Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cephalo pelvic disproportion (CPD) yang berhubungan dengan ukuran


janin yang berlebihan (4000 gram atau lebih) terjadi pada 5% kelahiran aterm.
Ukuran janin yang besar atau makrosomia berhubungan dengan diabetes
mellitus maternal, obesitas, multiparitas, atau ukuran besar pada salah satu atau
kedua orang tua. Distosia bahu, kondisi dimana kepala janin dapat dilahirkan,
tetapi bau anterior tidak dapat melewati bagian bawah arkus pubis, dapat
terjadi pada makrosomia (Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004).
Pertolongan persalinan CPD melalui jalan vaginal memerlukan perhatian
karena dapat menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat permanen sampai
dengan kemantian bayi. Memperhatikan komplikasi pertolongan persalinan
CPD melalui jalan vaginal, maka sebagian besar pertolongan persalinan
cephalo pelvic disproportion dilakukan dengan sectio caesaria. Bedah caesar
merupakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding
abdomen dan dinding uterus dan merupakan prosedur untuk menyelamatkan
kehidupan. Operasi ini memberikan jalan keluar bagi kebanyakan kesulitan
yang timbul bila persalinan pervaginam tidak mungkin atau berbahaya
(Winkjosastro, 1999).

Menurut Gerhard Martius, 1997 Sectio caesaria menempati urutan kedua


setelah ekstraksi vakum dengan frekuensi yang dilaporkan 6% sampai 15%.
Sedangkan menurut statistik tentang 3509 kasus sectio caesaria yang disusun
oleh Peel dan Chamberlein, indikasi untuk sectio caesaria dalah disproporsi
janin-panggul 21%, gawat janin 14%, plasenta previa 11%, pernah sectio
caesaria 11%, kelainan letak janin 10%, pre eklampsi dan hipertensi 7%,
dengan angka kematian ibu sebelum dikoreksi 17%, dan sesudah dikoreksi
0,5% sedangkan kematian janin 14,5 (Wiknjosastro, 1999).

Angka kematian ibu dan perinatal di Indonesia masih tinggi. Kejadian


persalinan terbesar adalah persalinan normal, persalinan tertinggi terjadi pada

1
usia 19-24 tahun, dan paritas tertinggi adalah primiparitas. Insidensi
pengakhiran paling tinggi adalah ”Sectio Caesaria”, dengan indikasi paling
tinggi ”Cephalo pelvicdisproportion”.

BAB II
DAFTAR PUSTAKA

2
A. DEFINISI
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidak
sesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar
melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin
yang besar ataupun kombinasi keduanya.

B. ANATOMI PANGGUL
1. Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul dibentuk oleh promontorium corpus vertebra sacrum 1,
linea innominata, serta pinggir atas simfisis. Konjugata diagonalis adalah
jarak dari pinggir bawah simfisis ke promontorium, Secara klinis, konjugata
diagonalis dapat diukur dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah
yang dirapatkan menyusur naik ke seluruh permukaan anterior sacrum,
promontorium teraba sebagai penonjolan tulang. Dengan jari tetap
menempel pada promontorium, tangan di vagina diangkat sampai
menyentuh arcus pubis dan ditandai dengan jari telunjuk tangan kiri. Jarak
antara ujung jari pada promontorium sampai titik yang ditandai oleh jari
telunjuk merupakan panjang konjugata diagonalis 1,3 cm. Konjugata vera
yaitu jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium yang dihitung dengan
mengurangi konjugata diagonalis 1,5 cm, panjangnya lebih kurang 11 cm.
Konjugata obstetrika merupakan konjugata yang paling penting yaitu jarak
antara bagian tengah dalam simfisis dengan promontorium, Selisih antara
konjugata vera dengan konjugata obstetrika sedikit sekali.

2. Panggul Tengah (Pelvic Cavity)


Ruang panggul ini memiliki ukuran yang paling luas. Pengukuran klinis
panggul tengah tidak dapat diperoleh secara langsung. Terdapat
penyempitan setinggi spina isciadika, sehingga bermakna penting pada
distosia setelah kepala engagement. Jarak antara kedua spina ini yang biasa
disebut distansia interspinarum merupakan jarak panggul terkecil yaitu
sebesar 10,5 cm. Diameter anteroposterior setinggi spina isciadica

3
berukuran 11,5 cm. Diameter sagital posterior, jarak antara sacrum dengan
garis diameter interspinarum berukuran 4,5 cm.

