Anda di halaman 1dari 33

Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

PETUNJUK TEKNIS
INVESTIGASI KONTAK TB DAN
PENGOBATAN PENCEGAHAN TB DENGAN INH
PADA ANAK

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT

2016
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Wiendra Waworuntu. M Kes (direktur PPPML, ditjen PP dan P)

Editor
dr. Asik, MPPM (Kasubdit TB)
dr. Yullita Evarini Y, MARS (kasie TB sensitif obat, Ditjen PP dan P)
dr. Endang Budi Hastuti ( kasie TB Resisten Obat, Ditjen PP dan P)

Penyusun
dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, SpA(K) (UKK Respirologi, IDAI)
Dr. Arifin Nawas, SpP (K) (PB PDPI)
dr . Darmawan B Setyanto , SpA(K) (UKK Respirologi, IDAI)
dr. Nastiti Kaswandani, SpA(K) (UKK Respirologi, IDAI)
dr Rina Triasih, SpA(K) (UKK Respirologi, IDAI)
dr. Wahyuni Indawati, SpA (K) (UKK Respirologi, IDAI)
dr. Finny Fitry Yani, SpA(K) (UKK Respirologi, IDAI)
dr. M Syarofil Anam, Msi, Med, SpA (UKK Respirologi, IDAI)
dr. Sri Sudarwati SpA (UKK Respirologi, IDAI)
dr. Tjatur KS, SpA (UKK resporologi IDAI)
dr. Neni Sawitri, Sp. P. (PDPI)
dr. Amelia Vanda Siagian ( PP dan P)
dr. Novayanti, R Tangirerung (PP dan P)
dr. Eka Sulistyani (PP dan P)
dr. Retno Kusuma Dewi (PP dan P)
dr. Endang Lukitosari, MPH (PP dan P)
Sulistyo, SKM, M.Kes(PP dan P)
dr. Zulrasdi (PB IDI)
Sophia Talena Patty, SKM (PP dan P)
Rena Titis Nur KusumaWardani, SKM (PP dan P)
Dr. Maria Regina Loprang (WHO)
Dr. Firza Asneli Putri (KNCV)
Dr. Benyamin Sihombing (WHO)
Annyk Sugiarto, SKM, M. Kes. (Wasor TB Jabar)
Nur Ainy Madjid (IBI)
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR )))....................................................................................................... i


TIM PENYUSUN )).. ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN ).) ............................................................................................... 1
A. Latar Belakang ))))).. ............................................................................................1
B. Tujuan )))))) ....................................................................................................... 2
C. Sasaran )).))).......................................................................................................... 2
D. Ruang Lingkup ..................................................................................................................2
E. Landasan Hukum )))))........................................................................................ 2
F. Pengertian )))...................................................................................................... 3
BAB II. INVESTIGASI KONTAK ))))))))))))............................................. 4
A. Tujuan ))))))))))......................................................................................... 4
B. Sasaran ))))))))))))))))))........................................................... 4
C. Tugas dan Fungsi ))))))))................................................................................. 5
D. Pengertian Infeksi dan Sakit TB ))))))))))))))))))))))) 7
E. Langkah-Langkah Pelaksanaan Investigasi Kontak ))))))))))))...... 8
F. Investigasi Kontak pada Kontak anak pada pasien TB MDR )))))))))) 12
BAB III. PENGOBATAN PENCEGAHAN TB DENGAN INH ))))))))))))) 17
A. Prinsip )))))))))))))))))))))))..................................... 17
B. Tujuan ))))))))))))))))).............................................................. 17
C. Pelaksanaan ))))))))))... .......................................................................... 17
D. Pemberian PP INH pada Anak Kontak Pasien TB RO )))))))))))).. 20
BAB IV. SURVEILANS ))))........................................................................................... 21
A. Pencatatan ..................................................................................................................... 21
B. Pelaporan ...................................................................................................................... 21
C. Indikator )................................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 27
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

DAFTAR SINGKATAN
BTA Basil Tahan Asam

DPM Dokter Praktik Mandiri

ESO Efek Samping Obat

Fasyankes Fasilitas Pelayanan Kesehatan

HIV Human Immunodeficiency Virus

IK Investigasi Kontak

ILTB Infeksi Laten Tuberkulosis

INH Isoniazid

ISTC International Standards for Tuberculosis Care

Mtb Mycobacterium tuberculosis

MTPTRO Manajemen Terpadu Program Tuberkulosis Resistan Obat

OAT Obat Anti Tuberkulosis

PMO Pengawas Menelan Obat

PP INH Pengobatan Pencegahan dengan Isoniazid (INH)

TB Tuberkulosis

TB RO TB Resistan Obat

WHO World Health Organization


Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman


Mycobacterium tuberculosis (Mtb). Tuberkulosis ditularkan melalui udara dari pasien TB
yang infeksius ke orang-orang yang kontak dengannya. Satu pasien TB paru BTA (+)
yang tidak mendapatkan terapi yang adekuat dapat menginfeksi sekitar 10 orang per
tahun dalam kurun waktu 2 tahun (1). Sebagian kecil (3.5-10%) orang-orang yang
kontak akan sakit TB dan sekitar sepertiganya akan terinfeksi tetapi tidak sakit TB (2, 3).
Kelompok yang berisiko tinggi untuk terinfeksi adalah orang yang kontak erat dengan
pasien TB tersebut, terutama kelompok anak dan orang dengan gangguan sistem
kekebalan tubuh (misal gizi buruk, infeksi HIV).Di antara orang-orang yang terinfeksi ini,
5-10% akan berkembang menjadi sakit TB dalam perjalanan hidupnya.

Indonesia diperkirakan 460.000 kasus TB baru (185 per 100.000 penduduk) dengan
67.000 kematian (27 per 100.000 penduduk). Akan tetapi Angka Penemuan Kasus yang
ternotifikasi adalah 322.882 kasus TB baru(4). Diantaranya terdapat 26.054 kasus TB
anak ternotifikasi (8%), namun angka ini bisa jadi lebih rendah atau lebih tinggi dari
sebenarnya. Proporsi TB anak di antara semua kasus TB yang ternotifikasi menurun
dari 11% pada tahun 2010 menjadi 6,6% di tahun 2014.

Salah satu kegiatan yang penting untuk mendukung keberhasilan program


penanggulangan TB adalah investigasi kontak. Investigasi kontak (IK), dulu lebih dikenal
sebagai contact tracing, merupakan kegiatan pelacakan dan pemeriksaan yang
ditujukan pada orang-orang yang kontak dengan pasien TB untuk menentukan ada
tidaknya infeksi atau sakit TB dan untuk memberikan terapi yang sesuai pada orang-
orang yang kontak tersebut (5). mempunyai 2 fungsi yaitu meningkatkan penemuan
kasus dan mencegah TB. Mengingat bahwa anak sakit TB menunjukkan adanya
transmisi saat ini, maka IK di Indonesia dikembangkan dengan juga mencari sumber
penularan pada anak yang sakit TB.

