Anda di halaman 1dari 56

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, bahasa Inggris hanya dipelajari di sekolah namun tidak

dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum bisa dipahami jika bahasa

Inggris hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu saja. Hal ini tentu berlawanan

dengan konsep belajar suatu bahasa: dimana belajar suatu bahasa itu mempelajari

4 keahlian berbahasa (language skills): listening (mendengarkan), speaking

(berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis). Jadi, jika bahasa itu

keahlian yang harus dipergunakan maka penggunaan bahasa Inggris dalam

kehidupan nyata menjadi kunci sukses untuk menguasai bahasa tersebut.

Sebagai contohnya adalah seorang siswa yang memiliki kosakata banyak

belum tentu bisa berbicara atau paham bahasa Inggris dengan baik, seorang siswa

yang hafal semua jenis tenses atau tata bahasa belum tentu bisa menulis bahasa

Inggris dengan baik, dan seorang anak yang tahu banyak ekspresi bahasa Inggris

belum tentu bisa menggunakan dengan tepat.

Kemampuan bahasa Inggris di Indonesia berada sangat rendah di urutan

ke-34, sedangkan Malaysia tembus di urutan ke-9. Dan hal ini di karenakan

kebanyakan dari siswa kita merasa bingung dalam menentukan konteks kata yang

tepat. Didalam berbicara menggunakan bahasa inggris siswa biasanya kesulitan 32

dalam memilih diksi yang tepat.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Dalam pembelajaran bahasa ada tiga aspek yang perlu diperhatikan yaitu

aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan kasus di atas, maka dalam

makalah ini kami akan membahas permasalahan siswa dalam pembelajaran

bahasa inggris dari segi kognitif.

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh persepsi seseorang dalam

memahami situasi yang berhubungan dengan tujuan belajar. Salah satu teori yang

penting yaitu menggunakan teori belajar kognitif. Teori belajar kognitif

merupakan perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk

tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur sehingga keterlibatan peserta

didik yang aktif sangat dipentingkan dalam proses belajar.

Teori Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss

yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam

lapangan psikolog perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan

konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat

merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep

yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan

diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi

lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang

memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini

digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme

(yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan 32

dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya

terhadap lingkungan.

Dari pengertian tentang aspek kognitif diatas, maka dapat disimpulkan

bahwa dalam pembelajara bahasa inggris, siswa tidak hanya mampu menulis atau

membaca tetapi juga berkomunikasi dengan menggunakan bahasa inggris yang

tepat sesuai dengan lingkungan nyata dan situasi real yang dihadapi. Dalam hal

ini, kita dapat melihat bahwa peranan penguasaan kosa kata (vocabulary) bahasa

inggris sangatlah diperlukan. Penguasaan kosa kata yang tepat sesuai dengan

konteks real sehingga pada akhirnya mampu digunakan dalam komunikasi dengan

baik.

Dalam belajar bahasa inggris, kosakata (vocabulary) sangat memiliki

peranan penting. Semakin banyak kosakata yang kita miliki akan semakin mudah

kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam bahasa itu dan semakin

mudah pula kita dapat mengemukakan isi fikiran kita dalam bahasa itu secara

lisan maupun tulisan. Sebaliknya, semakin sedikit kosakata bahasa Inggris yang

kita miliki, akan semakin sulit kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain

dalam bahasa Inggris dan akan semakin sulit pula kita mengungkapkan isi fikiran

dalam bahasa Inggris, secara lisan maupun tulisan.

Vocab adalah masalah yang sangat signifikan bagi siswa. Kebanyakan

orang berpendapat bahwa vocab harus dihafal, namun yang sebenarnya adalah
32
vocab itu tidak harus dihafalkan melainkan dipahami. Pada awalnya kita hanya

mengetahui kata ini artinya itu, kata itu artinya ini. Kita tidak lebih memahami

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
makna sebenarnya. Misalnya kata “look” yang kita tau look itu artinya melihat.

Tapi bila ditambahkan kata lain dibelakang atau didepannya look itu bisa berubah

total maknanya. Maka dari contoh kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa kosa

kata bukanlah hanya sekedar untuk dihapal akan tetapi untuk dipahami dan

dimengerti dalam penggunaan nya di kontek yang tepat dalam situasi yang tepat.

Hal ini lah yang masih kurang bisa dikuasai baik oleh siswa kita di

Indonesia. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui kata tanpa tahu

penggunaannya secara tepat. Berangkat dari permasalah ini, kami akan berusaha

membahas dan mencari solusi yang tepat.

