Anda di halaman 1dari 26

KAJIAN TEKNIS KUANTITAS ALIRAN UDARA TAMBANG

DALAM PADA TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH


DI PT. KITADIN - EMBALUT, KALIMANTAN TIMUR

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :
EKA BUDI SETIAWAN
112980073

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ‘VETERAN’
YOGYAKARTA
2004
KAJIAN TEKNIS KUANTITAS ALIRAN UDARA TAMBANG
DALAM PADA TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH
DI PT. KITADIN - EMBALUT, KALIMANTAN TIMUR

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :
EKA BUDI SETIAWAN
112980073

Mengetahui

(Ir. Dwi Poetranto WA MT.) (________________________)


Dosen Wali Dosen Pembimbing
A. JUDUL
KAJIAN TEKNIS KUANTITAS ALIRAN UDARA TAMBANG DALAM
PADA TAMBANG BATUBARA BAWAH TANAH DI PT. KITADIN-
EMBALUT, KALIMANTAN TIMUR

B. ALASAN PEMILIHAN JUDUL


PT. Kitadin merupakan perusahaan tambang batubara yang berlokasi di
daerah Embalut, kecamatan Tenggarong, kabupaten Kutai, Kalimantan Timur,
merupakan anak perusahaan dari grup BANPU yang dimiliki pemilik modal
dalam negeri. Tahap eksplorasi mulai tahun 1978, sedangkan mulai produksi
tahun 1983. Aktifitas penambangan dilakukan secara tambang terbuka dan
tambang bawah tanah (tambang dalam). Kegiatan tambang dalam saat ini
dilakukan dengan metode lorong panjang cara mundur (retreating longwall
methode).
Untuk menunjang kegiatan produksi tambang dalam, maka diperlukan
suatu sistem ventilasi yang baik. Sistem ventilasi yang digunakan adalah dengan
menggunakan exhaust fan, dengan menempatkan fan (kipas) di permukaan pada
lubang ventilasi atau pada lubang bukaan utama (shaft). Distribusi aliran udara
ini akan memasok kebutuhan udara segar yang masuk kedalam tambang atau
tempat-tempat yang membutuhkan suplai udara seperti di kemajuan
penerowongan tambang dan front kerja. Oleh karena itu pengaturan mengenai
kuantitas dan kualitas udara segar pada tambang dalam merupakan faktor yang
sangat penting dalam menunjang produksi.
Dalam kajian ini akan dibahas mengenai kuantitas dan kualitas udara segar
yang dibutuhkan di tambang dalam II, Untuk itu dilakukan pengukuran dan
pemeriksaan terhadap kuantitas dan kualitas udara untuk mensuplai kebutuhan
udara segar yang dibutuhkan.

C. TUJUAN PENELITIAN
a. Untuk menghitung total kebutuhan minimum udara segar yang dibutuhkan di
tambang dalam II dengan menciptakan kondisi kerja yang aman dan nyaman.
b. Untuk mengetahui berapa kuantitas udara yang masuk di tambang dalam II
dan kualitas aliran udara yang meliputi suhu dan kelembaban relatif,
konsentrasi gas serta debu yang ada dalam tambang.

D. PERUMUSAN MASALAH
Untuk meningkatkan kondisi kerja yang nyaman dan mencegah
terhambatnya proses produksi akibat sistem ventilasi yang kurang baik, maka
yang perlu dilakukan adalah :

1. Menganalisa kebocoran udara yang terjadi pada pipa plastik atau sambungan
plastik angin pada kipas angin bantu di lokasi kemajuan penerowongan
tambang.
2. Menganalisa kehilangan udara yang disebabkan oleh kebocoran pada bekas
lubang bukaan naik yang kurang rapat penutupnya.
3. Menganalisa kebocoran udara pada sekat-sekat pintu, dimana pintu tersebut
digunakan sebagai jalur material yang masih berfungsi.
4. Menganalisa arah aliran udara akibat adanya kerusakan pada pintu-pintu
angin, sehingga aliran udara kotor bercampur dengan udara bersih.

