Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

ABSORPSI

Pembimbing : Ir. Zulmanwardi, M.Si


Kelompok : III
Tgl praktikum : 21 Maret 2013

Nama : Astriny R. Paonganan


NIM : 432 11 017
Kelas : 2-D4

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2013

A. TUJUAN PERCOBAAN

 Menentukan penyerapan gas CO2 dengan air dan NaOH

B. PERINCIAN KERJA

 Menentukan konsentrasi CO2 yang tidak terserap dalam alat HEMPL.

 Menentukan kadar CO2 didalam air dengan cara titrasi.

C. ALAT YANG DIGUNAKAN

 Seperangkat peralatan absorbsi dengan kolom isian.


 Gelas kimia 400 ml
 Erlenmeyar asah 250 ml
 Buret 50 ml
 Labu semprot
 Corong kaca
 Gelas ukur
 Pipet ukur
 Pipet volume
 Bola isap

D. BAHAN YANG DIGUNAKAN

- Indikator PP
- NaOH 0,1 N dan 1 N
- Aquadest

REAKSI : CO2 + H2O H2CO3

H2CO3 + NaOH Na2CO3 + H2O

E. DASAR TEORI

Absorpsi adalah operasi penyarapan komponen-komponen yang terdapat didalam gas dengan
menggunakan cairan. Suatu alat yang banyak digunakan dalam absorpsi gas ialah menara isiar. Alat
ini terdiri dari sebuah kolom berbentuk silinder atau menara yang dilengkapi dengan pemasukan gas
dan ruang distribusi pada bagian bawah, pemasukan zat cair pada bagian atas, sedangkan
pengeluaran gas dan zat cair masing-masing diatas dan dibawah, serta suatu zat padat tak aktif
(inert) diatas penyangganya. Yang disebut packing.
Adanya packing (bahan isian) didalam kolom absorpsi akan menyebabkan terjadinya
hambatan terhadap aliran fluida yang melewati kolom. Akibatnya gas maupun cairan yang melewati
akan mengalami pressure drop penurunan tekanan.
Persyaratan pokok yang diperlukan untuk packing :
 Harus tidak bereaksi (kimia) dengan fluida didalam menara.
 Harus kuat tapi tidak terlalu berat.
 Harus mengandung cukup banyak laluan untuk kedua arus tanpa terlalu banyak zat cair yang
terperangkap atau menyebabkan penurunan tekanan terlalu tinggi.
 Harus memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair dan gas.
 Harus tidak terlalu mahal.

Penurunan tekanan akan menjadi besar jika bahan isian yang digunakan tidak beraturan
(random packing). Selain itu, penurunan tekanan juga dipengaruhi oleh laju alir gas maupun cairan.
Pada laju alir tetap, penurunan tekanan gas sebanding dengan kenaikan laju alir cairan. Hal
ini disebabkan karena ruang antar bahan pengisi yang semula dilewati gas menjadi lebih banyak
dilewati cairan, sehingga akan menyebabkan terjadinya hold up (cairan yang terikat dalam ruangan
) bertambah. Akibatnya peningkatan laju alir cairan lebih lanjut akan menyebabkan terjadinya
pengumpulan cairan diatas kolom keadaan ini biasa disebut Flooding (banjir). Titik tejadinya
peristiwa disubut flooding point. Operasi pada keadaan flooding tidak akan menghasilkan
perpindahan massa yang bagus. Perpindahan massa yang optimum, dilakukan pada keadaan loading
point (titik beku kurva). Jika laju alir cairan dipertahankan tetap sedang laju gas bertambah maka
terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi :
 Terbentuk lapisan cairan yang menyerupai gelembung gas diatas permukaan packing
 Cairan tidak akan mengalir keluar kolom karena adanya tekanan yang besar dari aliran udara.
Akibatnya cairan akan mengisi kolom dari bawah keatas sehingga terjadi inversi dari gas terdispersi
kecairan berubah menjadi cairan terdispersi kealiran gas.
Hal-hal lain yang berpengaruhi terhadap penurunan tekanan antara lain : bentuk isian, tinggi
isian, susunan dan lain-lain.
Didalam industri, proses ini banyak digunakan antara lain dalam proses pengambilan amonia
yang ada dalam gas kota berasal dari pembakaran batubara dengan menggunakan air, atau
penghilangan H2S yang dikandung dalam gas alam dengan menggunakan larutan alkali.
Banyak hal yang mempengaruhi absorpsi gas kedalam cairan antara lain :
 Temperatur
 Tekanan operasi
 Konsentrasi komponen dalam cairan
 Konsentrasi komponen didalam aliran gas
 Luas bidang kontak
 Luas waktu kontak
Karena itu dalam operasi harus dipilih kondisi yang tepat sehingga diperoleh hasil yang
maksimal.

