Anda di halaman 1dari 83

MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan pendidikan selalu berlangsung di dalam suatu lingkungan. Dalam konteks
pendidikan, lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di luar diri
anak. Anak, dalam hal ini manusia tidak akan bisa dipisahkan dengan lingkungannya.
Sehingga terkadang, lingkungan pun akan berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak,
serta salah satu faktor yang membentuk karakter anak. Lingkungan dapat berupa hal-hal
yang nyata, seperti tumbuhan, orang, keadaan, politik, kepercayaan dan upaya lain yang
dilakukan manusia, termasuk di dalamnya adalah pendidikan.

Di dalam konteks pembangunan manusia seutuhnya, keluarga, sekolah dan masyarakat


akan menjadi pusat-pusat kegiatan pendidikan yang akan menumbuhkan dan
mengembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Dengan
memperhatikan bahwa anak adalah individu yang berkembang, ia membutuhkan
pertolongan dari orang yang telah dewasa, anak harus dapat berkembang secara bebas,
tetapi terarah. Hal itulah yang disebut pendidikan. Pendidikan harus dapat memberikan
motivasi dalam mengaktifkan anak.
Melalui kegiatan pendidikan, gambaran tentang masyarakat yang ideal itu dituangkan
dalam alam pikiran peserta didik sehingga terjadi proses pembentukan dan perpindahan
budaya. Pemikiran ini mengandung makna bahwa lembaga pendidikan sebagai tempat
pembelajaran manusia memiliki fungsi sosial (agen perubahan di masyarakat).
Lantas apakah lembaga pendidikan kita, baik yang formal ataupu informal telah mampu
mengantarkan peserta didiknya sebagai agen perubahan sosial di masyarakat? Untuk Hal
ini masih perlu dipertanyakan. Lembaga pendidikan kita sepertinya kurang berhasil dalam
mengantarkan anak didiknya sebagai agen perubahan sosial di masyarakat, terbukti dengan
belum adanya perubahan yang signufikan dan menyeluruh terhadap masalah kebudayaan
dan keilmuan masyarakat kita, dan masih maraknya komersialisasi ilmu pengetahuan di
lembaga-lembaga pendidikan kita, mahalnya biaya pendidikan serta orientasi yang hanya
mempersiapkan peserta didik hanya untuk memenuhi bursa pasar kerja ketimbang
memandangnya sebagai objek yang dapat dibentuk untuk menjadi agen perubahan sosial di
masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian lingkungan pendidikan ?
2. Apakah fungsi dan peranan, serta tanggung jawab lembaga pendidikan keluarga ?
3. Seperti apakah klasifikasi dari Lembaga Pendidikan ?
4. Apa sajakah bentuk dari Lembaga Pendidikan ?
5. Bagaimanakah keterkaitan antara Lembaga Pendidikan Dan Perubahan Sosial ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lingkungan Pendidikan


Dalam arti luas, pendidikan adalah berusaha membangun seseorang untuk lebih dewasa.
Atau Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai hal hal
tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya. Pendidikan adalah segala situasi
hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Lebih jelasnya pendidikan
adalah setiap proses di mana seseorang memperoleh pengetahuan, mengembangkan
kemampuan/keterampilan sikap atau mengubah sikap.
Secara garis besar, pendidikan mempunyai fungsi sosial dan individual. Fungsi sosialnya
adalah untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif
dengan memberikan pengalaman kolektif masa lampau dan masa kini. Fungsi
individualnya adalah untuk memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih
memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan
(pengalaman baru). Proses pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti yang terjadi
di berbagai lembaga pendidikan. Ia juga berlangsung secara informal lewat berbagai
kontak dengan media komunikasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan
sebagainya atau non formal seperti interaksi peserta didik dengan masyarakat sekitar.
Organisasi pendidikan mikra adalah organisasi pendidikan dilihat dengan titik tolak pada
unit-unit yang ada pada suatu sekolah atau lembaga penyelenggara langsung proses belajar
mengajar. Struktur organisasi di setiap sekolah tidak seluruhnya sama, disebabkan oleh
kompleks tidaknya kegiatan dan tenaga yang ada atau sarana lain.
Sedangkan lingkungan pendidikan adalah alam sekitar yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak dan peserta didik. Lingkungan pendidikan terbagi
tiga dimensi, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Tipologi pendidikan yang mempengaruhi pendidikan, antara lain:
1. Tipologi lingkungan keluarga
Seorang anak mulai mengenal hidup dan kehidupannya dimulai di dalam keluarga.
Seorang anak masuk dalam keluarga mulai dari kandungan hingga tumbuh berkembang
sampai anak sanggup melepaskan diri dari ikatan keluarga. Berdasarkan kenyataan dapat
disimpulkan bahwa pengaruh lingkungan keluarga sangat menentukan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Dasar-dasar perilaku akan ditentukan oleh adat istiadat orang tuanya,
juga sifat sikap hidup serta kebiasaan-kebiasaan orang tuanya.
2. Tipologi lingkungan sekolah
Sekolah merupakan lingkungan pendidikan kedua setelah lingkungan rumah. Sekolah
merupakan tempat latihan persahabatan dan persaudaraan. Suasana sekolah ditentukan oleh
petugas-petugas yang berbeda-beda sehingga dapat menghilangkan kejenuhan. Banyak
orang tua yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan bagi anak-anaknya
itu kepada sekolah. Dengan demikian, guru di sekolah berperan sebagai pendidik
pengganti orang tua yang harus bertanggung jawab atas pendidikan.
3. Tipologi lingkungan masyarakat
Arti masyarakt menurut Cook adalah sekumpulan orang yang menempati suatu daerah,
diikat oleh kebiasaan dan pengalaman-pengalaman yang sama, serta memiliki sejumlah
persesuaian, kesatuan dan tindakan yang sama di dalam kehidupannya. Lingkungan
mayarakat sangat mempengaruhi perkembangan anak, seperti :
a. Perkembangan intelektual antara lain : tingkat kecerdasan, kecepatan reaksi, kapasitas
sintesa, kapasitas ingatan dan pengembangan bakat khusus.
b. Perkembangan emosi anak seperti : perasaan senagn, sedih, gembira, ramah, pendiam,
pemarah dan seterusnya
c. Perkembangan kepribadian seperti memilliki cita-cita yang teguh, memiliki rasa
tanggung jawab, mengetahui hak dan kewajiban, percaya diri dan sebagainya.

B. Pengertian dan Fungsi Lembaga Pendidikan

Secara bahasa lembaga adalah suatu organisasi sedangkan pendidikan adalah usaha
manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk
menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka
mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah,
terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai
sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi
salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.
Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa lembaga pendidikan memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap corak dan karakter masyarakat. Belajar dari sejarah perkembanganya
lembaga pendidikan yang ada di indonesia memiliki beragam corak dan tujuan yang
berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang melingkupi, mulai dari zaman kerajaan dengan
bentuknya yang sangat sederhana dan zaman penjajahan yang sebagian memiliki corak ala
barat dan gereja, dan corak ketimuran ala pesantren sebagai penyeimbang, serta model dan
corak kelembagaan yang berkembang saat ini tentunya tidak terlepas dari kebutuhan dan
tujuan-tujuan tersebut.
Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, yaitu untuk mengejar
ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR dan
Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mengesahkan Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989.
Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal
tersebut juga merupakan pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak
sejak tahun 1998.
Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang Sisdiknas yang baru
tersebut antara lain adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta
masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan
peserta didik.
Sebagai sistem sosial, lembaga pendidikan harus memiliki fungsi dan peran dalam
perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala lini. Dalam hal ini lembaga
pendidikan memiliki dua karakter secara umum. Pertama, melaksanakan peranan fungsi
dan harapan untuk mencapai tujuan dari sebuah sistem. Kedua mengenali individu yang
berbeda-beda dalam peserta didik yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan.
Kemudian sebagai agen perubahan lembaga pendidikan berfungsi sebagai alat :
1) Pengembangan pribadi
2) Pengembangan warga
3) Pengembangan Budaya
4) Pengembangan bangsa

Peran sesungguhnya dari lembaga pendidikan adalah sebagai jembatan pengantar kita
untuk mecapai tujuan pendidika nasional, sebagaimana dinyatakan bahwa ―pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab‖.

C. Klasifikasi Lembaga Pendidikan


Upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat pada dasarnya merupakan cita-cita dari
pembangunan bangsa. Kesejahteraan dalam hal ini mencakup dimensi lahir batin, material
dan spiritual. Lebih dari itu pendidikan menghendaki agar peserta didiknya menjadi
individu yang menjalani kehidupan yang aman dan damai. Oleh karena itu pembangunan
lembaga pendidikan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan
Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera. Sejalan dengan realitas kehidupan sosial yang
berkembang di masyarakat, maka pengembangan nilai-nilai serta peningkatan mutu
pendidikan tentunya menjadi tema pokok dalam rencana kerja pemerintah dalam
membangun lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan di indonesia dalam UU bisa kita klasifikasikan menjadi dua
kelompok yaitu: sekolah dan luar sekolah, selanjutnya pembagian ini lebih rincinya
menjadi tiga bentuk:
1). Informal (keluarga)
Pendidikan informal, atau pendidikan pertama adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri, hal ini
adalah menjadi pendidikan primer bagi peserta dalam dalam pembentukan karakter dan
kepribadian
2). Formal (sekolah)
Jalur formal adalah lembaga pendidikan yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi dengan jenis pendidikan:
1). Umum
2). Kejuruan
3). Akademik
4). Profesi
5). Advokasi
6). Keagamaan.
Pendidikan formal dapat coraknya diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah (pusat), pemerintah daerah dan masyarakat
Pendidikan dasar yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah berbentuk lembaga sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau
bentuk lain yang sederajat, serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (Mts) atau bentuk lain yang sederajad.
Sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar, bagi anak usia 0-6 tahun diselenggarakan
pendidikan anak usia dini, tetapi bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan
dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal (TK, atau
Raudatul Athfal), sedangkan dalam nonformal bisa dalam bentuk ( TPQ, kelompok
bermain, taman/panti penitipan anak) dan/atau informal (pendidikan keluarga atau
pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan
Sedangkan Pendidikan menengah yang merupakan kelanjutan pendidikan dasar terdiri atas,
pendidikan umum dan pendidikan kejuruan yang berbentuk sekolah menengah atas
(SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah
kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajad.
Yang terakhir adalah pendidikan tinggi yang merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah, pendidikan ini mencakup program pendidikan
1). Diploma
2). Sarjana
3). Magister
4). Doktor,
Perguruan tinggi memiliki beberapa bentuk
1). Akademi
2). Politeknik
3). Sekolah tinggi
4). Institut atau universitas
yang secara umum lembaga-lembaga tinggi ini dibentuk dan diformat untuk
menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, serta
menyelenggarakan program akademik, profesi dan advokasi.
Semua lembaga formal di atas diberi hak dan wewenang oleh pemerintah untuk
memberikan gelar akademik kepada setiap peserta didik yang telah menempuh pendidikan
di lembaga tersebut. Khusus bagi perguruan tinggi yang memiliki program profesi sesuai
dengan program pendidikan yang diselenggarakan doktor berhak memberikan gelar doktor
kehormatan (doktor honoris causa) kepada individu yang layak memperoleh penghargaan
berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi,
kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni.
Untuk menanggulangi permasalahan yang cukup aktual dan meresahkan masyarakat saat
ini, seperti pemberian gelar-gelar instan, pembuatan skripsi atau tesis palsu, ijazah palsu
dan lain-lain, pemerintah telah mengatur dan mengancam sebagai tindak pidana dengan
sanksi yang juga telah ditetapkan dalam UU Sisdiknas yang baru (Bab XX Ketentuan
Pidana, pasal 67-71).
3). Nonformal (masyarakat)
Pendidikan nonformal, atau pendidikan kedua meliputi pendidikan kecakapan hidup,
pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,
pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan
kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik. Satuan pendidikan nonformal meliputi lembaga kursus, lembaga pelatihan,
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), dan majelis taklim, serta
satuan pendidikan yang sejenis. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan
hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh
lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah dengan mengacu
pada standard nasional pendidikan. Adapun pendidikan nonformal diselenggarakan bagi
warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai
pengganti, penambah, atau ingin melengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung
pendidikan sepanjang hayat, yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan
penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta
pengembangan sikap dan kepribadian profesional

a. Setiap lembaga pendidikan luar sekolah memiliki unsur-unsur sebagai berikut :


• Pimpinan/pengelola lembaga/kursus
• Sumber belajar
• Warga belajar
• Kurikulum/program belajar
• Prasarana belajar
• Sarana belajar
• Tata usaha lembaga belajar
• Dana belajar
• Rencana pengambangan
• Usaha-usaha bersifat pengabdian
• Hasil belajar
• Ragi blajar
b. Pendaftaran dan perizinan
Mendirikan lembaga pendidika luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat baik
perorangan, kelompok, agar mendapat pengakuan dari Dikmas tingkat kecamatan,
kotamadya/kabupaten harus mendaftarkan diri/lembaganya.
• Tahap pertama : Tercatat, yaitu suatu tahap lembaga PLS telah dicatat oleh penilik
pendidikan masyarakat setempat.
• Tahap kedua : Terdaftar, yaitu suatu tahap lembaga PLS telah terdaftar pada kepala seksi
Dikmas dengan petunjuk penilik Dikmas. Status terdaftar ini merupakan masa percobaan
dan berlaku paling lama 6 bulan.
• Tahap ketiga : Izin penyelenggara kursus PLS.
c. Kewenangan member dan mencabut izin penyelenggaraan kursus Diklusemas.
• Teguran lisan oleh kepala Kantor Depdikbud Kecamatan
• Peringatan tertulis I, II dan III dilakukan oleh kepala Kantor Depdikbud
Kabupaten/Kotamadya dengan tembusan Kepala Kanwil Depdikbud Propinsi dan Direktur
Pendidikan Masyarakat.
• Pencabutan izin untuk sementara dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Depdikbud
Propinsi dengan tembusan Kepala Direktur Dikmas.
• Pencabutan izin sepenuhnya oleh Kakanwil Depdikbud Propinsi, bila dalam waktu 3
bulan berturut-turut setelah pencabutan izin sementara penyelenggara jursus
mengabaikannya.
Ketiga klasifikasi di atas dalam pergumulanya di masyarakat memiliki peran yang
berbeda-beda, lembaga pendidikan pertama, yaitu informal atau keluarga, ranah garapanya
adalah lebih banyak diarahkan dalam pembentukan karakter atau keyakinan dan norma.
Lembaga pendidikan kedua, yaitu formal atau sekolah, peran besarnya lebih banyak di
arahkan pada pengembangan penalaran murid. Yang terakhir lembaga pendidikan ketiga,
yaitu masyarakat, perannya lebih banyak pada pembentukan karakter sosial.
Ketiga pembagian di atas adalah merupakan perubahan mendasar, Dalam Sisdiknas yang
lama pendidikan informal (keluarga) tersebut sebenarnya juga telah diberlakukan, namun
masih termasuk dalam jalur pendidikan luar sekolah, dan ketentuan
penyelenggaraannyapun tidak konkrit.
D. Berbagai Bentuk Lembaga Pendidikan
1. Lembaga Pendidikan Keluarga
Sebagai transmisi pertama dan utama dalam pendidikan, keluarga memiliki tugas utama
dalam peletakan dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.
Dikatakan pertama karena keluarga adalah tempat dimana anak pertama kali mendapat
pendidikan. Sedangkan dikatakan utama karena hampir semua pendidikan awal yang
diterima anak adalah dalam keluarga. Karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan
tertua, yang bersifat informal dan kodrat. Lahirnya keluarga sebagai pendidikan dimulai
sejak manusia itu ada. Ayah dan ibu sebagai pendidik, dan anak sebagai terdidik. Tugas
keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak berikutnya, agar anak
dapat berkembang secara baik.
Fungsi dan Peranan Pendidikan Keluarga
1) Pengalaman Pertama Masa Kanak-Kanak
Pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya,
khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab
pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan selanjutnya.
2) Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Tiga hal yang menjadi pokok dalam pembentukan emosional anak, adalah :
a) Pemberian perhatian yang tinggi terhadap anak, misalnya dengan menuruti kemauannya,
mengontrol kelakuannya, dan memberikan rasa perhatian yang lebih.
b) Pencurahan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu dengan berucap lemah lembut, berbuat
yang menyenangkan dan selalu berusaha menyelipkan nilai pendidikan pada semua
tingkah laku kita.
c) Memberikan contoh kebiasaan hidup yang bermanfaat bagi anak, yang diharapkan akan
menumbuhkan sikap kemandirian anak dalam melaksanakan aktifitasnya sehari-hari.
3) Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Seperti pepatah ―Buah jatuh tak jauh dari pohonnya‖. Anak akan selalu berusaha
menirukan dan mencontoh perbuatan orang tuanya. Karenanya, orang tua harus mampu
menjadi suri tauladan yang baik. Misalnya dengan dengan mengajarkan tutur kata dan
perilaku yang baik bagi anak-anaknya.
4) Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam kehidupan sosial merupakan satu tempat awal
bagi anak dalam mengenal nilai-nilai sosial. Di dalam keluarga, akan terjadi contoh kecil
pendidikan sosial bagi anak. Orang tua sebagai teladan, sudah semestinya memberikan
contoh yang baik bagi anak-anak. Misalnya memberikan pertolongan bagi anggota
keluarga yang lain, menjaga kebersihan dan keindahan dalam lingkungan sekitar.
5) Peletakkan Dasar-dasar Keagamaan
Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam usaha menanamkan nilai dasar
keagamaan. Kehidupan keluarga yang penuh dengan suasana keagamaan akan memberikan
pengaruh besar kepada anak. Kebiasaan orang tua mengucapkan salam ketika akan masuk
rumah merupakan contoh langkah bijaksana dalam upaya penanaman dasar religius anak.
Dalam hal ini keluarga bertanggung jawab atas apa yang diajarkan kepada anak sebagai
peserta didik. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diberikan kepada peserta didik
(anak) oleh keluarga:
1) Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan
anak. Hubungan yang tidak didasari cinta kasih akan menimbulkan beberapa sifat negatif
bagi perkembangan anak. Begitu pula, tidak cukupnya kebutuhan anak akan kasih sayang
akan membuat anak selalu merasa tertekan dan ragu dalam menjalani kehidupan
selanjutnya.
2) Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua
terhadap keturunannya. Usia anak yang masih dini akan cukup membantu orang tua dalam
penanaman sikap-sikap hidup. Rasa ingin tahu anak akan menghasilkan pengetahuan yang
asli dan berakar bagi anak. Keluarga harus mampu menggunakan masa ini untuk betul-
betul membentuk kepribadian awal anak sebagai anggota keluarga.
3) Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga pada gilirannya akan menjadi
tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara. Masyarakat yang sejahtera dibentuk dari
keluarga-keluarga yang sejahtera pula. Keluarga merupakan awal perubahan dalam
kehidupan bermasyarakat, karena itu keluarga mempunyai tanggung jawab membentuk
masyarakat yang sejahtera.
4) Memelihara dan membesarkan anaknya. Ikatan darah dan batin antara orang tua dan
anak akan memberikan dorongan alami bagi orang tua untuk betul-betul mendidik anak
menjadi apa yang mereka inginkan.
5) Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.
2. Lembaga Pendidikan Sekolah
Akibat terbatasnya kemampuan orang tua dalam mendidik anaknya, maka dipercayakanlah
tugas mengajar itu kepada orang dewasa lain yang lebih ahli dalam lembaga pendidikan
formal, yaitu guru. Sekolah sebagai wahana pendidikan ini, menjadi produsen penghasil
individu yang berkemampuan secara intelektual dan skill. Karenanya, sekolah perlu
dirancang dan dikelola dengan baik. Karakteristik proses pendidikan di sekolah, antara lain
:
a. Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenis jenjang yang memiliki hubungan
hierarkis.
b. Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan relatif homogen
c. Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus
diselesaikan
d. Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat akademis dan umum
e. Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawaban kebutuhan di masa yang
akan datang.
Sekolah lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari, oleh dan untuk masyarakat.
Sekolah berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga
negara.
a. Fungsi Lembaga Sekolah
1) Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik
2) Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
3) Efisiensi. Pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis, juga
jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi pendidikan anak
dan juga bagi orang tua.
4) Sosialisasi, yaitu proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu
beradaptasi dengan masyarakat.
5) Konservasi dan transmisi kultural, yaitu pemeliharaan warisan budaya. Dapat dilakukan
dengan pencarian dan penyampaian budaya pada anak didik selaku generasi muda.
6) Transisi dari rumah ke masyarakat. Sekolah menjadi tempat anak untuk melatih berdiri
sendiri dan tanggung jawab anak sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.
b. Peranan Lembaga Sekolah
1) Tempat anak didik belajar bergaul, baik sesamanya, dengan guru dan dengan karyawan.
2) Tempat anak didik belajar mentaati peraturan sekolah.
3) Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi
agama, bangsa dan agama.
c. Tanggung Jawab Sekolah
1) Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan
menurut ketentuan yang berlaku.
2) Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan dan tingkat pendidikan.
3) Tanggung jawab fungsional adalah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana
pendidikan yang menerima ketetapan ini berdasarkan ketentuan jabatannya.
d. Sifat-sifat Lembaga Pendidikan Sekolah
1) Tumbuh sesudah keluarga (pendidikan kedua), maksudnya sekolah memikul tanggung
jawab dari keluarga untuk mendidik anak-anak mereka.
2) Lembaga Pendidikan Formal, dalam arti memiliki program yang jelas, teratur dan resmi.
3) Lembaga pendidikan tidak bersifat kodrati. Maksudnya hubungan antara guru dan murid
bersifat dinas, bukan sebagai hubungan darah.
e. Macam-macam Sekolah
1) dari Segi yang Mengusahakan
a) Sekolah negeri, yaitu sekolah yang diusahakan oleh pemerintah, baik segi fasilitas,
keuangan maupun tenaga pengajar.
b) Sekolah swasta, yaitu sekolah yang diusahakan oleh badan-badan swasta. Terdiri atas 4
status yakni : Disamakan, Diakui, Terdaftar dan Tercatat.
2) Ditinjau dari Tingkatan
a) Pendidikan Pra Sekolah, yaitu pendidikan sebelum Sekolah Dasar.
b) Pendidikan Dasar, yaitu : Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah dan SLTP/ MTs.
c) Pendidikan Menengah, yaitu : SLTA & Kejuruan atau Madrasah Aliyah.
d) Pendidikan Tinggi, yaitu : Akademi, Institut, Sekolah Tinggi atau Universitas.
3) Ditinjau dari sifatnya
a) Sekolah Umum, yaitu sekolah yang belum mempersiapkan anak dalam spesialisasi pada
bidang pekerjaan tertentu. Misalnya : SD, SLTP dan SLTA.
b) Sekolah Kejuruan, yakni lembaga pendidikan sekolah yang mempersiapkan anak untuk
menguasai keahlian-keahlian tertentu. Misalnya : SMEA, MAK, SMK dan STM.
f. Sumbangsih Khas Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan
1) Sekolah Melaksanakan tugas mendidik maupun mengajar anak, serta memperbaiki,
memperluas tingkah laku si anak didik.
2) Sekolah mendidik maupun mengajar anak didik menerima dan memiliki kebudayaan
bangsa
3) Sekolah membantu anak didik mengembangkan kemampuan intelektual dan
keterampilan kerja.
3. Lembaga Pendidikan Masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi
seseorang. Dalam hal ini, masyarakat mempunyai peranan penting dalam upaya ikut serta
menyelenggarakan pendidikan, membantu pengadaan tenaga & biaya, sarana dan
prasarana dan menyediakan lapangan kerja. Karenanya, partisipasi masyarakat membantu
pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa yang sangat diharapkan.
Pendidikan dalam masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah
b. Peserta umumnya mereka yang tidak bersekolah atau drop out
c. Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek
d. Peserta tidak perlu homogen
e. Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis
f. Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus
g. Keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan
meningkatkan taraf hidup
1. Beberapa Istilah Jalur Pendidikan Luar Sekolah
a. Pendidikan Sosial, yaitu proses yang diusahakan dengan sengaja di dalam masyarakat
untuk mendidik individu & lingkungan sosial, supaya bebas dan bertanggung jawab.
b. Pendidikan Masyarakat, merupakan pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa,
termasuk pemuda di luar batas umur tertinggi kewajiban belajar dan dilakukan di luar
lingkungan dan sistem persekolahan resmi.
c. Pendidikan Rakyat adalah tindakan-tindakan atau pengaruh yang terkadang mengenai
seluruh rakyat.
d. Pendidikan Luar Sekolah adalah pendidikan yang dilakukan di luar sistem persekolahan
biasa.
e. Mass Education adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa di luar
lingkungan sekolah
f. Adult Education adalah pendidikan untuk orang dewasa yang mengambil umur batas
tertinggi dari masa kewajiban belajar.
g. Extension Education adalah suatu bentuk dari adult education, yaitu pendidikan yang
diselenggarakan di luar sekolah biasa, yang khusus dikelola oleh Perguruan Tinggi untuk
menyahuti hasrat masyarakat yang ingin masuk dunia Universitas, misalnya Univ. Terbuka
h. Fundamental Education ialah pendidikan yang bertujuan membantu masyarakat untuk
mencapai kemajuan sosial ekonomi, agar mereka dapat menempati posisi yang layak
2. Sasaran dan Program Pendidikan Jalur Luar Sekolah
a. Para buruh dan Petani
Kebanyakan berpendidikan rendah atau bahkan tidak sama sekali. Pendidikan yang
diberikan adalah pendidikan yang mampu menolong meningkatkan produktifitas dengan
mengajarkan keterampilan dan metode baru, yang mendidik mereka agar bisa memenuhi
kewajiban sebagai warga negara dan kepala keluarga serta mampu menggunakan waktu
secara efektif.
b. Para Remaja Putus Sekolah
Golongan remaja yang menganggur memerlukan pendidikan yang menarik, merangsang
dan relevan dengan kebutuhan hidupnya.
c. Para Pekerja yang Berketerampilan
Agar mampu menghadang berbagai tantangan masa depan, maka program pendidikan yang
diberikan kepada mereka hendaknya yang bersifat kejuruan dan teknik. Dengan tujuan
dapat menyelamatkan mereka dari bahaya keuangan, pengetahuan dan keterampilan yang
mereka miliki serta membuka jalan bagi mereka untuk naik ke jenjang hidup yang lebih
baik.
d. Golongan Teknisi dan Profesional
Mereka memegang peranan penting dalam kemajuan masyarakat. Karenanya, peran
mereka harus dioptimalkan dengan memperbaharui dan menambah pengetahuan serta
keterampilannya.
e. Para Pemimpin Masyarakat
Termasuk di dalamnya para pemimpin politisi, agama, sosial dan sebagainya. Mereka
dituntut mampu mengaplikasikan berbagai pengetahuan mereka dan berusaha untuk
memperbaharui sikap dan gagasan yang sesuai dengan kemajuan dan pembangunan.
f. Anggota Masyarakat yang Sudah Tua
Akibat perkembangan zaman, banyak ilmu pengetahuan yang tidak mereka dapatkan.
Karena itu pendidikan merupakan kesempatan yang berharga bagi mereka.
E. Keterkaitan antara Lembaga Pendidikan Dan Perubahan Sosial
Telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari
generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan
nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah diemban oleh
orang-orang yang terbeban terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang
yang punya visi ke depan, yaitu menjadikan serta mencetak generasi yang lebih baik dan
beradab. Peradaban kuno mencatat methode penyampaian ajaran lewat tembang dan
kidung, puisi ataupun juga cerita sederhana yang biasanya tentang kepahlawanan
Perubahan sosial budaya masyarakat sebagaimana yang kita bicarakan di atas tidak akan
pernah bisa kita hindari, sehinga akan menuntut lembaga pendidikan sebagai agen
perubahan untuk menjawab segala permasalahan yang ada. Dalam permasalahan ini
lembaga pendidikan haruslah memiliki konsep dan prinsip yang jelas, baik dari lembaga
formal ataupun yang lainya, demi terwujudnya cita-cita tersebut, kiranya maka perlulah
diadakanya pembentukan kurikulum yang telah disesuaikan. Prinsip dasar pembentukan
tersebut adalah meliputi:
1. Perumusan tujuan institusional yang meliputi:
a. Orientasi pada pendidikan nasional
b. Kebutuhan dan perubahan masyarakat
c. Kebutuhan lembaga.
2. Menetapkan isi dan struktur progam
3. Penyusunan strategi penyusunan dan pelaksanaan kurikulum
4. Pengembangan progam
diharapkan nanti dengan persiapan dan orientasi yang jelas sebagaimana di atas,
diharapkan lembaga-lembaga pendidikan akan mampu mencetak kader-kader perubahan ke
arah perbaikan di masyarakat. Selanjutnya mengenai pengembangan kurikulum ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan, yaitu:
1. relevansi dengan dengan pendidikan lingkungan hidup masyarakat
2. sesuai dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan akan datang
3. efektifitas waktu pengajar dan peserta didik
4. efisien, dengan usaha dan hasilnya sesuai
5. kesinambungan antara jenis, progam, dan tingkat pendidikan
6. fleksibelitas atau adanya kebebasan bertindak dalam memilih progam, pengembangan
progam, dan kurikulum pendidikan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan seumur hidup dikelola atas tanggung jawab
keluarga, sekolah dan masyarakat. Dimana masing-masing mempunyai tanggung jawab
yang terpadu dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
1. Keluarga sebagai lingkungan pertama, bertanggung jawab untuk memberikan dasar
dalam menumbuh kembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius.
2. Sekolah sebagai lingkungan kedua bertugas mengembangkan potensi dasar yang
dimiliki masing-masing individu agar mempunyai kecerdasan intelektual dan mental. Dari
individu yang cerdas, akan lahir bangsa yang cerdas yang mampu memecahkan
masalahnya sendiri.
3. Masyarakat sebagai lembaga ketiga memberikan anak kemampuan penalaran,
keterampilan dan sikap. Juga menjadi ajang pengoptimalan perkembangan diri setiap
individu.
Dengan mehamami beberapa pembagian dan penjelasan tentang masalah-masalah yang
melingkupi lembaga pendidikan masing–masing, diharapkan adanya agen-agen yang
mampu merubah kondisi negeri ini dari keterpurukan nasional, tentunya hal ini juga
diperlukan adanya langkah nyata serta bantuan baik moril ataupun materil dari pemerintah
maupun masyarakat terhadap semua undang-undang yang telah dicanagkan agar bisa
terlaksan dengan sempurna. Walaupun dari beberapa undang-undang yang telah di
tetapkan oleh pemerintah tidak luput dari kritik dari beberapa tokoh liberal karena negara
telah memasukan pemahasan-pembahasan agama kedalam undang-undang yang berpotensi
menumbuhkan gesekan antar agama. Tentunya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi
agama haruslah mengangap bahwa hal itu hanya sebagai salah satu koreksi ke arah yang
lebih baik atas peran lembaga pendidikan di masyarakat.
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
A. Lembaga Pendidikan

