
terhadap konfigurasi kejadian yang mungkin, dan keterampilan guru dalam memantau
dan membimbing aktivitas dalam terang informasi ini.
Untuk mendislipinkan kelas, guru harus selalu mempunyai kesadaran akan apa
yang terjadi dalam seluruh kelas, selalu mempunyai perhatian kepada keseluruhan siswa,
dan selalu mencermati dan mewasdai terhadap perilaku yang secara potensial
menyimpang. Hal ini berarti menuntut guru untuk mempunyai kemampuan untuk
melakukan lebih dari satu aktivitas pada saat bersamaan. Pencegahan lebih daripada
intervensi adalah kunci disiplin yang efektif.
Bagaimanapun, disiplin kaku (tegas) adalah populer di kalangan guru, karena
memberikan perangkat prosedur yang pasti bagi guru untuk mengontrol. Disiplin kaku
mendasarkan pada pemikiran teacher-centered bahwa guru harus menguasai kelas dan
tidak ada siswa yang berhak untuk campur tangan dengan pengajaran kelas. Model
disiplin ini menetapkan sebelumnya perhargaan terhadap perilaku patuh dan hukuman
terhadap perilaku menyimpang. Dengan demikian, model disiplin ini lebih menekankan

1
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
penghargaan dan hukuman dan kurang menekankan bantuan terhadap siswa untuk
memahami alasan yang melandasi aturan, sehingga lebih menekankan penetapan kontrol
pemaksa eksternal terhadap masalah perilaku daripada diagnosis penyebab dan perlakuan
melalui strategi perubahan jangka panjang.
Beberapa identifikasi praktek guru manajer efektif yang membedakannya dari
guru manajer yang tak efektif adalah:
a. Penyampaian aturan dan prosedur kepada siswa. Guru manajer yang lebih baik
lebih eksplisit tentang perilaku apa yang diinginkan.
b. Pemantauan kepatuhan siswa terhadap aturan. Guru yang efektif mencatat dan
menghargai tumbuhnya awal setiap kebiasaan perilaku kelas yang diharapkan.
c. Pengembangan akuntabilitas kerja siswa. Guru manajer yang lebih efektif
mempunyai sistem akuntabilitas yang lebih kuat dan lebih detail.
d. Pengkomunikasian informasi. Guru manajer yang efektif lebih berhasil dalam
menyajikan informasi secara jelas, dalam memberikan arahan, dan dalam
menyatakan tujuan.
e. Pengorganisasian pengajaran. Guru manajer yang efektif menghabiskan waktu
sedikit dalam aktivitas mereka sendiri dan menyediakan waktu yang lebih banyak
untuk tugasnya.
Berikut adalah unsur-unsur pengelolaan kelas yang efektif:
a. Menggunakan waktu seefisien mungkin.
b. Mengimplementasikan strategi kelompok tingkat tinggi untuk yang terlibat dan
tingkat rendah untuk yang menyimpang.
c. Memilih format pelajaran dan tugas-tugas akademik yang kondusif untuk keterlibatan
siswa yang tinggi
d. Mengkomunikasikan dengan jelas aturan partisipasi.
e. Mencegah masalah dengan mengimplementasikan suatu sistem pada awal tahun
sekolah.
Penghargaan yang nyata cenderung memberikan efek positif sesaat, tetapi
seringkali menghasilkan efek negatif jangka panjang. Pada pihak lain, kondisi kelas yang
memberi siswa pengalaman berhasil secara akademik dan sosial cenderung mengurangi
masalah disiplin. Kecuali itu, hukuman pada dirinya sendiri bersifat tidak efektif. Hanya
bila hukuman secara jelas berkait dengan perilaku menyimpang dan diketahui demikian
oleh siswa dapat memberikan efek yang diharapkan.
Pencegahan dalam bentuk pengelolaan kelas proaktif mempunyai potensi lebih
besar untuk menghasilkan kondisi kelas optimum daripada remediasi. Pengelolaan kelas
proaktif bersifat lebih mencegah daripada reaktif, mengintegrasikan perilaku guru untuk
pengajaran dan pengelolaan kelas, dan mengarah pada dinamika kelompok lebih daripada
perilaku individual. Penggunaan metode pengelolaan kelas proaktif akan menciptakan
lingkungan belajar yang positif yang mendorong perilaku produktif, sebaliknya intervensi
pengubahan perilaku akan membatasi efektivitas jangka panjang.

