Anda di halaman 1dari 34

TUGAS UTILITAS

BOILER FEED WATER

OLEH :

KELOMPOK 2

NAMA :

Astri Handayani (061330400290)

Beryl Kholif Arrahman (061330400292)

Putri Utami

KELAS: V KA

DOSEN PEMBIMBING : Ibnu Hajar, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

2015
BOILER FEED WATER

1.1 Air Umpan Boiler


Kebutuhan energi dan sistem pemanasan dalam industri umumnya dipenuhi
dengan cara memanfaatkan steam yang dibangkitkan dalam suatu ketel (boiler).
Boiler adalah tungku dalam berbagai bentuk dan ukuran yang digunakan untuk
menghasilkan uap lewat penguapan air untuk dipakai pada pembangkit tenaga
listrik lewat turbin, proses kimia, dan pemanasan dalam produksi.
Sistem kerjanya yaitu air diubah menjadi uap. Panas disalurkan ke air dalam
boiler, dan uap yang dihasilkan terus-menerus. Feed water boiler dikirim ke
boiler untuk menggantikan uap yang hilang. Saat uap air meninggalkan boiler,
partikel padat yang semula terlarut dalam air umpan akan tertinggal di dalam
boiler. Partikel padat yang tertinggal menjadi semakin terkonsentrasi, dan pada
saatnya mencapai suatu level dimana konsentrasi lebih lanjut akan menyebabkan
kerak atau endapan pada logam boiler.
Air umpan adalah air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam.
Sedangkan sistem air umpan adalah sistem penyediaan air secara otomatis untuk
boiler sesuai dengan kebutuhan steam. Ada dua sumber Air umpan, yaitu:
1. Kondensat : steam yang telah berubah fasa menjadi air (mengembun)
2. Air make-up : air baku yang sudah diolah
Untuk meningkatkan efisiensi boiler, air umpan sebelum di suplai ke boiler
harus dipanaskan terlebih dahulu.

1.2 Sumber Penyediaan Air Umpan Boiler


Air yang digunakan pada air umpan boiler dapat diperoleh dari air laut, air
sungai, air waduk, sumur bor dan sumber mata air lainnya. Kualitas air tersebut
tidak sama walaupun menggunakan sumber air sejenis. Hal ini dipengaruhi oleh
lingkungan asal air tersebut. Oleh karena itu, untuk dapat digunakan sebagai air
umpan boiler maka air baku dari sumber air harus dilakukan pengolahan terlebih
dahulu yang bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur atau padatan yang
terkandung didalam air baik dalam bentuk tersuspensi, terlarut, dan koloid yang
dapat menyebabkan terjadinya kerak, korosi dan pembusaan dalam boiler.
Disamping itu, senyawa organik dapat menyebabkan berbagai masalah dalam
operasi boiler. Kualitas air umpan boiler juga dipengaruhi oleh kondisi operasi
boiler, semakin tinggi tekanan dan temperature operasi maka semakin murni
kualitas air umpan yang diperlukan. Batasan terhadap nilai parameter-parameter
penting untuk air umpan boiler, sering ditentukan oleh pihak pembuat alat, atau
dapat mengacu pada kriteria dari Badan International seperti ASME dan ABMA.

Gambar 1. Sumber Penyediaan Air Umpan Boiler

1.3 Persyaratan Air Umpan Boiler


Feed water harus memenuhi prasyarat tertentu seperti yang diuraikan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 1. Persyaratan Feed Water
Parameter Satuan Pengendalian Batas

Ph Unit 10.5 – 11.5

Conductivity µmhos/cm 5000, max

TDS Ppm 3500, max

P – Alkalinity Ppm -
M – Alkalinity Ppm 800, max

O – Alkalinity Ppm 2.5 x SiO2, min

T. Hardness Ppm -

Silica Ppm 150, max

Besi Ppm 2, max

Phosphat residual Ppm 20 – 50

Sulfite residual Ppm 20 – 50

pH condensate Unit 8.0 – 9.0

Sumber: NALCOH

Tabel 2. Persyaratan Air Umpan Boiler

No. Parameter Satuan Tekanan, psi


0-150 150-250 250-400 >400
1 Turbiditas NTU 20 10 5 1
2 Warna - 80 40 5 2
3 Oksigen Mg/l 1,5 0,1 0 0
terlarut
4 Hidrogen Mg/l 5 3 0 0
sulfida
5 Kesadahan Mg/l 80 40 10 2
total (CaCO3)
6 Silica (SiO2) Mg/l 40 20 5 0
7 Bikarbonat Mg/l 50 30 5 0
8 Karbonat Mg/l 200 100 40 20
9 Hidroksida Mg/l 50 40 30 15
10 Total padatan Mg/l 500- 500- 100- 50
3000 2500 1500
11 Ph minimum - 8,0 8,4 9,0 9,6

Tabel 3. Persyaratan Kualitas Air Boiler

No. Parameter Satuan Tekanan, psi


150 300 600 900
1 Ph - 8,2-8,5 8,2-8,5 8,2-8,5 8,2-8,5
(kondensat)
2 Alkalinitas P Ppm 250-500 100-250 75-200 75-125
3 Alkalinitas M CaCO3 <2p <2p 20-40 15-28
4 Phosfat 30-60 30-60 3 2
5 Besi Ppm 10 5 3000 2000
Fe3+
6 TDS Ppm 4000 3500 30 10
7 Silika Ppm 100 50 - -
SiO2

Persyaratan kualitas air boiler menurut American Boiler Manufacturer’s


Assosiation (ABMA) dan ASME pada tabel berikut.

Tabel 4. Persyaratan Kualitas Air Boiler (ABMA)

Tekanan Total Total Suspended Silica Konduktivitas


(psig) solids alkalinitas solid (ppm) (ppm) Micro.ohm/cm
(ppm) (ppm)
0-300 3500 700 300 150 7000
301-450 3000 600 250 90 6000
451-600 2500 500 150 40 5000
601-750 2000 400 100 30 4000
751-900 1500 300 60 20 3000
901-1000 1250 250 40 8 2000
1001-1500 1000 200 21 2 150
1501-2000 750 150 10 1 100
Sumber : Pullman Kellogs (1980)

Air kondensat biasanya dikembalikan lagi ke tangki umpan untuk


menghemat pemakaian air, tetapi kualitas air kondensat tersebut harus memenuhi
persyaratan seperti pada tabel berikut.

