Anda di halaman 1dari 17

Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan selalu memberi pengharapan agar janin yang dikandung


nantinya dapat lahir dengan sehat, selamat tanpa kurang suatu apapun.
Namun adakalanya harapan ini tak terwujud manakala janin meninggal
dalam kandungan sebelum sempat dilahirkan.Kematian janin dalam
kandungan disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD), yaitu kematian janin
dalam kandungan yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu
atau pada trimester kedua. Apabila terjadi pada trimester pertama disebut
keguguran atau abortus.

Banyak wanita yang yang mengalami kematian janin dalam


kandungan, namun sampai sekarang tidak mengetahui apa penyebab
sesungguhnya mengapa janinnya meninggal padahal usia kandungan
sudah mencapai lebih dari 5 bulan.

Penasaran dengan kasus yang terjadi, meskipun orang tua terutama


ibu yg sangat terpukul mengetahui janinnya sudah tidak dapat tertolong
mencoba untuk tegar, sabar, dan ikhlas menghadapinya, karena yakin
semua sudah menjadi kehendak Yang Diatas, Allah SWT, namun manusia
selalu ingin tahu hukum alam yang berlaku saat itu, pastilah ada penyebab
ilmiah yang bisa mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan,
setidaknya di kehamilan berikutnya bisa diusahakan untuk tidak berulang
dengan kasus yang sama.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 1
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Jika penelitian belum juga menghasilkan jawaban yg memuaskan,
maka misteri Illahi berlaku pula di dalamnya, hanya Allah yang Maha
mengetahui setiap waktu yang terbaik untuk hambaNya. Demikian juga,
lagi dan lagi, secara filosofi, kita kembalikan dengan adanya seleksi alam,
kalaupun tetap dipertahankan hidup, tak akan dapat bertahan.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 2
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

BAB Ii

Tinjauan pustaka

A. DEFINISI

Kematian janin dalam kandungan disebut IntraUterine Fetal


Death (IUFD), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih
dari 20 minggu atau pada trimester kedua dan atau yang beratnya 500
gram. Jika terjadi pada trimester pertama disebut keguguran atau
abortus.
Ada juga pendapat lain yang mengatakan kematian janin dalam
kehamilan adalah kematian janin dalam kehamilan sebelum proses
persalinan berlangsung pada usia kehamilan 28 minggu ke atas atau
berat janin 1000 gram ke atas.

KLASIFIKASI
Kematian janin dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Golongan I
Kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu penuh
2. Golongan II
Kematian sesudah masa kehamilan 20-28 minggu
3. Golongan III
Kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late fetal death)

4. Golongan IV
Kematian janin dalam kandungan yang tidak dapat digolongkan
pada ketiga golongan di atas

B. ETIOLOGI

1. Fetal, penyebab 25-40%

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 3
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Anomali/malformasi kongenital mayor
Neural tube defek, hidrops, hidrosefalus, kelainan jantung
kongenital
Kelainan kromosom termasuk penyakit bawaan
Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru
terdeteksi saat kematian sudah terjadi, melalui otopsi bayi.
Jarang dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih
dalam kandungan. Selain biayanya mahal, juga sangat berisiko.
Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin
sehingga berisiko besar janin terinfeksi, bahkan lahir prematur.
Kelainan kongenital (bawaan) bayi yang bisa mengakibatkan
kematian janin adalah hidrops fetalis, yakni akumulasi cairan
dalam tubuh janin. Jika akumulasi cairan terjadi dalam rongga
dada bisa menyebabkan hambatan nafas bayi. Kerja jantung
menjadi sangat berat akibat dari banyaknya cairan dalam
jantung sehingga tubuh bayi mengalami pembengkakan atau
terjadi kelainan pada paru-parunya.
Janin yang hiperaktif
Gerakan janin yang berlebihan, apalagi hanya pada satu arah
saja,dapat mengakibatkan tali pusat yang menghubungkan ibu
dengan janin terpelintir. Akibatnya, pembuluh darah yang akan

mengalirkan suplai oksigen maupun nutrisi melalui plasenta ke


janin akan tersumbat. Tak hanya itu, tidak menutup
kemungkinan tali pusat tersebut bisa membentuk tali simpul
yang mengakibatkan janin menjadi sulit bergerak. Hingga saat
ini kondisi tali pusat terpelintir atau tersimpul tidak bisa
terdeteksi. Sehingga, perlu diwaspadai bilamana ada gejala
yang tidak biasa saat hamil.
Infeksi janin oleh bakteri dan virus

