Anda di halaman 1dari 16

KOPERASI & UMKM

PENGAWASAN KOPERASI

SAP 10

Dosen Pengampu : Drs. I Made Dana, M.M

Kelompok 9

Ni Putu Pradnyawati (1506305027 / 05)

Ni Ketut Modi Pitriani (1506305039 / 10)

REGULER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018

0
10.1 Mentaati Sendi-Sendi Dasar Koperasi
Dalam UU No. 12 tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perkoperasian diatur
mengenai sendi-sendi dasar Koperasi Indonesia. Ada tujuh sendi dasar Koperasi
Indonesia, yaitu:
1) Sifat keanggotaanya sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara
Indonesia.
Suka rela mengandung arti kemauan dan kehendak sendiri tanpa adanya
paksaan atau pengaruh dari orang lain. Menjadi anggota koperasi sebaiknya
timbul dari kesadaran diri sendiri, sehingga dapat menolong dirinya sendiri
juga dapat menolong orang lain. Terbuka berarti bahwa koperasi sebagai
organisasi ekonomi bersifat terbuka dan demokratis, bukan untuk suatu
golongan tertentu, tetapi untuk semua warga negara Indonesia.
2) Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi sebagai pencerminan
demokrasi dalam koperasi.
Hal ini mencerminkan demokrasi dalam kehidupan koperasi. Koperasi
didirikan bersama berarti milik bersama dan untuk kepentingan bersama pula.
Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik dalam
perencanaan maupun keputusan yang diambil dalam rapat anggota.
3) Pembagian sisa hasil usaha sesuai dengan jasa masing-masing anggota.
Pembagian itu diatur sesuai dengan jasa yang diberikan oleh anggota
koperasi. Makin banyak jasa yang diberikan kepada koperasi makin besar ia
menerima kembali jasa itu.
4) Adanya pembatasan atas bunga modal.
Ada pembagian kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada
umumnya. Sesuai dengan fungsi ekonomi, koperasi mengutamakan
kesejahteraan hidup para anggotanya. Modal dalam koperasi, yang walaupun
merupakan unsur yang tidak dapat diabaikan sebagai faktor produksi
dipergunakan untuk kesejahteraan anggota-anggotanya dan bukan untuk
sekedar mencari keuntungan uang (profit motive).

5) Mengembangkan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada


umumnya.
Sesuai dengan fungsi ekonomi, koperasi mengutamakan kesejahteraan hidup
para anggotanya. Di samping itu, karena koperasi adalah organisasi yang

1
berwatak sosial, maka tidak boleh melupakan kepentingan umum, yaitu harus
turut membantu pembangunan masyarakat yang sedang berlangsung.
6) Usaha dan ketata-laksanaanya bersifat terbuka.
Koperasi didirikan dan diusahakan oleh para anggota. Oleh karena itu, segala
gerak dan kepengurusan koperasi harus sepengetahuan serta terbuka untuk
seluruh anggota.
7) Swadaya, swakerta, dan swasembada sebagai pencerminan percaya pada
diri sendiri.
Prinsip percaya pada diri sendiri merupakan modal utama dalam mendorong
setiap cipta, karya, dan karsa koperasi. Koperasi sebagai lembaga ekonomi
rakyat harus mampu berswadaya (berusaha sendiri), berswakerta (membuat
sendiri) dan berswasembada (mencukupi kebutuhan sendiri). Prinsip dasar di
atas dapat pula disebut sebagai prinsip individualitas dan solidaritas.
Individualitas adalah kesadaran akan harga diri, sedangkan solidaritas ialah
setia bersekutu atau setia kawan. Dengan demikian, setiap anggota koperasi
dengan modal percaya diri sendiri akan mampu mengatasi dan meningkatkan
taraf hidupnya.