Tabel 5. Persyaratan Air Kondensat

No. Parameter Satuan Nilai


1 Konduktivitas Micro/ohm 10
2 Total Dissolved Solid Mg/l 5
3 Total Solid Suspended Solid Mg/l 0,5
4 Total Silika Mg/l 0,05
5 Total Besi Mg/l 0,1
6 Total Copper Mg/l 0,02
7 CO2 Mg/l 1
8 Chloride Mg/l 0,01
9 Organic Mg/l 0,01
Sumber : Pullman Kellogs (1980) : Untuk boiler tekanan menengah (600-900
psig)

Penggunaan air umpan ketel (boiler) yang tidak memenuhi persyaratan


akanmenimbulkan beberapa masalah, antara lain :
1. Terjadinya Korosi
Pengertian korosi secara sederhana adalah perubahan kembali logam
menjadi bentuk bijihnya. Proses korosi sebenarnya merupakan proses
elektrokimia yang rumit dan kompleks. Korosi dapat menimbulkan kerusakan
yang luas pada permukaan logam.
Penyebab utama timbulnya korosi, antara lain :
a. pH air yang rendah
b. Gas-gas yang terlarut dalam air seperti : O2, CO2, dan lain-lain
c. Garam-garam terlarut dan padatan tersuspensi.

Kontak antara permukaan logam dan air menyebabkan terjadinya reaksi korosi
sebagai berikut :

Fe + 2 H2O ↔ Fe(OH)2 + H2

Reaksi di atas pada suatu saat akan mencapai keadaan kesetimbangan dan
korosi tidakakan berlanjut; akan tetapi adanya oksigen terlarut dan pH air
yang rendah akanmengakibatkan terganggunya kesetimbangan dan reaksi
bergeser ke sebelah kanan.
Reaksi yang terjadi akibat adanya oksigen dan pH yang rendah adalah sebagai
berikut :
4 Fe(OH)2 + O2 + 2 H2O ↔ Fe(OH)3
2 H2 + O2 ↔ 2 H2O
Fe(OH)2 + 2 H+ ↔ Fe2+ + 2 H2O

Pergeseran arah reaksi korosi ke sebelah kanan menyebabkan berlanjutnya


peristiwakorosi pada logam-ketel.Alkalinitas yang rendah dan adanya garam-
garam dan padatanterlarut dalam air dapat membantu terjadinya korosi.

2. Pembentukan Kerak
Pengerakan pada sistem boiler :
a. Pengendapan hardness feed water dan mineral lainnya
b. Kejenuhan berlebih dari partikel padat terlarut (TDS) mengakibatkan
tegangan permukaan tinggi dan gelembung sulit pecah
c. Kerak boiler yang lazim : CaCO3, Ca3 (PO4)2, Mg(OH)2, MgSiO3, SiO2,
Fe2(CO3)3, FePO4.
Tabel 6. Macam-macam Kerak pada Ketel (Boiler)

Senyawa Nama Menurut Rumus Senyawa


Mineralogi
Kalsium karbonat Calcite/aragonite CaCO3
Kalsium sulfat Anhydrite CaSO4
Magnesium Brucite Mg(OH)2
hidroksida
Basic calcium Hydroxypatite 3Ca3(PO4)2. Mg(OH)2
phosphate
Magnesium - Mg3(PO4)2. Mg(OH)2
hydroxyphospat
Besi Oksida Hematite, gaothit Fe2O3. FeOOH
Kalsium dan Serpentin 3MgO. 2SiO2. 2H2O
Magnesium
Silikat Analcite Na2O. Al2O3. 4SiO2.
2H2O

3. Endapan
Pembekuan material non mineral pada boiler, umumnya berasal dari:
a. Oksida besi sebagai produk korosi
b. Materi organic (kotoran-bio, minyak dan getah). Boiler bersifat alkalinity
jika terkena gliserida maka akan terjadi reaksi penyabunan
c. Partikel padat tersuspensi dari feedwater (tanah endapan dan pasir)
Dari peristiwa-peristiwa ini mengakibatkan terbentuknya deposit pada
pipa superheater, menyebabkan peristiwa overheating dan pecahnya pipa,
terbentuknya deposit pada sirip turbin, menyebabkan turunnya effisiensi.

4. Pembentukan Busa
Pembentukan busa (foaming) adalah peristiwa pembentukan gelembung-
gelembung di atas permukaan air dalam drum boiler. Penyebab timbulnya
busa adalah adanya kontaminasi oleh zat-zat organik atau zat-zat kimia yang
ada dalam air ketel tidak terkontrol dengan baik.Busa dapat mempersempit
ruang pelepasan uap-panas (steam-release space) dan dapat menyebabkan
terbawanya air serta kotoran-kotoran bersama-sama uap air.Kerugian yang
dapat ditimbulkan oleh hal ini adalah terjadinya endapan dan korosi pada
logam-logam dalam sistem ketel.Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu
diterapkan persyaratan terhadap air umpan ketel. Persyaratan tersebut
bergantung kepada tekanan kerja ketel seperti terlihat di tabel berikut:

Tabel 7. Persyaratan Air Ketel pada Berbagai Tekanan Kerja

Tekanan Padatan Total Alkalinitas Padatan Silika


Ketel (ppm) (ppm) Tersuspensi (ppm)
(psig)
0-300 3500 700 300 125
301-450 3000 600 250 90
451-600 2500 500 150 50
601-750 2000 400 100 35
751-900 1500 300 60 20
901-1000 1250 250 40 8
1001-1500 1000 200 20 2.5
1501-2000 750 150 10 1.0
>2000 500 100 5 0.5

1.4 Pengolahan Air Umpan Boiler


1) Pengolahan Air Umpan Ketel (Boiler) Secara Umum
Sebelum digunakan sebagai umpan air yang berasal dari berbagai jenis
sumber diolah dengan menggunakan metoda eksternal dan internal. Setelah
mengalami pengolahan pendahuluan (pengolahan eksternal), air umpan boiler
harus mengalami pengolahan khusus.
Pengolahan ini menggunakan berbagai macam zat kimia, yang diinjeksikan
ke air umpan boiler. Penambahan bahan kimia ini diharapkan dapat digunakan
untuk mencegah berbagai akibat yang dapat merugikan performansi kerja dari
ketel.
Penambahan bahan-bahan kimia pada air umpan boiler merupakan proses
yang esensial, terlepas dari kenyataan apakah air itu diolah atau tidak sebelumnya.
Oleh karena itu, pengolahan eksternal dalam beberapa hal tidak diperlukan,
sehingga air dapat langsung digunakan setelah penambahan beberapa bahan-
bahankimia saja.
Contoh penambahan bahan-bahan kimia pada air umpan ketel tanpa harus
mengalami pengolahan terlebih dahulu adalah:
a. Apabila ketel beroperasi pada tekanan rendah atau sedang
b. Apabila sejumlah besar kondensat digunakan kembali sebagai air umpan
c. Atau bila air baku yang digunakan untuk air umpan ketel telah memiliki
kualitas yang baik.

