Anda di halaman 1dari 20

PENGGUNAAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA

UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN


STRATEJIK - PRODUK
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH: AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN
DOSEN PENGAMPU: Dra. RUSMA NAILIAH, M.Si, Ak, CA.

OLEH
KELOMPOK 2

M. NAUFAL ATHA MUBARAK C1C115096


AHMAD FAUZI C1C115001
MAYA RAMADHANIYATI C1C115087
NELA WIDIA C1C115035
NOR OKTAVIANI C1C115038
NOER AULIA WATI C1C115036
NOR HASANAH C1C115037
MEGA SELVIA C1C115217
ADE NURMALA SARI C1C115059
M. RIZKY FACHRIZAN C1C114236

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN S1 AKUNTANSI
2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

Dampak dari globalisasi sudah semakin terlihat pada berbagai aspek


kehidupan perusahaan, baik pada negara yang sudah maju maupun pada negara yang
sedang berkembang semakin terasa persaingan yang ketat dan penuh ketidakpastian.
Untuk menghadapi situasi ini perusahaan terus berjuang agar dapat bertahan di dalam
pasar global bahkan harus unggul sebagai pemenang. Dengan adanya iklim kompetitif
yang semakin kuat ini mengharuskan perusahaan mampu bersaing di pasar bebas.
Dalam hal ini, segala sumber daya perusahaan yang dapat dimanfaatkan secara efektif
dan efisien. Persaingan global yang intensif mendorong perusahaan untuk melakukan
perubahan dalam teknologi maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan proses
produksi, memperbaiki keputusan mengenai penentuan harga jual, desain produk, dan
lain – lain.
Persaingan yang semakin ketat dalam memasarkan produk – produknya
menuntut perusahaan untuk meningkatkan mutu agar produk – produk yang
dipasarkan memiliki competitive advantage, sehingga produk – produk tersebut dapat
diterima oleh masyarakat, karena hal itu sangat berkaitan erat dengan strategi –
strategi dan kebijakan – kebijakan yang diterapkan perusahaan.
Makalah ini akan membahas beberapa hal yang terkait manajemen produk.
Pertama, makalah ini akan membahas mengenai analisis profitabilitas produk dengan
menggunakan Activity Based Costing (ABC) selama siklus hidup produk. Kedua,
makalah ini akan membahas mengenai target costing yang merupakan suatu konsep
manajemen biaya bagi suatu produk yang dihasilkan perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. ANALISIS PROFITABILITAS PRODUK


1. Definisi Analisis Profitabilitas Produk
Menurut Hilton et al (2003) menyatakan bahwa profitabilitas berkaitan dengan
profit atau laba dan merupakan ukuran bagi perusahaan apakah telah menjalankan
usahanya untuk memenuhi kebutuhan konsumernya melalui produk atau jasa yang
diproduksi oleh perusahaan tersebut dalam rangka untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan. sedangkan pengertian dari produk itu sendiri adalah
hasil atau output dari proses manufacturing yang akan ditawarkan di pasar untuk
memuaskan kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan definisi atas profitabilitas dan produk diatas, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan profitabilitas produk merupakan laba atau profit yang
diperoleh dari hasil penjualan produk barang atau jasa kepada konsumen yang dapat
menghasilkan laba bagi perusahaan. Dengan demikian, Analisis Profitabilitas Produk
merupakan sebuah analisis terhadap profitabilitas produk atau analisis atas
kemampuan produk dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Hal ini dapat
dilakukan dengan mencari selisih harga jual produk tersebut dengan biaya
produksinya.

2. Manfaat Analisis Profitabilitas Produk


Setelah mendapatkan informasi mengenai profitabilitas atas suatu produk yang
dihasilkan oleh perusahaan, pihak manajemen dapat menggunakan informasi tersebut
untuk mengambil keputusan strategis untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain
yang sejenis. Misalnya, dengan cara menurunkan harga jual untuk produk yang
menghasilkan keuntungan yang tinggi sehingga produk tersebut mempunyai daya
saing yang kuat di pasar atau menghentikan produk yang ternyata menghasilkan
kerugian bila terus menerus diproduksi oleh perusahaan.