Dalam pemecahan masalah ini kami akan mengguakan peran filsafat

ilmu sebagai rujukan dalam mencari solusi. Filsafat ilmu berusaha menelaah

ilmu secara filosofis dari berbagai sudut pandang dengan sikap kritis dan

evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah, sitematis berpangkal pada metode

ilmiah , analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah dan sikap konsisten

dalam membangun teori serta tindakan ilmiah. Teori-teori yang akan di gunakan

dalam pemecahan adalah teori Korespondensi, Koherensi, Pragmatis yang

merupakan teori- teori kebenaran dalam filsafat ilmu.

32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Bab II
Teori

2.1 Definisi Filsafat Ilmu

Terdapat banyak buku, kamus, dan para ahli yang telah mendefinisikan

'apa itu filsafat ilmu?'. Sebagian besar mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah

terusan dari filsafat pengetahuan. Ia merupakan sebuah pemikiran reflektif

terhadap segala persoalaan yang berkaitan landasan ilmu dan kehidupan manusia

dari segala sisinya. Intinya, filsafat ilmu adalah suatu bidang pengetahuan

integrative yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-

balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu (Muhlisin : 7).

Karena filsafat ilmu merupakan penerusan dari pengembangan filsafat

pengetahuan, maka objek dari filsafat ilmu itu sendiri adalah ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, ilmu berubah mengikuti perkembangan zaman. Pengetahuan baru

tercipta karena hasil pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.

Dibawah ini merupakan arti dan makna dari filsafat ilmu yang telah

didefinisikan oleh para ahli. Mereka adalah sebagai berikut :

1. Robert Ackerman
“philosophy of science in one aspect as a critique of current

scientific opinions by comparison to proven past views, but such

aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of

actual scientific paractice”. 32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-

pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria

yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu

jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
2. Lewis White Beck
“Philosophy of science questions and evaluates the methods of

scientific thinking and tries to determine the value and significance

of scientific enterprise as a whole”


Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah

serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu

keseluruhan.
3. Cornelius Benjamin
“That philosopic disipline which is the systematic study of the

nature of science, especially of its methods, its concepts and

presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual

discipines"
Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai

ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-

praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang

pengetahuan intelektual.
4. Michael V. Berry
“The study of the inner logic if scientific theories, and the relations

between experiment and theory, i.e. of scientific methods”.

Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-

hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.


5. May Brodbeck
32
“Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral

analysis, description, and clarifications of science.”

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan

mengenai landasan – landasan ilmu.


6. Peter Caws
“Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do

for science what philosophy in general does for the whole of human

experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand,

it constructs theories about man and the universe, and offers them

as grounds for belief and action; on the other, it examines critically

everything that may be offered as a ground for belief or action,

including its own theories, with a view to the elimination of

inconsistency and error".


Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi

ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman

manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun

teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai

landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat

memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu

landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri,

dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan


7. Stephen R. Toulmin
“As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to

elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry

observational procedures, patens of argument, methods of

representation and calculation, metaphysical presuppositions, and


32
so on and then to veluate the grounds of their validity from the

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
points of view of formal logic, practical methodology and

metaphysics”
Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama

menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-

prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan

perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan

selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut

tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.

Dari paparan pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengertian filsafat ilmu itu mengandung konsepsi dasar yang mencakup hal-hal

tersebut di bawah ini :

1) Sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah

2) Sikap sitematis berpangkal pada metode ilmiah

3) Sikap analisis obyektif, etis dan falsafi atas landasan ilmiah

4) Sikap konsisten dalam bangunan teori serta tindakan ilmiah

2.2 Karekteristik Filsafat Ilmu

Seperti yang telah diketahui bersama, filsafat ilmu adalah cabang dari

filsafat. Filsafat ilmu berusaha untuk menelaan ilmu secara filosofis dari berbagai

sudut pandang dengan sikap kritis dan evaluatif terhadap kriteria-kriteria ilmiah,

sistematis berpangkal pada metode ilmiah, analisis obyektif, etis, dan falsafi atas
32
landasan ilmiah dan sikap konsisten dalam membangun teori serta tindakan

ilmiah.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Pada dasarnya objek material filsafat ilmu adalah ilmu dengan segala

gejalanya manusia untuk tahu. Jadi selam manusia memiliki rasa ingin tahu, maka

ilmu akan terus berkembang. Dan objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas

dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis

dengan berbagai gejala dan upaya pendekatannya.