Proses pengolahan air dengan penambahan bahan-bahan kimia ini memiliki


beberapa kesulitan. Kesulitan yang utama adalah adalah bila kesadahan air umpan
sangat tinggi sehingga banyak lumpur yang terbentuk. Hal ini dapat menaikkan
jumlah blow down. Pengolahan air umpan ketel dengan penambahan bahan-bahan
kimia yang dilakukan tanpa pengolahan pendahuluan (pengolahan eksternal) juga
memperbesar kemungkinan pembentukan kerak pada sistem sebelum ketel dan
pada saluran-saluran air umpan.

2) Pengolahan Air Sungai untuk Boiler


Untuk mencegah terjadinya masalah-masalah yang timbul pada boiler (air
sungai) yang akan digunakan sebelum masuk ke boiler, pengolahan air pada boiler
meliputi:
1. Pengolahan Eksternal
Pengolahan eksternal digunakan untuk membuang padatan tersuspensi,
padatan terlarut (terutama ion kalsium dan magnesium yang merupakan
penyebab utama pembentukan kerak) dan gas-gas terlarut (oksigen dan karbon
dioksida).
Proses perlakuan eksternal yang ada adalah:
 Pertukaran ion
 De-aerasi (mekanis dan kimia)
 Osmosis balik
 Penghilangan mineral atau demineralisasi
Sebelum digunakan cara diatas, perlu membuang padatan dan warna dari
bahan baku air, sebab bahan tersebut dapat mengotori resin yang digunakan
pada bagian pengolahan berikutnya.
Metode pengolahan awal adalah sedimentasi sederhana dalam tanki
pengendapan atau pengendapan dalamclarifier dengan bantuan keagulan dan
flokulan. Penyaring pasir bertekanan, dengan aerasi untuk menghilangkan
karbon dioksida dan besi, dapat digunakan untuk menghilangkan garam-
garam logam dari air sungai.
Tahap pertama pengolahan adalah menghilangkan garam sadah dan garan
non-sadah. Penghilangan hanya garam sadah disebut pelunakan, sedangkan
penghilangan total garam dari larutan disebut penghilangan mineral atau
demineralisasi. Proses pengolahan eksternal dijelaskan dibawah ini.
a. Proses Pertukaran Ion (Plant Pelunakan)
Pada proses pertukaran ion, kesadahan dihilangkan dengan melewatkan air
pada bed zeolit alam atau resin sintetik dan tanpa pembentukan endapan. Jenis
paling sederhana adalah pertukaran basa dimana ion kalsium dan magnesiun
ditukar dengan ion sodium. Setelah jenuh, dilakukan regenerasi dengan
sodium klorida. Garam sodium mudah larut, tidak membentuk kerak dalam
boiler. Dikarenakan penukar basa hanya menggantikan kalsium dan
magnesium dengan sodium, maka tidak mengurangi kandungan TDS, dan
besarnya blowdown. Penukar basa ini juga tidak menurunkan alkalinitasnya.
Demineralisasi merupakan penghilangan lengkap seluruh garam. Hal ini
dicapai dengan menggunakan resin kation, yang menukar kation dalam air
baku dengan air hidrogen menghasilkan asam hidroklorida, asam sulfat dan
asam karbonat. Asam karbonat dihilangkan dalam menara degassing dimana
udara dihembuskan melalui air asam. Berikutnya, air melewati resin anion,
yang menukar anion dengan asam mineral (misalnya asam sulfat) dan
membentuk air. Regenerasi kation dan anion perlu dilakukan pada jangka
waktu tertentu dengan menggunakan asam mineral dan soda kaustik.
Penghilangan lengkap silika dapat dicapai dengan pemilihan resin anion yang
benar. Proses pertukaran ion, jika diperlukan dapat digunakan untuk
demineralisasi yang hampir total, seperti untuk boiler pembangkit tenaga
listrik.

Berdasarkan tipe bed (unggun) dari resin penukar ion:


 Tipe bed campuran
 Tipedua bed satu degasifikasi
 Tipe empat bed satu degasifikasi
Berdasarkan cara regenerasi:
 Regenerasi aliran searah
 Regenerasi aliran berlawanan arah
 Regenerasi berkesinambungan
Resin yang digunakan untuk penukar ion harus mempunyai struktur
dimana radikal penukar ion nya terikat pada struktur polimer.
Resin penukar ion dibedakan menjadi:
1. Resin Penukar Kation
 resin yang berkombinasi dengan gugus sulfo ( -SO3H) disebut resin
penukar kation asam kuat
 resin yang berkombinasi dengan gugus carboxyl (-COOH) disebut
resin penukar kation asam lemah
2. Resin Penukar Anion
 resin yang berkombinasi dengan gugus quartenary ammonium,
disebut resin penukar anion basa kuat
 resin yang berkombinasi dengan gugus amina tersier, sekunder, primer
(-NH2, -NHR, -NR2), disebut resin penukar anion basa lemah.

Pengolahan dengan penukar ion dapat dibagi menjadi:


1. Pelunakan Air Sederhana
Tujuan untuk menghilangkan kesadahan dalam air.
Resin penukar ion yang digunakan adalah senyawa Na+ dari penukar
kation asam kuat.
Reaksi yang terjadi:
R(-SO3Na)2 + Ca(HCO3)2 → R(-SO3)2Ca + 2NaHCO3
R(-SO3Na)2 + MgSO4 → R(-SO3)2Mg + 2Na2SO4
Resin penukar ion yang telah kehilangan daya tukar nya dpt digunakan
kembali setelah diregenerasi dengan menggunakan larutan NaCl 10%
Reaksi pada saat regenerasi:
R(-SO3)2Ca + 2NaCl → R(-SO3Na)2 + CaCl2
R(-SO3)2Mg + 2NaCl → R(-SO3Na)2 + MgCl2

2. Pelunakan air dengan de-alkalisasi


Pelunakan dengan resin Na dan H
Reaksi yang terjadi:
Bed H : R(-SO3H)2 + Ca(HCO3)2 →R(-SO3)2Ca+ 2H2O+ CO2
R(-SO3H)2 + MgSO4 → R(-SO3)2Mg +H2SO4
R-SO3H + NaCl → R-SO3Na + HCl
Bed Na : R(-SO3Na)2 + Ca(HCO3)2 → R(-SO3)2Ca + 2NaHCO3
R(-SO3Na)2 + MgSO4 → R(-SO3)2Mg + 2Na2SO4
Campuran: HCl + NaHCO3 → NaCl + CO2 + H2O
H2SO4 + 2 NaHCO3 → Na2SO4 + 2 CO2+ 2 H2O
Regenerasi:
Bed Na denganlarutanNaCL 10%
Bed H denganlarutan HCl