2. Placental, penyebab 25-35%


Abruption
Kerusakan tali pusat
Infark plasenta
Infeksi plasenta dan selaput ketuban

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 4
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Intrapartum asphyxia
Plasenta Previa
Twin to twin transfusion S
Chrioamnionitis
Perdarahan janin ke ibu
Solusio plasenta

3. Maternal, penyebab 5-10%


Antiphospholipid antibody
DM
Hipertensi
Trauma
Abnormal labor
Sepsis
Acidosis/ Hypoxia
Ruptur uterus

Postterm pregnancy
Obat-obat
Thrombophilia
Cyanotic heart disease
Epilepsy
Anemia berat
Kehamilan lewat waktu (postterm)
Kehamilan lebih dari 42 minggu. Jika kehamilan telah lewat
waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya
akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan
oksigen. Cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan
hijau, akibatnya cairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru
janin. Hal ini bisa dievaluasi melalui USG dengan color doppler
sehingga bisa dilihat arus arteri umbilikalis jantung ke janin. Jika
demikian, maka kehamilan harus segera dihentikan dengan cara
diinduksi. Itulah perlunya taksiran kehamilan pada awal
kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.

4. Sekitar 10 % kematian janin tetap tidak dapat dijelaskan.Kesulitan


dalam memperkirakan kausa kematian janin tampaknya paling besar
pada janin preterm.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 5
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

Penyebab Kematian Janin Dalam Kandungan :


1. Hipertensi atau tekanan darah tinggi
2. Preeklampsia dan eklampsia
3. Perdarahan : plasenta previa dan solusio plasenta
Waspada jika ibu mengalami perdarahan hebat akibat plasenta
previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) atau solusio plasenta
(terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya di dalam uterus

sebelum bayi dilahirkan). Otomatis Hb janin turun dan bisa picu


kematian janin.
4. Kelainan kongenital (bawaan) bayi
Yang bisa mengakibatkan kematian janin adalah hidrops fetalis,
yakni akumulasi cairan dalam tubuh janin. Jika akumulasi cairan
terjadi dalam rongga dada bisa menyebabkan hambatan nafas
bayi. Kerja jantung menjadi sangat berat akibat dari banyaknya
cairan dalam jantung sehingga tubuh bayi mengalami
pembengkakan atau terjadi kelainan pada paru-parunya.
5. Ketidakcocokan golongan darah ibu dan janin
Terutama pada golongan darah A, B, O. Kerap terjadi golongan
darah anak A atau B, sedangkan ibu bergolongan O atau
sebaliknya. Pasalnya, saat masih dalam kandungan darah ibu dan
janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak
cocok dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat
antibodi.
6. Janin yang hiperaktif
Gerakan janin yang berlebihan, apalagi hanya pada satu arah
saja, bisa mengakibatkan tali pusat yang menghubungkan ibu
dengan janin terpelintir. Akibatnya, pembuluh darah yang
mengalirkan suplai oksigen maupun nutrisi melalui plasenta ke
janin akan tersumbat. Tak hanya itu, tidak menutup
kemungkinan tali pusat tersebut bisa membentuk tali simpul
yang mengakibatkan janin menjadi sulit bergerak. Hingga saat ini
kondisi tali pusat terpelintir atau tersimpul tidak bisa terdeteksi.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 6
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Sehingga, perlu diwaspadai apabila ada gejala yang tidak biasa
pada saat hamil.

