Anda di halaman 1dari 19

PENGEMBANGAN LAHAN BASAH

“Karakteristik Lahan Gambut”

Disusun oleh :
Kelompok 1

Azra Zulnasari 1407112522


Rudy Satriya P 1407114532
Suci Cahya Ferdilla 1407122732
Ilham Akbar 1407122941
Tasia Rizky P 1407123589
Rendy Wijaya 1407123722

KELAS A

JURUSAN S1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2018
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah
begitu banyak melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah “Karakteristik Lahan Gambut” ini semoga dapat dijadikan
suatu pengetahuan dan wawasan bagi yang membacanya.
Dalam kesempatan kali ini, penulis membuat tugas makalah ini guna untuk
memenuhi tugas dari mata pelajaran Pengembangan Lahan Basah program studi
Teknik Sipil S1 pada Fakultas Teknik Universitas Riau.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tentu saja masih memiliki banyak
kekurangan. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi rekan-rekan
mahasiswa serta pihak yang berkepentingan.

Pekanbaru, Februari 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan
yang setengah membusuk oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah
yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa Inggris sebagai
peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama
seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain. Istilah gambut sendiri diserap
dari bahasa daerah Banjar.
Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4 trilyun m³, yang menutupi
wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km² atau sekitar 2% luas daratan di dunia, dan
mengandung potensi energi kira-kira 8 miliar terajoule.
Gambut terbentuk tatkala bagian-bagian tumbuhan yang luruh terhambat
pembusukannya, biasanya di lahan-lahan berawa, karena kadar keasaman yang tinggi
atau kondisi anaerob di perairan setempat. Tidak mengherankan jika sebagian besar
tanah gambut tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, pepagan,
bahkan kayu-kayu besar, yang belum sepenuhnya membusuk. Kadang-kadang
ditemukan pula, karena ketiadaan oksigen bersifat menghambat dekomposisi, sisa-sisa
bangkai binatang dan serangga yang turut terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut.
Tanah gambut disebut juga tanah Histosol (tanah organic) asal bahasa Yunani
histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organik dan
gambut.Histosol mempunyai kadar bahan organik sangat tinggi sampai kedalaman 80
cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang
sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air.
Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik
keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini
tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau
dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence).
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan
yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat
kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa
sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan
sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari tanah gambut ?
2. Bagaimana proses pembentukan tanah gambut ?
3. Bagaimana karakteristik lahan gambut ?
4. Bagaimana penyebaran tanah gambut ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui definisi dari tanah gambut.
2. Untuk mengetahui proses pembentukan tanah gambut.
3. Untuk mengetahui karakteristik lahan gambut.
4. Untuk mengetahui penyebaran tanah gambut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tanah Gambut


Tanah gambut merupakan jenis jenis tanah yang merupakan penumpukan sisa
tumbuhan yang setengah busuk/dekomposisi yang tak sempurna dan mempunyai
kandungan bahan organik yang tinggi. Tanah gambut kebanyakan berada pada lahan
yang basah atau jenuh air seperti cekungan, pantai, rawa. Tanah gambut sebagian besar
masih berupa hutan gambut yang di dalamnya terdapat bermacam spesies hewan dan
tumbuhan. Kemampuan hutan gambut, dapat menyimpan banyak karbon. Kedalaman
gambut bisa sampai 10 meter. Selain dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar,
tanah gambut juga bisa menyimpan air berkali-kali lipat dari beratnya. Sehingga
berfungsi sebagai penangkal banjir saat musim hujan tiba dan menyimpan air cadangan
tatkala kemarau panjang melanda.
Tanah gambut disebut juga tanah Histosol (tanah organic) asal bahasa Yunani
histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organik dan
gambut. Histosol mempunyai kadar bahan organik sangat tinggi sampai kedalaman 80
cm kebanyakan adalah gambut yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak
terdekomposisi dan menyimpan air. Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat
kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah.
Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada
drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan
(subsidence).
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan
yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat
kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa
sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan
sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut. Dalam
tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist
dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat
sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa
dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah.