3. Pengolahan air bebas mineral (demineralisasi)


a) Demineralisai dengan bed campuran resin
Metode ini dikerjakan dengan melewatkan air baku ke dalam tabung
yang berisi resin penukar kation asam kuat bentuk H+ dan resin penukar
anion basa kuat bentuk OH- yang dicampur secara homogen.
Reaksi yang terjadi:
R(-SO3H)2 + Ca(HCO3)2 → R(-SO3)2Ca + H2CO3
R(-SO3H)2 + MgSO4 → R(-SO3H)2Mg + H2SO4
R-SO3H + NaCl → R-SO3Na + HCl
R= NOH + H2CO3 → R= NHCO3 + H2O
R (= NOH)2 + H2SO4 → R(=N)2SO4 + 2 H2O
R= NOH + HCl → R=NCl + H2O
R= NOH + H2SiO3 → R=NHSiO3 + H2O
Regenerasi:
Resin dipisah menjadi lapisan resin penukar kation dan resin
penukar anion, kemudian lapisan Pertama diregenerasi dengan
larutanHCl 4-10% dan yang kedua dengan larutan NaOH 2-5%.

b) Demineralisasi dengan 2 bed 1 degasifikasi


Sistem ini terdiri dari:
 Tabung kation yang berisi bed-H asam kuat
 Alat degasifikasi
 Tabung anion berisi bed-OH basakuat
Proses demineralisasi:
Air baku dialirkan ke dalam tabung kation untuk menukar kation dalam
air dengan ion hidrogen (H+), CO2 dihilangkan dalam unit penghilang
karbon (alat degasifikasi), air kemudian dialirkan ke tabung anion untuk
menukar anion dengan ion hidroksil (OH-).

c) Demineralisasi dengan 4 bed 1 degasifikasi


Sistem ini merupakan pengembangan darisistem 2 bed 1 degasifikasi
dengan menambahkan bed-H dan bed-OH. Sistem ini dapat
mengurangi jumlah regeneran yang digunakan, waktu regenerasi, dan
jumlah air regenerasi yang digunakan.
Gambar 2. Resin Penukar Ion

b. De-aerasi
Dalam de-aerasi, gas terlarut seperti oksigen dan karbon dioksida, dibuang
dengan pemanasan air umpan sebelum masuk ke boiler. Seluruh air alam
mengandung gas terlarut dalam larutannya. Gas-gas tertentu seperti karbon
dioksida dan oksigen, sangat meningkatkan korosi. Bila dipanaskan dalam
sistem boiler, karbon dioksida (𝐶𝑂2) dan oksigen (𝑂2) dilepaskan sebagai gas
dan bergabung dengan air (𝐻2 O) membentuk asam karbonat (𝐻2 𝐶𝑂3).
Penghilangan oksigen, karbon dioksida dan gas lain yang tidak dapat
terembunkan dari air umpan boiler sangat penting bagi umur peralatan boiler
dan juga keamanan operasi. Asam karbonat mengkorosi logam menurunkan
umur pemipaan dan peralatan. Asam inijuga melarutkan besi (Fe) yang jika
kembali ke boiler akan mengalami pengendapan dan menyebabkan terjadinya
pembentukan kerak pada boiler dan pipa. Kerak ini tidak hanya berperan
dalam penurunan umur peralatan tapi juga meningkatkan jumlah energi yang
diperlukan untuk mencapai perpindahan panas.
De-aerasi dapat dilakukan dengan de-aerasi mekanis, de-aerasi kimiawi,
atau dua-duanya. De-aerasi mekanis untuk penghilangan gas terlarut
digunakan sebelum penambahan bahan kimia untuk oksigen. De-aerasi
mekanis didasarkan pada hukum fisika Charles dan Henry. Secara ringkas
hukum tersebut menyatakan bahwa penghilangan oksigen dan karbon dioksida
dapat disempurnakan dengan pemanasan air umpan boiler, yang akan
menurunkan konsentrasi oksigen dan karbon dioksida di sekitar atmosfer air
umpan. De-aerasi mekanis dapat menjadi yang paling ekonomis, beropasi
pada titik didih air pada tekanan dalam de-aerator. De-aerasi mekanis dapat
berjenis vakum atau bertekanan. De-aerator berjenis vakum beroperasi
dibawah tekanan atmosfer, pada suhu sekitar 820 C, dan dapat menurunkan
kandungan oksigen dalam air hingga kurang dari 0,02 mg/liter. Pompa vakum
atau steam ejector diperlukan untuk mencapai kondisi vakum. De-aerator jenis
bertekanan beroperasi dengan membiarkan steam menuju air umpan melalui
klep pengendali tekanan untuk mencapai tekanan operasi yang dikehendaki,
dan dengan suhu minimum 1050 C. Steam menaikkan suhu air menyebabkan
pelepasan gas 𝑂2 dan 𝐶𝑂2 yang dikeluarkan dari sistem. Jenis ini dapat
mengurangi kadar oksigen hingga 0,005 mg/liter.

Gambar 3. Dearator
Bila terdapat kelebihan steam tekanan rendah, tekanan operasi dapat dipilih
untuk menggunakan steam ini sehingga akan meningkatkan ekonomi bahan
bakar. Dalam sistem boiler, steam lebih disukai untuk de-aerasi sebab:
 Steam pada dasarnya bebas dari 𝑂2 dan 𝐶𝑂2
 Steam tersedian dengan mudah
 Steam menambah panas yang diperlukan untuk melengkapi reaksi

De-aerasi Kimiawi
Sementara de-aerator mekanis yang paling efisien menurunkan oksigen
hingga ke tingkat yang sangat rendah (0,005 mg/liter), namun jumlah oksigen
yang sangat kecil sekalipun dapat menyebabkan bahaya korosi terhadap
sistem. Sebagai akibatnya, praktek pengoperasian yang baik memerlukan
penghilangan oksigen yang sangat sedikit tersebut dengan bahan kimia
pereaksi oksigen seperti sodium sulfat yang akan meningkatkan TDS dalam
air boiler dan meningkatkan blowdown dan kualitas air make-up. Hydrasin
bereaksi dengan oksigen membentuk nitrogen dan air. Senyawa tersebut selalu
digunakan dalam boiler tekanan tinggi bila diperlukan air boiler dengan
padatan yang rendah, karena senyawa tersebut tidak meningkatkan TDS air
boiler.