WHO telah merekomendasikan IK sebagai bagian dari program penanggulangan TB,


yang juga dituangkan dalam International Standard for Tuberculosis Care (ISTC). Salah
satu Starategi Nasional tahun 2016 – 2019 adalah menemukan kasus lebih banyak
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

(semua kasus, termasuk TB/HIV, MDR-TB dan TB Anak) dan menemukan mereka lebih
dini utk memutus penularan dan mengurangi angka kematian. Investigasi Kontak dan
Pengobatan Pencegahan TB dengan Isoniazid (PP INH) merupakan salah satu kegiatan
yang diprioritaskan untuk meningkatkan temuan kasus TB lebih dini dan menurunkan
penularan TB.

B. Tujuan
Buku ini digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan IK dan PP INH pada anak.

C. Sasaran
Sasaran buku ini yaitu:
1. Petugas kesehatan di Fasilitas Kesehatan
2. Pengelola program TB di Pusat, Provinsi, Kab/kota

D. Ruang lingkup
Ruang lingkup buku ini adalah:
1. Investigasi kontak
2. Pengobatan Pencegahan TB dengan INH
3. Surveilans

E. Landasan Hukum
1. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 20, tambahan Lembar Negara Nomor 3273);
2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5063);
3. Undang-undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 565/Menkes/Per/III/2011
tentang Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis Tahun 2014.
5. Permenkes Nomor 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular;
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 364/Menkes/SK/V/2009 tentang Pedoman
Pengendalian Tuberkulosis (TB);
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 364/Menkes/SK/V/2009
tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis.

F. Pengertian
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

1. Kasus indeks adalah semua pasien TB yang merupakan kasus pertama yang
ditemukan di suatu rumah atau tempat-tempat lain (kantor, sekolah, tempat penitipan
anak, lapas/rutan, panti, dsb).
2. Kontak adalah orang yang terpajan/berkontak dengan kasus indeks, misalnya orang
serumah, sekamar, satu asrama, satu tempat kerja, satu kelas, atau satu
penitipan/pengasuhan.
3. Kontak serumah adalah orang yang tinggal serumah minimal satu malam, atau
sering tinggal serumah pada siang hari dengan kasus indeks dalam 3 bulan terakhir
sebelum kasus indeks mulai mendapat obat anti tuberkulosis (OAT).
Catatan:
Definisi “kontak serumah” pada beberapa buku pedoman dan penelitian sebelumnya
sangat bervariasi. Derajat paparan dalam kontak serumah pun bervariasi, mulai dari
tidur sekasur, tidur sekamar, tidur serumah sampai tinggal sekampung dengan
kasus indeks. Ada juga yang mendefinisikan berdasarkan makan bersama atau
tidak, lamanya kontak dan jarak kedekatan antara kasus indeks dan kontak (6, 7).
Pada buku ini dipakai batasan lama kontak minimal selama 3 bulan yang dihitung
dari waktu kasus indeks mulai minum OAT, bukan waktu mulai timbulnya gejala,
karena data mulai minum OAT lebih obyektif. Namun demikian, waktu 3 bulan ini
adalah petunjuk umum, tidak kaku. Lamanya masa infeksi yang sesungguhnya bisa
lebih atau kurang dari 3 bulan tersebut.

4. Kontak erat adalah orang yang tidak tinggal serumah, tetapi sering bertemu dengan
kasus indeks dalam waktu yang cukup lama, yang intensitas pajanan/berkontaknya
hampir sama dengan kontak serumah. Misalnya orang yang berada pada
ruangan/lingkungan yang sama (misalnya tempat kerja, ruang pertemuan, fasilitas
umum, rumah sakit, sekolah, tempat penitipan anak) dalam waktu yang cukup lama
dengan kasus indeks, dalam 3 bulan terakhir sebelum kasus indeks minum OAT.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

BAB II
INVESTIGASI KONTAK
A. Tujuan
Tujuan IK sebagai berikut:
1. Menemukan kasus TB.Hal ini karena IK ditujukan pada kelompok yang kontak erat
dengan pasien TB yang merupakan individu-individu yang berisiko tinggi untuk
terinfeksi atau sakit TB. Kemungkinan mendapatkan kasus baru TB pada IK lebih
tinggi dibandingkan dengan melakukan penapisan pada populasi umum.
2. Memberikan pengobatan pencegahan pada kontak yang terindikasi. Investigasi
kontak dapat menemukan orang-orang yang terpajan atau terinfeksi TB, sehingga
dapat dilakukan tindakan atau diberi obat pencegahan supaya tidak berkembang
menjadi sakit TB.

B. Sasaran
Investigasi Kontak (IK) seharusnya dilakukan pada semua orang yang berkontak
dengan pasien TB. Anak menjadi sasaran prioritas IK karena alasan sebagai berikut:
1. Apabila kontak erat dengan penderita TB paru yang infeksius, anak lebih berisiko
untuk terinfeksi; dan setelah terinfeksi, anak berisiko tinggi untuk menjadi sakit TB.
2. Jika sakit TB, anak berisiko lebih tinggi untuk menderita TB berat seperti meningitis
TB dan TB milier dengan risiko kematian yang tinggi (8). Anak balita yang tinggal
serumah dengan penderita TB paru dewasa lebih banyak menghabiskan waktunya
di dalam rumah sehingga lebih lama kontak dengan kasus indeks dibandingkan
dengan kelompok umur yang lebih tua yang mempunyai aktivitas di luar rumah
lebih banyak (9). Risiko ini akan semakin meningkat jika kasus indeks adalah ibu
atau orang yang mengasuh anak tersebut.
3. Jika tidak diobati dengan benar, anak-anak dengan infeksi laten TB yang
teridentifikasi melalui IK dapat berkembang menjadi kasus TB di masa dewasanya,
yang merupakan sumber penularan baru di masa mendatang.
Di Indonesia, umumnya fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai sumber daya
terbatas dan tidak memungkinkan IK pada semua kontak, maka prioritas IK pada anak
(0-14 tahun) ditujukan pada kelompok berikut:
1. Kontak dari kasus indeks TB yang infeksius (TB terkonfirmasi bakteriologis)
2. Kontak dari kasus indeks TB resistan obat
3. Kontak dari kasus indeks TB yang terinfeksi HIV
4. Kontak yang terinfeksi HIV
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