Apabila di buat sebuah sketsa, maka tingkatan filsafat ilmu akan berada di atas

ilmu karena filsafat ilmu menganalisa prosedur-prosedur logis dari ilmu. Seperti di

bawah ini,

Level Discipline Subject-matter

2 Philosophy of Science Analysis of the Procedures and

Logic of Scientific Explanation

1 Science Explanation of Facts

0 Facts

Di tingkatan dasarnya adalah fakta yang merupakan pangkal pokok. Dengan kata

lain, fakta adalah basis utama bangunan segala disiplin ilmu. Setingkat di atasnya

adalah ilmu atau science. Ilmu inilah yang kemudian menjelaskan fakta.

Kemudian yang paling atas adalah filsafat ilmu yang menganalisanya.

2.3 Lingkup Filsafat Ilmu


Lingkup filsafat ilmu mencakup pada pembahasan tentang problema

substansi landasan ontologis ilmu, epistemologi ilmu, dan pembahasan mengenai

landasan aksiologis dari sebuah ilmu. 32


Rinciannya akan ditunjukkan oleh tabel di bawah ini,

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Ontologi 1. Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?
(Hakikat 2. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek
Ilmu)
tersebut?
3. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan

daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa,

dan mengindera) yang membuahkan

pengetahuan?

Epistimologi 1. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya


(Cara
pengetahuan yang berupa ilmu?
Mendapatkan 2. Bagaimana prosedurnya?
3. Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita
Pengetahuan)
mendapatkan pengetahuan dengan benar?
4. Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri?
5. Apa kriterianya?
6. Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam

mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

Aksiologi 1. Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?


(Guna 2. Bagaiman kaitan antara cara penggunaan tersebut
Pengetahuan)
dengan kaidah-kaidah moral?
3. Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah

berdasarkan pilihan-pilihan moral?


4. Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang

merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan

norma-norma moral/profesional?

2.4 Manfaat Filsafat Ilmu


Mempelajari filsafat ilmu dapat mendatangkang manfaat-manfaat seperi 32

tersebut di bawah ini,


 Semakin kritis dalam sikap ilmiah dan aktivitas ilmu/keilmuan

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
 Menambah pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu

menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses

pembelajaran dan penelitian ilmiah.


 Memecahkan masalah dan menganalisis berbagai hal yang

berhubungan dengan masalah yang dihadapi.


 Tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual
 Merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-

menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar

(metode dan struktur ilmu)


 Mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional
 Memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid
 Berpikir sintetis-aplikatif (lintas ilmu-kontesktual)

2.5 Kemampuan Berbahasa

Bahasa pada hakikatnya adalah ucapan pikiran dan perasan manusia

secara teratur, yang mempergunakan bunyi sebagai alatnya (Depdiknas, 2005: 3).

Sementara itu menurut Harun Rasyid, Mansyur & Suratno (2009: 126) bahasa

merupakan struktur dan makna yang bebas dari penggunanya, sebagai tanda yang

menyimpulkan suatu tujuan.

Sedangkan bahasa menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Hasan Alwi,

2002: 88) bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh

semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan

mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik,

sopan santun yang baik.


32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia (Hasan Alwi, 2002: 707-708)

kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti yang pertama kuasa (bisa,

sanggup) melakukan sesuatu dan kedua berada. Kemampuan sendiri mempunyai

arti kesanggupan, kecakapan, kekuatan, kekayaan. Sedangkan kemampuan

menurut bahasa berarti kemampuan seseorang menggunakan bahasa yang

memadai dilihat dari sistem bahasa, antara lain mencakup sopan santun,

memahami giliran dalam bercakap-cakap.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan bahasa

merupakan kesanggupan, kecakapan, kekayaan ucapan pikiran dan perasaan

manusia melalui bunyi yang arbiter, digunakan untuk bekerjasama, berinteraksi,

dan mengidentifikasi diri dalam percakapan yang baik. Proses tersebut disebut

juga proses kognitif dimana proses pemahaman yaitu proses untuk memperoleh

pengetahuan di dalam kehidupan yang diperoleh melalui pengalaman, proses

indrawi yang melibatkan panca indra.

Berangkat dari kemampuan kognitif maka seorang manusia akan

mengingat apa yang telah ia peroleh dan menyimpannya dalam bentuk memori.

Dimana memori bisa kita definisikan sebagai informasi tentang pengalaman

indrawi pada masa lampau melalui panca indra yang disimpan dalam otak

manusia.

Memori dibagi pula berdasarkan jenisnya: (sensory memory) memori


32
sensorik, (short term memory) memori jangka pendek, (long term memory)

memori jangka panjang.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Dapat kita simpulkan bahwa dari informasi yang ditangkap oleh panca

indra sebagai sebuah pemahaman baru di pindai menjadi memori dan selanjutnya

pemahaman tersebut disimpan dalam satu kesatuan mental atau pada umumnya di

sebut konsep. Dengan kata lain konsep merupakan pengetahuan dan pengalaman

seseorang sebagai sumber informasi disimpan dalam otak sebagai kesatuan

mental.