Osmosis Balik
Osmosis balik menggunakan kenyataan bahwa jika larutan dengan
konsentrasi yang berbeda-beda dipisahkan dengan sebuah membran semi-
permeable, air dari larutan yang berkonsentrasi lebih kecil akan melewati
membran untuk mengencerkan cairan yang berkonsentrasi tinggi. Jika cairan
yang berkonsentrasi tinggi tersebut diberi tekanan, prosesnya akan dibalik dan
air dari larutan yang berkonsentrasi tinggi mengalir kelarutan yang lebih
lemah. Hal ini dikenal dengan osmosis balik.
Gambar 4. Osmosis Balik
Kualitas air yang dihasilkan tergantung pada konsentrasi larutan pada sisi
tekanan tinggi dan perbedaan tekanan yang melintasi membran.
2. Pengolahan Internal
Pengolahan internal adalah pengolahan terhadap air umpan boiler, air
boiler, uap (steam) ataupun air pengisi atau dengan memperbaiki keadaan
kimianya, hal ini dapat dilakukan dengan penambahan fosfat, natrium klorida,
dan hidrazin.
Pengolahan mineral dilakukan untuk menghindari pembentukan kerak dan
korosi pada boiler selama pengoperasian boiler. Sistem pengolahan internal
adalah:
a) Air yang telah melewati pengolahan eksternal atau air yang telah bebas
dari mineral ditampung pada bak penampungan (mixing tank).
b) Air lalu dipompakan dan dialirkan ke economizer. Economizer ini
mempunyai fungsi sebagai pemanas awal feed waterdari bawah ke atas
yang diteruskan ke drum boiler, lalu drum boiler digunakan untuk
mengatur sirkulasi air dari uap (steam) yang dihasilkan oleh pipa-pipa
penguapan. Di dalam drum ini terdapat sperator yang berfungsi untuk
memisahkan steam dan air.
c) Air dari drum boiler dipanaskan lebih lanjut di superheater. Superheater
berfungsi untuk menaikkan temperatur uap (steam) yang dihasilkan uap
drum dengan memanfaatkan panas dari steam drum. Uap (steam) masuk
ke superheater 1 dari temperatur 3550 C lalu dialirkan ke superheater 2 dan
dinaikkan temperaturnya sampai 3800 C dengan cara menginjeksikan feed
water. Kemudian uap masukke superheater 3 dengan temperatur 4800 C
lalu dikirim ke turbin sehingga menghasilkan energi mekanik (energi
gerak) selanjutnya generator akan merubahnya menjadi energi listrik.

Macam-macam Internal Treatment:


1. Menghilangkan Oksigen
Tujuan: menghilangkan sisa oksigen yang masih terikut ke dalam boiler.
Caranya adalah dengan menambahkan bahan kimia seperti: Sodium Sulfit,
Hydrazin, Hydroquinon
Reaksi yang terjadi:
Na2SO3 + ½ O2 → Na2SO4
N2H4 + O2 → 2 H2O + N2
C6H4(OH)2 + ½ O2 → C6H4O2 + H2O
C6H4O2 + O2 → Polyquinon
Pemilihan bahan kimia tergantung tekanan boiler.
 Boiler tekanan rendah digunakan Sodium Sulfit
 Boiler tekanan tinggi digunakan Hydrazinatau Hydroquinon

2. Mencegah terbentuknya kerak


Bahan kimia pencegah kerak berfungsi:
 Mencegah terbentuknya kerak
 Mengatur pH air boiler untuk mencegah korosi
Penambahan bahan kimia dimaksudkan untuk menghilangkan sisa CaCO3
yang masih terikut. Bahan kimia yang dapat digunakan: NaOH, Na3PO4,
K3PO4, Na2HPO4.

1.5 Perlakuan Terhadap Kondensat (Condensate Treatment)


Perlakuan terhadap kondensat mencakup pengendalian korosi di system
kondensat dan perbaikan mutu kondensat (condensate polishing). Sekalipun
kondensat yang diumpankan kembali relatif murni, tetapi mungkin masih
mengandung impurities dari hasil proses korosi, dan erosi, baik yang larut
maupun yang tidak larut. Impurities tersebut dapat berupa mineral-mineral,
kesadahan dan minyak. Condensate polishing dimaksudkan untuk
meminimumkan jumlah impurities tersebut agar dapat mencegah pembentukan
kerak pada ketel dan turbin, dan meminimumkan pengaruh korosif. Tahap
perbaikan kondensat merupakan kombinasi dari tahap filtrasi dan pertukaran ion.
Sistem pertama yang dipakai adalah sistem filtrasi dan pertukaran ion secara
terpisah. Filtrasi digunakan untuk menyaring pengotor tersuspensi dan minyak.
Tahap filtrasi saja sudah cukup memadai jika dipakai untuk menyaring
impurities pada saat start-up dan operasi normal. Tetapi jika terjadi kebocoran
pada pipa kondensat dan padatan terlarut banyak memasuki kondensat, tahap
filtrasi saja tidak cukup dan dibutuhkan sistem demineralisasi (mix-bed
demineralizer) untuk operasi perbaikan. Alternatif lain yang dapat dipakai adalah
penggunaan tahap filtrasi dan demineralisasi dalam satu alat.

1.6 Pengolahan Air Umpan Boiler PT. Petrokimia Gresik


Kebutuhan air di PT. Petrokimia Gresik beserta anak-anak perusahaan dan
perumahan dipenuhi oleh dua unit air yang berasal dari dua sumber, yaitu dari
Babat dan Gunung Sari.

Water Intake Babat


 Berasal dari sungai Bengawan Solo (Babat) yang berjarak 40 km dengan debit
2500 m3/jam.
 Berupa hard water dan ditampung di tangki TK 191 dan TK 951 yang
berkapasitas 1500 m3.
 Karakteristik bahan baku air :
 Jenis = hard water
 pH = 7 – 8,5
 Turbiditas = 5000 NTU
 Kesadahan total = > 170 ppm
 Kesadahan Ca = 0,4 – 1 ppm
 Mutu air yang diharapkan setelah dilakukan pengolahan :
a. Jenis = hard water
b. pH = 7,5 – 8,5
c. Turbiditas = maks. 3 NTU
d. Kesadahan = maks. 220 ppm
e. Residual = 0,4 – 1 ppm

Tahap-tahap proses pengolahan air di Babat secara umum, yaitu :

1. Penghisapan, dilengkapi dengan pompa vacuum. Pemakaian system ini


disebabkan ketinggian permukaan air sungai tidak tetap
2. Penyaringan, menggunakan Coarse dan Fine Screen untuk menyaring
kotoran berukuran besar
3. Pengendapan, dilakukan secara gravitasi menggunakan settling pit untuk
mengendapkan partikel yang tersuspensi dalam air. Faktor yang
mempengaruhi adalah laju alir dan waktu tinggal
4. Flokulasi dan koagulasi, untuk mengendapkan suspensi partikel koloid yang
tak terendapkan karena ukurannya sangat kecil. Bahan kimia yang digunakan
pada proses ini, yaitu :
a. (FeCl3.6H2O 10%-w), sebagai koagulan untuk mempercepat proses
pengendapan dengan membentuk flok lebih cepat dan lebih besar.
b. Alum, sebagai flokulan untuk mengikat partikel-partikel kecil yang
menyebabkan keruhnya air menjadi flok-flok yang lebih besar.
c. Kapur (CaCO3), sebagai pengatur pH.
5. Filtrasi, menggunakan saringan pasir silica (sand filter) untuk menyaring
padatan tersuspensi.
6. Penampungan dan pemompaan, dilakukan dengan pompa sentrifugal.

