Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum II

Fisiologi Manusia

PENGUKURAN SECARA TIDAK


LANGSUNG TEKANAN DARAH ARTERI

Di Susun oleh :
Rizki Insyani Putri
163112620120069

UNIVERSITAS NASIONAL
FAKULTAS BIOLOGI
TAHUN 2016/2017
I. JUDUL : Pengukuran Secara tidak Langsung Tekanan Darah Arteri
II. TANGGAL : 31 September 2017
III. TUJUAN :
a. Mempelajari penggunaan sphygmomanometer dan perbedaan hasil
dalam pengukuran tekanan darah arteribrachialis dengan cara
auskultasi maupun palpasi.
b. Membandingkan dan menguraikan berbagai faktor penyebab
perubahan hasil pengukuran tekanan darah pada berbagai sikap
berbaring, duduk dan berdiri.
c. Membandingkan dan menguraikan berbagai faktor penyebab
perubahan hasil pengukuran tekanan darah pada berbagai sikap
berbaring, duduk dan berdiri.
IV. DASAR TEORI :

Tekanan darah merupakan besaran sangat penting dalam dinamika


peredaran darah (Hemodinamika). Tekanan darah adalah tekanan yang
terjadi saat semburan darah membentur dinding kapiler darah. Tekanan
darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi.
Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi
homeostatsis di dalam tubuh. Dan jika sirkulasi darah menjadi tidak
memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada sistem transport oksigen,
karbondioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya. Di lain pihak fungsi
organ-organ tubuh akan mengalami gangguan seperti gangguan pada
proses pembentukan air seni di dalam ginjal ataupun pembentukan cairan
cerebrospinalis dan lainnya. Sehingga mekanisme pengendalian tekanan
darah penting dalam rangka memeliharanya sesuai dengan batas-batas
normalnya, yang dapat mempertahankan sistem sirkulasi dalam tubuh.

Tekanan darah adalah tekanan yang mendesak dinding arteri ketika


ventrikel kiri melakukan sistol kemudian diastole. Pengukurannya
menggunakan sphygmomanometer. Tekanan darah sistol adalah tekanan
darah yang direkam selama kontraksi ventrikuler. Tekanan darah diastole
adalah tekanan darah yang direkam selama relaksasi ventricular. Tekanan
darah normal adalah 120/80 mmHg. Tekanan denyutan adalah perbedaan
antara tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan denyutan normal kira-kira 40
mmHg yang memberikan informasi tentang kondisi arteri.

Tinggi tekanan darah pada berbagai macam pembuluh darah tidak


sama, tekanan darah arteri lebih tinggi daripada tekanan darah pembuluh
vena. Pada pemeriksaan fisik, seorang penderita, pengukuran tekanan
darah arteri sudah menjadi suatu keharusan dimana pengukuran ini selalu
dilakukan secara kontinu. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang
bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah dibanding dewasa. Tekanan darah
juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah
dalam satu hari pun berbeda, paling tinggi diwaktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidur malam hari. Tinggi tekanan darah ini bervariasi
Antara lain karena unur, jenis kelamin, dan posisi badan. Yang
menimbulkan variasi tinggi tekanan darah arteri karena posisi badan atau
bagian badan adalah tidak lain pada gaya berat.

Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh


jantung terhadap dinding arteri. Pada manusia, darah dipompa melalui
dua sistem sirkulasi terpisah dalam jantung yaitu sirkulasi pulmonal dan
sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan jantung memompa darah yang kurang
O2 ke paru-paru melalui sirkulasi pulmonal di mana CO2 dilepaskan dan
O2 masuk ke darah. Darah yang mengandung O2 kembali ke sisi kiri
jantung dan dipompa keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui
sirkulasi sistemik di mana O2 akan dipasok ke seluruh tubuh. Darah
mengandung O2 akan melewati arteri menuju jaringan tubuh, sementara
darah kurang O2 akan melewati vena dari jaringan tubuh menuju ke
jantung. Tekanan darah diukur dalam milimeter air raksa (mmHg), dan
dicatat sebagai dua nilai yang berbeda yaitu tekanan darah sistolik dan
tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik terjadi ketika ventrikel
berkontraksi dan mengeluarkan darah ke arteri sedangkan tekanan darah
diastolik terjadi ketika ventrikel berelaksasi dan terisi dengan darah dari
atrium (Lintong, 2015).
Teknik pengukuran tekanan darah ada dua metode yaitu metode
langsung dan tidak langsung. Metode langsung menggunakan kateter
arteri atau kanula yang di masukkan ke dalam pembuluh darah arteri dan
di hubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara yang
sangat tepat untuk pengukuran tekanan darah, tetapi membutuhkan
peralatan yang lengkap dan keterampilan yang khusus. Kelebihan
menggunakan metode ini yaitu akan didapatkan hasil yang akurat,
sedangkan kekurangannya yaitu berbahaya bagi kesehatan; nyeri
inflamasi lokasi penusukkan, bekuan darah karena tertekuknya kateter,
perdarahan, ekimosis bila jarum lepas dan tromboplebitis.
Metode tidak langsung yaitu menggunakan shpygmomanometer
dan dapat diukur dengan menggunakan dua cara yaitu cara palpasi dan
cara auskultasi. Cara palpasi yaitu tekanan sistolik dapat ditentukan
dengan memompa manset lengan dan kemudian membiarkan tekanan
turun lalu tentukan tekanan pada saat denyut radialis pertama kali teraba.
Kelebihan dengan cara palpasi yaitu apabila manset dimulai untuk
dipompa sampai denyut radialis menghilang, pemeriksa dapat yakin
bahwa tekanan manset di atas tekanan sistolik, dan nilai tekanan rendah
palsu dapat dihindari. Sedangkan kekurangannya yaitu karena kesukaran
menentukan secara pasti kapan denyut pertama teraba, tekanan yang
diperoleh dengan cara palpasi biasanya 2-5 mmHg lebih rendah
dibandingkan dengan yang diukur dengan metode auskultasi, selain itu
bila dengan cara palpasi hanya dapat diukur tekanan sistoliknya saja.
Cara yang kedua yaitu dengan cara auskultasi. Cara ini
memerlukan alat bantu stetoskop. Manset pada shygmomanometer
dililitkan disekitar lengan kemudian stetoskop diletakkan diatas arteri
brakialis pada siku. Manset kemudian dipompa sampai tekanan diatas
sistolik arteri brakialis, Kemudian tekanan dalam manset diturunkan
secara perlahan. Saat tekanan sistolik dalam arteri tepat melampaui
tekanan manset, setiap denyut jantung menyebabkan semburan darah
melewatinya, dan secara sinkron dengan tiap denyut, tedengar bunyi
ketukan / detak di bawah manset. Tekanan manset pada saat bunyi
pertama kali terdengar adalah tekanan sistolik. Saat tekanan semakin
menurun, suara menjadi lebih keras, lalu menjadi tidak jelas dan samar-
samar. Tekanan diastolik berkorelasi paling baik dengan bunyi menjadi
hilang.
Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu :

 Usia, bayi yang baru lahir memiliki tekanan darah sistolik rata-rata 73
mmHg. Tekanan sistolik dan diastolik meningkat secara bertahap sesuai
usia hingga dewasa. Pada lanjut usia arterinya lebih keras dan
fleksibilitasnya kurang sehingga tekanan sistolik maupun diastoliknya
meningkat.
 Jenis kelamin, terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan
bahwa perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap kerja sistem
kardiovaskuler. pada umumnya wanita memiliki tekanan darah yang lebih
rendah dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan adanya
pengaruh hormon terutama esterogen serta wanita memiliki massa
ventrikel kiri jantung yang lebih kecil terhadap massa tubuh. (Anggita,
2012)
 Olahraga , aktifitas fisik dapat meningkatakan tekanan darah