II. PENERAPAN PRAKTIS

Kelas yang dicirikan oleh suasana positif dan secara akademik memotivasi siswa
adalah kelas di mana perilaku menyimpang jarang terjadi. Disiplin selalu merupakan
persoalan yang tidak pernah mempunyai penyelesaian akhir. Hanya prinsip-prinsipnya

2
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
akan tetap konstan, penerapannya akan selalu bervariasi karena faktor-faktor dan kondisi
kelas bervariasi.
Disiplin adalah kecenderungan siswa untuk mematuhi harapan guru dalam
berperilaku. Karena itu disiplin adalah seperangkat kondisi dinamik yang ada dalam diri
siswa, individual maupun kolektif, yang dinampakkan dalam kelas dalam batas-batas
ketertiban dan kepantasan. Disiplin bukanlah sesuatu yang guru kerjakan dalam arti
bahwa guru mendisiplinkan siswa. Menggunakan “disiplin” sebagai kata kerja berarti
mengacaukannya dengan tindakan guru mengontrol dan menghukum. Hubungan suasana
dan motivasi dengan disiplin menjadi lebih jelas dengan menyadari bahwa perilaku siswa
sebagian besar dipengaruhi oleh kualitas suasana dan tingkat motivasi mereka. Disiplin
diperumit lebih lanjut oleh aspek emosionalnya, khususnya dalam kasus intervensi guru
dengan ketidakterimaan siswa.

1. Mitos tentang Disiplin

Berikut diberikan daftar mitos tentang disiplin, masing-masing diikuti komentar


yang menunjukkan bahwa mitos tersebut dapat membawa ke implikasi yang secara
pedagogis kurang tepat.

No Mitos Komentar Sanggahan


.
1. Perilaku buruk siswa adalah Perilaku buruk mempunyai banyak sebab, salah
jelas dengan sendirinya satunya yang mungkin adalah karakteristik
merupakan kesalahan siswa. dan/atau praktek guru.
2. Disiplin pada kenyataannya Basis disiplin semestinya ada lebih pada alasan
adalah pertempuran kekuasaan daripada paksaan; disiplin mengandung
antara guru dan siswa. mengerjakan sesuatu bagi siswa lebih daripada
mengerjakan sesuatu terhadap siswa.
3. Kontrol yang baik bergantung Kontrol yang baik dicapai melalui keputusan
pada menemukan tipu muslihat yang ditempatkan dalam sistem kepercayaan
yang tepat. yang diberitahukan.
4. Setiap guru dapat menjadi Guru-guru tak terelakkan akan bervariasi dalam
efektif secara optimum potensinya untuk menjadi manajer kelas yang
mengelola disiplin kelas. efektif, khususnya karena personalitas dan
sistem kepercayaannya yang bervariasi.
5. Guru yang terbaik adalah Intimidasi adalah berseberangan dengan
mereka yang siswa dalam kemanusiaan, hal itu hanyalah tanda kekurangan
kelasnya tidak berani keterampilan interpersonal dan kedewasaan
berperilaku salah. sosial guru.
6. Kelas yang baik adalah kelas Sifat aktivitas belajar ditentukan oleh sifat
yang diam. partisipasi siswa, dan seringkali kegaduhan
partisipasi – tentu harus dijaga dalam batas yang
masuk akal – justru diinginkan.
7. Guru tidak semestinya Gaya mengajar tanpa humor dan dengan sikap
tersenyum. angker seperti menghadapi musuh adalah
merugikan.