3. Pintu Bawah Panggul


Pintu bawah panggul bukanlah suatu bidang datar namun terdiri dari dua
segitiga dengan dasar yang sama yaitu garis yang menghubungkan tuber
isciadikum kiri dan kanan. Pintu bawah panggul yang dapat diperoleh
melalui pengukuran klinis adalah jarak antara kedua tuberositas iscii atau
distansia tuberum (10,5 cm), jarak dari ujung sacrum ke tengah-tengah
distensia tuberum atau diameter sagitalis posterior (7,5 cm), dan jarak antara
pinggir bawah simpisis ke ujung sacrum (11,5 cm).

4. Panggul Sempit
Distosia adalah persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya
kemajuan persalinan. Distosia dapat disebabkan oleh kelainan pada servik,
uterus, janin, tulang panggul ibu atau obstruksi lain di jalan lahir. Kelainan
ini oleh ACOG dibagi menjadi tiga yaitu:

a. Kelainan kekuatan (power) yaitu kontraktilitas uterus dan upaya ekspulsif


ibu.
1) Kelainan his : inersia uteri / kelemahan his
2) kekuatan mengejan yang kurang misalnya pada hernia atau sesak
nafas.
b. Kelainan yang melibatkan janin (passenger), misalnya letak lintang, letak
dahi, hidrosefalus.
c. Kelainan jalan lahir (passage), misalnya panggul sempit, tumor yang
mempersempit jalan lahir.

Panggul dengan ukuran normal tidak akan mengalami kesukaran kelahiran


pervaginam pada janin dengan berat badan yang normal. Ukuran panggul
dapat menjadi lebih kecil karena pengaruh gizi, lingkungan atau hal lain
sehingga menimbulkan kesulitan pada persalinan pervaginam. Panggul

4
sempit yang penting pada obstetric bukan sempit secara anatomis namun
panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan
panggul.
Selain panggul sempit dengan ukuran yang kurang dari normal, juga
terdapat panggul sempit lainnya. Panggul ini digolongkan menjadi empat,
yaitu:
a) Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul Naegele,
panggul Robert, split pelvis, panggul asimilasi.
b) Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia,
neoplasma, fraktur, atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan
sendi sakrokoksigea.
c) Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis, skoliosis,
spondilolistesis.
d) Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio koksa,
atrofi atau kelumpuhan satu kaki.
Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas
panggul dapat menyebabkan distosia saat persalinan. penyempitan dapat
terjadi pada pintu atas panggul, pintu tengah panggul, pintu bawah panggul,
atau panggul yang menyempit seluruhnya.

5. Penyempitan pintu atas panggul


Pintu atas panggul dianggap sempit apabila diameter anteriorposterior
terpendeknya (konjugata vera) kurang dari 10 cm atau apabila diameter
transversal terbesarnya kurang dari 12 cm. Diameter anteroposterior pintu
atas panggul sering diperkirakan dengan mengukur konjugata diagonal
secara manual yang biasanya lebih panjang 1,5 cm. Dengan demikian,
penyempitan pintu atas panggul biasanya didefinisikan sebagai konjugata
diagonal yang kurang dari 11,5 cm. Mengert (1948) dan Kaltreider (1952)
membuktikan bahwa kesulitan persalinan meningkat pada diameter
anteroposterior kurang dari 10 cm atau diameter transversal kurang dari 12
cm. Distosia akan lebih berat pada kesempitan kedua diameter dibandingkan
sempit hanya pada salah satu diameter.