Faktor gravitasai, tekanan darah akan meningkat 10 mmHg setiap


12 cm dibawah jantung karena pengaruh gravitasi. Di atas jantung
tekanan darah akan menurun dengan jumlah yang sama. Jadi dalam
keadan berdiri, maka tekanan darah sistole adalah 210 mmHg di kaki dan
di otak 90 mmHg. Dalam keadaan berbaring tekanan ini akan sama.
(green, 2008 dalam Anggita, 2012).
Frekuensi denyut jantung manusia bervariasi, tergantung dari
banyak faktor yang mempengaruhinya, pada saat aktivitas normal.Arteri
radialis (pergelangan tangan),terletak sepanjang tulang radialis, lebih
mudah teraba diatas pergelangan tangan pada sisi ibu jari.Relatif mudah
dan sering dipakai secara rutin. Arteri femolaaaris (lipat paha), Arteri
pulpotea,Arteri dorsalis pedis (daerah dorsum peedis), Arteri temporalis
(ventral daun telinga) (Arwani, 2007).
Dalam keadaan istirahat jantung berdetak 70 kali/menit. Pada
waktu banyak pergerakan kecepatan jantung bisa mencacapai 150
kali/menit dengan daya pompa 20-25liter/menit. Curah jantung (cardial
output) adalah volume darah yang dipompa oleh tiap-tiap ventrikel
permenit.Sedangkan kecepatan normal denyut jantung (jumlah debaran
setiap menit) adalah: Pada bayi yang baru lahir : 140 per menit, usiasatu
tahun : 120 per menit, usia dua tahun : 110per menit, usia lima tahun : 96-
100 per menit,usia sepuluh tahun : 80-90 per menit, pada orangdewasa :
60-80 per menit(Syaifudin 1997:57).
Untuk mengetahui sirkulasi darah tersebut yang paling sederhana
dengan pemeriksaan denyut nadi. Jadi secara tidak langsung denyut nadi
sebagai indeks kerja jantung dan memiliki peranan penting bahkan dapat
mengukur tingkat aerobik seseorang. Pulsus atau denyut nadi adalah
perubahan tiba-tibadari tekanan jantung yang dirambatkan sebagai
gelombang pada dinding pembuluh darah. Denyut nadi merupakan
sebagian besar indeks kerja jantung tetapi elastiositas pembuluh darah
yang yang lebih besar, viskositas darah, resistensi arterior dan kapiler
memegang peranan dalam menetapkan sifat-sifat tertentu dari denyut
nadi. (Arwani, 2007).

V. ALAT DAN CARA KERJA

1) Alat yang digunakan


a. Stetoskop
b. Sphygmomanometer
c. Penghitung waktu
2) Cara Kerja
a. Pengukuran tekanan darah arteria brakhialis pada sikap
berbaring, duduk, dan berdiri
Berbaring :
 Orang Percobaan (OP) berbaring terlentang dengan tenang selama 10
menit
 Memasang manset sphygmomanometer pada lengan kanan atas OP
 Mencari dengan palpasi denyut arteria brakhialis pada fossa cubiti dan
denyut arteria radialis pada pergelangan tanagan OP
 Memompakan udara ke dalam manset setelah OP berbaring 10menit
hingga kira- kira 20-40 mmHg diatas nilai normal, kemudian secara
perlahan udara dikeluarkan hingga terdengar fase-fase korotkoff (LUB-
DUP).
 Menetapkan nilai-nilai tekanan sistole dengan cara auskultasi maupun
palpasi dan tekanan diastolenya.
 Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-
rata dan kemudain dicatat.

Duduk :

 Tanpa melepaskan manset OP dipersilahkan duduk selama 3 menit.


Setelah itu ukur kembali tekanan darah arteria brakhialisnya dengan cara
yang sama. Mengulangi lagi pengukuran sebanyak 3 kali untuk
mendapatkan nilai rata-rata dan kemudain dicatat.

Berdiri :

 Tanpa melepaskan manset OP dipersilahkan duduk selama 3 menit.