10.2 Tipe-Tipe Pengawasan Koperasi


Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan
pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan
sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Pengawasan adalah kegiatan
yang dilakukan oleh penjabat yang membidangi koperasi untuk mengawasi dan
memeriksa koperasi agar kegiatan diselenggarakan dengan baik sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Tujuan pengawasan yaitu untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan
pengawasan koperasi oleh pemerintah dan meningkatkan kesadaran para
pengelola koperasi dalam mewujudkan kondisi sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Tujuan khusus dari pengawasan koperasi yaitu memastikan koperasi
mematuhi aturan yang berlaku, meningkatkan citra dan kredibilitas koperasi,
menjaga dan melindungi asset koperasi, meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas, serta mendorong tercapainya tujuan koperasi.
Sasaran pengawasan koperasi yaitu terwujudnya peningkatan kepatuhan
koperasi, terbentuknya koperasi yang kuat, sehat, mandiri, tangguh dan

2
terwujudnya koperasi yang akuntabel. Ruang lingkup dari pengawasan koperasi
yaitu penerapan kepatuhan, kelembagaan koperasi, usaha simpan pinjam,
penilaian kesehatan, dan penerapan sanksi. Berdasarkan amanat PP 9/1995
tentang Pembinaan dan Pengawasan usaha simpan pinjam yang dikelola koperasi.
Kementrian koperasi memiliki ruang lingkup tugas meliputi:
1) Pengaturan
2) Pengawasan
3) Pemeriksaan (berkala, sesuai kebutuhan)
4) Penilaian kesehatan
5) Penerapan sanksi (pemberian tindakan administrative)
Tugas pemerintah menurut PP 9/1995 yaitu:
1) Pembinaan dan pengawasan koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam
oleh Menteri (Pasal 24)
2) Menetapkan ketentuan tentang prinsip kesehatan dan prinsip kehati-hatian
usaha koperasi (Pasal 25)
3) Mengatur tata cara dan pelaksanaan laporan berkala dan tahunan koperasi
simpan pinjam dan unit simpan pinjam kepada Menteri (Pasal 26)
4) Melakukan pemeriksaan terhadap koperasi simpan pinjam dan unit simpan
pinjam, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan (Pasal
27)
5) Membubarkan koperasi simpan pinjam atau unit simpan pinjam berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 31).
Sesuai surat edaran Menteri Koperasi dan UKM No.
98/M.KUKM/IX/2012 tentang pengawasan KSP/USP, KJKS/UJKS dan Kopsit;
pelaksanaan pengawasan KSP menjadi tanggung jawab Kepala Dinas yang
membidangi koperasi sesuai kewenangan pengesahan badan hukum.
Pada dasarnya ada beberapa jenis pengawasan yang dapat dilakukan,
yaitu:
1) Pengawasan Intern dan Ekstern
Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau
badan yang ada didalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.
Pengawasan dalam bentuk ini dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan

3
langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang
dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap kementrian dan
inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan
menempatkannya di bawah pengawasan Kementrian Dalam Negeri.
Pengawasan ektern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit
pengawasan yang berada diluar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di
Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga
tinggi Negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam
menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat
pengawasan intern pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya
perlu terwujud harmonisasi dalam proses pengawasan keuangan Negara. Proses
harmonisasi demikian tidak mengurangi indepedensi BPK untuk tidak memihak
dan menilai secara objektif aktivitas pemerintah.
Dalam kasus pengawasan terhadap koperasi, maka pengawasan eksternal
dilakukan oleh Kementrian Koperasi dan UKM. Kemenkop dan UKM dan Kepala
Daerah di seluruh Indonesia memiliki mandate dari Undang-Undang untuk
melakukan pengawasan terhadap koperasi di Indonesia.
2) Pengawasan Preventif dan Represif
Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai “pengawasan yang
dilakukan terhadap suatu kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah
terjadinya penyimpangan”. Lazimnya, pengawasan ini dilakukan pemerintah
dengan maksud untuk menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan
Negara yang akan membebankan dan merugikan Negara lebih besar. Disisi lain,
pengawasan ini juga dimaksudkan agar system pelaksanaan anggaran dapat
berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Pengawasan preventif akan lebih
bermanfaat dan bermakna jika dilakukan oleh atasan langsung, sehingga
penyimpangan yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal.
Di sisi lain, pengawasan represif adalah “pengawasan yang dilakukan
terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan”. Pengawasan model ini
lazimnya dilakukan pada akhir tahun anggaran, d mana anggaran yang telah
ditentukan kemudian disampaikan laporannya. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan
dan pengawasan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan,