C. Tugas dan Fungsi:


Tugas pokok dan fungsi menjadi dasar pengembangan kompetensi sumber daya
petugas terkait pelaksanaan IK dan PP INH. Secara umum tugas dan fungsi terbagi
pada setiap tingkatan seperti dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1. Tugas dan Fungsi Pelaksana IK
Pusat
1. Menyusun kebijakan, petunjuk, dan perencanaan terkait penerapan investigasi
kontak dan PP INH pada anak
2. Merencanakan dan memastikan ketersediaan logistik, sumber daya dan dana
3. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan
Provinsi
1. Menyusun rencana kerja
2. Merencanakan dan memastikan ketersediaan logistik, sumber daya dan dana
3. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan
4. Melakukankoordinasi lintas program dan lintas sektor terkait kegiatan IK dan PP INH
Kabupaten/Kota
1. Menyusun rencana kerja
2. Merencanakan dan memastikan ketersediaan logistik, sumber daya dan dana
3. Melakukankoordinasi lintas program dan lintas sektor
4. terkait kegiatan IK dan PP INH
5. Menindak lanjuti pasien yang mangkir
6. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Dokter • Melakukan penilaian klinis
• Melakukan/merujuk untuk pemeriksaan penunjang
• Menegakkan diagnosis dan menentukan tindak lanjut pada
pasien
• Memantau pengobatan pasien, termasuk identifikasi dan
tatalaksana efek samping obat
• Melaksanakan pencatatan dan pelaporan IK dan PP INH
Perawat/petugas • Melakukan identifikasi kontak dan menentukan prioritas kegiatan
• Memberikan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya
penapisan pada kontak dan pemberian PP INH
• Memastikan kontak anak datang ke fasyankes dan menjalani
investigasi kontak
• Merencanakan kunjungan rumah dengan berjejaring dengan
perawat komunitas atau kader kesehatan terlatih
• Melaksanakan pencatatan dan pelaporan IK dan PP INH
• Melacak pasien yang putus berobat selama pemberian PP INH
Kader • Menyuluhmasyarakat mengenai pentingnya penapisan pada
kesehatan kontak dan pemberian PP INH
• Membantu tenaga kesehatan untuk kunjungan kerumah kontak
yang telah teridentifikasi
• Membantu melacak pasien yang putus berobat selama
pemberian PP INH pada anak
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Kegiatan investigasi kontak TB dilakukan mulai dari Puskesmas dan selanjutnya


ditegakkan diagnosisnya di fasyankes yang mempunyai layanan diagnosis dan
dilakukan pengobatan lebih lanjut sesuai hasil diagnosisnya.
Investigasi kontak TB RO dilakukan pada fasyankes yang memberikan pengobatan TB
RO. Tidak semua Puskesmas dan Rumah sakit memberikan pengobatan TB RO.
Pengobatan TB RO diberikan di fasyankes yang telah ditunjuk dan ditetapkan oleh
Dinas Kesehatan Provinsi setempat.
Kegiatan investigasi kontak TB dan TB RO dilakukan sesuai dengan kemampuan dari
setiap fasyankes. Kegiatan yang dilakukan antara lain seperti dalam tabel 2.

Tabel 2. Kegiatan IK di Fasyankes


DPM,
RS TB
Kegiatan Puskesmas Klinik RS
RO
swasta
Melakukan Investigasi kontak pada
 + + +
pasien indeks
Anamnesis dan pemeriksaan fisik + + + +
Pemeriksaan dahak mikroskopis + -/+ + +
Pemeriksaan foto Rontgen dada -/+ - + +
Induksi sputum - - -/+ +
Tuberkulin test + +
Pemeriksaan tes cepat (Xpert
MTB/RIF), biakan, dan uji kepekaan - - - -/+
lini-1 dan lini-2
Tatalaksana Pengobatan TB + + + +
Melanjutkan
Tatalaksana Pengobatan TB RO pengobatan dr - -/+ +
RS Rujukan
PP INH + - + +
ESO
ESO
ESO sedang
Tata laksana ESO OAT ESO ringan sedang
ringan dan
dan berat
berat
Pelacakan kasus mangkir + - + +
Pencatatan + + +
Pelaporan + + +
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

D. Pengertian Infeksi dan Sakit TB


Petugas yang akan melakukan IK perlu memahami terlebih dahulu tentang infeksi dan
sakit TB. Hal ini penting untuk menyimpulkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan,
sehingga tindakan atau terapi yang akan diberikan pun benar. Prinsip pertama yang
perlu dipahami adalah “Orang yang kontak dengan penderita TB paru yang infeksius
berisiko untuk terinfeksi, tetapi tidak semuanya akan sakit TB”.

Ada 3 kemungkinan yang terjadi pada orang yang kontak erat dengan pasien TB yang
infeksius, sesuai dengan perjalanan ilmiah penyakit TB :
1. Terpajan (tidak ada bukti infeksi ataupun sakit TB)
Kelompok ini merupakan orang-orang yang berkontak dengan pasien TB dan
mempunyai sistem imun yang baik. Meskipun terpajan kuman Mycobacterium
tuberculosis, sistem imun tubuh dapat mengeliminasi seluruh kuman TB, sehingga
tidak menimbulkan infeksi di dalam tubuhnya.Secara klinis, orang-orang yang
termasuk dalam kelompok ini tidak mempunyai gejala TB, uji tuberkulin negatif dan
foto Rontgen dada tidak menunjukkan gambaran yang sesuai dengan TB.

2. Terinfeksi tetapi tidak sakit TB (Infeksi Laten TB/ILTB)


Infeksi TB terjadi jika orang yang berkontak dengan pasien TB menghirup kuman TB
(Mtb) dan kuman tersebut masuk ke paru. Sistem imun tubuh orang yang terinfeksi
tidak mampu mengeliminasi kuman Mtb dari tubuh secara sempurna tetapi mampu
mengendalikan kuman TB sehingga tidak timbul gejala sakit TB (10). Secara klinis,
seseorang dikatakan terinfeksi laten TB apabila uji tuberkulin positif, tidak ada gejala
TB, foto Rontgen dada normal.

