Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

UPAYA MENCEGAH DAN MEMINIMALKAN RISIKO DAN HAZARD


PADA TAHAP EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN

Disusun Oleh :

1. Fajar Ibnu Sabil P27820714002

2. Grita Cytia Dewi P27820714008

3. Anindya Hidayaturrohma P27820714011

4. Arum Wibisono P27820714020

5. Nuris Fitria Hardiyanti P27820714024

6. Rani Umma Aulia P27820714025

7. Astri Rejeki P27820714028

8. Efrizal Fikri Harlianto P27820714032

D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
S U R ABAYA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Upaya Mencegah
Dan Miminimalkan Risiko Dan Hazard Pada Tahap Evaluasi Asuhan Keperawatan ”.

Dalam proses penyusunan makalah ini, tim penyusun mengalami banyak


permasalahan. Namun, berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan
segala kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan Kerja, yaitu Ibu Endah
Suprihatin M.Kep, Sp. Mat. yang telah membimbing kami dalam proses penyusunan
makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun
sistematika penulisannya. Maka dari itu, penyusun berterima kasih apabila ada kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan-
rekan seperjuangan, khususnya rekan-rekan Program Studi D IV Keperawatan Gawat
Darurat.

Surabaya, 09 April 2016

Penyusun
UPAYA PENCEGAHAN HAZARD DAN RESIKO PADA TAHAP EVALUASI

I. Pengertian Evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan
terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan
lainnya. Dalam melakukan tindakan keperawatan, perlu dilakukan evaluasi
keperawatan. Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan yang berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah
dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain.

II. Tahap Evaluasi


Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara operasional dengan sumatif
(dilakukan selama proses asuhan keperawatan) dan formatif (dengan proses dan
evaluasi akhir).

Evaluasi dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Evaluasi berjalan (sumatif)


Evaluasi jeni ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan
perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh
keluarga. format yang dipakai adalah format SOAP.

2. Evaluasi akhir (formatif)


Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan
yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin
semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat
data-data, masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.

III.Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain:


1. Observasi langsung adalah mengamati secara langsung perubahan yang terjadi
dalam keluarga.
2. Wawancara keluarga, yang berkaitan dengan perubahan sikap, apakah telah
menjalankan anjuran yang diberikan perawat.
3. Memeriksa laporan, dapat dilihat dari rencana Asuhan Keperawatan yang
dibuat dan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana.
4. Latihan stimulasi, berguna dalam menentukan perkembangan kesanggupan
melaksanakan Asuhan Keperawatan.

IV. Resiko yang terjadi pada tahap evaluasi

Dengan mempertimbangan criteria risiko masing-masing bahaya kerja, dapat


ditetapkan prioritas risiko bahya kerja sebagai berikut:

1. Risiko ringan : kemungkinannya kecil untuk terjadi serta akibat yang


ditimbulkannya ringan maka bahaya kerja ini dapat diabaikan.
2. Risiko sedang : kemungkinannya kecil untuk terjadi akan tetapi akibat yang
ditimbulkannya cukp berat, atau sebaliknya, maka perlu pelaksanaan
manajemen risiko khusus.
3. Risiko berat : sangat mungkin terjadi dan akan berakibat sangat buruk,
maka harus dilaksanakan penganggulangan sesegara mungkin.

V. Contoh Kasus

1) Kasus I
tribuananews.com.
Sragen 28 April 2009

Sering Dikritik, Perawat Ini Masuk RSJ

Kejadian mengenaskan menimpa seorang perawat berinisial NN, salah


satu perawat di RS Negeri di Sragen. Sekarang dia harus melakukan
rehabilitasi di RSJ Menur agar dapat kembali ke kondisinya semula.
Kejadian ini bermula ketika dia mendapat pasien yang sering mengeritik
pekerjaannya. Setiap dia selesai melakukan tindakan seperti pemasangan
infus dan ketika dia akan mengkaji respon pasien, pasien selalu marah –
marah kepadanya. Padahal dia sudah bekerja 7 tahun sebagai perawat dan
pekerjaannya selalu rapi ujar salah satu teman perawat tersebut. Pasien
tersebut selalu marah – marah kepadanya, dan selalu mengeritik setiap
pearwat akan melakukan evaluasi pada dirinya. Dia NN selalu mengeluh
kepada saya ketika dia selesai melakukan tindakan kepada pasien tersebut
dan dia (NN) itu orangnya gampang kepikiran, jadi tiap ada orang yang
ngomong ngak enak tentang dia, dia akan mikir terus ungkap GH teman
perawat tersebut. Dan kini NN harus masuk k RSJ karena dia mengalami
gangguan jiwa setelah kejadian tersebut.

Pihak RS sudah melakukan penyelidikan untuk kasus ini, dan ternyata


pasien tersebut pernah tersinggung karena ucapan perawat NN sehingga dia
tidak menyukai NN dan terus mengkritik tindakan yang dilakukan NN
kepada dirinya.

Hazard :

1. Bedasarkan informasi diatas, Rumah Sakit melakukan penyelidikan


setelah perawat tersebut masuk ke RSJ
Upaya rumah sakit:
Dari pihak Rumah Sakit dapat membuat semacam sarana untuk
menerima semua keluhan yang dirasakan perawat baik tentang fasilitas
ataupun pasien sehingga perawat bisa menceritakan segala keluhannya
dan diberikan solusi. Dan jika ada masalah dengan klien, pihak RS dapat
menjembatani sehingga tidak terlambat. Karena masalah seperti ini
sangat berdampak kepada perawat.
Upaya perawat :

2) Kasus II

DetikNews, Minggu 10 Apr 2016, 16:37 WIB

SETELAH MELAHIRKAN BAYI PREMATUR, PEREMPUAN INI


KABUR DARI RUMAH SAKIT
Surabaya - Seorang perempuan kabur dari rumah sakit setelah
melahirkan. Perempuan tersebut kabur setelah melihat tak ada peluang bagi
bayinya untuk hidup lebih lama lagi. Dan bayi yang dilahirkannya akhirnya
memang meninggal.
Kasus ini kini ditangani polisi. Polisi sedang mencari perempuan
tersebut.
"Perempuan itu melahirkan Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB di
Rumah Sakit Muji Rahayu," ujar Kapolsek Tandes Tahirudin Harahap saat
dihubungi detikcom, Minggu (10/4/2016).
Perempuan itu melahirkan bayi prematur yang masih dikandungnya
selama tujuh bulan. Karena prematur, bayi itu memerlukan perawatan lebih
intensif. Pukul 12.00 WIB, kondisi bayi berjenis kelamin laki-laki itu tak
juga membaik. Kondisinya justru makin buruk.
"Dokter menyarankan agar bayi dirujuk ke RSU dr Soetomo, namun
perempuan itu tak mau," kata Harahap.
Saat perawat sedang sibuk mengurus si bayi, perempuan tersebut tiba-
tiba kabur. Perempuan itu sudah tak ada di kamar perawatan. Sebelumnya
perempuan tersebut memang hendak pamit membeli sesuatu. Namun pada
akhirnya dia tak kembali lagi.
"Perempuan itu tak sendiri. Dia bersama seorang laki-laki. Entah itu
suaminya atau tidak, kami tak tahu. Tapi kepada pihak rumah sakit mereka
mengaku sebagai suami istri," lanjut Harahap.
Kondisi bayi yang memburuk pada akhirnya memang membuat bayi
tersebut meninggal. Bayi malang itu meninggal sekitar pukul 15.00 WIB.
Karena tak ada yang bertanggung jawab, jenazah bayi dibawa ke kamar
mayat RSU dr Soetomo. Pihak Rumah Sakit Muji Rahayu kemudian
melaporkan kasus ini ke polisi.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan. Perempuan yang melahirkan
bayinya tersebut bernama Noviana Sera. Nama itu diberikan perempuan
tersebut kepada pihak rumah sakit saat masuk hendak bersalin.
Polisi juga mendatangi rumah kos yang menjadi tempat tinggal
perempuan itu di Jalan Bibis Tama. Namun perempuan itu tak ada di situ.
Menurut penghuni kos, Noviana sudah tak ada di kos sejak dua hari yang
lalu.
"Kami sedang mencarinya. Melihat dari ciri-cirinya, perempuan itu
asalnya dari Indonesia timur," tandas Harahap.

a) Resiko:

1) Resiko keletihan pada perawat karena mondar-mandir disebabkan


tempat bayi dan ibu terpisah

2) Resiko perawat mengalami stress karena dimintai pertanggung


jawaban atas kaburnya pasien

b) Upaya dalam mencegah hazard dan risiko:

1) Menempatkan bayi dalam satu ruang dengan ibu

2) Megantar ibu (pasien) bila membutuhkan sesuatu terutama setelah


kelahiran

3) Menanyakan dengan jelas ketika ibu akan meninggalkan ruangan,


seperti akan pergi kemana, akan melakukan apa

4) Menambah jumlah pekerja (perawat), yang satu bertanggung jawab


terhadap bayi, yang lain bertanggung jawab terhadap ibu