Secara bahasa lembaga adalah suatu organisasi dan pendidikan adalah usaha
manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk
menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka
mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah,
terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai
sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan
menjadi salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.

Pendidikan islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional.Karena itu
sebagian sub sistem, maka masing- masing lembaga pendidikan islam yang ada
berfungsi untuk mencapai tujuan lembaga yang ditetapkan. Keberadaan lembaga-
lembaga pendidikan islam baik pesantren, madrasah atau sekolah-sekolah agama dan
perguruan tinggi agama islam memiliki peranan yang besar bagi pencapaian tujuan
pendidikan nasional.

Peran yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan
nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : ―pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab‖[1].

a. Sekolah

Sekolah merupakan salah satu lembaga penyelenggara pendidikan secara


formal di Indonesia. Di dalamnya berlangsung proses pendidikan sebagai usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri , kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

b. Madrasah

Keberadaan madrasah sudah ada sejak agama Islam berkembang di


Indonesia. Madrasah tumbuh dan berkembang dari bawah dalam arti (umat islam)
sendiri yang didorong oleh rasa tanggung jawab untuk mengamalkan ajaran agam
islam kepada generasi muda. Oleh sebab itu, madrasah pada waktu itu lebih
ditekankan pada pendalaman ilmu-ilmu islam.

Pada saat ini kebijakan baru pemerintah menetapkan keberadaan madrasah


telah dipandang sebagai sekolah umum yang bercirikan agama islam dengan
tanggung jawabnya mencakup: 1) Sebagai lembaga pencerdasan kehidupan
masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat muslim, 2) Sebagai lembaga
pelestarian budaya keislaman, 3) Sebagai lembaga pelopor bagi peningkatan
kualitas masyarakat Indonesia.

c. Pesantren

Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua di Indonesia.


Pesantren difungsikan sebagai suatu lembaga yang dipergunakan untuk penyebaran
agama, tempat mempelajari agama islam, mengusahakan pembinaan tenaga-tenaga
bagi pengembangan agama. Kemampuan pondok pesantren bukan hanya dalam
pembinaan pribadi muslim, melainkan dalam usaha mengadakan perubahan social
dan kemasyarakatan. Sebagai lembaga sosial pesantren menampung anak-anak dari
segala lapisan masyarakat muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial ekonomi
orang tuanya.

B. Lembaga Sosial dan Lembaga Profit

1.) Pengertian lembaga sosial

Lembaga sosial adalah suatu lembaga yang lebih menekankan kepada suatu
sistematau kompleks nilai dan norma. Pengertian lain dari lembaga sosial juga lebih
dikenal dengan lembaga kemasyarakatan. Sistem nilai dan norma atau tata kelakuan ini
berpusat di sekitar kepentingan atau tujuan tertentu.didalam perkembangan selanjutnya,
norma-norma tersebut berkelompok-kelompok pada berbagai keperluan pokok kehidupan
manusia. Misalnya kebutuhan akan pendidikan menimbulkan lembaga-lembaga
pendidikan .

Sumber dana lembaga sosial

1. pertukaran jasa

2. hibah

3. donor

4. pendapatan

Ciri-ciri umum lembaga sosial

1. suatu lembaga kemasyarakatan adalah organisasi pola-pola pemikiran dan pola-


pola perilaku yang terwujud melalui aktifitas-aktifitas kemasyarakatan dan hasil-
hasilnya.
2. suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga
kemasyarakatan.
3. lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu
4. lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan
untuk mencapai tujuan lembaga bersangkutan.
5. lambing-lambang biasanya juga merupakan ciri khas dari lembaga kemasyarakatan.
6. suatu lembaga mempunyai tradisi tertulis ataupun yang tidak tertulis.

Tipe-tipe lembaga kemasyarakatan

1. lembaga primer, lembaga-lembaga yang secara tidak sengaja tumbuh dari adapt
istiadat masyarakat
2. lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan
mempertahankan tata tertib dalam masyarakat
3. lembaga-lembaga yang diterima masyarakat

2.) Lembaga Profit

Lembaga profit adalah suatu lembaga yang menghimpun dana, sumberdaya, dan
memperkuat organisasi, dengan tujuan mencapai keuntungan di akhir kegiatan.

Sumber dana lembaga profit:


1. Pertukaran barang
2. Pertukaran jasa
3. Keuntungan
4. Investasi

Prinsip-prinsip lembaga profit

1. Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil


2. Kemitraan, yakni kesejajaran sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk
memperoleh keuntungan
3. Transparansi
4. Universal, tidak ada perbedaan yang khususnya didasarkan atas perbedaan suku,
agama, golongan

Lingkungan Pendidikan, Dimensi dan Tipologi Lingkungan


C.

Pengertian lingkungan pendidikan adalah alam sekitar yang berpengaruh terhadap


pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Lingkungan pendidikan terbagi tiga dimensi,
yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Tipologi
pendidikan yang mempengaruhi pendidikan, antara lain:

a.Tipologi lingkungan keluarga

Seorang anak mulai mengenal hidup dan kehidupannya dimulai di dalam


keluarga. Seorang anak masuk dalam keluarga mulai dari kandungan hingga
tumbuh berkembang sampai anak sanggup melepaskan diri dari ikatan keluarga.
Berdasarkan kenyataan dapat disimpulkan bahwa pengaruh lingkungan keluarga
sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dasar-dasar perilaku
akan ditentukan oleh adat istiadat orang tuanya, juga sifat sikap hidup serta
kebiasaan-kebiasaan orang tuanya.[2]

b.Tipologi lingkungan sekolah

Sekolah merupakan lingkungan pendiidkan kedua setelah lingkungan rumah.


Sekolah merupakan tempat latihan persahabatan dan persaudaraan. Suasana
sekolah ditentukan oleh petugas-petugas yang berbeda-beda sehingga dapat
menghilangkan kejenuhan. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya
tanggung jawab pendidikan bagi anak-anaknya itu kepada sekolah. Dengan
demikian, guru di sekolah berperan sebagai pendidik pengganti orang tua yang
harus bertanggung jawab atas pendidikan.

Tipologi lingkungan masyarakat


c.

Arti masyarakt menurut Cook adalah sekumpulan orang yang menempati suatu
daerah, diikat oleh kebiasaan dan pengalaman-pengalaman yang sama, serta
memiliki sejumlah persesuaian, kesatuan dan tindakan yang sama di dalam
kehidupannya. Lingkungan mayarakat sangat mempengaruhi perkembangan
anak, seperti :

a) Perkembangan intelektual antara lain : tingkat kecerdasan, kecepatan


reaksi, kapasitas sintesa, kapasitas ingatan dan pengembangan
bakat khusus.

b) Perkembangan emosi anak seperti : perasaan senagn, sedih, gembira,


ramah, pendiam, pemarah dan seterusnya

c) Perkembangan kepribadian seperti memilliki cita-cita yang teguh,


memiliki rasa tanggung jawab, mengetahui hak dan kewajiban,
percaya diri dan sebagainya.

D. Sistim Pendidikan Nasional

Sistem pendidikan nasional (sisdiknas) adalah suatu keseluruhan yang


terpadu dari semua sistem dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan
yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya pendidikan nasional. (UU No.
2/1989, pasal 1 ayat 3)

Dengan lahirnya UU no. 2 tahun 1989 tersebut segala sesuatu yang berkaitan
dengan pendidikan harus dilaksanakan dan bersumber pada undang-undang
tersebut[3].

Sisdiknas menjamin dan memberikan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia dua
hal yang sangat penting:
1.Dari segi akademik memberikan kesempatan kepada warga Negara Indonesia
untuk memperoleh pendidikan dalam arti kegiatan belajar yang seluas-luasnya
sehingga terbentuknya manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang
berkualitas dan mandiri.

2.Dari segi pengelolaan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut


serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, sehingga tercapai efisiensi
pengadaan dan penggunaan sumber daya.

Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, MSc., Ed., mengemukakan 10 kecenderungan


pengembangan megatrend Sisdiknas :

1.Pendidikan Dasar

2.Kurikulum

3.Proses belajar mengajar

4.Tenaga pendidik

5.Pendidikan, pelatihan, dan tenaga kerja

6.Pendidikan Tinggi

7.Pendidikan berkelanjutan

8.Pembiayaan pendidikan

9.Desentralisasi pendidikan dan partisipasi masyarakat

10. Manajemen pendidikan

Berlandaskan GBHN 1993 dan GBHN 1998, departemen pendidikan dan


kebudayaan telah menetapkan empat dasar pendidikan, yaitu : pemerataan
kesempatan untuk memperoleh pendidikan, relevansi, peningkatan kualitas
pendidikan, dan efisiensi.
Fungsi Sisdiknas menurut Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, MSc., Ed., membaginya
dalam dua bagian[4]:

1.Fungsi umum Sisdiknas, meliputi dua kategori politik dan kebudayaan

a. Kategori Politik

Menekankan kepada pertumbuhan nasionalisme yang sehat pada setiap


sikap dan cara berfikir anak Indonesia. Erat kaitannya dengan nasionalisme
yang sehat ialah fungsi budaya pendidikan nasional, tumbuhnya rasa bangga
atas kepemilikan suatu budaya nasional sebagai suatu identitas bangsa.

b. Kategori kebudayaan

Dalam kategori ini ditekankan tentang pembudayaan nilai-nilai nasional


termasuk inti kebudayaan daerah.

2.Fungsi khusus Sisdiknas, meliputi dua dimensi, yaitu dimensi teknis dan dimensi
pembangunan

a. Fungsi dimensi teknis

dimensi ini meliputi hal-hal yang berkaitan dengan anak luar biasa, anak
cerdas, pendidikan keluarga, hak-hak peserta didik, anak cacat, dan
pentingnya bahasa daerah bagi pembentukan intelek serta kepribadian
peserta didik.

b. Dimensi pembangunan

dimensi ini meliputi kaitan pendidikan dengan lingkungan sosial,


pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, biaya ditanggung oleh
bersama antara pemerintah dan mesyarakat.

Dengan mengacu kepada kategorisasi Jeanne Bellatien, fungsi Sisdiknas dapat


dikategorikan dalam :

1. fungsi sosial, memerangi segala keterbelakangan dan kebodohan


2. fungsi pembaharuan dan inovasi, meningkatkan kehidupan dan martabat manusia
3. fungsi pengembangan sosial dan pribadi, menigkatkan rasa persatuan dan kesatuan
berdasarkan kebudayaan bangsa.
4. fungsi seleksi, mengembangkan kemampuan manusia Indonesia.

E. School Based Management

School based management adalah suatu manajemen yang memberikan otonomi


lebih luas ke sekolah-sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif kepada
komponen-komponen sekolah seperti guru, murid, kepala sekolah, staff, orang tua dan
masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.
Dengan otonomi yang lebih besar, maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar
dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya,
sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program–program.

Tujuan based management, antara lain:

1.Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam


mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.

2.Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan


pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama

3.Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan


pemerintah dalam penyelenggaraan program sekolah

4.Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang
akan dicapai

Sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri, sebagai berikut; tingkat


kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah ; bersifat adaptif dan
antisipatif/proaktif sekaligus ; memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif,
gigih, berani mengambil resiko) ; bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah ;
memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdaya ; memiliki
kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja ; komitmen yang tinggi pada dirinya dan
prestasi merupakan acuan utama
Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
Pengertian Manajemen

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur.[2] Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan
diterima secara universal.[3] Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen
sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa
seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan
organisasi.[4] Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk
mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat
dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada
dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.[5]

C. Fungsi Manajemen

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam
proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan
untuk mencapai tujuan.Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang
industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia
menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah,
mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas
menjadi tiga, yaitu:

1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan


sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan
secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer
mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan
kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk
memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari
semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak
dapat berjalan.
2. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan
besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan
untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian
dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa
yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa
yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus
diambil.
3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua
anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
manajerial dan usaha.
D. Sarana Manajemen

Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools
merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut
dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam
manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat
tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada
manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh
karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk
mencapai tujuan.

Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur
dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan/lembaga. Oleh karena itu uang
merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus
diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus
disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli
serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha
untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga
harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan
manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan
yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.

Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer.
Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas
dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-
fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat
meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak
mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan
utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan)


produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang
diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja
tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil
produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai
maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli
(kemampuan) konsumen

E. Pengertian Organisasi dan Pengorganisasian

Organisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan yang erat


dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukan
kegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara Pengorganisasian
merupakan salah satu fungsi organik dari manajemen dan ditempatkan sebagai fungsi
kedua setelah perencanaan (planning). Dengan demikian, antara organisasi dan
pengorganisasian memiliki pengertian yang berbeda.

James L. Gibson c.s., sebagaimana yang dikutip oleh Winardi, berpendapat bahwa:[6]
―…organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakat
mencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individu
yang bertidak secara sendiri‖

Organisasi-organisasi yang dibentuk oleh sekelompok orang pada dasarnya menginginkan


terwujudnya suatu hasil atau tujuan tertentu. Tujuan yang diinginkan tersebut tidak dapat
diperoleh secara individu tetapi perlu dilakukan upaya secara bersama dan terpadu.
Stephen R. Robbins memberikan rumusan pengertian organisasi sebagai berikut:
―… An organization is a consciously coordinated social entity, with a relatively
identifiable boundary, that functions on a relatively continuous basis to achieve a common
goal or set of goals‖.

Entitas sosial yang dikemukakan dalam definisi di atas berarti bahwa kesatuan tersebut
terdiri dari orang-orang atau kelompok orang yang saling berinteraksi. Pola-pola interaksi
yang diikuti orang-orang di dalam suatu organisasi tidak muncul begitu saja, akan tetapi
mereka dipertimbangkan sebelumnya. Mengingat bahwa organisasi-organisasi merupakan
entitas-entitas sosial, maka pola-pola interaksi para anggotanya perlu dipertimbangkan pula
serta diharmonisasi guna tercapainya tujuan yang diinginkan.

Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian kerja
dan struktur hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama
untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.[7]

Barnad, seperti yang dikutip Asnawir, organisasi adalah suatu sistem mengenai usaha
kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu.[8]
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa organisasi adalah tempat atau wadah
berkumpulnya beberapa orang yang secara sadar berinteraksi dan saling bekerja sama
untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama. Meskipun terdapat perbedaan
definisi tentang organisasi, akan tetapi secara umum organisasi itu memiliki ciri-ciri yang
sama. Edgar H. Schein, seorang psikolog keorganisasian terkemuka berpendapat bahwa
semua organisasi memiliki empat macam ciri atau karakteristik sebagai berikut.[9]

1. Koordinasi Upaya; Para individu yang bekerja sama dan mengkoordinasi upaya mental
atau fisikal mereka dapat mencapai banyak hal yang hebat dan yang menakjubkan.

2. Tujuan Umum Bersama; Koordinasi upaya tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak
yang telah bersatu, mencapai persetujuan untuk berupaya mencapai sesuatu yang
merupakan kepentingan bersama. Sebuah tujuan umum bersama memberikan anggota
organisasi sebuah rangsangan untuk bertindak.

3. Pembagian Kerja; Dengan jalan membagi-bagi tugas-tugas kompleks menjadi


pekerjaan-pekerjaan yang terspesialisasi, maka sesuatu organisasi dapat memanfaatkan
sumber-sumber daya manusianya secara efisien. Pembagian kerja memungkinkan para
anggota organisasi-organisasi menjadi lebih terampil dan mampu karena tugas-tugas
terspesialisasi dilaksanakan berulang-ulang.
4. Hierarki Otoritas; Para teoretisi organisasi telah merumuskan otoritas sebagai hak untuk
mengarahkan dan memimpin kegiatan-kegiatam pihak lain. Tanpa hierarki otoritas yang
jelas, koordinasi upaya akam mengalami kesulitan, bahkan kadang-kadang tidak mungkin
diilaksanakan. Akuntabilitas juga dibantu apabila orang-orang bekerja dalam rantai
komando ((he chain of command).

Lebih lanjut, Malayu S.P. Hasibuan menyimpulkan bahwa aspek-aspek penting dari
berbagai definisi organisasi adalah:[10]

1. adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai;

2. adanya sistem kerja sama yang terstruktur dari sekelompok orang;

3. adanya pembagian kerja dan hubungan kerja antara sesama karya wan;

4. adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan yang terintegrasi;

5. adanya keterikatan formal dan tata tertib yang harus ditaati;

6. adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas;

7. adanya unsur-unsur dan alat-alat organisasi;

8. adanya penempatan orang-orang yang akan melakukan pekerjaan.

Untuk lebih memahami hakikat organisasi, perlu diketahui pula unsur-unsurnya, yaitu:

1. Manusia (human factor), artinya organisasi baru ada jika ada unsur manusia yang
bekerja sama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin (bawahan).

2. Tempat Kedudukan, artinya organisasi baru ada, jika ada tempat kedudukannya.

3. Tujuan, artinya organisasi baru ada jika ada tujuan yang ingin dicapai.

4. Pekerjaan, artinya organisasi baru ada, jika ada pekerjaan yang akan dikerjakan serta
adanya pembagian pekerjaan.

5. Struktur, artinya organisasi baru ada, jika ada hubungan dan kerja sama antara manusia
yang satu dengan yang lainnya.

6. Teknologi, artinya organisasi baru ada, jika terdapat unsur teknis.

7. Lingkungan (Environment External Social System), artinya organisasi baru ada, jika ada
lingkungan yang saling mempengaruhi mi-salnya ada sistem kerja sama sosial.