2.2 Proses Pembentukan Tanah Gambut


Gambut terbentuk akibat proses dekomposisi bahan-bahan organik tumbuhan
yang terjadi secara anaerob dengan laju akumulasi bahan organik lebih tinggi
dibandingkan laju dekomposisinya. Akumulasi gambut umumnya akan membentuk
lahan gambut pada lingkungan jenuh atau tergenang air, atau pada kondisi yang
menyebabkan aktivitas mikroorganisme terhambat. Vegetasi pembentuk gambut
umumnya sangat adaptif pada lingkungan anaerob atau tergenang, seperti bakau
(mangrove), rumput-rumput rawa dan hutan air tawar. Di daerah pantai dan dataran
rendah, akumulasi bahan organik akan membentuk gambut ombrogen di atas gambut
topogen dengan hamparan yang berbentuk kubah (dome). Gambut ombrogen terbentuk
dari vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun dengan ketebalan hingga
puluhan meter. Gambut tersebut terbentuk dari vegetasi rawa yang sepenuhnya
tergantung pada input unsur hara dari air hujan dan bukan dari tanah mineral di bawah
atau dari rembesan air tanah, sehingga tanahnya menjadi miskin hara dan bersifat
masam.
Diemont (1986) merangkum pemikiran Polak (1933), Andriesse (1974) dan
Driessen (1978) tentang tahapan-tahapan pembentukan gambut di Indonesia :
1. Permukaan laut stabil (5000 tahun yang lalu).
2. Deposisi sedimen pantai dengan cepat membentuk dataran pantai yang luas di
pantai tilir Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya, yang ditutupi oleh komunitas
hutan mangrove.
3. Komunitas mangrove menyebabkan daerah stabil yang mengakibatkan perluasan
tanah, yang akhirnya membentuk daerah mangrove dan lagoon yang mampu
mengurangi kadar garam serta meningkatkan daerah dengan air segar
menyebabkan terjadinya hutan gambut tropika atau danau berair segar.
4. Danau berair segar itu secara bertahap menampung bahan organik yang dihasilkan
oleh tumbuhan, berkembang menjadi hutan gambut tropika yang dipengaruhi oleh
air gambut (ground water peat) sebagi gambut topogen.
5. Di atas gambut topogen terbentuk hutan gambut ombrotrophic.

Prinsip Pembentukan tanah gambut :


Proses akumulasi bahan organik > dekomposisi bahan organik

Daerah iklim sedang dan dingin :


Penyebab utama adalah suhu dingin dan kondisi air jenuh sehingga proses oksidas
berjalan lambat

DaerahTropika :
Kelebihan air, kekurangan oksigen

Kecepatan pembentukan lapisan gambut :


1. Proses perkembangan tanah gambut adalah Paludiasi,yaitu penebalan lapisan
bahan gambut dalam lahan yang berdrainase jelek di bawah kondisi anaerob.
2. Kecepatan pembentukan gambut tergantung iklim, vegetasi kemasaman, kondisi
aerob dan anaerob, aktivitas mikroorganisme.
3. Di pantai dekat laut pengaruh kegaraman akan mempercepat pertumbuhan tanah
gambut karena proses dekomposisi BO terhambat akibat hanya mikroorganisme
yang tahan kegaraman saja yang aktif.

2.3 Karakteristik Lahan Gambut

2.3.1 Karakteristik fisik


Karakteristik fisik gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian
meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity),
subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik (irriversible drying).
Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya
(Mutalib et al., 1991). Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali
bobotnya. Dengan demikian, sampai batas tertentu, kubah gambut mampu mengalirkan
air ke areal sekelilingnya (Gambar 1). Kadar air yang tinggi menyebabkan bulk density
menjadi rendah, gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah. Bulk
density tanah gambut lapisan atas bervariasi antara 0,1 sampai 0,2 g cm-3 tergantung
pada tingkat dekomposisinya. Gambut fibrik yang umumnya berada di lapisan bawah
memiliki Bulk Density lebih rendah dari 0,1 g/cm3, tapi gambut pantai dan gambut di
jalur aliran sungai bisa memiliki bulk density > 0,2 g cm-3 karena adanya pengaruh
tanah mineral.
Volume gambut akan menyusut bila lahan gambut didrainase, sehingga terjadi
penurunan permukaan tanah (subsiden). Selain karena penyusutan volume, subsiden
juga terjadi karena adanya proses dekomposisi dan erosi. Dalam 2 tahun pertama
setelah lahan gambut didrainase, laju subsiden bisa mencapai 50 cm. Pada tahun
berikutnya laju subsiden sekitar 2 – 6 cm tahun-1 tergantung kematangan gambut dan
kedalaman saluran drainase. Adanya subsiden bisa dilihat dari akar tanaman yang
menggantung (Gambar 2).
Rendahnya bulk density gambut menyebabkan daya menahan atau menyangga
beban (bearing capacity) menjadi sangat rendah. Hal ini menyulitkan beroperasinya
peralatan mekanisasi karena tanahnya yang empuk. Gambut juga tidak bisa menahan
pokok tanaman tahunan untuk berdiri tegak. Tanaman perkebunan seperti karet, kelapa
sawit atau kelapa seringkali hampir roboh atau bahkan roboh (Gambar 3). Pertumbuhan
seperti ini dianggap menguntungkan karena memudahkan bagi petani untuk memanen
sawit.
Sifat fisik tanah gambut lainnya adalah sifat mengering tidak balik. Gambut
yang telah mengering, dengan kadar air <100% (berdasarkan berat), tidak bisa
menyerap air lagi kalau dibasahi. Gambut yang mengering ini sifatnya sama dengan
kayu kering yang mudah hanyut dibawa aliran air dan mudah terbakar dalam keadaan
kering (Widjaja-Adhi, 1988). Gambut yang terbakar menghasilkan energi panas yang
lebih besar dari kayu/arang terbakar. Gambut yang terbakar juga sulit dipadamkan dan
apinya bisa merambat di bawah permukaan sehingga kebakaran lahan bisa meluas tidak
terkendali.
Gambar 1. Air mengalir dari kubah gambut melalui saluran drainase.

Gambar 2. Akar yang menggantung pada tanaman yang tumbuh di lahan gambut
menandakan sudah terjadinya subsiden (penurunan permukaan).
Gambar 3. Tanaman kelapa sawit yang hampir roboh disebabkan karena rendahnya
daya menahan beban tanah gambut.

2.3.2 Karakteristik Kimia


Karakteristik kimia lahan gambut di Indonesia sangat ditentukan oleh
kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada substratum (di dasar gambut), dan
tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia umumnya
kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik. Fraksi organik terdiri dari senyawa-
senyawa humat sekitar 10 hingga 20% dan sebagian besar lainnya adalah senyawa
lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin, resin, suberin, protein, dan senyawa
lainnya.
Lahan gambut umumnya mempunyai tingkat kemasaman yang relatif tinggi
dengan kisaran pH 3 – 5. Gambut oligotropik yang memiliki substratum pasir kuarsa
di Berengbengkel, Kalimantan Tengah memiliki kisaran pH 3,25 – 3,75. Sementara itu
gambut di sekitar Air Sugihan Kiri, Sumatera Selatan memiliki kisaran pH yang lebih
tinggi yaitu antara 4,1 sampai 4,3.
Gambut oligotropik, seperti banyak ditemukan di Kalimantan, mempunyai
kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na sangat rendah terutama pada gambut
tebal. Semakin tebal gambut, basa-basa yang dikandungnya semakin rendah dan reaksi
tanah menjadi semakin masam. Di sisi lain Kapasitas Tukar Kation (KTK) gambut
tergolong tinggi, sehingga Kejenuhan Basa (KB) menjadi sangat rendah. Tim Institut
Pertanian Bogor melaporkan bahwa tanah gambut pedalaman di Kalampangan,
Kalimantan Tengah mempunyai nilai kejenuhan basa kurang dari 10%, demikian juga
gambut di pantai Timur Riau.
Muatan negatif (yang menentukan kapasitas tukar kation) pada tanah gambut
seluruhnya adalah muatan tergantung pH (pH dependent charge), dimana kapasitas
tukar kation akan naik bila pH gambut ditingkatkan. Muatan negatif yang terbentuk
adalah hasil dissosiasi hidroksil pada gugus karboksilat atau fenol. Oleh karenanya
penetapan kapasitas tukar kation menggunakan pengekstrak amonium acetat pH 7 akan
menghasilkan nilai kapasitas tukar kation yang tinggi, sedangkan penetapan kapasitas
tukar kation dengan pengekstrak amonium klorida (pada pH aktual) akan menghasilkan
nilai yang lebih rendah. kapasitas tukar kation tinggi menunjukkan kapasitas jerapan
(sorption capacity) gambut tinggi, namun kekuatan jerapan (sorption power) lemah,
sehingga kation-kation K, Ca, Mg dan Na yang tidak membentuk ikatan koordinasi
akan mudah tercuci.
Secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena
kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang
sebagian bersifat racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut
merupakan bagian aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untukm
menahan unsur hara. Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan sifat
kimia gambut.
Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun dapat
dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation
polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn. Kation-kation tersebut membentuk ikatan
koordinasi dengan ligan organik membentuk senyawa komplek/khelat. Oleh karenanya
bahan-bahan yang mengandung kation polivalen tersebut bisa dimanfaatkan sebagai
bahan amelioran gambut.
Tanah gambut juga mengandung unsur mikro yang sangat rendah dan diikat
cukup kuat (khelat) oleh bahan organik sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Selain
itu adanya kondisi reduksi yang kuat menyebabkan unsur mikro direduksi ke bentuk
yang tidak dapat diserap tanaman. Kandungan unsur mikro pada tanah gambut dapat
ditingkatkan dengan menambahkan tanah mineral atau menambahkan pupuk mikro.
Gambut di Indonesia (dan di daerah tropis lainnya) mempunyai kandungan
lignin yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambut yang berada di daerah beriklim
sedang, karena terbentuk dari pohon-pohohan. Lignin yang mengalami proses
degradasi dalam keadaan anaerob akan terurai menjadi senyawa humat dan asam-asam
fenolat. Asam-asam fenolat dan derivatnya bersifat fitotoksik (meracuni tanaman) dan
menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.
Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan
lain mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan hara
sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis (menguning)
dan pada akhirnya tanaman akan mati. Turunan asam fenolat yang bersifat fitotoksik
antara lain adalah asam ferulat, siringat, p-hidroksibenzoat, vanilat, p-kumarat, sinapat,
suksinat, propionat, butirat, dan tartrat.

2.4 Jenis Tanah Gambut

Luas lahan gambut di Sumatra diperkirakan berkisar antara 7,3–9,7 juta hektare
atau kira-kira seperempat luas lahan gambut di seluruh daerah tropika. Menurut kondisi
dan sifat-sifatnya, gambut di sini dapat dibedakan atas gambut topogen dan gambut
ombrogen.

a. Gambut topogen ialah lapisan tanah gambut yang terbentuk karena genangan air
yang terhambat drainasenya pada tanah-tanah cekung di belakang pantai, di
pedalaman atau di pegunungan. Gambut jenis ini umumnya tidak begitu dalam,
hingga sekitar 4 m saja, tidak begitu asam airnya dan relatif subur; dengan zat hara
yang berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa
tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai.
b. Gambut ombrogen lebih sering dijumpai, meski semua gambut ombrogen
bermula sebagai gambut topogen. Gambut ombrogen lebih tua umurnya, pada
umumnya lapisan gambutnya lebih tebal, hingga kedalaman 10 m, dan permukaan
tanah gambutnya lebih tinggi daripada permukaan sungai di dekatnya. Sungai-
sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air
yang keasamannya tinggi (pH 3,0–4,5), mengandung banyak asam humus dan
warnanya coklat kehitaman seperti warna air teh yang pekat. Itulah sebabnya
sungai-sungai semacam itu disebut juga sungai air hitam.

2.5 Persebaran Tanah Gambut


Tanah gambut adalah tanah yang lembab, biasanya tanah gambut ini masih
berbentuk hutan gambut yang di dalam hutan tersebut terdapat bermacam- macam
spesies binatang dan tumbuhan. Tanah gambut ini biasnya terdapat pada lahan yang
lembab dan basah atau jenuh air, seperti halnya cekungan, lembah maupun rawa- rawa.
Tanah gambut ini apabila kita lihat maka seperti tanah yang sangat becek. Biasanya
tanah gambut apabila diinjak maka akan amblas seperti ingin menyedot apa yang telah
menginjaknya. Tanah gambut sangat dalam dan kedalamannya bisa mencapai 20
meter.
Keberadaan tanah gambut ini sangat mudah dijumpai di berbagai belahan
dunia. Ada banyak negara yang memiliki tanah gambut, diantaranya adalah :
 Irlandia
 Finlandia
 Skotlandia
 Belanda
 Jerman
 Skandinavia
 Amerika utara
 Ukraina
 Estonia
 Rusia
 Belarusia
 California
 Minesota
 Michigan
 Florida
 Patagonia
 Selandia Baru, dan lain sebagainya

Taman hutan raya gambut di Indonesia juga banyak jumlahnya karena hampir
semua negara di dunia ini memiliki lahan gambut. Bahkan separus dari lahan basah
yang ada di Bumi merupakan lahan gambut. Lahan gambut dapat dengan mudah
ditemukan di berbagai belahan dunia baik di negara yang memiliki iklim tropis, iklim
sub tropis bahkan iklim kutup sekalipun.
Persebaran lahan gambut di dunia meliputi hampir semua negara di dunia. Di
wilayah Asia yang memiliki iklim tropis, lahan gambut ini banyak terdapat di Rusia.
Lahan gambut tropis ini juga terdapat di wilayah benua lain, meskipun jumlahnya tidak
terlalu luas. Lahan gambut yang tidak terlalu luas terdapat di Afrika, Karibia dan juga
di Amerika Latin. Lebih sempit lagi kita melihat di wilayah Asia Tenggara. Di wilayah
Asia Tenggara sendiri, lahan gambut memiliki prosentasi sebanyak 76% atau sekitar
27 juta hektar. Dari luas sekian, sebanyak 83%nya berada di wilayah Indonesia.
Persebaran tanah atau lahan gambut di Indonesia meliputi semua wilayah di
Indonesia. Beberapa diantaranya adalah di Sumatera, Papua dan juga Kalimantan.
Tanah atau lahan gambut yang yang berada di masing- masing wilayah ini memiliki
ketebalan yang berbeda- beda. Ketebalan lahan gambut ini mulai dari 1 meter hingga
12 meter, bahkan ada yang sampai mecapai 20 meter. Dan untuk sebutan tanah yang
terbentuk pada lahan basah adalah peak. Perlu kita ketahui bersama bahwa lahan atau
tanah gambut ini ternyata memiliki nama lain di berbagai belahan dunia. Beberapa
sebutan bagi tanah gambut antara lain muskeg, pocsin, mire, moor dan bog.

2.4.1 Pemanfaatan Lahan Gambut


Tanah gambut adalah tanah yang dapat kita jumpai di tempat - tempat yang
lembek, basah, becek, dan sejenisnya. Hal ini tidak lepas dari tanah gambut yang
mengandung banyak air. Ciri yang paling mudah untuk mencari tahu apakan suatu
tanah adalah tanah gambut antara lain terasa lunak apabila kita tekan, mudah ditekan,
serta air yang ada di dalamnya dapat dengan mudah untuk dikeluarkan. Dengan ciri
demikian ini maka tanah gambut jelas bukanlah tanah yang bisa digunakan untuk
hunian. Seperti yang kita ketahui sebelumnya pula, bahwa tanah gambut merupakan
tanah yang tidak subur, sehingga bukan merupakan tanah yang cocok untuk bercocok
tanam.
Pemanfaat tanah gambut ini ternyata bisa untuk sebagai sumber energi atau
bahan bakar. Pemanfaatan tanah gambut sebagai sumber energi atau bahan bakar ini
bisa diperoleh dengan cara mengeringkannya. Banyak negara - negara yang sering
memanfaatkan lahan gambut ini sebagai sumber energi. Beberapa negara yang
memanfaatkan lahan gambut ini antara lain Skotlandia dan juga Irlandia. Jika kita
berada di kedua negara tersebut maka kita tidak akan menjumpai banyak pepohonan.
Oleh karena alasan itulah maka kedua negara tersebut memanfaatkan lahan- lahan
gambut. Selain sebagai sumber energi dan juga bahan bakar, tanah gambut juga bisa
dmanfaatkan untuk hal lain. Secara tradisional lahan gambut ini dimanfaatkan sebagai
pemanas rumah- rumah dan juga untuk masak. Semakin lama zaman semakin modern
dan gambut mulai dimanfaatkan secara berbeda. Di zaman modern, tanah gambut ini
dipanen secara khusus untuk dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Gambut
atau PLTG. Dan negara yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Gambut terbesar di
dunia adalah Finlandia. Pembangkit Listrik Tenaga Gambut di negara ini memiliki
kekuatan sebesar 190 Mega Watt. Tenaga listrik gambut yang terbesar ini dinamakan
Toppila Power Station.

2.4.2 Kerusakan Lahan Gambut


Kerusakan lahan gambut sebagian besar disebabkan karena ulah manusia
sendiri. Sebagai contoh adalah lahan gambut yang beralih fungsi menjadi lahan
perkebunan atau pertanian. Kerusakan lahan gambut tertinggi berada di wilayah Asia
Tenggara. Perusakan lahan gambut diawali dengan penebangan semua pohon yang
tumbuh di lahan tersebut. Selanjutnya tanah gambut/lahan tersebut akan dikeringkan
dengan cara membuat saluran supaya air mengalir keluar. Proses pengeringan lahan
gambut ini berdampak pada permukaan tanah gambut yang turun. Dampak dari
turunnya permukaan tanah di lahan gambut adalah akar pohon yang tertarik keluar atau
tercabut dengan sendirinya dan pohon pun banyak yang tumbang/roboh dan bisa juga
menyebabkan erosi tanah. Lahan gambut yang telah kering tidak dapat dikembalikan
kondisinya seperti semula. Dengan kata lain, keringnya lahan bersifat permanen. Tanah
gabut yang kering, tak akan dapat menyimpan air secara maksimal lagi dan rentan
mengalami kebakaran terlebih saat musim kemaran datang. Kebakaran lahan akan
melepaskan banyak karbon ke lapisan atmosfer dan berefek pula pada musnahnya
tumbuhan dan hewan yang hidup di hutan gambut.
Saat musim hujan datang, curah hujan tinggi mengguyur lahan gambut. Lahan
yag kering tadi tak dapat lagi menyimpan dan menyerap air dengan optimal, jadi
datanglah bencana banjir. Karbon yang terkandung di tanah gambut adalah dua kali
lipat hutan biasa/tanah biasa. Dampak lahan gambut yang rusak, antara lain terjadinya
perubahan iklim, alih fungsi lahan gambut menjadi lahan pertanian atau perkebunan
yang dilakukan dengan cara membabat habis pepohonan, pembakaran, sampai dengan
proses dekomposisi pada lahan gambut akibat bertani mengakibatkan emisi karbon
yang terkandung pada lahan gambut dapat lepas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

1. Tanah gambut (Histosol) sifatnya bermacam macam tergantung dari jenis vegetasi
yang menjadi tanah gambut tersebut. Tanah – tanah gambut yang terlalu tebal (
lebih dari 1,5 – 2 m) umumnya tidak subur karena vegetasi yang membusuk
menjadi tanah gambut tersebut terdiri dari vegetasi yang miskin unsur hara. Tanah
gambut yang subur umumnya yang tebalnya antara 30 – 100 cm. Tanah gambut
mempunyai sifat dapat menyusut (subsidence) kalau perbaikan drainase dilakukan
sehingga permukaan tanah ini makin lama makin menurun. Tanah gambut jugaa
tidak boleh terlalu kering karena dapat menjadi sulit menyerap air dan mudah
terbakar. Kekurangan unsur mikro banyak terjadi pada tanah gambut.
2. Gambut terbentuk akibat proses dekomposisi bahan-bahan organik tumbuhan yang
terjadi secara anaerob dengan laju akumulasi bahan organik lebih tinggi
dibandingkan laju dekomposisinya.

3. Lahan gambut memiliki karakteristik fisik dan kimia. Karakteristik fisik yang
penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk
density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan
permukaan), dan mengering tidak balik (irriversible drying). Sedangkan
karakteristik kimianya lahan gambut di Indonesia sangat ditentukan oleh
kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada substratum (di dasar gambut),
dan tinglahan kat dekomposisi gambut.

4. Penyebaran tanah gambut biasanya terdapat pada lahan yang lembab dan basah
atau jenuh air, seperti halnya cekungan, lembah maupun rawa- rawa.

5. Pemanfaat tanah gambut ini ternyata bisa untuk sebagai sumber energi atau bahan
bakar.
6. Kerusakan lahan gambut tertinggi berada di wilayah Asia Tenggara. Perusakan
lahan gambut diawali dengan penebangan semua pohon yang tumbuh di lahan
tersebut.

3.2 Saran
Sebaiknya lahan gambut lebih dijaga dengan baik agar lahan gambut dapat
dimanfaatkan. Jangan melakukan penebangan hutan secara liar dan lahan gambut
dikeringkan untuk menjadi media saluran air bagi pertanian. Sehingga tanah
gambut tersebut menjadi kering dan tidak akan dapat menyimpan air secara
maksimal lagi dan rentan mengalami kebakaran terlebih saat musim kemarau
datang.
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, J. (2012, 02 23). Karakteristik Tanah Gambut. Retrieved from wordpress.com:


https://mukegile08.wordpress.com/2012/02/23/karakteristik-tanah-gambut/
Ditra, R. (2013, 03 20). Makalah Lahan Gambut. Retrieved from www.scribd.com:
https://www.scribd.com/doc/131459327/Makalah-Lahan-Gambut
Fatma, D. (2017, 09 02). Tanah Gambut. Retrieved from ilmugeografi.com:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/tanah-gambut
Sari, M. (2015, 12 12). Ciri-ciri Tanah Gambut. Retrieved from ilmugeografi.com:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/ciri-ciri-tanah-gambut