3. Sakit TB
Orang yang terinfeksi TB dapat berlanjut menjadi sakit TB bila sistem imunnya
kurang baik dan tidak mampu mengendalikan kuman Mycobacterium tuberculosis
secara adekuat. Kelompok yang berisiko adalah anak dan orang yang berdaya
tahan tubuh lemah, misalnya pasien infeksi HIV, diabetes mellitus, keganasan,
penggunaan kortikosteroid jangka panjang.Secara klinis, orang yang sakit TB
menunjukkan adanya gejala TB, foto Rontgen dada bisa normal atau sesuai dengan
gambaran sakit TB, uji tuberkulin biasanya positif dan BTA sputum bisa positif,
tergantung lokasi dan keparahan sakit TB.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Kontak dengan pasien TB

Terpajan Terinfeksi Sakit TB


(Infeksi Laten)
Gejala (-) Gejala (-)
Uji Tuberkulin (-) Gejala (-) Uji Tuberkulin (+)
Rontgen (-) Uji Tuberkulin (+) Rontgen (+/-)
BTA/Kultur/Tes Rontgen (-) BTA/Kultur/Tes
Cepat TB (-) BTA/Kultur/Tes Cepat TB (+/-)
Cepat TB (-)

Gambar 1. Konsep infeksi dan sakit TB

Untuk memahami pengertian infeksi dan sakit TB, perhatikan contoh kasus berikut:
Ibu Susi adalah pasien TB paru BTA (+) mempunyai 3 orang anak: Eka (9 tahun), Dwi (6
tahun) dan Tri (3 tahun). Pada pemeriksaan didapatkan data sebagai berikut:
Eka: selama ini tidak pernah sakit, nafsu makan baik, gizi baik. Hasil uji tuberkulin positif,
foto Rontgen dada normal.
Dwi: berat badan sulit naik dalam 3 bulan terakhir, gizi kurang, uji tuberkulin positif,
terdapat gambaran pembesaran kelenjar hilus pada foto Rontgen dada. Pemeriksaan
sputum BTA tidak dilakukan karena Dwi tidak dapat mengeluarkan dahak.
Tri: tidak ada keluhan, uji tuberkulin negatif, foto Rontgen dada normal.

Kesimpulan hasil pemeriksaan:


Eka: infeksi laten TB
Dwi: sakit TB
Tri: terpajan, tidak ada bukti infeksi ataupun sakit TB

E. Langkah-langkah pelaksanaan
Pada prinsipnya langkah kegiatan IK pada anak meliputi:
1. identifikasi kontak,
2. pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya infeksi laten TB (ILTB) atau sakit TB.
3. pengobatan atau pencegahan yang sesuai.
4. monitoring dan evaluasi
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Cara melaksanakan langkah-langkah IK pada pasien TB dewasa, sebagai berikut:


1. Identifikasi kontak
Identifikasi kontak dilakukan pada saat kasus indeks memulai pengobatan.
a. Tanya dan catat informasi berikut pada TB.01 kasus indeks:
1) Apakah ada kontak serumah ataupun kontak erat?
2) Nama, jenis kelamin dan usia kontak
3) Pekerjaan kasus indeks yang berhubungan dengan anak-anak, misalnya
guru (baik guru di sekolah, guru mengaji maupun guru les di rumah),
pengasuh di tempat penitipan anak, atau perawat di bangsal anak.
b. Jika ada anak kontak, pasien diminta membawa anak tersebut ke fasyankes.
Jika kontak tidak dibawa ke fasyankes, maka petugas/kader kesehatan dapat
mendatangi kontak tersebut.

2. Pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya infeksi laten TB (ILTB) atau sakit
TB
Pendekatan IK pada anak dilakukan dengan penapisan berdasarkan gejala. Dengan
pendekatan ini hanya anak yang bergejala TB yang perlu dilakukan pemeriksaan
tambahan, yaitu uji tuberkulin, foto Rontgen dada dan BTA sputum. Balita yang tidak
bergejala TB bisa langsung diberikan Pengobatan Pencegahan INH (PP INH). Anak
yang tidak bergejala dan berumur lebih dari 5 tahun tetapi ada bukti infeksi HIV,
juga diberikan PP INH selama 6 bulan. Akan tetapi bila anak tersebut tidak ada bukti
infeksi HIV atau tidak diketahui status HIV karena tidak tersedia pemeriksaan, maka
tidak perlu diberikan PP INH, cukup diobservasi. Jika dalam observasi timbul gejala
TB, perlu dilakukan pemeriksaan tambahan untuk menentukan apakah anak
tersebut sakit TB atau tidak. Jadi, dengan pendekatan ini tidak semua anak kontak
perlu dilakukan pemeriksaan uji tuberkulin, foto Rontgen dada atau sputum.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Anak berkontak dengan


pasienTB sensitif OAT

Gejala TB:
• Batuk ≥ 2 minggu
• Demam ≥ 2minggu
• BB turun atau tidak naik dalam 3 bulan sebelumnya
• Lesu dan kurang aktif
Gejala tersebut menetap (walau sudah diberi pengobatan
yang adekuat)

Tidak Ada

Umur > 5 thn Umur < 5 thn


dan HIV (-) atau HIV (+)

Tidak perlu PP INH


PP INH

Follow up rutin*

Timbul gejala atau Lihat alur


tanda TB YA diagnosis TB
pada Anak
TIDAK

Observasi Lengkapi
pemberian INH
selama 6 bulan

Gambar 2. Alur Investigasi Kontak


Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Pemeriksaan pada kontak anak sebagai berikut:


a. Tanyakan gejala khas TB sebagai berikut:
 Batuk lebih dari 2 minggu yang tidak membaik dengan pemberian antibiotika
atau tata laksana asma (sesuai indikasi).
 Demam (suhu > 38° C ) selama lebih dari 2 minggu tanpa penyebab yang jelas
 Berat badan turun atau menetap dalam 2 bulan terakhir yang tidak membaik
dengan pemberian nutrisi yang adekuat.
 Lesu dan tidak seaktif biasanya.
b. Jika anak kontak mempunyai minimal satu gejala TB, lakukan pemeriksaan
bakteriologis, foto Rontgen dada dan uji tuberkulin. Jika tidak mempunyai
fasilitas untuk pemeriksaan tersebut, rujuk ke fasyankes yang mempunyai
fasilitas.
1) Jika hasil pemeriksaan mendukung diagnosis TB, berikan OAT.
2) Jika hasil pemeriksaan tidak mendukung diagnosis TB atau tidak dapat
dilakukan rujukan, maka cari kemungkinan penyebab lain dan beri tatalaksana
sesuai (pemberian antibiotika non-kuinolon dan non-aminoglikosida,
tatalaksana asma/alergi, tatalaksana nutrisi) dan lakukan observasi selama 1-
2 bulan. Jika gejala membaik, evaluasi untuk pemberian PP INH. Jika gejala
menetap atau memburuk, dapat diberikan OAT.
Jika dengan pengobatan OAT selama 2 bulan gejala menetap atau memberat,
rujuk ke spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut.
c. Jika anak tidak mempunyai gejala TB:
1) Usia ≤5 tahun, berikan PPINH.
2) Usia >5 tahun dan HIV positif, berikan PP INH.
3) Usia >5 tahun dan HIV negatif, diobservasi.Orang tua diedukasi dan diminta
mengamati ada tidaknya gejala dan tanda sakit TB pada pemantauan
selanjutnya. Perlu juga ditekankan kepada orang tua mengenai pentingnya
membawa anak ke fasyankes untuk pemeriksaan lebih lanjut jika sewaktu-
waktu timbul gejala.

