Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien

Nama : Yunisyal
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 39 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. T Imam Bonjol
Status Nikah : Menikah
Tanggal MRS : 8 November 2016, pukul 13.00 WIB

2. Anamnesis

Keluhan utama : Pasien datang dengan keluhan keluar cairan dari jalan lahir
Telaah :
Pasien datang dengan keluhan keluar cairan, cairan berwarna sedikit kuning,
darah (-), cairan tidak berbau, cairan keluar dari jalan lahir, hal ini dialami os
kurang lebih 2 hari, Nyeri perut (+) , Mual (+) , muntah (+)
Riwayat haid
 Menarche : 14 tahun
 Siklus : 28 hari
 Banyak : 3 kali ganti duk
 Lamanya : 7 hari

Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1 kali.

3. Pemeriksaan Fisik
Status present
Keadaan Umum : Tampak Lemas
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Respirasi : 24x/menit
Suhu : 36 º C

Status lokalisata
1. Kepala : Normocephali
Mata : Conjungtiva palpebra anemis(-/-), ikterus (-/-)
Telinga: DBN
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), epitaksis (-)
Mulut : Mukosa bibir tampak kering (+), sianosis (-)
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan KGB
2. Thorax
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Stem fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : SN : vesikuler(+/+), ST: wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
3. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi : Jantung dalam batas normal.
Auskultasi : BJ I&II reguler, murmur (-), gallop (-)

4. Abdomen : Status obstetri


5. Ekstermitas
Superior : oedem (-/-), sianosis (-/-), akral hangat (+/+)
Inferior : oedem (-/-), sianosis (-/-), akral hangat (+/+)

4. Status Obstetri

Riwayat Persalinan: G5P4A0


HPHT : 7 Februari 2016
TTP : 14 November 2016
Leopold I : TFU ( 32 cm )
Leopold II : PuKi
Leopold III : Letak kepala
Leopold IV : Belum masuk PAP
DJJ : 156 x/i
USG : Tidak dilakukan
Inpekulo : Tampak cairan amnion mengalir di vagina
VT : Tidak dilakukan

5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
Darah Rutin 09/11/2016
WBC : 16.5 x 103/ul
RBC : 4.03 x 106/ul
Hemoglobin : 12,4 g/dl
Hematokrit : 33.0 %
Trombosit : 390 x 103/ul

6. Diagnosa : MG + KDR (34 Minggu+ AH+LK ) + KPD

7. Penatalaksanaan :
Laporan SC : A. Pasien di tidurkan atau diposisikan di atas meja
oprasi dengan sebelumnya diberikan premedikasi
diruangan persiapan.
B. Dilakukan anastesi dibagian tulang belakang
C. Dilakukan desifektan pada lokasi pembedahan
D. Kemudian pasien ditutup dengan duk kecuali
bagian pada operasi
E. Dilakukan irisan pada bagian daerah perut
hingga terlihat bagian lapisan putih dan keras yang
disebut fasia.
F. Fasia dirobek dengan gunting sampai keliatan
otot perut
G. Setelah peritoneum dibuka, pasang tampon
usus, dilakukan pembukaan pada plika
vesikouterina, kemudian kandung kemih disisihkan
sejauh mungkin ke kaudal.
H. Dilakukukan irisan segmen bawah rahim
kemudian dilebarkan secara tumpul.
I. Kemudian tangan kiri operator memegang
kepala janin ( presentasi kepala ), mencari kaki
janin, kemudian melakukan ekstraksi setelah janin
lahir dilakukan pemotongan tali pusat (diantara dua
klem).
J. Plasenta secara manual, suntikan 10 Unit
Oksitosin intra mural
K. Sudut perdarahan kanan dan kiri diklem,
kemudian di ikat dengan benang kromik.
L. Segmen bawah rahim diikat dijahit dua lapis
secara satu- persatu kros, kemudian plika
vesikouterina dijahit secara jelujur.
M. Tampon usus diangka, kavum abdominal
dibersihkan, kontrol perdarahan.