Karekteristik suatu cairan dalam menyerap komponen didalam aliran gas ditunjukkan oleh
harga koefisien perpindahan massa antara gas-cairan, yaitu banyaknya mol gas yang berpindah
persatuan luas serta tiap fraksi mol (gram mol)/(detik) (Cm3) (fraksional)
Untuk menentukan hanya koefisien perpindahan suatu massa suatu kolom absorpsi dapat
digunakan perhitungan berdasarkan neraca massa.
Tinggi koefisien dalam kolom biasa digunakan persamaan:

Yi = fraksi mol CO2 dalam aliran gas masuk.


Yo = fraksi mol CO2 dalam aliran gas keluar.
*
Y = fraksi mol gas CO2 yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan.
Y = fraksi mol CO2 didalam larutan.
Persamaan diatas diubah menjadi :

Ruas kanan persamaan diatas sulit untuk dipecahkan. Karena itu penentuan kog lebih mudah
dipecahkan dengan persamaan :

N = Kog x a.A.H x selisih


tekanan laju absorpsi luas bidang rata-rata logaritma
(mol/detik) transfer massa(m2) (atm)

Pi = tekanan partikel gas CO2 masuk kolom (atm)


Po= tekanan partikel gas CO2 keluar kolom (atm)
N = jumlah CO2 yang terserap dengan alat HEMPL
A = luas spesifik packing/ unit volume. Pada percobaan ini dipakai Rasching ring dengan luas
bidang kontak 440 m2/m3.
A.H = volume kolom berisi packing
Tekanan partikel gas CO2 = fraksi volume x (tekanan total/ 760) atmosfir.

a. Penentuan kadar CO2 yang diserap didalam air / NaOH dengan alat HEMPL.
Misal :
- Laju alir CO2 F3 liter/detik
- Laju alir udara F2 liter/detik
- Volume campuran udara dan CO2 didalam alat HEMPL V1ml
- Volume CO2 V=2ml

Fraksi gas CO2 didalam aliran gas masuk (Yi)

Fraksi gas CO2 didalam aliran gas keluar (Yo)


Jika jumlah CO2 yang diabsorbsi sepanjang kolom adalah Fa liter/detik.
Neraca massa :

CO2 masuk – CO2 keluar = CO2 diabsorbsi


Atau
(F2 + F3) Yi – [ F2 + ( F3 + Fa ) ] Yo = Fa

Dengan penurunan secara matematis diperoleh :


Fa

Atau

N= (gmolCO2 terabsorpsi/ detik).

Catatan :
Pada percobaan ini diasumsikan bahwa laju alir volum air tidak dipengaruhi oleh penurunan
tekanan didalam kolom, dianggap penurunan tekanan yang terjadi sangat kecil dibandingkan
tekanan atmosfir.

b Penentuan kadar CO2 yang terabsorbsi dengan metode titrasi.


