Anda di halaman 1dari 25

Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya
penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul “Kematian Janin
Dalam Kandungan (KJDK)”

Lapkas ini dibuat untuk melengkapi persyaratan dalam mengikuti kegiatan


Kepaniteraan Klinik Senior dibagian Ilmu Obstetri dan Ginekology yang
dilaksanakan di RSU.DR.R.M.Djoelham Binjai.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. Arusta


Tarigan, Sp.OG selaku dokter pembimbing dan dokter-dokter di SMF Obgyn
yang telah membimbing.

Yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan


agar laporan kasus ini lebih akurat dan bermanfaat.

Tentunya penulis menyadari bahwa laporan kasus ini banyak kekurangan


untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
para pembaca agar kedepannya penulis dapat meperbaiki dan menyempurnakan
kekurangan tersebut.

Besar harapan penulis agar laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca serta dapat memberikan suatu pengetahuan baru bagi mahasiswa untuk
meningkatkan keilmuannya.

Binjai, Desember 2016

Penulis

Rezki Wahyuni 11310312 Page 1


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... 1

DAFTAR ISI ................................................................................................... 2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi .................................................................................................. 4

2.2 Etiologi .................................................................................................. 6

2.3 Gambaran Klinis ................................................................................... 9

2.4 Diagnosa ................................................................................................ 10

2.5 Diagnosa Banding ................................................................................. 12

2.6 Penatalaksanaan..................................................................................... 12

2.7 Pencegahan ........................................................................................... 13

2.8 Komplikasi ............................................................................................ 16

BAB III LAPORAN KASUS ......................................................................... 17

KESIMPULAN ............................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 27

Rezki Wahyuni 11310312 Page 2


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kematian perinatal yaitu kematian janin setelah 20 minggu kehamilan,


tetapi sebelum permulaan persalinan. Di Amerika Serikat, angka kematian
perinatal tercatat 3-8 per 1000. Angka kematian perinatal di Indonesia tidak
diketahui dengan pasti karena belum ada survey yang menyeluruh. Angka yang
ada adalah angka kematian perinatal di rumah sakit besar sehingga tidak
memberikan gambaran yang mendekati angka kematian perinatal secara
keseluruhan.

Dalam 30 tahun terakhir ini api angka kematian bayi turun dengan
menyolok, tapi angka kematian perinatal dalam sepuluh tahun terakhir kurang
lebih menetap. Angka kematian perinatal di rumah sakit pada umumnya berkisar
antara 77 sampai 137 per 1000.

Kematian janin dalam kandungan dapat disebabkan oleh beberapa factor


yaitu factor ibu, factor janin, dan factor kelainan tali pusat. Factor ibu meliputi
umur, paritas, pemeriksaan antenatal, dan penyakit yang diderita oleh ibu (anemia,
preeklamsi, dan eklamsia, solusio plasenta, diabetes mellitus, rhesus iso-
imunisasi, infeksi dalam kehamilan, ketban pecah dini dan letak lintang). Factor
janinnya itu kelainan congenital dan infeksi intranatal).

Factor kelainan tali pusat yaitu kelainan tali pusat, simpul tali pusat, dan
lilitan tali pusat. Angka kematian janin dalam kandungan dapat diturunkan
melalui pengawasan antenatal pada semua ibu hamil dengan menemukan dan
mendeteksi dini factor-faktor yang mempengaruhi keselamatan janin dan
neonates. Selain melakukan pengawasan pada ibu hamil, untuk menurunkan
angka kematian perinatal dapat dilakukan dengan memperbaiki tehnik diagnosis
gawat janin, memperbaiki sarana pelayanan kesehatan dan pencegahan infeksi
secara sungguh-sungguh.
Rezki Wahyuni 11310312 Page 3
Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I.1 Definisi

Adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam


kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau Intra uterine
fetalDeath (IUFD) sering dijumpai, baik pada kehamilan dibawah 20 minggu
maupun sesudah kehamilan 20 minggu

 Sebelum kehamilan 20 minggu ; kematian janin dapat terjadi dan biasanya


berakhir dengan abortus. Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak
dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut dengan missed abortion.
 Sesudah 20 minggu ; biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak
kehamilan 20 minggu dan seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan
gerakan janin dapat disangka terjadi kematian janin dalam rahim.