3
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
No Mitos Komentar Sanggahan
.
8. Respons guru terhadap Menyusun respons yang secara cepat, langsung
perilaku salah harus selalu dan tepat merespons setiap perilaku salah
langsung ditujukan ke perilaku spesifik dalam konteksnya adalah tugas yang
salah itu. tidak mungkin bagi guru. Bagaimanapun,
konsekuensi yang masuk akal dari perilaku salah
siswa adalah mirip untuk beberapa jenis perilaku
salah yang berbeda; generalisasi respons yang
menekankan remediasi perilaku seringkali
mengena.
9. Hukuman adalah bersifat Konsekuensi yang masuk akal difokuskan pada
mendidik. minat terbaik siswa, sedangkan hukuman secara
pasti menghasilkan terhukum. Hasil pasti
hukuman adalah bahwa siswa yang dihukum
menderita. Respek (rasa hormat, bukan rasa
takut) dan belajar secara bermanfaat harus
ditanamkan melalui disiplin. Penggunaan
hukuman seringkali menghasilkan bahan ejekan,
baik bagi guru maupun siswa terhukum.
10. Guru harus menggunakan Bagi siswa yang mengalami hukuman kasar di
hukuman kasar sebab siswa rumah, yang lebih penting adalah bahwa mereka
yang ‘sulit’ tidak mempan diperlakukan dengan belas kasih dan penuh
dengan hukuman lunak. pengertian sesuai dengan prinsip relasi
manusiawi terbaik.
11. Perilaku guru dapat dipahami Dari sudat pandang kebutuhan manusiawi
hanya dalam batas-batas peran personal, mengajar adalah cara penting dalam
pengajarannya. hidup guru untuk memenuhi kebutuhan
psikologis dasarnya, seperti kekuasaan,
keamanan, dan penghargaan diri.
12. Perilaku siswa dapat dipahami Bawaan sosial dan psikologis siswa
hanya dalam batas-batas menyertainya di dalam kelas. Bahkan,
perannya sebagai pelajar. kebutuhan terbesarnya bukanlah untuk belajar
akademik, tetapi untuk sosialisasi dan status.
13. Siswa tidak mengetahui Siswa tidak membutuhkan untuk diajar
berperilaku dengan pantas. bagaimana berperilaku secara pantas sebanyak
mereka membutuhkan untuk diyakinkan bahwa
minat terbaiknya adalah sesuai dengan harapan
guru dan sekolah
14. Siswa dengan sengaja Tidak ada konspirasi akal busuk pada pihak
‘menguji’ guru untuk siswa untuk menguji guru. Tetapi siswa secara
menyelidiki apa-apa di mana psikologis tidak akan senang sampai mereka
mereka dapat meloloskan diri. mengetahui batas-batas kebebasannya dalam
kelas.
15. Guru tidak perlu mencermati Guru harus mengetahui sebanyak mungkin
records siswa untuk tentang siswa-siswanya untuk membuat
menghindari berprasangka keputusan tentang mereka yang menjadi minat

4
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
No Mitos Komentar Sanggahan
.
negatif. terbaiknya.
16. Konsistensi mencakup seluruh Keputusan guru yang bersifat kebijaksanaan dan
pertimbangan harus diberitahukan harus diutamakan, termasuk
diutamakan. adanya ketidakkonsistenan berpikir.
17. Mempertahankan siswa sibuk Mempertahankan siswa pada tugas berpikir
akan mencegah perilaku adalah vital dan penting, baik untuk ketertiban
menyimpang. kelas maupun belajar yang produktif, tetapi
kesibukan kerja tanpa pikir tidak pernah dapat
dibenarkan, di samping akan menimbulkan
kebosanan yang pada gilirannya akan
membangkitkan kecenderungan berperilaku
menyimpang.
18. Siswa akan patuh jika mereka Penghargaan mempunyai keabsyahan, tetapi
diberi insentif yang cukup. insentif yang bersifat menyogok tidak hanya
menunjukkan kerendahan budi, juga akan
menjadi alat melalui mana siswa memanipulasi
guru.
19. Siswa akan menjadi baik Peran guru yang syah mencakup kekuasaan dan
terhadap guru jika mereka kepemimpinan. Kredibilitas dan efektivitas guru
menganggap guru menjadi satu justru akan dirusak oleh sebagian perilaku yang
gang dengannya. menyokong popularitas guru untuk maksud
utama mereka.
20. Semua perilaku menyimpang Perilaku merugikan belajar harus secara jelas
harus dihadapi dengan cepat ditentukan ketika terdeteksi. Bagaimanapun,
dan dituntaskan. beberapa perilaku menyimpang menandakan
kebutuhan siswa akan bantuan, sehingga guru
tidak perlu cepat-cepat melakukan tindakan
yang justru berkemungkinan memperburuk
keadaan.

