Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KONSEP KELUARGA SEJAHTERA

Disusun oleh:

Ayu Puspitasari (1502006)

Beladina F Lefmanut (1502007)

Kadek Lovina Tirtawati (1502027)

Kartika Yulianti (1502029)

Veronica Evi Alviolita (1502053)

Samuel Andy R (1502051)

Nonie Mega Dini (1102030)

Joice Christin P (1302063)

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN

STIKES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan program Pembangunan jangka
panjang tahap II Pelita VI bahwa pembangunan ditujukan untuk peningkatan kualitas sumber
daya manusia Indonesia seutuhnya yang maju dan mandiri.
Pembangunan manusia seutuhnya dimulai sejak saat pembuahan dan berlangsung sepanjang
masa hidupnya dan tidak dapat dilepaskan dari seluruh segi kehidupan keluarga di mana ia
dibesarkan.
Pembangunan masyarakat sangat tergantung kepada kehidupan keluarga yang menjadi
bagian inti dari masyarakat itu, sehingga keluarga memiliki nilai strategis dalam pembangunan
nasional serta menjadi tumpuan dalam pembangunan manusia seutuhnya. Masalah yang kita
hadapi saat ini masih banyaknya keluarga di Indonesia ini yang berada dalam kondisi
prasejahtera, adalah kewajiban kita semua untuk meningkatkan mereka sehingga mencapai
keluarga sejahtera. Untuk mewujudkan tujuan pembangunan tersebut perlu dilakukan berbagai
upaya pembinaan keluarga dari berbagai aspek kehidupan termasuk segi kesehatannya. Perawat
dengan perannya sebagai tenaga kesehatan yang profesional mempunyai andil yang cukup besar
dan sangat diharapkan dalam mewujudkan upaya pembinaan keluarga tersebut sehingga
terciptalah suatu keluarga sejahtera yang pada akhirnya akan membentuk masyarakat dan Negara
yang sejahtera pula.

B. TUJUAN
 Mengetahui pengertian sejahtera
 Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kesejahteraan
 Mengetahui tahapan-tahapan kesejahteraan
 Mengetahui peran perawat dalam pembinaan keluarga sejahtera
 Mengetahui masalah dan tindak lanjut
C. RUMUSAN MASALAH
 Apa yang dimaksud sejahtera?
 Apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi kesejahteraan?
 Bagaimana tahapan-tahapan kesejahteraan?
 Bagaimana peran perawat dalam pembinaan keluarga sejahtera?
 Apa saja masalah dan bagaimana tindak lanjutnya?
BAB II

ISI

KONSEP KELUARGA KESEJAHTERAAN

A. PENGERTIAN SEJAHTERA
Ada beberapa pendapat tentang pengertian kesejahteraan, antara lain :”
 “Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram”.
(Depdiknas, 2001:1011)
 “Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa
kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan
seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”.
(BKKBN,1994:5)
Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus
secara keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan itulah dapat
menuju keselamatan dan ketentraman hidup.
B. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN
1. Faktor intern keluarga
a. Jumlah anggota keluarga
Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga semakin meningkat tidak hanya
cukup dengan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan, dan saran
pendidikan) tetapi kebutuhan lainya seperti hiburan, rekreasi, sarana ibadah, saran
untuk transportasi dan lingkungan yang serasi. Kebutuhan diatas akan lebih
memungkinkan dapat terpenuhi jika jumlah anggota dalam keluarga sejumlah kecil.
b. Tempat tinggal
Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Keadaan
tempat tinggal yang diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya, akan lebih
menimbulkan suasana yang tenang dan mengembirakan serta menyejukan hati.
Sebaliknya tempat tinggal yang tidak teratur, tidak jarang meninbulkan kebosanan
untuk menempati. Kadang-kadang sering terjadi ketegangan antara anggota keluarga
yang disebabkan kekacauan pikiran karena tidak memperoleh rasa nyaman dan tentram
akibat tidak teraturnya sasaran dan keadaan tempat tinggal.
c. Keadaan sosial ekonomi kelurga.
Untuk mendapatkan kesejahteraan kelurga alasan yang paling kuat adalah
keadaan sosial dalam keluarga. Keadaan sosial dalam keluarga dapat dikatakan baik
atau harmonis, bilamana ada hubungan yang baik dan benar-benar didasari ketulusan
hati dan rasa kasih sayang antara anggota keluarga.manifestasi daripada hubungan
yang benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa penuh kasih sayang, nampak dengan
adanya saling hormat, menghormati, toleransi, bantu-membantu dan saling
mempercayai.
d. Keadaan ekonomi keluarga.
Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan sumber-sumber yang dapat
meningkatkan taraf hidup anggota kelurga makin terang pula cahaya kehidupan
keluarga. (BKKBN, 1994 : 18-21). Jadi semakin banyak sumber-sumber keuangan/
pendapatan yang diterima, maka akan meningkatkan taraf hidup keluarga. Adapun
sumber-sumber keuangan/ pendapatan dapat diperoleh dari menyewakan tanah,
pekerjaan lain diluar berdagang, dsb.
2. Faktor eksternal
Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus dikembangan terjadinya kegoncangan
dan ketegangan jiwa diantara anggota keluarga perlu di hindarkan, karena hal ini dapat
menggagu ketentraman dan kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.
Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa dan ketentraman batin anggota
keluarga yang datangnya dari luar lingkungan keluarga antara lain:
 Faktor manusia: iri hati, dan fitnah, ancaman fisik, pelanggaran norma.
 Faktor alam: bahaya alam, kerusuhan dan berbagai macam virus penyakit.
 Faktor ekonomi negara: pendapatan tiap penduduk atau income perkapita rendah, inflasi.
(BKKBN, 1994 : 18-21)
C. TAHAPAN-TAHAPAN KESEJAHTERAAN
1. Keluarga pra sejahtera
Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara
minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB.
 Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga
 Pada umunya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari.
 Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau
berpergian.
 Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah.
 Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.
2. Keluarga Sejahtera I
Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi
belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan,
KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I
kebutuhan dasar (a s/d e) telah terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologi belum
terpenuhi yaitu:
 Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
 Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau telur.
 Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun
 Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna rumah
 Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat
 Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.
 Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf latin.
 Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini
 Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai kontrasepsi
(kecuali sedang hamil)