5
Diameter biparietal janin berukuran 9,5-9,8 cm, sehingga sangat sulit bagi
janin bila melewati pintu atas panggul dengan diameter anteroposterior
kurang dari 10 cm. Wanita dengan tubuh kecil kemungkinan memiliki
ukuran panggul yang kecil, namun juga memiliki kemungkinan janin kecil.
Dari Penulisan Thoms pada 362 nullipara diperoleh rerata berat badan anak
lebih rendah (280 gram) pada wanita dengan panggul sempit dibandingkan
wanita dengan panggul sedang atau luas. Pada panggul sempit ada
kemungkinan kepala tertahan oleh pintu atas panggul, sehingga gaya yang
ditimbulkan oleh kontraksi uterus secara langsung menekan bagian selaput
ketuban yang menutupi serviks. Akibatnya ketuban dapat pecah pada
pembukaan kecil dan terdapat resiko prolapsus funikuli.
Setelah selaput ketuban pecah, tidak terdapat tekanan kepala terhadap
serviks dan segmen bawah rahim sehingga kontraksi menjadi inefektif dan
pembukaan berjalan lambat atau tidak sama sekali. Jadi, pembukaan yang
berlangsung lambat dapat menjadi prognosa buruk pada wanita dengan
pintu atas panggul sempit. Pada nulipara normal aterm, bagian terbawah
janin biasanya sudah masuk dalam rongga panggul sebelum persalinan.
Adanya penyempitan pintu atas panggul menyebabkan kepala janin
mengapung bebas di atas pintu panggul sehingga dapat menyebabkan
presentasi janin berubah. Pada wanita dengan panggul sempit terdapat
presentasi wajah dan bahu tiga kali lebih sering dan prolaps tali pusat empat
sampai enam kali lebih sering dibandingkan wanita dengan panggul normal
atau luas.

6. Penyempitan panggul tengah


Dengan sacrum melengkung sempurna, dinding-dinding panggul tidak
berkonvergensi, foramen isciadikum cukup luas, dan spina isciadika tidak
menonjol ke dalam, dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan
menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. Penyempitan pintu
tengah panggul lebih sering dibandingkan pintu atas panggul. Hal ini
menyebabkan terhentunya kepala janin pada bidang transversal sehingga
perlu tindakan forceps tengah atau seksio sesarea. Penyempitan pintu tengah

6
panggul belum dapat didefinisikan secara pasti seperti penyempitan pada
pintu atas panggul.
Kemungkinan penyempitan pintu tengah panggul apabila diameter
interspinarum ditambah diameter sagitalis posterior panggul tangah adalah
13,5 cm atau kurang. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara
pasti dengan pelvimetri roentgenologik ialah distansia interspinarum.
Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu diwaspadai kemungkinan
kesukaran persalinan apalagi bila diikuti dengan ukuran diameter sagitalis
posterior pendek.

7. Penyempitan pintu bawah panggul


Pintu bawah panggul bukan suatu bidang datar melainkan dua segitiga
dengan diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Penyempitan pintu
bawah panggul terjadi bila diameter distantia intertuberosum berjarak 8 cm
atau kurang. Penyempitan pintu bawah panggul biasanya disertai oleh
penyempitan pintu tengah panggul. Disproporsi kepala janin dengan pintu
bawah panggul tidak terlalu besar dalam menimbulkan distosia berat. Hal
ini berperan penting dalam menimbulkan robekan perineum. Hal ini
disebabkan arkus pubis yang sempit, kurang dari 900 sehingga oksiput tidak
dapat keluar tepat di bawah simfisis pubis, melainkan menuju ramus
iskiopubik sehingga perineum teregang dan mudah terjadi robekan.
Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan umum dan
anamnesa. Misalnya pada tuberculosis vertebra, poliomyelitis, kifosis. Pada
wanita dengan tinggi badan yang kurang dari normal ada kemungkinan
memiliki kapasitas panggul sempit, namun bukan berarti seorang wanita
dengan tinggi badan yang normal tidak dapat memiliki panggul sempit. Dari
anamnesa persalinan terdahulu juga dapat diperkirakan kapasitas panggul.
Apabila pada persalinan terdahulu berjalan lancar dengan bayi berat badan
normal, kemungkinan panggul sempit adalah kecil.
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan salah satu cara untuk
memperoleh keterangan tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri
dalama dengan tangan dapat diperoleh ukuran kasar pintu atas dan tengah