Guru mempunyai tanggungjawab untuk memberi setiap siswa kesempatan yang


realistik untuk kesenangan emosional dan keberhasilan personal. Adalah tidak realistik,
tidak mungkin, dan tidak etis untuk memaksa siswa ‘cocok’ dengan sekolah tanpa
menghiraukan perhatiannya yang lain.
Siswa semestinya diharapkan menguasai kondisi dan tanggungjawab yang pantas,
dan bersedia menghadapi konsekuensinya dengan sungguh-sungguh bila mereka tidak
memenuhinya. Tetapi, yang lebih penting, anak membutuhkan bimbingan penerangan
guru yang terbebas dari belenggu mitos disiplin dan yang menerapkan praktek yang
mencerminkan seni dan pengetahuan mengajar yang terbaik.

2. Prinsip Disiplin

Disiplin seringkali dipikirkan secara esensial sebagai mereaksi terhadap perilaku


menyimpang dan mempertahankan ketertiban kelas. Bila demikian persoalannya, boleh
jadi ujung-ujungnya akan dipertimbangkan untuk membenarkan cara-cara yang

5
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
menimbulkan teknik-teknik kontrol yang bersifat menghukum dan menyesatkan.
Pendekatan bernuansa pendidikan terhadap disiplin mempunyai basis dalam prinsip yang
berorientasi demokrasi dan kemanusiaan, yang mempunyai karakteristik:
a. Disusun atas dasar prinsip pedagogis dan relasi manusiawi serta dalam semua hal
menjaga martabat dan integritas personal siswa.
b. Mempunyai tujuan pengembangan yang secara demokratis memberikan hasil belajar
personal dan sosial yang penting.
c. Mencerminkan kepercayaan bahwa menumbuhkan kerelaan siswa sekurang-
kurangnya sama penting dengan meningkatkan kontrol diri siswa.
d. Mempunyai maksud mengerjakan sesuatu bagi siswa lebih daripada mengerjakan
sesuatu terhadap siswa.
e. Menghindari mengungkit-ungkit masalah yang telah membuat siswa kesusahan.

3. Fase-fase Disipline

Disiplin pada kenyataannya sering mempunyai konotasi negatif bagi praktisi,


karena menimbulkan bayangan perilaku menyimpang, sumber utama kekhawatiran guru.
Mengembangkan pendekatan yang terbuka dan praktis untuk disiplin menuntut bahwa
seseorang mengambil jarak terhadap pandangan intuitif, negatif dan simplistik yang ada
dan menuntut kesadaran komprehensif terhadap beberapa komponen yang saling terkait.
Pendekatan langsung untuk memperoleh pandangan komprehensif tentang disiplin adalah
membahas berturut-turut sifat dan implikasi dari empat fasenya: pencegahan, manajemen,
intervensi dan remediasi.