Adapun pengorganisasian, juga didefinisikan oleh para pakarnya. Asnawir mengemukakan


bahwa istitah ―organizing[11] mempunyai arti yaitu berusaha untuk menciptakan suatu
struktur dan bagian untuk dapat berinteraksi dan saling pengaruh-mempengaruhi antara
satu sama lainnya. Pengorganisasian tersebut juga dapat diartikan sebagai penyusunan
tugas dan tanggung jawab para personil dalam organisasi.
George R. Terry, seperti yang dikutip Malayu S.P. Hasibuan, menuliskan: Organizing is
the establishing of effective behavioral relationships among persons so that they may work
together efficiently and gain personal satisfaction in doing selected tasks under given
environmental conditions for the purpose of achieving some goal or objective.[12]

Dari dua definisi di atas jelaslah bahwa pengorganisasian merupakan salah satu fungsi
manajemen setelah fungsi perencanaan sehingga masing-masing anggota organisasi
mendapat tugas dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan yang direncanakan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.

Kemudian, proses pengorganisasian juga mencakup kegiatan-kegiatan berikut:

1. Pembagian kerja yang harus dilakukan oleh individu atau kelompok-kelompok tertentu.

2. Pernbagian aktivitas menurut level kekuasaan dan tanggungjawab.

3. Pengelompokan tugas menurut tipe dan jenisnya.

4. Penggunaan mekanisme koordinasi kegiatan individu /kelompok.

5. Pengaturan hubungan kerja antara anggota organisasi.

Adapun langkah-langkah pengorganisasian dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Tujuan, manajer harus mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai; apa profit
motive atau service motive.

2. Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan dan


mengspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi
dan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

3. Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengelompokkan kegiatan-


kegiatan ke dalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama; kegiatan-kegiatan
yang bersamaan dan berkaitan erat disatukan ke dalam satu departemen atau satu bagian.

4. Pendelegasian wewenang, artinya manajer harus menetapkan besarnya wewenang yang


akan didelegasikan kepada setiap departemen.

5. Rentang kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah karyawan pada setiap
departemen atau bagian.

6. Perincian peranan perorangan, artinya manajer harus menetapkan dengan jelas tugas-
tugas setiap individu karyawan, supaya tumpang-tindih tugas terhindarkan.

7. Tipe organisasi, artinya manajer harus menetapkan tipe organisasi apa yang akan
dipakai, apakah ―line organization, line and staff organization ataukah function
organization‖.

8. Struktur organisasi (organization chart = bagan organisasi), artinya manajer harus


menetapkan struktur organisasi yang bagaimana yang akan dipergunakan, apa struktur
organisasi ―segitiga vertikal, segitiga horizontal, berbentuk lingkaran, berbentuk setengah
lingkaran, berbentuk kerucut vertikal/horizontal ataukah berbentuk oval‖.

Jika proses pengorganisasian dalam suatu organisasi di atas dilakukan dengan baik dan
berdasarkan ilmiah, maka organisasi yang disusun akan baik, efektif, efisien dan sesuai
dengan kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuannya.

Dengan demikian, antara organisasi (organization) dengan pengorganisasian (organizing)


memiliki hubungan yang sangat erat. Pengorganisasian yang baik akan menghasilkan
organisasi yang baik pula. Pengorganisasian diproses oleh organisator (manajer) sehingga
pengorganisasian itu bersifat dinamis dan hasilnya adalah organisasi yang bersifat statis.

Akan tetapi, hakikat organisasi juga bisa dipandang sebagai statis dan dinamis. Statis bila
organisasi sebagai wadah, tempat kegiatan administrasi dan manajemen. Sedangkan
dinamis ketika organisasi sebagai suatu proses, interaksi hubungan, formal (nampak di
bagan organisasi) dan informal (tidak diatur, tidak nampak dalam struktur). Hubungan
informal timbul, karena hubungan pribadi, kesamaan kepentingan, dan kesamaan interest
dengan kegiatan di luar.

Berangkat dari pengertian di atas maka dalam perkembangannya dan karena tuntutan
globalisasi muncul berbagai hal berkenaan dengan pengorganisasian, seperti struktur
organisasi yaitu pola formal bagaimana orang dan pekerja dikelompokkan dalam suatu
organisasi yang biasa digambarkan dengan bagan organisasi. Perilaku organisasi, yang
ditekankan pada perilaku manusia dalam kelompok, iklim organisasi yaitu serangkaian
sifat lingkungan kerja, kultur organisasi yaitu sistem yang dapat menembus nilai-nilai,
kepercayaan dan norma-norma di setiap organisasi, desain organisasi yaitu struktur
organisasi spesifik yang dihasilkan dari keputusan dan tindakan manajer, pengembangan
organisasi, politik organisasi, proses organisasi yaitu aktivitas yang memberi nafas pada
kehidupan struktur organisasi, dan profil organisasi yaitu suatu diagram yang menunjukkan
respons anggota organisasi.

Berkaitan dengan pengertian organisasi, dalam Alquran dicontohkan beberapa surat yang
berkaitan dengan organisasi, sebagaimana Firman Allah SWT yang berkaitan dengan:

a. perlunya persatuan, dalam surat: 2:43, 4:71, 37:1,

b. perlunya berbangsa-bangsa, dalam surat: 5:48, 22:34,67, 49:13

c. perlunya bersatu dan mengikuti jalan yang lurus, dalam surat: 30:31,32, 2:103,105, 6:59,
8:46 dan

d. perlunya saling tolong-menolong dan kerja sama, dalam surat: 5:2, 8:74, 9:71.
Jadi, organisasi ada karena untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini merupakan tujuan
organisasi.

Demikian pula dalam pendidikan Islam, organisasi juga dibutuhkan. Organisasi pendidikan
Islam dapat dipahami sebagai wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerja
sama dan beriteraksi dalam menerapkan dan mewujudkan tujuan pendidikan Islam dengan
tetap berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.
C. Sejarah Perkembangan Organisasi

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Hal ini turut mendorong manusia membentuk organisasi untuk mewujudkan cita-citanya.
Karena itu, organisasi muncul ketika manusia itu berkumpul dua orang atau lebih.

Bahkan, sebelum manusia terlahir ke muka bumi ini, benih-benih organisasi juga telah
tersirat sejak awal proses penciptaan manusia di alam rahim. Seperti yang dijelaskan oleh
ilmu kedokteran, sel sperma seorang laki-laki dikatakan normal apabila berjumlah minimal
20 juta sel sperma. Padahal, hanya satu sel yang dibutuhkan untuk melakukan pembuahan
dengan sel telur milik sang istri. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa manusia memang
ditakdirkan untuk berorganisasi dalam mencapai tujuan.

Demikian pula kisah nabi Adam as sebagai manusia pertama yang diungkap dalam al-
Qur‘an, ia juga membentuk kelurga bersama istrinya Hawa. Ketika mereka memiliki anak,
maka anak-anak tersebut mereka dididik dan diorganisir sedemikian rupa dengan pekerjaan
yang berbeda sesuai dengan bakat dan minat mereka. Seperti Qabil bekerja sebagai petani,
sedangkan Habil sebagai peternak. Hal ini terungkap dalam firman Allah SWT:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang
sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang
dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil):
―Aku pasti membunuhmu‖. berkata Habil: ―Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban)
dari orang-orang yang bertakwa‖. (Qs. al-Maidah/5: 27)

Sepanjang sejarah perkembangan manusia, juga ditemukan bukti-bukti bahwa organisasi


itu telah muncul di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan orang-orang Yunani, kerajaan-
kerajaan yang telah dibangun pada masa Romawi juga menunjukkan bahwa mereka telah
membentuk dan membangun organisasi yang baik.

Dengan demikian, manusia dan organisasi serta aktivitasnya telah berlangsung lama sejak
ribuan tahun silam, tapi yang dibutuhkan dan perlu untuk diketahui adalah akar
perkembangan organisasi pada abad ke-18 dan ke-19, yaitu:

1. Masa Praktik Awal

Ada tiga nama penting yang mempunyai pengaruh besar dalam menentukan arah dan
batasan dari perilaku organisasi, mereka itu adalah Adam Smith, Charles Babbage, dan
Robert Owen.

1. Adam Smith, 1776; Adam Smith telah memberikan kontribusi yang sangat penting
dengan doktrin ekonominya, yaitu spesialisasi bidang kerja atau pembagian tugas dengan
berbagai argumentasi yang sangat dalam. Adam Smith memberikan contoh pembagian
tugas dengan spesialisasi bidang kerja tertentu dalam pabrik pembuatan peniti. Ada
sepuluh orang pekerja dalam pabrik tersebut, setiap orang mempunyai tugas tertentu
dengan mengerjakan suatu bagian kerja tertentu. Sepuluh orang pekerja tersebut dapat
membuat 48.000 buah peniti tiap harinya. Selanjutnya, jika setiap pekerja mengambil
kawat sendiri-sendiri kemudian meluruskannya, membuatkan ujung batangnya, hasilnya
setiap pekerja mampu membuat satu peniti dalam satu hari. Kalau ada sepuluh pekerja
maka dapat membuat sepuluh peniti setiap hari. Dan spesialisasi bidang pekerjaan tertentu
pada masa sekarang ini sudah barang tentu termotivasi oleh keuntungan yang berlipat
ganda dari doktrin Adam Smith pada 2 abad silam.

2. Charles Babbage, 1832; Charles Babbage adalah seorang profesor matematika dari
Inggris yang telah mengembangkan sistem pembagian tugas yang telah diartikulasikan
pertama kali oleh Adam Smith. Babbage menambahkan beberapa keuntungan dengan
sistem pembagian tugas, yang telah dikemukakan oleh Adam Smith. Selain keterampilan,
menghemat waktu yang terkadang sering disia-siakan terbuang ketika penggantian tugas
satu ke tugas yang lain.

Keuntungan tersebut yaitu:

a. Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk belajar suatu pekerjaan.

b. Menghemat pemborosan material yang diperlukan dalam pelajaran pada tiap tingkatan.

c. Memungkinkan untuk menghasilkan tingkat keterampilan yang tinggi.

d. Memungkinkan kemampuan untuk membandingkan keterampilan seseorang dan bakat


fisik dengan tugas-tugas tertentu.

3. Robert Owen, 1825; Robert Owen adalah orang periling dan berjasa dalam sejarah
perilaku organisasi karena ia adalah seorang industrialis pertama yang mengingatkan
bagaimana sistem pabrik yang sedang tumbuh dan berkembang telah merendahkan para
pekerja. Ia menolak praktik-praktik kekerasan yang ia lihat di pabrik-pabrik, seperti anak
yang bekerja di bawah umur 10 tahun, 13 jam kerja tiap hari dengan kondisi kerja yang
menyedihkan. Owen menjadi seorang reformer, ia mencek para pemilik pabrik yang
memperlakukan peralatan lebih baik dibandingkan dengan para karyawannya, ia
mengkritik mereka yang membeli mesin dengan harga mahal sementara membayar para
pekerja yang menjalankan mesin tersebut dengan harga sangat murah. Owen mengatakan
bahwa mempergunakan uang untuk meningkatkan para pekerja merupakan salah satu
investasi terbaik yang menjadi pilihan para eksekutif bisnis, ia mengklaim bahwa
memperlihatkan concern kepada para karyawan akan sangat menguntungkan untuk
manajemen dan membebaskan kesengsaraan manusia. Untuk ukuran zaman Owen ia tentu
sangat idealis tapi seratus tahun setelah tahun 1825 ditetapkan jam kerja untuk semua,
undang-undang perburuhan anak, pendidikan untuk umum, perusahaan memberikan makan
pada waktu kerja.

2. Masa Klasik

Masa Klasik meliputi tahun 1900-1930. Selama periode ini, untuk pertama kali teori-teori
manajemen secara umum mulai dikembangkan, pada masa ini yang banyak kontribusi
dalam perilaku organisasi, mereka itu adalah Frederick W. Taylor, Henry Fayol, Max
Weber, Mary Panther Follet, dan Chester Bernard telah meletakkan dasar praktik-praktik
manajemen sekarang.

Manajemen secara Ilmiah

1. Frederick W Taylor; Frederick W Taylor menggambarkan prinsip-prinsip manajemen


secara ilmiah menampilkan tiga bab sebagai tujuan dari gerakannya:[13]
a. Untuk menegaskan bahwa Amerika Serikat telah dirugikan karena tidak adanya
efisiensi.

b. Maka solusi terletak pada manajemen yang sistematis bukan pada usaha mencari orang
yang istimewa.

c. Untuk membuktikan bahwa manajemen yang baik adalah suatu ilmu yang tepat yang
berdasarkan pada hukum-hukum yang jelas, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip. Awal
penggunaan manajemen yang ilmiah membuahkan hasil yang gemilang. Perusahaan motor
Ford berusaha melaksanakan prinsip-prinsip manajemen ilmiah di tahun 1908 dan berhasil
merakit suatu mobil hanya dalam waktu 14 menit. Dari pandangan ilmu perilaku,
pelaksanaan manajemen ilmiah mencoba memadukan asumsi-asumsi mekanik terhadap
ilmu-ilmu perilaku organisasi.

2. Teori Administratif dari Henry Fayol; Henry Fayol seorang industriawan Perancis
menerbitkan bukunya pada tahun 1919 yakni General and Industrial Administration. Yang
banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran manajemen di Eropa. Pandangan-
pandangannya dianggap sebagai suatu pemikiran tentang organisasi administratif. Fayol
berpendapat bahwa semua organisasi terdiri dari unit atau subsistem sebagai berikut:

a. Aspek teknik dan komersial dan dari kegiatan pembelian, produksi dan penjualan.

b. Kegiatan-kegiatan keuangan.

c. Unit-unit keamanan dan perlindungan

d. Fungsi perhitungan

e. Fungsi administratif dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, dan


pengendalian.

3. Teori Struktural dari Max Weber; Max Weber adalah pemikir dalam ilmu sosial dari
Jerman. Dua aspek kerja Weber yang relevan dengan perilaku organisasi yaitu:
Pcrtama, seorang ahli ilmu sosial, ia tertarik untuk menjelas-kan preskripsi dari
pertumbuhan organisasi yang besar.

Kedua, ia terkesan akan kelemahan-kelemahan manusia dan pertimbangan yang kadang-


kadang tidak realistis bahwa manusia mempunyai rasa emosi.
Teori Max Weber memiliki sifat:

a. Adanya spesialisasi atau pembagian kerja

b. Adanya hierarki yang berkembang

c. Adanya suatu sistem atau aturan dari suatu prosedur

d. Adanya hubungan kelompok yang impersonalitas

e. Adanya promosi dan jabatan yang berdasarkan kecakapan.


3.Gerakan Hubungan Kemanusiaan

Raymond Miles menyatakan bahwa pendekatan hubungan kemanusiaan secara sederhana


menempatkan karyawan sebagai manusia, tidak sebagai mesin yang dipergunakan dalam
berproduksi. Pada sejarah hubungan kemanusiaan ini terdapat tiga kejadian yang
memberikan kontribusi dalam penelaahan ilmu perilaku organisasi. Tiga kejadian itu
antara lain sam masa-masa depresi yang hebat, gerakan kaum buruh, dan basil penemuan
Howthorne.

a. Masa depresi; depresi yang terjadi pada tahun 1930-an menyebabkan goncangan yang
hebat di bidang keuangan. dan perekonomian pada umumnya. Penyebab depresi pada
umumnya antara lain:

a) Akumulasi stok barang yang baru yang besar di tangan konsumen

b) Konsumen menolak naiknya harga

c) Jarang investasi dalam skala usaha

d) Melemahnya kepercayaan dan harapan-harapan

e) Akumulasi yang besar dari kemampuan produksi sebagai basil pengembangan


teknologi.

Ledakan depresi menyadarkan manajemen untuk menghayati bahwa produksi tidak akan
bertahan lama sebagai unsur yang bertanggung jawab dalam manajemen. Di saat itu lalu
timbul gagasan untuk meletakkan unsur manusia sebagai unsur yang amat dominan dalam
manajemen, sebagai basil dari depresi hubungan kemanusiaan dan perilaku organisasi
mendapatkan tempat yang dominan dan perhatian yang seksama.

b. Gerakan Serikat Buruh; di tahun 1935 serikat buruh secara sah diakui (legally
entranced), banyak para manajer menjadi sadar dan mulai banyak memberikan
perhatiannya kepada buruh. Gerakan serikat buruh ini secara langsung ataupun tidak
langsung memberikan dampak yang besar terhadap studi perilaku organisasi individu-
individu yang mendukung kerja sama dalam suatu organisasi tertentu. Gerakan serikat
buruh tercatat dalam sejarah pengembangan studi perilaku organisasi, sebagai titik awal
dalam masa embrio berkembang gerakan kemanusiaan.

c. Penemuan Howthorne; Howthome mengadakan penelitian dengan tujuan untuk mencari


sampai di mana pengaruh hubungan antara kondisi fisik lingkungan kerja dengan
produktivitas karyawan. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa langkah. Langkah
pertama, percobaan tentang cahaya lampu antara tahun 1924-1927, hasilnya bahwa cahaya
penerangan lampu pada tempat kerja hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
kerja dan pengaruhnya kecil sekali. Langkah kedua, Howthorne menyediakan ruang
istirahat bagi karyawan. Hasilnya dari fase ini hampir sama dengan fase pertama. Langkah
ketiga, studi tentang ruang bank tilgram. Tujuannya untuk melakukan analisis pengamatan
terhadap kelompok pekerja informal.
Ternyata dalam fase ketiga ini tidak ada kenaikan produktivitas yang tinggi. Implikasi
penemuan Howthorne terhadap pengembangan tentang ilmu perilaku organisasi ternyata
amat besar dan penting sekali. Usaha-usaha penemuan ini merupakan satu dasar yang amat
berharga terhadap pendekatan perilaku di dalam segala aspek manajemen.

4. Organisasi Modern

Asumsi dasar tentang sifat manusia menurut ilmu organisasi modern adalah bukan baik
dan bukan buruk. Beberapa orang beranggapan bahwa manusia mempunyai keunikan
dalam perilaku hal yang terarah, lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia dalam
banyak hal menunjukkan sebagai sasaran yang tidak teratur.

Pendekatan yang dipakai untuk menganalisis perilaku manusia menurut ahli perilaku
organisasi modern, yaitu pada hakikatnya juga menggunakan metode eksperimen, dengan
memberikan penekanan pada observasi terkendali dan generalisasi data. Pengharapan-
pengharapan pada manajemen modern, yaitu pemahaman-pemahaman dari perilaku
manusia yang selalu bertambah dengan pemahaman ilmiah yang akan membawa ke arah
penyempurnaan kerja.

Selain dari sejarah perkembangan organisasi sebagai suatu ilmu yang terjadi di kalangan
ilmu barat, jauh sebelumnya juga ditemukan tokoh-tokoh dari Timur (baca: Islam) dalam
mengemukakan berbagai teori yang berkenaan dengan organisasi. Salah satu di antaranya
yang terkenal adalah Ibn Khaldun (1332 – 1406 M/732 – 808 H) diakui oleh para sarjana
baik muslim maupun non-muslim di Barat sebagai seorang sosiolog ternama. Dalam kitab
magnum opusnya, Muqaddimah, Ibn Khaldun banyak berbicara tentang teori masyarakat,
peradaban, perkembangan profesi, serta pentingnya berkumpul (organisasi) dalam
mewujudkan cita-cita bersama. Dalam Muqaddimah-nya,[14] Ibn Khaldun mengutip
pendapat para filosof—di sini Ibn Khaldun tidak menyebutkan nama-nama filosof
tersebut—―manusia adalah makhluk sosial‖ (al-insānu madaniyyun bit thab‘i). Pernyataan
ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan
orang lain dalam kehidupannya. Lebih lanjut, ia menuliskan;

Pernyataan ini mengandung makna bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian, dan
eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia tidak akan
mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur kehidupannya dengan sempurna secara
sendiri. Benar-benar sudah menjadi wataknya, apabila manusia butuh bantuan dalam
memenuhi kebutuhannya. Mula-mula, bantuan itu berupa konsultasi, lalu kemudian
berserikat serta hal-hal lain sesudahnya. Berserikat dengan orang lain, bila ada kesatuan
tujuan, akan membawa kepada sikap saling membantu. Tapi jika tujuannya berbeda, akan
menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, sehingga muncullah sikap saling membenci,
saling berselisih. Ini yang membawa peperangan atau perdamaian di kalangan bangsa-
bangsa.

Dalam pernyataan di atas, Ibn Khaldun menyebutkan sebagai makhluk sosial, manusia
selala berserikat (berorganisasi) jika memang ada kesatuan tujuan. Tampak jelas bahwa Ibn
Khaldun—yang hidup sekitar empat abad sebelum Adam Smith (1776)—telah memahami
teori organisasi. Dengan demikian, konsep organisasi sebenarnya telah dikemukakan oleh
para tokoh intelektual Islam ketika masa kejayaannya sebelum berkembangnya peradaban
Barat. Semua itu tidak terlepas dari isyarat-isyarat yang dikemukakan dalam al-Qur‘an
maupun Hadis sehingga melahirkan berbagai pemikiran yang brilliant dari generasi muslim
pada masa-masa selanjutnya.
D. Prinsip-prinsip, Fungsi dan Manfaat Organisasi

Agar terwujudnya suatu organisasi yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengan
kebutuhan, secara selektif harus didasarkan pada prinsip-prinsip organisasi sebagai berikut.

1. Principle of Organizational Objective (prinsip tujuan organisasi). Menurut prinsip ini


tujuan organisasi harus jelas dan rasional, apakah bertujuan untuk mendapatkan laba
(business organization) ataukah untuk memberikan pelayanan (public organization). Hal
ini merupakan bagian penting dalam menentukan struktur organisasi.

2. Principle of Unity of Objective (prinsip kesatuan tujuan). Menurut prinsip ini, di dalam
suatu organisasi harus ada kesatuan tujuan yang ingin dicapai. Organisasi secara
keseluruhan dan tiap-tiap bagiannya harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut.
Organisasi akan kacau, jika tidak ada kesatuan.

3. Principle of Unity of Command (prinsip kesatuan perintah) Menurut prinsip ini,


hendaknya setiap bawahan menerima perintah ataupun memberikan pertanggungjawaban
hanya kepada satu orang atasan, tetapi seorang atasan dapat memerintah beberapa orang
bawahan.

4. Principle of the Span of Management (prinsip rentang kendali). Menurut prinsip ini,
seorang manajer hanya dapat memimpin secara efektif sejumlah bawahan tertentu,
misalnya 3 sampai 9 orang. Jumlah bawahan ini tergantung kecakapan dan kemampuan
manajer bersangkutan.

5. Principle of Delegation of Authority (prinsip pendelegasian wewenang) Menurut prinsip


ini, hendaknya pendelegasian wewenang dari seseorang atau sekelompok orang kepada
orang lain jelas dan efektif, sehingga ia mengetahui wewenangnya.

6. Principle of Parity of Authority and Responsibility (prinsip keseimbangan wewenang


dan tanggung jawab) Menurut prinsip ini, hendaknya wewenang dan tanggung jawab harus
seimbang. Wewenang yang didelegasikan dengan tanggung jawab yang timbul karenanya
harus samabesarnya, hendaknya wewenang yang didelegasikan tidak meminta
pertanggungja wabany ang lebih besar dari wewenang itu sendiri atau sebaliknya.
Misalnya, jika wewenang sebesar X, tanggung jawabnya pun harus sebesar X pula.

7. Principle of Responsibility (prinsip tanggung jawab). Menurut prinsip ini, hendaknya


pertanggungjawaban dari bawahan terhadap atasan harus sesuai dengan garis wewenang
(line authority) dan pelimpahan wewenang; seseorang hanya bertanggung jawab kepada
orang yang melimpahkan wewenang tersebut.

8. Principle of Departmentation (principle of devision of work-prinsip pembagian kerja).


Menurut prinsip ini, pengelompokan tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-
kegiatan yang sama ke dalam satu unit kerja (departemen) hendaknya didasarkan atas
eratnya hubungan pekerjaan tersebut.

9. Principle of Personnel Placement (prinsip penempatan personalia). Menurut prinsip ini,


hendaknya penempatan orang-orang pada setiap jabatan harus didasarkan atas kecakapan,
keahlian dan keterampilannya (the right men, in the right job); mismanajemen penempatan
harus dihindarkan. Efektivitas organisasi yang optimal memerlukan penempatan karyawan
yang tepat. Untuk itu harus dilakukan seleksi yang objektif dan berpedoman atas job
specification dari jabatan yang akan diisinya.