7
panggul serta memberi gambaran jelas pintu bawah panggul. Adapun
pelvimetri luar tidak memiliki banyak arti. Pelvimetri radiologis dapat
memberi gambaran yang jelas dan mempunyai tingkat ketelitian yang tidak
dapat dicapai secara klinis. Pemeriksaan ini dapat memberikan pengukuran
yang tepat dua diameter penting yang tidak mungkin didapatkan dengan
pemeriksaan klinis yaitu diameter transversal pintu atas dan diameter antar
spina iskhiadika.
Tetapi pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi
janin sehingga jarang dilakukan.4 Pelvimetri dengan CT scan dapat
mengurangi pajanan radiasi, tingkat keakuratan lebih baik dibandingkan
radiologis, lebih mudah, namun biayanya mahal. Selain itu juga dapat
dilakukan pemeriksaan dengan MRI dengan keuntungan antara lain tidak
ada radiasi, pengukuran panggul akurat, pencitraan janin yang lengkap.
Pemeriksaan ini jarang dilakukan karena biaya yang mahal. Dari pelvimetri
dengan pencitraan dapat ditentukan jenis panggul, ukuran pangul yang
sebenarnya, luas bidang panggul, kapasitas panggul, serta daya akomodasi
yaitu volume dari bayi yang terbesar yang masih dapat dilahirkan spontan.
Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan
pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr.
Pada metode Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas kearah
rongga panggul dan tangan yang lain diletakkan pada kepala untuk
menentukan apakah kepala menonjol di atas simfisis atau tidak. Metode
Muller Munro Kerr dilakukan dengan satu tangan memegang kepala janin
dan menekan kepala ke arah rongga panggul, sedang dua jari tangan yang
lain masuk ke vagina untuk menentukan seberapa jauh kepala mengikuti
tekanan tersebut dan ibu jari yang masuk ke vagina memeriksa dari luar
hubungan antara kepala dan simfisis.

8. Janin yang besar


Normal berat neonatus pada umumnya 4000 gram dan jarang ada yang
melebihi 5000 gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000 gram dinamakan

8
bayi besar. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3%,
dan berat badan lahir yang melihi 4500 gram adalah 0,4%. Biasanya untuk
berat janin 4000-5000 gram pada panggul normal tidak terdapat kesulitan
dalam proses melahirkan. Faktor keturunan memegang peranan penting
sehingga dapat terjadi bayi besar. Janin besar biasanya juga dapat dijumpai
pada ibu yang mengalami diabetes mellitus, postmaturitas, dan pada grande
multipara. Selain itu, yang dapat menyebabkan bayi besar adalah ibu hamil
yang makan banyak, hal tersebut masih diragukan.
Untuk menentukan besarnya janin secara klinis bukanlah merupakan suatu
hal yang mudah. Kadang-kadang bayi besar baru dapat kita ketahui apabila
selama proses melahirkan tidak terdapat kemajuan sama sekali pada proses
persalinan normal dan biasanya disertai oleh keadaan his yang tidak kuat.
Untuk kasus seperti ini sangat dibutuhkan pemeriksaan yang teliti untuk
mengetahui apakah terjadi sefalopelvik disproporsi. Selain itu, penggunaan
alat ultrasonic juga dapat mengukur secara teliti apabila terdapat bayi
dengan tubuh besar dan kepala besar.
Pada panggul normal, biasanya tidak menimbulkan terjadinya kesulitan
dalam proses melahirkan janin yang beratnya kurang dari 4500gram.
Kesulitan dalam persalinan biasanya terjadi karena kepala janin besar atau
kepala keras yang biasanya terjadi pada postmaturitas tidak dapat memasuki
pintu atas panggul, atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga
panggul. Bahu yang lebar selain dapat ditemukan pada janin yang memiliki
berat badan lebih juga dapat dijumpai pada anensefalus. Janin dapat
meninggal selama proses persalinan dapat terjadi karena terjadinya asfiksia
dikarenakan selama proses kelahiran kepala anak sudah lahir, akan tetapi
karena lebarnya bahu mengakibatkan terjadinya macet dalam melahirkan
bagian janin yang lain. Sedangkan penarikan kepala janin yang terlalu kuat
ke bawah dapat mengakibatkan terjadinya cedera pada nervus brakhialis dan
muskulus sternokleidomastoideus.
C. PENANGANAN

1. Persalinan Percobaan

9
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara kepala
janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat berlangsung
pervaginam dengan selamat dapat dilakukan persalinan percobaan. Cara ini
merupakan tes terhadap kekuatan his, daya akomodasi, termasuk moulage
karena faktor tersebut tidak dapat diketahui sebelum persalinan. Persalinan
percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala, tidak bisa pada letak
sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan letak lainnya. Ketentuan
lainnya adalah umur kehamilan tidak boleh lebih dari 42 mingu karena
kepala janin bertambah besar sehingga sukar terjadi moulage dan ada
kemungkinan disfungsi plasenta janin yang akan menjadi penyulit
persalinan percobaan.
Pada janin yang besar kesulitan dalam melahirkan bahu tidak akan selalu
dapat diduga sebelumnya. Apabila dalam proses kelahiran kepala bayi sudah
keluar sedangkan dalam melahirkan bahu sulit, sebaiknya dilakukan
episiotomy medioateral yang cukup luas, kemudian hidung dan mulut janin
dibersihkan, kepala ditarik curam kebawah dengan hati-hati dan tentunya
dengan kekuatan terukur. Bila hal tersebut tidak berhasil, dapat dilakukan
pemutaran badan bayi di dalam rongga panggul, sehingga menjadi bahu
depan dimana sebelumnya merupakan bahu belakang dan lahir dibawah
simfisis. Bila cara tersebut masih juga belum berhasil, penolong
memasukkan tangannya kedalam vagina, dan berusaha melahirkan janin
dengan menggerakkan dimuka dadanya.
Untuk melahirkan lengan kiri, penolong menggunakan tangan kanannya,
dan sebaliknya. Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari
panggul untuk melahirkan bahu depan. Persalinan percobaan ada dua
macam yaitu trial of labour dan test of labour. Trial of labour serupa
dengan persalinan percobaan di atas, sedangkan test of labour sebenarnya
adalah fase akhir dari trial of labour karena baru dimulai pada pembukaan
lengkap dan berakhir 2 jam kemudian.
Saat ini test of labour jarang digunakan karena biasanya pembukaan tidak
lengkap pada persalinan dengan pangul sempit dan terdapat kematian anak
yang tinggi pada cara ini. Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak

10
dapat lahir spontan pervaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu
dan anak baik. Persalinan percobaan dihentikan apabila pembukaan tidak
atau kurang sekali kemajuannya, keadaan ibu atau anak kurang baik, ada
lingkaran bandel, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah kepala
tidak masuk PAP dalam 2 jam meskipun his baik, serta pada forceps yang
gagal. Pada keadaan ini dilakukan seksio sesarea.

2. Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat dengan
kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata. Seksio juga
dapat dilakukan pada kesempitan panggul ringan apabila ada komplikasi
seperti primigravida tua dan kelainan letak janin yang tak dapat diperbaiki.
Seksio sesarea sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu)
dilakukan karena persalinan percobaan dianggap gagal atau ada indikasi
untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin sedangkan syarat
persalinan pervaginam belum dipenuhi.

3. Simfisiotomi
Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan panggul kiri dan kanan pada
simfisis. Tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.

4. Kraniotomi dan Kleidotomi


Pada janin yang telah mati dapat dilakukan kraniotomi atau kleidotomi.
Apabila panggul sangat sempit sehingga janin tetap tidak dapat dilahirkan,
maka dilakukan seksio sesarea.

D. KOMPLIKASI
1. Komplikasi pada ibu
- Fistula

11
- Partus lama dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis serta infeksi
- Dengan his yang kuat sedangkan kemajuan janin dalam jalan lahir
tertahan, dapat timbul regangan segmen bawah uterus dan pembentukan
lingkaran retraksi patologis yang dapat berakhir pada ruptur uteri.
- post partus hemoragis hingga syok.
2. Komplikasi pada janin
- Meningkatkan kematian perinatal
- Kejang
- Asfiksia
- Cedera fasial

STATUS PASIEN

12
IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. Ramona Lissa Betti

Umur : 30 Tahun

Pekerjaan : PNS

Agama : kristen

Suku/bangsa : Batak/Indonesia

Pendidikan : D III

Alamat : Jl. Padang Bulan, Binjai Selatan

Nama Suami : Mardaus

Umur Suami : 35 tahun

Tgl. Masuk : 6 Januari 2015 pukul 13:00 WIB

No RM : 099301

ANAMNESA PENYAKIT

Ny. R dengan dengan keterangan G2P0A1 , 30 tahun, PNS, batak, kristen,


i/d Tn. mardaus, 35 tahun.

