Anda di halaman 1dari 12

PROSES FONOLOGIS BAHASA JAWA:KAJIAN TEORI OPTIMALITAS

Agus Subiyanto

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Abstract This paper aims to discuss phonological processes in Javanese, which are
phonologically and syntactically conditioned. By using the Optimality Theory (OT),
the relation between the input (phonemic form) and the output (phonetic form)
involved in phonological processes will be explained. The data used in this paper are
taken from a Javanese native speaker of Semarang dialect. In addition, this paper
also used intuitive data from the writer, who is also a Javanese native speaker of
Semarang dialect. The result of the analysis shows that OT is relevant to explain the
phonological processes in Javanese such as a deletion of voiceless obstruents, a
deletion of weak vowel [ə], an addition of weak vowel [ə], and an insertion of nasal.

Key words : phonological process, Javanese, Optimality Theory

Abstrak Tulisan ini akan membahas proses-proses fonologis dalam bahasa Jawa
baik yang terjadi karena pengaruh aspek fonologis maupun sintaksis. Dengan
menggunakan teori Optimalitas, akan diterangkan penentuan bentuk fonetis (output)
dari serangkaian kandidat serta kendala-kendala yang terjadi. Data yang digunakan
dalam tulisan ini diperoleh dari penutur asli bahasa Jawa dialek Semarang. Di
samping itu, tulisan ini juga menggunakan data intuitif dari penulis sebagai penutur
asli bahasa Jawa dialek Semarang. Hasil analisis menunjukkan bahwa teori
Optimalitas mampu menjelaskan proses-proses fonologis bahasa Jawa, seperti
penghilangan bunyi obstruen tidak bersuara, penghilangan vokal lemah [ə],
penambahan vokal lemah [ə], dan penyisipan konsonan nasal.

.Kata Kunci : proses fonologis, bahasa Jawa, teori Optimalitas

Bahasa Jawa (BJ) merupakan salah satu berbagai macam proses fonologis, baik
bahasa daerah terbesar di Indonesia yang yang berupa perubahan, pelesapan, pele-
digunakan oleh sebagian besar masyarakat buran (koalisi), maupun penyisipan bunyi.
Jawa yang tinggal di Jawa Tengah, DIY, Selain karena proses afiksasi, proses fono-
dan Jawa Timur. Sebagai anggota rumpun logis BJ bisa terjadi karena pengaruh
bahasa Austronesia, BJ merupakan bahasa sintaksis. Dalam hal ini, perubahan, pele-
aglutinatif atau bahasa yang kaya akan sapan, atau penambahan bunyi dapat terjadi
morfologi, yang ditandai dengan banyaknya karena kata lain yang mengikuti atau
afiks. Proses pembentukan kata melalui mendahuluinya.
penambahan afiks dapat memicu terjadinya