Dalam penggunaan air yang dikirim dari dua unit pengolahan di atas
dipakai sebagai :

1) Air Proses
 Merupakan air demineralisasi yang bebas dari mineral seperti ion positif
dan ion negatif yang dapat merusak alat dan mengganggu proses
 Proses : menggunakan resin penukar kation dengan larutan regenerasi
asam sulfat 2 – 4 % dan resin penukar anion dengan larutan regenerasi
NaOH 4 %.

2) Air Umpan Boiler


 Merupakan air demineralisasi dan bebas dari gas O2, CO2 yang bersifat
korosif. Penghilangannya dengan cara deaerasi.
 Air demin yang bebas dari gas O2 dan CO2 harus ditambahkan zat kimia
seperti senyawa fosfat untuk menghindari terbentuknya kerak dan hidrazin
(N2H4) untuk menghilangkan gas O2 serta pengatur pH
3) Air Pendingin
Menambahkan bahan kimia seperti senyawa fosfat untuk mencegah korosi.
Senyawa Cl2 sebagai antibiocide, asam sulfat sebagai pencegah terjadinya
kerak, pengatur pH, dan mencegah pengendapan lumpur.

4) Air Minum
Syarat kualitas air minum yaitu tidak berbau, jernih, tidak mengandung
bakteri, tidak berwarna, pH sekitar 7,5. Digunakan untuk keperluan sanitasi
pabrik, kantor, dan perumahan dinas PT. Petrokimia Gresik.

5) Air Hidran dan Air Service


Air Hidran digunakan sebagai pemadam kebakaran, sedangkan air service
digunakan sebagai sarana kebersihan pabrik.

6) Proses Water
Dipergunakan untuk keperluan proses pabrik.

7) Cooling Water
Dipergunakan untuk sarana pendingin mesin pabrik, proses produksi pabrik,
dan air conditioner.

8) Demin Water
Dipergunakan untuk bahan baku pembuatan steam.

Sistem pengolahan air dari raw water (hard water) menjadi air sesuai
spesifikasinya ada beberapa tahap, yaitu :

1. Unit Pelunakan Air (Lime Softening Unit)


 Berfungsi untuk memproses hard water menjadi soft water dengan
penambahan larutan kapur dan elektrolit.
 Prosesnya dilakukan dengan kapasitas 300 m3/jam.
 Spesifikasi produk yang diharapkan setelah pengolahan di LSU :
a. pH = 9 - 10
b. Turbiditas = maks. 3 NTU
c. Kesadahan = maks. 80 ppm CaCO3
 Reaksi kimia sederhana yang terjadi :
Ca(HCO3) + Ca(OH)2 → CaCO3 + H2CO3
H2CO3 → H2O + CO2
Ca(HCO3) + Ca(OH)2 → CaCO3 + H2O+CO2
Dengan pelepasan Ca(HCO3) maka total hardness < 80 ppm (soft water).

2. Demineralizing Plant
1) Memproses soft water menjadi demineralizing water (demin water), yaitu
air bebas mineral penyebab pengerakan dalam air boiler dan air proses.
2) Demin Plant I mempunyai kapasitas 100 m3/jam, sedangkan Demin Plant
II mempunyai kapasitas 200 m3/jam.
3) Terdiri dari :
a. Carbon Filter
Air umpan dimasukkan ke dalam carbon filter, dimana carbon filter
tersebut menurunkan turbidity soft water menjadi 2 NTU serta kotoran
padatan (impurities) dari umpan diserap.
b. Cation Exchanger
 Air dari carbon filter dimasukkan ke dalam Cation Exchanger dari
atas. Di dalam Cation Exchanger, garam-garam Na, Ca, Mg, dan Ba
diabsorp oleh resin kation.
 Reaksi pada normal operasi :
RH2 + 2NaCl → RNa2 + 2HCl
RH2 + CaCO3 → RCa + H2CO3
RH2 + BaCl → RBa + 2HCl
 Resin akan jenuh setelah bekerja ± 36 jam yang ditunjukkan dengan
:
a) kenaikkan anion
b) konduktivitas
c) FMA (Free Mineral Acid)
d) kenaikkan pH
e) Na serta total hardness lebih besar dari 0

 Karena resin kation telah jenuh maka perlu diregenerasi selama 4


jam dengan larutan H2SO4 2% dan 4%. Reaksi yang terjadi :
RNa2 + H2SO4 → RH2 + Na2SO4
RCa + H2SO4 → RH2 + CaSO4
RBa + H2SO4 → RH2 + BaSO4

 Spesifikasi air yang keluar dari Cation Exchanger :


a. pH = ±3
b. Total hardness = 0
c. FMA = konstan

c. Degasifier
Keluar dari Cation Exchanger, air kemudian di-spray dari atas dan
dikontakkan dengan udara terkompresi oleh blower dari bawah. Untuk
meringankan beban kerja unit degasifier, maka diberi vent untuk gas-
gas tersebut.

d. Anion Exchanger
a. Berfungsi untuk mengikat ion-ion negatif yang terkandung di dalam
air.
b. Dari bagian bawah degasifier, air dipompa masuk ke dalam Anion
Exchanger. Pada proses ini, sisa asam diikat (diabsorp) oleh resin
anion Castel A 500 P. Reaksi yang terjadi :
R(OH)2 + H2SO4 → RSO4 + 2H2O
R(OH)2 + HCl → RCl2 + 2H2O
R(OH)2 + H2CO3 → RCO3 + 2H2O
c. Resin akan jenuh setelah beroperasi ± 40 jam dengan indikasi :
a) kadar silika lebih dari 0,1 ppm
b) pH air yang keluar turun, di bawah ± 7
c) konduktivitas turun drastis, maks. 5 µS/cm