10. Principle of Scalar Chain (prinsip jenjang berangkai). Menurut prinsip ini, hendaknya
saluran perintah/wewenang dari atas ke bawah harus merupakan mata rantai vertikal yang
jelas dan tidak terputus-putus serta menempuh jarak terpendek. Sebaliknya
pertanggungjawaban dari bawahan ke atasan juga melalui mata rantai vertikal, jelas dan
menempuh jarak terpendeknya. Hal ini penting, karena dasar organisasi yang fundamental
adalah rangkaian wewenang dari atas ke bawah; tindakan dumping hendaknya
dihindarkan.

11. Principle of Efficiency (prinsip efisiensi). Menurut prinsip ini, suatu organisasi dalam
mencapai tujuannya harus dapat mencapai hasil yang optimal dengan pengorbanan yang
minimal.

12. Principle of Continuity (prinsip kesinambungan). Organisasi harus mengusahakan cara-


cara untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

13. Principle of Coordination (prinsip koordinasi). Prinsip ini merupakan tindak lanjut dari
prinsip-prinsip organisasi lainnya. Koordinasi dimaksudkan untuk mensinkronkan dan
mengintegrasikan segala tindakan, supaya terarah kepada sasaran yang ingin dicapai.

Dalam konteks pendidikan Islam, prinsip-prinsip ini haruslah berlandaskan kepada


landasan ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Qur‘an dan Sunnah. Di antara prinsip organisasi
yang tersirat dalam al-Qur‘an dan Hadis adalah sebagai berikut:

1. Tujuan organisasi secara umum harus mencari dan menemukan keridhaan Allah SWT.
Meskipun tujuan lain dibangun bernuansa duniawi, akan tetapi hal-hal yang bersifat
duniawi tersebut adalah sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Firman-Nya:
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-
banyak supaya kamu beruntung. (Qs. al-Jumuah: 9-10)

2. Kerja sama yang dilakukan dalam suatu organisasi—termasuk segala proses yang
dijalankan—hanya dalam kebaikan, bukan dalam hal kemaksiatan, keburukan, atau
kemungkaran. Firman-Nya:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (Qs. Al-Maidah/5: 2)

3. Pemberian tugas dan wewenang kepada anggota organisasi berdasarkan kemampuan


yang mereka miliki. Dalam ajaran Islam, banyak hal hukum yang diterapkan berdasarkan
kemampuannya, seperti shalat duduk atau berbaring bagi orang yang sakit, mengganti
puasanya dengan fidyah bagi yang sakit dan sulit akan sembuh, dan sebagainya.

Demikian pula perintah memberi nafkah, juga berdasarkan kemampuan seseorang,


sebagaimana firman-Nya:
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang
disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang
Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
(Qs. ath-Thalaq/65: 7)

Dalam hal ini, juga diperlukan penyerahan tugas sesuai dengan keahliannya.

Rasulullah SAW bersabda:

Apabila suatu perkara/urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saat
kehancurannya. (HR. Bukhari).

4. Masing-masing anggota organisasi harus menjalankan tugasnya dengan baik dan


mempertanggungjawabkan setiap tugas yang diembannya. Rasulullah SAW bersabda:

Kalian semua adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang


kepemimpinannya… (muttafaq ‗alaih).

Mengenai tanggung jawab ini, juga dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam al-Qur‘an
surat ar-Ra‘du/13 ayat 11:

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu
kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap
mental) mereka.

5. Seluruh anggota organisasi secara kolektif bertanggung jawab terhadap individu-


individu yang ada dalam organisasi tersebut sehingga diperlukan adanya pembinaan
(supervisi), pendidikan, dan perhatian kepada mereka. Jika tidak, maka kesalahan yang
dilakukan oleh individu tertentu bisa merusak citra organisasi. Hal ini tersirat dalam firman
Allah SWT dalam surat al-Anfal/8 ayat 25:

Artinya: dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-
orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-
Nya.

6. Komunikasi yang digunakan dalam organisasi hendaklah dengan lemah lembut, tegas,
perkataan yang benar serta mengandung keselamatan, sesuai dengan kondisi yang
dibutuhkan. Mengenai pentingnya berkomunikasi dengan baik dan lemah lembut ini Allah
SWT berfirman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. (Qs. Ali Imran/3: 159)
Dalam al-Qur‘an juga ditemukan beberapa istilah komunikasi seperti:

a. qaulan sadida/perkataan yang benar (Qs. an-Nisa‘/4: 9 dan al-Ahzab/33: 70);

b. qaulan karima/perkataan yang mulia (Qs. al-Isra‘/17: 23);

c. qaulun ma‘rufun atau qaulan ma‘rufa/perkataan yang baik (Qs. al-Baqarah/2: 2235 dan
263; Muhammad/47: 21 juga al-Ahzab/33: 32 dan an-Nisa‘/4: 8);

d. qaula al-haq/perkataan yang benar (Qs. Maryam/19: 34); dan

e. qaulan baligha/perkataan yang sampai berbekas pada jiwa mereka (Qs. an-Nisa‘/4: 63).

Berbagai bentuk kata yang menunjukkan etika dan cara komunikasi tersebut dilakukan
sesuai dengan kondisi lawan bicara dan materi yang dibicarakan. Penerapan komunikasi
seperti ini akan sangat efektif dalam membangun organisasi yang profesional dan
menyenangkan.

7. Selain menggunakan kata-kata yang baik, hendaklah saling memberi nasehat di jalan
yang benar, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-‘Ashr ayat 1-3:

Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati (saling
berwasiat) supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati (saling berwasiat) supaya
menetapi kesabaran.

8. Dalam pengambilan kebijakan dan keputusan, hendaklah dilakukan dengan prinsip


musyawarah dan diiringi dengan sifat tawakal. Sebagaimana firman-Nya:
Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran/3: 159)

9. Menegakkan prinsip keadilan. Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan


keadilan, termasuk dalam urusan kemasyarakat dan berorganisasi. Bahkan Ali ibn Abi
Thalib kw. pernah berkata: ―Tuhan akan menegakkan negara yang adil meskipun kafir dan
akan menghancurkan negara yang zhalim meskipun Islam‖. Al-Qur‘an juga banyak
membicarakan tentang prinsip keadilan, salah satu di antaranya adalah:
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-
kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. surat al-Maidah/5
ayat 8)

10. Jabatan dan tugas yang diberikan dalam organisasi pada hakikatnya sebagai amanah
yang harus dijalankan dengan sifat amanah (dapat dipercaya) pula. Pentingnya sifat
amanah ini juga ditegaskan dalam al-Qur‘an bahwa watak manusia memang suka
menerima amanah, akan tetapi agar tidak termasuk orang yang zalim lagi bodoh, harus
mampu mengemban amanah tersebut sebagaimana mestinya. Dalam konteks berorganisasi,
maka setiap anggota organisasi harus menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing
sesuai dengan job description yang diberikan. Firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu
Amat zalim dan Amat bodoh, (Qs. al-Ahzab/33: 72)

11. Dalam menjalankan organisasi pendidikan Islam hendaklah dilakukan dengan cara
yang baik, jujur, tranparan, dan sifat-sifat terpuji lainnya sebagaimana yang dituntun dalam
ajaran Islam, khususnya yang berkenaan dengan ajaran akhlaqul Islam.

Adapun yang menjadi fungsi dari sasaran organisasi tersebut antara lain:

1. Dapat merumuskan serta memusatkan perhatian atau mengarahkan para manajer dalam
usaha memperoleh dan mempergunakan sumber daya organisasi.

2. Dapat digunakan sebagai dasar dan alasan peng-orgairisasian.

3. Sebagai suatu standar penilaian terhadap organisasi, dan daprt dijadikau sebagai ukuran
terhadap derajat efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya.

4. Sebagai sumber legitimasi yang membenarkan kegi¬atan dan eksistensinya terliadap


kelornpok-kelompok yang beraneka ragam seperti para penanaman modal, anggota,
pelanggan dan masyarakat secara keseluruhan dan sebagainya.

5. Dapat membantu organisasi untuk memperoleh suinberdaya manusia yang dibutuhkan.

Fungsi yang menjadi sasaran bagi para anggota perseorangan dalam suatu organisasi
adalah:

1. Dapat memberikan pengarahan kerja sehingga mendorong para pekerja untuk


memusatkan perhatian dan usahanya secara lebih ielas ke arah tujuan yang telah
ditetapkan.

2. Memberikan alasan sebagai dasar untuk bekerja dan dapat memberikan arti pada
pekerjaan yang kelihatannya tidak terarah.

3. Dapat dijadikan sebagai sasaran pencapaian keinginan pribadi.

4. Dapat membantu individu merasa terjarnin bahwa Organisasi akan tenis berjalan untuk
masa selanjut-nya.

5. Dapat memberikan identifikasi dan status bagi para pekerjanya

Sementara manfaat dari adanya organisasi adalah:

1. Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif
dengan adanya organisasi yang baik.
2. Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Jika organisasi itu di bidang
pendidikan, maka akan turut mencerdaskan masyarakat serta membimbing masyarakat
agar tetap menerapkan nilai-nilai ajaran Islam.

3. Organisasi menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan


keterampilan. Jika kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat
menjadi solusi.

4. Organisasi sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn
munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu. Peran penelitian dan pengembangan
sangat dibutuhkan sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu
pengetahuan.

Dalam ajaran Islam, juga diperlukan organisasi. Rasulullah SAW bersabda bahwa Shalat
berjama‘ah lebih utama daripada shalat sendirian 27 derajat. Hadis ini mengisyaratkan
tentang:

a. Keutamaan shalat berjamaah

b. Aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat bahwa hidup secara berjamaah atau


berorganisasi dengan dipimpin oleh seorang pemimpm/imam lebih besar keuntungannya
daripada tanpa berorganisasi atau berjamaah.

Begitu pula pernyataan Ali bin Abi Thalib: “al-haqqu bila nizhamin sayaghlibuhu al-
bathil bi nizhamin”, (Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan
yang terorganisir). Pernyataan ini menunjukkan begitu pentingnya organisasi untuk
mewujudkan suatu tujuan, termasuk dalam menerapkan kebenaran.

E. Bentuk-bentuk Organisasi

Bentuk-bentuk organisasi dapat dilihat dari beberapa segi, di antaranya:

1. Berdasarkan tipe-tipe strukturnya.

2. Berdasarkan proses pembentukannya;

3. Berdasarkan kaitan hubungannya dengan pemerintah;

4. Berdasarkan skala (ukuran) besar-kecilnya;

5. Berdasarkan tujuannya;

6. Berdasarkan organization chartnya;

Bentuk-bentuk organisasi di atas akan dijelaskan berikut ini:

1. Berdasarkan Tipe-tipe Struktur Organisasi

Jika dilihat dari strukturnya, organisasi dapat dibagi kepada beberapa tipe, yaitu: (1)
organisasi dalam bentuk lini (line organization), (2) organisasi dalam bentuk lini dan staf
(line and staf organization), (3) organisasi dalam bentuk fungsional {functional,
organization), dan (4) organisasi dalam bentuk panitia (committe organization). Untuk
lebih jelasnya pemahaman mengenai bentuk-bentuk orgaisasi tersebut dapai dilihat pada
uraian berikut ini.

a. Organisasi dalam bentuk lini (line Organization)

Bentuk lini juga disebut ―bentuk lurus‖, ―bentuk jalur‖, atau ―bentuk militer‖. Bentuk ini
adalah bentuk yang dianggap paling tua dan digunakan secara luas pada masa
perkembangan industri pertama. Organisasi Lini ini diciptakan oleh Henry Fayol dan
biasanya orga¬nisasi ini dipakai oleh militer dan perusahaan-perusahaan kecil saja.

Dalam organisasi lini ini pendelegasian wewenang dilakukan secara vertikal melalui garis
terpendek dari seorang atasan kepada bawahannya. Pelaporan tanggung jawab dari
bawahan kepada atasannya juga dilakukan melalui garis vertikal yang terpendek. Perintah-
perintah hanya diberikan seorang atasan saja dan pelaporan tanggung jawab hanya kepada
atasan bersangkutan.

Adapun ciri-ciri dari organisasi dalam bentuk ini adalah:

1) Garis komando langsung dari atasan ke bawahan atau dari pimpinan tertinggi kepada
berbagai tingkat operasional.

2) Masing-masing pekerja bertanggungjawab penuh terhadap semua kegiatannya.

3) Otoritas dan tanggung jawab tertinggi terletak pada pimpinan puncak (top
Management).

4) Ruang lingkup Organisasinya lebih kecil dan jumlah anggota juga sedikit.

5) Hubuilgan kerja antara atasan dan bawahan berbsifat langsung.

6) Tujuan. alat-alat yang digunakan dan struktur organisasi bersifat sederhana.

7) Pemilik organisasi biasanya menjadi pimpinan yang tertinggi.

8) Tingkat spesialisasi yang dibiltuhkan masih sangat rendah.

9) Semua anggota organisasi masih kenal antara satu sama lainnya.

10) Produksi yang dihasilkatt belum beraneka ragam (defersified).

Organisasi bentuk lini ini mengandung beberapa keuntungan, di samping itu juga
mengandung beberapa kelemahan. Di antara keuntungan dari organisasi dalam bentuk lini
ini antara lain:

1) Kekuatan dan tanggung-jawab dapat ditetapkan secara pasti.

2) Orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan tanggung-jawab diketahui oleh semua


pihak.
3) Proses pengambilan kepuiusan berjalan dengan tepat karena jumlah orang yang perlu
diajak berkonsultasi tidak banyak.

4) Disiplin kerja mudah dipertahankan dan pengawasan dari pimpinan mudah


dilaksanakan.

5) Besarnya solidaritas para anggota karena satu sama lainnya saling kenal-mengenal.

6) Tersedianya kesempatan yang banyak bagi pimpinan organisasi untuk melatih bakat-
bakat yang dipunyai bawahan.

7) Kesempatan bagi para anggota organisasi untuk mengembangkan spesialisasinya sangat


terbatas.

Di samping itu beberapa kelemahan dari organisasi dalam bentuk lini tersebut antara lain:

1) Tujuan organisasi cenderung sama, atau paling tidak didasarkan atas tujuan pribadi
pimpinan tertinggi dari organisasi dimaksud.

2) Pimpinan organisasi cenderung bertindak otoriter, karena organisasi dipandang milik


pribadi.

3) Seluruh kegiatan organsasi tertalu tergantung kepada seseorang, dan kelangsungan


hidup organisasi sangat ditentukan oleh orang bersangkutan.

4) Kesempatan bagi para anggota organisasi untuk mengembangkan spesialisasinya sangat


terbatas.

b. Organisasi dalam bentuk staf (Staff Organization)

Organisasi dalam bentuk staf hanya mempunyai hubungan dengan pucuk pimpinan dan
berfungsi memberikan bantuan baik berupa pikiran maupun bantuan lain demi kelancaran
tugas pimpinan dalam mencapai tujuan secara keseluruhan. Bentuk ini tidak mempunyai
garis komando ke bawah.

c. Organisasi dalam bentuk lini dan staf (tine and staf organization

Organisasi Lini dan Staf (Line and Staff Organization) ini pada dasarnya merupakan
kombinasi dari organisasi lini dan organisasi fungsional. Kombinasi ini dilakukan dengan
cara memanfaatkan kebaikan-kebaikannya dan meniadakan keburukan-keburukannya.

Biasanya organisasi bentuk lini dan staf ini terjadi pada organisasi yang lebih besar, di
mana penyediaan tenaga spesialis sudah semakin dirasakan untuk memberikan nasehat-
nasehat atau saran-saran teknis dan memberikan jasa-jasa kepada unit-unit operasional.
Tenaga semacam itu biasanya disebut ―staff personnel‖ yaitu orang yang melaksanakan
fungsi staf (staff function), yang dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu: para
penasehat (advisor) dan personil yang melakukan kegiatan penunjang (auxiliary personnel)
demi lancarnya mekanisme organisasi. Ada beberapa karakteristik atau ciri utama; dari
organisasi yang berbentuk lini dan staf ini adalah:
1) Pucuk pimpinannya hanya satu orang dan dibantu oleh para staf.

2) Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu wewenang lini dan wewenang staf.

3) Kesatuan perintah tetap dipertahankan, setiap atasan mempunyai bawahan tertentu dan
setiap bawahan hanya mempunyai seorang atasan langsung.

4) Organisasinya besar, karyawannya banyak dan pekerjaannya bersifat kompleks.

5) Hubungan antara atasan dengan para bawahan tidak bersifat langsung.

6) Pimpinan dan para karyawan tidak semuanya saling kenal-mengenal.

7) Spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan digunakan secara optimal.

Organisasi yang berbentuk lini dan staf ini memberikan beberapa keuntungan/kebaikan
antara lain:

1) Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas pokok
organisasi dan kelompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.

2) Asas spesialisasi yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-masing.

3) Prinsip ―the right man on the right place‖ dapat diterapkan dengan mudah.

4) Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah.

5) Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.

Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi, karena kedua
jenis hirarki ini sering tidak seirama dalam memandang sesuatu Sedangkan kelemahan-
kelemahan dari orgainsasi dalam bentuk lini dan staf ini adalah:

1) Pimpinan lini sering mengabaikan nasehat atau saran dari staf.

2) Pimpinan staf sering mengabaikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pimpinan


lini.

3) Adanya kemungkinan pimpinan staf melampaui‘batas kewenangannya.

4) Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi karena kedua
jenis hirarki sering tidak seirama dalam memandang sesuatu.

Gambar di atas menunjukkan bahwa kekuasaan pimpinan diharapkan secara lurus, penuh
dan vertikal kepada pejabat yang memimpin satuan-satuan di bawahnya, yaitu orang-orang
lini yang melaksanakan tugas pokok organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Begitu
juga orang-orang staf yang sifat tugasnya menunjang tugas-rugas pokok, sesuai dengan
keahliannya baik bersifat menasehati, maupun yang memberikan jasa-jasa kepada unit-unit
operasional dalam bentuk ―auxilary service‖, misalnya dalam bidang kepegawaian,
keuangan, ketatalaksanaan, perlengkapan kantor dan lain sebagainya.
Tegasnya, wewenang lini (line authority) adalah kekuasaan, hak dan tanggung jawab
langsung bagi seseorang atas tercapainya tujuan; ia berwenang mengambil keputusan,
kebijaksanaan dan berkuasa serta harus bertanggung jawab langsung tercapainya tujuan
perusahaan. Sedangkan wewenang staf (staff authority) adalah kekuasaan dan hak hanya
untuk memberikan data, informasi, pelayanan dan pemikiran untuk membantu kelancaran
tugas-tugas manajer lini.

d. Organisasi dalam bentuk fungsional

Organisasi fungsional adalah bentuk organisasi di mana kekuasaan pimpinan dilimpahkan


kepada para pejabat yang memimpin satuan di bawahnya dalam satuan bidang pekerjaan
tertentu. Setiap kepala dari satuan mempunyai kekuasaan untuk memerintah dan
mengawasi semua pejabat bawahan sepanjang mengenai bidangnya. Organisasi tidak
terlalu menekankan pada struktural akan tetapi lebih banyak berdasarkan pada sifat dan
macam fungsi yang harus dijalankan.

Pada tipe organisasi fungsional ini masalah pembagian kerja mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh. Pembagian kerja didasarkan pada ―spesialisasi‖ yang sangat mendalam
dan setiap pejabat hanya mengerjakan suatu tugas/pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya.
F. W. Taylor yang menciptakan organisasi fungsional ini.

Adapun ciri-ciri tipe ini adalah sebagai berikut:

1) Pembidangan tugas secara tegas dan jelas dapat dibedakan.

2) Bawahan akan menerima perintah dari beberapa orang atasan.

3) Penempatan pejabat berdasarkan spesialisasinya.

4) Koordinasi menyeluruh biasanya hanya diperlukan pada tingkat atas.

5) Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu wewenang lini dan wewenang fungsi.

Ada beberapa kebaikan dari organisasi yang berbentuk fungsional ini antara lain:

1) Adanya pembagian tugas antara kerja pikir (mental) dan fisik,

2) Dapat dicapai tingkat spesialisasi yang baik.

3) Solidaritas antara orang-orang yang menjalankan fungsi yang sama umuinirya tinggi.

4) Moral serta disiplin keija yang tinggi.

5) Koordinasi antara orang-orang yang ada daiam satu fungsi mudah dijalankan.

Sedangkan yang menjadi kelemahan dari organisasi berbentuk fungsional antara lain:

1) Insiatif perorangan sering tertekan karena sudah dibatasi pada satu fungsi.
2) Sulit mengadakan pertukaran tugas, karena terlalu menspesialisasikan diri dalam satu
bidang saja.

3) Koordinasi yang sifatnya menyeluruh sulit diadakan karena orang-orang yang bergerak
dalam satu bidang mementingkan fungsinya saja.

e. Organisasi dalam bentuk panitia (committee)

Organisasi panitia/komite adalah suatu organisasi yang masing-masing anggota


mempunyai wewenang yang sama dan pimpinannya kolektif. Organisasi Komite (Panitia =
Committee Organization) mengutamakan pimpinan, artinya dalam organisasi ini terdapat
pimpinan ―kolektif/ presidium/plural executive‖ dan komite ini bersifat manajerial. Komite
dapat juga bersifat formal atau informal; komite-komite itu dapat dibentuk sebagai suatu
bagian dari struktur organisasi formal, dengan tugas-tugas dan wewenang yang dibagi-
bagikan secara khusus.

Jadi, organisasi dalam bentuk panitia ini adalah organisasi di mana para pelaksana
dibentuk dalam kelompok-kelompok yang bersifat panitia. Di sini ada unsur pimpinan dan
ada unsur pelaksana yang disebut dengan ―task force‖ atau ―satgas‖. Adapun ciri-ciri dari
organisasi dalam bentuk panitia ini adalah:

1) Strukutur organisasi tidak begitu kompleks. Biasanya terdiri dari ketua, sekretaris,
bendahara, ketua-ketua seksi, dan para perugas.

2) Struktur organisasi secara relatif tidak permanea. Organisasi ini hahya dipakai sesuai
kebutuhan atau kegiatan.

3) Tugas pimpinan dilasanakan secara kolektif.

4) Semua anggota pimpinan mempunyai hak, wewenang dan tanggung jawab yang sama.

5) Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas-tugas tertentu dalam bentuk satgas.


Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas-tugas tertentu dalam bentuk satgas Ada
beberapa keuntungan dari orgaai-sasi yang berbentuk panitia ini, antara lain:

a. Keputusan dapat diambil dengan baik dan tepat

b. Kecil kemungkinan penggunaan kekuasaan secara berlebihan dari pimpinan.

c. Usaha kerjasama bawahan mudah digalang

Adapun yang menjadi kelemahan dari organisasi dalam bentuk panitia ini adalah:

a. Proses pengambilan keputusan agak larnban karena harus dibicarakan terlebih dahulu
dengan anggota or¬ganisasi.

b. Kalau terjadi kemacetan kerja, tidak seorang pun yang mau bertanggung jawab melebihi
yang lain.

c. Para pelaksana sering bingung, karena perintah datangnya tidak dari satu orang saja
d. Kreativitas nampaknya sukar dikembangkan, karena perintah pelaksanaan didasarkan
pada kolektivitas.

Organisasi panitia biasanya terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa seksi.

2. Berdasarkan Proses Pembentukannya

Jika dilihat dari proses pembentukannya, organisasi terbagi kepada dua bentuk, yaitu
organisasi formal dan organisasi informal.

a. Organisasi Formal adalah organisasi yang dibentuk secara sadar dan dengan tujuan-
tujuan tertentu yang disadari pula yang diatur dengan ketentuan-ketentuan formal, dalam
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya. Kegiatan-kegiatan/hubungan-hubungan
yang terjadi di dalamnya adalah kegiatan (hubungan) jabatan sebagaimana diatur dalam
keten-tuan-ketentuan tertulis. Ikatan-ikatan yang terdapat dalam organisasi adalah
berdasarkan ikatan-ikatan formal.

b. Organisasi Informal adalah organisasi yang terbentuk tanpa disadari sepenuhnya,


tujuannya juga tidak jelas, anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya tidak ada dan
hubungan-hubungan terjalin secara pribadi saja (personal/private relationship bukan formal
relationship).

Lebih lanjut Chester I Barnard mengemukakan bahwa organisasi informal adalah sejumlah
hubungan yangbersifat pribadi. Dalam organisasi formal sering terdapat organisasi
informal dari para karyawannya; organisasi formal sering terbentuk dari organisasi
in¬formal. Sedangkan G.R. Terry berpendapat bahwa ―Organisasi Non-Formal‖[15] yaitu
organisasi yang terbentuk di dalam suatu organisasi formal yang anggota-anggotanya
terdiri dari para karyawan perusahaan bersangkutan. Misalnya: organisasi arisan karyawan,
koperasi karyawan, organisasi olahraga karyawan, organisasi kesenian karyawan dan lain-
lainnya. Organisasi nonformal ini akan membahayakan organisasi formal, jika bidang
kegiatannya sama dengan organisasi formalnya. Misalnya: Bank di dalam bank, koperasi
di dalam koperasi.

Dengan demikian, setiap anggota dari kedua bentuk organisasi ini sejatinya melaksanakan
aktivitasnya masing-masing tanpa harus mengganggu pihak lain, tetapi sebaliknya saling
melengkapi.

3. Berdasarkan Kaitan Hubungannya dengan Pemerintah

Dalam hubungannya dengan pemerintah, organisasi dibagi kepada dua bentuk, yaitu:

a. Organisasi resmi, adalah organisasi yang dibentuk oleh (ada hubungannya) dengan
pemerintah dan atau harus terdaftar pada Lembaran Negara. Misalnya: Jawatan-jawatan,
lembaga-lembaga pemerintahan, yayasan-yayasan, dan perusahaan-perusahaan yang
berbadan hukum.

b. Organisasi tidak resmi, adalah organisasi yang tidak ada hubungannya dengan
pemerintah dan atau tidak terdaftar padaLembaran Negara, seperti organisasi-organisasi
swasta; mungkin juga suatu organisasi yang dibentuk oleh pemerintah,tetapi organisasi ini
merupakan unit-unit yang sifatnya swasta. Misalnya: Klub Bola Voli, Klub Sepak Bola,
Group Kesenian, Organisasi pendaki gunung, Kelompok belajar dan lain-lainnya.

4. Berdasarkan Skala (Ukuran) Besar-Kecilnya

Jika dilihat dari skala (ukuran) organisasi tersebut secara kuantitas, maka organisasi dapat
dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu:

a. Organisasi Besar;

b. Organisasi Sedang (Menengah); dan

c. Organisasi Kecil.

Tolok ukur (skala) besar-kecilnya organisasi ini sifatnya relatif, karena ditentukan oleh
banyak faktor. Tetapi besar-kecilnya organisasi perlu diketahui, karena akan
mempengaruhi pilihan manajemen yang akan diterapkan.

5. Berdasarkan Tujuannya

Berdasarkan tujuannya, organisasi dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu:

a. Public Organization (organisasi sosial), adalah organisasi yang (nonprofit) yang tujuan
utamanya untuk melayani kepentingan umum, tanpa perhitungan rugi-laba. Tujuannya
adalah memberikan pelayanan dan bukan memperoleh laba (nonprofit
motive). Misalnya: Pemerintah, yayasan-yayasan sosial dan lain-lainnya.

b. Business Organization (organisasi perusahaan) adalah organisasi yang didirikan untuk


tujuan komersial (mendapatkan laba) dan semua tindakannya selalu bermotifkan laba
(profit motive). Jika organisasi perusahaan tidak memberikan laba/keuntungan lagi, maka
tidak rasional untuk melanjutkannya lagi. Dilihat dari bidang usaha organisasi perusahaan
ini dikenal perusahaan-perusahaan produksi, perdagangan dan pemberi jasa. Namun jika
dilihat dari sudut hukum, organisasi dapat dibedakan perusahaan perseorangan (single
proprietorship), dan perusahaan milik bersama (part¬nership). Misalnya: ―Firma, CV, PT,
Koperasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).‖

6. Berdasarkan Organization Chart/Bagan Organisasinya

Apabila dilihat dari bentuk bagan organisasi yang digunakan, maka organisasi dapat
dikelompokkan menjadi lima bentuk, yaitu:

a. Berbentuk segitiga vertikal (Arrangement Chart);

Puncak segitiga (A) merupakan kedudukan Top Manager

Kebaikannya:

1) Tingkatan manajer dan kedudukan setiap karyawan jelas dan mudah diketahui.

2) Garis perintah dan tanggung jawab jelas dan mudah kelihatan.


3) Rentang kendali setiap bagian jelas dan mudah diketahui.

4) Posisi kedudukan setiap karyawan (manajerial/operasional) jelas dan mudah diketahui.

5) Jenis wewenang yang dimiliki setiap pejabat jelas dan mudah diketahui.

6) Pimpinan organisasi (Top Manager), jelas kelihatan.

7) Berapa tingkat (golongan) organisasi mudah diketahui.

Kelemahannya:

1) Pimpinan kolektif (presidium) tidak dapat digambarkan.

2) Top Manager kelihatan hanya mempunyai authority ke dalam organisasi saja.

3) Bentuk struktur organisasi segitiga ini paling banyak dipergunakan oleh


organisasi/perusahaan.

b. Berbentuk Lingkaran

Keterangan:

1) Top Manager berada pada titik pusat lingkaran (A).

2) Kedudukan yang mempunyai jarak yang sama dari pusat lingkaran punya posisi
(golongan) yang sama.

3) Semakin dekat kedudukan pada pusat lingkaran maka semakin tinggi kedudukannya dan
sebaliknya.

4) Top Manajer, C = Middle Mana¬ger dan B = Lower Manager, padahal B itu bawahan
dari C.

Kebaikannya:

5) Top Manager kelihatan mempunyai wewenang ke setiap penjuru.

6) Top Manager, kelihatan sebagai sentral keputusan dan kebijaksanaan.


Kelemahannya:

1) Untuk mengetahui kedudukan atasan dan bawahan agak sulit dan kurang jelas.

2) Pendelegasian wewenang dan pertanggung jawab tidak jelas kelihatan.

3) Kedudukan seorang bawahan dapat kelihatan sebagai atasan (B) terhadap C, sebab ia
lebih dekat pada A.

4) Demikian juga misalnya bawahan B, bisa lebih dekat pada A, jadi seperti bawahannya
B.
5) Kedudukan (posisi) staf sulit digambar dalam bentuk struktur ini. Struktur organisasi
yang berbentuk lingkaran ini jarang dipergunakan dan kurang populer.

c. Berbentuk lingkaran dan atau setengah lingkaran;

Struktur organisasi yang berbentuk setengah lingkaran ini, pada prinsipnya


samadenganyangberbentuk lingkaran.Perbedaannya hanya terletak,bahwa bawahan Middle
Manager terletak di luar lingkaran pertama. Bentuk ini kurang populer dan jarang
digunakan orang.

Keterangan:

1) A. Top Manager 1,2,3,4, dan 5 Middle Manager (B), sedangkan (C) Lower Manager.

2) Kedudukan yang jaraknya sama dari (A), mempunyai posisi yang sama.

3) Semakin dekat kepada (A), maka semakin tinggi kedudukannya dan sebaliknya.
Kelemahan bentuk struktur ini pada dasarnya sama dengan bentuk struktur lingkaran,
seperti untuk menggambar posisi staf sulit.

d. Berbentuk kerucut vertikal/horizontal

Struktur organisasi yang berbentuk ―kerucut vertikal ataupun hori¬zontal‖ ini pada
prinsipnya sama dengan struktur organisasi yang berbentuk ―segitiga vertikal atau
horizontal‖. Perbedaannya terletak pada struktur yang berbentuk segitiga, menunjukkan
bahwa ―pimpinan puncak (Top Manager)-nya tunggal atau seorang‖. Sedang struktur
organisasi yang berbentuk kerucut, menunjukkan bahwa ―pimpinan puncak (Top
Manager)-nya kolektif (presidium = beberapa orang)‖.

Pimpinan kolektif ini sering d ilakukan pada organisasi ―komi te atau perusahaan FIRMA‖,
Karena perusahaan Firma, diharuskan bahwa semua kekayaan pribadi anggota ikut
dipertaruhkan untuk membayar utang-utang Firma, jika Firma tersebut dilikuidasi. Hal
inilah yang men-dorong anggota Firma menganut ―pimpinan kolektif‖ pada ―puncak
pimpinannya‖ untuk menghindari tindakan-tindakan negatif jika Firma pimpinan
puncaknya tunggal (seorang).

Pada organisasi komite tujuannya pimpinan puncak kolektif untuk menghindari


kepemimpinan ―otoriter‖ atau diktator jika pimpinan puncaknya seorang.

Keterangan:

1) A dan B merupakan pimpinan puncak kolektif.

2) Tingkatan-tingkatan lain dari departemen seorang/tunggal.

3) Posisi yang semakin dekat ke A-B, kedudukan semakin tinggi dan sebaliknya.

4) Jarak yang sama dari A dan B punya kedudukan (golongan) yang sama pula.

e. Berbentuk bulat telor (Oval).


Keterangan:

1) Yang duduk pada lingkaran I (A-B-C-D-E) punya posisi sama.

2) Yang duduk pada lingkaran II punya posisi yang sama.

3) Yang duduk pada lingkaran III, juga posisi yang sama.

Struktur organisasi berbentuk ―OVAL atau BULAT TELUR‖ ini sering dipergunakan
dalam perundingan-perundingan politik. Dalam perundingan politik antara negara yang
berselisih, biasanya soal meja tempat berunding digunakan meja yang berbentuk oval. Hal
ini mencerminkan bahwa setiap negara punya kedudukan (posisi) yang sama tinggi
derajatnya. Barisan depan (dekat) meja duduk wakil-wakil tertinggi dari negaranya
(lingkaran I), lingkaran II, lingkaran III dan seterusnya. Jadi setiap tempat duduk pada
lingkaran yang sama punya peranan yang sama pula dalam perundingan bersangkutan.
Semakin dekat tempat duduknya ke meja perundingan, semakin besar peranannya (posisi)-
nya dalam perundingan tersebut. Struktur organisasi bentuk ini kurang populer dan jarang
dipakai dalam perusahaan.

Bentuk-bentuk organisasi di atas dapat diterapkan dalam organisasi pendidikan Islam, baik
dalam satu bentuk saja atau mengkombinasikan antara beberapa bentuk lalu dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan. Jelasnya, bentuk-bentuk di atas menjadi pertimbangan dalam
merumuskan jenis organisasi yang akan diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan Islam
dalam suatu lembaga organisasi.

F. Organisasi Lembaga Pendidikan Islam

Lembaga pendidikan, dalam bahasa Inggris disebut institute (berbentuk fisik), yaitu sarana
atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fisik
atau abstrak disebut institution yaitu suatu sistem norma untuk memenuhi kebutuhan.
Lembaga dalam bentuk fisik disebut juga bangunan, sedangkan non-fisik disebut pranata.

Secara terminologi, lembaga pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung[16] adalah


sustu sistem peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode,
norma-norma, idiologi-idiologi dan sebagainya, baik tertulis atau tidak, termasuk
perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari
individu-individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu
dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah:
masjid, sekolah kuttab dan sebagainya.

Dengan demikian, untuk menerapkan pendidikan Islam perlu suatu lembaga dan lembaga
tersebut harus terorganisir sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai
secara efektif dan efisien. Tegasnya, diperlukan organisasi lembaga pendidikan yang
profesional.

Berbicara tentang lembaga pendidikan Islam, dapat dilihat dari segi proses
pembentukannya, yaitu formal, nonformal, dan informal. Akan tetapi, lembaga pendidikan
Islam dalam bentuk institute biasanya dikelola oleh lembaga Departemen Agama dimana
di dalamnya terdapat lembaga pendidikan formal dan nonformal.
1. Lembaga Pendidikan Islam di Lingkungan Departemen Agama

Pendidikan Islam dipetakan ke dalam tiga jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama Islam
pada satuan pendidikan, pendidikan umum berciri Islam, dan pendidikan keagamaan Islam.
Pendidikan Islam pada satuan pendidikan dilakukan melalui koordinasi antara Ditjen
Pendidikan Islam Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Ditjen Pendidikan Islam bertanggung-jawab atas pengembangan kurikulum dan pembinaan
guru. Sedangkan Depdiknas atas pelaksanaahnya. pada tingkat satuan pendidikan.

Pendidikan umum berciri Islam, pada jalur formal diselenggarakan oleh satuan pendidikan
Raudhatul/Busthanul Athfal (RA/BA) pada anak usia dini, Madrasah Ibtidaiyah (Ml) dan
Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada pendidikan dasar. Madrasah Aliyah (MA) dan MA
Kejuruan pada pendidikan menengah, dan Perguruan Tinggi Islam (PTI) pada jenjang
pendidikan tinggi.

Pada jalur non-formal, diselenggarakan melalui Program Paket A dan Program Paket B
pada pendidikan dasar serta Program Paket C setara pendidikan menengah. Pendidikan
keagamaan Islam diselenggarakan dalam bentuk pendidikan diniyah dan pendidikan
pesantren yang melingkupi berbagai satuan pendidikan diniyah dan pondok pesantren pada
berbagai jenjang dan jalur pendidikan.

Pada jalur formal, pendidikan diniyah mencakup Pendidikan Diniyah Dasar (PDD) dan
Pendidikan Diniyah Menengah Pertama PDMP pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan
Diniyah Menengah Atas (PDMA) pada jenjang pendidikan menengah, dan Perguruan
Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) pada jenjang pendidikan tinggi. Pada jalur non-formal,
pendidikan diniyah diselenggarakan secara berjenjang mulai dari pendidikan anak usia dini
pada Taman Kanak-kanak al-Qur‘an (TKQ), jenjang dasar oleh lembaga pendidikan
Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) dan Diniyah Takmiliyah Wustha (DTW) dan jenjang
pendidikan menengah oleh Diniyah Takmiliyah Ulya (DTU), DT Aly untuk jenjang
pendidikan tinggi, serta non-jenjang pada lembaga pendidikan al-Qur‘an dan Majlis
Taklim.

Dengan demikian, organisasi lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non-formal
seperti pesantren, pada dasarnya dikelola oleh Departemen Agama. Sementara lembaga
pendidikan umum, seperti SD, SMP, dan SMA Swasta yang dimiliki oleh organisasi Islam
juga dikategorikan sebagai lembaga pendidikan Islam, namun tetap berada di bawah
naungan Departemen Pendidikan Nasional.

Di tingkat daerah, Pesantren sebagai lembaga pendidikan formal biasanya menerapkan


kurikulum madrasah sehingga tingkatan dalam pesantren juga meliputi madrasah
Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Dalam struktur organisasi, pesantren ini berada di
bawah departemen agama, tepatnya di bagian Pekapontren. Madrasah juga meliputi
jenjang madrasah ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah
(MA). Ketiga jenjang ini juga berada dalam departemen agama tepatnya di bagian
Mapenda. Sedangkan sekolah yang diidentikkan dengan lembaga pendidikan Islam adalah
lembaga pendidikan yang biasanya dimiliki oleh organisasi Islam, seperti Sekolah Dasar
Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI), dan Sekolah Menengah Atas
Islam (SMAI) atau nama-nama lain yang sejenis dengannya, termasuk SD Islam Terpadu.
Sekolah/Madrasah, sebagai lembaga pendidikan formal yang di dalamnya terdapat kepala
sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, siswa, dan sebagainya memerlukan adanya
organisasi yang baik agar tujuannya dapat dicapai. Menurut sistem persekolah di negeri
kita, pada umumnya Kepala Sekolah/Madrasah merupakan jabatan yang tertinggi di
sekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang peranan dan pimpinan
segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah/medrasah ke dalam maupun ke
luar. Maka dari itu dalam struktur organisasi lembaga ini pun kepala sekolah biasanya
selalui ditempatkan yang paling atas.

Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah/madrasah yang baik ialah
karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha,
pesuruh sekolah, dan sebagainya semuanya harus bertanggung jawab dan diikutsertakan
dalam menjalankan roda organisasi itu secara keseluruhan. Dengan demikian, agar tidak
overlapping dalam memegang/menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan
organisasi sekolah/madrasah yang baik dan teratur.

Sebagai organisasi, sekolah atau madrasah tersebut tentu memiliki visi dan misi tertentu
dengan mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam. Kemudian di dalamnya terdapat struktur
organisasi yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah dan dibantu oleh beberapa
orang wakil, seperti wakil bidang kurikulum, wakil bidang sarana prasarana, dan wakil
bidang kesiswaan. Para guru juga diorganisir sesuai dengan kebutuhan, seperti wali kelas,
koordinator masing-masing mata pelajaran, pembina OSIS, dan sebagainya.

Adapun sistem penanggung jawab lembaga tersebut awalnya bersifat sentralistik. Namun
dewasa ini, seiring dengan otonomi daerah, sistem sentralistik secara berlahan mulai
berubah ke arah desentralistik, meskipun belum sepenuhnya, khususnya di lingkungan
Departemen Agama. Sedangkan sekolah umum yang dimiliki oleh organisasi Islam
cenderung lebih desentralisasi karena mereka berada di bawah departemen pendidikan
nasional.

Mengenai pengelolaan madrasah/pesantren di lingkungan Departemen Agama yang masih


bersifat sentralistik memiliki kelebihan dan kekurangan. Lembaga pendidikan formal di
bawah Departemen Agama seperti Madrasah cenderung hanya memperoleh anggaran
biaya dari Departemen Agama pusat dan terkesan kurang perhatian dari pemerintah daerah.
Padahal madrasah juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat lokal di
tingkat daerah tersebut. Meskipun demikian, ada juga pemerintah daerah yang
menganggarkan biaya untuk madrasah tersebut, sesuai dengan kebijakan masing-masing
pemerintah daerah. Kebijakan ini tentu terkait dengan besarnya APBD yang dimilikinya.

Di sisi lain, pembiayaan madrasah—khususnya yang berstatus negeri—yang dianggarkan


dari DIPA Departemen Agama justru memperoleh anggaran yang lebih besar jika
dibandingkan dengan sekolah di lingkungan dinas pendidikan, sebab jumlah lembaga
pendidikan Islam, seperti madrasah jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan lembaga
pendidikan umum yang ada. Terutama di daerah yang memiliki APBD relatif kecil,
jangankan menganggarkan biaya yang cukup untuk madrasah yang masih bersifat
sentralistik ke departemen Agama, untuk menganggarkan dana pengelolaan sekolah umum
yang berada di bawah lingkungan dinas pendidikan kota/kabupaten saja akan mengalami
kesulitan mengingat jumlah sekolah umum yang lebih besar dari pada jumlah madrasah.
Namun, yang menjadi persoalan berikutnya adalah madrasah yang memperoleh dana
cukup dari departemen agama tersebut justru lebih terfokus kepada madrasah negeri,
sementara madrasah swasta kurang mendapat perhatian. Padahal, jumlah madrasah swasta
jauh lebih banyak dari pada madrasah negeri. Akhirnya, madrasah swasta yang
memperoleh ―penghidupan‖ dari masyarakat setempat cenderung mengalami kesulitan
dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan yang berkualitas.

No Jenis lembaga Negri (%) Swasta (%) Jumlah Persentase

sebaran
1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1.567 19.621 21.188 36%
7,4 % 92.6%
2 Madrasah Tsanawiyah 1.259 11.624 58.288 22%
(MTs)
(9,8%) (90,2%)
4 Madrasah Aliyah (MA) 644 4.754 5.398 9%
(11,9%) (88,1%)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa MI yang negeri hanya 7.4 % dari 21.188 MI yang
ada, MTs berstatus negeri sebanyak 9,8% dari 58.288 dan MA berstatus negeri hanya
11,9% dari 5.398 dari total MA yang ada. Data ini diperoleh pada T.P. 2007/2008. Dengan
demikian, persentase madrasah swasta jauh lebih besar jumlahnya dari pada madrasah
negeri.[17]

Besarnya jumlah madrasah swasta ini memang berkaitan dengan sejarah pendidikan di
Indonesia, khususnya pendidikan Islam; di mana peran serta masyarakat dalam
pengembangan madrasah dan pesantren sangat besar. Anggota masyarakat karena motivasi
agama, banyak yang menyediakan tanah wakaf atau dana pembangunan madrasah dan
pesantren, sehingga jumlah madrasah swasta demikian banyak seperti terlihat pada data di
atas. Prakarsa dan peran serta masyarakat yang demikian besar dalam bidang pendidikan
tersebut, khususnya madrasah dan pesantren, memang patut dihargai dan perlu terus
dibantu pengembangannya.

Namun, dan yang dapat dikumpulkan oleh masyarakat muslim dalam pengembangan
pendidikan modern dewasa ini sangat terbatas, sementara biaya pendidikan semakin mahal,
sehingga tuntutan untuk terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan
teknologi menyebabkan madrasah terus-menerus ketinggalan dengan dunia pendidikan
yang lain. Pada umumnya, madrasah swasta berada dalam keadaan serba kekurangan
karena menampung siswa-siswa dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah.
Akibatnya, biaya untuk menunjang kegiatan proses belajar-mengajar kurikulum yang
tinggi tingkat relevansinya dengan jenis-jenis pekerjaan yang berkembang di dunia bisnis
dan di masyarakat dewasa ini yang mengarah ke masyarakat industri, masih sangat
terbatas.

Di sisi lain, karena kemampuan dalam penyelenggaraan pendidikan masih terbatas,


Pemerintah masih mengutamakan strategi pengembangannya pada sekolah-sekolah negeri,
khususnya dalam penyediaan tenaga guru dan pembagian alokasi dana pembiayaan
pendidikan lainnya. Padahal, berbeda dengan Diknas, proses penegerian madrasah di
Departemen Agama berjalan sangat lambat, sehingga jumlah madrasah negeri masih
sangat kecil. Kelambatan itu disebabkan karena Departemen Agama dianggap bukan
sebagai unit yang memeriukan perhatian dan prioritas untuk memperoleh dukungan dana
dan dukungan kelembagaan seperti Diknas. Masalah kecilnya jumlah madrasah-madrasah
negeri tersebut menjadi salah satu kendala dalam menyusun langkah-langkah pembinaan
madrasah.

Lebih besarnya perhatian pemerintah terhadap madrasah negeri dari pada swasta juga
dapat dilihat dari persentase madrasah penerima bantuan dari Program Bantuan Direktorat
Pendidikan pada Madrasah tahun 2007,[18] sebagaimana yang terlihat dalam tabel berikut
ini:

No Jenis Lembaga Jumlah Lembaga


Negeri (%) Swasta (%)
1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) 1.567 19.621
(11,5 %) (4.3 %)
2 Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1.259 11.624
(10,6 %) (7.3 %)
3 Madrasah Aliyah (MA) 644 4.754
(15,5 %) (10,5 %)

Jika diperhatikan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa secara kuantitas, jumlah
madrasah negeri memang lebih besar dari pada madrasah negeri. Namun, jika dilihat dari
persentase jumlah madrasah secara keseluruhan, maka madrasah swasta jauh lebih kecil
dari pada yang negeri. Itu artinya, masih banyak madrasah negeri yang tidak memperoleh
bantuan, akan tetapi jauh lebih banyak madrasah swasta yang tidak memperoleh bantuan
tersebut. Oleh karena itu, madrasah swasta sulit mengembangkannya sebagai lembaga
pendidikan yang bermutu dengan sistem pengelolaan seperti ini, apalagi jika kurang
mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Demikian pula dengan lembaga pendidikan pesantren dan diniyah yang nota benenya
tumbuh dari masyarakat, juga semakin berkembang dan butuh perhatian dari pemerintah
dan masyarakat sendiri. Berdasarkan tipe pondok pesantren, dapat dilihat dalam tabel
berikut ini:
No Tipe Pondok Pesantren Jumlah Persentase

1. Salafiyah 8.001 37,2 %


2 Ashriyah 3.881 18,0 %
3 Kombinasi 9.639 44,8 %
Jumlah 21.521 100%
Tabel: Jumlah Pondok Pesantren berdasarkan tipenya pada T.P. 2007/2008

Sementara jumlah madrasah diniyah pada tahun pelajaran 2007/2008 terdapat sebanyak
37.102. Jika dilihat dari lokasinya, terdapat 8.485 (22,9%) merupakan madrasah diniyah
yang berada di dalam Pondok Pesantren, dan 28.617 (77,1%) merupakan madrasah diniyah
yang berada di luar Pondok Pesantren.

Menyikapi persoalan di atas, seharusnya pemerintah daerah mengambil kebijakan yang


proporsional (adil) terhadap pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam,
seperti madrasah dan pesantren. Sebab, madrasah dan pesantren juga berperan besar dalam
mencerdaskan masyarakat di tingkat daerah tersebut. Meskipun madrasah dikelola secara
sentralistik, akan tetapi pemerintah daerah perlu menganalisis perbandingan antara
anggaran yang diperoleh madrasah dengan anggaran yang diperoleh sekolah umum. Jika
APBD di tingkat daerah memang relatif kecil, maka diharapkan pemerintah dapat
memotivasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun lembaga pendidikan di
daerah tersebut, baik umum maupun lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu,
dibutuhkan koordinasi yang baik lagi harmonis antara departemen agama dengan dinas
pendidikan dari pusat hingga di tingkat daerah kota/kabupaten, termasuk dengan
pemerintah daerah. Dengan begitu diharapkan pengelolaan organisasi lembaga pendidikan
Islam dilakukan secara profesional sehingga bermutu dan mampu bersaing di tingkat
global.

2. Lembaga Pendidikan Masyarakat (Nonformal)

Selain dari bentuk lembaga pendidikan di atas, masyarakat juga melahirkan beberapa
lembaga pendidikan nonformal sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat terhadap
pendidikan Islam. Masyarakat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang terikat
oleh kesatuan bangsa, negara, kebudayaan, dan agama. Setiap masyarakat, memiliki cita-
cita yang diwujudkan melalui peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu. Islam
tidak membebaskan manusia dari tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat, dia
merupakan bagian yang integral sehingga harus tunduk pada norma-norma yang berlaku
dalam masyarakatnya. Begitu juga dengan tanggungjawabnya dalam melaksanakan tugas-
tugas pendidikan.

Adanya tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan, maka masyarakat akan


menyelanggarakan kegiatan pendidikan yang dikategorikan sebagai lembaga pendidikan
nonformal. Sebagai lembaga pendidikan non formal, masyarakat menjadi bagian penting
dalam proses pendidikan, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat.
Meskipun demikian, lembaga-lembaga tersebut juga memerlukan pengelolaan yang
profesional dalam suatu organisasi dengan manajemen yang baik.

Menurut An-Nahlawi, tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan tersebut


hendaknya melakukan beberapa hal,[19] yaitu: pertama, menyadari bahwa Allah
menjadikan masyarakat sebagai penyuruh kebaikan dan pelarang kemungkaran (Qs. Ali
Imran/3: 104); kedua, dalam masyarakat Islam seluruh anak-anak dianggap anak sendiri
atau anak saudaranya sehingga di antara saling perhatian dalam mendidik anak-anak yang
ada di lingkungan mereka sebagaimana mereka mendidik anak sendiri; ketiga, jika ada
orang yang berbuat jahat, maka masyarakat turut menghadapinya dengan menegakkan
hukum yang berlaku, termasuk adanya ancaman, hukuman, dan kekerasan lain dengan cara
yang terdidik; keempat, masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui
pengisolasian, pemboikoitan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan sebagaimana
yang pernah dicontohkan oleh Nabi; dan kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat
dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena masyarakat muslim adalah masyarakat
yang padu.

Berpijak dari tanggung jawab tersebut, maka lahirlah berbagai bentuk pendidikan
kemasyarakatan, seperti masjid, surau, TPA, wirid remaja, kursus-kursus keislaman,
pembinaan rohani, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah
memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya. Berpijak dari tanggung
jawab masyarakat di atas, lahirlah lembaga pendidikan Islam yang dapat dikelompokkan
dalam jenis ini adalah:
a. Masjid, Mushalla, Langgar, Surau atau Rangkang.

b. Madrasah Diniyah yang tidak mengikuti ketetapan resmi.

c. Majlis Ta‘lim, Taman Pendidikan al-Qur‘an, Taman Pendidikan Seni Al-Qur‘an, Wirid
Remaja/Dewasa.

d. Kursus-kursus Keislaman.

e. Badan Pembinaan Rohani.

f. Badan-badan Konsultasi Keagamaan. dan lain-lain.

Lembaga-lembaga pendidikan yang lahir dari masyarakat ini sangat berperan dalam
mendidik umat, sejak kanak-kanak hingga dewasa, bahkan lansia. Oleh karena itu,
lembaga pendidikan ini harus terorganisir dengan baik sehingga tujuan dari masing-masing
lembaga tersebut dapat tercapai dengan baik pula.

3. Lembaga Pendidikan Keluarga (informal)

Perlu pula dijelaskan bahwa dalam literatur pendidikan Islam, keluarga juga dipandang
sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk informal. Dalam Islam, keluarga dikenal dengan
istilah usrah dan nasb. Karenanya, keluarga juga dapat diperoleh melalui persusuan dan
pemerdekaan. Pentingnya keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam diisyaratkan dalam
al-Qur‘an:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Qs. al-
Tahrim/66: 6)

Pada dasarnya, kegiatan pendidikan dalam lembaga ini tanpa ada suatu organisasi yang
ketat, tanpa ada program waktu dan evaluasi. Namun, Islam memberikan tuntunan kepada
orang tua untuk membina keluarga dan mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, keluarga
juga merupakan organisasi yang dipimpin oleh seorang ayah untuk membina keluarga dan
mendidik anak-anaknya sehingga diridhai oleh Allah SWT dengan terlebih dahulu
pasangan suami-istri berupaya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
Sebagaimana firman-Nya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-
Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. ar-Rum/30: 21)

Dengan demikian, sebagai organisasi, keluarga memiliki tujuan tertentu. Secara umum
tujuan tersebut adalah memelihara keluarganya dari api neraka dan mewujudkan keluarga
sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana yang telah disinggung di atas. Kemudian,
keluarga juga mengorganisir anggota keluarganya untuk melaksanakan tugas sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing dan mereka bertanggung jawab terhadap tugas
tersebut. Dalam konteks suami istri, Rasulullah SAW menegaskan:
Kalian semua adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang
kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin kelak dia akan diminta
pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki pemimpin istrinya,
kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang
perempuan (istri) pemimpin dalam rumah suaminya, kelak dia akan diminta
pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya… (muttafaq ‗alaih).

Sementara anak harus dididik sesuai dengan petunjuk Islam sehingga mereka potensi yang
dimilikinya berkembang secara optimal dan mengantarkannya sebagai anak yang shaleh.
Lagi-lagi dalam hal ini diperlukan manajemen yang baik dari kedua orang tuanya dan
keluarga sebagai organisasi atau wadah untuk melaksanakan tujuan tersebut.

G. Penutup

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, di antaranya sebagai
berikut:

1. Organisasi dalam artian statis merupakan wadah berkumpulnya beberapa orang yang
saling bekerja sama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan secara dinamis, organisasi merupakan proses mewujudkan tujuan dengan
adanya kerja sama, tugas-tugas tertentu yang jelas dengan tanggung jawab yang kuat untuk
mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama. Sementara organisasi pendidikan Islam
dapat dipahami sebagai wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerja sama
dan beriteraksi dalam menerapkan dan mewujudkan tujuan pendidikan Islam dengan tetap
berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.

2. Pada dasarnya organisasi merupakan sesuatu yang alamiah bagi manusia, sebab ia
ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu sama lain. Hanya
saja secara teoritis, organisasi lebih berkembang dan muncul sejak abad ke 19 hingga saat
ini dengan berbagai teori yang muncul, mulai dari klasik, ilmiah, hingga kepada
perkembangannya di masa modern.

3. Prinsip-prinsip organisasi pendidikan Islam tersirat dalam al-Qur‘an, seperti tujuannya


harus mencari dan menemukan keridhaan Allah, proses yang dilakukan dengan cara yang
baik, kerja sama dalam konteks kebaikan/ketakwaan bukan kemaksiatan, komunikasi
dilakukan dengan cara yang baik/santun, adanya tanggung jawab masing-masing anggota
organisasi, dan pengambilan keputusan sebaiknya dilakukan dengan cara musyawarah dan
tawakal. Semua itu relevan dengan temuan-temuan pakar organisasi modern.

4. Bentuk-bentuk organisasi, jika dilihat dari strukturnya ada beberapa bentuk, seperti tipe
line, staf, line and staf, fungsional, dan panitia (committee). Semua itu dapat digunakan
berdasarkan kebutuhan organisasi tersebut.

5. Secara garis besar lembaga pendidikan Islam dapat dikelompokkan kepada tiga bagian,
yaitu formal (sekolah/madrasah/pesantren), informal (keluarga), dan nonformal
(masyarakat). Namun dari segi pengelolaannya, lembaga pendidikan Islam itu bisa
dikategorikan dalam bentuk lembaga pendidikan Islam di lingkungan Departemen Agama
yang terdiri dari formal (seperti MI, MTs, dan MA) dan nonformal (seperti TQ, pengajian
Kitab, Paket C, dll). Semua bentuk lembaga ini merupakan suatu organisasi yang harus
dijalankan dengan profesional sehingga tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara
efektif dan efisien.
Perkembangan Manajemen Lembaga Pendidikan

Prasekolah

Manajemen lembaga pendidikan prasekolah merupakan wadah untuk


mempersiapkan anak untuk memasuki dunia sekolah. Dimana yang bertanggung jawab
dalam mengelolanya adalah pihak lembaga.

Sebelum menapaki lembaga pendidikan sekolah. Seorang anak sebelumnya


menampaki pendidikan prasekolah. Dimana yang termasuk dalam pendidik pra sekolah ini
adalah orang tua di rumah. Adapun lembaga pendidikan islam prasekolah ini berbentuk
paud, playgroup dan TK. yang diurus dalam sebuah lembaga, dan setiap instalansi
dipimpin oleh seorang kepala sekolah.

Untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan yang bermutu sebagaimana yang


diharapkan banyak orang atau masyarakat bukan hanya menjadi tanggungjawab sekolah,
tetapi merupakan tanggungjawab dari semua pihak termasuk didalamnya orang tua dan
dunia usaha sebagai customer internal dan eksternal dari sebuah lembaga pendidikan.

Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan diri anak sejak dini
merupakan modal besar bagi kesuksesan anak di sekolah. Peran orang tua terdiri dari:
orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual anak dan kesuksesan akademik anak
dengan memberi mereka kesempatan dan akses ke sumber-sumber pendidikan seperti
jenis sekolah yang dimasuki anak atau akses ke perpustakaan, multi media seperti internet
dan televisi pendidikan.

Orang tua dapat membentuk perkembangan kognitif anak dan pencapaian


akademik secara langsung dengan cara terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan
mereka. Orang tua juga mengajarkan anak norma dalam berhubungan dengan orang
dewasa dan teman sebaya yang relevan dengan suasana kelas.
Sekolah

Sekolah merupakan penyelengaraan pendidikan formal di Indonesia, di dalamnya


berlangsung proses pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara. Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian
pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan.

Manajemen lembaga pendidikan islam di tingkat sekolah adalah madrasah dan


pesantren. Pada saat sekaran system pendidikan islam tengah tampil kepermukaan. Dari
system pesantren ke system madrasah dan dari madrasah ke sekolah-sekolah islam.
Termasuk system pendidikan agama di sekolah-sekolah umum. Hal ini membuktikan
bahwa system sekolah tidak vacum dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Peguruan Tinggi

Peguruan tinggi dalam pendidikan formal termasuk jenjag pendidikan yang dangat
tinggi. Dimana dalam manajemennya. Lembaga pendidikan yang berbentu PTAI ini,
sedikit lebih berkembang dibandingkan lembaga pendidikan sekoah Dimana dalam
manajemnya penidikan terhadap seseorang tersebut badalah dirinya sendiri. Beda halnya
dengan sekolah dan pra sekolah.

Manajemen di peguruan tinggi lebih memfokuskan dirinya dalam eksistensinya


sebagai salah universitas Islam. Ada 6 tantangan yang muncul pad tahun1990an dan
menjanjikan kelanjutan abad baru:

1. Perubahan pola dan keragaman


2. Manajemen Melengkapi tekhnologi
3. Focus padapembelajaran dan peningkatan
4. Peningkatan produktifitas ekonoomi
5. Bentuk dan model bagi kelanjutan pendidikan
6. Globalisasi
Sistem manajemen yang kurang kondisif dalam peguruan tinggi menyebababkan
lambatnya antisipasi terhadap perubahan yang terjadi diluar peguruan tinggi, hal ini terkait
pada birokrasi dan hambatan dana. Para meneger di peguruan tinggi seharusnya lebih
tanggap dalam menyikapi perubahan yang terjadi, sehingga lebih bias mengantisipasi dan
melakukan pembaharuan menejerial pada tahap yang lebih kualitatif.
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN
A. P E N D A H U L U A N
Kesulitan Dan tantangan dalam kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh lingkungan
maupun alam yang kurang bersahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang
memungkinkan mereka untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih banyaknya
warga yang tidak melanjutkan pendidikan ke taraf yang memungkinkan mereka
menggeluti profesi tertentu, menuntut upaya-upaya untuk membantu mereka dalam
mewujudkan potensi yang dimilikinya agar dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Sejauh ini, anggran yang berkaitan dengan pendidikan mereka masih terbatas, sehingga
berbagai upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun
pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar makin tumbuh
kesadaran akan pentingnya pendidikan dan mendorong masyarakat untuk terus
berpartisipasi aktif di dalamnya.
Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari
jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan
pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia
merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar
dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan
berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain,
masyarakat merasakan adanya kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan
bagi kehidupannya, karena pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi nyata masyarakat.
Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonformal yang berbasis
kepentingan masyarakat lainnya, perlu mencermati hal tersebut, agar keberadaannya dapat
diterima dan dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan dengan
kepentingan hidup mereka dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya. Ini
berarti bahwa pendidikan nonformal perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau
rujukan dalam penyelenggaaraan program pendidikannya.
Hasil kajian Tim reformasi pendidikan dalam konteks Otonomi daerah (Fasli Jalal, Dedi
Supriadi. 2001) dapat disimpulkan bahwa apabila pendidikan luar sekolah (pendidikan
nonformal) ingin melayani, dicintai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani
meniru apa yang baik dari apa yang tumbuh di masyarakat dan kemudian diperkaya
dengan sentuhan-sentuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Strategi itulah yang perlu terus dikembangkan
dan dilaksanakan oleh pendidikan luar sekolah dalam membantu menyediakan pendidikan
bagi masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh jalur formal/sekolah.
Bagi masyarakat yang tidak mampu, apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana hidup
hari ini, karena itu mereka belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk
belajar, untuk itu masyarakat perlu didorong untuk mengembangkannya melalui
Pendidikan nonformal berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonformal dari, oleh dan
untuk kepentingan masyarakat
B. PENDIDIKAN NONFORMAL BERBASIS MASYARAKAT
Pendidikan berbasis masyarakat (communihy-based education) merupakan mekanisme
yang memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pembelajaran seumur hidup. Kemunculan paradigma pendidikan
berbasis masyarakat dipicu oleh arus besar modernisasi yang menghendaki terciptanya
demokratisasi dalam segala dimensi kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan.
Mau tak mau pendidikan harus dikelola secara desentralisasi dengan memberikan tempat
seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat.~
Sebagai implikasinya, pendidikan menjadi usaha kolaboratif yang melibatkan partisipasi
masyarakat di dalamnva. Partisipasi pada konteks ini berupa kerja sama antara warga
dengan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, menjaga dan mengembangkan
aktivitas pendidikaan. Sebagai sebuah kerja sama, maka masvarakat diasumsi mempunyai
aspirasi yang harus diakomodasi dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program
pendidikan.
1. Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui
perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis
masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang
hayat dalam mengsi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan
pendidikan yang bertumpu pada prinsip ―dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat‖. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas
kebutuhan masyarakat. pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan
sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat
dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun
pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua
program yang dirancang untuk menjawab kebutullan mereka. Secara singkat dikatakan,
masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan untuk merddesain,
merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara
spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Di dalam Undang-undang no 20/2003 pasal 1 ayat 16, arti dari pendidikan berbasis
masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial,
budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan
untuk masyarakat. Dengan demikian nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat pada
dasarnya merupakan suatu pendidikan yang memberikan kemandirian dan kebebasan pada
masyarakat untuk menentukan bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan
masyarakat itu sendiri.
Sementara itu dilingkungan akademik para akhli juga memberikan batasan pendidikan
berbasis masyarakat. Menurut Michael W. Galbraith, community-based education could be
defined as an educational process by which individuals (in this case adults) become more
corrtpetent in their skills, attitudes, and concepts in an effort to live in and gain more
control over local aspects of their communities through democratic participation. Artinya,
pendidikan berbasis masvarakat dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana
individu-individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompeten dalam ketrampilan, sikap,
dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan mengontrol aspek-aspek lokal dari
masyarakatnya melalui partisipasi demokratis. Pendapat lebih luas tentang pendidikan
berbasis masyarakat dikemukakan oleh Mark K. Smith sebagai berikut:
… as a process designed to enrich the lives of individuals and groups by engaging with
people living within a geographical area, or sharing a common interest, to develop
voluntar-ily a range of learning, action, and reflection opportunities, determined by their
personal, social, econornic and political need.‖
Artinya adalah bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah sebuah proses yang didesain
untuk memperkaya kehidupan individual dan kelompok dengan mengikutsertakan orang-
orang dalam wilayah geografi, atau berbagi mengenai kepentingan umum, untuk
mengembangkan dengan sukarela tempat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan refleksi
yang ditentukan oleh pribadi, sosial, ekonomi, dan kebutuhan politik mereka.
Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu
pendekatan yang menganggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat
pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat
menyebabkan perubahan menjadi lebih balk. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa
pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga
pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas
asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi
masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi
untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya vang mereka miliki
serta dengan memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
Dalam UU sisdiknas no 20/2003 pasal 55 tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat
disebutkan sebagai berikut :
1. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan
formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk
kepentingan masyarakat.
2. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanannya sesuai dengan
standar nasional pendidikan.
3. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber-dari
penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan-yang berlaku.
4. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi
dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah.
5. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Dari kutipan di atas nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat dapat diselenggarakan
dalam jalur formal maupun nonformal, serta dasar dari pendidikan berbasis masyarakat
adalah kebutuhan dan kondisi masyarakat, serta masyarakat diberi kewenangan yang luas
untuk mengelolanya. Oleh karena itu dalam menyelenggarakannya perlu memperhatikan
tujuan yang sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat.
Untuk itu Tujuan dari pendidikan nonformal berbasis masyarakat dapat mengarah pada
isu-isu masyarakat yang khusus seperti pelatihan karir, perhatian terhadap lingkungan,
budaya dan sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan,
pendidikan keagamaan, pendidikan bertani, penanganan masalah kesehatan serti korban
narkotika, HIV/Aids dan sejenisnya. Sementara itu lembaga yang memberikan pendidikan
kemasyarakat bisa dari kalangan bisnis dan industri, lembaga-lembaga berbasis
masyarakat, perhimpunan petani, organisi kesehatan, organisasi pelayanan kemanusiaan,
organisi buruh, perpustakaan, museum, organisasi persaudaraan sosial, lembaga-lembaga
keagamaan dan lain-lain .
2. Pendidikan Nonformal Berbasis Masyarakat
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui
keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7. jalur yang digunakan bisa
formal dan atau nonformal.
Dalam hubungan ini, pendidikan nonformal berbasis masyarakat adalah pendidikan
nonformal yang diselenggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan
pendidikan dan berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi
mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pengetahuan dan keterampilan
fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian fungsional. Pendidikan nonformal
meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan,
pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan
dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas
lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis
taklirn serta satuan pendidikan yang sejenis.
Dengan demikian, nampak bahwa pendidikan nonformal pada dasarnya lebih cenderung
mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang merupakan sebuah proses dan
program, yang secara esensial, berkembangnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat
akan sejalan dengan munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial
bisa membantu pengembangan interaksi sosial yang membangkitkan concern terhadap
pembelajaran berkaitan dengan masalah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sosial,
politik,, lingkungan, ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara pendidikan berbasis
masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi
aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok. Untuk memenuhinya, maka partisipasi
warga harus didasari kebebasan tanpa tekanan dalam kemampuan berpartisipasi dan
keingin berpartisipasi.
3. Pinsip-prinsip Pendidikan Berbasis Masyarakat
Menurut Michael W. Galbraith pendidikan berbasis masyarakat memiliki prinsip-prinsip
sebagai berikut:
• Self determination (menentukan sendiri). Semua anggota masyarakat memiliki hak dan
tanggung jawab untuk terlibat dalam menentukan kebutuhan masyarakat dan
mengidentifikasi sumber-sumber masyarakat yang bisa digunakan untuk merumuskan
kebutuhan tersebut.
• Self help (menolong diri sendiri) Anggota masyarakat dilayani dengan baik ketika
kemampuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri telah didorong dan
dikembangkaii. Mereka menjadi bagian dari solusi dan membangun kemandirian lebih
baik bukan tergantung karena mereka beranggapan bahwa tanggung jawab adalah untuk
kesejahteraan mereka sendiri.
• Leadership development (pengembangan kepemimpinan) Para pemimpin lokal harus
dilatih dalam berbagai ketrampilan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan
proses kelompok sebagai cara untuk menolong diri mereka sendiri secara terus-menerus
dan sebagai upaya mengembangkan masyarakat.
• Localization (lokalisasi). Potensi terbesar unhik tingkat partisipasi masyarakat tinggi
terjadi ketika masyarakat diberi kesempatan dalam pelayanan, program dan kesempatan
terlibat dekat dengan kehidupan tempat masyarakat hidup.
• Integrated delivery of service (keterpaduan pemberian pelayanan) Adanya hubungan
antaragensi di antara masyarakat dan agen-agen yang menjalankan pelayanan publik dalam
memenuhi tujuan dan pelayanan publik yang lebih baik.
• Reduce duplication of service. Pelayanan Masyarakat seharusnya memanfaatkan secara
penuh sumber-sumber fisik, keuangan dan sumber dava manusia dalam lokalitas mereka
dan mengoordinir usaha mereka tanpa duplikasi pelayanan.
• Accept diversity (menerima perbedaan) Menghindari pemisahan masyarakat berdasarkan
usia, pendapatan, kelas sosial, jenis kelamin, ras, etnis, agama atau keadaan yang
menghalangi pengembangan masyarakat secara menyeluruh. Ini berarti pelibatan warga
masyarakat perlu dilakukan seluas mungkin dan mereka dosorong/dituntut untuk aktif
dalam pengembangan, perencanaan dan pelaksanaan program pelayanan dan aktifitas-
aktifitas kemasyarakatan.
• Institutional responsiveness (tanggung jawab kelembagaan) Pelayanan terhadap
kebutuhan masyarakat yang berubah secara terus-menerus adalah sebuah kewajiban dari
lembaga publik sejak mereka terbentuk untuk melayani masyarakat. Lembaga harus dapat
dengan cepat merespon berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat agar manfaat
lembaga akan terus dapat dirasakan.
• Lifelong learning (pembelajaran seumur hidup) Kesempatan pembelajaran formal dan
informal harus tersedia bagi anggota masyarakat untuk semua umur dalam berbagai jenis
latar belakang masyarakat.
Dalam perkembangannya, community-based education merupakan sebuah gerakan
nasional di negara berkemang seperti Indonesia. community-based education diharapkan
dapat menjadi salah satu fondasi dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society).
Dengan sendirinya, manajemen penndidikan yang berdasarkan pada community-based
education akan menampilkan wajah sebagai lembaga pendidikan dari masyarakat. Untuk
melaksanakan paradigma pendidikan berbasis masyarakat pada jalur nonformal setidak-
tidaknva mempersyaratkan lima hal (Sudjana. 1984). pertama, teknologi yang digunakan
hendaknya sesuai dengan kondisi dan situasi nyata yang ada di masyarakat. Teknologi
yang canggih yang diperkenalkan dan adakalanya dipaksakan sering berubah menjadi
pengarbitan masyarakat yang akibatnva tidak digunakan sebab kehadiran teknologi ini
bukan karena dibutuhkan, melainkan karena dipaksakan. Hal ini membuat masyarakat
menjadi rapuh. Kedua, ada lembaga atau wadah yang statusnya jelas dimiliki atau
dipinjam, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat. Di sini dituntut adanya partisipasi
masyarakat dalam peencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan pendidikan luar
sekolah. Ketiga, program belajar yang akan dilakukan harus bernilai sosial atau harus
bermakna bagi kehidupan peserta didik atau warga belajar dalam berperan di masyarakat.
Oleh karena itu, perancangannya harus didasarkan pada potensi lingkungan dan
berorientasi pasar, bukan berorientasi akademik semata.
Keempat, program belajar harus menjadi milik masyarakat, bukan milik instansi
pemerintah. Hal ini perlu ditekankan karena bercermin pada pengalaman selama ini bahwa
lembaga pendidikan yang dimiliki oleh instansi pemerintah terbukti belum mampu
membangkitkan partisipasi masyarakat. Yang terjadi hanyalah pemaksaan program, karena
semua program pendidikan dirancang oleh instansi yang bersangkutan. Kelima, aparat
pendidikan luar sekolah/nonformal tidak menangani sendiri programnya, namun bermitra
dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Organisasi-organisasi kemasyarakatan ini
yang menjadi pelaksana dan mitra masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka
dan dalam berhubungan dengan sumber-sumber pendukung program.
4. Pendidikan Berbasis Masyarakat untuk pembangunan masyarakat
Dalam upaya mendorong pada terwujudnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat,
maka diperlukan upaya untuk menjadikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari upaya
membangun masyarakat. Dalam hal ini diperlukan pemahaman yang tepat akan kondisi
dan kebutuhan masyarakat.
Pembangunan/pengembangan masyarakat, khususnya masyarakat desa merupakan suatu
fondasi penting yang dapat memperkuat dan mendorong makin meningkatnya
pembangunan bangsa, oleh karena itu pelibatan masyarakat dalam mengembangkan
pendidikan nonformal dapat menjadi suatu yang memberi makna besar bagi kelancaran
pembangunan.
Pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat sebagai
istilah-istilah yang dimaksud dalam pembahasan ini mengandung arti yang bersamaan.
Pengembangan masyarakat, terutama di daerah pedesaan, bila dibandingkan dengan daerah
perkotaan jelas menunjukan suatu ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih
keras untuk mencoba lebih seimbang diantara keduanya. pengembangan masyarakat,
pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat tersebut menunjukkan suatu upaya
yang disengaja dan diorganisasi untuk memajukan manusia dalam seluruh aspek
kehidupannya yang dilakukan di dalam satu kesatuan Wilayah. Kesatuan wilayah itu bisa
terdiri dari daerah pedesaan atau daerah perkotaan.
Upaya pembangunan ini bertujuan untuk terjadinya perubahan kualitas kehidupan manusia
dan kualitas wilayahnya atau lingkungannya ke arah yang lebih baik. Agar pembangunan
itu berhasil, maka pembangunan haruslah menjadi jawaban yang wajar terhadap kebutuhan
perorangan, masyarakat dan Pemerintah baik di tingkat desa, daerah ataupun di tingkat
nasional. Dengan demikian maka isi, kegiatan dan tujuan pengembangan masyarakat akan
erat kaitannya dengan pembangunan nasional.
TR Batten menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat ialah proses yang dilakukan
oleh masyarakat dengan usaha untuk pertama-tama mendiskusikan dan menentukan
kebutuhan atau keinginan mereka, kemudian merencanakan dan melaksanakan secara
bersama usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka itu (Batten, 1961).
Dalam proses tersebut maka keterlibatan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut.
Tahap pertama, dengan atau tanpa bimbingan fihak lain, masyarakat melakukan
identifikasi masalah, kebutuhan, keinginan dan potensi-potensi yang mereka miliki.
Kemudian mereka mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan mereka, menginventarisasi
kebutuhan-kebutuhan itu berdasarkan tingkat keperluan, kepentingan dan mendesak
tidaknya usaha pemenuhan kebutuhan. Dalam identifikasi kebutuhan itu didiskusikan pula
kebutuhan perorangan, kebutuhan masyarakat dan kebutuhan Pemerintah di daerah itu.
Mereka menyusun urutan prioritas kebutuhan itu sesuai dengan sumber dan potensi yang
terdapat di daerah mereka. Tahap kedua, mereka menjajagi kemungkinan-kemungkinan
usaha atau kegiatan yang dapat mereka lakukan, untuk memenuhi kebutuhan itu. apakah
sesuai dengan sumber-sumber yang ada dan dengan mempertimbangkan kemungkinan-
kemungkinan hambatan yang akan dihadapi dalam kegiatan itu. Selanjutnya mereka
menentukan pilihan kegiatan atau usaha yang akan dilakukan bersama. Tahap ketiga,
mereka menentukan rencana kegiatan, yaitu program yang akan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa memiliki
dikalangan masyarakat. Rasa pemilikan bersama itu menjadi prasarat timbulnya rasa
tanggung jawab bersama untuk keberhasilan usaha itu. Tahap keempat ialah melaksanakan
kegiatan. Dalam tahap keempat ini motivasi perlu dilakukan. Di samping itu komunikasi
antara pelaksana terus dibina. Dalam tahap pelaksanaan ini akan terdapat masalah yang
menuntut pemecahan. Pemecahan masalah itu dilakukan setelah dirundingkan bersama
oleh masyarakat dan para pelaksana. Tahap kelima, penilaian terhadap proses pelaksanaan
kegiatan, terhadap hasil kegiatan dan terhadap pengaruh kegiatan itu. Untuk kegiatan yang
berkelanjutan, hasil evaluasi itu dijadikan salah satu masukan untuk tindak lanjut kegiatan
atau untuk bahan penyusunan program kegiatan baru. Semua tahapan kegiatan itu
dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif. Pengembangan masyarakat yang bertumpu
pada kebutuhan dan tujuan pembangunan nasional itu memiliki dua jenis tujuan. Tujuan-
tujuan itu dapat digolongkan kepada tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
dengan sendirinya mengarah dan bermuara pada tujuan nasional, sedangkan tujuan khusus
yaitu perubahan-perubahan yang dapat diukur yang terjadi pada masyarakat. Perubahan itu
menyangkut segi kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri setelah melalui program
pengembangan masyarakat. Perubahan itu berhubungan dengan peningkatan taraf hidup
warga masyarakat dan keterlibatannya dalam pembangunan. Dengan kata lain tujuan
khusus itu menegaskan adanya perubahan yang dicapai setelah dilakukan kegiatan
bersama, yaitu berupa perubahan tingkah laku warga masyarakat. Perubahan tingkah laku
ini pada dasarnya merupakan hasil edukasi dalam makna yang wajar dan luas, yaitu adanya
perubahan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan aspirasi warga masyarakat serta adanya
penerapan tingkah laku itu untuk peningkatan kehidupan mereka dan untuk peningkatan
partisipasi dalam pembangunan masyarakat. Partisipasi dalam pembangunan masyarakat
itu bisa terdiri dari partisipasi buah fikiran, harta benda, dan tenaga (Anwas Iskandar,
1975). Dalam makna yang lebih luas maka tujuan pengembangan masyarakat pada
dasarnya adalah pengembangan demokratisasi, dinamisasi dan modernisasi (Suryadi,
1971).
Prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikemukakan di sini ialah keterpaduan,
berkelanjutan, keserasian, kemampuan sendiri (swadaya dan gotong royong), dan
kaderisasi. Prinsip keterpaduan memberi tekanan bahwa kegiatan pengembangan
masyarakat didasarkan pada program-program yang disusun oleh masyarakat dengan
bimbingan dari lembaga-lembaga yang mempunyai hubungan tugas dalam pembangunan
masyarakat. Prinsip berkelanjutan memberi arti bahwa kegiatan pembangunan masyarakat
itu tidak dilakukan sekali tuntas tetapi kegiatannya terus menerus menuju ke arah yang
lebih sempurna. Prinsip keserasian diterapkan pada program-program pembangunan
masyarakat yang memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan Pemerintah.
Prinsip kemampuan sendiri berarti dalam melaksanakan kegiatan dasar yang menjadi
acuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Prinsip-prinsip di atas memperjelas makna bahwa program-program pendidikan nonformal
berbasis masyarakat harus dapat mendorong dan menumbuhkan semangat pengembangan
masyarakat, termasuk keterampilan apa yang harus dijadikan substansi pembelajaran
dalam pendidikan nonformal. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pendidikan
nonformal sebagai bagian dari kegiatan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang serius
agar hasil dari pendidikan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya peningkatan
kualitas hidup mereka
Dalam hal ini perlu disadiri bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar apabila di
masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah tumbuh kesadaran
dan semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta ketrampilan tertentu yang
dapat menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan nonformal
diharapkan dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi untuk membangun masyarakat
desanya sendiri sabagai suatu kontribusi bagi pembangunan bangsa pada umumnya.
C. K E S I M P U L A N
Dari apa yang telah diuraikan terdahulu dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan
dengan Pendidikan Nonformal berbasis Masyarakat sebagai berikut :
• Pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya untuk lebih melibatkan masyarakat
dalam upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan.
• Pendidikan nonformal berbasis masyarakat merupakan suatu upaya untuk menjadikan
pendidikan nonformal lebih berperan dalam upaya membangun masyarakat dalam berbagai
bidangnya, pelibatan masyarakat dalam pendidikan nonformal dapat makin meningkatkan
peran pendidikan yang dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
• Untuk mencapai hal tersebut pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan pendidikan
nonformal menjadi suatu keharusan, dalam hubungan ini diperlukan tentang pemehaman
kondisi masyarakat khususnya di desa berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam
rangka meningkatkan kualitas hidupnya, serta turut bertanggungjawab dalam upaya terus
mengembangkan pendidikan yang berbasis masyarakat, khususnya masyarakat desa
D. DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Sanapiah, (tt). Sosiologi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Nasution, S. (1983). Sosiologi Pendidikan,Jemmars, Bandung.
Soelaiman Joesoef dan Slamet Santosa, (1981). Pendidikan Sosial, Usaha
Nasional,Surabaya
Sudjana SF, Djudju. (1983). Pendidikan Nonformal (Wawasan-Sejarah-Azas), Theme,
Bandung.
Tilaar, H.A.R (1997) Pengembangan Sumber Daya Manusia
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN

A. Latar Belakang
Kegiatan pendidikan selalu berlangsung di dalam suatu lingkungan. Dalam konteks
pendidikan, lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di luar diri
anak. Anak, dalam hal ini manusia tidak akan bisa dipisahkan dengan lingkungannya.
Sehingga terkadang, lingkungan pun akan berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak,
serta salah satu faktor yang membentuk karakter anak. Lingkungan dapat berupa hal-hal
yang nyata, seperti tumbuhan, orang, keadaan, politik, kepercayaan dan upaya lain yang
dilakukan manusia, termasuk di dalamnya adalah pendidikan.

Di dalam konteks pembangunan manusia seutuhnya, keluarga, sekolah dan masyarakat


akan menjadi pusat-pusat kegiatan pendidikan yang akan menumbuhkan dan
mengembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Dengan
memperhatikan bahwa anak adalah individu yang berkembang, ia membutuhkan
pertolongan dari orang yang telah dewasa, anak harus dapat berkembang secara bebas,
tetapi terarah. Hal itulah yang disebut pendidikan. Pendidikan harus dapat memberikan
motivasi dalam mengaktifkan anak.
Melalui kegiatan pendidikan, gambaran tentang masyarakat yang ideal itu dituangkan
dalam alam pikiran peserta didik sehingga terjadi proses pembentukan dan perpindahan
budaya. Pemikiran ini mengandung makna bahwa lembaga pendidikan sebagai tempat
pembelajaran manusia memiliki fungsi sosial (agen perubahan di masyarakat).
Lantas apakah lembaga pendidikan kita, baik yang formal ataupu informal telah mampu
mengantarkan peserta didiknya sebagai agen perubahan sosial di masyarakat? Untuk Hal
ini masih perlu dipertanyakan. Lembaga pendidikan kita sepertinya kurang berhasil dalam
mengantarkan anak didiknya sebagai agen perubahan sosial di masyarakat, terbukti dengan
belum adanya perubahan yang signufikan dan menyeluruh terhadap masalah kebudayaan
dan keilmuan masyarakat kita, dan masih maraknya komersialisasi ilmu pengetahuan di
lembaga-lembaga pendidikan kita, mahalnya biaya pendidikan serta orientasi yang hanya
mempersiapkan peserta didik hanya untuk memenuhi bursa pasar kerja ketimbang
memandangnya sebagai objek yang dapat dibentuk untuk menjadi agen perubahan sosial di
masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian lingkungan pendidikan ?
2. Apakah fungsi dan peranan, serta tanggung jawab lembaga pendidikan keluarga ?
3. Seperti apakah klasifikasi dari Lembaga Pendidikan ?
4. Apa sajakah bentuk dari Lembaga Pendidikan ?
5. Bagaimanakah keterkaitan antara Lembaga Pendidikan Dan Perubahan Sosial ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lingkungan Pendidikan


Dalam arti luas, pendidikan adalah berusaha membangun seseorang untuk lebih dewasa.
Atau Pendidikan adalah suatu proses transformasi anak didik agar mencapai hal hal
tertentu sebagai akibat proses pendidikan yang diikutinya. Pendidikan adalah segala situasi
hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Lebih jelasnya pendidikan
adalah setiap proses di mana seseorang memperoleh pengetahuan, mengembangkan
kemampuan/keterampilan sikap atau mengubah sikap.
Secara garis besar, pendidikan mempunyai fungsi sosial dan individual. Fungsi sosialnya
adalah untuk membantu setiap individu menjadi anggota masyarakat yang lebih efektif
dengan memberikan pengalaman kolektif masa lampau dan masa kini. Fungsi
individualnya adalah untuk memungkinkan seorang menempuh hidup yang lebih
memuaskan dan lebih produktif dengan menyiapkannya untuk menghadapi masa depan
(pengalaman baru). Proses pendidikan dapat berlangsung secara formal seperti yang terjadi
di berbagai lembaga pendidikan. Ia juga berlangsung secara informal lewat berbagai
kontak dengan media komunikasi seperti buku, surat kabar, majalah, TV, radio dan
sebagainya atau non formal seperti interaksi peserta didik dengan masyarakat sekitar.
Organisasi pendidikan mikra adalah organisasi pendidikan dilihat dengan titik tolak pada
unit-unit yang ada pada suatu sekolah atau lembaga penyelenggara langsung proses belajar
mengajar. Struktur organisasi di setiap sekolah tidak seluruhnya sama, disebabkan oleh
kompleks tidaknya kegiatan dan tenaga yang ada atau sarana lain.
Sedangkan lingkungan pendidikan adalah alam sekitar yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak dan peserta didik. Lingkungan pendidikan terbagi
tiga dimensi, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Tipologi pendidikan yang mempengaruhi pendidikan, antara lain:
1. Tipologi lingkungan keluarga
Seorang anak mulai mengenal hidup dan kehidupannya dimulai di dalam keluarga.
Seorang anak masuk dalam keluarga mulai dari kandungan hingga tumbuh berkembang
sampai anak sanggup melepaskan diri dari ikatan keluarga. Berdasarkan kenyataan dapat
disimpulkan bahwa pengaruh lingkungan keluarga sangat menentukan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Dasar-dasar perilaku akan ditentukan oleh adat istiadat orang tuanya,
juga sifat sikap hidup serta kebiasaan-kebiasaan orang tuanya.
2. Tipologi lingkungan sekolah
Sekolah merupakan lingkungan pendidikan kedua setelah lingkungan rumah. Sekolah
merupakan tempat latihan persahabatan dan persaudaraan. Suasana sekolah ditentukan oleh
petugas-petugas yang berbeda-beda sehingga dapat menghilangkan kejenuhan. Banyak
orang tua yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan bagi anak-anaknya
itu kepada sekolah. Dengan demikian, guru di sekolah berperan sebagai pendidik
pengganti orang tua yang harus bertanggung jawab atas pendidikan.
3. Tipologi lingkungan masyarakat
Arti masyarakt menurut Cook adalah sekumpulan orang yang menempati suatu daerah,
diikat oleh kebiasaan dan pengalaman-pengalaman yang sama, serta memiliki sejumlah
persesuaian, kesatuan dan tindakan yang sama di dalam kehidupannya. Lingkungan
mayarakat sangat mempengaruhi perkembangan anak, seperti :
a. Perkembangan intelektual antara lain : tingkat kecerdasan, kecepatan reaksi, kapasitas
sintesa, kapasitas ingatan dan pengembangan bakat khusus.
b. Perkembangan emosi anak seperti : perasaan senagn, sedih, gembira, ramah, pendiam,
pemarah dan seterusnya
c. Perkembangan kepribadian seperti memilliki cita-cita yang teguh, memiliki rasa
tanggung jawab, mengetahui hak dan kewajiban, percaya diri dan sebagainya.

B. Pengertian dan Fungsi Lembaga Pendidikan

Secara bahasa lembaga adalah suatu organisasi sedangkan pendidikan adalah usaha
manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk
menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka
mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah,
terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai
sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi
salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.
Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa lembaga pendidikan memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap corak dan karakter masyarakat. Belajar dari sejarah perkembanganya
lembaga pendidikan yang ada di indonesia memiliki beragam corak dan tujuan yang
berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang melingkupi, mulai dari zaman kerajaan dengan
bentuknya yang sangat sederhana dan zaman penjajahan yang sebagian memiliki corak ala
barat dan gereja, dan corak ketimuran ala pesantren sebagai penyeimbang, serta model dan
corak kelembagaan yang berkembang saat ini tentunya tidak terlepas dari kebutuhan dan
tujuan-tujuan tersebut.
Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, yaitu untuk mengejar
ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui DPR dan
Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mengesahkan Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989.
Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal
tersebut juga merupakan pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak
sejak tahun 1998.
Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang Sisdiknas yang baru
tersebut antara lain adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta
masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan
peserta didik.
Sebagai sistem sosial, lembaga pendidikan harus memiliki fungsi dan peran dalam
perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala lini. Dalam hal ini lembaga
pendidikan memiliki dua karakter secara umum. Pertama, melaksanakan peranan fungsi
dan harapan untuk mencapai tujuan dari sebuah sistem. Kedua mengenali individu yang
berbeda-beda dalam peserta didik yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan.
Kemudian sebagai agen perubahan lembaga pendidikan berfungsi sebagai alat :
1) Pengembangan pribadi
2) Pengembangan warga
3) Pengembangan Budaya
4) Pengembangan bangsa

Peran sesungguhnya dari lembaga pendidikan adalah sebagai jembatan pengantar kita
untuk mecapai tujuan pendidika nasional, sebagaimana dinyatakan bahwa ―pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab‖.

C. Klasifikasi Lembaga Pendidikan


Upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat pada dasarnya merupakan cita-cita dari
pembangunan bangsa. Kesejahteraan dalam hal ini mencakup dimensi lahir batin, material
dan spiritual. Lebih dari itu pendidikan menghendaki agar peserta didiknya menjadi
individu yang menjalani kehidupan yang aman dan damai. Oleh karena itu pembangunan
lembaga pendidikan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan
Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera. Sejalan dengan realitas kehidupan sosial yang
berkembang di masyarakat, maka pengembangan nilai-nilai serta peningkatan mutu
pendidikan tentunya menjadi tema pokok dalam rencana kerja pemerintah dalam
membangun lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan di indonesia dalam UU bisa kita klasifikasikan menjadi dua
kelompok yaitu: sekolah dan luar sekolah, selanjutnya pembagian ini lebih rincinya
menjadi tiga bentuk:
1). Informal (keluarga)
Pendidikan informal, atau pendidikan pertama adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri, hal ini
adalah menjadi pendidikan primer bagi peserta dalam dalam pembentukan karakter dan
kepribadian
2). Formal (sekolah)
Jalur formal adalah lembaga pendidikan yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi dengan jenis pendidikan:
1). Umum
2). Kejuruan
3). Akademik
4). Profesi
5). Advokasi
6). Keagamaan.
Pendidikan formal dapat coraknya diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh pemerintah (pusat), pemerintah daerah dan masyarakat
Pendidikan dasar yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan
menengah berbentuk lembaga sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau
bentuk lain yang sederajat, serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (Mts) atau bentuk lain yang sederajad.
Sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar, bagi anak usia 0-6 tahun diselenggarakan
pendidikan anak usia dini, tetapi bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan
dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal (TK, atau
Raudatul Athfal), sedangkan dalam nonformal bisa dalam bentuk ( TPQ, kelompok
bermain, taman/panti penitipan anak) dan/atau informal (pendidikan keluarga atau
pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan
Sedangkan Pendidikan menengah yang merupakan kelanjutan pendidikan dasar terdiri atas,
pendidikan umum dan pendidikan kejuruan yang berbentuk sekolah menengah atas
(SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah
kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajad.
Yang terakhir adalah pendidikan tinggi yang merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah, pendidikan ini mencakup program pendidikan
1). Diploma
2). Sarjana
3). Magister
4). Doktor,
Perguruan tinggi memiliki beberapa bentuk
1). Akademi
2). Politeknik
3). Sekolah tinggi
4). Institut atau universitas
yang secara umum lembaga-lembaga tinggi ini dibentuk dan diformat untuk
menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, serta
menyelenggarakan program akademik, profesi dan advokasi.
Semua lembaga formal di atas diberi hak dan wewenang oleh pemerintah untuk
memberikan gelar akademik kepada setiap peserta didik yang telah menempuh pendidikan
di lembaga tersebut. Khusus bagi perguruan tinggi yang memiliki program profesi sesuai
dengan program pendidikan yang diselenggarakan doktor berhak memberikan gelar doktor
kehormatan (doktor honoris causa) kepada individu yang layak memperoleh penghargaan
berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi,
kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni.
Untuk menanggulangi permasalahan yang cukup aktual dan meresahkan masyarakat saat
ini, seperti pemberian gelar-gelar instan, pembuatan skripsi atau tesis palsu, ijazah palsu
dan lain-lain, pemerintah telah mengatur dan mengancam sebagai tindak pidana dengan
sanksi yang juga telah ditetapkan dalam UU Sisdiknas yang baru (Bab XX Ketentuan
Pidana, pasal 67-71).
3). Nonformal (masyarakat)
Pendidikan nonformal, atau pendidikan kedua meliputi pendidikan kecakapan hidup,
pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,
pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan
kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik. Satuan pendidikan nonformal meliputi lembaga kursus, lembaga pelatihan,
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), dan majelis taklim, serta
satuan pendidikan yang sejenis. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan
hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh
lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah dengan mengacu
pada standard nasional pendidikan. Adapun pendidikan nonformal diselenggarakan bagi
warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai
pengganti, penambah, atau ingin melengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung
pendidikan sepanjang hayat, yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan
penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta
pengembangan sikap dan kepribadian profesional

a. Setiap lembaga pendidikan luar sekolah memiliki unsur-unsur sebagai berikut :


• Pimpinan/pengelola lembaga/kursus
• Sumber belajar
• Warga belajar
• Kurikulum/program belajar
• Prasarana belajar
• Sarana belajar
• Tata usaha lembaga belajar
• Dana belajar
• Rencana pengambangan
• Usaha-usaha bersifat pengabdian
• Hasil belajar
• Ragi blajar
b. Pendaftaran dan perizinan
Mendirikan lembaga pendidika luar sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat baik
perorangan, kelompok, agar mendapat pengakuan dari Dikmas tingkat kecamatan,
kotamadya/kabupaten harus mendaftarkan diri/lembaganya.
• Tahap pertama : Tercatat, yaitu suatu tahap lembaga PLS telah dicatat oleh penilik
pendidikan masyarakat setempat.
• Tahap kedua : Terdaftar, yaitu suatu tahap lembaga PLS telah terdaftar pada kepala seksi
Dikmas dengan petunjuk penilik Dikmas. Status terdaftar ini merupakan masa percobaan
dan berlaku paling lama 6 bulan.
• Tahap ketiga : Izin penyelenggara kursus PLS.
c. Kewenangan member dan mencabut izin penyelenggaraan kursus Diklusemas.
• Teguran lisan oleh kepala Kantor Depdikbud Kecamatan
• Peringatan tertulis I, II dan III dilakukan oleh kepala Kantor Depdikbud
Kabupaten/Kotamadya dengan tembusan Kepala Kanwil Depdikbud Propinsi dan Direktur
Pendidikan Masyarakat.
• Pencabutan izin untuk sementara dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Depdikbud
Propinsi dengan tembusan Kepala Direktur Dikmas.
• Pencabutan izin sepenuhnya oleh Kakanwil Depdikbud Propinsi, bila dalam waktu 3
bulan berturut-turut setelah pencabutan izin sementara penyelenggara jursus
mengabaikannya.
Ketiga klasifikasi di atas dalam pergumulanya di masyarakat memiliki peran yang
berbeda-beda, lembaga pendidikan pertama, yaitu informal atau keluarga, ranah garapanya
adalah lebih banyak diarahkan dalam pembentukan karakter atau keyakinan dan norma.
Lembaga pendidikan kedua, yaitu formal atau sekolah, peran besarnya lebih banyak di
arahkan pada pengembangan penalaran murid. Yang terakhir lembaga pendidikan ketiga,
yaitu masyarakat, perannya lebih banyak pada pembentukan karakter sosial.
Ketiga pembagian di atas adalah merupakan perubahan mendasar, Dalam Sisdiknas yang
lama pendidikan informal (keluarga) tersebut sebenarnya juga telah diberlakukan, namun
masih termasuk dalam jalur pendidikan luar sekolah, dan ketentuan
penyelenggaraannyapun tidak konkrit.
D. Berbagai Bentuk Lembaga Pendidikan
1. Lembaga Pendidikan Keluarga
Sebagai transmisi pertama dan utama dalam pendidikan, keluarga memiliki tugas utama
dalam peletakan dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.
Dikatakan pertama karena keluarga adalah tempat dimana anak pertama kali mendapat
pendidikan. Sedangkan dikatakan utama karena hampir semua pendidikan awal yang
diterima anak adalah dalam keluarga. Karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan
tertua, yang bersifat informal dan kodrat. Lahirnya keluarga sebagai pendidikan dimulai
sejak manusia itu ada. Ayah dan ibu sebagai pendidik, dan anak sebagai terdidik. Tugas
keluarga adalah meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak berikutnya, agar anak
dapat berkembang secara baik.
Fungsi dan Peranan Pendidikan Keluarga
1) Pengalaman Pertama Masa Kanak-Kanak
Pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan berikutnya,
khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab
pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan selanjutnya.
2) Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Tiga hal yang menjadi pokok dalam pembentukan emosional anak, adalah :
a) Pemberian perhatian yang tinggi terhadap anak, misalnya dengan menuruti kemauannya,
mengontrol kelakuannya, dan memberikan rasa perhatian yang lebih.
b) Pencurahan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu dengan berucap lemah lembut, berbuat
yang menyenangkan dan selalu berusaha menyelipkan nilai pendidikan pada semua
tingkah laku kita.
c) Memberikan contoh kebiasaan hidup yang bermanfaat bagi anak, yang diharapkan akan
menumbuhkan sikap kemandirian anak dalam melaksanakan aktifitasnya sehari-hari.
3) Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Seperti pepatah ―Buah jatuh tak jauh dari pohonnya‖. Anak akan selalu berusaha
menirukan dan mencontoh perbuatan orang tuanya. Karenanya, orang tua harus mampu
menjadi suri tauladan yang baik. Misalnya dengan dengan mengajarkan tutur kata dan
perilaku yang baik bagi anak-anaknya.
4) Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam kehidupan sosial merupakan satu tempat awal
bagi anak dalam mengenal nilai-nilai sosial. Di dalam keluarga, akan terjadi contoh kecil
pendidikan sosial bagi anak. Orang tua sebagai teladan, sudah semestinya memberikan
contoh yang baik bagi anak-anak. Misalnya memberikan pertolongan bagi anggota
keluarga yang lain, menjaga kebersihan dan keindahan dalam lingkungan sekitar.
5) Peletakkan Dasar-dasar Keagamaan
Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam usaha menanamkan nilai dasar
keagamaan. Kehidupan keluarga yang penuh dengan suasana keagamaan akan memberikan
pengaruh besar kepada anak. Kebiasaan orang tua mengucapkan salam ketika akan masuk
rumah merupakan contoh langkah bijaksana dalam upaya penanaman dasar religius anak.
Dalam hal ini keluarga bertanggung jawab atas apa yang diajarkan kepada anak sebagai
peserta didik. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diberikan kepada peserta didik
(anak) oleh keluarga:
1) Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan
anak. Hubungan yang tidak didasari cinta kasih akan menimbulkan beberapa sifat negatif
bagi perkembangan anak. Begitu pula, tidak cukupnya kebutuhan anak akan kasih sayang
akan membuat anak selalu merasa tertekan dan ragu dalam menjalani kehidupan
selanjutnya.
2) Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua
terhadap keturunannya. Usia anak yang masih dini akan cukup membantu orang tua dalam
penanaman sikap-sikap hidup. Rasa ingin tahu anak akan menghasilkan pengetahuan yang
asli dan berakar bagi anak. Keluarga harus mampu menggunakan masa ini untuk betul-
betul membentuk kepribadian awal anak sebagai anggota keluarga.
3) Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga pada gilirannya akan menjadi
tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara. Masyarakat yang sejahtera dibentuk dari
keluarga-keluarga yang sejahtera pula. Keluarga merupakan awal perubahan dalam
kehidupan bermasyarakat, karena itu keluarga mempunyai tanggung jawab membentuk
masyarakat yang sejahtera.
4) Memelihara dan membesarkan anaknya. Ikatan darah dan batin antara orang tua dan
anak akan memberikan dorongan alami bagi orang tua untuk betul-betul mendidik anak
menjadi apa yang mereka inginkan.
5) Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.
2. Lembaga Pendidikan Sekolah
Akibat terbatasnya kemampuan orang tua dalam mendidik anaknya, maka dipercayakanlah
tugas mengajar itu kepada orang dewasa lain yang lebih ahli dalam lembaga pendidikan
formal, yaitu guru. Sekolah sebagai wahana pendidikan ini, menjadi produsen penghasil
individu yang berkemampuan secara intelektual dan skill. Karenanya, sekolah perlu
dirancang dan dikelola dengan baik. Karakteristik proses pendidikan di sekolah, antara lain
:
a. Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenis jenjang yang memiliki hubungan
hierarkis.
b. Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan relatif homogen
c. Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus
diselesaikan
d. Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat akademis dan umum
e. Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan sebagai jawaban kebutuhan di masa yang
akan datang.
Sekolah lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari, oleh dan untuk masyarakat.
Sekolah berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga
negara.
a. Fungsi Lembaga Sekolah
1) Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik
2) Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
3) Efisiensi. Pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis, juga
jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi pendidikan anak
dan juga bagi orang tua.
4) Sosialisasi, yaitu proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu
beradaptasi dengan masyarakat.
5) Konservasi dan transmisi kultural, yaitu pemeliharaan warisan budaya. Dapat dilakukan
dengan pencarian dan penyampaian budaya pada anak didik selaku generasi muda.
6) Transisi dari rumah ke masyarakat. Sekolah menjadi tempat anak untuk melatih berdiri
sendiri dan tanggung jawab anak sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.
b. Peranan Lembaga Sekolah
1) Tempat anak didik belajar bergaul, baik sesamanya, dengan guru dan dengan karyawan.
2) Tempat anak didik belajar mentaati peraturan sekolah.
3) Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi
agama, bangsa dan agama.
c. Tanggung Jawab Sekolah
1) Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan
menurut ketentuan yang berlaku.
2) Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan dan tingkat pendidikan.
3) Tanggung jawab fungsional adalah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana
pendidikan yang menerima ketetapan ini berdasarkan ketentuan jabatannya.
d. Sifat-sifat Lembaga Pendidikan Sekolah
1) Tumbuh sesudah keluarga (pendidikan kedua), maksudnya sekolah memikul tanggung
jawab dari keluarga untuk mendidik anak-anak mereka.
2) Lembaga Pendidikan Formal, dalam arti memiliki program yang jelas, teratur dan resmi.
3) Lembaga pendidikan tidak bersifat kodrati. Maksudnya hubungan antara guru dan murid
bersifat dinas, bukan sebagai hubungan darah.
e. Macam-macam Sekolah
1) dari Segi yang Mengusahakan
a) Sekolah negeri, yaitu sekolah yang diusahakan oleh pemerintah, baik segi fasilitas,
keuangan maupun tenaga pengajar.
b) Sekolah swasta, yaitu sekolah yang diusahakan oleh badan-badan swasta. Terdiri atas 4
status yakni : Disamakan, Diakui, Terdaftar dan Tercatat.
2) Ditinjau dari Tingkatan
a) Pendidikan Pra Sekolah, yaitu pendidikan sebelum Sekolah Dasar.
b) Pendidikan Dasar, yaitu : Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah dan SLTP/ MTs.
c) Pendidikan Menengah, yaitu : SLTA & Kejuruan atau Madrasah Aliyah.
d) Pendidikan Tinggi, yaitu : Akademi, Institut, Sekolah Tinggi atau Universitas.
3) Ditinjau dari sifatnya
a) Sekolah Umum, yaitu sekolah yang belum mempersiapkan anak dalam spesialisasi pada
bidang pekerjaan tertentu. Misalnya : SD, SLTP dan SLTA.
b) Sekolah Kejuruan, yakni lembaga pendidikan sekolah yang mempersiapkan anak untuk
menguasai keahlian-keahlian tertentu. Misalnya : SMEA, MAK, SMK dan STM.
f. Sumbangsih Khas Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan
1) Sekolah Melaksanakan tugas mendidik maupun mengajar anak, serta memperbaiki,
memperluas tingkah laku si anak didik.
2) Sekolah mendidik maupun mengajar anak didik menerima dan memiliki kebudayaan
bangsa
3) Sekolah membantu anak didik mengembangkan kemampuan intelektual dan
keterampilan kerja.
3. Lembaga Pendidikan Masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi
seseorang. Dalam hal ini, masyarakat mempunyai peranan penting dalam upaya ikut serta
menyelenggarakan pendidikan, membantu pengadaan tenaga & biaya, sarana dan
prasarana dan menyediakan lapangan kerja. Karenanya, partisipasi masyarakat membantu
pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa yang sangat diharapkan.
Pendidikan dalam masyarakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah
b. Peserta umumnya mereka yang tidak bersekolah atau drop out
c. Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek
d. Peserta tidak perlu homogen
e. Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis
f. Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus
g. Keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan
meningkatkan taraf hidup
1. Beberapa Istilah Jalur Pendidikan Luar Sekolah
a. Pendidikan Sosial, yaitu proses yang diusahakan dengan sengaja di dalam masyarakat
untuk mendidik individu & lingkungan sosial, supaya bebas dan bertanggung jawab.
b. Pendidikan Masyarakat, merupakan pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa,
termasuk pemuda di luar batas umur tertinggi kewajiban belajar dan dilakukan di luar
lingkungan dan sistem persekolahan resmi.
c. Pendidikan Rakyat adalah tindakan-tindakan atau pengaruh yang terkadang mengenai
seluruh rakyat.
d. Pendidikan Luar Sekolah adalah pendidikan yang dilakukan di luar sistem persekolahan
biasa.
e. Mass Education adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa di luar
lingkungan sekolah
f. Adult Education adalah pendidikan untuk orang dewasa yang mengambil umur batas
tertinggi dari masa kewajiban belajar.
g. Extension Education adalah suatu bentuk dari adult education, yaitu pendidikan yang
diselenggarakan di luar sekolah biasa, yang khusus dikelola oleh Perguruan Tinggi untuk
menyahuti hasrat masyarakat yang ingin masuk dunia Universitas, misalnya Univ. Terbuka
h. Fundamental Education ialah pendidikan yang bertujuan membantu masyarakat untuk
mencapai kemajuan sosial ekonomi, agar mereka dapat menempati posisi yang layak
2. Sasaran dan Program Pendidikan Jalur Luar Sekolah
a. Para buruh dan Petani
Kebanyakan berpendidikan rendah atau bahkan tidak sama sekali. Pendidikan yang
diberikan adalah pendidikan yang mampu menolong meningkatkan produktifitas dengan
mengajarkan keterampilan dan metode baru, yang mendidik mereka agar bisa memenuhi
kewajiban sebagai warga negara dan kepala keluarga serta mampu menggunakan waktu
secara efektif.
b. Para Remaja Putus Sekolah
Golongan remaja yang menganggur memerlukan pendidikan yang menarik, merangsang
dan relevan dengan kebutuhan hidupnya.
c. Para Pekerja yang Berketerampilan
Agar mampu menghadang berbagai tantangan masa depan, maka program pendidikan yang
diberikan kepada mereka hendaknya yang bersifat kejuruan dan teknik. Dengan tujuan
dapat menyelamatkan mereka dari bahaya keuangan, pengetahuan dan keterampilan yang
mereka miliki serta membuka jalan bagi mereka untuk naik ke jenjang hidup yang lebih
baik.
d. Golongan Teknisi dan Profesional
Mereka memegang peranan penting dalam kemajuan masyarakat. Karenanya, peran
mereka harus dioptimalkan dengan memperbaharui dan menambah pengetahuan serta
keterampilannya.
e. Para Pemimpin Masyarakat
Termasuk di dalamnya para pemimpin politisi, agama, sosial dan sebagainya. Mereka
dituntut mampu mengaplikasikan berbagai pengetahuan mereka dan berusaha untuk
memperbaharui sikap dan gagasan yang sesuai dengan kemajuan dan pembangunan.
f. Anggota Masyarakat yang Sudah Tua
Akibat perkembangan zaman, banyak ilmu pengetahuan yang tidak mereka dapatkan.
Karena itu pendidikan merupakan kesempatan yang berharga bagi mereka.
E. Keterkaitan antara Lembaga Pendidikan Dan Perubahan Sosial
Telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari
generasi ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan
nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah diemban oleh
orang-orang yang terbeban terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang
yang punya visi ke depan, yaitu menjadikan serta mencetak generasi yang lebih baik dan
beradab. Peradaban kuno mencatat methode penyampaian ajaran lewat tembang dan
kidung, puisi ataupun juga cerita sederhana yang biasanya tentang kepahlawanan
Perubahan sosial budaya masyarakat sebagaimana yang kita bicarakan di atas tidak akan
pernah bisa kita hindari, sehinga akan menuntut lembaga pendidikan sebagai agen
perubahan untuk menjawab segala permasalahan yang ada. Dalam permasalahan ini
lembaga pendidikan haruslah memiliki konsep dan prinsip yang jelas, baik dari lembaga
formal ataupun yang lainya, demi terwujudnya cita-cita tersebut, kiranya maka perlulah
diadakanya pembentukan kurikulum yang telah disesuaikan. Prinsip dasar pembentukan
tersebut adalah meliputi:
1. Perumusan tujuan institusional yang meliputi:
a. Orientasi pada pendidikan nasional
b. Kebutuhan dan perubahan masyarakat
c. Kebutuhan lembaga.
2. Menetapkan isi dan struktur progam
3. Penyusunan strategi penyusunan dan pelaksanaan kurikulum
4. Pengembangan progam
diharapkan nanti dengan persiapan dan orientasi yang jelas sebagaimana di atas,
diharapkan lembaga-lembaga pendidikan akan mampu mencetak kader-kader perubahan ke
arah perbaikan di masyarakat. Selanjutnya mengenai pengembangan kurikulum ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan, yaitu:
1. relevansi dengan dengan pendidikan lingkungan hidup masyarakat
2. sesuai dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan akan datang
3. efektifitas waktu pengajar dan peserta didik
4. efisien, dengan usaha dan hasilnya sesuai
5. kesinambungan antara jenis, progam, dan tingkat pendidikan
6. fleksibelitas atau adanya kebebasan bertindak dalam memilih progam, pengembangan
progam, dan kurikulum pendidikan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan seumur hidup dikelola atas tanggung jawab
keluarga, sekolah dan masyarakat. Dimana masing-masing mempunyai tanggung jawab
yang terpadu dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
1. Keluarga sebagai lingkungan pertama, bertanggung jawab untuk memberikan dasar
dalam menumbuh kembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius.
2. Sekolah sebagai lingkungan kedua bertugas mengembangkan potensi dasar yang
dimiliki masing-masing individu agar mempunyai kecerdasan intelektual dan mental. Dari
individu yang cerdas, akan lahir bangsa yang cerdas yang mampu memecahkan
masalahnya sendiri.
3. Masyarakat sebagai lembaga ketiga memberikan anak kemampuan penalaran,
keterampilan dan sikap. Juga menjadi ajang pengoptimalan perkembangan diri setiap
individu.
Dengan mehamami beberapa pembagian dan penjelasan tentang masalah-masalah yang
melingkupi lembaga pendidikan masing–masing, diharapkan adanya agen-agen yang
mampu merubah kondisi negeri ini dari keterpurukan nasional, tentunya hal ini juga
diperlukan adanya langkah nyata serta bantuan baik moril ataupun materil dari pemerintah
maupun masyarakat terhadap semua undang-undang yang telah dicanagkan agar bisa
terlaksan dengan sempurna. Walaupun dari beberapa undang-undang yang telah di
tetapkan oleh pemerintah tidak luput dari kritik dari beberapa tokoh liberal karena negara
telah memasukan pemahasan-pembahasan agama kedalam undang-undang yang berpotensi
menumbuhkan gesekan antar agama. Tentunya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi
agama haruslah mengangap bahwa hal itu hanya sebagai salah satu koreksi ke arah yang
lebih baik atas peran lembaga pendidikan di masyarakat.
KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN
A. KONSEP DASAR

Untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep dasar, penulis akan menguraikan terlebih
dahulu beberapa pengertian manajemen, pendidikan serta manajemen pendidikan.

1. Defenisi Manajemen

Syafaruddin dalam bukunya Manajemen Lembaga Pendidikan Islam mengutip pendapat


Terry bahwa: Management is performance of conceiving and achieving desaired results by
means of group efforts consisting of utilizing human talent and resources.[1] Pendapat ini
dapat dipahami bahwa manajemen adalah kemampuan mengarahkan dan mencapai hasil
yang diinginkan sebagai tujuan sebuah organisasi dari usaha-usaha manusia dan
sumberdaya lainnya.

Nanang Fattah dalam bukunya Landasan Manajemen Pendidikan, dalam memahami


defenisi manajemenia mengemukakan pendekatan berdasarkan pengalaman manajer.
Manajemen dilihat sebagai suatu sistem yang setiap komponennya menampilkan sesuatu
untuk memenuhi kebutuhan. Manajemen merupakan suatu proses sedangkan manajer
dikaitkan dengan aspek organisasi (orang-struktur-tugas-teknologi) dan bagaimana
mengaitkan aspek yang satu dengan yang lain, serta bagaimana mengaturnya sehingga
tercapailah tujuan sebuah sistem.[2]

Manajemen sebagai proses akan melibatkan fungsi-fungsi seorang manajer yaitu


perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpinan (leading), dan
pengawasan (controlling). Oleh karena itu manajemen diartikan sebagai proses merencana,
mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya
agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

1. Manajemen Pendidikan

Untuk mengungkapkan sebuah konsep dasar manajemen pendidikan, disini perlu penulis
jelaskan terlebih dahulu defenisi manajemen pendidikan yang penulis kutip dari beberapa
sumber.

Pendapat pertama Bush, mengemukakan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu


bidang kajian dan praktek yang berkaitan dengan operasional organisasi pendidikan.[1]

Gaffar dalam E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, mengemukakan bahwa


manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistematik,
sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[2]
Pengertian ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang berkenaan dengan
pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan adalah
merupakan manajemen pendidikan. Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen
integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan, karena
tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal,
efektif, dan efisien.
Menurut Syafaruddin manajemen pendidikan adalah suatu usaha penerapan prinsip-prinsip
dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.[3]

Dapat dikatakan bahwa kerangka kerja (frame work) manajemen pendidikan ialah prinsip-
prinsip dan teori manajemen umum yang diaplikasikan untuk mengelola kegiatan
pendidikan pada suatu organisasi pendidikan formal.

Owens dalam Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa


manajemen pendidikan berasal dari aktivitas dalam urusan sekolah yang mencakup
pengelolaan aktivitas pengajaran, kepemimpinan dan berbagai aturan, perencanaan,
prosedur pelaksanaan dan manajemen pengawasan.[4] Dari sini dapat disimpulkan bahwa
manajemen pendidikan merupakan proses penerapan prinsip dan teori manajemen dalam
pengelolaan kegiatan di lembaga pendidikan formal untuk mengefektifkan pencapaian
tujuan pendidikan.

Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen dalam
aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Untuk
menjalankan organisasi pendidikan diperlukan manajemen pendidikan yang efektif.
Sekolah harus dikelola dengan manajemen efektif yang mengembangkan potensi peserta
didik, sehingga memiliki pengetahuan, sikap dan nilai yang mengakar pada karakter
bangsa. Dengan kata lain salah satu strategi yang menentukan mutu pengembangan
sumberdaya manusia di sekolah untuk kepentingan bangsa di masa mendatang adalah
peningkatan kontribusi manajemen pendidikan yang berorientasi kepada produktifitas.

Apabila produktifitas merupakan tujuan lembaga pendidikan, maka perlu dipahami bahwa
produktifitas sebagai ukuran kuantitas dan kualitas kinerja dengan mempertimbangkan
pemanfaatan sumber daya. Produktifitas dapat diukur dengan dua standar utama yaitu
produktifitas fisik dan produktifitas nilai. Secara fisik produktifitas diukur secara
kuantitatif seperti banyaknya keluaran. Sedangkan produktifitas berdasarkan nilai diukur
atas dasar nilai-nilai kemampuan, sikap, prilaku, disiplin, motivasi, dan komitmen terhadap
pekerjaan atau tugas. ……berlanjut……..
PENGERTIAN, FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib,
dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan
secara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur
urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah
negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah
manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan
efektif.

Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada
jalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah
(MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk
Madrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang
pendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan
berbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan
Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman
Penitipan Anak (TPA), Majelis Ta‘lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur Pendidikan
Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yang
diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang
sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam
yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin
Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi
yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran
yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun
rapi”.

Makalah sederhana ini akan membahas tentang pengertian dan fungsi-fungsi manajemen
pendidikan Islam, sebagai pengantar diskusi pekuliahan Mata Kuliah Manajemen
Pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldul Bogor.

B. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.

Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan
langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata
pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan
Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus,
mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.

Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat


manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara
(mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur‘an seperti firman Allah SWT :
Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah :
05).

Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam
(manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam
mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan
sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-
baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.

Sementara manajemen menurut istilah adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas


kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain
(Robbin dan Coulter, 2007:8).

Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan


atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui
kegiatan-kegiatan orang lain.

Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan
bahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui
bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara
efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses
transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana
dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang
dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun
lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif,
efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia
maupun di akhirat.

C. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan Islam

Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi
manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan
Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang,
mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu
kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada
pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.

Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen
yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan
mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa
fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal,
yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka


kami (kelompok 1) akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan
pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan
Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan
pengawasan.

1. Fungsi Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam
bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan
hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus
dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para
pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah
kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat
sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan
kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan
dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur‘an Surat Al Hasyr : 18
yang berbunyi :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.

Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya
untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas
target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target
kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.

Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk
diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :

1. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan


2. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai
3. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab
operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak
dicapai
4. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat,
mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang
bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya,
kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan
melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.
5. Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.

Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen


pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :

1. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas


kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses
pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.
2. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap
pelaksanaan dan hasil pendidikan
3. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.
4. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam
perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa
perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan
mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar
menemui kesuksesan yang memuaskan.

2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu
secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir
dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.

Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen


dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur
manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.

Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih


menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih
menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada
pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)

Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam


pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain
struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla,
baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.

Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar
dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan
organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat
diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan
sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah
perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan
yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan
demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang
efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus
dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga
untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap
keinginan keterampilan dan pengetahuan.

3. Fungsi Pengarahan (directing).

Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka
menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya.

Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi
pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarahadalah orang yang
memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang
diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi
pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan,
maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara
pengarah dan yang diberi pengarahan.

Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang
yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya
harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi,
keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah,
larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan
sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat
dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen


pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada
rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh-
sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna


menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan
Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah
dan membenarkan yang hak.

Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus
menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat
materil maupun spirituil.

Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai


karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan
hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang
menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa
pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada
manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan
dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi,
pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.

1. Penutup

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan Islam adalah
proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan
atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui
kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsi-fungsi
manajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsi
manajemen itu di antaranya adalah Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengawasan.

Bila Para Manajer dalam pendidikan Islam telah bisa melaksanakan tugasnya dengan tepat
seuai dengan fungsi manajemen di atas, terhindar dari semua ungkupan sumir yang
menyatakan bahwa lembaga pendidikan Islam dikelola dengan manajemen yang asal-
asalan tanpa tujuan yang tepat. Maka tidak akan ada lagi lembaga pendidikan Islam yang
ketinggalan Zaman, tidak teroganisir dengan rapi, dan tidak memiliki sisten kontrol yang
sesuai