154
155 | BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor 2, Agustus 2010
Tulisan ini akan membahas proses kandidat yang optimal dari rangkaian kandi-
fonologis BJ, baik yang terjadi karena dat yang dibuat oleh GEN. Dengan EVAL,
pengaruh bunyi yang berdekatan, yaitu pada maka ditentukan satu kandidat terbaik yang
level kata, maupun karena pengaruh memenuhi persyaratan dengan memuaskan
sintaksis. Untuk menganalisis proses fono- konstrain dari beberapa kandidat. Dalam
logis digunakan Teori Optimalitas (TO), memilih kandidat terbaik, EVAL menggu-
dengan alasan bahwa teori ini mampu nakan tingkatan Constraint (CON) yang
menjelaskan kendala-kendala yang muncul dilanggar. Dalam hal ini CON yang boleh
dalam menentukan bentuk fonetis atau ben- dilanggar adalah CON yang memiliki
tuk lahir dari bentuk fonemis atau bentuk tingkatan paling rendah. Berikut ini skema
dasar. Dengan teori ini, keberterimaan dan TO yang menghubungkan input, GEN,
ketidakberterimaan bentuk fonetis dapat kandidat, EVAL, dan output dalam bahasa
dijelaskan berdasarkan fakta fonologis dari Yawalmeni yang dikutip dari Archangeli
bahasa yang dianalisis. Selain memberikan (1997:14).
model analisis proses fonologis BJ dengan Skema di bawah menunjukkan bahwa
TO,tulisan ini sekaligus bertujuan untuk bentuk input /xat-en/ ‘akan makan’ yang
menguji apakah TO mampu menjelaskan merupakan kata kerja bentuk future
proses fonologis dalam BJ. Di samping TO, tense(V-sufiks initial) diolah oleh GEN
digunakan pula alat ukur spektograf untuk yang menghasilkan beberapa kandidat, yaitu
menjelaskan beberapa proses fonologis, xa.te.n, xa.te.ni, xa.ten, ne.tak, a.na, dan
khususnya penyisipan bunyi dan pelesapan sebagainya. Kandidat ini kemudian diuji
silabel. pemeringkatan dan pelanggaran konstrain
Teori Optimalitas (TO) merupakan dalam menangani bahasa Yawalmeni.
sebuah teori linguistik generatif yang per- Dalam bahasa ini hanya konstrain NO
tama kali dicetuskan oleh Alan Prince dan CODA yang boleh dilanggar sehingga
Paul Smolensky pada tahun 1991. Teori ini konstrain ini harus diperingkat lebih rendah
telah memberikan dampak terbesar pada dari konstrain-konstrain yang lain, seperti
bidang fonologi. Menurut TO, tata bahasa pada tablo 1.
universal terdiri atas serangkaian konstrain Tablo 1 menunjukkan bahwa kandidat
(constraint) yang dapat dilanggar dan setiap [xa.ten] merupakan kandidat paling optimal
bahasa memiliki pemeringkatan tersendiri sehingga dipilih sebagai output (yang
terhadapkonstraintersebut. Perbedaan antara ditandai dengan ‘’). Dalam hal ini,
pemeringkatan konstrain akan menghasil- pelanggaran terhadap NO CODA dalam
kan pola-pola yang berbeda dan menghasi- bahasa Yawalmeni dianggap pelanggaran
lkan variasi sistematis antarbahasa paling rendahData yang digunakan dalam
(Archangeli, 1997:11). tulisan ini berupa bahasa Jawa dialek
TO mengusulkan sebuah input (bentuk Semarang ragam ngoko, yangdiperoleh dari
fonemis) dan sebuah output (bentuk fonetis) penutur asli bahasa Jawa yang lahir dan
yang keduanya dimediasi oleh Generator tinggal di SemarangSelain itu, digunakan
(GEN) dan Evaluator (EVAL). GEN ber- pula data intuitif penulis karena penulis juga
fungsi menghubungkan input pada repre- penutur asli bahasa Jawa, khususnya bahasa
sentasi kandidat yang mungkin akan Jawa dialek Semarang.Penggunaan data
menjadi output. Rangkaian kandidat ini di- intuitif, yang oleh Sudaryanto (1993:121)
bentuk dengan mengurangi, menambah, disebut dengan metode refleksif-
menyusun ulang elemen-elemen bunyi dari introspektif, digunakan untuk melengkapi
kata yang bersifat universal. EVAL meru- data lisan yang diperoleh dari informan.
pakan alat yang berfungsi menyeleksi
Subiyanto, Proses Fonologis Bahasa Jawa| 156
Input /xat-en/

GEN

Serangkaian xa.te.n xa.te.ni xa.ten ne.tak a.na etc


kandidat
EVAL
(constraints)

Output optimal [xa.ten]