Setelah itu ukur kembali tekanan darah arteria brakhialisnya dengan cara
yang sama. Mengulangi lagi pengukuran sebanyak 3 kali untuk
mendapatkan nilai rata-rata dan kemudain dicatat.

b. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot


 Mengukur tekanan darah arteria brakhialis OP pada sikap duduk
 Tanpa melepaskan manset seluruhnya OP dipersilahkan untuk berlari
ditempat dengan frekuensi kurang lebih 20 loncatan/ menit selama 2
menit. Segera setelah selesai OP dipersilahkan untuk duduk dan diukur
tekanan darah nya. Mengulangi pengukuran tekanan darah tiap menit
sampai tekanan darahnya kembali seperti semula. Catat hasil
pengukuran.

VI. HASIL PERCOBAAN

Terlampir
VII. PEMBAHASAN
Praktikum ini akan dilakukan pengamatan dengan menggunakan
manset. Manset diikatkan pada lengan, inflasi dari kantong karet
memampatkan jaringan bawah manset. Jika kantong karet membengkak
untuk tekanan yang melebihi nilai puncak gelombang nadi, arteri terus
melemah dan tidak ada gelombang pulsa yang bisa teraba di arteri
perifer. Jika tekanan dalam spontan secara bertahap dikurangi, suatu titik
akan tercapai di mana terdapat gelombang pulsa sedikit melebihi tekanan
pada jaringan sekitarnya dan dalam kantong karet. Pada tingkat itu,
denyut nadi menjadi teraba dan tekanan yang ditunjukkan pada
manometer air raksa adalah ukuran dari nadi puncak atau tekanan sistolik.
Pada saat tekanan dalam manset turun di bawah tekanan minimal
gelombang nadi, arteri tetap terbuka terus menerus serta suara yang
dihasilkan tidak dapat terdengar karena darah terus mengalir dan derajat
percepatan darah oleh gelombang pulsa tiba-tiba dikurangi. Pada masih
rendah manset tekanan, suara hilang sama sekali sebagai aliran
laminar dan aliran darah menjadi normal kembali. Suara yang didengar
pada saat auskultasi pemeriksaan tekanan darah disebut dengan
bunyi korotkoff, bunyi tersebut ditimbulkan karena turbulensi aliran darah
yang ditimbulkan karena oklusi parsial dari arteri brachialis.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, tekanan darah yang
diperoleh berbeda di setiap posisi yaitu posisi berbaring, duduk dan
berdiri serta saat sebelum kerja otot dan sesudah kerja otot. Dalam
praktikum ini cara yang digunakan yaitu dengan cara palpasi dan
auskultasi dengan menggunakan sphygmomanometer beserta stetoskop
untuk cara auskultasi.
Pada posisi berbaring efek gravitasi pada tubuh berkurang
sehingga darah lebih bnayak mengalir kembali ke jantung melalui
pembuluh darah tanpa melawan kekuatan gravitasi. Jantung berdetak
lebih sedikit bila dibandingkan dengan posisi berdiri maupun duduk
sehingga tekanan darahnya lebih rendah. Jika darah yang kembali ke
jantung lebih banyak maka tubuh mampu memompa lebih banyak darah
setiap denyutnya sehingga, denyut jantung yang diperlukan per menit
untuk memenuhi kebutuhan darah, oksigen dan nutrisi menjadi lebih
sedikit. Tekanan darah OP dalam posisi tidur adalah 90/70 mmHg.
Pada posisi duduk tekanan darah cenderung stabil, karena pada
saat duduk sistem vosvokonstraktor simpatis terangsang, sinyal-sinyal
saraf dijalarkan serentak melalui saraf rangka menuju otot-otot rangka
tubuh, terutama abdomen. Hal ini membuat tonus dasar otot tersebut yang
menekan seluruh vena cadangan abdomen meningkat. Ini membantu
mengeluarkan darah dari cadangan vaskuler abdomen ke jantung
sehingga jumlah darah yang tersedia bagi jantung untuk dipompa
meningkat. Dalam hal ini tekanan darah OP yaitu 90/70 mmHg, hal
tersebut terlihat jelas bahwa posisi pada saat berbaring dan duduk tidak
terlalu banyak mengalami perubahan dan cenderug stabil.
Posisi berdiri meningkatkan detak jantung karena darah yang
kembali ke jantung akan lebih sedikit. Kondisi ini menyebabkan adanya
peningkatan detak jantung mendadak ketika seseorang bergerak dari
posisi duduk ataupun berbaring ke posisi berdiri. Pada posisi berdiri
tekanan darah arteri yang di kaki mendapat tambahan tekanan hidrostatis
kolom darah di dalam badan sedangkan yang di kepala tidak. Dibuktikan
dengan meningkatnya tekanan darah OP, yaitu 100/70 mmHg.
Pada percobaan kedua, diperoleh hasil tekanan darah yang
berbeda antara sebelum melakukan aktifitas fisik dengan sesudah
melakukan aktifitas fisik. Pada keadaan basal tekanan darah OP 120 /80
mmHg dan setelah melakukan aktifitas fisik, tekanan darah meningkat
menjadi 130/80 mmHg. Waktu yang dibutuhkan OP agar tekanan darah
kembali seperti semula yaitu pada menit ke-3.
Ketika beraktivitas otot – otot berkontraksi dan memerlukan suplai
O2 yang banyak untuk memenuhi kebutuhan energi. Darah sebagai
penyuplai O2 harus segera memenuhinya dengan meningkatkan curah
jantung yang selanjutnya akan meningkatan aliran darah. Selain itu,
perangsangan impuls simpatis menyebabkan vasokonstriktor pembuluh
darah pada tubuh kecuali pada otot yang aktif, terjadi vasodilatasi. Hal
inilah yang menyebabkan tekanan darah akan meningkat setelah
melakukan aktivitas fisik. Saat otot-otot berkontraksi, otot-otot tersebut
menekan pembuluh darah diseluruh tubuh sehingga terjadi pemindahan
darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru-paru. Dengan demikian
akan meningkatkan curah jantung yang selanjutnya meningkatkan
tekanan darah.