Keluhan Utama : Mau bersalin

Telaah :
Ny. R datang ke RSUD DR.RM. Djoelham dengan keterangan
G2P0A1 , 30 tahun, PNS, Batak, Kristen, i/d Tn. mardaus, 35 tahun. Os
datang dengan keluhan mau bersalin. Sebelumya OS melakukan USG tgl 5
januari 2015 dengan Dr. Eka handayani, Sp.OG dengan hasil CPD
(Cephalopelvic Disproportion).
RPT : (-)
RPO : (-).

13
RIWAYAT OBSTETRI

G2P0A1

1. Hamil ini

a. HPHT : 26– 03– 2014


b. TTP : 03 – 01 – 2015

PEMERIKSAAN FISIK

1. STATUS PRESENT
Keadaan Umum : Baik

Sensorium : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/70mmHg

Respirasi Rate : 20x/menit

Heart Rate : 82x/menit

Suhu : 36,50 C

2. Keadaan Penyakit

Anemia : (-)
Icterus : (-)
Cyanosa : (-)
Dyspnoe : (-)
Edema : (-)
STATUS LOKALIS

1. Kepala :
Mata : conjungtiva palpebra superior pucat (-/-)
Telinga : dbn
Hidung : dbn
Mulut : dbn

14
2. Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-/-)

3. Thorax
a. Paru
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Sterm fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor (+/+)
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Suara tambahan (-/-)
b. Jantung : Ictus kordis tidak terlihat dan tidak teraba,bunyi jantung I
dan II murni, tidak ada mur-mur, tidak ada gallop.
c. Mammae : dbn
d. Kelenjar lymph : dbn

4. Abdomen :
Inspeksi : Massa (-), Striae gravidarum (-), Bekas operasi (-)
Palpasi : Hati tidak teraba,
Lien tidak teraba,
Nyeri tekan abdomen (-),
Fundus uteri tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltic usus normal

5. Genitalia Eksterna : darah (+)

6. Genetalia Interna
Vaginal Thoucer : Belum ada tanda-tanda pembukaan

7. Ekstremitas : normal
8. Fundus uteri : 31 cm
9. Letak janin : Letak kepala
10. Punggung janin : Pu-Ka
11. Turunnya kepala : Belum Mauk PAP
12. DJJ : 142x/i
13. Irama jantung : reguler
14. Tanda-tanda rupturan uteri : tidak ada
15. Taksiran BB janin : 2790 kg
16. His : tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. USG
Dilakukan pada tanggal 5 januari 2015 hasilnya adalah :
 AH (+)

Kesan : CPD (Cephalopelvic Disproportion).

15
2. Laboratorium
Dilakukan pada tanggal 5 Januari 2015 pukul 13:00 Wib
Darah rutin :
Hb : 12,2 gr/dl
Leukosit : 9700 mm3
Hematokrit : 32,0%
Trombosit : 218.000 mm3
Golongan Darah : “B”
Protein Urin : Negatif
Planotest : Positif

RESUME

ANEMNESA

Ny. R dengan dengan keterangan G2P0A1 , 30 tahun, PNS, batak, kristen,


i/d Tn. mardaus, 35 tahun.

Keluhan Utama : Mau bersalin

Telaah :
Ny. R datang ke RSUD DR.RM. Djoelham dengan keterangan
G2P0A1 , 30 tahun, PNS, Batak, Kristen, i/d Tn. mardaus, 35 tahun. Os
datang dengan keluhan mau bersalin. Sebelumya OS melakukan USG tgl 5
januari 2015 dengan Dr. Eka handayani, Sp.OG dengan hasil CPD
(Cephalopelvic Disproportion).
RPT : (-)
RPO : (-).

PEMERIKSAAN FISIK

Status Lokalisata

1. Abdomen

Inspeksi : Abdomen tampak membesar sesuai usia kehamilan,


Massa (-), Striae gravidarum (-), Bekas operasi (-)

16
Palpasi : Fundus uteri teraba dengan tinggi 31cm, terabah
punggung di sebelah kanan ibu, letak kepala dan belum ada penurunan ke
PAP.