E. DASAR TEORI
Ventilasi merupakan suatu usaha pengendalian terhadap pergerakan atau
aliran udara tambang, termasuk didalamnya adalah jumlah, mutu dan arah
alirannya. Secara teknis, ventilasi tambang harus merupakan pengaturan total
baik dari segi ketersediaan udaranya maupun bukaan saluran udara dan peralatan
pengaliran yang dibutuhkan. Pembagian udara segar kedalam tambang bawah
tanah dimaksudkan untuk menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman.
Adapun tujuan dari ventilasi tambang adalah :

1. Menyediakan oksigen yang cukup untuk pernafasan dan proses-proses dalam


tambang.
2. Mengencerkan gas–gas beracun yang ada didalam tambang, sehingga tidak
membahayakan bagi para pekerja.
3. Mengurangi konsentrasi debu yang timbul akibat kegiatan yang dilakukan di
dalam tambang.
4. Menurunkan temperatur udara tambang, sehingga dapat dicapai lingkungan kerja
yang aman dan nyaman.

Faktor-faktor Penting Dalam Sistem Ventilasi :


1. Pengendalian Kuantitas Udara Tambang
Kuantitas udara adalah jumlah udara yang masuk ke dalam tambang
dengan luas dan kecepatan tertentu yang diukur setiap satuan waktu.
Pengendalian kuantitas udara tambang merupakan pengaturan terhadap
jumlah alirannya agar cukup untuk pernafasan dan mengurangi konsentrasi
gas serta debu yang terbawa dalam udara ; termasuk didalamnya adalah
pengaturan arah aliran udara agar memenuhi ketentuan-ketentuan kecepatan.
Kuantitas aliran udara ini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
Q = V x A … … …2)
Keterangan :
Q = kuantitas aliran udara (cfm)
V = kecepatan aliran udara (fpm)
A = luas penampang jalan udara (ft2)
Pada pengendalian kuantitas udara tambang itu sendiri meliputi
beberapa faktor, antara lain:
a. Perkiraan Kebutuhan Minimum Udara Segar
Yang dimaksud udara segar adalah udara yang belum digunakan
untuk suatu aktifitas dan bebas dari gas-gas pengotor serta debu. Udara
segar tersebut diperlukan manusia, lingkungan dan proses dalam tambang
agar tercipta kondisi kerja yang aman dan nyaman sehingga dapat
meningkatkan produktifitas kerja. Perkiraan kebutuhan minimum udara
segar didasarkan atas beberapa faktor, yaitu :
1. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan
Jumlah tenaga kerja tergantung dari sistem kerja yang digunakan yaitu
sistem gilir kerja per hari. Untuk keperluan bernafas, manusia
memerlukan udara segar 70 cfm, sedangkan tempat kerja yang ada
asap dan debu nya sesuai standar OSHA (Occupational Safety and
Health Administration) manusia memerlukan udara segar 200 cfm per
orang.
2. Banyaknya peralatan yang digunakan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar untuk mengencerkan
gas dan debu yang ditimbulkan dari peralatan yang digunakan dalam
penambangan.
3. Banyaknya gas dan asap dari hasil peledakan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar untuk mengatasi gas-gas
berbahaya dan asap yang dihasilkan dari peledakan.
4. Penggerak peralatan
Perhitungan kebutuhan minimum udara segar dari proses pembakaran
mesin pada alat-alat produksi penambangan, untuk proses
pembakaran mesin memerlukan energi listrik sebesar 3.412 BTU/jam
untuk setiap kW.
5. Kehilangan udara dari sistem ventilasi
Menurut MSHA (mine safety and health administration), kehilangan
udara dari sistem ventilasi yang diijinkan adalah antara 10% - 25%.
6. Volume ruangan dan banyaknya debu yang berhamburan pada saat
aktifitas penambangan berlangsung.

b. Konstruksi pengaturan aliran udara.

a) Bulkhead atau stopping


Digunakan untuk menutup secara permanen bukaan yang secara
fungsional akan menghubungkan aliran udara masuk dan keluar
sehingga tidak akan terjadi hubungan pendek.
b) Pintu ventilasi (ventilation door)
Dipergunakan pada bukaan yang secara fungsional akan
menghubungkan aliran udara masuk dan keluar sehingga tidak akan
terjadi hubungan pendek, namun bukaan tersebut masih dipergunakan
sebagai jalan baik untuk pekerja maupun peralatan.
c) Pintu penyekat (airlock door)
Secara fisik, bentuk antara ventilation door dengan airlock adalah
sama karena berupa pintu ventilasi. Namun untuk kepentingan
kegunaannya, airlocking dipasang rangkap beberapa pintu ventilasi
sekaligus mempertimbangkan mekanisme buka tutupnya apabila
bukaan tersebut masih digunakan sebagai jalan baik untuk pekerja
maupun peralatan.
d) Regulator
Berfungsi untuk membatasi kuantitas aliran udara yang mengalir pada
suatu bukaan dengan cara menambah nilai hambatan (resistensi) pada
suatu titik pada bukaan tersebut.
e) Tirai udara (brattice curtain)
Dipergunakan untuk menutup aliran udara pada bukaan secara
sementara (temporary). Terbuat dari bahan yang tahan api dan
mudah/relatif ringan untuk dipasang dan dipindahkan.

