Anda di halaman 1dari 3

Kebijakan terkait Pertanian Pangan menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun

2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Tahun 2011—2031

Strategi pengembangan kawasan peruntukan pertanian dilakukan dengan menetapkan wilayah Jawa
Timur sebagai lumbung pangan nasional yang dicapai melalui:

a. pemertahanan luasan sawah beririgasi termasuk lahan pertanian pangan berkelanjutan


dengan mengendalikan secara ketat alih fungsi sawah dan lahan produktif;
b. peningkatan upaya pengelolaan untuk mengoptimalkan hasil produksi pertanian;
c. pengoptimalan pengolahan dan peningkatan nilai tambah hasil produksi pertanian melalui
pengembangan agropolitan;
d. peningkatan pemasaran yang terintegrasi dengan kawasan agropolitan;
e. peningkatan pembinaan, penyuluhan, dan pelatihan untuk pengembangan pertanian;
f. pengembangan kemitraan antarpemangku kepentingan; dan
g. pengembangan sarana dan prasarana pendukung kawasan agropolitan

Pertanian lahan basah berupa sawah beririgasi direncanakan dengan luas sekurang-kurangnya 957.239
ha dan dengan luas sekurang-kurangnya 802.357,9 ha ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan
berkelanjutan meliputi:

 Kabupaten Bangkalan;
 Kabupaten Banyuwangi;
 Kabupaten Blitar;
 Kabupaten Bojonegoro;
 Kabupaten Bondowoso;
 Kabupaten Gresik;
 Kabupaten Jember;
 Kabupaten Jombang;
 Kabupaten Kediri;
 Kabupaten Lamongan;
 Kabupaten Lumajang;
 Kabupaten Madiun;
 Kabupaten Magetan;
 Kabupaten Malang;
 Kabupaten Mojokerto;
 Kabupaten Nganjuk;
 Kabupaten Ngawi;
 Kabupaten Pacitan;
 Kabupaten Pamekasan;
 Kabupaten Pasuruan;
 Kabupaten Ponorogo;
 Kabupaten Probolinggo;
 Kabupaten Sampang;
 Kabupaten Sidoarjo;
 Kabupaten Situbondo;
 Kabupaten Sumenep;
 Kabupaten Trenggalek;
 Kabupaten Tuban;
 Kabupaten Tulungagung;
 Kota
 Kota Batu;
 Kota Blitar;
 Kota Kediri;
 Kota Madiun;
 Kota Mojokerto;
 Kota Pasuruan; dan
 Kota Probolinggo.

Pertanian lahan kering direncanakan dengan luas sekurang-kurangnya 849.033 ha dan dengan luas
sekurang-kurangnya 215,191.83 ha ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan yang
tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Arahan pengelolaan kawasan peruntukkan pertanian di Jawa Timur meliputi:

a. area lahan sawah beririgasi harus dipertahankan agar tidak berubah fungsi menjadi peruntukan
yang lain;
b. pengalihan fungsi areal sebagaimana dimaksud pada huruf a wajib disediakan lahan pengganti;
c. pengembangan sawah beririgasi teknis dilakukan dengan memprioritaskan perubahan sawah
nonirigasi menjadi sawah irigasi melalui dukungan pengembangan dan perluasan jaringan
irigasi, pembukaan areal baru pembangunan irigasi, dan pengembangan waduk/embung;
d. peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan dengan mengembangkan kawasan
pertanian terpadu (cooperative farming), dan hortikultura dengan mengembangkan kawasan
budi daya pertanian ramah lingkungan (good agriculture practices); dan
e. pengembangan kelembagaan kelompok tani ke arah kelembagaan ekonomi/koperasi.

Penggantian lahan pertanian yang dialihfungsikan mengikuti aturan:

a. apabila yang dialihfungsikan merupakan lahan beririgasi, penggantiannya paling sedikit


sebanyak 3 (tiga) kali luas lahan;
b. apabila yang dialihfungsikan merupakan lahan reklamasi rawa pasang surut dan nonpasang
surut, penggantiannya paling sedikit 2 (dua) kali luas lahan; dan
c. apabila yang dialihfungsikan adalah lahan tidak beririgasi (lahan kering), penggantiannya paling
sedikit adalah 1 (satu) kali luas lahan.

Indikasi arahan zonasi kawasan peruntukan pertanian meliputi:

a. ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan terdiri dari:

1) diizinkan pemanfaatan ruang untuk permukiman perdesaan dengan kepadatan rendah


terutama pada lahan pertanian non irigasi;
2) diizinkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan perkebunan tanaman tahunan tanpa
mengganggu sistem ketahanan pangan;
3) diizinkan secara terbatas kegiatan penunjang pertanian, wisata alam berbasis
ekowisata, penelitian dan pendidikan;
4) dilarang adanya aktivitas budidaya yang mengurangi luas kawasan sawah irigasi
dan/atau memutus jaringan irigasi, kecuali untuk pembangunan jaringan prasarana
utama dan kepentingan umum sesuai peraturan perundang-undangan;
5) dilarang aktivitas budidaya yang mengurangi atau merusak fungsi lahan dan kualitas
tanah untuk pertanian;
6) dilarang mendirikan bangunan pada kawasan sawah irigasi; dan
7) dilarang mengalihfungsikan lahan pertanian pangan berkelanjutan selain untuk kegiatan
pertanian.

b. ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk klasifikasi non pertanian adalah maksimum 30% dan
berupa jenis pemanfaatan ruang yang tidak mengganggu aktivitas pertanian.

c. ketentuan khusus berupa penggunaan lahan hortikultura untuk kegiatan yang lain diizinkan selama
tidak mengganggu produk unggulan daerah dan merusak lingkungan hidup.