Absorpsi CO2 dengan menggunakan air.
Secara Stoikhiometri dapat ditulis
CO2 + H2 O H2CO3

Jika :
Laju alir F1 L/detik
Vol. Larutan NaOH V1 ml
Konsentrasi NaOH C1 M
VOL. Sampel V2 ml

Maka konsentrasi CO2 didalam sampel :


Fa

Laju rata-rata CO yang terabsorpsi pada suatu periode:

 Absorpsi CO2 dengan menggunakan NaOH


Secara stokiometri reaksi pada proses absorpsi ini :
CO2 + 2NaOH Na2CO3 + H2O
Pada proses titrasi tahap pertama reaksi yang terjadi :
2NaOH + Na2CO3 + 2HCl 2 NaHCO3 + 2NaCl + H2O
Jika volume sample yang digunakan V1 ml. Konsentrasi HCl C g.mol/liter. Indicator yang
digunakan phenolphalein

Dalam suasana basa kuat indicator phenolphalein akan berwarna merah jambu. Jika seluruh
NaOH sudah habis bereaksi dengan HCl serta semua karbonat telah berubah menjadi bikarbonat
larutan akan berubah menjadi tidak berwarna. Misalkan volume HCl yang digunakan untuk titrasi
sampai tahap ini V2 m. bila dalam larutan ditambahkan indicator metil orange maka warna larutan
akan berubah menjadi kuning. Jika titrasi dilanjutkan maka pada titik akhir titrasi larutan menjadi
tidak berwarna.
Reaksi yang terjadi :
NaHCO3 + HCl NaCl + H2O + CO2
Misalkan volume yang digunakan untuk titrasi tahap kedua ini V 2 ml, maka volume yang
digunakan untuk menetralisir bikarbonat = (V3 – V2) ml. pada tabung kedua dimasukkan larutan
sample sebanyak (V3 – V2) ml lebih sedikit dan dikocok dengan baik.Endapan yang terbentuk adalah
hasil reaksi antara karbonat dalam sampel dengan larutan barium. Endapan yang tebentuk adalah
barium karbonat yang dari karbonat dalam sample. Jika larutan diberi beberapa tetes indicator
phenolphalein maka larutan akan berwarna merah jambu.

F. PROSEDUR PENGERJAAN

a. Menentukan penurunan tekanan aliran gas dalam kolom kering


 Mengeringkan kolom dan isinya dengan jalan mengalirkan udara kedalam kolom lewat bagian bawah
sehingga semua airnya keluar.
 Mengalirkan udara dengan laju 80 l/menit (F 2)
 Mencatat penurunan tekanan yang terjadi.
b. Menentukan penurunan tekanan aliran gas dalam bentuk basah.
 Mengalirkan udara kedalam kolom dengan laju alir 80 l/menit (F2).
 Mengalirkan air kedalam kolom dengan laju alir 3 l/menit (F1)
 Mencatat penurunan tekanan yang terjadi didalam kolom.
 Mengulang percobaan dengan menurunkan laju alir air 2 l/menit
c. Menentukan jumlah CO2 yang terserap denan metode titrasi
 Menghidupkan pompa dan mengatur laju alir air didalam kolom pada 3 L/menit. (F1)
 Menghidupkan kompresor udara dengan mengatur laju alirnya 80 L /menit (F2)
 Membuka dengan hati-hati regulator gas karbon dioksida dan mengatur pada laju alir 2 L/menit (F3)
 Mengambil 20 ml untuk 0 menit dari tangki yang masuk
 Setelah 15 menit, mengambil masing-masing 20 ml sampel dari tangki masuk dan sampel yang keluar
dalam erlenmeyer asah
 Menambahkan indikator PP kedalam sampel dan menitrasi dengan menggunakan NaOH 0,1 M hingga
berwarna merah muda.
 Mencatat volume NaOH 0,1 M yang digunakan
 Melakukan percobaan masing-masing secara duplo
 Mengulangi dengan selang waktu 20 menit selama 1 jam
 Mengubah laju alir air 2 L/menit
d. Cara menganalisa kadar CO2 dengan HEMPL
 Mengisi bola tandom dibagian bawah alat HEMPL dengan larutan NaOH 1 N hingga tanda 0
 Membilas tabung analisa HEMPL dengan jalan menarik piston dan membuang gas yang telah terisap
ke atmosfir dengan volume 20 ml (V1)
 Menutup semua saluran kedua atmosfer dan menghisap kembali campuran gas yang diisap yaitu 20 ml
dan menutup saluran dari gas absorpsi
 Mengembangkan tekanan didalam tabung dengan udara luar dengan jalan membuka dan menutup
keran saluran buang ke atmosfir mengusahakan agar permukaan NaOH tetap pada tanda 0.
 Mencatat kenaikan volume NaOH 1N setiap 20 menit pada variasi laju alir 3 dan 2 L/ menit selama
masing-masing 1 jam dan mencatat pula perubahan tekanannya.