2. Pengendalian Kualitas Udara Tambang


Pengendalian terhadap kualitas udara tambang meliputi pengaturan
konsentrasi gas dan debu dalam udara, temperatur dan kelembaban relatif
sehingga udara tambang tetap segar sesuai dengan ambang batas yang
diperkenankan.
Adapun kreterianya meliputi :
a. Gas-gas tambang :
a) Oksigen (O2)
Oksigen adalah unsur terpenting yang dibutuhkan untuk pernafasan
manusia dengan jumlah 21 % dari total udara yang terhirup oleh
pernafasan, karenanya kuantitas kebutuhan oksigen menjadi fungsi
dari aktifitas fisik yang dilakukan. Batas kandungan minimum
oksigen dalam udara adalah 19,5 %, dan kekurangan oksigen dalam
udara akan mengakibatkan gangguan fisik sebagai berikut :
Tabel 1
Efek kekurangan oksigen terhadap kondisi fisik 2)
Kandungan O2 (%) Efek
17 Pernafasan menjadi lebih cepat
15 Jantung berdenyut lebih cepat
13 Mulai kehilangan kesadaran
9 Pingsan
7 Terancam mati
6 Mati

b) Karbon dioksida (CO2)


Karbon dioksida adalah gas hasil oksidasi dan pembakaran zat
organis, dapat juga merupakan hasil proses pernafasan mahluk hidup.
Gas ini mempunyai karakteristik lebih berat dibandingkan udara
sehingga seringkali ditemukan berada dekat lantai bukaan dan area-
area yang tidak mengalami sirkulasi udara.
Aktifitas lain yang menghasilkan gas karbon dioksida adalah gas dari
kebakaran, peledakan dan sebagian dari hasil pembakaran pada
peralatan. Batas kandungan maksimum dalam udara yang diizinkan
adalah 0,5 %.
Tabel 2
Pengaruh kandungan gas CO2 terhadap pernafasan 2)
Konsumsi CO2 (%) Efek
0,5 Pernafasan bertambah cepat
3 Laju pernafasan naik 200 %
5 Laju pernafasan naik 300 %

c) Karbon monoksida (CO)


Karbon monoksida sebagian besar dihasilkan dari tidak sempurnanya
pembakaran yang terjadi didalam mesin peralatan tambang bawah
tanah, sedangkan sumber-sumber lain adalah kebakaran, peledakan,
pemanasan yang berlebihan dan oksidasi pada suhu rendah.
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin,
sehingga sedikit saja kandungan CO dalam udara akan segera
bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin (COHb) yang akan
meracuni tubuh. Batas kandungan maksimum yang diperbolehkan
adalah 0,005 %. Efek dari keracunan gas karbon monoksida adalah :
Tabel 3
Efek prosentase COHb pada kondisi fisik 2)
% COHb Efek
5 – 10 Kehilangan beberapa fungsi kesadaran
10 – 20 Mulai merasakan denyut pada kepala
20 – 30 Pusing
30 – 40 Muntah dan penglihatan kabur
40 – 60 Pingsan
60 – 70 Koma atau mati
70 – 80 Mati

d) Methane (CH4)
Methane merupakan gas yang selalu dijumpai dalam tambang batubara
dan sering merupakan sumber dari suatu peledakan tambang, campuran
gas methane dengan udara disebut dengan firedamp. Gas ini mempunyai
berat jenis yang lebih kecil daripada udara, maka selalu berada pada
bagian atas dari jalan udara.
Methane merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak mempunyai rasa. Pada saat proses pembatubaraan, gas methane
terbentuk bersama-sama dengan gas karbon dioksida. Gas ini akan tetap
berada dalam lapisan batubara selama tidak ada perubahan tekanan
padanya. Batas kandungan maksimum yang diperbolehkan adalah 0,25 %.

b. Debu tambang
Debu secara klasifikasi fisis termasuk dalam ketegori aerosol yaitu
hamburan partikel padat dan atau cair didalam medium gas/udara, dimana
didalam tambang bawah tanah, debu ini dihasilkan oleh aktifitas
penambangan seperti pemboran, peledakan, pemuatan, pengangkutan dan
penumpahan bijih.