a. Pencegahan

Fase ini adalah yang pertama dalam proses, baik secara logis maupun secara
intuitif. Guru perlu mempersiapkan dengan baik untuk mencoba membuat topik yang
dibahas relevan, untuk memberikan variasi dan memperhatikan/melayani perbedaan
individual, dan untuk menjadi antusias, berhati adil, dan berhumor yang segar. Memenuhi
kondisi ini adalah aspek paling krusial dari disiplin. Tetapi, secara paradoksal, kondisi ini
justru tidak akan timbul bila dalam pikiran guru perhatian tentang disiplin timbul, di mana
guru akan lebih cenderung berpikir disiplin dalam batas-batas kekuasaan dan kontrol.
Motivasi juga penting untuk pencegahan, dan karena itu juga untuk disiplin
positif. Manusia mempunyai empat kebutuhan psikologis dasar: identitas, stimulasi,
keamanan, dan keberdayaan. Jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, kondisi
kekurangan terjadi, berturut-turut: anonimitas, kebosanan, kegelisahan, dan
ketakberdayaan.

i. Identitas

Guru dapat membantu siswa secara langsung dalam hal identitas dengan
mengetahui nama-nama mereka dan menggunakannya di dalam dan di luar kelas.
Penyebutan nama dari guru sangat memuaskan siswa. Lebih dari itu, mengetahui siswa
secara lebih personal memberikan kesempatan untuk menyebutkannya secara positif
dalam aktivitas belajar. Ada baiknya guru melakukan usaha khusus untuk omong-omong
dengan siswa, terlebih yang tidak populer.

6
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
ii. Stimulasi

Stimulasi adalah faktor yang paling mudah diasosiasikan dengan motivasi.


Antusiasme dan kegembiraan guru berkontribusi untuk stimulasi. Memberi siswa dasar
pemikiran dari kegiatan belajar dan meyakinkan siswa tentang relevansi topik yang
dibahas adalah membantu. Guru perlu merencanakan kegiatan-kegiatan di mana guru dan
siswa dapat melepaskan pikiran tentang pelajaran.
Guru dapat memperoleh kredibilitas dengan menjadi model secara akademik bagi
siswa, misalnya, guru Bahasa Indonesia yang menerbitkan puisinya, guru metematika
yang ahli komputer, dll. Menjadi pemain sandiwara dalam kelas membantu, tetapi
menjadi terpelajar dalam bidangnya lebih bernilai dalam menstimulasi siswa untuk
mencapainya secara akademik.

iii. Keamanan

Adanya kebutuhan siswa untuk keamanan menuntut guru membantu siswa


merasa percaya diri bahwa dirinya akan mampu untuk menguasai secara cukup terhadap
tugas dan tantangan studinya. Memberi setiap siswa kesempatan yang layak untuk
berhasil adalah sangat penting dalam hal ini. Hal ini mencakup mengenali perbedaan
individual di antara siswa-siswa dan menerimanya dengan cara yang sesuai dan kreatif.
Strategi demikian, seperti tuntutan dan tugas yang berbeda, tugas individual dan belajar
mandiri, serta tutorial sebaya dan belajar kooperatif dapat digunakan. Pendekatan
formatif untuk tes yang tidak menekankan aspek kompetisi dan menekankan balikan dan
tindakan korektif direkomendasikan. Dengan demikian tes menjadi bantuan belajar,
bukan dasar untuk penjenjangan. Mengajarkan keterampilan belajar kepada siswa dan
memantau penggunaannya adalah cara langsung untuk menambah kepercayaan diri siswa
dalam menguasai tugas studinya. Strategi meningkatkan rasa aman itu juga mempunyai
efek pada konsep diri dan identitas siswa.