Menurut WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist


(1995) menyatakan Intra Uterine Fetal Death (IUFD) adalah janin yang mati
dalam rahim dengan berat badan 500gram atau lebih atau kematian janin dalam
rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
Rezki Wahyuni 11310312 Page 4
Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Menurut Mochtar (2004), lebih dari 50% kasus, etiologi kematian janin dalam
kandungan tidak ditemukan atau belum diketahui penyebabnya dengan pasti.
Beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan kematian janin dalam kandungan,
antara lain :
a. Perdarahan : plasenta previa dan solusio plasenta
b. Preeklampsi dan eklampsi
c. Penyakit- penyakit kelainan darah
d. Penyakit infeksi dan penyakit menular
e. Penyakit saluran kencing
f. Penyakit endokrin : diabetes mellitus
g. Malnutrisiologi

Klasifikasi
Menurut Wiknjosostro (2005) dalam buku Ilmu Kedokteran Kebidanan,
kematian janin dapat dibagi dalam 4 golongan yaitu :
1. Golongan I : Kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20minggu penuh
( early fetal death)
2. Golongan II : Kematian sesudah ibu hamil 20 hingga 28 minggu
( intermediate fetal death).
3. Golongan III : Kematian sesudah masa kehamilan lebih dari 28 minggu
(late fetal death)
4. Golongan IV : Kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan
diatas.
Bila janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah perubahan
perubahan sebagai berikut :
1. Rigor Mortis (tegang mati)
Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
2. Maserasi grade 0 (durasi <8jam)
Kulit kemerahan setegah matang
3. Maserasi grade I (durasi >8jam)

Rezki Wahyuni 11310312 Page 5


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi
kemudian menjadi merah dan mulai mengelupas.
4. Maserasi grade II (durasi 2-7hari)
Kulit mengelupas luas, efusi cairan serosa di rongga toraks dan abdomen.
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat.
5. Maserasi grade III (durasi >8hari)
Hepar kuning kecoklatan, efusi cairan keruh, mungkin terjadi mumifikasi.
Badan janin sangat lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar
dan terdapat oedem dibawah kulit.

2.2 Etiologi

Faktor yang menyebabkan kematian janin dalam kandungan, antara lain:

1. Ketidakcocokan Rhesus Darah Ibu Dengan Janin

Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara


bapak rhesus positif. Sehingga anak akan mengikuti yang dominan;
menjadi rhesus positif. Akibatnya antara ibu dan janin mengalami
ketidak cocokan rhesus. Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi
kondisi janin tersebut. Misalnya, dapat terjadi hidrops fetalis; suatu
reaksi imunologis yang menimbulkan gambaran klinis pada janin,
antara lain pembengkakan pada perut akibat terbentuknya cairan
berlebih dalam rongga perut (asites), pembengkakan kulit janin,
penumpukan cairan di dalam rongga dada atau rongga jantung, dan
lain-lain. Akibat penimbunan cairan yang berlebihan tersebut, maka
tubuh janin akan membengkak. Bahkan darahnya pun bisa tercampur
air. Biasanya kalau sudah demikian, janin tak akan tertolong lagi.
Sebenarnya, hidrops fetalis merupakan manifestasi dari bermacam
penyakit. Bisa karena kelainan darah, rhesus, atau kelainan genetik.
Biasanya bila kasusnya hidrops fetalis, maka tak ada manfaatnya
kehamilan dipertahankan. Karena memang janinnya pasti mati.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 6


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Sayangnya, seringkali tidak dilakukan otopsi pada janin yang mati
tersebut, sehingga tidak bisa diketahui penyebab hidrops fetalis.
Padahal dengan mengetahui penyebabnya bisa untuk tindakan
pencegahan pada kehamilan berikutnya.

2. Ketidakcocokan Golongan Darah Antara Ibu Dan Janin

Terutama pada golongan darah A,B,O. Yang ksering terjadi antara


golongan darah anak A atau B dengan ibu bergolongan O atau
sebaliknya." Sebab, pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan
janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok
dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodinya.