2. Genetalia Ekterna

Inspeksi : Darah (-)

3. Genetalia Interna
Vaginal Thoucer : Belum ada pembukaan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. USG
Dilakukan pada tanggal 5 januari 2015 hasilnya adalah :
 AH (+)
Kesan : CPD (Cephalopelvic Disproportion)

2. Laboratorium
Dilakukan pada tanggal 5 Januari 2015 pukul 13:00 Wib
Darah rutin : Hb : 12,2 gr/dl
Leukosit : 9700 mm3
Hematokrit : 32,0%
Trombosit : 218.000 mm3
Golongan Darah : “B”
Protein Urin : Negatif
Planotest : Positif

DIAGNOSA KERJA

 CPD (Cephalopelvic Disproportion)

PENATALAKSANAAN AWAL

- Rencana sectio cesaria

RENCANA

17
- Rencana sectio cesaria

LAPORAN SECTIO CESARIA

Dilakukan pada tanggal 7 Januari 2014 pukul 15:00 Wib

- Persiapan Sebelum Operasi


1. Informed consent
2. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang diderita
3. Menerangkan kepada pasien tentang tindakan OP yang akan
dilakukan : garis besar prosedur tindakan, tujuan dan manfaat
tindakan.
4. Puasa

- Laporan Operasi
1. Tanggal operasi : 6 januari 2015
2. Diagnosa pre-operatif : G2P0A1 dengan CPD (Cephalopelvic
Disproportion).
3. Diagnosa post-operatif : P1A1, partus aterm, CPD (Cephalopelvic
Disproportion)
4. Macam operasi : Sectio cesaria efektif.

- Langkah-langkah Operasi
1. Pasien dipersiapkan di meja operasi dan dilakukan anastesi spinal
2. Pasien diposisikan terbaring
3. Pasien desinfektan dinding perut dan lapangan OP dipersempit dengan
duk steril.
4. Dibuat insisi horizontal ±12cm.
5. Dilakukan insisi pada segmen bawah rahim 1 cm dibawah plika
vesikouterina.
6. Kepala anak didorong dari arah vagina, ke arah abdomen.
7. Anak dilahirkan mulai dari kepala, badan, kaki per abdominal
dilakukan saction kemudian dilakukan pemotongan tali pusat.
8. Menjahit luka irisan
9. Permukaan abdomen dibersihkan dengan NaCl 0,9%
10. Eksplorasi kedalam vagina untuk mengeluarkan sisa darah
11. Operasi selesai
- Laporan Kelahiran Bayi
Bayi lahir jenis kelamin perempuan, dengan berat badan lahir
3.300 gram dan panjang badan 47cm dalam keadaan lengkap dan
sehat.

18
TERAPI POST OPERASI

- IVFD RL 20 gtt/menit
- Inj.Cefotaxim 1 gr/8 jam
- Inj. Ranitidin 1amp/8jam
- Inj. Ketorolac I amp/8jam
- Diet MB

FOLLOW UP

FOLLOW Tgl 5 Januari 2015 Tgl 6 Januari 2015 Tgl 7 Januari 2015
UP
KU Baik Baik Baik
Kesadaran CM CM CM
Keluhan - Luka bekas OP - Nyeri bekas OP
terasa berdenyut dan berkurang
nyeri
- Kontraksi uterus
(+)
- Flatus (+)
Vital Sign TD :110/70 mmhg TD :130/80 mmHg TD :110/70 mmHg
RR :20x/i RR :24x/i RR :20x/i
HR :82x/i HR :80x/i HR :80x/i
T :36,50 C T : 37,20 C T : 36,50 C

- IVFD RL 20 - Cefadroxil 500 mg 3x1


- As. Mefenamat 500 mg
Rencana SC gtt/menit
Terapi
- Inj.Cefotaxim 1 3x1
- Sohobion 1x1
gr/8 jam
- Inj. Ranitidin
1amp/8jam
- Inj.Ketorolac I
amp/8jam
- Diet MB

19
KESIMPULAN

 Pada tanggal 7 Januari 2015 Pasien PBJ


 Terapi PBJ adalah
Cefadroxil 500 mg 3x1
Asam Mefenamat 500 mg 3x1
Sohobion 1x1
 Pasien PBJ dalam kondisi sehat

20