Jika kasus indeks terinfeksi HIV dan merupakan orang tua kandung anak, harus
dilakukan pemeriksaan HIV pada anak tersebut.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Kesimpulan hasil pemeriksaan dapat berupa:


a. Sakit TB
Disebut sakit TB bila memenuhi salah satu kriteria berikut:
• Terkonfirmasi bakteriologis
• Anak dengan minimal 1 gejala khas TB dan hasil foto Rontgen dada sesuai
dengan gambaran TB, tanpa memandang hasil uji tuberkulin
• Anak dengan minimal 1 gejala khas TB yang menetap dalam 1-2 bulan dan
berada di fasyankes yang tidak tersedia pemeriksaan uji tuberkulin, Rontgen
dada dan BTA sputum.
b. Infeksi laten TB: uji tuberkulin positif tanpa bukti sakit TB
c. Terpajan (tidak ada bukti infeksi atau sakit TB)

3. Pemberian pengobatan atau pencegahan TB yang sesuai


• Anak yang terbukti sakit TB harus diobati sesuai standar pengobatan TB anak
(lihat juknis TB anak 2014).
• Anak yang tidak terbukti sakit TB (terpajan atau ILTB), diberikan PPINH atau
diobservasi (lihat petunjuk pemberian PPINH).

Tabel 3. Tatalaksana pada kontak anak

Umur HIV Hasil pemeriksan Tata laksana


Balita (+)/(-) ILTB PPINH
Balita (+)/(-) Terpajan PPINH
> 5 th (+) ILTB PPINH
> 5 th (+) Terpajan PPINH
> 5 th (-) ILTB Observasi
> 5 th (-) Terpajan Observasi

F. Investigasi Kontak pada Kontak Anak Pasien TB RO


Pada indeks kasus TB Resistan Obat (TB RO), prinsip pemeriksaan kontak sama
dengan IK TB pada umumnya.Diagnosis dan pengobatan TB RO di Indonesia sudah
dimulai sejak tahun 2009 dan sampai dengan saat ini hampir setiap provinsi sudah
mempunyai minimal 1 tes cepat Xpert MTB/RIF dan setiap provinsi telah mempunyai
minimal 1 RS Rujukan untuk pengobatan TB RO. Salah satu tantangan terbesar yang
dihadapi adalah pasien TB RO yang menunda untuk memulai pengobatan TB RO. Hal
ini menyebabkan anggota keluarga telah berkontak erat dengan pasien TB RO yang
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

sangat menular selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Oleh karena itu


prevalensi TB RO dalam kontak serumah cenderung lebih tinggi.
Pengobatan dini pasien TB RO lebih efektif dibandingkan dengan TB RO yang terlambat
terdeteksi. Pasien TB RO biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan pasien TB
susceptible obat, yang berarti bahwa kegiatan untuk investigasi kontak pada pasien TB
RO sangat memungkinkan untuk dilakukan.
Pada prinsipnya, tujuan dan langkah-langkah IKpada TB RO sama dengan IK TB pada
umumnya.Perbedaan pada kontak pasien TB RO yaitu:
1. Kasus indeks adalah pasien TB RO
2. Pemeriksaan kontak pada pasien yang bergejala menggunakan tes cepat Xpert
MTB/RIF.
Untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF, induksi sputum adalah salah satu metode untuk
menghasilkan sputum yang telah terbukti aman dan efektif pada anak-anak, cara lain
yaitu kumbah lambung, bronkoskopi, dan aspirat nasofaringeal.
3. Pengobatan TB sesuai hasil pemeriksaan tes cepat Xpert MTB/RIF dan penunjang
lain.
4. Pengobatan pencegahan menggunakan INH dosis tinggi
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Anak yang berkontak dengan Kasus Indeks TB RO

Gejala TB (a)

Satu atau lebih gejala(b) Tidak ada gejala

Pemeriksaan tes cepat Xpert


MTB/RIF

Mtb Resistan Mtb Sensitif Mtb Negatif


Rifampisin Rifampisin
(RR) (SR)

Rontgen dada, uji


Tuberkulin

TB (+)(c) TB (-)

> 5 tahun ≤ 5 tahun HIV

OAT RHZE,
konfirmasi
Tatalaksana OAT lini ulang setelah
TB RO Anak pertama 2 bulan Observasi PP INH dosis tinggi(d)

Gambar 3 Alur investigasi kontak pasien TB RO


Keterangan:
a. Pada anak dengan kontak TB RO tersebut dilakukan anamnesis terhadap gejala khas
TB (well defined symptoms)
b. Jika ada satu atau lebih gejala di atas, maka lakukan pemeriksaan es cepat Xpert
MTB/RIF.
1) Anak dengan hasil es cepat Xpert MTB/RIF Mtb Resistan Rifampisin, mulai
tatalaksana standar TB RO anak.
2) Anak dengan hasil Tes cepat Xpert MTB/RIF Mtb Sensitif Rifampisin, mulai
tatalaksana pengobatan TB dengan 4 macam obat (RHZE)
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

3) Anak dengan hasil Tes cepat Xpert MTB/RIF Mtb negatif, lakukan pemeriksaan X-
Foto Rontgen dada/Uji tuberculin
c. Bila hasil foto Rontgen dada/Uji tuberkulin menunjukkan sugestif TB, mulai tatalaksana
pengobatan TB dengan 4 macam obat (RHZE) dengan pemantauan intensif setiap
bulan.
• Setelah pengobatan 2 bulan, perlu dilakukan konfirmasi ulang dengan tes cepat
Xpert MTB/RIF.
• Jika gejala klinis menetap setelah pengobatan selama 1 bulan, atas pertimbangan
Tim Ahli Klinis (TAK) TB RO dapat dilakukan konfirmasi ulang dengan tes cepat
Xpert MTB/RIF.
• Jika klinis ada perburukan selama masa pengobatan, segera lakukan konfirmasi
diagnosis ulang, pemantauan kepatuhan pengobatan dan adanya penyakit penyerta.
Jika Mtb tetap negatif, teruskan pengobatan dengan RHZE. Jika Mtb positif,
sesuaikan pengobatan dengan hasil resistensi Mtb.