7. Gawat janin
Bila air ketuban habis otomatis tali pusat terkompresi antara
badan janin dengan ibunya. Kondisi ini bisa mengakibatkan janin
“tercekik” karena suplai oksigen dari ibu ke janin terhenti.
Gejalanya dapat diketahui melalui cardiotopografi (CTG). Mula-
muladetak jantung janin kencang, lama-kelamaan malah
menurun hingga di bawah rata-rata.
8. Kehamilan lewat waktu (postterm)
Kehamilan lebih dari 42 minggu. Jika kehamilan telah lewat
waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya
akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan
oksigen. Cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan
hijau, akibatnya cairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru
janin. Hal ini bisa dievaluasi melalui USG dengan color doppler
sehingga bisa dilihat arus arteri umbilikalis jantung ke janin. Jika
demikian, maka kehamilan harus segera dihentikan dengan cara
diinduksi. Itulah perlunya taksiran kehamilan pada awal
kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.
9. Infeksi saat hamil
Saat hamil ibu sebaiknya menjaga kondisi tubuh dengan baik
guna menghindari berbagai infeksi bakteri atau virus. Demam
tinggi pada ibu bisa mengakibatkan janin tidak tahan akan panas
tubuh ibunya.
10. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom termasuk penyakit bawaan. Kematian janin
akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian
sudah terjadi, melalui otopsi bayi. Akan tetapi, jarang dilakukan
pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 7
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Selain biayanya mahal, juga sangat berisiko. Karena harus
dengan

mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar


janin terinfeksi, bahkan lahir prematur.

D. MANIFESTASI KLINIS
DJJ tidak terdengar
Uterus tidak membesar, fundus uteri turun
Pergerakan anak tidak teraba lagi oleh pemeriksa
Palpasi anak menjadi tidak jelas
Reaksi biologis menjadi negatif setelah anak mati kurang lebih 10hari
Bila janin yang mati tertahan 5 minggu atau lebih, kemungkinan
Hypofibrinogenemia 25%.

E. FAKTOR RESIKO
1) Status sosial ekonomi rendah
2) Tingkat pendidikan ibu yang rendah
3) Usia ibu >30 tahun atau <20 tahun
4) Partus pertama dan partus kelima atau lebih
5) Kehamilan tanpa pengawasan antenatal
6) Kehamilan tanpa riwayat pengawasan kesehatan ibu yang inadekuat
7) Riwayat kehamilan dengan komplikasi medik atau obstetrik

F. PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 8
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
 Patologi
Bila janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah
perubahan- perubahan sebagai berikut :
a. Rigor mostis (tegang mati)
Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
b. Stadium maserasi I
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi
kemudian menjadi merah. Stadium ini berlangsung 48 jam
setelah mati.
c. Stadium maserasi II
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah
coklat, stadium ini berlangsung 48 jam setelah anak mati.
d. Stadium maserasi III
Terjadi kira-kira 3 minggu setelah anak mati. Badan janin sangat
lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar dan
terdapat oedem dibawah kulit.
 Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin,
gawat janin atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak
terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak diobati.

G. PENEGAKKAN DIAGNOSIS
a. Anamnesis
- Ibu tidak merasakan gerakan jnin dalam beberapa hari atau
gerakan janin sangatberkurang
- Ibu merasakan perutnya bertambah besar, bahkan bertambah kecil
atau kehamilan tidak seperti biasanya

- Ibu belakangan ini merasa perutnya sering menjadi keras dan


merasakan sakit seperti mau melahirkan.
- Penurunan berat badan
- Perubahan pada payudara atau nafsu makan

b. Pemeriksaan Fisik
• Inspeksi
- Tidak kelihatan gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat
terlihat terutama pada ibu yang kurus

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 9
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
- Penurunan atau terhentinya peningkatan bobot berat badan
ibu
- Terhentinya perubahan payudara
• Palpasi
- Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua
kehamilan ; tidak teraba gerakan-gerakan janin
- Dengan palpasi yang teliti dapat dirasakan adanya krepitasi
pada tulang kepala janin.
• Auskultasi
- Baik memakai stetoskop monoral maupun doptone tidak akan
terdengar denyut jantung janin

c. Pemeriksaan Lab
- Reaksi biologis negatif setelah 10 hari janin mati
- Hipofibrinogenemia setelah 4-5 minggu janin mati

d. Pemeriksaan Tambahan
- Ultrasound: - gerak janin tidak ada
- Denyut jantung anak tidak ada
- Tampak bekuan darah pada ruang jantung janin

- X-Ray :
1. Spalding’s sign (+) : tulang-tulang tengkorak janin saling
tumpah tindih, pencairan otak dapat
menyebabkan overlapping tulang
tengkorak.
2. Nanjouk’s sign (+) : tulang punggung janin sangat melengkung
3. Robert’s sign (+) : tampak gelembung-gelembung gas pada
pembuluh darah besar.
Tanda ini ditemui setelah janin mati paling kurang 12 jam
4. Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah
besar janin

H. PENATALAKSANAAN
Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim tidak usah
terburu-buru bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3
minggu untuk mencari kepastian diagnosis

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 10
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Biasanya selama masih menunggu ini 70-90 % akan terjadi
persalinan yang spontan
Jika pemeriksaan Radiologik tersedia, konfirmasi kematian janin
setelah 5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak,
hiperfleksi columna vertebralis, gelembung udara didalam jantung
dan edema scalp
USG merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk
memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan
janin tanpa tanda kehidupan, tidak ada denyut jantung janin, ukuran
kepala janin dan cairan ketuban berkurang

Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien.