3. Keluarga Sejahtera II
Yaitu keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat
memenuhi kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan
memperoleh informasi.
Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi (a s/d n
telah terpenuhi) namun kebutuhan pengembangan belum yaitu:
 Mempunyai upaya untuk meningkatkan agama.
 Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
 Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dapat
dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
 Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan keluarga.
 Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali perbulan.
 Dapat memperoleh berita dan surat kabar, radio, televisi atau majalah.
 Anggota keluarga mampu menggunakan sarana trasportasi sesuai kondisi daerah.
4. Keluarga Sejahtera III
Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial
psikologis dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan
yang teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan.
Pada keluarga sejahtera III kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah
terpenuhi (a s/d u) telah terpenuhi) namun kepedulian belum yaitu:
 Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi
kegiatan sosial/masyarakat dalam bentuk material.
 Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan
atau instansi masyarakat. (BKKBN,1994:21-23).
 Kesejahteraan pada hakekatnya dapat terpenuhinya kebutuhan (pangan, sandang, dan
papan) yang harus dipenuhi dengan kekayaan atau pendapatan yang dimiliki barulah
dikatakan makmur dan sejahtera

D. PERAN PERAWAT DALAM PEMBINAAN KELUARGA SEJAHTERA


Pembinaan keluarga terutama ditujukan pada keluarga prasejahtera dan sejahtera tahap I. Di
dalam pembinaan terhadap keluarga tersebut, perawat mempunyai beberapa peran antara lain :
1. Pemberi informasi
Dalam hal ini perawat memberitahukan kepada keluarga tentang segala sesuatu,
khususnya yang berkaitan dengan kesehatan.
2. Penyuluh
Agar keluarga yang dibinanya mengetahui lebih mendalam tentang kesehatan dan tertarik
untuk melaksanakan maka perawat harus memberikan penyuluhan baik kepada perorangan
dalam keluarga ataupun kelompok dalam masyarakat.
3. Pendidik
Tujuan utama dari pembangunan kesehatan adalah membantu individu, keluarga dan
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
secara mandiri. Untuk mencapai tujuan tersebut perawat hares mendidik keluarga agar
berperilaku sehat dan selalu memberikan contoh yang positif tentang kesehatan.
4. Motivator
Apabila keluarga telah mengetahui, dan mencoba melaksanakan perilaku positif dalam
kesehatan, harus terus didorong agar konsisten dan lebih berkembang. Dalam hal inilah
perawat berperan sebagai motivator.
5. Penghubung keluarga dengan sarana pelayanan kesehatan adalah wajib bagi setiap perawat
untuk memperkenalkan sarana pelayanan kesehatan kepada keluarga khususnya untuk yang
belum pernah menggunakan sarana pelayanan kesehatan dan pada keadaan salah satu/lebih
anggota keluarga perlu dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan.
6. Penghubung keluarga dengan sektor terkait. Adakalanya masalah kesehatan yang
ditemukan bukanlah disebabkan oleh faktor penyebab yang murni dari kesehatan tetapi
disebabkan oleh faktor lain. Dalam hal ini perawat harus menghubungi sektor terkait.
7. Pemberi pelayanan kesehatan. Sesuai dengan tugas perawat yaitu memberi Asuhan
Keperawatan yang profesional kepada individu, keluarga dan masyarakat. Pelayanan yang
diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbataan pengetahuan, serta
kurangnya keamanan menuju kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara
mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat "promotif', `preventif', "curatif' serta
"rehabilitatif' melalui proses keperawatan yaitu metodologi pendekatan pemecahan masalah
secara ilmiah dan terdiri dari langkah-langkah sebagai subproses. Kegiatan tersebut
dilaksanakan secara profesional, artinya tindakan, pelayanan, tingkah laku serta
penampilan dilakukan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pekerjaan,
jabatan, bekerja keras dalam penampilan dan mendemontrasikan "SENCE OF ETHICS ".
8. Membantu keluarga dengan mengenal kekuatan mereka dan menggunakan kekuatan
mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya
9. Pengkaji data individu, keluarga dan masyarakat sehingga didapat data yang akurat dan