Kelompok ini adalah kontak pasien TB RO yang juga rentan terinfeksi TB RO,
maka meskipun hasil pemeriksaan awal Mtb negatif, karena klinis dan
pemeriksaan penunjang lain mendukung TB maka kemungkinan TB RO masih
ada. Dengan demikian diperlukan upaya khusus untuk mengkonfirmasi
diagnosis dan memantau pengobatan pasien.

d. Anak yang tidak mempunyai gejala TB dan anak dengan hasil pemeriksaan Tes cepat
Xpert MTB/RIF negatif serta pemeriksaan radiologis dan tuberkulin juga dengan hasil
negatif, maka;
1. Jika umur <5 tahun dan atau HIV (+): Berikan PP INH dosis tinggi 20 mg/kgBB
2. Jika umur >5 tahun dan HIV (-) : lakukan evaluasi berkala jika ada gejala minimal
selama 2 tahun
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

G. Investigasi Kontak pada Kasus Indeks TB Anak


Anak yang telah didiagnosis TB umumnya tertular dari orang dewasa dengan TB
infeksius di sekitarnya. Oleh karena itu, di samping memberikan pengobatan yang tepat
pada anak dengan TB, perlu juga dilakukan investigasi terhadap orang dewasa yang
berkontak untuk mengetahui sumber penularan dan memberi tatalaksana sesuai. Anak
lain yang berada di sekitar anak yang sakit TB dapat pula terinfeksi dari sumber
penularan yang sama. Investigasi kontak perlu dilakukan pada semua kontak pasien TB
baik anak maupun dewasa untk memutus rantai penularan.

Pasien TB Anak

Identifikasi Kontak

Orang dewasa Anak lain

Evaluasi sesuai Evaluasi sesuai alur


pedoman nasional IK & PP INH

Gambar 4. Alur IK pada kasus indeks anak


Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

BAB III

PENGOBATAN PENCEGAHAN TB DENGAN ISONIAZID (INH)

A. Prinsip
Pengobatan Pencegahan dengan Isoniazid (PP INH) adalah pengobatan yang diberikan
kepada kontak yang terbukti tidak sakit TB. Sekitar 50-60% anak yang tinggal dengan
pasien TB paru dewasa dengan BTA sputum positif, akan terinfeksi TB dan kira-kira
10% dari jumlah tersebut akan mengalami sakit TB. Infeksi TB pada anak balita dan
anak dengan infeksi HIV berisiko tinggi menjadi TB berat (misalnya TB meningitis atau
TB milier). Oleh karena itu prioritas pemberian PPINH adalah anak balita dan anak
dengan infeksi HIV positif semua usia.

B. Tujuan
Tujuan pemberian PP INHadalah untuk menurunkan beban TB pada anak. Efek
perlindungan PP INH dengan pemberian selama 6 bulan dapat menurunkan risiko TB
pada anak tersebut di masa datang.

C. Pelaksanaan
Keputusan pemberian PPINH untuk anak kontak ditentukan oleh Dokter, sedangkan
pelaksana pemberian PP INH adalahdokter, petugas TB atau petugas DOTS. Obat PP
INH dapat diberikan di semua tingkat layanan, termasuk di praktik swasta.
1. Indikasi
PP INH diberikan kepada anak kontakyang terbukti tidak sakit TB dengan kriteria
berikut :
• Usia kurang dari 5 tahun
• Anak dengan HIV positif
• Anak dengan kondisi imunokompromais lain (misalnya gizi buruk, diabetes
mellitus, keganasan, mendapatkan steroid sistemik jangka panjang).

2. Obat dan Dosis


• Dosis pemberian PP INH adalah 10 mg/kg BB, satu kali sehari (maksimal 300
mg/hari).
• Obat dikonsumsi satu kali sehari, sebaiknya pada waktu yang sama (pagi, siang,
sore atau malam) saat perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah
makan).
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

• Lama pemberian PPINH adalah 6 bulan (1 bulan = 28 hari pengobatan), dengan


catatan bila keadaan klinis anak baik. Bila dalam follow up timbul gejala TB,
lakukan pemeriksaan untuk penegakan diagnosis TB. Jika anak terbukti sakit TB,
PP INH dihentikan dan berikan OAT.
• Obat tetap diberikan sampai 6 bulan, walaupun kasus indeks meninggal atau
BTA kasus indeks sudah menjadi negatif.
• Dosis obat disesuaikan dengan kenaikan BB setiap bulan.
• Pengambilan obat dilakukan pada saat kontrol setiap 1 bulan, dan dapat
disesuaikan dengan jadwal kontrol dari kasus indeks.
• Pada pasien dengan gizi buruk dan infeksi HIV, diberikan Vitamin B6 10 mg
untuk dosis INH ≤200 mg/hari, dan 2x10 mg untuk dosis INH >200 mg/hari
• Yang berperan sebagai pengawas minum obat adalah langsung orang tua atau
anggota keluarga pasien.

Pemantauan dan evaluasi saat kontrol


a. Keteraturan minum obat
Keteraturan minum obat dipantau melalui formulir PP INH 01. Jika terdapat
ketidakteraturan minum obat, harus dicari masalahnya dan didiskusikan
pemecahannya.
b. Efek samping ;
1) Tanyakan apakah ada keluhan terkait efek samping obat seperti mual
muntah, tampak kuning, dan gatal gatal.
2) Periksa apakah ada tanda tanda efek samping seperti ikterik, pembesaran
hepar, ruam di kulit.
3) Bila terdapat gejala efek samping seperti di atas, maka obat sementara
dihentikan dan lakukan tatalaksana efek samping.

Tabel 4. Efek Samping INH dan Penanganan


Efek Samping INH Penanganan
Gatal, kemerahan kulit/ruam Antialergi
Mual, muntah, tidak nafsu makan, INH diminum malam sebelum tidur
Ikterus tanpa penyebab lain Hentikan PP INH sampai ikterus
menghilang
Baal, kesemutan Berikan dosis vitamin B6 sampai
dengan 100mg
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

c. Evaluasi munculnya gejala TB :


1) Tanyakan keluhan terkait gejala TB, misal keadaan umum anak, lesu, nafsu
makan kurang, demam menetap >2 minggu dan atau keringat malam, batuk
menetap >3 minggu, pembengkakan di leher, diare menetap > 2 minggu
2) Pantau Berat Badan (BB) sesuai grafik CDC WHO. Waspadai arah garis
pertumbuhan BB pada grafik (tidak ada kenaikan, ada penurunan, atau naik
tidak sesuai arah garis).
3) Periksa apakah ada pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak dan
inguinal, serta gejala TB di organ lain.
4) Hasil evaluasi bulanan :
a) Bila saat kontrol tidak ada masalah, maka pemberian PP INH dapat
dilanjutkan untuk bulan berikutnya.
b) Jika terdapat gejala TB seperti di atas, maka dilakukan pemeriksaan
untuk menegakkan diagnosis TB. Tata laksana selanjutnya tergantung
dari hasil pemeriksaan tersebut

d. Hasil akhir pemberian PP INH


1) Pengobatan lengkap :
Pasien yang telah menyelesaikan pengobatan pencegahan INH selama 6
bulan
2) Putus berobat
Putus berobat adalah pasien yang tidak minum obat INH selama 1 bulan
secara berturut turut atau lebih
3) Gagal selama pemberian PP INH
Pasien yang dalam pengobatan PP INH menjadi sakit TB
4) Meninggal
Pasien yang meninggal sebelum menyelesaikan PP INH selama 6 bulan
dengan sebab apapun
5) Tidak di Evaluasi
Anak yang tidak diketahui hasil akhir PP INH, termasuk dalam kriteria ini
adalah pasien pindah ke fasyankes lain dimana hasil pengobatan tidak
diinformasikan ke fasyankes pengirim.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