Terapi :
- Rawat Inap
- IVFD RL 30gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/8j
- Inj. Ranitidine 1 amp / 8j
- Inj.Ketorolac 30 mg/8j
- Kaltrofen suup
Edukasi :
- Inform Consent mengenai tindakan yang akan dilakukan
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya mengenai kondisi pasien dan
janin.
- Menjelaskan kepada pasien obat-obatan yang diberikan
- Menjelaskan penanganan lebih lanjut kepada pasien

BAB II

KESIMPULAN

Pasien atas nama Ibu Yunisal, Usia 39 tahun, datang dengan keluahan keluar
cairan dari jalan lahir. Hal ini dialami Os kurang lebih 2 hari, dengan diagnosa
kpd + MG + KDR (32 minggu). Diagnosa ditegakan berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan fisik dengan keluhan keluar cairan dari jalan lahir kurang lebih 2
hari.

Pada pasien ini penyebabnya adalah Paritas (banyak anak), penyebab


sebelumnya pasien sudah melahirkan bayi viabel (hidup) beberapa kali frekuensi
melahirkan yang sering dapat mengakibatkan endometerium menjadi lemah
sehingga menyebabkan komplikasi atau ketuban pecah dini, dan pasien
mengeluhkan mual (+),muntah (+)Nyeri perut (+). Dengan pemeriksaan fisik Td
130/70 mmhg, RR 24x/i, HR 86x/i.
Pada tanggal 8 November 2016 pukul 14.00 WIB pasien dilakukan tindakan
SC, setelah tindakan SC keadaan umum pasien membaik. Dan setelah selesai SC
atau bayi dilahirkan,
Keadaan bayi :
a. Jenis Kelamin : Perempuan
b. Panjang Badan : 50 cm
c. Berat Badan : 3000 gr
d. Anus (+)

BAB III

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ketuban pecah dini ( KPD ) didefenisikan sebagai pecahnya


ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir
kehamilan maupun sebelum waktunya melahirkan. Dalam keadaan normal
8-10 perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini.

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat


tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu.
Ketuban pecah dini merupakan suatu masalah yang harus mendapatkan
penanganan yang sesuai dengan prosedur agar tidak terjadi komplikasi
yang tidak diinginkan. Penanganan segera pada ketuban pecah dini yaitu
dengan pemberian antibiotik dan segera lakukan induksi persalinan jika
umur kehamilan sudah aterm tapi jika belum aterm ( prematur )
pertahankan.

Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan.


Pada kehamilan aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada
preterm insideninya 2% dari semua kehamilan hampir semua ketuban
pecah dini pada kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau
persalinan akan terjadi dalam 1 minggu setelah selaput ketuban pecah.70%
kasus ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan, sekitar 85%
morbiditas dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas, ketuban
pecah dini berhubungan dengan penyebab kejadian prematuritas dengan
insidensi 30-40%.

BAB ΙV

TINJAUAN PUSTAKA

Ketuban Pecah Dini (KPD)

1. Pengertian KPD
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum waktu melahirkan yang terjadi pada
saat akhir kehamilan maupun jauh sebelumnya (Nugroho,2010). Ketuban pecah
dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan mulai dan
ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian ketuban pecah dini terjadi pada
kehamilan aterm lebih dari 37 minggu, sedangkan kurang dari 36 minggu tidak
terlalu banyak (Manuaba,2009)

Penyebab KPD
Penyebab KPD menurut Manuaba, 2009 dan Morgan, 2009 meliputi antara
lain (1) Serviks inkompeten, (2) Faktor keturunan, (3) pengaruh dari luar yang
melemahkan ketuban (infeksi genetalia), (4) overdistensi uterus , (5) malposisi
atau malpresentase janin, (6) faktor yang menyebabkan kerusakan serviks, (7)
riwayat KPD sebelumnya dua kali atau lebih, (8) faktor yang berhubungan dengan
berat badan sebelum dan selama hamil, (9) merokok selama kehamilan, (10) usia
ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat dari pada usia
muda, (11) riwayat hubungan seksual baru-baru ini, (12) paritas, (13) anemia, (13)
keadaan sosial ekonomi.

Faktor – faktor yang mempengaruhi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Menurut Morgan (2009), Kejadian Pecah Dini (KPD) dapat disebabkan oleh
beberapa faktor meliputi :

A. Usia
Karakteristik pada ibu berdasarkan usia sangat berpengaruh terhadap
kesiapan ibu selama kehamilan maupun menghadap persalinan (Julianti, 2001).
Usia untuk reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun.
Di bawah atau di atas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan dan
persalinan (Depkes, 2003). Usia seseorang sedemikian besarnya akan
mempengaruhi sistem reproduksi, karena organ-organ reproduksinya
sudah mulai berkurang kemampuannya dan keelastisannya dalam menerima
kehamilan.

