Anda di halaman 1dari 5

Nama : Dian Aprilia

NIM : 122.14.000.28

PERBEDAAN PESANTREN, MASJID RAYA dan ISLAMIC CENTER

Pesantren

Dalam Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Pesantren atau Pondok Pesantren adalah
Lembaga Pendidikan keagamaan Islam yang berbasis masyarakat yang menyelenggarakan Pendidikan
diniyah atau secara terpadu dengan jenis Pendidikan lainnya. Pesantren menyelenggarakan pendidikan
dengan tujuan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi
pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk
menjadi ahli ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan/atau menjadi muslim yang memiliki
keterampilan/keahlian untuk membangun kehidupan yang Islami di masyarakat.

Sistem pendidikan pesantren memiliki ciri khas dalam metode pengajarannya yang berbeda
dengan sistem pendidikan pada umumnya, seperti sorogan (santri belajar dengan kyai dengan cara
bertatap muka langsung secara individual1), wetonan (metode pengajian di mana para santri mengikuti
pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai. Kyai membacakan kitab yang saat itu dikaji dan santri
menyimak kitab masing-masing sambil membuat catatan2), tahfizh (hafalan) dan lain sebagainya.

Namun seiring dengan perkembangannya, pesantren sekarang ini terdiri berbagai macam jenis
pendidikan. Tipologi Pesantren menurut Kemenag RI secara umum dapat dideskripsikan menjadi 3
(tiga) tipe, yaitu sebagai berikut :

a. Pesantren Tipe A
 Para santri belajar dan menetap di pesantren
 Kurikulum tidak tertulis secara eksplisit melainkan memakai hiddencurriculum (benak
kyai)
 Pola pembelajaran menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren (sorogan,
bandongan, dan lain sebagainya)
 Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah
b. Pesantren Tipe B
 Para santri tinggal dalam pondok/pesantren
 Pembelajaran menggunakan perpaduan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem
madrasah
 Terdapatnya kurikulum yang jelas

1M. Dawam Rahardjo, Pergaulan Dunia Pesantren, (Jakarta, P3M 1985) hal. 9
2Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hal. 70
 Memiliki tempat khusus yang berfungsi sebagai sekolah (madrasah)
c. Pesantren Tipe C
 Para santri belajar di madrasah/sekolah yang letaknya tidak jauh dengan pesantren
 Waktu belajar di pesantren biasanya malam/siang hari jika para santri tidak belajar di
sekolah/madrasah (ketika mereka di pesantren)
 Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.

Selain itu, dalam pola hidup pesantren bukan hanya pelajaran semata, tetapi juga
memperhatikan pembinaan kepribadian dalam penanaman akhlak dalam tingkah laku. Nilai
kemandirian, sikap hormat, kesederhanaan, keteladanan dan persaudaraan menjadi prinsip para santri
yang berada di dalam Pesantren.