.
Tablo 1: [xa.ten] sebagai Kandidat Optimal
/xat-en / PEAK ONSET *COMPLEX FAITH C FAITH V NO
CODA
 xa.ten *
xa.te.n *!
xa.te *!
xa.te.ni *!
Archangeli (1997:12)
Dalam hal ini, data yang dibuat atas atau penambahan bunyi. Selain karena
dasar intuisi kebahasaan peneliti bila pengaruh bunyi yang berdekatan, proses
dianggap meragukan, dicek-ulang melalui fonologis dalam BJ dapat terjadi karena
informan.Data yang diperoleh dari pereka- pengaruh sintaksis, khususnya pola urutan
man kemudian ditranskripsikan dan kata pada frasa nomina yang melibatkan
dikelompokkan atas dasar kesamaan proses numeralia. Berikut ini akan diuraikan ber-
fonologis. Selanjutnya masing-masing ke- bagai proses fonologis, yang meliputi pele-
lompok data dianalisis berdasarakan model sapan bunyi obstruen tidak bersuara,
analisis dengan Teori Optimalitas. Hasil penambahan dan pelesapan vokal lemah [ə],
analisis disajikan secara informal, yaitu serta penyisipan bunyi nasal. Selain itu akan
dengan menggunakan tablo yang menggam- dibahas pula beberapa proses fonologis
barkan pemeringkatan konstrain, dan juga yang terjadi karena pengaruh faktor sin-
secara formal, yaitu dengan menggunakan taksis.
kata-kata untuk menjelaskan alasan penen-
tuan bentuk kandidat yang dipilih sebagai Pelesapan Bunyi Obstruen Tidak
output. Bersuara
Dalam bahasa Jawa, /ŋ-/ merupakan
PROSES FONOLOGIS BAHASA JAWA bentuk dasar (underlying form) dari morfem
penanda bentuk verba aktif. Ini dibuktikan
Sebagai bahasa yang kaya akan morfo-
dengan distribusinya yang paling luas dan
logi, BJ memiliki cukup banyak proses
tingkat kebertahanan paling tinggi, yaitu /ŋ/
fonologis. Penambahan afiks tertentu dapat
muncul sebelum vokal dan sebelum kon-
memicu terjadinya perubahan, pelesapan,
157 | BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor 2, Agustus 2010
sonan belakang. Pada saat /ŋ/ muncul dilesapkan, tetapi pelesapan tidak terjadi
sebelum bunyi obstruen tidak bersuara pada bunyi obstruen bersuara /b, d, j, g/,
seperti /p, t, c, k/ maka bunyi obstruen akan seperti pada data berikut ini.
/ŋ- + paku / [maku] ‘memaku’
/ŋ- + tukaŋ / [nukaŋ] ’bekerja sebagai tukang’
/ŋ- + cakar / [ŋakar] ’mencakar’
/ŋ- + kaca / [ŋaca] ‘berkaca’
/ŋ- + bukak/ [mbukak] ‘membuka’
/ŋ- + duduk/ [nduduk] ‘menggali’
/ŋ- + jupuk/ [njupuk] ’mengambil’
/ŋ- + ganti/ [ŋganti] ’mengganti
Data di atas menunjukkan bahwa pe- yang memiliki lebih dari satu suku kata.
Kandidat yang diterima sebagai output
langgaran terhadap kesetiaaan obstruen
adalah /nu.kaŋ/karena pelanggaran terhadap
tidak bersuara diperbolehkan sebagai akibat
kesetiaan pada stem, khususnya pelesapan
dari penambahan prefiks /ŋ-/ dan ini bisa
bunyi obstruen tidak bersuara setelah bunyi
juga diikuti oleh pelanggaran kesetiaan pada
nasal, diperbolehkan dalam BJ. Pelanggaran
tempat artikulasi. Tablo 2 ini menunjukkan
lain yang diperbolehkan adalah pelanggaran
bentuk-bentuk pelanggaran yang terjadi
terhadap kesetiaan tempat artikulasi, karena
pada penentuan bentuk paling optimal dari
adanya asimilasi dengan konsonan awal dari
input /ŋtu.kaŋ / untuk menghasilkan output
stem, yang terjadi sebelum pelesapan bunyi
[nu.kaŋ].
obstruen.
Input dari tablo 2 adalah /ŋtu.kaŋ/. Kan-
didat /ŋtu.kaŋ/ dan /ntu.kaŋ/ tidak berterima Contoh lain dari pelesapan bunyi obs-
dalam BJ karena melanggar kompleks, yaitu truen tidak bersuara ditemukan pada kata
bunyi obstruen tidak bersuara tidak boleh yang berawalan dengan bunyi [k], seperti
mengikuti bunyi nasal. Kandidat /ŋə.tu.kaŋ/ pada kata [kupiŋ]. Tablo (3) berikut ini
tidak berterima karena melanggar kesetiaan menggambarkan pelesapan bunyi [k] yang
terjadi karena pengaruh prefiks nasal /ŋ/
vokal. Penambahan vokal tidak diperboleh-
yang mendahuluinya.
kan di antara prefiks nasal /ŋ/ dan stem