B. Sosial ekonomi (Pendapatan)


Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas
kesehatan di suatu keluarga. Pendapatan biasanya berupa uang yang
mempengaruhi seseorang dalam memenuhi kehidupan hidupnya. Pendapatan yang
meningkat tidak merupakan kondisi yang menunjang bagi terlaksananya status
kesehatan seseorang. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang
menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi fasilitas kesehatan sesuai
kebutuhan (BPS, 2005).

C. Paritas
Paritas adalah banyaknya anak yang dilahirkan oleh ibu dari anak pertama
sampai dengan anak terakhir. Adapun pembagian paritas yaitu primipara,
multipara, dan grande multipara.
Primipara adalah seorang wanita yang baru pertama kali melahirkan dimana janin
mencapai usia kehamilan 28 minggu atau lebih. Multipara adalah seorang wanita
yang telah mengalami kehamilan dengan usia 9 kehamilan minimal 28 minggu
dan telah melahirkan buah kehamilanya 2 kali atau lebih. Sedangkan grande
multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami hamil dengan usia
kehamilan minimal 28 minggu dan telah melahirkan buah kehamilannya lebih dari
5 kali. Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan pernah mengalami KPD
pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang terlampau dekat diyakini
lebih beresiko akan mengalami KPD pada kehamilan berikutnya.

D. Anemia
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Jika
persediaan zat besi minimal, maka setiap kehamilan akan mengurangi persediaan
zat besi tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia.pada kehamilan relatif terjadi
anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodelusi atau pengenceran dengan
peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai
34 minggu. Pada ibu hamil yang mengalami anemia biasanya ditemukan ciri-ciri
lemas, pucat, cepat lelah, mata berkunang-kunang. Pemeriksaan darah dilakukan
minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama dan trimester ke
tiga. Dampak anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intrauterin,
prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah infeksi. Pada ibu,
saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas, ancaman
dekompensasi kordis dan ketuban pecah dini. Pada saat persalinan dapat
mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan post partum
karena atonia uteri, bahwa anemia berdasarkan hasil pemeriksaan dapat
digolongkan menjadi (1) HB > 11 gr %, tidak anemia, (2) 9-10 gr % anemia
sedang, (3) < 8 gr % anemia berat.

E. Perilaku Merokok
Kebiasaan merokok atau lingkungan dengan rokok yang intensitas tinggi
dapat berpengaruh pada kondisi ibu hamil. Rokok mengandung lebih dari 2.500
zat kimia yang teridentifikasi termasuk karbonmonoksida, amonia, aseton, sianida
hidrogen, dan lain-lain. Merokok pada masa kehamilan dapat menyebabkan
gangguan gangguan seperti kehamilan ektopik, ketuban pecah dini, dan resiko
lahir mati yang lebih tinggi.

F. Riwayat KPD
Pengalaman yang pernah dialami oleh ibu bersalin dengan kejadian KPD
dapat berpengaruh besar pada ibu jika menghadapi kondisi kehamilan. Riwayat
KPD sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali.
Patogenesis terjadinya KPD secara singkat ialah akibat penurunan kandungan
kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan
ketuban pecah preterm. Wanita yang pernah mengalami KPD pada kehamilan
atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya akan lebih beresiko
dari pada wanita yang tidak pernah mengalami KPD sebelumnya karena
komposisi membran yang menjadi rapuh dan kandungan kolagen yang semakin
menurun pada kehamilan berikutnya.

G. Serviks yang inkompetensik


Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot
leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin
yang semakin besar. Inkompetensia serviks adalah serviks dengan suatu kelainan
anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau
merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks yang
memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules
dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti
dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi.

H. Tekanan intra uterm yang meninggi atau meningkat secara berlebihan


Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini, misalnya :
1) Trauma; berupa hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis.
2) Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada
kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan
adanya ketegangan rahim. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim
yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian
bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis
dan mudah pecah.

4. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala pada kehamilan yang mengalami KPD adalah keluarnya
cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan
tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau
menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan
berhenti atau kering karena terus diproduksi sampakelahiran. Tetapi bila anda
duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya
mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina
yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-
tanda infeksi yang terjadi.