3. Analisis Profitabilitas Produk dengan Activity Based Costing


Bila perusahaan menerapkan sistem perhitungan biaya menggunakan metode
tradisional dengan pemerataan biaya atau dengan satu standar alokasi biaya saja,
perusahaan dapat mengalami ketidakakuratan perhitungan biaya produksi yang dapat
menyebabkan adanya kekurangan biaya pada produk yang berarti sebuah produk yang
sebenarnya membutuhkan biaya sumber daya yang banyak tetapi justru perusahaan
mentapkan biaya per unitnya lebih rendah dari yang seharusnya. Sebaliknya, produk
dapat kelebihan biaya yang berarti sebuah produk yang sebenarnya mengkonsumsi
sumber daya dalam jumlah sedikit tetapi justru perusahaan salah menetapkan biaya
produksi per unit dengan menetapkan biaya produksi per unit yang lebih tinggi dari
yang seharusnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang memeberikan informasi yang lebih rinci
dan akurat terkait biaya produksi, agar tidak berimbas pada kesalahan pembebanan
biaya produksi per unit yang tentunya juga akan berimbas pada perhitungan
profitabilitas produk. Activity Based Costing (ABC) System dapat memberikan
informasi yang cukup akurat mengenai biaya produksi suatu produk atau jasa yang
dihasilkan oleh perusahaan sehingga pihak manajemen dapat mengetahui produk-
produk mana saja yang sebenarnya menghasilkan keuntungan dan produk mana saja
yang mungkin menghasilkan kerugian bagi perusahaan yang dapat diketahui dengan
cara mengurangi harga penjualan produk dengan biaya produk tersebut.
Hal diatas, dapat dijelaskan dengan contoh penelitian yang tertulis dalam
sebuah jurnal akuntansi dengan judul “Penerapan Activity Based Costing (ABC)
System dalam Perhitungan Profitabilitas Produk”. Pada penelitian tersebut,
melakukan analisis profitabilitas produk dengan melakukan perbandingan
antara penggunaan metode tradisional dengan metode Activity Based Costing
(ABC) terkait biaya produksinya. Perusahaan yang dijadikan sampel
merupakan perusahaan yang memproduksi dua jenis sepatu, yaitu sepatu tipe A
dan sepatu tipe B. Dari hasil data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara
dan perhitungan Activity Based Costing, maka didapat hasil berikut:
Tabel 1
Perhitungan Profitabilitas Produk dengan Menggunakan Metode Tradisional
No. Keterangan Sepatu Tipe A Sepatu Tipe B
1. Harga Jual Rp 75.000 Rp 45.000
2. Biaya Produksi Rp 62.496 Rp 38.136
3. Profit Rp 12.504 Rp 6.864
4. Presentase 16,627 % 15,25 %

Tabel 2
Perhitungan Profitabilitas dengan Menggunakan Activity Based Costing ABC)
System
No. Keterangan Sepatu Tipe A Sepatu Tipe B
1. Harga Jual Rp 75.000 Rp 45.000
2. Biaya Produksi Rp 55.003,84 Rp 27.356,93
3. Profit Rp 19.999,16 Rp 17.643,07
4. Presentase 26,67 % 39,2 %

Berdasarkan data pada Tabel 1 dan 2, dapat diketahui bahwa perhitungan biaya
produksi dengan menggunakan Activity Based Costing (ABC) System memberikan
gambaran yang berbeda mengenai profitabilitas produk dibandingkan dengan
perhitungan biaya produksi dengan menggunakan metode tradisional. Dari
perhitungan pada tabel tersebut, ketika menggunakan metode tradisional,
sepatu tipe A memiliki tingkat profitabilitas produk yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sepatu tipe B, yaitu besar profit yang dihasilkan oleh
sepatu tipe A adalah sebesar 16,627% sedangkan profit yang dihasilkan oleh
sepatu tipe B adalah sebesar 15,25%.
Hal ini berbeda dengan ketika perusahaan menggunakan metode Activity
Based Costing (ABC). Pada saat perusahaan menggunakan Activity Based Costing
(ABC) System, produk dari perusahaan tersebut yang lebih memberikan
kontribusi besar kepada perusahaan adalah sepatu tipe B. Dari perhitungan
pada tabel tersebut, ketika menggunakanABC, sepatu tipe A justru memiliki
tingkat profitabilitas produk yang lebih rendah dibandingkan dengan sepatu
tipe B, yaitu besar profit yang dihasilkan oleh sepatu tipe A adalah sebesar
26,67% sedangkan profit yang dihasilkan oleh sepatu tipe B adalah sebesar
39,2%.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya
profitabilitas produk untuk model sepatu tipe B lebih besar dibandingkan
profitabilitas produk sepatu tipe A karena sebenarnya model sepatu tipe B
mengkonsumsi lebih sedikit sumber daya dibandingkan dengan model sepatu
tipe A. Hal inilah yang menjadi kesalahan penghitungan biaya yang dilakukan
dengan cara membagi secara merata biaya sumber daya untuk semua jenis
produk yang dihasilkan tanpa memperhitungkan proporsi penggunaan sumber
daya untuk masing-masing produk. oleh karena hal tersebut, sistem ABC
memberikan informasi yang lebih akurat dalam analisis profitabilitas produk
dibandingkan dengan metode tradisional.