Tablo 2 : Pelesapan Obstruen Tidak Bersuara /ŋtu.kaŋ /


/ŋtu.kaŋ / Setia Setia V Setia K *Kompleks Setia Tempat
Stem Artikulasi
ŋtu.kaŋ *!
ntu.kaŋ *! *
ŋə.tu.kaŋ *!
nu.kaŋ * * *

Tablo 3: Pelesapan Obstruen Tidak Bersuara/ŋku.piŋ/


/ŋku.piŋ/ Setia Setia V Setia K *Kompleks Setia Tempat
Stem Artikulasi
ŋku.piŋ *!
ŋə.ku.piŋ *!
nku.piŋ *! *
 ŋu.piŋ * *
Subiyanto, Proses Fonologis Bahasa Jawa | 158
Tablo 3 menunjukkan bahwa kandidat konsonan, yaitu pelesapan obstruen tidak
/ŋku.piŋ/ dan /nku.piŋ/tidak berterima da- bersuara, diperbolehkan dalam BJ.
lam BJ karena melanggar kompleks, yaitu
bunyi obstruen tidak bersuara tidak boleh Penambahan Vokal [ə]
mengikuti /ŋ/. Kandidat /ŋə.ku.piŋ/ tidak Pada stem yang memiliki satu suku
berterima karena melanggar kesetiaan kata, apabila mendapatkan prefiks /ŋ/ yang
vokal, yaitu tidak boleh ada penambahan merupakan bentuk dasar dari morfem
vokal antara bunyi nasal dan stem yang penanda verba aktif (lihat 3.1), maka akan
memiliki lebih dari satu suku kata. Kandidat terjadi penyisipan vokal [ə] di antara bunyi
yang diterima sebagai output adalah /ŋu.piŋ/ nasal dan konsonan awal dari stem, seperti
karena pelanggaran terhadap kesetiaan pada pada data berikut ini.

/ŋ- + lək/ [ŋələk] ‘menelan’


/ŋ- + jεr/ [ŋəjεr] ’mencairkan’
/ŋ- + pεl/ [ŋəpεl ] ’mengepel’
/ŋ- + cεt/ [ŋəcεt ] ’mengecat’

Data di atas menunjukkan bahwa pada yang tidak boleh ada perubahan penyuaraan
stem yang memiliki satu suku kata, keha- atau tempat. Pelanggaran kesetiaaan pada
diran prefiks /ŋ-/ diikuti oleh penyisipan vokal yang berupa penyisipan vokal [ə]
vokal [ə]. Dalam hal ini tidak boleh ada sebagai akibat persentuhan prefiks nasal dan
pelanggaran tempat pada bunyi nasal, stem satu suku kata dapat dicontohkan pada
apapun bentuk konsonan awal dari stem. tablo 4.
Demikian juga dengan konsonan awal stem

Tablo 4: Penyisipan Vokal [ə]


ŋ.jεεr / Puncak Setia Setia K Setia V
(Peak) Tempat
Artikulasi
ŋ.jεεr *!
njεεr *!
ŋεεr *!
 ŋə.jεεr *
Tablo 4 menunjukkan kandidat /ŋ.jεεr/ konsonan. Kandidat/ŋə.jεεr/ diterima seba-
tidak berterima karena melanggar puncak gai output karena pelanggaran kesetiaan
(peak), sebab bahasa Jawa tidak mengijin- vokal merupakan pelanggaran paling
kan sebuah silabel tanpa puncak berupa minimal untuk stem yang memiliki satu
vokal. Kandidat /njεεr/ tidak berterima silabel.
karena melanggar kesetiaan pada tempat Untuk mengetahui seberapa panjang
artikulasi karena prefiks nasal /ŋ/ tidak durasi vokal [ə] yang disisipkan di antara
boleh mengalami perubahan tempat arti- bunyi nasal dan konsonan awal stem pada
kulasi apabila diikuti oleh kata yang memi- kata [ŋə.jεεr] dilakukan perekaman terhadap
liki satu silabel. Kandidat /ŋεεr/ tidak penutur asli BJ. Hasil peremakam tersebut
berterima karena melanggar kesetiaan pada kemudian dianalisis dengan program speech
konsonan sebab pada stem yang memiliki analyzer. Pada spektogram terlihat bahwa
satu silabel, tidak boleh ada pelesapan memang terdapat bunyi vokal [ə] pada kata
159 | BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor 2, Agustus 2010
[ŋə.jεεr], dengan durasi sekitar 490 milidetik. 0,5446 dan kemudian digeser sampai batas
Pengukuran panjang pengucapan vokal ini akhir [ə], yaitu 0,5936. Berikut ini spek-
dilakukan dengan meletakkan kursor pada togram yang memperlihatkan durasi vokal
batas awal bunyi [ə] yang dimulai dengan [ə] yang mucul pada kata [ŋə.jεεr].