Sebaiknya pasien selalu didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan
bahwa kemungkinan besar dapat lahir pervaginam
Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun
ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya
sebelum keputusan diambil
Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan
spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan
spontan akan terjadi tanpa komplikasi
Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,
lakukan penanganan aktif
Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai servik yaitu
Jika serviks matang,lakukan induksi persalinan dengan oksitosin
atau prostaglandin
Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan
prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan
amniotomi karena berisiko infeksi
Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir
Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit
menurun dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan
misoprostol :

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 11
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
Tempatkan mesoprostol 25 mcg dipuncak vagina, dapat diulang
sesudah 6 jam
Jika tidak ada respon sesudah 2x25 mcg misoprostol, naikkan
dosis menjadi 50mcg setiap 6 jam. Jangan berikan lebih dari 50
mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis
Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis
Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan
mudah pecah, waspada koagulopati

Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan


melakukan kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut
Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya
patologi plasenta dan infeksi
Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1
minggu setelah diagnosis. Partus belum mulai maka wanita harus
dirawat agar dapat dilakukan induksi persalinan
Induksi partus dapat dimulai dengan pemberian esterogen untuk
mengurangi efek progesteron atau langsung dengan pemberian
oksitosin drip dengan atau tanpa amniotomi.

Protokol bayi lahir mati


Tabel. Protokol untuk pemeriksaan bayi lahir mati
Gambaran umum
 Malformasi
 Noda kulit
 Derajat maserasi
 Warna - pucat, pletorik
Tali pusat
 Prolaps
 Lilitan leher
 Hematom atau striktur
 Jumlah pembuluh
 Panjang
Cairan amnion
 Warna: mekonium, darah
 Konsistensi

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 12
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
 Volume
Plasenta
 Berat

 Bekuan lekat
 Kelainan struktur: lobus sirkumvalata atau aksesorius, insersi
velamentosa
 Edema: kelainan hidropik
Selaput ketuban
 Ternoda
 Menebal

Penanganan terhadap hasil konsepsi


Adalah penting untuk menyarankan kepada pasien dan keluarganya bahwa
bukanlah suatu emergensi dari bayi yang sudah meninggal :
a. Jika uterus tidak lebih dari 12 minggu kehamilan maka pengosongan
uterus dilakukan dengan kuret suction
b. Jika ukuran uterus antara 12-28 minggu, dapat digunakan
prostaglandin E2 vaginal supositoria dimulai dengan dosis 10 mg
c. Jika kehamilan >28 minggu dapat dilakukan induksi dengan
oksitosin.Selama periode menunggu diusahakan agar menjaga
mental/psikis pasien yang sedang berduka karena kematian janin
dalam kandungannya.

Penanganan wanita dengan riwayat lahir mati


Kematian janin adalah suatu kejadian traumatik psikologik bagi wanita dan
keluarganya. Radestat mendapatkan bahwa interval yang lebih dari 24 jan
sejak diagnosa kematian janin sampai induksi persalinanberkaitan dengan
ansietas berlebihan. Faktor lain yang berperan adalah apabila wanita yang
bersangkutan tidak melihat bayinya selama yang ia inginkan dan apabila
iatidak memiliki barang kenangan Dapat timbul kecemasan pada ibu
sampai gejala depresi dan gejala somatisasi yang dapat bertahan sampai

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 13
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
lebih dari 6 bulan. Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi meninggal,
telah lama dianggap memiliki resiko yang lebih besar mengalami gangguan
hasil kehamilan pada kehamilan berikutnya.
Beberapa penelitian menyebutkan kisaran angka kekambuhan lahir mati
antara 0 sampai 8 persen. Kematian janin sebelumnya walaupun tidak
semua lahir mati menyebabkan gangguan hasil pada kehamilan berikutnya.
Evaluasi prenatal pnting dilakukan untuk memastikan penyebab. Apabila
penyebab lahir mati terdahulu adalah kelainan karyotipe atau kausa
poligenik, pengambilan sample villus khorionik atau amniosintesis dapat
mempermudah deteksi dini dan memungkinkan dipertimbangkannya
terminasi kehamilan.
Pada diabetes, cukup banyak kematian perinatal yang berkaitan dengan
kelainan congenital. Pengendalian glikemik intensif pada periode
perikonsepsi dilaporkan menurunkan insiden malformasi dan secara umum
memperbaiki hasil.