G. DATA PENGAMATAN

1. Q udara = 80 liter/menit
Q air = 3 liter/menit
Q CO2 = 2 liter/menit
T ΔP V1 V2 Volume Titrasi (ml)
No
(menit) (cmH2O) (ml) (ml) Vin Vout
1 0 0,2 20 6,7 0,1 0,2
2 20 1,0 20 5,4 0,1 0,2
3 40 2,4 20 5,8 0,1 0,2
4 60 3,0 20 5,9 0,1 0,2

2. Q udara = 80 liter/menit
Q air = 2 liter/menit
Q CO2 = 2 liter/menit
T ΔP V1 V2 Volume Titrasi (ml)
No
(menit) (cmH2O) (ml) (ml) Vin Vout
1 0 3,0 20 5,9 0,1 0,2
2 20 3,2 20 6,2 0,1 0,2
3 40 1,8 20 6,1 0,1 0,1
4 60 0,4 20 5,8 0,1 0,15

H. PERHITUNGAN

Perhitungan untuk penetapan laju alir air 3 liter/menit pada t = 0 menit


 Fraksi gas CO2 dalam aliran gas masuk (Yi)

= 0,024

 Fraksi gas CO2 dalam aliran gas keluar (Yo)


Yo = V2/V1
= 6,7 ml / 20 ml
= 0,335
 Tekanan masuk (Pi)
Pi = Yi. Pt
Konversi satuan ΔP (cmH2O) ke mmHg
ΔP = 0,2 cmH2O x
= 0,147 mmHg
Untuk Pt = ΔP x + 1 atm
= 0,147 mmHg x + 1 atm
= 1,00019 atm
Sehingga, Pi = Yi. Pt
= 0,024 x 1,00019 atm
= 0,0244 atm
 Tekanan keluar (Po)
Untuk Pt = 1,00019 atm dan Yo = 0,335 maka :
Po = Yo. Pt
= 0,335 x 1,00019 atm
= 0,3351 atm
 CO2 yang terserap dalam kolom (Fa)
Fa
L/menit
= 38,349 L/menit

 N

= 1,541 gmol/menit = 1,541 gmol CO2/menit


 A

= 0,0044 m2
Untuk nilai a = 440 m2
H = 1,4 m
 Kog

= 4,826 gmol CO2 / m5.menit


 Total CO2 yang terserap = Fa x t
= 1,541 gmol CO2/menit x 0 menit
= 0 gmol CO2 yang terserap
 Penentuan nilai Cd
 Umpan Masuk
Cd = 0,0005 M = 0,0005 mol/liter

 Umpan Keluar
Cd = 0,001 M = 0,001 mol/liter
 Penyerapan CO2 gas aliran masuk = Qair x Cd
= 3 liter/menit x 0,0005 mol/liter
= 1,5 x 10-3 mol/menit
 Penyerapan CO2 gas aliran keluar = Qair x Cd
= 3 liter/menit x 0,001 mol/liter
= 3,0 x 10-3 mol/menit

Perhitungan untuk penetapan laju alir air 2 liter/menit pada t = 0 menit


 Fraksi gas CO2 dalam aliran gas masuk (Yi)