4
3) Pengawasan Aktif dan Pasif
Pengawasan aktif dilakukan sebagai bentuk “pengawasan yang
dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan”. Hal ini berbeda dengan
pengawasan pasif yang melakukan pengawasan melalui “penelitian dan pengujian
terhadap surat-surat pertanggungjawaban yang disertai dengan bukti-bukti
penerimaan dan pengeluaran”.
4) Pengawasan kebenaran formil menurut hak (rechtimatigheld) dan
pemeriksaan kebenaran materiil mengenai maksud tujuan pengeluaran
(doelmatigheld)
Pengawasan berdasarkan pemeriksaan kebenaran formil menurut hak
(rechmatigheld) adalah “pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah sesuai
dengan peraturan, tidak kadaluarsa, dan hak itu terbukti kebenarannya”.
Sementara, hak berdasarkan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud
tujuan pengeluaran (doelmatigheld) adalah “pemeriksaan terhadap pengeluaran
apakah telah memenuhi prinsip ekonomi, yaitu pengeluaran tersebut diperlukan
dan beban biaya yang serendah mungkin”.
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan Negara, pengawasan ditujukan
untuk menghindari terjadinya “korupsi, penyelewengan, dan pemborosan
anggaran Negara yang tertuju pada aparatur atau pegawai negeri”. Dengan
dijalankannya pengawasan tersebut diharapkan pengelolaan dan
pertanggungjawaban anggaran dan kebijakan Negara dapat berjalan sebagaimana
direncanakan.
Dalam pengawasan terdapat beberapa tipe pengawasan. Fungsi pengawasan
dapat dibagi dalam tiga macam tipe, atas dasar fokus aktivitas pengawasan, antara
lain Pengawasan Pendahuluan (Preliminary Control), Pengawasan Pada Saat
Kerja Berlangsung (Cocurrent Control), dan Pengawasan Umpan
Balik (Feedback Control).
1) Pengawasan Pendahuluan (Preliminary Control)
Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan
pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan
yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan pendahuluan
mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-

5
hasilaktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang
direncanakan. Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-
deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada
organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat
pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan,
prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang
menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan dimasa depan. Dipandang dari
sudut perspektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan
pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan pendahuluan meliputi: pengawasan pendahuluan sumber daya
manusia, pengawasan pendahuluan bahan-bahan, pengawasan pendahuluan modal
dan pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya finansial.
Prosedur-prosedur pengawasan pendahuluan mencakup semua upaya
manajerial guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan
berdekatan hasilnya dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.
Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan
merupakan pedoman-pedoman untuk tindakan masa mendatang. Tetapi, walaupun
deminikan penting untuk membedakan tindakan menyusun kebijaksanaan-
kebijaksanaan dan implementasinya. Merumuskan kebijakan-kebijakan termasuk
dalam fungsi perencanaan sedangkan tindakan mengimplementasi kebijaksanaan
merupakan bagian dari fungsi pengawasan.
2) Pengawasan Pada Waktu Kerja Berlangsung (Concurrent Control)
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor
pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah
dicapai. Concurrent control terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang
mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka. Direction (arahan) berhubungan
dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka berupaya untuk
mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode-metode
serta prosedur-prosedur yang tepat dan mengawasi pekerjaan mereka agar
pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Proses memberikan pengarahan

6
bukan saja meliputi cara dengan apa petunjuk-petunjuk dikomunikasikan tetapi ia
meliputi juga sikap orang-orang yang memberikan penyerahan.
3) Pengawasan Umpan Balik (Feed Back Control)
Pengawasan umpan balik yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah
dilaksanakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak
sesuai dengan standar. Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional
dimasa lalu. Tindakan korektif ditujukan kea rah proses pembeluan sumber daya
atau operasi-operasi aktual. Sifat khas dari metode-metode pengawasan feedback
(umpan balik) adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal,
sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang. Adapun
sejumlah metode pengawasan umpan balik yang banyak dilakukan yaitu:
a. Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
b. Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis).
c. Pengawasan Kualitas (Quality Control)
d. Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)