iv. Keberdayaan

Keberdayaan, seperti keamanan, adalah kebutuhan yang mencakup seluruh


kategori kebutuhan, tetapi mempunyai fakus tertentu yang bermanfaat untuk guru. Yang
dimaksud keberdayaan adalah bahwa orang mempunyai kebutuhan untuk mengontrol
hidupnya dan mempunyai pengaruh terhadap yang berhubungan. Persepsi dan pendapat
siswa harus diminta dan dilakukan bila memungkinkan. Kelas harus dijalankan secara
demokratis dan partisipatif dalam batas organisasi sekolah. Pertemuan kelas adalah
model yang umum dan bermanfaat untuk hal ini. Siswa didorong untuk mempunyai
tujuan belajar yang ditetapkan dalam kelas. Mempunyai akses keberdayaan melalui cara
ini mengurangi kemungkinan siswa untuk mencari keberdayaan dengan jalan yang kurang
diharapkan, merusak atau buruk, mengalami kegelisahan dari perasaan frustasi dan
mengembangkan perilaku negatif.

b. Manajemen

Batas antara pencegahan perilaku menyimpang dan pemeliharaan perilaku yang


dapat diterima adalah sangat kabur. Perilaku pengelolaan kelas guru umumnya adalah

7
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
hal-hal yang guru lakukan sebagai tambahan perilaku mengajar dan dimaksudkan untuk
mempertahankan siswa pada tugas belajar. Hal itu meliputi berkeliling ruang selama
pelajaran, mempertahankan kontak mata dengan siswa, mencermati kejadian perilaku
menyimpang yang terjadi, memuji perilaku yang dapat dicontoh, secara aktif melibatkan
sebanyak mungkin siswa dalam aktivitas belajar, dan menyatakan harapan yang tepat.
Memantau perilaku siswa dan mengadakan pertemuan kelas, yang dimaksudkan sebagai
praktek pencegahan, lebih tepat dianggap sebagai aktivitas pengelolaan kelas.
Perilaku pengelolaan kelas pada dasarnya adalah kombinasi perilaku mengajar
dan mengontrol (lihat gambar di bawah).

Pengajaran Pengelolaan kelas Disiplin

Hal ini mengindikasikan bahwa kelas dapat dikelola menggunakan disiplin keras dan
otoriter. Namun, hal ini juga mengindikasikan bahwa kelas dapat dikelola menggunakan
praktek pengajaran efektif. Guru yang efektif lebih mengandalkan pada perilaku mengajar
untuk mengelola kelas. Hal ini dapat dikerjakan dengan menciptakan kondisi lingkungan
belajar yang baik dan karena itu meningkatkan kemungkinan bahwa masalah disiplin akan
dicegah. Guru efektif adalah manajer yang efektif; manajer efektif mencegah masalah-
masalah yang potensial.
Lingkungan belajar perlu mendapat perhatian. Guru manajer efektif
mengoraganisir fisik kelas untuk mengimplementasikan aktivitas belajar secara efisien.
Lingkungan belajar dapat juga distruktur secara psikologis dengan menentukan harapan
terhadap belajar dan perilaku siswa.
Guru manajer efektif merencanakan variasi pengajaran untuk mencapai tujuan
belajar dengan cara yang berbeda-beda dan untuk maksud menstimulasi minat dan
keterlibatan siswa. Jika siswa menghadapi metode atau strategi mengajar yang sama
setiap hari, mereka menjadi bosan. Kebosanan memberikan dorongan kepada siswa
untuk menyimpang dan melakukan aktivitas non akademik dengan siswa lain. Mengajar
harus juga difokuskan untuk mempertahankan perhatian dan keterlibatan siswa. Tujuan
khusus yang telah direncanakan sebelumnya adalah esensial untuk memberikan arah dan
fokus pengajaran.
Siswa harus semakin bertanggungjawab untuk hal-hal yang sepantasnya dan
harus selalu diberi tanggung jawab sebanyak yang mampu mereka emban. Siswa berhak
atas guru yang memberikan perhatian secara sistematis terhadap tugas pengelolaan kelas
untuk meminimalkan kesempatan perilaku menyimpang. Karena itu guru harus
mengembangkan secara komplementer antara strategi pengajaran dan pengelolaan kelas
yang didesain untuk kelangsungan kelas yang lancar, tertib dan produktif.