 Klasifikasi Debu
Klasifikasi debu pada dasarnya dapat dibedakan menurut tingkat
bahayanya terhadap fisik dan kemampuan ledakannya. Berikut ini
klasifikasi debu berdasarkan tingkat bahayanya, yaitu :
a) Debu fibrogenik
Merupakan debu yang berbahaya terhadap pernafasan, seperti
silika (kuarsa dan chert), silikat (asbestos, talk, mika dan
silimanit), meal fumes (asap logam), bijih timah, bijih besi,
karborondum dan batubara (anthrasit, bitumineous).
b) Debu karsiogenik
Contohnya kelompok radon, asbestos dan arsenik.
c) Debu beracun
Merupakan debu yang mengandung racun yang berbahaya
terhadap organ dan jaringan tubuh, seperti bijih berilium, arsenik,
timah hitam, uranium, radium, thorium, khromium, vanadium, air
raksa, kadmium, antimoni, selenium, mangan, tungsten, nikel dan
perak (khususnya oksida dan karbonat).
d) Debu radioaktif
Merupakan debu yang berbahaya karena radiasi sinar alpha dan
sinar beta, seperti bijih uranium, radium dan thorium.
e) Debu yang dapat meledak (terbakar di udara)
Contohnya debu logam (magnesium, alumunium, seng, timah dan
besi), batubara (bituminous dan lignit), bijih sulfida dan debu
organic.

f) Debu pengganggu
Contohnya gypsum, gamping dan kaoilin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bahaya debu bagi manusia antara lain:
a) Komposisi kimia dan mineralogi debu
Ditinjau dari tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan, komposisi
mineralogi lebih penting dibandingkan komposisi kimiawi dan
fisiknya.
b) Konsentrasi
yaitu banyaknya partikel debu yang dinyatakan dengan dua cara,
yaitu :
i. Atas dasar jumlah, satuannya adalah mppcf (million of
particles per cuft) atau ppcc (particles per cubic centimeter).
ii. Atas dasar berat, satuannya adalah mg/m3
Faktor konsentrasi merupakan faktor terpenting kedua setelah
komposisi. Secara umum debu dapat membahayakan paru-paru
jika konsentrasi lebih besar dari 0,5 mg/m3.
c) Ukuran partikel
Partikel debu yang berukuran lebih kecil dari 5 mikron berbahaya,
karena luas permukaannya besar dengan demikian aktifitas
kimianya pun besar. Selain itu debu halus tergolong debu yang
dapat dihirup karena tersuspensi di udara.

d) Waktu kontak
yaitu lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang berhubungan
dengan lingkungan yang mengandung debu.
e) Daya tahan tubuh perorangan
Faktor ketahanan individu terhadap bahaya debu sampai saat ini
merupakan faktor yang belum dapat dikuantifikasi.
c. Temperatur dan Kelembaban Relatif
Dalam keadaan normal, udara tidak pernah dalam keadaan kering tetapi
selalu mengandung kadar air. Maka parameter yang diukur untuk
menentukan keadaan udara tersebut adalah :
a) Temperatur
Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi pekerja
yang berada pada tambang bawah tanah, karena udara diperlukan pula
untuk pendinginan panas tubuh.
Parameter temperatur terdiri dari :
i. Dry bulb temperatur (td)
ii. Wet bulb temperatur (tw)
iii. Temperatur efektif (te)
Temperatur efektif merupakan suatu standar suhu untuk mengetahui
kenyamanan lingkungan kerja tambang. Penentuannya dapat
dilakukan secara grafis dengan menggunakan variabel temperatur
cembung kering (td), temperatur cembung basah (tw) dan kecepatan
aliran udara. Temperatur efektif akan mempengaruhi efesiensi kerja,
hal ini dapat dilihat pada gambar 3.7.

Gambar 1
Diagram efesiensi kerja 2)
b) Kelembaban Relatif (  )
Kelembaban relatif merupakan perbandingan antara tekanan uap dari
udara pada suatu keadaan tidak jenuh dengan tekanan uap udara pada
keadaan jenuh, pada keadaan temperatur yang sama. Kelembaban
relatif dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan rumus :
( Pb  Ps ' ) ( td  tw )
Pv  Ps '  in Hg … … …2)
2800  1,3 tw
Pv
 x100 % … … …2)
Ps
Keterangan :
 = Rh = kelembaban relatif (%)
Ps = harga tekanan uap jenuh pada td (in.Hg)
Ps’ = harga tekanan uap jenuh pada tw (in.Hg)
Pb = tekanan barometer (in.Hg)
Pv = tekanan uap jenuh (in.Hg)
T = temperatur (oF)
W = specific humidity (lb/lb.da)
V = specific volume (ft3/lb)
W = densitas udara (lb/ft3)
Dalam perhitungan densitas udara dapat dilakukan dengan
menggunakan pendekatan rumus :
 pv 
W  0,622   lb / lb.da … … …2)
 pb  pv 