10.3 Metode Pengawasan Koperasi


Metode pengawasan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu sebagai
berikut.
1) Metode Pengawasan Kualitatif, yaitu metode pengawasan yang digunakan
manajer dalam pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen, yaitu untuk
mengawasi performance organisasi secara keseluruhan dan untuk mengawasi
sikap performance para karyawan. Teknik pengawasan kualitatif yang sering
digunakan adalah
a. Pengamatan.
Pengamatan ditujukan untuk mengendalikan kegiatan atau produk yang
dapat diobservasi.
b. Inspeksi secara teratur.
Inspeksi teratur dilakukan secara periodic dengan mengamati kegiatan atau
produk yang dapat diobservasi.
c. Laporan baik lisan maupun tertulis.

7
Laporan lisan dan tertulis dapat menyajikan informasi yang dibutuhkan
dengan cepat disertai dengan feed-back dari bawahan dengan relatif lebih
cepat.
d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan, yang dilihat dari pelaporan.
e. Diskusi antar manajer maupun bawahannya tentang pelaksanaan kegiatan.
Cara ini dapat menjadi alat pengendalian karena masalah yang mungkin
ada dapat didiagnosis dan dipecahkan bersama.
f. Management by Exception (MBE).
Dilakukan dengan memperhatikan perbedaan yang signifikan antara
rencana dan realisasi. Teknik tersebut didasarkan pada prinsip
pengecualian. Prinsip tersebut mengatakan bahwa bawahan mengerjakan
semua kegiatan rutin, sementara manajer hanya mengerjakan kegiatan
tidak rutin.

2) Metode Pengawasan Kuantitatif, dalam mengadakan pengawasan ini yang


bersifat kuantitatif, sebagian besar digunakan data-data maupun metode
kuantitatif untuk mengukur dan memeriksa kuantitas maupun kualitas output.
Metode pengawasn kuantitatif meliputi beberapa cara antara lain:
a. Anggaran
Anggaran operasi, anggaran pembelanjaan modal, anggaran penjualan,
anggaran kas. Anggaran khusus, seperti planning programming, bud
getting system (PBS), zero-base budgeting ( ZBB ), dan human resource
accounting (HRA).
b. Audit (rencana dan biaya)
Internal audit, tujuannya adalah membantu semua anggota manajemen
dalam melaksanakan tanggung jawab mereka dengan cara mengajukan
analisis, penilaian, rekomendasi dan komentar mengenai kegiatan mereka.
Eksternal audit, tujuannya menentukan apakah laporan keuangan tersebut
menyajikan secara wajar keadaan keuangan dan hasil perusahaan.
c. Analisis biaya
Menganalisa dan menggambarkan hubungan biaya dan penghasilan untuk
menentukan pada volume berapa agar biaya total sehingga tidak
mengalami laba atau rugi.

8
d. Analisis rasio maupun bagan
Menyankut dua jenis perbandingan : Membandingkan rasia saat ini dengan
rasia-rasia dimasa lalu. Membandingkan rasia-rasia suatu perusahaan
dengan perusahaan lain yang sejenis.
e. Teknik yang berhubungan dengan waktu dan pelaksanaan kegiatan.

Pengawasan dilakukan dengan bermaksud untuk menjaga kestabilan dan


keseimbangan dalam organisasi. Untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan
perusahaan seorang manajer harus selalu mengadakan perbaikkan mengenai apa
yang dilakukan, merrubah standar yang sudah digunakan untuk mngukur
pelaksanaan kegiatan kalau perlu mengadakan perubahan dan perbaikan dengan
teknik serta metode pengawasan.