Karena resin anion telah jenuh maka perlu diregenerasi selama


4,5 jam dengan larutan Caustic Soda (NaOH) 4%. Reaksi yang
terjadi :
RSO4 + 2NaOH → R(OH)2 + Na2SO4
RCl2 + 2NaOH → R(OH)2 + 2NaCl
RCO3 + 2NaOH → R(OH)2 + Na2CO3

e. Mixed-Bed Exchanger
1. Berfungsi menyerap ion positif dan ion negatif yang masih lolos
dari Cation maupun anion Exchanger.
2. Prinsip dari proses ini berdasarkan pada perbedaan berat jenis,
dimana resin anion berada di lapisan atas dan resin kation berada di
lapisan bawah.
3. Resin pada Mixed-Bed Exchanger dapat mengalami kejenuhan
setelah beroperasi selama ± 3 bulan dengan indikasi :
a) konduktivitas semakin naik
b) kadar silika lebih besar dari 0,1 ppm
c) total hardness lebih besar dari 0,1 ppm
d) pH cenderung semakin naik atau semakin turun (pada batas
katioon dan anion)
Spesifikasi air yang keluar dari Mixed-Bed Exchanger :
a) pH = 7,5
b) konduktivitas = > 2,0 µS/cm
c) kadar silika = > 0,1 ppm
d) Total hardness = >0
1. Jenis resin yang digunakan PT. Petrokimia Gresik Utilitas:
1) Cation Resin
a. Castel - C-300
b. Diaion - SK 1 B
c. Dowex - HCRS
d. Lewatit - Monoplus S-100
2) Anion Resin
a. Castel - A 500 P
b. Diaion - PA -312
c. Dowex - SBRP
d. Lewatit - Monoplus MP-500

2. Di servis unit pabrik amoniak terdapat unit demineralisasi air


dengan air umpan yang berasal dari steam kondensat dari pabrik
amoniak dan unit demineralisasi utilitas I, yang terdiri dari carbon
filter, cation exchanger, dan mixed-bed exchanger (polisher).
Berikut spesifikasi produk unit demineralisasi :
a) pH = 7-8
b) total hardness = 0
c) kadar silika = < 0,01 ppm

Air ini digunakan untuk air umpan pada Waste Heat Boiler (WHB)
dan air proses di pabrik amoniak dan urea.

1.7 Pengolahan Air Umpan Boiler PT. Pupuk Sriwidjaja (PT.PUSRI)


Air umpan demin plant dengan laju alir total sekitar 180 ton/jam adalah
berupa air bersih dan Filtered Water Storage Tank yang dipompakan oleh 4204-
JT/JM dan kondensat proses dari Pabrik Amoniak telah dikurangi kandungan NH3
dan CO2 terlebih dahulu pada Condensate Stripper (4201-E). Kemudian air
dialirkan ke carbon filter untuk menghilangkan Cl2, Oil, bau, warna dan rasa.
Media carbon filter adalah anthrafield dan activated carbon dengan jumlah dan
ukuran tertentu.
Dari outlet carbon filter, air bersih mengalir ke unit cation exchanger untuk
dihilangkan/dikurangi kandungan ion-ion positifnya, seperti Ca+2. Mg+2, Na+, K+,
Fe+2, Mn+2, Al+3. Reaksi yang terjadi, yaitu:

Na2SiO3 + H2Z  Na2Z + 2H+ + SiO3-

Apabila total gallon tertentu sudah tercapai atau conductivity telah mencapai
> 0,25 mmhos, resin harus segera diregenerasi dengan H2SO4. Reaksi regenerasi
resin yang terjadi,

Na2Z + H2SO4 H2Z + Na2SO4

Air selanjutnya dialirkan ke unit Anion Exchanger untuk diserap/ditukar ion


negatifnya, seperti HCO3-, SO4-2, Cl- , NO3-, SiO3-. Reaksi yang terjadi,

H2SiO3 + 2ROH  R2SiO3 + 2H2O

Apabila total gallon tertentu sudah tercapai atau silica telah > 0,05 ppm,
resin harus segera diregenerasi dengan NaOH. Reaksi regenerasi resin yang
terjadi,

R2SiO3 + 2NaOH  2ROH + Na2SiO3

Diagram alir Demin Plant dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Diagram Alir Demin Plant PT.Pupuk Sriwidjaja


Mixed bed exchanger berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa cation dan
anion yang lolos dari cation dan anion exchanger menggunakan resin kation dan
anion yang bercampur dalam satu bejana. Prinsip kerja mixed bed exchanger sama
seperti kerja cation dan anion exchanger.

1.8 Pengolahan Air Umpan Boiler PT. Pertamina (Persero) RU III

Demineralization Plant

Unit ini bertugas untuk menghilangkan kandungan garam mineral yang


terkandung dalam air hasil olahan dari unit WTU. Produk yang dihasilkan adalah
air yang dapat dibilang bebas mineral yang disebut air demin (demin water), air
demin ini yang mempunyai konduktivitas ≤ 1 S/cm dan kandungan silika ≤
0,001 ppm. Air demin digunakan sebagai air umpan boiler, umpan hydrogen
plant. Demin plant mengolah air yang berasal dari RWC I dan WTU SG. Di RU
III terdapat dua buah demin plant, yaitu Demin Plaju yang berkapasitas 320 m3/j
dan Demin Sungai Gerong yang berkapasitas 45 m3/j.

Demin plant terdiri dari empat unit, yaitu :

1. Activated carbon filter, berfungsi untuk mengadsorpsi zat organik,


dekomposisi Cl2 menjadi Cl- serta menghilangkan warna, rasa dan bau.
2. Cation exchanger, berfungsi untuk menghilangkan ion positif (kation).
3. Anion exchanger, berfungsi untuk menghilangkan ion negatif (anion).
4. Mixed bed, berfungsi untuk menghilangkan ion–ion yang tidak dapat
dihilangkan pada dua penukar ion sebelumnya.
Treated water

Air minum Air demineralisasi


Activated Cation Anion Mixed Bed
carbon Filter Exchanger Exchanger

Gambar 6. Diagram Alir Proses Unit Penukar Ion Demineralisasi

Demin Plant mendapatkan feed dari clear well melalui pompa 2200
JA/JB dengan kapasitas @ 290 M3/jam.

Kapasitas desain maksimum Unit adalah 267,5 M3/jam.

Demin Plant terdiri dari :

 Activated Carbon Filter 2000 U-1 A/B/C/D (3 x 50 %).