5. Diagnosis
Diagnosis ketuban pecah dini meragukan kita, apakah ketuban benar sudah
pecah atau belum. Apalagi bila pembukaan kanalis servikal belum ada atau kecil.
Penegakkan diagnosis KPD dapat dilakukan dengan berbagai cara yang meliputi :
a. Menentukan pecahnya selaput ketuban dengan adanya cairan ketuban
di vagina.
b. Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, vernik kaseosa, rambut
lanugo dan kadang-kadang bau kalau ada infeksi.
c. Dari pemeriksaan inspekulo terlihat keluar cairan ketuban dari cairan servikalis.
d. Test nitrazin/lakmus, kertas lakmus merah berubah menjadi biru (basa) bila
ketuban sudah pecah.
e. Pemeriksan penunjang dengan menggunakan USG untuk membantu dalam
menentukan usia kehamilan, letak janin, berat janin, letak plasenta serta jumlah
air ketuban. Pemeriksaan air ketuban dengan tes leukosit esterase, bila leukosit
darah lebih dari 15.000/mm3, kemungkinan adanya infeksi.
6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, konsentrasi, bau dan
PHnya.
1) Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi
biru ,menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
2) Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun
pakis.
b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit

7.Komplikasi ketuban pecah Dini


Komplikasi yang biasa terjadi pada KPD meliputi ; (a) mudah terjadinya
infeksi intra uterin, (b) partus prematur, (c) ) prolaps bagian janin terutama tali
pusat. Yang terjadi pada ketuban pecah dini yaitu (a) peningkatan morbiditas
neonatal oleh karena prematuritas, (b) komplikasi selama persalinan dan
kelahiran, (c) resiko infeksi baik pada ibu maupun janin, dimana resiko infeksi
karena ketuban yang utuh merupakan barrier atau penghalang terhadap masuknya
penyebab infeksi (Sarwono, 2010).

8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penanganan ketuban pecah dini menurut Sarwono (2010),
meliputi :
a. Konserpatif
1) Pengelolaan konserpatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu
maupun pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
2) Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak tahan
ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
3) Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar,
atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes buss
negativ beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin,
terminasi pada kehamilan 37 minggu.
5) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam.
6) Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan
induksi.
7) Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra
uterin).
8) Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu kematangan
paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap
minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari,
deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
b. Aktif
1) Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea.
Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
2) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi. Dan persalinan
diakhiri.
3) Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan servik, kemudian induksi. Jika tidak
berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea
4) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam

Penatalaksanaan KPD menurut Manuaba adalah :


a. Mempertahankan kehamilan sampai cukup bulan khususnya maturitas
paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.
b. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis,
maningitis janin, dan persalinan prematuritas
c. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan
berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga
kematangan paru janin dapat terjamin.
d. Pada umur kehamilan 24-32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin
cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan
kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan
e. Menghadapi KPD, diperlukan penjelasan terhadap ibu dan keluarga sehingga
terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan
pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan
janinnya.
f. Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia
biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan
kematangan paru.
Waktu terminasi pada kehamilan aterm dapat dianjurkan selang waktu 6-24 jam
bila tidak terjadi his spontan.

9. Patofisiologi
Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh membrane
fetal akibat kontraksi uteri dan peregangan berulan. Membran mengalami rupture
premature ini tampak memiliki defek fokal dibandingkan kelemahan menyeluruh.
Daerah dekat tempat pecahnya membrane ini disebut “restricted zone of extreme
altered morphology” yang ditandai dengan adanya pembengkakan dan kerusakan
jaringan kolagen fibrilar pada lapisan kompakta, fibrolast spongiosa.
DAFTAR PUSTAKA

1. Maria.2007.Ketuban Pecah Dini Berhubungan Erat Dengan Persalinan


Preterm dan Infeksi Intrapartum.
2. Mochtar,R.2008.Sinopsis Obstetri, Jilid 1, EGC : Jakarta
3. Manuaba,dkk.2008.Pengantar Kuliah Obstetri.EGC : Jakarta
4. Varney,dkk.2008.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2.EGC :
Jakarta
5. Rachimhadhi.T.2005.Ilmu Kebidanan,Yayasn Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.Jakarta