D. Pelaksanaan PP INH pada Anak Kontak Pasien TB RO


Prinsip pengobatan pencegahan TB pada anak kontak pasien TB RO sama dengan
kontak pasien TB sensitif OAT. Perbedaannya pada:
1. Dosis obat yang digunakan yaitu INH dosis tinggi yaitu 20 mg/kgBB dengan dosis
maksimal 500 mg/hari.
2. Pada semua pasien yang mendapat PP INH dosis tinggi, diberikan Vitamin B6 10
mg untuk dosis INH ≤200 mg/hari, dan 2x10 mg untuk dosis INH >200 mg/hari
3. Pemantauan selama pemberian PP INH lebih ketat terhadap efek samping obat. Bila
perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati.
4. Anak kontak pasien TB RO yang mendapatkan PP INH, harus dilakukan evaluasi
klinis setiap bulan selama dua tahun setelah terpajan. Jika berkembang menjadi TB
aktif, maka segera dilakukan pemeriksaan apakah TB RO atau tidak.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

BAB V
SURVEILANS
A. Pencatatan
Berikut adalah formulir dan register yang digunakan untuk pencatatan kegiatan IK di
fasyankes.
1. TB.01kasus indeks
Merupakan kartu pengobatan kasus indeks. Pada TB.01 terdapat tabel yang
digunakan untuk mencatat nama kontak masing-masing kasus indeks. Catatlah
seluruh nama kontak (baik kontak serumah maupun kontak erat). Bila tempat tidak
mencukupi, bisa dicatat di lembar tersendiri yang selanjutnya disimpan jadi satu
dengan TB.01.
2. Form pelacakan kontak anak (TB.15)
Kartu ini digunakan untuk mencatat hasil anamnesis dan pemeriksaan pada kontak.
Selanjutnya kartu ini dijadikan satu dengan TB.01 kasus indeks-nya.
3. Register kontak (TB.16)
Merupakan register seluruh kontak (baik anak maupun dewasa, baik kontak
serumah maupun kontak erat) dari seluruh kasus indeks yang diobati di fasyankes.
Seluruh kontak yang sudah dicatat di TB.01 ditulis di register kontak beserta hasil
pemeriksaannya.
4. Kartu pengobatan pencegahan TB (TB01 PP INH)
Merupakan kartu pengobatan untuk follow up kontak yang terindikasi untuk
pemberian PP INH.

B. Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan yang baik pada IK sangat diperlukan untuk menilai
implementasi dan keberhasilan IK, baik di tingkat fasyankes, kabupaten, propinsi
maupun tingkat nasional. Analisis data IK secara nasional dilakukan sekurangnya
setahun sekali untuk memonitor dan mengevaluasi jalannya kegiatan tersebut.
Pencatatan pada IK pada prinsipnya merekam informasi yang diperlukan untuk
menghitung beberapa hal berikut yang penting untuk mengevaluasi kegiatan IK:
1. Jumlah kasus indeks yang mempunyai kontak (TB.03)
2. Jumlah anak kontak (baik kontak serumah maupun kontak erat) yang diidentifikasi
(TB.01 kasus indeks)
3. Jumlah kontak yang dilakukan investigasi kontak TB (TB.16)
4. Jumlah kontak yang terdiagnosis sakit TB(TB.16)
5. Jumlah kontak yang terdiagnosis ILTB (TB.16)
6. Jumlah kontak yang terindikasi mendapat PP INH (tidak terbukti sakit) (TB.16)
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

7. Jumlah kontak yang mendapatkan PP INH (TB.16)


8. Jumlah anak kontak yang minum PP INH lengkap (selama 6 bulan) (TB.16)
9. Jumlah anak kontak TB yang gagal pengobatan selama pemberian PP INH (TB.16)
10. Jumlah anak kontak TB RO yang gagal pengobatan selama pemberian PP INH
(TB.16)
11. Jumlah seluruh anak kontak TB RO yang mendapatkan PP INH(TB.16)

C. Indikator
Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan IK di fasyankes
ditampilkan pada Tabel dibawah ini

Tabel 5. Indikator Keberhasilan Investigasi Kontak


Indikator Numerator/denominator Sumber Frekuensi
data penghitungan
Cakupan IK Jumlah kontak yang dilakukan IK (No. TB.16 Tiap trimester
3) atau setahun
Jumlah kontak anak yang diidentifikasi TB.16 sekali
(No. 2)
Cakupan Jumlah kasus baru TB yang ditemukan TB.16 Tiap trimester
penemuan pada IK (No.4) atatu setahun
kasus TB dr Jumlah kontak yang dilakukan IK (No.3) TB.16 sekali
IK
Cakupan Jumlahkontak yang mendapat PP INH TB.16 Tiap trimester
kontak (No.7) atau setahun
mendapat PP Jumlah seluruhkontak yang terindikasi TB.16 sekali
INH mendapat PP INH (No.6)
Angka Jumlah seluruh anak mendapat PP INH TB.16 Tiap trimester
keberhasilan lengkap (No.8) atau setahun
PP INH Jumlah anak kontak mendapat PP INH TB.16 sekali
(No.7)
Angka gagal Jumlah anak kontak yang gagal selama TB.16 Tiap trimester
selama pemberian PP INH (No.9) atau setahun
pemberian PP Jumlah kontak yang mendapat PP TB.16 sekali
INH INH(No.7)
Angka gagal Jumlah anak kontak TB RO yang gagal TB.16 Tiap trimester
selama selama pemberian PP INH (No.10) atau setahun
pemberian PP sekali
INH pada Jumlah seluruh anak kontak TB RO TB.16
anak kontak yang mendapatkan PP INH(No.11)
TB RO

.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

REGISTER KONTAK TUBERKULOSIS (FORM TB.16)


UNIT PELAYANAN KESEHATAN : ))))))))))))))))). ` TAHUN: )))))))
KABUPATEN/KOTA : ))))))))))))))))) TRIWULAN: ))))).
Kasus indeks Usia Hasil akhir Tindak lanjut tgl Hasil PP INH
Nama Tidak Observasi Evaluasi mulai
No NIK Alamat
Nama S/R kontak L P Sakit ILTB ada OAT PP timbulnya persisten PP INH Pengobatan Putus Meninggal Gagal
INH lengkap berobat
bukti gejala si gejala
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

