Anda di halaman 1dari 3

Refleksi Kasus

Nama : Neni Setiyowati


NIM : 20110310011
Koas Periode : 51
Tempat Stase : RSUD Panembahan Senopati Bantul

A. Rangkuman Kasus
Nama : Bp. A
Usia : 40 tahun
Tanggal periksa puskesmas : 14 Februari 2017

Seorang laki-laki paruh baya datang diantar ibunya ke puskesmas Imogiri 1 untuk
kontrol rutin F.20 skizofrenia. Tahun 2006 (11 tahun yang lalu) pasien sempat mondok
di RSJ Grhasia selama 1 minggu karena mengamuk dan melempar genteng tetangga-
tetangganya dengan batu. Setelah pulang dari Grhasia, pasien kontrol rutin di puskesmas
dan mendapatkan obat risperidon dan trihexyphenidyl. Kedua obat tersebut masih
dikonsumsi pasien sampai saat ini. Saat ini ia masih merasa suaranya bisa sampai mana-
mana, bahkan bisa sampai Sumatra atau luar negeri. Ketika ia berbicara, ia merasa
pembicaraannya bisa sampai tempat jauh. Pasien juga mengatakan orang lain bisa
mengerti apa yang ia pikirkan. Menurut pasien, sakitnya ini dibuat oleh kyai yang pernah
menjadi guru spiritualnya. Bayangan kyai kadang-kadang masih terlihat oleh pasien.

B. Perasaan terhadap Pengalaman


Apakah pemberian Risperidon (antipsikotik) selalu disertai dengan pemberian
Trihexyphenidyl secara bersamaan dan terus menerus?

C. Analisis
Triheksiphenydil merupakan obat yang sering digunakan apabila didapatkan
sindrom ekstrapiramidal sebagai akibat penggunaan antipsikotik. Obat ini lebih
dikenal sebagai antiparkinson. Triheksifenidil adalah antikolinergik yang mempunyai
efek sentral lebih kuat daripada perifer, sehingga banyak digunakan untuk terapi
penyakit parkinson. Antipsikotik mengurangi aktivitas dopamin di jalur nigrostriatal
(melalui blockade reseptor dopamin), sehingga tanda ekstrapiramidal dan gejalanya
mirip penyakit Parkinson’s.
Obat antipsikotik generasi pertama efektif sebagai terapi gejala psikotik atau
skizofrenia dan memiliki beragam potensi, farmakologi, dan efek samping.
Mekanisme kerja yang umum pada semua antipsikotik generasi pertama adalah ikatan
yang tinggi pada reseptor dopamin. Obat ini menyebabkan sindroma ekstrapiramidal
(EPS), termasuk parkinsonism, distonia, akathisia dan tardif diskinea dengan derajat
yang berbeda. Antipsikotik generasi kedua sebagai terapi utama untuk skizofrenia dan
penggunaannya meningkat selama ini untuk menangangi skizofrenia. Antipsikotik
generasi kedua memiliki keuntungan yaitu kurangnya kejadian EPS dan tardif
dyskinesia.
Dalam praktek pelayanan kesehatan psikiatri, ditemukan dua pola penggunaan
triheksifenidil pada pasien yang mendapat terapi antipsikotik, yakni pemberian
triheksifenidil setelah didapatkan adanya EPS dan pemberian triheksifenidil langsung
bersama dengan antipsikotik sejak awal pengobatan atau sebelum muncul EPS.
Beberapa penelitian mendukung pola kedua ini dengan alasan meningkatkan
kepatuhan berobat karena beberapa obat antipsikotik menimbulkan EPS yang tidak
menyenangkan serta mengakibatkan pasien menolak meneruskan pengobatannya.
Untuk pasien rawat inap, kejadian EPS dapat diatasi dengan segera; sedangkan
dengan EPS yang terjadi pada pasien rawat jalan tidak dapat segera diatasi karena
memang ada hambatan untuk mengenali tanda EPS bagi keluarga atau pendamping
pasien. Dengan diberikannya obat triheksifenidil bersama dengan obat anti-
psikotiksecara langsung pada saat pertama berobat diharapkan tidak muncul EPS
sehingga pasien dapat dengan sukarela meneruskan pengobatannya.
Pemberian obat triheksifenidil dapat menimbulkan efek samping yang serius,
seperti munculnya kembali gejala psikotik berupa halusinasi, agresif, kebingungan
(psikosis toksik). selain efek samping dari triheksifenidil yang bekerja menghambat
reseptor asetilkolin muskarinik dapat berupa gejala-gejala sebagai berikut: pandangan
mata menjadi kabur, konstipasi, produksi air liur berkurang, fotofobia, berkurangnya
produksi keringat, hipertermia, sinus takikardi, retensi urin, penurunan daya ingat,
mencetuskan asma, mencetuskan glaukoma sudut sempit, menimbulkan hambatan
ejakulasi, menimbulkan retrograt ejakulasi dan dapat menimbulkan delirium hingga
koma.
Pada panduan pelayanan medis departemen Psikiatri RSCM dan konsensus
WHO disebutkan bahwa pemberian obat triheksifenidil bersama dengan obat
antipsikotik untuk mencegah munculnya EPS harus diawasi dengan melakukan
evaluasi ulang tiap tiga bulan dengan mengurangi dosis triheksifenidil tersebut sampai
hilang. Bila timbul EPS akibat pengurangan dosis triheksifenidil, dosis dikembalikan
ke dosis terapi dan tiap enam bulan dievaluasi ulang.
Studi prospektif yang dilaksanakan oleh Julie Eve dkk di McGill University
Health Centre , Montreal, Quebec, Canada, menunjukkan hasil pada 20 pasien
dengan skizofrenia dan skizoafektif, 18 di antaranya berhasil dihentikan penggunaan
obat antikolinergiknya. Penurunan dosis antikolinergik secara bertahap dan
penghentian antikolinergik menyebabkan efek positif pada kognisi pasien . Tidak ada
konsekuensi buruk terhadap psikopatologi umum dan tidak ada perbedaan yang
signifikan selama 18 dari 20 subyek pada gangguan gerak.
Obat antiparkinson antikolinergik dapat menyebabkan efek samping distress
perifer dan sentral . Mereka dapat memperburuk fungsi kognitif global pada pasien
dengan skizofrenia. Antikolinergik harus digunakan secara hati-hati dan hanya selama
diperlukan untuk mengontrol EPS. Jika memungkinkan, dokter harus mencoba untuk
tappering off obat antikolinergik secara bertahap sambil memantau terjadinya EPS.
Ketidakmanfaatan penggunaan antikolinergik jangka panjang pada fungsi kognitif
mungkin lebih besar daripada manfaatny sehingga dokter harus mengevaluasi kembali
kebutuhan agen antikolinergik pada pasien dengan skizofrenia.

D. DAFTAR PUSTAKA
WHO. Prophylactic use of anticholinergics in patients on longterm neuroleptic
treatment. A consensus statement. World Health Organization heads of centres
collaborating in WHO co-ordinated studies on biological aspects of mental
illness. Br J Psychiatry. 2010;156:412.
Julie Eve Desmarais, Linda Beauclair, Lawrence Annable, Marie-Claire Bélanger, et
al. (2014). Effects of discontinuing anticholinergic treatment on movement
disorders, cognition and psychopathology in patients with schizophrenia.
Public health Medicine. 245: 45–49