B. TARGET COSTING
1. Mengelola Produk Selama Siklus Hidup Produk
Analisis kemampuan menghasilkan laba suatu produk ditujukan untuk
mendeteksi bagaimana suatu produk yang dibuat dapat menghasilkan laba selama
siklus produk. Perkembangan teknologi menyebabkan perusahaan tidak bisa
mengandalkan produk yang sudah dibuat, melainkan perusahaan harus bisa
menghasilkan produk dan jasa yang baru. Perusahaan harus dapat berinovasi untuk
memperoleh keunggulan kompetitif, meningkatkan marjin dan loyalitas pelanggan.
Perusahaan yang tidak melakukan inovasi berpeluang untuk tertinggal karena produk
yang dihasilkan telah ditiru oleh pesaing, dan tidak bisa bersaing dalam hal harga dari
komoditas produk atau jasa yang dihasilkan. Inovasi juga dipengaruhi oleh
perkembangan dunia modern yang mana kepedulian terhadap lingkungan menjadi
penting (terutama di negara-negara Eropa dan AS) sehingga perusahaan dituntut
peduli akan aspek lingkungan dalam inovasi produk yang dibuat.
Agar produk yang dibuat dapat menghasilkan profit bagi perusahaan, maka
perusahaan harus mempertimbangkan produk yang akan dibuat apakah dapat
diterima oleh pasar dan biaya pembuatan produk dapat ditekan secara
optimum. Terdapat pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan hal
tersebut, yang dikenal dengan Total Life Cycle Costing (TLCC). Pendekatan ini
menekankan kepada perusahaan untuk memahami dan mengelola semua biaya
yang dikeluarkan untuk desain dan pengembangan produk, proses produksi,
pemasaran, distribusi, pemeliharaan, layanan, dan pembuangan. Dengan
memperhatikan semua biaya yang dibutuhkan dalam semua alur perputaran
umur suatu produk, maka perusahaan dapat mengoptimumkan biaya yang
dibutuhkan atas suatu produk, dapat merancang suatu efisiensi pada produk
yang dihasilkan yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan profit yang
dihasilkan dari produk yang dibuat. Pendekatan TLCC ini dapat dikatakan
mengelola biaya yang dikeluarkan pada suatu produk dari mulai hulu sampai
hilir.
Dalam perspektif total life-cycle, biaya yang dikeluarkan merupakan integrasi
dari biaya riset, pengembangan, dan rancang bangun, produksi, dan layanan purna jual
dan pembuangan. Ketiga bagian tersebut dapat dijelaskan sebegai berikut:

a) Tahap Riset, Pengembangan, dan Rancang Bangun (Research,


Development, and Engineering Cycle)

Tahapan ini meliputi 3 sub tahapan yaitu:


1. Riset pasar, perusahaan menilai kebutuhan konsumen dan ide yang
dibutuhkan untuk produk baru.
2. Desain produk, merupakan tahap dimana ilmuwan dan teknisi
perusahaan mengembangkan spesifikasi teknis dari produk yang akan
diproduksi.
3. Pengembangan produk, merupakan tahap dimana perusahaan
menciptakan fitur-fitur penting untuk meningkatkan kepuasan
pelanggan dan mendesain prototipe, proses produksi dan semua alat-
alat spesial yang dibutuhkan.
Pada tahap ini 80% sampai dengan 85% keputusan akan total biaya life-
cycle ditentukan. Keputusan pada tahap ini memiliki dampak yang sangat
besar terhadap biaya yang dikeluarkan pada tahap selanjutnya. Pengeluaran
tambahan bagi desain yang lebih baik biasanya dapat menghemat $8 sampai
$10 untuk tahap produksi dan pascaproduksi.

b) Tahap Produksi

Pada tahap ini perusahaan menghabiskan banyak biaya untuk bahan baku,
peralatan, dan biaya tidak langsung untuk memproduksi dan mendistribusikan
produk. Pada tahapan ini kecil peluang bagi keputusan teknis yang dapat
mengurangi biaya produk melalui keputusan redesain semenjak biaya telah
ditentukan pada tahap riset, pengembangan dan rancang bangun (RD&E). Ilustrasi
bagaimana pengaruh biaya yang ditentukan sebelum atau sesudah tahapan RD&E
dapat digambarkan pada gambar dibawah.
Gambar 1
TLCC: Hubungan antara biaya Komitmen dan Biaya Yang dikeluarkan