c. Intervensi

Ini adalah fase yang secara umum diasosiasikan dengan disiplin oleh guru. Guru-
guru baru sering bertanya: Apa yang dapat saya lakukan bila anak-anak tidak bisa diam,
atau kurang ajar, atau selalu bermain-main? Sebagian koleganya menjawab dengan
pendekatan favoritnya: disiplin negatif, dan sebagian lain cenderung menghindar. Mereka
membiarkan guru baru itu tidak hanya frustrasi, tetapi juga meragukan kredibilitas

8
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
pedagogi (ilmu mendidik) dalam bidang disiplin. Masalah yang sebenarnya bukanlah
terletak pada praktek kolega-koleganya ataupun dalam pedagogi. Masalah terletak dalam
pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Bagaimana kondisi, internal
dan eksternal, yang menyebabkan situasi demikian? Dengan pertanyaan demikian,
penyelesaian masalah menjadi mungkin untuk diawali.
Jika teknik tak langsung dan tersembunyi dari fase pencegahan dan pengelolaan
kelas tidak cukup untuk menjaga ketertiban, bagaimanapun intervensi adalah perlu. Guru
baru/calon guru sering mengalami kesulitan dalam belajar tentang intervensi yang tepat
dari guru efektif karena guru yang efektif jelas sangat jarang perlu menggunakannya. Di
lain pihak, guru yang perlu sering menggunakannya, bukanlah model peran yang lebih
baik. Di sinilah terletak paradoks: Intervensi atau campur tangan guru, kurang baik
dipelajari dari praktisi yang paling efektif.
Berdasarkan difinisinya, intervensi, atau usaha guru untuk menghentikan perilaku
yang mengganggu, adalah kebijaksanaan, sehingga harus digunakan secara cermat dan
dengan pertimbangan yang masak. Perlu diutamakan penggunaan bentuk intervensi
menengah yang mungkin efektif; penggunaan usaha ke arah bentuk yang lebih keras
hanya bila sungguh-sungguh perlu. Adalah bermanfaat untuk memandang siswa yang
berperilaku menyimpang serius adalah anak bermasalah yang menunjukkan gejala
masalah personal daripada anak jahat yang perlu diluruskan. Guru perlu mendekati
situasi demikian lebih sebagai ‘therapist’ daripada sebagai pendisiplin, dan menggunakan
ilmu dan seni pedagogi sebagai gaya pribadi menggantikan menggunakan kekuasaan.
Guru perlu mempunyai keterampilan menggunakan secara bertahap serangkaian
intervensi. Pendekatan yang lebih baik menangani siswa yang kurang memperhatikan
atau sedikit mengganggu adalah menggunakan sebuah pertanyaan atau sesuatu isyarat
pengajaran yang lain untuk mendapatkan keterlibatan aktif siswa dalam pelajaran. Ini
lebih merupakan aktivitas pengelolaan kelas daripada intervensi. Jika ini tidak mempan,
dan guru melihat perilaku menyimpang mulai terjadi, intervensi non verbal seperti kontak
mata dapat digunakan. Jika kontak mata tidak cukup, kemudian bergerak mendekati
daerah/tempat siswa/sekelompok siswa yang bersangkutan akan memberikan suatu signal
yang lebih kuat. Kedekatan guru dengan siswa yang gelisah biasanya cukup untuk
memadamkan gangguan kecil. Jika cara ini tidak cukup, guru menatap mata siswa dan
memberi isyarat dengan kepala atau tangan, yang mengindikasikan bahwa perilakunya
tidak pantas. Atau, jika guru berada sangat dekat dengan pelaku, menyentuh pelan siswa
tersebut, atau membukakan bukunya, akan memberikan signal yang sangat jelas.
Jika pendekatan rendah hati nonverbal ini gagal atau tidak mempan, peringatan
verbal adalah perlu. Mula-mula, dilakukan penyebutan nama siswa dengan dibarengi
gelengan kepala. Untuk perilaku menyimpang mengganggu pada tingkat sedang,
penggunaan nama siswa diikuti dengan pernyataan tak langsung sangat mungkin efektif.
Jika pendekatan ini tidak berhasil, guru harus mendekati pengganggu dan dengan tenang
tetapi meyakinkan menyuruh siswa itu ke tempat duduk lain atau ke luar. Ini adalah titik
di mana guru dianggap marah dari sudut pandang siswa. Tolaklah itu. Tetap tenang dan
kontrol diri. Lebih dari semuanya itu, hindarilah konfrontasi dengan siapapun. Hal
demikian bukanlah situasi menang untuk guru.
Respons guru terhadap perilaku menyimpang siswa harus proporsional dengan
konsekuensi yang pantas mengenai perilaku itu. Hukuman sembarangan, seperti
menyuruh berdiri di depan, menulis berulang banyak kali suatu janji, menahan tetap di
tempat pada waktu istirahat, atau memarahi dengan mencela berkepanjangan, cenderung
menyimpang dan tidak mempunyai nilai sosial dan pendidikan. Hukuman demikian sangat