Pa = (Pb – Pv) in.Hg … … …2)


T = (460 + o C) o R … … …2)
53,3 (Td )
v  ft 3 / lb … … …2)
Pa
1
w  (W 1) lb / ft 3 … … …2)
v

3. Tahanan Udara Tambang (mine resistance)


Kuantitas udara akan berbanding sama dengan besarnya hambatan yang
terjadi pada jalan udara (airway). Parameter yang mempengaruhi hambatan
udara adalah panjang, luas penampang, keliling serta karakteristik jalan
udara tambang.
K P ( L  Le)
R  in. min 2 / ft 6 … … …2)
5,2 A3

keterangan :

A = luas penampang jalan udara (ft2)


P = keliling (ft)
K = faktor gesekan (K x 10 –10 lb.min2/ft4)
L + Le = panjang jalur dan kesetaraan (ft)
R = tahanan tambang (in.min2/ft6)

4. Kehilangan Julang (head loss)


Penjumlahan kehilangan julang dalam sistem ventilasi tambang terdiri
dari 70 – 90 % hilang gesekan (friction loss) dan 10 – 30 % dari hilang kejut
(shock loss) dalam aliran tambang.
Kehilangan Julang atau head loss ini terdiri dari:

a. Julang gesekan (Hf)


Julang gesekan terjadi sewaktu udara mengalir pada lubang bukaan
akan mendapatkan gesekan terhadap dinding yang tidak teratur. Fungsi
kehilangan gesekan dalam jalur udara tambang terdiri dari kecepatan
aliran udara, sifat permukaan dan dimensi lubang bukaan (panjang, lebar
dan tinggi).

L V2
Hl  f … … … 2)
D 2g

keterangan :
L = panjang saluran (ft)
D = diameter saluran (ft)
V = kecepatan udara (fpm)
F = koefesien gesekan
Untuk saluran berbentuk lingkaran, maka Rh adalah :

A
 . D2 D
Rh   4  … … …2)
P .D 4
sehingga diperoleh persamaan :
L V2
Hl  f … … …2)
4 Rh 2 g

dari uraian rumus Atkinson :


f L 0,075 K L
Hf  2
 V2
5,2 4 Rh 2 g (60) 5,2 Rh

K PLV2 KS V2
Hf  
5,2 A 5,2 A

karena Q =VxA
maka persamaannya adalah:
2
K PL Q
Hf  in.water … … …2)
5,2 A3

dimana :
Hf = friction loss (in.water)
K = faktor gesekan untuk densitas udara standar (lb.min2/ft4)
P = keliling saluran (ft)
L = panjang saluran (ft)
Q = debit udara (cfm)
A = luas penampang saluran (ft2)
V = kecepatan aliran (fpm)
S = rubbing surface (ft2) = PL

b. Julang Kejut (Hx)


Julang kejut terjadi sewaktu udara mengalir pada belokan atau pada
perubahan luas penampang sehingga sebagian energi berubah menjadi
percepatan atau perlambatan. Percepatan terjadi bila udara mengalir pada
penampang yang diameternya besar ke penampang yang mempunyai
diamater kecil atau sebaliknya. Perhitungan shock loss secara langsung
adalah :
Hx = x Hv
dimana :
Hx = shock loss (in.water)
x = faktor shock loss
Hv = velocity head (in.water)
Perhitungan shock loss dengan equivalent length methode adalah
menggambarkan setiap kehilangan dalam bentuk panjang ekivalen suatu
saluran udara lurus. Suatu persamaan unuk panjang ekivalen dari saluran
yang lurus akibat shock loss dapat diperoleh dengan persamaan yang
menyatakan bahwa friction loss dan shock loss adalah sama, yaitu :
Hx = Hf
K LV2
x Hv 
5,2 Rh

w V2 K L V2
x 
(1098) 2 5,2 Rh

Panjang ekivalen L dinyatakan dengan Le, maka persamaan menjadi :