Jenis konspep itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu: representasi (gambar

objek, keadaan atau peristiwa), proposisi (abstraksi makna yang diwakilinya).

Dengan konsep; informasi akan tersimpan lebih baik dalam memori manusia jika

informasi diperoleh secara bertahap dan melalui penyebaran yang rata dalam satu

kurun waktu. Tanpa konsep; informasi tidak akan tersimpan lebih baik dalam

memori manusia jika informasi deperoleh secara instan dan tidak melalui

penyebaran yang rata dalam satu kurun waktu. Hal ini dapat terlibat bila seseorang

belajar bahasa asing, misalnya bahasa Jepang, bahasa Inggris and so forth.

2.6 Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa

Pada umumnya kita mengenal pemerolehan dan pembelajaran bahasa.

Pemerolehan merupakan proses penguasaan bahasa pertaman, yaitu proses

perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Pembelajaran

merupakan proses belajar bahasa yang dipelajari di sekolah formal yang dialami

oleh seorang manusia setelah menguasai bahasa pertama.


32
Pemerolehan bahasa bisa melalui beberapa aspek diantaranya: fonologis,

sintaktis, semantis, dan pragmatis. Sedangkan pembelajaran bahasa asing pada


Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
umumnya menlibatkan factor psikologis; struktur dan aturan gramatikal,

keterampilan motorik. Selanjutnya factor sosial; situasi natural (alamiah), situasi

di dalam kelas.

Adapun kemampuan dasar dalam berbahasa (bahasa Inggris) yang wajib

dikuasai diantaranya: speaking skill, listening skill, writing skill, and reading skill.

Dalam menguasi keempat kemampuan dasar tersebut bukan suatu hal yang

lumrah bahwasanya seseorang mengghadapi kesulitan atau masalah dalam

mempelajari bahasa dalam pengembangan kemampuan tertentu.

Dalam kasus ini penulis mengangkat salah satu kemampuan dasar yang

telah di paparkan di atas yaitu reading skill atau kemampuan membaca.

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh

pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis

melalui media kata-kata atau bahasa tulis (H.G Tarigan 1986: 7). Membaca

merupakan kegiatan merespons lambang-lambang tertulis dengan menggunakan

pengertian yang tepat (Ahmad S. Harjasujana dalam St.Y. Slamet, 2008:67).

Dari dua definisi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca

merupakan repons terhadap segala ungkapan penulis yang diungkapkan dengan

kata-kata (kosakata) hingga pembaca mampu memahami materi bacaan dengan

baik.

Adapun tujuan dari membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh 32

seseorang yang tentunya memiliki tujuan. Ada dua tujuan dari membaca yaitu

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum membaca adalah untuk mencari

dan mendapatkan informasi dari sumber yang di baca. Ada beberapa tujuan

khusus dari membaca yakni:

1. Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan

yang telah dilakukan oleh para penemu. Membaca seperti ini disebut

membaca untuk memperoleh perincian atau fakta (reading for details

or facts).
2. Membaca untuk mengetahui mengapa hal tersebut merupakan topic

yang baik atau menarik. Membaca seperti ini disebut membaca

untuk memperoleh ide-ide utama (reading for mains ideas).


3. Membaca untuk mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian

cerita. Membaca seperti ini disebut membaca untuk mengetahui

urutan atau susunan (reading for sequence or organization).


4. Membaca untuk mengetahui serta menemukan mengapa para tokoh

merasakan. Membaca seperti ini disebut membaca untuk

menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inferensi).


5. Membaca untuk mengetahui dan menemukan apa-apa yang tidak

bisa atau tidak wajar mengenai seorang tokoh. Membaca seperti ini

disebut membaca untuk mengelompokkan (reading for classify).


6. Membaca untuk mencari atau menemukan apakah tokoh berhasil

atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu. Membaca seperti ini

disebut membaca untuk menilai (reading tu evaluate).


7. Membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah.

Membaca seperti ini disebut membaca untuk membandingkan atau


32
mempertentangkan (reading for compare or contrasts).

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Kosakata memiliki kaitan erat dalam proses membaca. Kosakata itu

sendiri merupakan himpunan kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas lain,

atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu. Kosakata dalam bahasa Inggris

disebut vocabulary. Kekayaan kosakata seseorang dapat menunjukkan

(intelejensia atau tingkat pendidikan) seseorang.