dapat dilakukan suatu intervensi yang tepat. Peran-peran tersebut di atas dapat
dilaksanakan secara terpisah atau bersama-sama tergantung situasi dan kondisi yang
dihadapi.
E. MASALAH DAN TINDAK LANJUT
Kenyataan, dalam melaksanakan perannya sebagai pembina keluarga sejahtera masih banyak
ditemukan hambatan/masalah antara lain :
a. Faktor Keluarga :
o Keluarga menolak kehadiran perawat
o Ketidak-percayaan masyarakat terhadap perawat
o Adat istiadat
o Ekonomi
o Dan lain-lain.
b. Faktor Perawat
 Secara kuantitas jumlah perawat masih kurang
 Secara kualitas, belum optimal Hal ini terjadi karena "basic" pendidikan perawat yang
berbeda-beda, kemauan menambah ilmu pengetahuan masih kurang, kepercayaan diri
yang kurang.
 Terlalu muda khususnya bagi perawat yang ada di desa (PKD) sehingga sering diabaikan
oleh masyaakat
 Kompensasi yang berlebihan dengan rasa sesama Corps ("ESPRIT DE CORPS") yang
kurang.
 Masih ada perawat yang bekerja di luar wewenangnya sebagai perawat –
 Dan lain-lain.
Untuk menanggulangi masalah/hambatan di atas, khususnya ditujukan kepada diri sendiri
(perawat) antara lain :
1. Interospeksi, yaitu menilai, mengevaluasi diri sendiri, kelemahan dan kekuatan yang
dimiliki, kesempatan apa yang bisa diraih/diperoleh dan tantangan apa yang akan
dihadapi.
2. Perubahan perilaku untuk maju dan berkembang dengan kemauan yang keras untuk
menambah ilmu pengetahuan
3. Menunjukkan "eksistensi" perawat sebagai "mitra dokter" Menyadari dan mencari upaya-
upaya koordinasi dan kolaborasi Meningkatkan rasa sesama Corps
4. Dan yang terpenting adalah "menghargai diri sendiri"
5. Perubahan pendidikan keperawatan
6. Mentaati kode etik keperawatan.
F. Kemiskinan
adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami
istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral
dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan, dll.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk Indonesia yang masih hidup dibawah garis
kemiskinan hingga September 2015 mencapai 28,51 juta / 11,13% dari total penduduk Indonesia.
Penurunan ini terjadi baik diperkotaan maupun dipedesaan, jumlah penduduk miskin menurun
sekitar 30 ribu orang. Pada maret 2015 penduduk miskin mencapai 10,65 juta orang dan kini
menjadi 10,62 juta orang. Sementar dipedesaan dari 17,94 juta orang turun menjadi 17,89 juta
orang.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

 Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari,


sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami
sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

 Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan


ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan
dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini
mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.

 Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna


"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di
seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di
luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.

Peta dunia memperlihatkan persentase manusia yang hidup di bawah batas kemiskinan nasional.
Perhatikan bahwa garis batas ini sangat berbeda-beda menurut masing-masing negara, sehingga
kita sulit membuat perbandingan.
Peta dunia memperlihatkan Tingkat harapan hidup.

Peta dunia memperlihatkan Indeks Pembangunan Manusia.

Peta dunia memperlihatkan Ko-efisien Gini, sebuah ukuran tentang kesenjangan pendapatan.

Gambaran kemiskinan di Mumbai, India oleh Antônio Milena/ABr.


Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu :

1. Kemiskinan absolut

Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak
terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut
adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang
kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki
dewasa).

Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dg pendapatan


dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per
hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia
mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengonsumsi kurang
dari $2/hari." Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan
ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001. Melihat pada
periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis
kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga
mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.

Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti
tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini
menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran
kota dan ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif
masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini
keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini,
negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang. Deklarasi Copenhagen
menjelaskan kemiskinan absolut sebagai "sebuah kondisi yang dicirikan dengan
kekurangan parah kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman,
fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi."
Bank Dunia menggambarkan "sangat miskin" sebagai orang yang hidup dengan
pendapatan kurang dari PPP$1 per hari, dan "miskin" dengan pendapatan kurang dari
PPP$2 per hari. Berdasarkan standar tersebut, 21% dari penduduk dunia berada dalam
keadaan "sangat miskin", dan lebih dari setengah penduduk dunia masih disebut
"miskin", pada 2001.

2. Kemiskinan relatif

Merupakan kondisi masyarakat karena kebijakan pembangunan yang belum


mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan
distribusi pendapatan. Standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu
negara pada waktu tertentu dan perhatian terfokus pada golongan penduduk
“termiskin”, misalnya 20 persen atau 40 persen lapisan terendah dari total penduduk
yang telah diurutkan menurut pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan
penduduk relatif miskin. Dengan demikian, ukuran kemiskinan relatif sangat
tergantung pada distribusi pendapatan/pengeluaran penduduk sehingga dengan
menggunakan definisi ini berarti “orang miskin selalu hadir bersama kita”.

Penyebab kemiskinan

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:

 penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah
penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.

 penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.


Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding
dengan pemasukan keuangan keluarga.
 penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan
sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga
yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.

 penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk
perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau
honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.

 penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari
struktur sosial.

Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari
kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki
jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera
atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Menghilangkan kemiskinan

Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:

 Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah
menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan. Di
Indonesia salah satunya berbentuk BLT.

 Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan,
kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.

 Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan
sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan
ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan
perawatan kesehatan. Persiapan bagi yang lemah juga dapat berupa pemberian pelatihan
sehingga nanti yang bersangkutan dapat membuka usaha secara mandiri.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Secara operasional Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN telah menyusun
rumusan kualitas kehidupan keluarga yang diukur dari tingkat kemampuan setiap keluarga untuk
memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Rumusan tahapan kualitas keluarga tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Tahap prasejahtera
2. Keluarga sejahtera tahap I
3. Keluarga sejahtera tahap II
4. Keluarga sejahtera tahapIII
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk Indonesia yang masih hidup dibawah
garis kemiskinan hingga September 2015 mencapai 28,51 juta / 11,13% dari total penduduk
Indonesia. Penurunan ini terjadi baik diperkotaan maupun dipedesaan, jumlah penduduk miskin
menurun sekitar 30 ribu orang. Pada maret 2015 penduduk miskin mencapai 10,65 juta orang
dan kini menjadi 10,62 juta orang. Sementar dipedesaan dari 17,94 juta orang turun menjadi
17,89 juta orang.

B. SARAN
Perubahan-perubahan perlu segera dilakukan khususnya dalam manajemen keperawatan
sebagai upaya peningkatan mutu Asuhan Keperawatan kepada individu, keluarga maupun
masyarakat.

PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Mengapa kemiskinan disebut masalah global?
2. Apa peran perawat dalam memberantas kemiskinan?
3. Bagaimana cara kelompok mengatasi faktor eksternal?
4. Jelaskan apa penyebab sub-budaya?
JAWABAN
1. Karena kemiskinan setiap Negara pasti mempunyai angka kemiskinan dan mempunyai
masalah kemiskinan, karena kemiskinan menyebabkan muncul banyak masalah seperti
kriminalitas, penyimpangan, pengangguran.
2. Peran perawat dalam memberantas kemiskinan adalah sebagai pemberi informasi,
sebagai penyuluh, pendidik, motivator, Penghubung keluarga dengan sarana pelayanan
kesehatan, Penghubung keluarga sektor terkait, Pemberi pelayanan kesehatan. Dengan
KB dengan adanya operasi gratis

3. Faktor eksternal:
- Faktor manusia : Mengelola emosi, mengontrol diri, selalu berpikir positif
- Faktor alam : mengurangi bencana seperti tanah longsor yaitu dengan melakukan
reboisasi, tidak menebang pohon sembarangan
- Faktor Ekonomi : Membantu agar selalu ada kreasi inovasi pada setiap orang agar
pendapatan perkapita seseorang naik.

4. penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan


sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga
yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
DAFTAR PUSTAKA
Iqbal Mubarik Wahid dkk, 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : 270-272

Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, proses dan praktik.
Jakarta: EGC

http://gloriabetsy.blogspot.co.id/2012/12/konsep-keluarga-sejahterah.html

https://www.google.com/search?q=kemiskinan+relatif&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab

https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan

http://aplikasi.bkkbn.go.id/ks/