Gambar diperoleh dari Atkinson et al (2012)


c) Tahapan Layanan Purna Jual dan Pembuangan

Pada tahap ini, walaupun biaya layanan dan pembuangan telah ditentukan
pada tahapan RD&E, tahapan aktual dari biaya layanan adalah pada saat unit
pertama dari barang yang diproduksi telah sampai ke konsumen. Untuk beberapa
keadaan tahapan ini overlaps dengan tahapan produksi. Itu biasanya terdiri dari
tiga sub tahapan
1. Pertumbuhan yang pesat dari saat pertama produk dikapalkan sampai
dengan tahap pertumbuhan penjualan.
2. Transisi dari puncak penjualan menuju puncak bagian layanan.
3. Kedewasaan dari puncak bagian pelayanan menuju pengapalan produk
bagi konsumen, pembuangan berlangsung diakhir umur produk dan berakhir
sampai dengan konsumen memberhentikan unit terakhir dari produk.
Biaya pembuangan termasuk semua yang berkaitan dengan mengeliminasi
semua hal-hal yang berbahaya terkait dengan akhir dari kegunaan akhir suatu
produk. Produk yang dibuang termasuk efek berbahaya bagi lingkungan, seperti
limbah nuklir atau limbah kimia yang dapat menimbulkan biaya yang besar bagi
biaya daur ulang atau juga pembuangan.
Biaya yang dibutuhkan untuk setiap industri terkait perputaran produk
cenderung berbeda antara industri yang satu dengan industri lainnya. Hal ini
digambarkan oleh Atkinson, et. al. (2012) dalam gambar berikut.
Gambar 2
Persentase Biaya Perputaran Produk pada Empat Jenis Produk

Dari gambar diatas terlihat bahwa dari keempat industri yang dibandingkan
terdapat perbedaan persentase biaya yang dikeluarkan dalam setiap tahapan. Hal
yang menarik adalah industri pembuatan aplikasi komputer biaya manufaktur 0%
dan biaya service dan disposal hanya 25%. Hal ini karena pembuatan komputer
menghabiskan lebih banyak waktu pada tahapan RD&E.
2. TARGET COSTING
a) Pengertian Target Costing

Pada tahun 1960an insinyur Jepang membangun suatu pendekatan yang dikenal
dengan Target Costing yang bertujuan untuk membantu dalam hal
mempertimbangkan biaya produksi pada awal tahap keputusan desain produk.
Pendekatan ini membantu para insinyur dalam mendesain produk baru yang sesuai
dengan harapan konsumen, serta dapat diproduksi dengan biaya yang diinginkan.
Target costing merupakan metode akuntansi manajemen yang sangat penting dalam
mengurangi biaya pada tahap desain atas siklus hidup produk dan secara eksplisit
membantu mengelola total life cycle costs.
Target costing ini sangat berbeda dalam hal penekanan pengurangan biaya
dibandingkan dengan pendekatan pengurangan biaya yang digunakan di AS.
Pendekatan tradisional yang digunakan di AS dan negara barat lainnya dimulai
dengan riset pasar mengenai keinginan konsumen akan suatu produk baru dan harga
yang sedia dibayar oleh konsumen atas produk yang diinginkan. Para insinyur
kemudian menentukan spesifikasi produk yang memiliki kinerja sesuai dengan yang
diinginkan konsumen. Kemudian membuat desain produk dan merancang produk
sesuai dengan spesifikasi. Setelah produk tuntas didesain, tim pengembangan meminta
harga bahan mentah dan komponen dari pemasok, dan estimasi biaya produksi dari
bagian produksi. Harga-harga tersebut yang kemudian menjadi dasar awal untuk
mengestimasi biaya. Kemudian tim mengestimasi marjin keuntungan dari produk
dengan cara mengurangkan estimasi biaya terhadap harga jual yang diharapkan, yang
mana ditentukan pada saat riset pasar. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai
berikut:

Profit Margin = Harga Jual Yang diharapkan – Estimasi Biaya Produk

Pendekatan lain yaitu the cost plus method yang menambahkan marjin
keuntungan yang diinginkan dari produk dengan biaya yang diharapkan dari produk,
sehingga diperoleh perhitungan berapa harga jual dari produk. Persamaan matematika
dari metode ini adalah sebagai berikut:

Harga Jual Produk = Biaya produk yang diharapkan +


Marjin Profit yang diinginkan
Dalam kedua metode yaitu tradisional dan biaya plus, desainer produk tidak
berusaha untuk mencapai target biaya tertentu. Perusahaan menerima margin
keuntungan yang diperbolehkan sebagai selisih antara harga jual yang ditentukan
pasar dan biaya produk yang diperkirakan, atau mencoba untuk menetapkan harga
cukup tinggi untuk mendapatkan margin yang diinginkan atas biaya produk, tanpa
menaruh banyak perhatian pada kesediaan pelanggan untuk membayar. Dalam kedua
metode, insinyur pengembangan produk tidak mencoba untuk secara aktif
mempengaruhi biaya produk. Mereka merancang produk untuk memenuhi spesifikasi
dan menerima biaya sebagai konsekuensi dari keputusan desain dan
pengembangannya.
Target costing sebaliknya, berusaha untuk secara aktif mengurangi biaya produk
mulai dari tahap RD&E daripada menunggu sampai produk telah dirilis ke dalam
produksi untuk memulai pengurangan biaya, atau proses kaizen, Sebagaimana telah
disinggung sebelumnya, pengurangan biaya selama tahap manufaktur umumnya lebih
mahal dan kurang efektif daripada selama tahap RD & E. Dalam target costing, urutan
langkah-langkah dan cara berpikir tentang penentuan biaya produk berbeda secara
signifikan dari tradisional costing. Meskipun langkah awal berupa riset pasar untuk
menentukan kebutuhan pelanggan dan spesifikasi produk mirip dengan penetapan
biaya tradisional, target costing memperkenalkan beberapa perbedaan penting.
Pertama, riset pasar pada target costing bukanlah peristiwa tunggal seperti yang sering
dilakukan pada pendekatan tradisional. Sebaliknya, pendekatan ini didorong oleh
pelanggan, dengan masukan pelanggan yang diperoleh terus selama proses
berlangsung. Kedua, para insinyur produk berusaha untuk merancang biaya dari
produk sebelum desain dan pengembangan berakhir dan manufaktur dimulai.
Pendekatan ini sangat efektif karena 80% atau lebih dari total biaya siklus produk
mendapatkan komitmen selama siklus RD & E. Ketiga, target costing menggunakan
konsep total life cycle dengan mengadopsi perspektif meminimalkan biaya suatu
produk selama masa manfaatnya. Dengan demikian, tidak hanya biaya seperti harga
pembelian awal dipertimbangkan, tapi begitu juga biaya operasi, pelayanan,
pemeliharaan, perbaikan, dan membuang produk.
Ketiga, dalam hal inovasi, para insinyur menetapkan biaya yang diijinkan untuk
produk yang memungkinkan margin keuntungan produk yang akan dicapai pada
harga dimana konsumen bersedia untuk membayar. Dengan pendekatan ini, target
harga jual dan volume produk yang dipilih atas dasar nilai yang dirasakan perusahaan
dari produk berdasarkan pelanggan. Target marjin profit dihasilkan dari analisis
keuntungan jangka panjang yang sering didasarkan pada return on sales (laba bersih :
Penjualan). Return on sales adalah ukuran yang paling banyak digunakan karena
dapat dihubungkan erat dengan profitabilitas untuk setiap produk. Target cost
didefinisikan sebagai selisih antara target harga jual dengan target profit margin
sasaran. Hubungan untuk pendekatan target cost ditunjukkan pada persamaan berikut:

Target Cost = Target Harga Jual – Target Profit Marjin

Setelah target cost telah ditetapkan untuk seluruh produk, insinyur selanjutnya
menentukan target cost untuk setiap komponen dalam produk. Proses rekayasa nilai
meneliti desain masing-masing komponen untuk menentukan apakah mungkin untuk
mengurangi biaya dengan tetap mempertahankan fungsi dan kinerja. Dalam beberapa
kasus, para insinyur dapat mengubah desain atau komponen produk, mengganti
dengan material baru, atau memodifikasi dan meningkatkan proses manufaktur.
Misalnya, desain ulang produk dapat memungkinkan fungsi yang sama akan dicapai
tetapi dengan bagian yang lebih sedikit atau lebih umum daripada bagian yang unik.
Mengingat kembali dari activitiy based costing yang lebih murah untuk
memproduksi 10% lebih banyak produksi yang saat ini dijalankan daripada beralih ke
produksi rendah untuk komponen khusus. Hal ini lebih murah untuk memesan 10%
lebih banyak komponen dari pemasok yang ada saat ini daripada mencari vendor baru
untuk memesan kuantitas yang lebih sedikit untuk suatu komponen khusus. Semua
keputusan dan trade-off yang terbaik sebaiknya diambil selama tahap RD&E ketika
desain produk masih belum pasti daripada selama tahap manufaktur dimana apabila
telah mencapai tahap manufaktur maka akan jauh lebih mahal untuk melakukan
desain ulang utama dari produk. Beberapa iterasi dari value engineering biasanya
diperlukan sebelum target cost akhir akan tercapai.
Dua perbedaan lainnya yang merupakan ciri proses target costing. Pertama,
sepanjang seluruh proses, tim produk lintas fungsional terdiri dari individu-individu
yang mewakili seluruh yang terkait, baik dari dalam dan luar organisasi untuk
memandu proses. Sebagai contoh, tidak jarang tim terdiri dari orang-orang dari dalam
organisasi (seperti teknik desain, operasi manufaktur, akuntansi manajemen, dan
pemasaran) dan perwakilan dari luar organisasi (termasuk pemasok, pelanggan,
distributor, dan pengolahan limbah).
Perbedaan kedua adalah bahwa pemasok memainkan peran penting dalam
membuat target costing bekerja. Sering kali perusahaan meminta pemasoknya untuk
berpartisipasi dalam menemukan cara untuk mengurangi biaya komponen tertentu
atau seluruh sub-rakitan atau modul. Perusahaan menawarkan insentif untuk pemasok
yang datang dengan ide-ide pengurangan biaya terbesar. Perusahaan bekerja lebih erat
dengan pemasok mereka selama tahap RD&E, perusahaan menggunakan satu set
metode yang dikenal sebagai manajemen rantai pasokan.
Manajemen rantai pasokan mengembangkan hubungan kerja sama jangka
panjang, saling menguntungkan antara pembeli dan pemasok. Hal ini memberi banyak
Manfaat, misalnya, seperti kepercayaan berkembang antara pembeli dan pemasok,
keputusan tentang cara mengatasi masalah pengurangan biaya dapat dilakukan dengan
berbagi informasi tentang berbagai aspek operasi masing-masing. Dalam beberapa
organisasi, pembeli bahkan mungkin mengeluarkan sumber daya untuk melatih
karyawan pemasok di beberapa aspek bisnis, atau pemasok dapat menetapkan salah
satu karyawannya untuk bekerja dengan pembeli untuk memahami produk baru.
Interaksi tersebut sangat berbeda dari hubungan jangka pendek, transaksi wajar yang
merupakan ciri khas dari hubungan pembeli-penjual berbasis transaksi.

Gambar 3
Perbedaan Tradisional Costing dengan Target Costing

Atkinson et. al. (2012)


b) Penerapan Target Costing Bagi Produk

Dalam pelaksanaan target costing, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya


bahwa perusahaan harus melakukan riset pasar yang bertujuan untuk menentukan
apa saja yang diinginkan dan merupakan fitur penting bagi konsumen. Setelah
mendapatkan apa saja yang penting dan dibutuhkan oleh konsumen, tahap
berikutnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana data tersebut menjadi dasar
rancang bangun bagi produk yang akan dibuat. Para insinyur perusahaan harus
memastikan bahwa produk yang dibuat akan mencakup semua fitur yang
dibutuhkan konsumen. Kemudian insinyur yang menangani produk melakukan
analisis biaya dan value enggineering untuk mengurangi biaya dari setiap
komponen yang dibutuhkan bagi produk.
Pada tahap analisis biaya, perusahaan menentukan komponen-komponen apa
saja dari produk yang menjadi target pengurangan biaya dan menentukan target
biaya untuk setiap komponen. Analisis biaya juga fokus pada interaksi antara
komponen dan bagian-bagiannya. Pada tahap analisis biaya terdapat lima aktivitas
yang dilakukan, yaitu:

1. Membuat daftar komponen dan fungsi dari produk.


Pengurangan biaya dimulai dari membuat daftar berbagai komponen
dan mengidentifikasi fungsinya serta mengestimasi biayanya saat ini.
Daftar tersebut menjadi acuan untuk menentukan komponen dan
fungsi apa yang dibutuhkan untuk memuaskan konsumen.
2. Merinci Biaya secara Fungsional
Setiap bagian dari komponen memiliki fungsi spesifik sehingga pada
tahap ini semua biaya dari setiap fungsi tersebut dirinci untuk
mendapatkan estimasi biaya dari masing-masing fungsi.
3. Menentukan tingkat kepentingan relatif konsumen atas produk
Pada tahap ini, perusahaan harus menentukan peringkat relatif dari
kebutuhan konsumen akan produk yang dibuat. Perusahaan
mendasarkan hal ini berdasarkan survei yang dilakukan pada saat riset
pasar. fitur-fitur yang dinilai penting oleh konsumen harus menjadi
prioritas utama bagi insinyur untuk diaplikasikan pada produk baru.
4. Mengaitkan fitur dan fungsi
Pada tahap ini insinyur mengkonversi peringkat relatif dari fitur-fitur
dengan peringkat penting dari setiap fungsi.
5. Mengembangkan peringkat fungsional relatif
Setelah memperoleh peringkat fungsional atau komponen dari
produk, kemudian menentukan kontribusi setiap komponen bagi fitur
yang diinginkan konsumen.

Setelah lima langkah analisis biaya telah selesai, insinyur memulai aktivitas
value engineering (VE). Selama VE, insinyur menganalisis fungsi dari berbagai
komponen dan berusaha untuk meningkatkan komponen dan desain produk untuk
biaya keseluruhan yang lebih rendah tanpa pengurangan kinerja yang diperlukan,
keandalan, pemeliharaan, kualitas, keamanan, daur ulang, dan kegunaan. Analisis
baik produk dan proses desain manufaktur dan pengurangan biaya dengan
menghasilkan ide-ide untuk menyederhanakan keduanya. VE adalah kunci dalam
target costing dan melibatkan 2 sub aktivitas yaitu:

1. Mengidentifikasi komponen untuk pengurangan biaya.


Memilih komponen mana yang dipilih membutuhkan komputasi
indeks nilai. Ini adalah rasio nilai (tingkat kepentingan) kepada
pelanggan dan persentase total biaya yang ditujukan untuk masing-
masing komponen.

2. Menghasilkan pengurangan biaya dan ide-ide fungsi tambahan.


Insinyur terlibat dalam berpikir kreatif dan brainstorming untuk
mengidentifikasi apa yang dapat dikurangi, dihilangkan,
digabungkan, diganti, diulang, atau ditingkatkan untuk
memberikan tingkat yang sama atau lebih tinggi dari fungsi dari
komponen dengan biaya yang berkurang.

c) Perhatian dalam Target Costing

Meskipun target costing memiliki beberapa keuntungan yang jelas, beberapa


penelitian dari target costing menunjukkan potensi masalah dalam pelaksanaan,
terutama jika fokus pada pemenuhan target biaya mengalihkan perhatian dari
unsur-unsur lain dari tujuan perusahaan secara keseluruhan. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam target costing yaitu:
1. Kurangnya pemahaman konsep target costing.
Untuk banyak orang di Barat, target costing bukanlah konsep utama. Tanpa
pemahaman yang jelas tentang manfaat, banyak eksekutif senior menolak gagasan
itu.
2. Pelaksanaan miskin konsep kerja sama tim.
Masalah kerja sama tim dan kepercayaan dapat menyebabkan masalah yang
signifikan dalam implementasi target costing. Dalam beberapa kasus, perusahaan
memberikan tekanan berlebih pada subkontraktor dan pemasok untuk
menyesuaikan diri dengan jadwal dan mengurangi biaya. Hal ini dapat
menyebabkan keterasingan atau kegagalan subkontraktor. Kadang-kadang
insinyur desain menjadi marah ketika bagian lain dari organisasi yang tidak sadar
akan biaya; mereka berpendapat bahwa mereka mengerahkan banyak usaha untuk
memeras uang dari biaya produk sementara bagian lain dari organisasi
(administrasi, pemasaran, dan distribusi) membuang-buang uang. Dengan
demikian, banyak organisasi harus meningkatkan kerja sama tim lintas fungsional,
kepercayaan, dan kerjasama untuk sukses menerapkan target costing.
3. Karyawan tersiksa.
Karyawan, terutama insinyur perancang di perusahaan Jepang, bekerja di bawah
tekanan terus-menerus untuk memenuhi tujuan target costing dan akhirnya
mengalami kelelahan akibat tekanan dan menjadi jauh dari efektif dalam
pekerjaan mereka.
4. Waktu pengembangan terlalu lama.
Meskipun target biaya mungkin dipenuhi, waktu pengembangan mungkin
meningkat karena siklus VE yang berulang untuk mengurangi biaya, akhirnya
menyebabkan produk terlambat untuk diluncurkan ke pasar. Untuk beberapa jenis
produk, terlambat enam bulan mungkin jauh lebih mahal daripada memiliki
kelebihan biaya yang kecil.
Perusahaan mungkin menemukan sesuatu yang lebih masuk akal untuk mengelola
banyak faktor-faktor ini, tetapi organisasi yang tertarik menggunakan proses
target costing harus menyadari kesiapan organisasinya sebelum mencoba untuk
mengadopsi metode ini. Masalah perilaku yang terkait dengan memotivasi
karyawan untuk memenuhi target ambisius sangat penting untuk dipertimbangkan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Analisis Profitabilitas Produk merupakan sebuah analisis terhadap profitabilitas