Penambahan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan

bagian penting, baik dari proses pembelajaran suatu bahasa ataupun

pengembangan kemampuan seseorang dalam suatu bahasa yang sudah dikuasai.

Murid sekolah sering diajarkan kata-kata baru sebagai bagian dari mata pelajaran

tertentu dan banyak pula orang dewasa yang menganggap pembentukan kosakata

sebagai suatu kegiatan yang menarik dan edukatif.

Pendapat beberapa ahli mengenai makna dari kosakata:

Menurut Kridalaksana dalam Tarigan (1994:446): Kosakata adalah

(1) Komponen bahasa yang memuat secara informasi tentang makna

dan pemakaian kata dalam bahasa;

(2) Kekayaan kata yang dimiliki seorang pembicara, penulis atau suatu

bahasa; dan

(3) Daftar kata yang disusun seperti kamus, tetapi dengan penjelasan

yang singkat dan praktis.


32
Sedangkan menurut Soedjito dalam Tarigan (1994:447): Kosakata

merupakan:
Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
(1) Semua kata yang terdapat dalam satu bahasa;

(2) Kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara;

(3) Kata yang dipakai dalam satu bidang ilmu pengetahuan; dan

(4) Daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan secara

singkat dan praktis.

Dari pendapat dua ahli diatas dapat kita lihat apa sebenarnya yang

dimaksud dengan kosakata. Untuk menyusun sebuah kosakata yang benar maka

tidak sembarang kalimat dapat kita rangkai, namun tentunya harus memperhatikan

tatanan bahasa agar menjadi susunan kosakata yang benar dan memiliki arti.

2.7 Semantis dan Pragmatis

Setelah kita membahas mengenai memabaca dan hubungannya dengan

kosakata maka akan timbul pertanyaan mengenai meaning atau makna dari sebuah

bacaan, kalimat yang bisa ditinjau dari segi semantic dan pragmatis.

Dari sisi semantis, para ahli bahasa memberikan pengertian semantic

sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda

linguistic atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna).

Dalam mendalami pelajaran bahasa atau linguistic dan ketika kita sudah

masuk dalam sub-sub bahasan linguistic, khususnya semantic, maka kita akan

bermain dengan makna kata dan kalimat. Dalam semantic kita mengenal tipe-tipe 32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
makna seperti yang telah dibahas di atas diantaranya makna konotasi, denotasi,

sinestesia, figurative dan masih banyak lagi.

Pada paper ini kita akan membahas makna denotasi dan makna konotasi

atau dalam bahasa Inggris disebut Denotative and Connotative meaning.

Yang pertama yaitu makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai

dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus. Contohnya;

Adik makan nasi maka artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Selanjutnya

makna konotasi merupakan makna yang sebenarnya, maka seharusnya makna

konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang

lain. Terkadang banyak eksperts linguistic di Indonesia mengatakan bahwa makna

konotasi adalah makna kiasan, padahal makna kiasan itu adalah tipe makna

figurative, bukan makna konotasi. So, makna konotasi tidak diketahui oleh semua

orang atau dalam artian hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya

frase jam tangan.

Contoh: Pak Slesh adalah seorang mahasiswa magister yang sangat tekun

dan berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat

pengumpulan tugas dari salah satu dosen dan kemudian dosen tersebut berkata

kepada dosen yang lain “jam tangan pak Slesh bagus ya”.

Dalam ilustrasi di atas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang

berarti sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang

yang bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam 32

contoh di atas, jam tangan memiliki makna konotasi positif karena sifatnya

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
memuji. Ada makna konotasi positif (bermakna baik dan lebih sopan) dan ada

makna konotasi negatif (bermakna kasar atau tidak sopan)

Jadi dengan aspek-aspek pemerolehan bahasa seperti semantis dan

pragmatis kita bisa mengkaji lebih lusa aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa

sehingga dapat dihubungkan dengan kpsikolgi, filsafat dan anthropology.

Selanjutnya penulis akan mengupas sedikit tentang pragmatic. Pragmatic

di dalam linguistic merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan

manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa

dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang

dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik.

Pentingnya bidang kajian pragmatik untuk dipelajari dalam studi

linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali tulisan ini dengan pembahasan

mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat

topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang

lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik.

Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda.

Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang

yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut

konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan,

mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara;

dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang
32
membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi

menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial,

menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan

kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik

dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995:

22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang

melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran

(fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah

ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna

dalam interaksi (meaning in interaction).

Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai

bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik.

Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari

semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik;

dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang

yang saling melengkapi.