10.4 Manajemen Koperasi


1) Konsep Manajemen Koperasi
Manajemen koperasi tidak didasarkan pada pemaksaan wewenang,
melainkan melalui keterlibatan dan partisipasi. Para manajer professional koperasi
menggunakan metode yang sama seperti manajemen pada umumnya. Hanya saja
nilai-nilai dan tujuan yang harus diperjuangkan metode itulah yang membuat
manajemen koperasi unik dan berbeda dari manajemen lainnya. Fungsi utamanya
adalah mengupayakan kepemimpinan koperasi bagi anggota dan pengurus terpilih
di dalam pengembangan kebijakan dan strategi yang akan memberdayakan
koperasi dalam mewujudkan cita-cita atau tujuannya.
Dengan menyatukan manajemen Koperasi sebagai bagian dari koperasi
dan sebagai representasi prinsip-prinsip penting koperasi itu sendiri, kita dapat
mengembangkan manajemen dan demokrasi di dalam koperasi sebagaimana
dinyatakan Peter Davis, sebagai berikut: “pengembangan prinsip-prinsip
manajemen koperasi, akan membuat perusahaan koperasi harus dikelola secara
professional dan kooperatif sedemikian rupa sehingga keterlibatan anggota dan
demokrasi, akan tetap menjadi kunci keberhasilan dalam praktek koperasi.
Dengan memiliki prinsip-prinsip manajemen koperasi kita juga meletakkan dasar
sebagai criteria untuk menilai pelatihan-pelatihan manajemen koperasi, serta
menilai kinerja manajemen dalam koperasi “
2) Manajemen Koperasi Menurut Beberapa Sudut Pandang

9
Hendrojogi (2007:56) mengatakan bahwa manajemen koperasi
melibatkan empat unsur yaitu: Anggota, Pengurus, Manajer, Dan Karyawan.
Seorang manajer dituntut dapat menciptakan suasana yang dapat mendorong para
karyawan agar mempertahankan produktifitas yang tinggi. Karyawan merupakan
penghubung antara manajemen dan anggota pelanggan.
Kurnadi (2004:64) mengemukakan bahwa manajemen koperasi pada
dasarnya dapat ditelaah dari tiga sudut pandang yaitu organisasi, proses dan gaya.
Dari sudut pandang organisasi, manajemen koperasi pada prinsipnya terbentuk
dari tiga unsur: Anggota, Pengurus, dan Karyawan. Selain itu dapat dibedakan
struktur atau alat perlengkapan organisasi yang sepintas adalah sama yaitu: Rapat
Anggota, Pengurus, dan Pengawas. Untuk itu, hendaknya dibedakan antara fungsi
organisasi dan fungsi manajemen. Fungsi pengawas seperti yang ada pada alat
kelengkapan organisasi koperasi pada hakekatnya adalah merupakan
perpanjangan tangan dari para anggota untuk mendampingi pengurus dalam
melakukan fungsi kontrol sehari-hari terhadap jalanya roda organisasi dan usaha
koperasi. Berhasil dan tidaknya koperasi salah satunya tergantung pada kerja sama
ke tiga unsur organisasi tersebut dalam mengembangkan organisasi dan usaha
koperasi yang dapat memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya pelayanan
kepada anggotanya.
Dari sudut pandang proses, manajemen koperasi lebih mengutamakan
demokrasi dalam mengambil keputusan stragis koperasi. Istilah satu orang satu
suara (one man one vote) sudah menjadi harga mati dalam organisasi koperasi.
Karena itu, manajemen koperasi sering dipandang kurang efisien, kurang efektif
dan sangat mahal. Terakhir ditinjau dari sudut pandang gaya manajemen
(managemen style), manajemen koperasi menganut gaya partisipatif (partisipation
management), dimana posisi anggota ditempatkan sebagai subyek dan manajemen
yang aktif dalam mengendalikan manajemen perusahaanya.
Widiyawati (2002:71) mengemukakan bahwa sistem manajemen di
lembaga koperasi harus mengarah kepada manajemen partisipatif yang
didalamnya terdapat kebersamaan, keterbukaan sehingga setiap anggota koperasi
baik yang turut dalam pengelolaan ataupun diluar kepengurusan (anggota biasa),
memiliki rasa tanggung jawab tanggung jawab dalam menyelenggarakan