= 0,024
 Fraksi gas CO2 dalam aliran gas keluar (Yo)
Yo = V2/V1
= 5,9 ml / 20 ml
= 0,295
 Tekanan masuk (Pi)
Pi = Yi. Pt
Konversi satuan ΔP (cmH2O) ke mmHg
ΔP = 3,0 cmH2O x
= 2,206 mmHg
Untuk Pt = ΔP x + 1 atm
= 2,206 mmHg x + 1 atm = 1,00290 atm
Sehingga, Pi = Yi. Pt
= 0,024 x 1,00290 atm
= 0,0241 atm
 Tekanan keluar (Po)
Untuk Pt = 1,00290 atm dan Yo = 0,295 maka :
Po = Yo. Pt
= 0,295 x 1,00290 atm
= 0,2958 atm
 CO2 yang terserap dalam kolom (Fa)
Fa
L/menit
= 31,520 L/menit
 N

= 1,267 gmol/menit = 1,267 gmol CO2/menit


 A

= 0,0044 m2
Untuk nilai a = 440 m2
H = 1,4 m

 Kog

= 4,346 gmol CO2 / m5.menit


 Total CO2 yang terserap = Fa x t
= 1,267 gmol CO2/menit x 0 menit
= 0 gmol CO2 yang terserap
 Penentuan nilai Cd
 Umpan Masuk
Cd = 0,0005 M = 0,0005 mol/liter
 Umpan Keluar
Cd = 0,001 M = 0,001 mol/liter
 Penyerapan CO2 gas aliran masuk = Qair x Cd
= 3 liter/menit x 0,0005 mol/liter
= 1,5 x 10-3 mol/menit
 Penyerapan CO2 gas aliran keluar = Qair x Cd
= 3 liter/menit x 0,001 mol/liter
= 3,0 x 10-3 mol/menit

I. PEMBAHASAN

Absorbsi merupakan salah satu operasi pemisahan dalam industri kimia dimana suatu
campuran gas dikontakkan dengan suatu cairan penyerap yang sesuai, sehingga satu atau lebih
komponen dalam campuran gas larut dalam cairan penyerap. Dalam praktikum ini, digunakan gas
CO2 sebagai absorbat dan larutan NaOH 0,1 N sebagai absorben. Adapun reaksi yang akan terjadi,
yaitu :
2 NaOH + CO2  Na2CO3 + H2O
Absorbsi yang dilakukan menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang dialirkan ke dalam kolom
dengan spray dan dengan kolom yang dilengkapi dengan packing. Ini bertujuan untuk memperluas
permukaan kontak antara cairan dengan CO2. Sehingga didapatkan proses absorbsi yang optimal.
Cairan mengalir dari bagian atas kolom, sedangkan gas CO 2 mengalir dari bagian bawah kolom. Di
mana diketahui bahwa cairan (air) mempunyai berat jenis yang lebih besar dari gas CO2. Serta sifat
alami bahwa cairan akan mudah mengalir kebawah akibat gravitasi bumi. Sedangkan gas yang akan
bergerak ke atas seperti menguap. Aliran ini ditujukan agar kontak dapat terjadi antara cairan dan
gas.
Konsep percobaan ini yaitu mengenai perbedaan tekanan udara sepanjang kolom isian basah
dengan laju alir air. Kolom isian basah merupakan kolom yang dialiri air dan udara. Prinsipnya
kontak antara air dan udara yang terjadi dikolom di mana air dialirkan dari kolom bagian atas,
sedangkan gas dari kolom bagian bawah (counter current). Akan terjadi kontak antara air dan udara
didalam kolom yang dapat menimbulkan penurunan tekanan. Terdapat beberapa hal dapat dianalisa
dari tabel hasil pengamatan dan perhitungan bahwa ada data yang menurun (tidak stabil) yaitu
pada saat t = 40 menit untuk laju alir air = 2 liter/menit. Ini mungkin terjadi karena adanya salah
satu katup/kran pada operasi alat kurang maksimal pengoperasiannya (kemungkinan ada yang
bocor). Selain itu, juga telah terjadi flooding, yaitu pengumpulan cairan diatas kolom pada saat t =
20 menit untuk laju alir air = 3 liter/menit yang dapat disebabkan oleh laju alir gas terlalu besar
dan prinsip kolom yang berlawanan. Selain itu, kemungkinan besar tidak adanya ruang laluan untuk
zat cair sehingga lajunya terhambat dan akhirnya tidak menghasilkan perpindahan massa yang
optimum.
Adapun variabel yang digunakan pada percobaan ini adalah perbedaan waktu proses
absorbsi, yaitu mulai t = 0 menit sampai t = 60 menit. Pengambilan sampel dilakukan setiap 20
menit sekali, dimana sampel pertama yang diambil adalah air yang belum mengalami proses
absorbsi (tanpa CO2). Ketika dilakukan analisa untuk larutan sampel dan berdasarkan percobaan dan
pengamatan, kadar CO2 yang terkandung dalam sampel mengalami peningkatan kadar CO2 (dengan
alat HEMPL), sedangkan metode titrasi, penyerapan CO 2 tidak stabil karena telah
terjadinya flooding. Sehingga dapat diperkirakan bahwa faktor-faktor yang kemungkinan dapat
mempengaruhi proses absorpsi diantaranya adalah :
 faktor tekanan yang diberikan oleh gas,
 tinggi rendahnya laju alir yang diberikan oleh udara,
 luas permukaan,
 waktu,
 zat yang diabsorpsi itu sendiri, serta
 faktor lain yang berperan.