2.8 Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya

Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai

nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau

martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu

kebenaran. 32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu

menjadi:

1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan

pertama yang dialami manusia


2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping

melalui indara, diolah pula dengan rasio


3. Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam

mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya


4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang

Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman

dan kepercayaan

Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan

memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan

kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa

melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin,

konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan

harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia

juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana

selalu ditunjukkan oleh kebanaran.

B. Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat

1. Teori korespondensi menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan


32
benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh

pernyataan atau pendapat tersebut.


2. Teori Consistency. Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas

arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-

kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan

hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan

tempat yang lain.


3. Teori Pragmatisme. Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang

dikenal apra pendidik sebagai metode project atau metode problem solving

darri dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka

berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar,

jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan

tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah

supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia

harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan

lingkungan.

A. Pengertian Kebenaran dan Kaitannya


Kata "kebenaran" dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkrit

maupun abstrak (Abbas Hamami, 1983). Jika subyek hendak menuturkan

kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi maksudnya adalah

makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement.


Adanya kebenaran itu selalu dihubungkan dengan pengetahuan manusia

(subyek yang mengetahui) mengenai obyek. Jadi, kebenran ada pada seberapa
32
jauh subjek mempunyai pengetahuan mengenai objek. Sedangkan pengetahuan

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
bersal mula dari banyak sumber. Sumber-sumber itu kemudian sekaligus

berfungsi sebagai ukuran kebenaran.


Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang ditulis oleh

Purwadarminta menjelaskan bahwa kebenaran itu adalah :

 Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau

keadaan yang sesungguhnya. Misalnya kebenran berita ini masih saya

ragukan, kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.


 Sesuatu yang benar (sugguh-sugguh ada, betul-betul hal demikian

halnya, dan sebagainya). Misalnya materi yang diajarkan agama sesuai

dengan keyakinan yang dianutnya.


 Kejujuran, kelurusan hati, misalnya tidak ada seorangpun sanksi

akan kebaikan dan kebenaran hati dari seseorang.


 Selalu izin, perkenaan, misalnya dengan kebenran yang dipertuan.
 Jalan kebetulan, misalnya penjahat itu dapat dibekuk dengan

secara kebenaran saja.

Terdapat bermacam katagori atau tingkatan dalam arti kebenaran ini,

Pertama-tama, Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya semua

pengetahuan yang dimilki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek dititik

dari jenis pengetahuan yang dibangun. Dengan demikian tingkatan pengetahuan

adalah:

1. Pengetahuan yang memiliki sifat subjektif, artinya amat terikat

pada subjek yang mengenal.


2. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan
32
objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan atau hampiran

metodologi yang khas pula.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
3. Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya

melalui metodologi pemikiran filsafati.


4. Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan

agama.

Kedua, Kebenaran yang berkaitan dengan sifat atau karakteristik dari

bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya

itu. Apakah ia membangun dengan penginderaan atau sense experience, atau akal

pikir atau ratio, intuisi, atau keyakianan. Jenis pengetahuan menurut ini terdiri

atas:

1. Pengetahuan indrawi
2. Pengetahuan akal budi
3. Pengetahuan intuitif
4. Pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.

Ketiga, kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan

terjadinya pengetahuan itu, artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek

dan objek, Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung

nilai kebenran yang sifatnya subjektif. Atau jika objek amat berperan maka

sifatnya objektif.

B. Teori-teori Kebenaran
Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran

sudah dimulai sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aritoteles. Sebagaiman

dikemukakan oleh filusuf abad XX Jaspers sebgaimana yang dikutip oleh

Hamersma (1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini


32
hanya melengkapi dan menyempurnkan filsafat Plato dan Aritoteles. Teori

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
kebenaran itu selalu pararel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-

teori pengetahuan itu terdiri atas:

1. Teori Kebenaran Korespondensi (berhubungan)


a. Tokoh Korespondensi dan Pengertiannya

Teori ini dikenal sebagai salah satu teori kebenaran tradisional (White,

1978) , teori yang paling awal atau tua yang berangkat dari teori pengetahuan

Aritoteles yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah

sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek

(Ackerman, 1965) , hal ini juga sebagaimana dikemukakan oleh Hornie (1952)

dalam bukunya Studies in Philosophy menyatakan "The Correspondence theory

is an old ane". Dan hal ini juga sesuai dengan pendapat Kattsoff (1986) yang

menyatakan bahwa "kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian

(correspondence) antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan

apa yang sungguh-sugguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-

faktanya.6

Teori ini adalah teori yang Sangat menghargai pengamatan dan pengujian

empiris, teori ini lebih menekankan cara kerja pengetahuan aposterion,

menegaskan dualitas antara S dan O. Pengenal dan yang dikenal, dan menekankan

bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan.