 Cation Exchangers 2000 U-2 A/B/C/D (3 x 50 %).
 Unit Exchangers 2000 U-3 A/B/C/D (3 x 50 %).
 Mixed Bed Exchanger 2000 U-4 A/B/C/D (3 x 100 %).
 Acid Day Tank 2000 U-5 24 jam.
 Caustic Day Tank 2000 U-6 A/B 2 – 3,5 Hari.
 Pompa Caustic 2000 UJE, UJF 2 x 100 %
 Pompa Acid 2000 UJC, UJD 2 x 100 %
 Tanki Demin Water 2000 F 48 jam.
 Regenerator Air Blower 200 JA, B 2 x 100 %
Demin plant menggunakan resin sebagai penukar ion, resin yang
digunakan merupakan polimer styrene dan Divynil Benzene (DVB). Treated water
dari clear well pertama–tama dilewatkan pada activated carbon filter. Setelah
melawati activated carbon filter air tersebut dapat digunakan sebagai air minum.
Kemudian air dilewatkan pada cation exchanger. Cation exchanger yang
digunakan mempunyai kapasitas 6400 liter. Pada cation exchanger, ion–ion
positif yang terkandung di dalam air seperti Na+, Ca+, Mg2+ akan digantikan oleh
ion H+ dari resin. Air keluaran bed ini mempunyai pH sekitar 3, karena reaksinya
menghasilkan asam. Setelah itu air dilewatkan pada anion exchanger, ion–ion
negatif akan dipertukarkan dengan ion OH- dari resin. Resin penukar anion ini
mempunyai kapasitas 9900 liter. Walaupun telah dilewatkan pada dua penukar
ion, namun air diperkirakan masih mengandung ion–ion garam. Oleh karena itu
pada proses terakhir air dilewatkan pada mixed bed yang merupakan gabungan
penukar ion positif dan negatif. Reaksi pertukaran yang terjadi pada ketiga
penukar ion adalah :

Kation : RH + NaCl  RNa + HCl

Anion : ROH + HCl  RCl + H2O

Setelah digunakan berulang kali maka penukar ion jenuh akan ion–ion
garam. Penukar kation jenuh dengan ion positif sedangkan penukar kation jenuh
dengan anion. Oleh sebab itu penukar ion harus diregenerasi. Tujuan dari
regenerasi adalah untuk menghilangkan ion–ion garam yang ada pada resin.
Regenerasi penukar kation menggunakan larutan H2SO4, sedangkan regenerasi
penukar anion menggunakan larutan NaOH. Regenerasi resin membutuhkan
waktu sekitar 4–5 jam. Reaksi yang terjadi pada saat regenerasi adalah :

Kation : RNa + H2SO4  RH + Na2SO4

Anion : RCl + NaOH  ROH + NaCl


DAFTAR PUSTAKA

Setiadi, Tjandra. 2007. Diktat Kuliah TK-2206 Sistem Utilitas I “Pengolahan dan
Penyediaan Air”. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Universitas Diponegoro, 2013. Penyediaan Air Umpan Boiler, (online),


(www.scribd.com, diakses 9 September 2015)

Universitas Lampung, 2013. Utilitas dan Pengolahan Limbah, (online),


(http://digilib.unila.ac.id, diakses 9 September 2015)

Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2014. Utilitas dan Laboratorium, (online),


(http://eprints.ums.ac.id, diakses 9 September 2015)
LAMPIRAN NOTULEN

Tanggal Diskusi : 21 September 2015

Waktu : 10.50 WIB s/d 12.30 WIB

Tempat : Ruang 6

Pelaksana Diskusi : Kelompok 2

Moderator : Astri Handayani

Notulis : Putri Utami

Peserta Diskusi : Mahasiswa Teknik Kimia Kelas 5.KA

Pertanyaan :

1. Dorie Kartika
- Mengapa pada tabel persyaratan air umpan boiler menggunakan
parameter perbandingan berupa tekanan?
- Mengapa pH minimum yang dihasilkan pada tabel persyaratan air
umpab boiler tergolong dalam pH basa?
- Apakah asam sulfat atau Natrium Hidroksida dalam proses regenerasi
resin dapat diganti dengan senyawa lain?
- Bagaimana prinsip Mixed Bed Exchanger, apakah resin anion dan
kationnya dicampur?

Jawab :

- Karena tekanan merupakan salah satu satuan operasi yang sangat


berpengaruh dalam proses operasi di bidang ilmu teknik kimia ini,
salah satunya ialah pembuatan air umpan boiler. Mengapa tidak
parameter yang lain seperti suhu karena suhu akan mengikuti tekanan
seperti yang kita ketahui pada hukum gas ideal bahwa tekanan
berbanding lurus dengan suhu
- Karena pH basa sesuai dengan standar pH air bersih yaitu 7,8 – 9,0.
Selain itu, kondisi pH basa dapat menurunkan laju terbentuknya korosi
atau terak.
- Ya, Asam Sulfat atau Natrium Hidroksida dapat diganti dengan
senyawa lain, sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut. Senyawa
lain yang dapat mengganti Asam Sulfat ialah Asam Klorida
- Pada Mixed Bed Exchanger, resin kation dan anion dicampur dalam
satu bed namun, resin kation terletak di lapisan atas bed sedangkan
resin anion terletak di lapisan bawah bed, namun dalam peletakkannya
tidak terdapat sekat untuk pemisahan resin tersebut

2. Intan Nevianita
Bagaimana cara menanggulangi apabila telah terbentuk korosi atau terak
pada boiler?
Jawab :
Cara menanggulangi apabila boiler telah terbentuk korosi atau terak ialah
seperti contoh pada perusahan-perusahaan akan melakukan Turn Around
atau pemberhentian produksi sementara yang tujuannya untuk
memulihkan seluruh aktivitas produksi baik perbaikan alat, dan mutu
produksinya. Pada turn around tersebut, boiler akan dibersihkan dari
korosi ataupun kerak tersebut.

3. R.A. Rifka Fadillah


Apakah proses osmosis balik hanya bergantung pada konsentrasi saja?
Jawab :
Ya, proses osmosis balik hanya bergantung pada konsentrasi.Proses
osmosis balik merupakan kebalikan dari proses osmosis dimana air dari
larutan yang berkonsentrasi tinggi mengalir ke larutan yang berkonsentrasi
rendah bila diberi tekanan.

4. Nopi Anggraini
- Apa hubungan antara nilai warna pada tabel persyaratan air umpan
boiler dengan air umpan boiler itu sendiri?
- Adakah pengaruh koagulan pada proses demin water ini?
Jawab :
- Pada tabel persyaratan air umpan boiler telihat bahwa semakin besar
tekanan maka nilai warna akan semakin kecil atau bisa dikatakan
semakin bening
- Koagulan sangat berpengaruh dalam proses water treatment yang
nantinya hasil dari water treatment itu akan menjadi umpan pada
demin water unit. Apabila semakin banyak koagulan yang digunakan
maka air akan menjadi semakin bening atau jernih atau bisa dikatakan
menjadi bersih begitu pula sebaliknya. Namun apabila koagulan yang
digunakan telalu banyak, itu pun akan berpengaruh buruk karena akan
menjadikan air memiliki pH yang asam dan akan memiliki pH yang
semakin jauh dengan standar pH air bersih.