10
organisasi tersebut. Tamba (2001:47) mengemukakan badan usaha koperasi di
Indonesia memiliki manajemen koperasi yang dianut berdasarkan perangkat
organisasi koperasi, yaitu: Rapat Anggota, Pengurus, Pengawas dan Pengelola.
Lingkup keputusan masing-masing unsur manajemen koperasi sebagai berikut:
a) Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam menetapkan
kebijakan umum dibidang organisasi, manajemen, dan usaha koperasi.
Kebijakan yang sifatnya sangat strategis dirumuskan dan ditetapkan pada
forum Rapat Anggota. Umumnya, Rapat Anggota diselenggarakan sekali
setahun.
b) Pengurus dipilih dan diberhentikan oleh Rapat anggota. Dengan demikian,
pengurus dapat dikatakan sebagai pemegang kuasa rapat anggota dalam
mengoperasionalkan kebijakan-kebijakan strategi yang telah ditetapkan Rapat
Anggota. Penguruslah yang mewujudkan arah kebijakan kebijakan strategis
yang menyangkut organisasi maupun usaha.
c) Pengawas mewakili anggota untuk melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijakan yang dilaksanakan oleh pengurus. Pengawas dipilih
dan diberhentikan dalam Rapat Anggota. Oleh sebab itu, dalam struktur
organisasi koperasi posisi pengawas dan pengurus adalah sama.
d) Pengelola adalah tim manajemen yang diangkat dan diberhentikan oleh
pengurus untuk melaksanakan teknis operasional bidang usaha. Hubungan
pengelola usaha (managing director) dengan pengurus koperasi adalah
hubungan kerja atas dasar perikatan dalam bentuk perjanjian atau kontrak
kerja.
Koperasi lazimnya seperti organisasi yang lain membutuhkan manajemen
yang baik agar tujuan yang telah digariskan koperasi tersebut dalam rapat anggota
dapat tercapai sesuai denga harapan. Hal yang membedakan manajemen koperasi
dengan manajemen umum terletak pada unsur-unsur manajemen koperasi yaitu
rapat anggota, pengurus dan pengawas. Adapun tugas masing-masing dapat
diperinci sebagai berikut: Rapat Anggota bertugas untuk menetapkan anggaran
dasar, membuat kebijakan umum, mengangkat dan memberhentikan pengurus dan
pengawas.

11
Pengurus koperasi bertugas memimpin koperasi dan usaha koperasi
sedangkan pengawas tugasnya mengawasi jalanya koperasi, unuk koperasi yang
usahanya banyak dan luas pengurus dimungkinkan mengangkat manajer dan
karyawan. Manajer dan karyawan tidak harus anggota koperasi dan seyogyanya
memang diambil dari luar koperasi sehingga pengawasanya lebih mudah Mereka
berkerja karena ditugasi oleh pengurus, maka mereka juga bertanggung jawab
kepada pengurus. Dalam manajemen koperasi maka tidak terlepas dari
perencanaan, pembagian kerja, pengarahan, dan pengawasan. Lebih jelasnya
diuraikan sebagai berikut:
a) Perencanaan
Perencanaan merupakan proses dasar manajemen. Dalam perencanaan,
manajer memutuskan apa yang harus dilakukan, kapan harus dalakukan,
bagaimana melakukan, dan siapa ynag harus melakukan. Setiap organisasi
memerlukan perencanaan, baik organisasi yang bersifat kecil maupun besar sama
saja membutuhkan perencanaan namun dalam pelaksanaanya memerlukan
penyesuaian-penyesuaian dengan melihat bentuk tujuan dan luas organisasi yang
bersangkutan.
Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang fleksibel, sebab
perencanaan akan berbeda dalam situasi yang terus barubah dari waktu-kewaktu.
Apabila perlu dalam pelaksanaanya diadakan perencanaan kembali sehingga
semakin cepat tercapainya tujuan koperasi tersebut. Ada empat tahap dasar
perencanaan, yaitu: (1) menetapkan tujuan dan serangkaian tujuan, (2)
merumuskan keadaan saat ini, (3) mengidentifikasi segala kemudahan dan
hambatan, (4) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
pencapaian tujuan. Perencanaan yang dibuat oleh perusahaan yang satu dengan
perusahaan lainya belum tentu sama perbedaan tersubut terjadi karena tipe
organisasi yang berbeda, jangka waktu yang digunakan, tipe manajer yang yang
mengelola perusahaan.
Perencanaan dalam koperasi sama dengan organisasi lainya perlu dikelola
dengan baik agar dapat dicapai tujuan akhir seefektif mungkin fungsi perencanaan
merupakan fungsi manajemen yang sangat penting karena merupakan dasar dari
fungsi manajemen yang lain. Agar tujuan akhir koperasi dapat dicapai maka