VIII. KESIMPULAN
Posisi tubuh pada saat pengukuran tekanan darah baik secara
palpasi maupun auskultasi sangat berpengaruh. Hal ini dikarenakan
adanya pengaruh dari gravitasi terhadap posisi masing-masing.
Selain itu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah
yaitu usia, jenis kelamin, stress, hormon, postur tubuh dan aktivitas fisik.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Noortiningsih. 2015. Fisiologi Hewan & Manusia (Modul Praktikum). Universitas


Nasional, Jakarta.

Manembu, Mercy. 2015. Pengaruh Posisi Duduk dan Berdiri terhadap Tekanan
Darah Sistolik dan Diastolik pada Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Minahasa
Utara. Jurnal: e-Biomedik (eBm). Vol. 3, No. 3.
Lintong, Fransiska. 2015. Analisa Hasil Pengukuran Tekanan Darah Aantara
Posisi Duduk dan Posisi Berdiri pada Mahasiswa Semester VII (Tujuh) TA.
2014/2015 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jurnal: e-Biomedik
(eBm). Vol. 3, No. 1.

Ibnu, M, 1996, Dasar-Dasar Fisiologi Kardiovaskuler, EGC, Jakarta

Oktaviani, Dita. 29 Agustus 2015. Laporan Pengukuran Tekanan Darah.


https://ditaaok.blogspot.co.id/2015/08/laporan-fisiologi-pengukuran-
tekanan.html. Diakses 5 Oktober 2017.

Pebrianto, AQ. 10 Januari 2017. Pengukuran Tekanan Darah.


http://kotakmipa.blogspot.co.id/2017/01/laporan-praktikum-anfisman-
penentuan.html. Diakses 5 Oktober 2017.