- Kriteria Kebenaran Korespondensi

Teori ini juga dapat diartikan, bahwa kebenaran itu adalah kesesuaian

dengan fakta, keselarasan dengan realitas, dan keserasian dengan situasi aktual.
32
Sebagai contoh, jika seorang menyatakan bahwa "Kuala lumpur adalah Ibu Kota

Negara Malaysia", pernyataan itu benar karena pernyataan tersebut


Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
berkoresponden , memang menjadi Ibu Kota Negara Malaysia. Sekiranya ada

orang yang menyatakan bahwa "Ibu Kota Malaysia adalah Kelantan", maka

pernyataan itu tidak benar, karena objeknya tidak berkoresponden dengan

pernyataan tersebut
2. Teori kebenaran Koherensi
- Tokoh Koherensi dan Pengertiannya
Teori kebenran lain yang dikenal tradisional juga adalah teori kebenaran

Koherensi. Teori Koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz,

Spinoza, Hegel, dan Bradley.


Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya Elements of Philosophy "......

suatu proposisi cendrung cendrung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan

saling berhubungan dengan prosisi-prosisi lain yang benar, ata jika makna yang

dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita ".

Teori kebenaran koherensi ini biasa disebut juga dengan teori konsitensi.

Pengertian dari teori kebenaran koherensi ini adalah teori kebenaran yangØ

medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan

pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan

diakui kebenarannya.

Kriteria Kebenaran Koherensi

Teori ini juga dapat diartikan, sebagai suatu pernyataan yang dianggap

benar kalau pernyataan tersebut koheran dan konsisten dengan pernyataan-

pernyataan sebelumnya. Jadi, suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan

tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan pernyataan-pernyataan lain


32
yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling

berhubungan dengan pengalaman kita. Dengan kata lain, suatu proposisi itu benar

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
jika mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada dan benar

adanya. Contohnya, bila kita beranggapan bahwa semua manusia akan mati

adalah pernyataan yang selama ini memang benar adanya. Jika Ahmad adalah

manusia, maka pernyataan bahwa Ahmad pasti akan mati, merupakan pernyataan

yang benar pula. Sebab pernyataan yang kedua konsisten dengan pernyataan yang

pertama.
3. Teori Kebenaran Pragmatik
- Tokoh Pragmatik dan Pengertiannya
White (1978) dalam bukunya Truth; Problem in Philosophy,

menyatakan teori kebenaran tradisional lainnya adalah teori kebenarn pragmatik.

Paham pragmatik sesungguhnya merupakan pandangan filsafat kontemporer

karena paham ini baru berkembang pada akhir abad XIX dan aw al abad XX oleh

tiga filusuf Amerika yaitu C.S Pierce, Wiliam James, dan john Dewey. Menurut

paham ini White lebih lanjut menyatakan bahwa:


"..... an idea --a term used loosly by these philosophers to cover any "opinion,

belif, statement, or what not"--is an instrument with a paticuler function. A true

ideas is one which fulfills its function, which works; a false ideas is one does not.”

Pragmatik atau Pragmatisme adalah ajaran mengenai pengertianya theory

of meaning, ajaran mengenai pengertian, secara pragmatik di definisikan sebagai

berikut :

"Jika saya bertindak pada objek A,


Tindakan itu dilaksanakan dengan cara X,
Maka panca indera saya akan mengalami Y."
Jika kita terapkan difenisi diatas, dengan menyebut objek A dalam bentuk istilah

atau nama, katakanlah "pohon". Maka rumus itu akan menjadi :


32
"Jika saya menjama batang pohon, maka saya akan merasakan sesuatu yang

kasar" atau "keras".


Andaikata peristiwa terjadi pada musim panas:
Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
"Jika saya berdiri diatas pohon, maka saya akan merasakan keteduhan".
Maka pragmatisme merupakan ajaran tentang pengertian, ialah pengertian suatu

istilah yang terjadi okeh karena sikap dan pengalaman.


Ada 3 patokan yang di setujui aliran pragmatik yaitu:
1. Menolak segala intelektualisme
2. Aktualisme
3. Meremehkan logika formal
- Kriteria Kebenaran Pragmatik
Jadi menurut pandangan teori ini bahwa suatu proposisi bernilai benar

bila proposisi ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis seperti yang

terdapat secara inheren dalam pernyataan itu sendiri. Karena setiap pernyataan

selalu selalu terikat pada hal-hal yang bersifat praktis, maka tiada kebenaran yang

bersifat mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri,

lepas dari akal yang mengenal, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala

yang dianggap benar dalam perkembangannya pengalaman itu senatiasa berubah.