3. Gerakan Sangat Aktif

Gerakan bayi dalam rahim yang sangat berlebihan, terutama jika


terjadi gerakan satu arah saja. Karena gerakannya berlebihan, terlebih
satu arah saja, maka tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibu
akan terpelintir. Kalau tali pusat terpelintir, maka pembuluh darah
yang mengalirkan plasenta ke bayi jadi tersumbat. Kalau janin sampai
memberontak, yang ditandai gerakan "liar", biasanya karena
kebutuhannya ada yang tidak terpenuhi misalnya kekurangan oksigen,
atau makanan. Karena itu, harus segera dilakukan tindakan yang
mengarah pada pemenuhan kebutuhan janin. Kalau ibu punya riwayat
sebelumnya dengan janin meninggal, maka sebaiknya aktivitas ibu
jangan berlebihan. Sebab, dengan aktivitas berlebihan, maka gizi dan
zat makanan hanya dikonsumsi ibunya sendiri, sehingga janin relatif
kekurangan.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 7


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
4. Berbagai Penyakit Pada Ibu Hamil

Salah satu contohnya preeklampsia dan diabetes. Itulah mengapa


pada ibu hamil perlu dilakukan cardiotopografi (CTG) untuk melihat
kesejahteraan janin dalam rahim.

5. Kelainan Kromosom

Bisa disebut penyakit bawaan, misalnya, kelainan genetik berat


trisomy. "Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru
terdeteksi saat kematian sudah terjadi, yaitu dari otopsi bayi. Sebab,
jarang sekali dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam
kandungan. Selain biayanya mahal, risikonya juga tinggi. Karena harus
mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar
terinfeksi, juga bisa lahir prematur. Kecuali kalau memang ada
keganjilan dalam kehamilan tersebut yang dicurigai sebagai kelainan
kromosom.

6. Trauma Saat Hamil

Trauma bisa mengakibatkan terjadi solusio plasentae atau plasenta


terlepas. Trauma terjadi, misalnya, karena benturan pada perut,
misalnya karena kecelakaan atau pemukulan. Benturan ini bisa saja
mengenai pembuluh darah di plasenta, sehingga timbul perdarahan di
plasenta atau plasenta lepas sebagian. Akhirnya aliran darah ke bayi
tidak ada

7. Infeksi Pada Ibu Hamil

Ibu hamil sebaiknya menghindari berbagai infeksi, seperti infeksi


akibat bakteri maupun virus. Bahkan demam tinggi pada ibu hamil
bisa menyebabkan janin tak tahan akan panas tubuh ibunya.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 8


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
8. Kelainan Bawaan Bayi

Kelainan bawaan pada bayi sendiri, seperti jantung atau paru-paru,


bisa mengakibatkan kematian di kandungan.

9. Gawat Janin
Bila air ketuban habis otomatis tali pusat terkompresi antara badan
janin dengan ibunya. Kondisi ini bisa mengakibatkan janin 'tercekik'
karena suplai oksigen dari ibu ke janin terhenti. Gejalanya dapat
diketahui melalui cardiotopografi (CTG). Mula-mula detak jantung
janin kencang, lama-kelamaan malah menurun hingga di bawah rata-
rata.

10. Kehamilan Lewat Waktu (Postdate)


Kehamilan lebih dari 42 minggu.Jika kehamilan telah lewat waktu,
plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya akan berkurang.
Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen. Cairan ketuban bisa
berubah menjadi sangat kental dan hijau, akibatnya cairan dapat
terhisap masuk ke dalam paru-paru janin. Hal ini bisa dievaluasi
melalui USG dengan color doppler sehingga bisa dilihat arus arteri
umbilikalis jantung ke janin. Jika demikian, maka kehamilan harus
segera dihentikan dengan cara diinduksi. Itulah perlunya taksiran
kehamilan pada awal kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.4

2.3 Gambaran Klinis

 Ibu tidak merasakan gerakan jnin dalam beberapa hari atau gerakan
janin sangat berkurang
 Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah
kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya.
 Wanita belakangan ini merasa perutnya sring menjadi keras dan
merasakan sakit seperti mau melahirkan.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 9