PETUNJUK PENGISIAN REGISTER KONTAK TUBERKULOSIS (FORM TB.16)


1. Lembar register ini digunakan untuk mencatat data semua orang (semua umur) yang kontak
serumah maupun kontak erat dengan penderita TB.
2. Bulan Register diisikan sesuai dengan bulan mulai pengobatan penderita TB sebagai
sumber penularannya.
3. Kolom No: diisi nomor urut kontak yang dimulai dari nomor 1 setiap bulannya. Apabila
berganti bulan, ganti dengan lembar register yang baru dan dimulai lagi dari nomor 1.
4. Kolom NIK: diisi Nomor Induk Kependudukan kontak.
5. Kolom Nama kasus indeks: diisi nama penderita TB sebagai kasus indeks.
6. Kolom Alamat: diisi alamat kontak. Bagi yang kontak serumah, alamat sama dengan alamat
kasus indeks.
7. Kolom nama kontak: diisi nama semua orang yang kontak serumah atau kontak erat
dengan penderita TB, baik anak maupun dewasa.
8. Kolom umur dan jenis kelamin: diisi umur kontak dalam satuan tahun. Apabila umur kontak
kurang dari 1 tahun, ditulis dalam bulan dan disertakan satuannya.
Contoh: apabila umur kontak adalah 6 tahun, maka cukup ditulis “6”, tetapi bila umur kontak
adalah 6 bulan, maka ditulis “6 bl”.
9. Kolom Kesimpulan: beri tanda () pada penilaian akhir dari semua pemeriksaan menurut
analisis dokter yang memeriksa:
a. Sakit TB
b. Infeksi laten TB
c. Tidak ada bukti infeksi
10. Kolom Tanggal mulai PP INH diisi tanggal hari pertama pengobatan pencegahan INH
diberikan pada kontak (tanggal/bulan/tahun)
11. Tindak Lanjut: beri tanda () pada tindak lanjut yang dipilih
12. Kolom Hasil Pengobatan: tuliskan tanggal hasil pengobatan diketahui pada kolom hasil
yang sesuai.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

PELACAKAN KONTAK ANAK (FORM TB01 PP INH)

Unit Pelayanan Kesehatan : SSSSSSSSSSSSSS Tahun: SSSSSSS

Kabupaten/Kota: SSSSSSSSSSSSSSSSSSSS Triwulan: SSSSS

Tanggal Wawancara : ___ / ___ / ______ NIK: SSSSSSSSS

1. Identitas kontak b. Rontgen dada : dilakukan / tidak


Nama : ____________________________ Hasil : ________________________________
Tgl lahir : ____________________________ ______________________________________
Jns kelamin : L/ P c. Bakteriologis: dilakukan / tidak
Pemeriksaan Tanggal Hasil
BTA __/__/____
2. Riwayat kontak TB
__/__/____
Kontak serumah: ya/tidak
Kontak erat: ya/tidak __/__/____
Tes cepat
Xpert
3. Gejala khas TB (lingkari yang sesuai) MTB/RIF __/__/____
 Batuk lebih dari 2 minggu yang tidak membaik Biakan
__/__/____
dengan pemberian antibiotika atau tata laksana
asma (sesuai indikasi).
 Demam (suhu > 38° C ) selama lebih dari 2
minggu meskipun telah diberikan antibiotika atau 5. Hasil akhir (lingkari yang sesuai)
anti malaria (sesuai dengan indikasi). a. Sakit TB
 Berat badan turun atau menetap dalam 2 bulan b. ILTB
terakhir yang tidak membaik dengan pemberian c. Tidak ada bukti sakit dan infeksi
nutrisi yang adekuat.
 Lesu dan tidak seaktif biasanya.
 Lain-lain, sebutkan: _____________________
 Tidak ada gejala 7. Faktor risiko (lingkari yang sesuai)
Status HIV: positif/negatif/tidak diperiksa
Jika salah satu gejala ditemukan, lakukan Risiko lain: gizi buruk/DM/keganasan/lain-lain,
pemeriksaan penunjang sebutkan _____________

4. Pemeriksaan penunjang 8. Tindak lanjut


a. Uji tuberkulin : dilakukan / tidak dilakukan a. OAT
Tanggal Tanggal baca Diameter b. PP INH
penyuntikan indurasi (mm) c. Evaluasi persistensi gejala
d. Observasi timbulnya gejala
__/__/____ __/__/____ __________
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak

Daftar Pustaka

1. N AK, DA E. Tuberculosis. A manual for medical students. Paris: World Health Organization
Geneva/International Union Against Tuberculosis and Lung Disease Paris; 2005.
2. Morrison J, Pai M, Hopewell PC. Tuberculosis and latent tuberculosis infection in close
contacts of people with pulmonary tuberculosis in low-income and middle-income countries:
a systematic review and meta-analysis. Lancet Infect Dis. 2008;8(6):359-68.
3. Triasih R, Rutherford M, Lestari T, Utarini A, Robertson CF, Graham SM. Contact
investigation of children exposed to tuberculosis in South East Asia: a systematic review. J
Trop Med. 2012;2012:301808.
4. WHO. Global tuberculosis control: WHO report 2013. Geneva, Switzerland: WHO, 2013.
5. C L. Contac tracing and follow up. In: J G, PR D, M P, M R, J S, WW Y, editors.
Tuberculosis: A Comprehensive Clinical Reference. India: Elsevier; 2009.
6. Andrews RH, Devadatta S, Fox W, Radhakrishna S, Ramakrishnan CV, Velu S. Prevalence
of tuberculosis among close family contacts of tuberculous patients in South India, and
influence of segregation of the patient on early attack rate. Bull WHO. 1960;23:463-510.
7. Lutong L, Bei Z. Association of prevalence of tuberculin reactions with closeness of contact
among household contacts of new smear-positive pulmonary tuberculosis patients. Int J
Tuberc Lung Dis 2000;4(3):275-7.
8. Marais BJ, Gie RP, Schaaf HS, Hesseling AC, Obihara CC, Starke JJ, et al. The natural
history of childhood intra-thoracic tuberculosis: a critical review of literature from the pre-
chemotherapy era. Int J Tuberc Lung Dis 2004;8(4):392-402.
9. Rieder HL. Contacts of tuberculosis patients in high-incidence countries. Int J Tuberc Lung
Dis 2003;7(12 Suppl 3):S333-6.
10. Starke JR, Correa AG. Management of mycobacterial infection and disease in children.
Pediatr Infect Dis. 1995;14(6):455-69.
Petunjuk Teknis IK dan PP INH pada anak