12
koperasi harus membuat rencana yang baik dengan melalui beberapa langkah
dasar pembuatan rencana yaitu menentukan tujuan organisasi, mengajukan
alternatif cara mencapai tujuan tersebut, dan kemudian alternatif-
alternatif tersebut harus dikaji satu persatu sebelum diputuskan alternatif mana
yang sangat baik mendukung untuk mencapai tujuan tersebut. Tipe rencana yang
dapat diambil dalam koperasi dapat bermacam-macam tergantung pada jangka
den kebutuhan organisasi koperasi.
b) Pengorganisasian
Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur
formal, mengelompokan, mengatur dan membagi tugas masing-masing unsur-
unsur yang ada agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien. Pelaksanaan
proses pengorganisasian akan menggambarkan struktur organisasi yang
menunjukan aspek-aspek penting seperti: pembagian kerja, departementalisasi,
bagan organisasi, rantai perintah dan kesatuan perintah, tingkat hirarki
manajemen, saluran komunikasi dan sebagainya.
Sebagai pengelola koperasi pengurus senantiasa berhadapan dengan
beragam masalah yang mesti diselesaikan denga sesegerah mungkin, salah satu
masalah yang paling sulit adalah masalah yang timbul dari internal koperasi
tersebut yaitu keterbatasan. Ketarbatasan yang dimaksud adalah pengetahuan
sebab seorang pengurus harus diangkat oleh dari anggota sehingga tidak
menjamin dia merupakan anggota yang cukup profesional di bidan pengelolaan
koperasi tersebut. Dengan kemampuan yang terbatas ditambah tingkat pendidikan
yang terbatas pengurus perlu mengangkat keryawan yang bertugas membantunya
dalam mengelola koperasi agar pekerjaan koperasi dapat dilaksanakan sesuai
dengan yang diharapkan.
Masuknya berbagai pihak yang ikut membantu pengurus mengelola usaha
koperasi semakin kompleks pula struktur organisasi tersebut. Pemilihan bentuk
struktur koperasi harus disesuaikan dengan jenis usaha, volume usaha, maupun
luas pasar dan produk yang dihasilkan
c) Pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang sangat penting sebab
setiap anggota yang berkerja didalam suatu organisasi mempunyai kepentingan

13
yang berbeda-beda. Agar kepentingan tersebut tidak berbenturan maka pemimpin
harus berperan mengarahkan agar dapat mencapai tujuan organisasi.
Seorang karyawan dapat menunjukan prestasi kerja yang baik apabila
memperoleh motivasi disinilah tugas pemimpin untuk memberikan motivasi
kepada keryawanya agar mereka menggunakan potensi yang dimilikinya untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai sepaya manajer atau pimpinan perusahaan
dapat memberikan pengarahaan yang baik pertama-tama yang harus diperhatikan
pimpinan harus mempunyai kemampuan untuk memimpin perusahaan dan pandai
mengadakan komunikasi vertikal.
d) Pengawasan
Pengawasan adalah suatu usaha sistematik untuk membuat semua kegiatan
perusahaan sesuai dengan rencana. Proses pengawasan dapat dilakukan dengan
melalui beberapa tahap, yaitu menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang
dilaksanakan dengan standar yang sudah ditetapkan, mengukur penyimpangan-
penyimpangan yang terjadi, dan yang terjadi mengambil tindakan koreksi apabila
diperlukan. Setiap perusahaan-perusahaan melakukan pengawasan dengan tujuan
agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Hendar dan Kusnadi. 2005. Ekonomi Koperasi Edisi 2. Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi UI.

Republik Indonesia. 1967. Undang-Undang No. 12 Tahun 1967 Tentang Pokok-


Pokok Perkoperasian. Sekretarian Kabinet. Jakarta.

Tunggal, Amin Widjaja. 1995. Akuntansi Untuk Koperasi. Jakarta: PT Rineka


Cipta.

Ninik Widiyanti. 2002. Manajemen Koperasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin Sitio dan Tamba Halomoan. 2001. Koperasi: Teori dan Praktik. Jakarta:
Erlangga

15