5,2 Rh x 3240 Rh x
Le  2
 … … … 2)
K (1098) 1010 K

dimana :
Le = panjang ekivalen (ft)
Rh = hydraulic radius (ft)
V = kecepatan udara (fpm)
K = faktor gesekan untuk bobot isi standar (lb.min2/ft4)
Dari perhitungan julang kejut (shock loss) dan julang gesek (friction loss)
dapat dihitung nilai dari kehilangan julang (head loss), yaitu :
Hl = Hf + Hx
K P (L  Le) Q 2
Hl = … … …2)
5,2 A 3

c. Julang Tambang (Hl)


Julang tambang adalah energi yang dibutuhkan untuk mengatasi
seluruh kehilangan julang (head loss) agar terjadi aliran yang diinginkan
dalam suatu sistem ventilasi. Julang tambang terdiri dari :
a) Julang statik (Hs)
Julang statik menyatakan energi yang dibutuhkan oleh sistem ventilasi
untuk mengatasi seluruh kehilangan julang yang ada pada suatu
aliran.

Hs =  Hl =  (Hf + Hx) … … …2)


b) Julang kecepatan (Hv)
Julang kecepatan adalah tekanan yang diperlukan untuk menghasilkan
kecepatan yang diinginkan tanpa memperhitungkan hambatannya.

V2
Hv = 2g … … …2)
dimana :
Hv = velocity head (in.water)
V = kecepatan aliran udara (fpm)
g = percepatan grafitasi (ft/det2)
dari persamaan tersebut diperoleh turunan sebagai berikut :
wV2
Hv 
(5,2) (64,4) (60) 2
2
 V 
Hv  w   in.water … … …2)
 1098 

jika w standar = 0,075 lb/cuft, maka :


2
 V 
Hv    in.water … … …2)
 4009 

c) Julang total (Ht)


Julang total adalah jumlah saluran kehilangan energi dalam sistem
ventilasi.
Ht = Hv + Hs … … …2)

5. Faktor gesek K di dalam sistem ventilasi


Nilai K dari tabel perlu dikoreksi dengan persamaan :

 w  2)
Kkoreksi = Ktabel x   ………
 0, 075 

Keterangan :
w = bobot isi udara (lb/cuft)
0,075 = bobot isi udara standar

6. Hukum Kirchoff’s
a) Hukum pertama Kirchoff’s
Jumlah seri di semua udara yang masuk ke simpangan sama dengan
jumlah udara yang keluar.
Qin = Qout
Q1 + Q4 = Q2 + Q3 … … …2)
b) Hukum kedua Kirchoff’s
Jumlah dari seluruh head loss dalam sistem ventilasi adalah 0, atau
jumlah dari head loss pada satu arah sama dengan jumlah head loss dari
arah lain.
HL = 0
HL1 + HL2 = HL3 + HL4 … … …2)

7. Rangkaian Bukaan Saluran Udara


a) Hubungan seri
Hubungan seri didefinisikan sebagai rangkaian bukaan saluran udara yang
terhubung dari titik awal hingga akhir sehingga kuantitas udara yang
mengalir selalu sama untuk tiap bukaan. Perhitungan jumlah kuantitas
dan hambatannya adalah :
i. Q1 = Q2 = Q3 = Qn
ii. HL = Req x Q2 dengan Req = R1 + R2 + Rn … … …2)
b) Hubungan paralel
Hubungan paralel didefinisikan sebagai rangkaian bukaan saluran udara
yang jumlah kuantitas udaranya merupakan penjumlahan dari masing-
masing bukaan. Kuantitas dan hambatannya adalah :
i. Q total = Q1 + Q2 + Q3 + Qn
Dimana Qn = Q Req / Rn dengan Q = H L (1 / Req )

ii. HL = Req x Q2
2
 1 
 
 1/ R1  1 / R2  ......  1 / Rn 
Req =   … … …2)
c) Analisa jaringan kompleks
Analisa jaringan kompleks dipergunakan apabila rangkaian bukaan
saluran udara tidak dapat dihitung dengan teknik rangkaian seri maupun
paralel. Beberapa istilah yang dipergunakan dalam analisa jaringan
kompleks ini antara lain :
i. Junction yaitu pertemuan antara tiga bukaan atau lebih
jalur udara.
ii. Branch yittu jalur bukaan antara dua junction.
iii. Mesh yaitu sirkuit aliran tertutup.