prefiks tersebut, seperti pada contoh data


Pelesapan Vokal [ə]
berikut ini.
Prefiks /kə-/ merupakan bentuk dasar /kə + ეbეŋ/ [kეbეŋ] ’terbakar’
dari salah satu morfem penanda involitive /kə + ucək/ [kucək] ‘tercuci
atau yang bermakna ketidaksengajaan tangan’
(Poedjosoedarmo, 1986:37). Pemilihan /kə-/ /kə + idak/ [kidak] ’terinjak’
sebagai bentuk dasar karena distribusinya /kə + ambah/ [kambah] ’terinjak’
paling luas, yaitu sebelum stem yang Pelesapan [ə] terjadi untuk menghindari
diawali dengan bunyi konsonan. Pada saat deret vokal, yang tidak diijinkan dalam
prefiks /kə-/ menempel pada stem yang bahasa Jawa. Tablo berikut ini menunjuk-
berawalan dengan bunyi vokal maka akan kan konstrain dan pelanggarannya dalam
terjadi pelesapan vokal tengah /ə/ dari menentukan output dari input/kə.ე.bეŋ/.

Tablo 5: Pelesapan Vokal [ə]


/kə. ე.bეŋ/ Setia Konstrain Setia Setia Setia V
Stem Klaster V Tempat Afiks
kə. ე.bეŋ *!
kə.bეŋ *! *
kე.bეŋ * *

Tablo di atas menunjukkan bahwa output karena pelanggaran terhadap


kandidat /kə.bეŋ/ tidak berterima karena kesetiaan vokal pada afiks diperbolehkan
melanggar kesetiaan pada stem, yaitu bunyi untuk menghindari deret vokal.
vokal dari stem tidak boleh dilesapkan.
Kandidat /kə.ე.bეŋ/ melanggar konstrain Penyisipan Nasal [n]
klaster vokal, yaitu tidak boleh ada deret Dalam bahasa Jawa, sufiks /-ən/
vokal. Kandidat /kე.bეŋ/ dipilih sebagai merupakan bentuk dasar dari salah satu
Subiyanto, Proses Fonologis Bahasa Jawa | 160
morfem penanda bentuk imperatif karena ini terjadi untuk menghindari deret vokal.
distribusinya paling luas, yaitu selalu Berikut ini contoh data penyisispan nasal
muncul setelah stem yang diakhiri oleh [n]. Tablo 5 menunjukkan konstrain dan
bunyi konsonan. Penambahan sufiks /-ən/ pelanggarannya dalam menentukan output
pada stem yang berakhiran dengan vokal dari input /tu.ku. ən/.
akan diikuti oleh penyisipan nasal [n] di
antara dua vokal. Penambahan konsonan [n]

/tuku+ ən/ [tukunən] ’belilah’


/sapu+ ən/ [sapunən] ’sapulah’
/wეcე+ən/ [wეcეnən] ’bacalah’
/aci +ən/ [acinen] ’haluskan (temboknya dengan semen)’
/sეpე+ən/ [sეpეnən] ’sapalah’
/ŋuŋsi+ən/ [ŋuŋsinən ] ’mengungsilah’
/pacul + ən/ [paculən] ’cangkullah’’
Tablo 6: Penyisipan Nasal di antara Dua Vokal
/tu.ku.ən/ Setia Stem Setia Konstrain Setia K Setia V
Sufiks Klaster V
tu.ku. ən *!
tu.kun *! *
tu.kən *! *
tu.ku.nən *

Tablo di atas menunjukkan bahwa atau sesudah nomina yang diterangkan.


kandindat /tu.ku.ən/ tidak berterima karena Bentuk numeralia seperti loro [loro]‘dua’,
melanggar konstrain klaster vokal, yaitu ti- telu [təlu] ‘tiga’, papat [papat]‘empat’, lima
dak boleh ada vokal deret dalam BJ. [limე] ‘lima’, pitu [pitu] ‘tujuh’ wolu [wეlu]
Kandindat /tu.kun/melanggar kesetiaan pa- ‘delapan’, sanga [sეŋე] ‘sembilan’ terletak
da sufiks, karena vokal dari sufiks tidak sesudah nomina yang diterangkan. Namun
boleh dilesapkan. Kandidat /tu.kən/ melang- apabila numeralia tersebut terletak sebelum
gar kesetiaaan pada stem; tidak boleh ada nomina yang diterangkan, maka terjadi pe-
pelesapan vokal dari stem. Kandidat nambahan nasal [ŋ] seperti rong [rეŋ]‘dua’,
/tu.ku.nən/ dipilih sebagai output karena telung [təluŋ] ‘tiga’, patang [pataŋ] ‘empat’,
pelanggaran terhadap kesetiaan pada limang [limaŋ] ‘lima’, pitung [pituŋ]‘tujuh’,
konsonan (yaitu penyisipan [n]) diper- wolong [wეlეŋ] ‘delapan’, sangang
bolehkan untuk menghindari deret vokal. [saŋaŋ]’sembilan’. Kehadiran [ŋ] dipenga-
ruhi oleh tata urut kata atau berkaitan
Penambahan Nasal Belakang [ŋ] pada dengan sintaksis bukan oleh bunyi yang
Numeralia karena Pengaruh Sintaksis mengikutinya. Letak atau posisi numeralia
Proses fonologis dalam bahasa Jawa sebelum atau sesudah nomina juga tidak
yang terjadi karena pengaruh sintaksis dapat mempengaruhi arti karena keduanya bisa
dijumpai pada penyisipan [ŋ] pada nume- saling menggantikan, seperti pada contoh
ralia. Dalam bahasa Jawa ragam ngoko berikut ini.
(kasar), numeralia bisa terletak sebelum
161 | BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor 2, Agustus 2010
Aku pesen (kamar telu) / ( telung kamar) ‘Saya pesan tiga kamar’

kamar loro / rong kamar ‘dua kamar’


kamar telu / telung kamar ‘tiga kamar’
kamar papat / patang kamar ‘empat kamar’
kamar lima / limang kamar ‘lima kamar’
kamar pitu / pitung kamar ‘tujuh kamar’
kamar wolu / wolong kamar ‘delapan kamar’
kamar sanga / sangang kamar ‘sembilan kamar’
kamar enem / enem kamar ‘enam kamar’
kamar siji / sekamar ‘satu kamar’
kamar sepuluh / sepuluh kamar ‘sepuluh kamar’
kamar sewelas / sewelas kamar ‘sebelas kamar’

Pada data di atas terlihat bahwa silabel terbuka, sedangkan [ე] muncul pada
kehadiran nasal belakang [ŋ] terjadi pada silabel tertutup (lihat Padmaningsih,
numeralia yang berakhiran dengan vokal 1998:70).
belakang [o,u,a] dan pada numeralia yang Pada bentuk [pataŋ] dari kata [papat],
berakhiran dengan konsonan [t]. Kehadiran selain penambahan nasal belakang [ŋ] juga
[ŋ] ini dipengaruhi oleh letak numeralia, terjadi pelesapan silabel pertama [pa] yang
yaitu sebelum nomina. Dalam hal ini bentuk diikuti oleh penambahan vokal [a] antara [t]
nomina tidak berpengaruh pada kehadiran dan [ŋ]. Penambahan vokal ini untuk
[ŋ], seperti terlihat pada contoh berikut ini. menghindari pelanggaran terhadap KOM-
PLEKS*, yaitu tidak diijinkannya konsonan
[rეŋ] [omah] ‘dua rumah’ nasal terletak sesudah konsonan hambat.
[rეŋ] [buku] ‘dua buku’ Pelesapan silabel pertama pada [rეŋ]
[rეŋ] [ember] ‘dua ember’ dan [pataŋ] berkaitan dengan lemahnya
[rეŋ] [sak] ‘dua saku’ frekuensi pada silabel pertama dibanding-
[rეŋ] [mეntეr] ‘dua mobil’ kan dengan silabel kedua, sehingga dalam
ragam tidak formal, kata [papat] sering juga
diucapkan [pat], dan [loro] diucapkan [ro].
Pada bentuk rong [rეŋ]dari kata loro Untuk mengetahui rendahnya frekuensi
[loro]penyisipan [ŋ] diikuti oleh pelesapan silabel pertama yang dilesapkan dibanding-
silabel pertama [lo] dan perubahan [o] men- kan dengan silabel kedua dapat dilihat pada
jadi [ე]. Perubahan vokal ini terjadi karena spektogram berikut ini.
vokal [o] dalam BJ hanya muncul pada
Subiyanto, Proses Fonologis Bahasa Jawa | 162

Pada spektogram di atas terlihat bahwa juga pada bentuk pelesapan suku kata
silabel [lo] memiliki frekuensi sekitar 105 pertama. Bentuk kekerabatan seperti paklek
Hz, sedangkan silabel [ro] memiliki ‘paman’ bulek ‘bibi’, bapak ‘bapak’,
frekuensi yang lebih tinggi, yaitu sekitar ibu/embok ‘ibu’, eyang/simbah ‘kakek/ne-
130Hz. Demikian juga dengan silabel [pa] nek’, kakang/kangmas ‘kakak laki-laki’,
memiliki frekuensi sekitar 90 Hz, lebih adik ‘adik’, dalam bahasa Jawa ragam
rendah dari silabel [pat] yang memiliki informal seringkali diucapkan hanya silabel
frekuensi sekitar 115 Hz. keduanya saja.
Pelesapan silabel pertama terjadi pada
Pelesapan Suku Kata Pertama karena kalimat tanya dan kalimat perintah, tetapi
Pengaruh Sintaksis tidak terjadi pada bentuk kalimat berita,
Proses fonologis dalam BJ yang seperti pada contoh berikut ini.
terjadi karena pengaruh sintaksis ditemui

paklek
bulek
bapak
Dhek wingi aku ketemuibu
‘Kemarin saya berjumpa ’eyang
kangmas
adik

lek ?
pak ?
bu ?
Tindak pundi yang ?
Pergi kemana mas ?
dik ?
163 |BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor2, Agustus 2010
Pelesapan silabel juga terjadi pada kata- nyang dari menyang ‘ke’, adverbial, seperti
kata tanya seperti:napa dari menapa dhe dari badhe ‘akan’, mpun dari sampun
‘mengapa’, ndi dari endi ‘mana’, dos pundi ‘sudah’. Pelesapan silabel pertama ini
dari kados pundi ‘bagaimana’, ten pundi umumnya terjadi pada ragam tidak resmi
dari wonten pundi ‘dimana’, verba, seperti dan pada kalimat tanya, seperti pada kalimat
ndak dari tindak ‘pergi’, preposisi, seperti berikut ini.

Ndak ndi bu ? dari bentuk Tindak pundi Ibu ?


“Pergi ke mana bu ?”

Pelesapan silabel pertama tidak terjadi apabila rendahnya frekuensi. Pada gambar spektogram
modus kalimatnya adalah deklaratif. Pertanyaan berikut ini terlihat bahwa pada kata badhe
yang muncul adalah kenapa silabel yang silabel pertama [ba] memiliki frekuensi kurang
dilesapkan adalah silabel pertama, tidak pernah dari 90 Hz, sedangkan silabel kedua [dhe]
silabel kedua. Pelesapan silabel pertama ini juga memiliki frekuensi sekitar 170 Hz. Demikian
terjadi pada bahasa Indonesia dan bahasa Bali juga pada kata tindak, silabel pertama [ti]
dan telah dibuktikan oleh Pastika (2006:54), memiliki frekuensi sekitar 85 Hz, sedangkan
bahwa silabel yang dilesapkan cenderung silabel kedua [ndak] memiliki frekuensi sekitar
memiliki frekuensi puncak tekanan udara yang 100 Hz. Pada kata ibu, silabel pertama
lebih rendah dari silabel kedua, dengan [i]memiliki frekuensi sekitar 90 Hz, dan silabel
dibuktikan melalui alat ukur spektograf . [bu] memiliki frekuensi sekitar 160 Hz.
Dengan demikian terbukti bahwa silabel
Berikut ini akan dibuktikan apakah pertama memiliki frekuensi puncak tekanan
silabel yang dilesapkan berkaitan dengan tinggi udara yang lebih rendah dari silabel kedua.

Untuk memperkuat pembuktian di atas, menghasilkan temuan yang sama, seperti


maka dilakukan pengetesan terhadap kata- terlihat pada spektograf berikut ini.
kata kekerabatan, yaitu ibu, bapak, dan
eyang ‘kakek/nenek, dan ternyata
Subiyanto, Proses Fonologis Bahasa Jawa| 164

Spektograf di atas menunjukkan bahwa pertama, khususnya pada bentuk-bentuk


silabel [ba] memiliki frekuensi puncak sapaan, kata tanya, dan beberapa verba,
tekanan udara sekitar 110 Hz, dan ini lebih yang terjadi pada bentuk kalimat tanya
rendah dibandingkan dengan silabel [pak] maupun perintah. Dengan alat ukur spek-
yang memiliki frekuensi sekitar 185 Hz. togram terlihat bahwa silabel yang
Demikian juga pada silabel [e] yang dilesapkan memiliki frekuensi puncak teka-
memiliki frekuensi sekitar 110 Hz, sedang- nan udara yang lebih rendah dibanding
kan silabel [yaŋ] memiliki frekuesni lebih dengan silabel kedua
tinggi, yaitu sekitar 170 Hz. Analisis data denganTO menunjukkan
bahwa teori ini mampu menjelaskan kons-
SIMPULAN train-konstrain yang dilanggar dalam
menentukan bentuk fonetis (output) dari
Dari pembahasan di atas dapat bentuk fonemis (input). Dengan teori ini
disimpulkan bahwa proses fonologis BJ pula, pemeringkatan pelanggaran terhadap
dapat terjadi karena pengaruh bunyi yang konstrain tertentu dapat dijelaskan, sehingga
berdekatan maupun karena pengaruh sintak- kita dapat memahami bentuk-bentuk
sis. Proses fonologis BJ yang terjadi karena pelanggaran yang fatal sehingga tidak
pengaruh bunyi bisa berupa penambahan berterima dan bentuk pelanggaran yang bisa
segmen, seperti penyisipan bunyi nasal [n] diterima dalam BJ.
di antara dua vokal, pelesapan segmen,
seperti pelesapan bunyi obstruen tidak
bersuara setelah nasal dan pelesapan vokal DAFTAR RUJUKAN
rendah sebelum bunyi vokal. Archangeli, Diana.1997. Optimality
Proses fonologis BJ yang terjadi karena Theory: An Introduction to Linguistics in
pengaruh sintaksis dapat dijumpai pada 1990s. Dalam Archangeli, Diana dan D
bentuk penambahan nasal [n] pada nume- Terence Langendoen. (Eds) Optimality
ralia sebelum kata yang diterangkan. Theory: An Overview. Oxford: Blackwell
Penambahan ini tidak terjadi apabila Kenstowicz, Michael. 1994. Phonology in
numeralia muncul setelah kata yang Generative Grammar. Oxford: Blackwell
diterangkan. Proses fonologis lainnya yang Padmaningsih, Diah. 1998. Reduplikasi
terjadi karena pengaruh sintaksis dapat Verba Bahasa Jawa: Sebuah Kajian
dijumpai pada bentuk pemenggalan silabel
165 | BAHASA DAN SENI, Tahun 38, Nomor 2, Agustus 2010
Morfologi Generatif . Tesis S2. Generative Grammar.Oxford: Blackwell
Linguistik UNUD: Denpasar Publishing
Poejosoedarmo, Gloria Risser. 1986. Role Sudarmanto. 2008. Kamus Lengkap Bahasa
Structure in Javanese. Jakarta: Badan Jawa. Semarang: Widya Karya
Penerbit NUSA Universitas Katolik Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik
indonesia Atma Jaya Analisis Bahasa: Pengantar
Pastika, I Wayan. 2006. Pengaruh PenelitianWahana Kebudayaan secara
Lingkungan Sintaksis Terhadap Proses Linguistik. Yogyakarta:
Fonologis. Dalam Linguistika Vol 13 hal DutaWacanaUniversity Press
47-61
Price, Alan dan Paul Smolensky. 2004.
Optimaliti Theory: Constraint
Interaction in

Beri Nilai