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
 tidak kelihatan gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat
terutama pada ibu yang kurus
 Penurunan atau terhentinya peningkatan bobot berat badan ibu
 Terhentinya perubahan payudara
 Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone
tidak terdengar DJJ
 Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan ;
tdak teraba gerakan-gerakan janin
 Dengan palpasi yang teliti dapat dirasakan adanya krepitasi pada
tulang kepala janin.
 Reaksi kehamilan negatif

2.4 Diagnosis

Kematian janin Dalam Kandungan Ditegakkan berdasarkan :

Anamnesa :

 Ibu tidak merasakan gerakan jnin dalam beberaopa hari atau


gerakan janin sangat berkurang
 Ibu merasakan perutnya bertambah besar, bahkan bertambah kecil
atau kehamilan tidak seperti biasanya.
 Wanita belakangan ini merasa perutnya sring menjadi keras dan
merasakan sakit seperti mau melahirkan.

Pemerksaan Fisik :

Inspeksi :

 tidak kelhiatan gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat


terlihat terutama pada ibu yang kurus
 Penurunan atau terhentinya peningkatan bobot berat badan ibu
 Terhentinya perubahan payudara

Rezki Wahyuni 11310312 Page 10


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Palpasi :

 Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan


; tdak teraba gerakan-gerakan janin
 Dengan palpasi yang teliti dapat dirasakan adanya krepitasi
pada tulang kepala janin.

Auskultasi :
 Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan
Deptone tidak akan terdengar DJJ
Pemeriksan penunjang
USG :
 Tidak kelihatan denyut jantung janin dan gerakan-gerakan
janin.
Rontgen abdomen :
 Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah
besar janin
 Tanda nojoks ; adanya angulasi yang tajam tulang belakang
janin
 Tanda spalding ; overlapping tulang-tulang kepala (sutura)
janin
 Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
 Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
 Kepala janin terkulai
Laboratorium :
Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu
janin mati dalam kandungan.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 11


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

2.5 Diagnosa Banding


1. Missed abortion
Karena denyut jantung tidak terdengar,pembesaran uterus tidak bertambah
dan pergerakan janin tidak dirasakan tetapi pda KJDK dapat dirasakan
krepitasi pada saat palpasi sedangkan missed abortion tidak.
2. Kehamilan ektrauterin
Pada KJDK planotes negative sedangkan pada kehamilan ektrauterin
positif
3. Mola hidatidosa
Memang DJJ dan gerakan janin tidak ada tetapi planotes positif malah
HCG nya tinggi sedangkan pada KJDK planotes negative

2.6 Penatalaksaan
1. Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim tidak usah terburu-
buru bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3 minggu untuk
mencari kepastian diagnosis.
2. Biasanya selama masih menunggu ini 70-90 % akan terjadi persalinan
yang spontan.9
3. Jika persalinan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan
serviks belum matang, matangkan servik dengan misoprostol. Tepatkan
misoprostol 25 mcg di puncak vagina, dapat diulangi sesudah 6 jam. Jika

Rezki Wahyuni 11310312 Page 12


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
tidak ada respon sesudah 2x 25 mcg isoprostol naikkan dosis menjadi 50
mcg setiap 6 jam.8
4. Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu
setelah diagnosis. Partus belum mulai maka wanita harus dirawat agar
dapat dilakukan induksi persalinan
5. Induksi partus dapat dimulai dengan pemberian esterogen untuk
mengurangi efek progesteron atau langsung dengan pemberian oksitosin
drip dengan atau tanpa amniotomi.9

2.7 Pencegahan
Tips-tips yang sangat dianjurkan bagi Ibu hamil dalam masa pertumbuhan
bayi di dalam kandungan :

1. Kontrol teratur ke dokter untuk memeriksakan kehamilan. Bulan-bulan


terakhir kehamilan, kontrol harus dilakukan lebih sering lagi.
2. Hindari bahan atau zat-zat kimia yang yang menimbulkan keracunan
seperti insektisida, cat, bahan-bahan yang mengandung merkuri (air raksa)
atau timah hitam.
3. Berhenti merokok atau menjadi perokok pasif, karena asap rokok akan
membuat si kecil lahir dengan berat badan yang kurang, kematian si kecil
dalam kandungan atau
si kecil mudah jatuh sakit atau lambat dalam mempelajari sesuatu
nantinya, dapat juga menyebabkan keguguran.
4. Minumlah yang lebih banyak, terutama air putih. Cairan yang masuk
berguna untuk membantu peningkatan volume darah yang terjadi selama
kehamilan. Minumlah sedikitnya 6 – 8 gelas sehari, dapat berupa jus buah,
susu, atau air putih biasa. Cara mudah untuk melihat kecukupan cairan
dalam tubuh ialah dengan melihat warna air seni. Bila air seni, jernih
seperti air putih atau hanya sedikit kuning, itu menunjukkan cukup
mengkonsumsi cairan.
5. Konsumsi makanan yang bergizi, untuk memenuhi kecukupan gizi untuk
ibu dan si kecil dalam kandungan. Makanan harus memenuhi 5 kelompok
Rezki Wahyuni 11310312 Page 13
Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
makanan utama: nasi atau sumber karbohidrat lainnya, daging dan protein
lainnya, sayuran, buah-buahan dan susu. Kurangi makanan berlemak dan
perbanyak makanan berserat
6. Konsumsi vitamin Asam Folat 400 mikrogram perhari, sebelum kehamilan
hingga beberapa bulan pertama dalam kehamilan. Hal ini berguna untuk
mencegah cacat tabung saraf dan tulang belakang pada si kecil. Asam
Folat ini juga penting diperoleh dari makanan yang mengandung Asam
Folat seperti pada sereal, beras merah, jeruk, sayuran hijau, kacang-
kacangan, brokoli, dan lainnya.
7. Konsumsi juga tablet penambah darah, yaitu tablet yang mengandung zat
Besi sebanyak 30 miligram sehari selama masa kehamilan, atau sesuai
yang dianjurkan oleh dokter. Zat Besi ini berguna untuk mencegah
terjadinya anemia pada saat kehamilan, yang dapat menyebabkan
terjadinya risiko untuk terjadinya perdarahan saat persalinan.
Sebenarnya semua wanita yang berusia subur, sebaiknya mengkonsumsi
makanan yang mengandung banyak Zat besi.
8. Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah memegang daging mentah
pada saat memasak atau setelah menggunakan kamar kecil. Karena dengan
cuci tangan akan mencegah penyebaran kuman dan virus yang dapat
menyebakan penyakit.
9. Kenali keadaan diri sendiri. Bila ada tanda atau gejala yang tidak biasanya
seperti nyeri, perdarahan vagina, merembesnya air ketuban, pusing,
pingsan, nafas menjadi pendek, gemetar, nadi menjadi cepat, mual dan
muntah, pembengkakan pada sendi, tidak merasakan pergerakan janin, dan
gejala atau tanda lainnya, konsultasikanlah dengan dokter .
10. Berhati-hatilah dalam mengkonsumsi obat-obatan termasuk juga obat-obat
tradisional. Termasuk juga alkohol dan kafein. Kafein yang ada pada teh,
kopi, minuman ringan dan coklat perlu juga dibatasi.
11. Obat-obatan yang sering diminum sebelum hamil, misalnyaobat-obatan
untuk hipertensi, epilepsi, asma atau kencing manis, perlu dikonsultasikan
kembali dengan dokter Anda. ini aman digunakan dalam kehamilan

Rezki Wahyuni 11310312 Page 14


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
12. Obat-obatan yang dijual bebas seperti untuk mengatasi flu dan batuk,
mungkin dapat membahayakan janin dalam kandungan. Oleh sebab itu,
konsultasikanlah dulu dengan dokter sebelum meminumnya.
13. Bergabung dalam kelas untuk ibu hamil seperti kelas senam hamil.
Selain dapat mengambil manfaat dari kelas tersebut, calon-calon ibu juga
dapat membagi pengalaman dan menambah pengetahuan dengan sesama
calon ibu lainnya.
14. Tetaplah beraktifitas karena akan baik untuk sang ibu maupun sang calon
bayi. Olahraga yang biasanya aman untuk ibu hamil seperti berjalan,
berolahraga, bersepeda statis. Tapi ingatlah untuk selalu berkonsultasi
dengan dokter sebelum memulainya.
15. Makanlah dalam porsi kecil tapi sering, sekitar 5 – 6 kali perhari. Ini jauh
lebih baik daripada makan dalam 3 porsi besar sehari. Pola makan dengan
porsi kecil yang lebih sering, dapat mengurangi mual-muntah di pagi hari
dan nyeri lambung. Hindarilah makanan yang dapat membuat lambung
nyeri, walaupun menyukainya. Gantilah dengan makanan yang lebih
bergizi..
16. Hindarilah daging yang belum dimasak atau yang dimasak kurang matang,
cucilah tangan setelah memegang hewan peliharaan atau berkebun. Ini
untuk mencegah terjangkit parasit toksoplasma yang menyebabkan
penyakit toksoplasmosis, yang dapat membahayakan janin dalam
kandungan.
17. Karena ukuran rahim yang semakin besar, seiring dengan kurang
efisiennya fungsi ginjal akibat kehamilan, dapat menyebabkan ibu lebih
sering buang air kecil. Dapat juga terjadi keluar air seni saat bersin, batuk
atau ketawa. Ini disebabkan karena adanya tekanan rahim pada kandung
kemih, yang sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan. Jika
buang air kecil disertai rasa panas, nyeri dan lebih sering, periksakanlah ke
dokter.
18. Berat badan yang berlebihan atau kurang selama kehamilan dapat
menyebabkan masalah bagi si kecil yang masih dalam kandungan.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 15


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Janganlah melakukan diet selama hamil untuk menurunkan berat badan
yang berlebih sebelum berkonsultasi dengan dokter.
19. Melakukan vaksinasi untuk kehamilan. Tanyakanlah pada dokter
mengenai hal ini, kapan sebaiknya vaksinasi diberikan.
20. Hindari pemeriksaan dengan sinar X (ronsen). Jelaskan pada dokter bila
Anda sedang hamil bila dokter meminta Anda untuk melakukan
pemeriksaan itu.
21. Istirahatlah yang cukup. Pada saat beristirahat sebaiknya berbaring ke
samping, terutama ke sisi kiri bila sesuai saran dokter. Posisi ini akan
memberikan sirkulasi darah terbaik untuk sang janindan dapat mengurangi
pembengkakan pada tungkai kaki.

2.8 Komplikasi
Kematian janin dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak
membahayakan ibu. Setelah lewat 4 minggu maka kemungkinan terjadinya
kelainan darah (hipofibrinogenemia) akan lebih besar karena itu pemeriksaan
pembekuan darah harus dilakukan setiap minggu selah diagnosis ditegakkan. Bila
terjdai hipofibrinogenemia bahayanya adalah perdarahan postpartum. Terapinya
adalah dengan pemberian darah segar atau pemberian fibrinogen. Resiko yang
perlu ditangani adalah koagulasi intravaskuler (DIC). Koagulasi intravaskuler
yang mungkin terjadi yaitu protombin, partial protombin, fibrinogen dan platelet
yang dimonitor tiap minggu. Bila hasil tes tetap pada rentang normal dapat
dilakukan penantian kelahiran spontan. Bila platelet fibrinogen menurun dan atau
peningkatan protombin dan partial protombin, konsultasi dengan dokter untuk
melakukan induksi kelahiran.selain itu maka komplikasi yang lain adalah:
Trauma emosional yang berat terjadi bila waktu antara
kematian janin dan persalinan cukup bulan.
Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
Dapat terjadi koagulasi bila kematian janin berlangsung > 2
minggu.8.9

Rezki Wahyuni 11310312 Page 16


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

BAB III
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

Nama : Susila Rini

Umur : 31 tahun

Pekerjaan : Guru

Agama : Islam

Suku/bangsa : Mandailing

Pendidikan : S1

Alamat : Dsn XII Langkat Tamiang Kec. Besilang

Nama Suami : Sugiato

Tgl. Masuk : 15 Desember 2016

II. ANAMNESA

1. Keluhan Utama :

Gerak Janin tidak dirasakan

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Os datang ke RSUD.DR.R.M.DJOELHAM dengan keluhan gerakan


janin tidak dirasakan lagi selama ± 3 minggu. Satu hari sebelumnya
telah dilakukan USG.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Os mengaku tidak pernah menderita asma, kencing manis, dan darah


tinggi.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 17


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
4. Riwayat Penyakit Keluarga

Menurut pasien dikeluarga tidak ada yang memiliki keluhan seperti


pasien

5. Riwayat Haid

Menarche umur 14 tahun, siklus haid 28 hari, teratur, 5-7 hari,


disminore (+) HPHT 17-05-2016

6. Riwayat Perkawinan

7. Riwayat Kontrasepsi

8. Riwayat Obstetri

G1P0A0

III. PEMERIKSAAN

A. Pemeriksaan Fisik Umum


1. Keadaan Umum

Sensorium : Compos Mentis

Tekanan darah : 110 / 80 mmHg

Respirasi Rate : 24 x/i

Heart Rate : 80x/i

Suhu : 36,8 C

2. Keadaan Penyakit

Anemia :(-)

Sianosis :(-)

Dyspnoe :(-)

Rezki Wahyuni 11310312 Page 18


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Ikterus :(-)

Edema :(-)

STATUS LOKALISATA

1. Kepala

Mata : Conjungtiva Palpebra Superior Pucat (-/-)

Telinga : DBN

Hidung : DBN

Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-/-)

2. Thorax

Inspeksi : Simetris

Palpasi : Sterm fremitus kanan dan kiri sama

Perkusi : Sonor (+/+)

Auskultasi : Vesikuler (+/+),suara tambahan (-/-)

3. Abdomen

Inspeksi : Abdomen sudah tampak membesar, striae


gravidarum (+), bekas operasi (-),

Palpasi : Hati Tidak Teraba, Lien Tidak Teraba, Nyeri


Tekan Abdomen (+)

Perkusi : Tympani

Auskultasi : Peristaltic Usus Normal

Rezki Wahyuni 11310312 Page 19


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
4. Ektremitas

Superior : Edema (-), gerak normal, nyeri gerak (-)

Inferior : Edema (-), gerak normal, nyeri gerak (-)

IV. STATUS OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

1. Abdomen

Inspeksi : Abdomen sudah tampak membesar, striae


gravidarum (+), bekas operasi (-)

Palpasi : Fundus uteri teraba 2 jari diatas pusat ( 20 cm ),


nyeri tekan abdomen (+), gerakan janin (-), HIS (-)

Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi : Tidak terdengar denyut jantung janin dengan


menggunakan monoral dan doppler

2. Genetalia Ekterna

Inspeksi : Perdarahan (-), Massa (-), Lesi (-), Udem (-)

3. Genetalia Interna

Inspeksi : Tidak tampak kepala di vulva

Vaginal Thoucer : Tidak ada pembukaan

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. USG
Dilakukan pada tanggal 14 Desember 2016 :
 Janin tunggal
 DJJ (-)
 Gerak (-)
 Usia kehamilan 27 minggu

Rezki Wahyuni 11310312 Page 20


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
Kesan Kematian janin dalam kandungan (IUFD)

2. Laboratorium
Dilakukan pada tanggal 15 Desember 2016 :
KGD : 72
Leukosit : 13.5 10e3/uL
Eritrosit : 3.93 10e6/uL

Hb : 11,1 gr/dl

Hematokrit : 35,4%

Trombosit : 289.000 10e3/uL


Golongan Darah : “A”
Urin rutin : Negatif
Planotest : Negatif

VI. DIAGNOSA KERJA

 KJDK + KDR (27 minggu) + PG

VII. PENATALAKSANAAN

- IVFD RL + 2 amp syntosinon 20gtt/i – 40gtt/i (naik setiap 30 manit)


- Syntotec tablet ½ / 4 jam
- Rencana PSP

VIII. ANJURAN

- Terminasi / Induksi Persalinan

IX. TERAPI POST PARTUM

- IVFD RL 30 gtt/i
- Inj Cefotaxime 1 gr/ 1x
- Ciprofloxacin 500 mg 3x1

Rezki Wahyuni 11310312 Page 21


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Metronidazol 500 mg 3x1
- Metilargo 3x1
- Viferron 1 x 1
- Cripsa 3x1

X. FOLLOW UP

FOLLOW UP Keluhan Vital Sign Terapi


15-12-2016 - Tidak merasakan TD :110/80 mmhg IVFD RL + 2 amp
gerakan janin RR :24x/i oxitocyn 20gtt/i –
- Mules (-) HR :80x/i 40gtt/i
T :36,5 0 C
16-12-2016 - Tidak merasakan TD :100/70 mmhg - IVFD RL + 2 amp
Jam 18.00 gerakan janin RR :20x/i syntosinon 20gtt/i –
- Mules (+) HR :80x/i 40gtt/i (naik setiap
T :36,8 0 C 30 manit)
- Sytotec tab ½ / 4
jam
16-12-2016 - Tidak merasakan TD :100/70 mmhg - IVFD RL + 2 amp
Jam 20.30 gerakan janin RR :20x/i syntosinon 20gtt/i –
- Mules (+) HR :80x/i 40gtt/i (naik setiap
T :36,8 0 C 30 manit)
HIS : 2x dalam 10 - Sytotec tab ½ / 4
menit, 15-20 detik jam

16-12-2016 - Tidak merasakan TD :100/70 mmhg - IVFD RL + 2 amp


22.10 gerakan janin RR :20x/i syntosinon 20gtt/i –
- Mules (+) HR :80x/i 40gtt/i (naik setiap
- Bukaan 2-3 cm T :36,8 0 C 30 manit)
HIS : 2x dalam 10 - Sytotec tab ½ / 4
menit, 15-20 detik jam

Rezki Wahyuni 11310312 Page 22


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016
17-12-2016 - pembukaan TD :100/70 mmhg - IVFD RL 30gtt /i
02.00 lengkap RR :20x/i
- bayi lahir spontan HR :80x/i
dalam keadaan exit T :36,8 0 C

17-12-2016 - Perut terasa mati TD :110/70 mmhg - IVFD RL 30 gtt/i


07.00 rasa RR :20x/i - Inj Cefotaxime 1 gr/
HR :80x/i 1x
0
T :36,7 C - Ciprofloxacin 500
mg 3x1
- Asam Mefenamat
500 mg 3x1
- Metronidazol 500
mg 3x1
- Metilargo 3x1
- Viferron 1 x 1
- Cripsa 3x1
18-12-2016 - Tidak ada keluhan TD :110/80 mmhg - Ciprofloxacin 500
11.00 - Pasien PBJ RR :20x/i mg 3x1
HR :80x/i - Asam Mefenamat
T :36,7 0 C 500 mg 3x1
- Metronidazol 500
mg 3x1
- Viferron 1 x 1

Rezki Wahyuni 11310312 Page 23


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

KESIMPULAN

 Pasien datang ke RSUD DR RM.DJOELHAM dengan keluhan gerakan


janin tidak dirasakan lagi selama ± 3 minggu.
 Sebelumnya telah dilakukan USG dan di diagnosa KJDK
 Bayi lahir spontan pada tanggal 17-12-2016 pukul 02:00 wib
 Bayi lahir Exit
 Berat badan 800 gr, panjang badan 31 cm
 Jenis kelamin perempuan, anus (+)
 Pada tanggal 18 Desember 2016 pukul 11:00 wib Pasien PBJ
 Terapi PBJ adalah
Ciprofloksasin 500 mg 3x1
Asam Mefenamat 500 mg 3x1
Metronidazol 500 mg 3x1
Viferron 1x1
 Pasien pulang dalam kondisi sehat

Rezki Wahyuni 11310312 Page 24


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) 2016

DAFTAR PUSTAKA

1. Mochtar, R. (2004), Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi, Edisi III, EGC,

Jakarta.

2. Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan

Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo

3. Kadri, N. (2005), Kelainan Kongenital, dalam Ilmu Kebidanan, Yayasan

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

4. Depkes RI. Asuhan Kebidanan Pada IbuHamil DalamKonteks Keluarga.


CetakanKe III. 1993. Jakarta.
5. TaberBen-Zion, Kedaruratan Obstetric dan Ginekologi,EGC,Jakarta,1994

6. Garugan Elvi N. 2012, Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Intra

Uterine Fetal Death (IUFD), Jurnal Ilmiah Bidan.

Rezki Wahyuni 11310312 Page 25


Fakultas Kedokteran Malahayati Bandar Lampung
KKS SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUD.DR.RM.Djoelham Binjai