produk atau analisis atas kemampuan produk dalam menghasilkan laba bagi perusahaan.
Hal ini dapat dilakukan dengan mencari selisih harga jual produk tersebut dengan biaya
produksinya. Oleh karena itu, dibutuhkan metode yang memeberikan informasi yang
lebih rinci dan akurat terkait biaya produksi, agar tidak berimbas pada kesalahan
pembebanan biaya produksi per unit yang tentunya juga akan berimbas pada perhitungan
profitabilitas produk. Activity Based Costing (ABC) System dapat memberikan informasi
yang cukup akurat mengenai biaya produksi suatu produk atau jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan sehingga pihak manajemen dapat mengetahui produk-produk mana saja yang
sebenarnya menghasilkan keuntungan dan produk mana saja yang mungkin menghasilkan
kerugian bagi perusahaan yang dapat diketahui dengan cara mengurangi harga penjualan
produk dengan biaya produk tersebut.
Selain itu, untuk dapat bersaing, perusahaan harus memperhatikan pengelolaan
produk selama siklus hidup produk. Dalam mengelola produk selama siklus hidup
produk, perusahaan harus memperhatikan seluruh biaya yang dikeluarkan selama umur
produk, yaitu mulai dari desain dan pengembangan produk sampai dengan pembuangan
produk yang sudah berakhir. Konsep biaya selama siklus ini dikenal dengan Total Life
Cycle Costing (TLCC). Perspektif TLCC bagi perusahaan mengintegrasikan tiga tahapan
kegiatan yang dibutuhkan suatu produk, yaitu: Tahap Riset, Pengembangan dan Rancang
Bangun, Tahap Produksi, dan Tahap Layanan Purna Jual dan Pembuangan. Dalam konsep
ini bagian yang sangat penting dalam penentuan biaya adalah pada saat tahap riset,
pengembangan dan rancang bangun. Karena penghematan yang dapat dilakukan pada
tahap ini berpengaruh besar terhadap produk.

Target costing merupakan sistem yang membantu para insinyur dalam


mempertimbangkan biaya produksi lebih awal yaitu pada saat desain produk. Target
costing merupakan metode akuntansi manajemen yang sangat penting dalam mengurangi
biaya yang mana dilakukan pada tahapan desain produk. Target costing sangat membantu
perusahaan dalam mengelola Total Life Cycle Cost. Target costing ini berbeda dengan
metode pengembangan produk tradisional yang diterapkan oleh perusahaan AS dan
beberapa perusahaan di barat lainnya yang tidak terlalu menaruh perhatian pada keinginan
membayar dari konsumen atas produk yang dibuat. Target costing secara aktif berusaha
mengurangi biaya produk selama tahap riset dan pengembangan.

B. SARAN
1. Dalam perhitungan sistem Activity Based Costing (ABC) memberikan informasi
yang lebih akurat dalam analisis profitabilitas produk dibandingkan dengan
metode tradisional.
2. Dalam melaksanakan target costing juga ada beberpa kendala yang harus
diperhatikan. Kendala-kendala yang harus diperhatikan diantaranya yaitu:
Kurangnya pemahaman konsep target costing, pelaksanaan miskin konsep kerja
sama tim, karyawan tersiksa, dan waktu pengembangan yang terlalu lama.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/359936433/264384338-PENGGUNAAN-SISTEM-
MANAJEMEN-BIAYA-UNTUK-PENGAMBILAN-KEPUTUSAN-STRATEJIK-
PRODUCT-PROFITABILITY-ANALYSIS-DAN-TARGET-COSTING-docx

https://www.scribd.com/doc/288452154/Manajemen-Biaya-Untuk-Pengambilan-
Keputusan-Stratejik-Produk

Atkinson, A. a., Kaplan, R. S., Matsumura, E. M., & Young, S. M. (2012). Management
Accounting: Information for Decision Making and Strategy Execution (6th ed.). New
Jersey.