I. PROGNOSIS
Jika dapat dideteksi segera, prognosis untuk ibu baik (dapat kembali
hamil).

J. KOMPLIKASI
a. Kematian janin akan menyebabkan desidua plasenta menjadi rusak
masuk kedalam peredaran darah ibu menghasilkan tromboplastin
yang dimulai dari endotel pembuluh darah olehpembekuan
intravaskuler Disseminated, terjadi pembekuan darah yang meluas
(trombosit hipofibrinogenemia) kadar fibrinogen intravaskuler
koagulasi<100 mg%), biasa pada 4-5 minggu sesudah IUFD.

b. Kadar normal fibrinogen pada wanita hamil adalah 300-700mg%.


Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi perdarahan
setelah melahirkan. Partus biasanya berlangsung 2-3 minggu
setelah janin mati.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 14
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
c. Dampak psikologis dapat timbul pada ibu setelah lebih dari 2 minggu
kematian janin yang dikandungnya.

BAB III

Kesimpulan

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 15
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

World health organization (who) mendefinisikan KJDK atau


Keamtian Janin Dalam Kandungan (IUFD=intrauterine fetal death) sebagai
kematian konsepsi sebelum keluar secara lengkap (complete expulsion) atau
ekstraksi dari ibu, tanpa memandang tua kehamilan.

Secara umum kematian janin dalam kandungan dikelompokkan


dalam 4 kategori : kurang dari 20 minggu (early fetal death), 20-28 minggu,
lebih dari 28 minggu (late fetal death) dan tidak terkategorikan. Pasien
biasanya tidak merasakan gejala apa-apa selain tidak merasakan gerakan
bayi. Dengan pemeriksaan denyut jantung tidak terdengar. Dan pemastian
diagnosis harus dengan pemeriksaan usg. Pemeriksaan usg
memperlihatkan :

1. Gerak jantung tidak ada.


2. Tulang punggung bayi yang sangat melengkung
3. Tulang kepala saling tumpang tindih (tanda spalding)
4. Terdapat udara pada pembuluh darah besar (tanda robert)

Penyebab kematian janin dalam kandungan dari ibu adalah penyakit


yang diderita ibu seperti : diabetes yang tidak terkontrol, infeksi, hipertensi,
dll. Sebab dari janin : cacat bawaan, kelainan genetik dll. Idealnya
penyebab kematian janin dalam kandungannya harus dipastikan agar pada
kehamilan berikutnya tidak terulang kembali. Dilakukan pemeriksaan
secara menyeluruh fisik dan laboratorium. Bila perlu otopsi janin, jika tidak
dilakukan, minimal janin di MRI. Penyebab diatasi sesuai dengan
kausanya.

Induksi persalinan harus segera dimulai begitu diagnosis kematian


janin dalam kandungan dibuat. Jika serviks belum matang, maka

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 16
Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
dilakukan pematangan serviks dengan prostaglandin, pemasangan balon
kateter atau pemasangan laminaria.

Janin mati yang lahir biasanya sudah mengalami maserasi yaitu


proses destruksi yang steril. Di masa nifas ibu diberikan obat penghenti asi.
Jika diperlukan, lakukan psikoterapi agar ibu tidak sampai mengalami
partum blues.

Untuk mencegah jangan sampai terjadi kematian janin dalam


kandungan, maka ibu dengan kehamilan berisiko seperti diabetes,
hipertensi dll harus secara teratur memeriksakan diri dan jangan lupa
memantau sendiri kesejahteraan bayinya dengan melakukan hitung gerak
janin.

Ayatullah Khomaini (08171029)

KKS Obstetri dan Ginekologi RSUD DR. RM. Djoelham Binjai


Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Page 17