8. Ventilasi bantu (Auxiliary Ventilation )


Pada tempat-tempat kerja yang kurang terjangkau oleh udara dari kipas
angin utama, maka diperlukan suplai udara untuk memenuhi kebutuhan udara
di permuka kerja. Ventilasi bantu diperlukan terutama pada pekerjaan
persiapan atau pembuatan lubang kemajuan tambang.
Tujuan dari ventilasi bantu adalah :
o Menyalurkan udara ke tempat-tempat kerja yang buntu, baik dalam
pekerjaan persiapan maupun produksi.
o Mengencerkan atau melarutkan gas-gas, debu dan menurunkan
temperatur pada tempat-tempat kerja sampai batas-batas yang
diperkenankan.

Tabel 4
Faktor gesekan terhadap pipa dan tabung 2)

Friction factor
Faktor Koreksi
Pipe or Tubing K x 1010 lb.min2/ft4 (kg/m3)
Good,New Average,Used Good,New Average,Used
Steel 15 (0,0028) 20 (0,0037) 1,00 1,33
Jute,canvas,plastic (flexible) 20 (0,0037) 25 (0,0046) 1,33 1,67
Spiral-type canvas 22,5 (0,0042) 27,5 (0,0051) 1,50 1,83
Jenis pipa udara yang digunakan antara lain :
a) “Unsupported flexible duct“ (flat play), jenis ini mempunyai tahanan
(resistance),dan kebocoran (leakage) yang kecil, fleksibel tetapi tidak
dapat digunakan untuk pipa isap karena pipa mudah menciut.
b) “Semi rigid fabric duct” (flexaduct), jenis ini mempunyai tahanan dan
kebocoran yang besar, fleksibel, mudah dalam penyambungan dan dapat
digunakan untuk pipa isap (exhaust).
c) “Steel duct”, jenis ini mempunyai tahanan dan kebocoran yang kecil,
tidak fleksibel dan sulit dalam penyambungan dan pengangkutannya,
dapat digunakan untuk pipa isap maupun hembus.
Pada ventilasi bantu dengan menggunakan kipas angin dan pipa udara ini,
dikenal beberapa sistem yang biasa diterapkan pada pembuatan lubang maju
antara lain :
a) Sistem hembus sederhana (simple forcing)
Pada sistem ini udara bersih dihembuskan ke permuka kerja dengan
kecepatan yang cukup tinggi dan udara kotor dari permuka kerja akan
mengalir melalui lubang. Sistem ini menguntungkan karena aliran udara
dapat mengencerkan gas dan debu dengan baik. Kerugiannya udara kotor
yang mengandung gas dan debu dari permuka kerja akan melalui mesin-
mesin tambang, operator dan para pekerja lainnya. Agar pengenceran gas
dan debu dapat efektif, jarak ujung pipa ke permuka kerja dipertahankan
maksimum 25 ft ( 7,62 m ).

through fresh air ventilation duct


air

fan 7,62 m
return
air
Gambar 3.2
Sistem hembus sederhana 3)
b) Sistem hisap sederhana (simple exhaust)
Pada sistem ini udara kotor di permuka kerja diisap oleh kipas angin,
sehingga udara bersih akan mengalir ke permuka kerja. Kadar debu pada
udara yang berasal dari permuka kerja dapat ditentukan dengan
menggunakan alat pengumpul debu. Pada sistem ini biasanya digunakan
pipa udara jenis “steel duct” atau “wire flexible”. Supaya pemindahan
gas-gas dan debu dapat efektif, maka jarak ujung pipa ke permuka kerja
harus dipertahankan maksimum 49,2 ft (15 m).

return ventilation duct < 15 m


air

fan fresh air


through
air

Gambar 3
Sistem isap sederhana 3)
c) Kombinasi menghembus dan menghisap (overlap system)
Pada sistem ini udara bersih dihembuskan ke permuka kerja dan udara
kotor dari permuka kerja diisap oleh kipas angin isap bantu. Sistem ini
dibedakan lagi dalam dua cara yaitu “forcing overlap” dan “exhaust
overlap”, Pada sistem “exhaust overlap” udara dihembuskan ke permuka
kerja dengan cara diisap oleh kipas angin. Pada sistem “forcing overlap”
udara diisap dari permuka kerja kemudian dihembuskan keluar.

overlap distance
10 m < 15 m
fresh fan auxilliary
air duct

fan exhaust duct

Gambar 3.4
Kombinasi sistem isap dan hembus sederhana 3)
Kemampuan akan kipas angin bantu untuk dapat memenuhi kebutuhan udara yang
diperlukan dapat dihitung dengan persamaan :
( Hs  Hv ) Q
Pa  HP … … …2)
6346
Keterangan :
Pa = daya yang diperlukan untuk mengatasi kehilangan energi (HP)
Hs = static head (in.water)
Hv = velocity head (in.water)

F. MANFAAT PENELITIAN
Dengan dilakukannya penelitian tentang kuantitas dan kualitas minimum
udara segar yang dibutuhkan di tambang dalam II maka dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam memperbaiki sistem jaringan ventilasi yang sudah ada
pada saat sekarang ini.

G. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan kemudian dilanjutkan
dengan studi pustaka dan melakukan analisis dari keduanya untuk mendapatkan
penyelesaian masalah yang baik.
Adapun urutan pekerjaan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Studi literatur, dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang
menunjang dan diperoleh dari:
 Perpustakaan
 Laporan penelitian perusahaan terdahulu
2. Pengamatan lapangan, dilakukan dengan cara peninjauan lapangan untuk
melakukan pengamatan langsung terhadap udara tambang
3. Pengambilan data
Data-data yang diambil dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
 Data primer yang terdiri dari:
o Dimensi lubang bukaan dan karateristik batuan .
o Jumlah dan kemampuan kipas hisap maupun kipas hembus.
o Jumlah udara yang dibutuhkan untuk mesin-mesin yang
digunakan.
o Kebutuhan minimum udara untuk pernafasan bagi pekerja.
o Kecepatan aliran udara.
o Temperatur udara.
o Tekanan udara.
o Kualitas aliran udara (jenis dan konsentrasi gas dan debu dalam
tambang)
o Head static
o Resistensi
 Data Skunder yang terdiri dari
o Peta dasar
o Peta jaringan ventilasi tambang bawah tanah
4. Pengelompokan data
5. Pengolahan data
Data yang diperoleh dari studi literatur dan penelitian lapangan digunakan
dalam menganalisis permasalahan yang ada. Dalam analisis kuantitatas udara
akan menggunakan perangkat lunak
6. Pengambilan kesimpulan
Dilakukan korelasi antara hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan
permasalahan yang diteliti.

H. RENCANA JADWAL PENELITIAN


Rencana waktu pelaksanaan kerja dalam penyusunan skripsi ini adalah
selama 3 bulan dengan perincian sebagai berikut:

BULAN I BULAN II BULAN III


KEGIATAN I II II IV I II II IV I II II IV
Studi literatur
Pengamatan
Pengambilan data
Pengolahan data
Pembahasan
Pembuatan draft

I. RENCANA DAFTAR PUSTAKA

1. Ambyo. S. Mangunwidjadja, Ventilasi dan Pengaturan Udara, Departemen


Pertambangan dan Energi, Institut Teknologi Bandung.

2. Hartman. H.L, 1982, Mine Ventilation and Air Conditioning, The Roland Press
Company, New York, Second Edition.

3. Vutukuri. V.S and Lama R.D, 1986, Enviromental Engineering in Mines,


Cambridge University Press, First Published, New York.

3. ..……………., 1995, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan


Umum, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi, nomor :
555.K/26/M/1995, DTPU, DJPU.

J. RENCANA DAFTAR ISI

RINGKASAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN

Bab
I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan penelitian
1.3 Permasalahan
1.4 Pendekatan masalah
1.5 Manfaat penelitian

II TINJAUAN UMUM
2.1 Lokasi dan kesampaian daerah
2.2 Geologi
2.3 Cadangan, kualitas dan sasaran produksi
2.4 Iklim dan curah hujan
2.5 Kegiatan penambangan bawah tanah (tambang dalam)
2.6 Pencucian batubara
2.7 Sistem ventilasi

III DASAR TEORI


3.1 Pengendalian kuantitas udara tambang
3.2 Pengendalian kualitas udara tambang
3.3 Tahanan udara tambang
3.4 Kehilangan julang tambang
3.5 Faktor gesek K di dalam sistem ventilasi
3.6 Hukum Kirchoffs
3.7 Rangkaian bukaan saluran udara
3.8 Ventilasi bantu
IV PERKIRAAN KEBUTUHAN UDARA ALIRAN TAMBANG
4.1 Perkiraan kebutuhan minimum udara segar
4.2 Hasil perhitungan temperatur, kelembaban relatif dan densitas udara
4.3 Hasil perhitungan Kkoreksi dan tahanan jalur udara tambang
4.4 Hasil perhitungan kuantitas aliran udara
4.5 Hasil perhitungan head loss
4.6 Hasil perhitungan kebocoran udara

V PEMBAHASAN
5.1 Kuantitas aliran udara tambang dalam II
5.2 Kualitas aliran udara tambang dalam II
5.3 Gejala swabakar batubara
VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN