Anda di halaman 1dari 7

No.

Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 2 dari 8

ACARA XVI

PENGARUH ZAT PENGHAMBAT DALAM BUAH TOMAT DAN JERUK TERHADAP


PERKECAMBAHAN BIJI PADI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan,
khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula
berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang
menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Proses perkecambahan diawali
dengan penyerapan air (imbibisi). Masuknya air selain berfungsi melarutkan cadangan
makanan yang terdapat pada bagian keping lembaga, juga menginduksi enzim
hidrolitik. Dimulainya proses perkecambahan ditentukan oleh kemampuan untuk
melakukan metabolisme. Kemampuan metabolisme pada tumbuhan dipengaruhi
enzim metabolik (Reece, et al., 2014).

Aktivitas perkecambahan pada biji dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Faktor-faktor tersebut dapat mendukung perkecambahan misalnya air dan suhu yang
optimal atau justru dapat menghambat perkecambahan atau memicu dormansi biji
seperti kulit biji yang keras dan adanya zat penghambat. Faktor internal yang dapat
menghambat perkecambahan adalah asam absisat.

Asam absitat atau biasa disebut ABA merupakan hormon yang dapat
menstimulasi biji untuk melakukan fase dormansi. ABA dihasilkan secara alami pada
tumbuhan dan dapat ditemukan pada daging buah. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengamatan untuk mengetahui pengaruh zat penghambat dalam daging buah pada
proses perkecambahan biji. Setiap tumbuhan tentunya memiliki kadar ABA yang
berbeda pada tiap daging buahnya. Sehingga pada percobaan ini digunakan dua buah
yaitu buah tomat dan buah jeruk.
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 3 dari 8

B. Permasalahan
Dari uraian latar belakang tersebut dapat ditarik permasalahan bagaimana pengaruh
zat penghambat yang terdapat pada daging buah tomat dan jeruk terhadap
perkecambahan biji padi?

C. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk pengaruh zat penghambat yang terdapat pada daging
buah tomat dan jeruk terhadap perkecambahan biji padi?

II. TINJAUAN PUSTAKA


Perkecambahan biji dimulai dari proses penyerapan air oleh biji diikuti dengan
melunaknya kulit biji serta terjadinya hidrasi sitoplasma dan peningkatan suplai oksigen
sehingga menyebabkan peningkatan respirasi dalam biji. Proses perkecambahan dapat
terjadi jika kulit biji permeabel terhadap air dan tersedia cukup air dengan tekanan osmosis
tertentu (Rodríguez-Gacio et al. 2009).

Untuk berkecambah, biji harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang menunjang


terjadinya proses perkecambahan. Beberapa syarat tersebut antara lain cadangan makanan
berupa kotiledon untuk mendukung proses metabolismenya sebelum melakukan
perkecambahan dan pertumbuhan. Ketersediaan air cukup juga diperlukan untuk proses
imbibisi biji yang merangsang perkecambahan. Proses imbibisi ini menyebabkan biji
menjadi lunak dan berkembang serta mengaktifkan enzim-enzim hidrolitik untuk
menguraikan cadangan makanan dan meningkatkan respirasi. Enzim ini merupakan syarat
penting untuk perkecambahan biji karena berfungsi mengubah cadangan makanan menjadi
produk yang dapat digunakan tanaman baru untuk tumbuh dan berkecambah. Biji
memerlukan kondisi yang berbeda-beda untuk berkecambah, ada yang perlu kondisi
kering, dingin, bahkan panas atau terbakar. Namun secara umum, perkecambahan biji
memerlukan air, udara, serta keadaan yang hangat atau lembab (Dawes, 2013).

Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka biji akan mengalami masa dorman.
Dormansi didefinisikan sebagai keadaan dari biji dimana tidak dan mengizinkan
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 4 dari 8

permintaan akan perkecambahan sering agak berbeda dari yang keadaan yang
menguntungkan untuk tumbuh atau bertahan hidup dari tingkat kehidupan autotropik dari
tanaman (Lambers, 2008). Lamanya dormansi dan rendahnya daya berkecambah pada
benih dikarenakan hal-hal seperti tingginya proporsi benih hampa, adanya penyakit
terbawa benih, serta adanya inhibitor pada benih (Rusmin, 2011). Inhibitor ini dapat berupa
efek antagonis dari dua fitohormon berbeda, asam absisat (ABA) dan giberelin (GA).
Pensinyalan ABA umumnya terlibat dalam meningkatkan sintesis protein penyimpanan
benih dan lipid, dan mempromosikan desikasi benih dan dormansi. GA adalah fitohormon
esensial yang mengontrol banyak aspek perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan
biji, ekspansi daun, pemanjangan batang, pembungaan dan pengembangan benih.
Dormansi benih dimulai sebagian besar tergantung pada keseimbangan dua hormon ini
(Nakashima et al. 2013).

III. METODE
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk praktikum ini antara lain: cawan petri, alat peras, dan
saringan. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain; biji padi, buah tomat dan buah
jeruk.

B. Cara Kerja
Buah tomat dan jeruk dicuci sampai bersih, kemudian diperas dan cairan yang diperoleh
disaring

Biji dibuat menjadi 5 kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 100 biji padi

Biji pada dicuci dengan akuades dan dimasukkan dalam cawan petri
Dua kelompok dikecambahkan dalam cairan buah tomat, dua kelompok dalam cairan
buah jeruk, dan satu kelompok dalam akuades sebagai kontrol

Setiap hari cairan buah diganti dengan yang baru
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 5 dari 8


Sebelum dimasukkan dalam cairan buah yang baru, biji dicuci terlebih dahulu dengan
akuades sampai bersih

Diamati kapan biji mulai berkecambah, berapa jumlah biji yang berkecambah, dan
ditentukan persentase biji yang berkecambah

Setelah perkecambahan biji pada kontrol mencapai 70%, biji yang dikecambahkan dalam
cairan buah dicuci dan dikecambahkan dalam akuades

Pengamatan dilanjutkan sampai persentase biji berkecambah pada kontrol mencapai
100%

Hambatan perkecambahan biji oleh cairan buah jeruk dan tomat dibandingkan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Hasil yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan sebagai berikut,

Kontrol Jus Jeruk 1 Jus Jeruk 2


Jus Tomat 1 Jus Tomat 2

25
JUMLAH BIJI BERKECAMBAH

20
20
15
15

10

5 3

0 0 0 0 0
1 2 3 4
HARI KE-

Gambar 1. Jumlah biji yang berkecambah pada perlakuan kontrol, jus tomat 1, jus
tomat 2, jus jeruk 1 dan jus jeruk 2
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 6 dari 8

B. Pembahasan
Percobaan ini menggunakan biji padi karena biji padi mudah didapat dan mudah
berkecambah. Kemudian digunakan jus tomat dan jeruk untuk merendam biji padi
tersebut. Jus tomat digunakan karena pada buah tomat terdapat asam fenolik dan asam
absisat (ABA). Kandungan asam absisat inilah yang dapat mencegah biji untuk
berkecambah. Sedangkan pada buah jeruk terdapat asam nitrat dan asam askorbat.

Penghambatan ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh, pada biji padi yang
direndam jus tomat dan jus jeruk sama sekali tidak mengalami perkecambahan.
Sedangkan pada biji padi kontrol atau direndam pada akuades dapat tumbuh 100%.
Karena sama sekali tidak ada biji yang berkecambah, maka dapat dikatakan zat
penghambat pada buah tomat dan jeruk dapat menghambat pertumbuhan biji 100%.

Asam pada kedua jus ini akan membuat biji padi menjadi inpermeabel terhadap air
sehingga biji tidak bisa melakukan imbibisi. Saat biji tidak bisa melakukan imbibisi
maka biji akan terhambat untuk berkecambah dan dormansi. Sehingga zat penghambat
membuat biji menjadi in-aktif. Zat penghambat yang paling efektif adalah zat
penghambat pada buah jeruk, yaitu asam askorbat, karena dapat menghambat proses
sintesis asam nukleat (DNA dan RNA).

V. KESIMPULAN
Zat penghambat perkecambahan pada buah tomat yaitu asam absisat dan pada
buah jeruk asam sitrat dan asam askorbat dapat menghambat proses perkecambahan
sampai 100%.
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 7 dari 8

VI. DAFTAR PUSTAKA


Dawes, L. 2013. Talking Points : Discussion Activities in the Primary Classroom. New
York: Routledge; pp. 25

Lambers, H., F.S. Chapin and T.L. Pons. 2008. Plant Physiological Ecology. New York:
Library of Congress; pp. 375

Nakashima, K., K. Yamaguchi-Shinozaki. 2013. ABA signaling in stress-response and


seed development. Plant Cell Reports, vol 32; pp. 959–970

Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L. 1., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., Jackson, R.,
& Campbell, N. A. 2014. Campbell biology (Tenth edition.). Boston: Pearson. pp. 334-
395

Rusmin, Devi et al, 2011. Pengaruh Pemberian GA3 pada Berbagai Konsentrasi dan lama
Imbibisi terhadap Peningkatan Viabilitas Benih Purwoeng. Littri, vol.17, No.3; pp. 89-
94.

Rodríguez-Gacio, M.C., M.A Matilla-Vázquez, A.J. Matilla. 2009. Seed dormancy and
ABA signaling the breakthrough goes on. Plant Signaling & Behavior, 4, 1035–1048.
No. Dokumen FO-UGM-BI-07-13
BORANG
Berlaku Sejak 03 Maret 2008
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Revisi 00
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN Halaman 8 dari 8

Lampiran

(a) (b)

(c) (d)

(e)

Gambar 2. Biji pada pada perlakuan (a) kontrol, (b) jus jeruk 1, (c) jus jeruk 2, (d) jus tomat 1, dan
(e) jus tomat 2