9
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529
tidak efektif sebagai pencegah perilaku menyimpang selanjutnya. Sebaliknya,
konsekuensi yang pantas seringkali secara superfisial terlihat mirip dengan hukuman
(memarahi ringan atau memindahkan ke tempat duduk lain). Perbedaannya terletak
dalam apakah siswa mengetahui konsekuensi itu secara langsung dan logis berkaitan
dengan perilaku menyimpangnya, dan apakah itu memberikan pengalaman belajar
potensial bagi siswa. Selanjutnya, hukuman cenderung memuaskan kebutuhan guru,
tetapi konsekuensi yang pantas mengandung kebutuhan siswa – paling tidak menurut
perkiraan.

d. Remediasi

Maksud remediasi perilaku adalah mengurangi – dan secara ideal mengeliminasi –


disposisi (kecondongan) siswa untuk ora trima, meskipun dalam hati. Ini berawal dari
akhir intervensi guru dan sebagai tindak lanjut konsekuensi janji yang diterapkan. Ini
adalah fase disiplin di mana hasil belajar siswa yang penting dapat terjadi. Guru memang
tidak dilatih sebagai therapist, dan harus menyadari keterbatasannya ini. Meskipun
demikian, sebagai orang dewasa yang berbelas kasih dan terpelajar, guru mempunyai
potensi untuk mempengaruhi perilaku dan sikap siswa dengan cara yang bermanfaat.
Guru dapat membantu siswa merealisasikan bahwa perilaku mempunyai konsekuensi
yang pantas. Guru juga dapat membantu siswa memperoleh penerangan tentang alasan
yang melatarbelakangi perilakunya, dan sehingga menjadi mempunyai kemampuan lebih
baik untuk mengontrol hidupnya sendiri. Selanjutnya untuk aspek remedial dari janji
berkenaan dengan perilaku, guru dapat membantu siswa membahas perilaku alternatif
dan memantau kerelaannya terhadap janji. Berapa banyak waktu harus disediakan guru
untuk aktivitas semacam ini? Ini memang masalah. Tetapi, itulah cara berubah yang
efektif dalam hidup beberapa siswa yang sangat membutuhkan perubahan.

Sumber:
1. Burden, P.R. & Byrd, D.M. 1999. Methods for Effective Teaching (2nd ed.). Boston:
Allyn and Bacon.
2. Doyle, W. 1986. Classroom Organization and Management. In Wittrock, M. (Ed.).
Handbook of Research on Teaching (3rd ed.). New York: Macmillan. Pp. 392-431.
3. Kindsvastter, R., Wilen, W., & Ishler, M. 1996. Dynamics of Effective Teaching (3rd
ed.). New York: Longman Publisher USA.

-oOo-

10
Program Peningkatan Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus III Universitas Sanata Dharma 
Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Telp.: 0274-883037, Ext.: 2186, HP: 08122717944, Fax.: 0274-886529