Masjid Raya

Masjid Raya merupakan salah satu tipologi masjid yang berada di Indonesia. Dalam Keputusan
Direktur Jenderal Bimbingsn Masyarakat Islam No. DJ.II/802 Tahun 2014, Masjid Raya merupakan
masjid yang berada di Ibu Kota Provinsi, ditetapkan oleh Gubernur atas rekomendasi Kepala Kantor
Wilayah Kementrian Agama Provinsi sebagai Masjid Raya, dan menjadi pusat kegiatan keagamaan
tingkat Pemerintahan Provinsi. Masjid Raya ini memiliki kriteria yaitu :
 Dibiayai oleh Pemerintah Provinsi melalui APBD dan dana masyarakat;
 Berfungsi sebagai pembina Masjid Agung yang ada di wilayah Provinsi;
 Kepengurusannya ditetapkan oleh Gubernur atau yang mewakilinya atas rekomendasi Kepala
Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi berdasarkan usulan jamaah/masyarakat;
 Menjadi contoh dan rujukan masjid yang ideal dalam wilayah provinsi;
 Memiliki fasilitas/bangunan penunjang seperti kantor, bank Syariah, took, aula, hotel atau
penginapan, poliklinik, sekolah atau kampus;
 Memiliki nilai budaya, arsitektur nasional dan memiliki potensi sebagai tempat tujuan wisata, baik
domestic maupun mancanegara;
 Memiliki nilai sejarah kebangsaan.
Dalam peraturan ini disebutkan bahwa Masjid di Indonesia memiliki standar Idarah (kegiatan
pengelolaan), Imarah (kegiatan memakmurkan masjid) dan Ri’ayah (kegiatan pemeliharaan bangunan).
Standar Idarah pada Masjid Raya ini mengenai kegiatan pengelolaan Masjid yang dikelola oleh
pemerintah setempat dan pelaksanaan teknis dalam kegiatan pengelolaan Masjid Raya. Standar Imarah
pada Masjid Raya ini mengenai kegiatan-kegiatan yang harus diselenggarakan minimal di dalam Masjid
Raya, seperti menyelenggarakan peribadatan, menyelenggarakan Shalat hari raya, menyelenggarakan
kegiatan Dakwah Islam, kegiatan Pendidikan, kegiatan Pemberdayaan Sosial dan ekonomi, dan lain
sebagainya untuk menunjang kegiatan keislaman lainnya. Standar Ri’ayah pada Masjid Raya ini
mengenai standar fasilitas utama dan penunjang yang harus disediakan dalam Masjid Raya. Fasilitas
utama berupa Ruang Shalat berkapasitas 20.000 jamaah, Ruang Tamu khusus (VIP), mukena minimal
500 buah, Ruang Serbaguna, jumlah kran untuk Wudhu, jumlah toilet dan jumlah MCK dan sebagainya.
Sedangkan untuk fasilitas penunjang berupa kantor secretariat, ruang perpustakaan, ruang perkantoran,
kamar penginapan minimal 10, sarana bermain dan olahraga, dan lain sebagainya.

Islamic Center

Islamic Centre adalah pusat kegiatan masyarakat muslim melaksanakan ibadah dan dakwah,
pemberdayaan umat, serta pengembangan kebudayaan Islam. Dari pengertian tersebut Islamic Centre
dapat dijabarkan sebagai tempat ummat Islam melaksanakan ibadah dan mengamalkan nilai-nilai Islam
yang universal, tempat para ulama dan intelektual muslim untuk mengkaji dan mendakwahkan ilmu-
ilmu Islam, tempat penggemblengan SDM yang berkualitas Imtak dan Iptek-nya, serta tempat
masyarakat berinteraksi dan berapresiasi dalam mengembangkan karyanya dalam meningkatkan
kualitas hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. (http://pusdai.or.id/pusdai/islamic-centre/ diakses tanggal
15 Maret 2018)

Fungsi Islamic Centre dapat dibayangkan seperti fungsi masjid di zaman Rasulullah SAW.
Walaupun tidak dapat menyamai seperti fungsi masjid di zaman Rasulullah, untuk masa sekarang,
Islamic Centre dapat dikatakan sebagai penjabaran secara luas terhadap fungsi masjid atau disebut
dengan masjid “plus” (+, ++, +++ dan seterusnya). “Plus”-nya tergantung dari kemampuan pengelola
Islamic Centre dalam menjabarkan pemahaman agama kedalam program kegiatan Islamic Centre-nya;
kesanggupan pengelola dalam mewadahi kebutuhan masyarakat dalam mengamalkan nilai-nilai Islam;
serta visi dan misi pengelola dalam memberdayakan Islamic Centre.