J. KESIMPULAN

 Kadar CO2 yang terserap dengan alat HEMPL sebagai berikut :


Dengan laju alir air (Qair) = 2 L/menit dan 3 L/menit
 Pada menit 0 = 0 L dan 0L
 Pada menit 20 = 679,76 L dan 606,68 L
 Pada menit 40 =1326,16 L dan 1228,84 L
 Pada menit 60 =1843,26 L dan 1881,26 L

 Kadar CO2 di dalam air dengan metode titrasi yaitu sebagai berikut :
Dengan laju alir air (Qair) = 2 L/menit
In(Lmol/menit) Out(mol/menit)
0.001 0.002
0.001 0.002
0.001 0.001
0.001 0.0015

Dengan laju alir air (Qair) = 3 L/menit


In(Lmol/menit) Out(mol/menit)
0.0015 0.003
0.0015 0.003
0.0015 0.003
0.0015 0.003

DAFTAR PUSTAKA

 Petunjuk praktikum. Satuan Operasi Teknik Kimia. PEDC. Bandung


 Mc-Cabe. Terjemahan : E. Jasifi . Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. erlangga. 1990

Lampiran
Q udara = 80 liter/menit
Q air = 3 liter/menit
Q CO2 = 2 liter/menit

T Yi Yo ΔP Pt Pi Po

0 0.024 0.335 0.147 1.0002 0.024 0.3351


20 0.024 0.27 0.735 1.001 0.024 0.2703
40 0.024 0.29 1.765 1.0023 0.0241 0.2907
60 0.024 0.295 2.206 1.0029 0.0241 0.2959

Cd Penyerapan CO2
Fa N Kog
Total CO2 yang terserap In Out In Out
38.349 1.5411 4.8258 0 0.0005 0.001 0.0015 0.003
30.334 1.219 4.4202 606.68 0.0005 0.001 0.0015 0.003
30.721 1.2346 4.254 1228.84 0.0005 0.001 0.0015 0.003
31.521 1.2667 4.3162 1891.26 0.0005 0.001 0.0015 0.003

Q udara = 80 liter/menit
Q air = 2 liter/menit
Q CO2 = 2 liter/menit

t Yi Yo ΔP Pt Pi Po

0 0.024 0.295 2.206 1.0029 0.02407 0.29586


20 0.024 0.31 2.353 1.0031 0.02407 0.31096
40 0.024 0.305 1.324 1.00174 0.02404 0.30553
60 0.024 0.29 0.294 1.00039 0.02401 0.29011

Cd Penyerapan CO2
Fa N Kog Total CO2 yang terserap
In Out In Out
31.521 1.26673 4.31615 0 0.0005 0.001 0.001 0.002
33.988 1.36587 4.49685 679.76 0.0005 0.001 0.001 0.002
33.154 1.33236 4.43566 1326.16 0.0005 0.0005 0.001 0.001
30.721 1.23458 4.26222 1843.26 0.0005 0.00075 0.001 0.0015