Dalam Buku Petunjuk Pelaksanaan Proyek Islamic Center di seluruh Indonesia oleh Direktorat
Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI tahun 1976, Islamic Center di Indonesia
harus memiliki beberapa persyaratan yang akan berfungsi sebagai kontrol kegiatan. Di antara
persyaratan tersebut adalah Islamic Center harus memiliki:

A. Tujuan Islamic Center


Tujuan Islamic Center adalah sebagai berikut:
 Mengembangkan kehidupan beragama Islam yang meliputi aspek aqidah, ibadah, maupun
muamalah dalam lingkup pembangunan nasional.
 Sebagai lembaga pendidikan non-formal keagamaan sehingga dapat menjadi salah satu mata
rantai dari seluruh sistem pendidikan nasional, dengan Allah SWT., cakap, cerdas, terampil,
tangkas, berwibawa dan berguna bagi masyarakat dan Negara.
 Ikut serta meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta keterampilan untuk
membangun masyarakat dan Negara Indonesia.
B. Fungsi Islamic Center

Fungsi Islamic Center sebagai pusat pembinaan dan pengembangan agama serta kebudayaan
Islam adalah sebagai berikut
 Pusat penampungan, penyusunan, perumusan hasil dan gagasan mengenai pengembangan
kehidupan agama dan kebudayaan Islam.
 Pusat penyelenggaraan program latihan pendidikan non-formal.
 Pusat penelitian dan pengembangan kehidupan agama dan kebudayaan Islam.
 Pusat penyiaran agama dan kebudayaan Islam.
 Pusat koordinasi, sikronisasi kegiatan pembinaan dan pengembangan dakwah Islamiah.
 Pusat informasi, komunikasi masyarakat luas pada umumnya dan pada masyarakat muslim
pada khususnya.

C. Lingkup Kegiatan Islamic Center


 Kegiatan Ubudiyah/Ibadah Pokok : Sholat, Zakat, Puasa, Naik Haji (pendaftaran sampai
keberangkatan), peringatan Hari Besar Islam, dan lain-lain.
 Kegiatan Muamalah/Kegiatan Kemasyarakatan : Penelitian dan Pengembangan (seminar,
diskusi, ceramah, Kursus, Pameran, Penerbitan dan Percetakan, dan lain-lain), Sosial
Kemasyarakatan (koperasi, konsultasi, pelayanan social, pelayanan pendidikan, pelayanan
kesehatan, dan lain-lain), kegiatan penunjang (pelayanan kafetaria, pelayanan
pemondokan/guest house) dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari penjelasan di atas mengenai perbedaan antara pesantren, Masjid Raya dan Islamic
Center yaitu :

 Pesantren merupakan Lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas tersendiri dalam metode
pengajaran dan sistem pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Pola kegiatan yang terdapat
di dalam pesantren ini yaitu berupa kegiatan pembinaan dan pengajaran yang dilakukan oleh
kyai kepada santri untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan para santri
untuk menjadi ahli ilmu agama Islam. Sistem pendidikan yang ada di dalam Pesantren zaman
sekarang ada yang masih menggunakan sistem Pendidikan Tradisional dan ada juga yang
menggunakan sistem pembaharuan dengan adanya campuran sistem Pendidikan Formal seperti
Madrasah.
 Masjid Raya merupakan masjid yang dikelola oleh pemerintah dan memiliki standar-standar
fasilitas yang harus tersedia di dalam Masjid Raya berdasarkan kriteria dari Masjid Raya ini.
Karena ruang lingkup Masjid Raya ini merupakan satu wilayah Provinsi, maka tidak
dikhususkan hanya untuk kegiatan peribadahan saja, tetapi juga untuk kegiatan penunjang
lainnya yang menjadi pusat kegiatan (terutama kegiatan yang berkaitan dengan Islam) dalam
satu wilayah provinsi tersebut.
 Islamic Center merupakan pusat kegiatan masyarakat muslim untuk mengembangkan Imtak
dan Iptek nya masing-masing untuk meningkatkan kualitas hidup berdasarkan nilai-nilai Islam.
Dari segi fasilitas tentu lebih lengkap dari Masjid Raya karena Islamic Center ini merupakan
‘pusat’ segala kegiatan yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam. Pesantren bisa menjadi salah
satu bagian kegiatan pendidikan yang ada di dalam Islamic Center.