Hal itu karena dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh

pengalaman berikutnya.

 Bahasa sebagai produk kebudayaan.

Pengetahuan tentang faktor-faktor alamiah yang membentuk bahasa

sebagai suatu ilmu akan sangat membantu dalam pembahasan kali ini. Dalam ilmu

peagetahuan alam obyek dasar bagi pengetahuan adalah dunia materi yang

meliputi bintang, atom, tanaman dan kromosom. Dalam ilmu tentang manusia.,

sifat-sifat yang dipelajari adalah tentang manusia sebagai individu dan manusia

sebagai bagian dari suatu kelompok. Termasuk dalam ilmu pengetahuan tentang

manusia antara lain, pengetahuan itu sendiri, sejarah, bahasa, seni dan agama.
32
Telah dengan jelas diketahui bahwa. prinsip-prinsip dasar dalam bahasa

adalah sebagai produk dari budaya yang secara ilmiah berkembang. Bahasa
Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
merupakan harta yang tak temilai dalam budaya manusia yang terpelihara dan

diturunkan secara turuntemurun dari generasi ke generasi melalui pendidikan.

Bahasa tidak diwariskan melalui serangkaian proses seperti halnya sifat-sifat dasar

alamiah dan tidak pula ditularkan melalui penyakit tertentu. Seseorang dapat

berbicara dalam bahasa tertentu karena ia tinggal dan diam menjadi bagian dari

suatu komunitas masyarakat dimana ia tinggal dan dibesarkan. Banyak generasi

yang lahir dalam suatu tradisi berbahasa tertentu yang tidak memiliki pengaruh

dari asal. garis keturunan darimana ia berasal. Seorang bayi Cina yang lahir dari

garis keturunan nenek moyang sejak beribu tahun yang lalu, jika. ia dididik dan

dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa. Inggris, akan merdapatkan

pengetahuan dan fasilitas, berbahasa Inggris seperti halnya orang lain yang lahir

dalam garis keturunan lingkungan berbahasa Inggris dan mungkin suatu saat nanti

akan menemukan kesulitan untuk mempelajari bahasa nenek moyangnya. sendiri,

yaitu bahasa Cina.

Bahasa kemudian akan menjadi pencapaian budaya, daripada sekedar

pertumbuhan biologis alamiah seseorang dan menjadikannya subyek terhadap

bermacam variasi dan hal-hal menarik lainnya yang menjadi karakteristik produk

dalam proses kreasi umat manusia.

 Lambang-lambang Bahasa.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah sifat-sifat dasar yang

dimiliki bahasa yang diproduksi dan ditransfer melalui budaya? Pada mulanya
32
jawabannya adalah kata, lalu apakah sebuah kata itu? Kata adalah suara yang

dihasilkan dan diartikulasikan oleh lidah dan perangkat bicara lainnya. Atau.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
tanda-tanda yang dipresentasikan dalam suatu latarbelakang seperti tulisan pada

kertas ini.

Namun tak semua artikulasi kata maupun tulisan mewakili bahasa secara

benar dan tidak pula mengungkapkan intisari dari bahasa itu sendiri.

Tanda, suara dan benda-benda lainnya menjadi bahasa bilamana ia

mempunyai karakter simbolis. Artinya bilamana semua itu mewakili atau

menerangkan hal lainnya yang mereka representasikan. "Tinta" misalnya memiliki

arti sebuah botol yang berisi cairan untuk menulis atau "Tanto" yang mewakili

sebuah nama orang, namun hal ini tidak menjelaskan semua tepat hakekat bahasa

itu sendiri, karena entitas bahasa itu sendiri tidak melulu merupakan serangkaian

kata benda, namun ada juga kata kerja, kata sambung, preposisi dan kata sifat

yang tidak memiliki bentuk fisik namun memiliki peran penting dalam sistem

bahasa itu sendiri.

Hal ini yang kemudian menimbulkan kemungkinan jawaban kedua

terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang sifat bahasa. Kemimgkinan jawaban

kedua tidak lagi menunjukkan pada benda saja, namun inti bahasa terletak pada

ide atau makna. Ideasi ini merupakan pengetahuan intelektual atai realitas rasional

ia adalah sifat mental dalam suatu karakter. la mewakili fungsi dasar seorang

manusia yang dinamakan intelegensi atau alasan.

 Bahasa dan Makna

Sifat dasar bahasa sebagai suatu makna dalam sebuah sistem lambang
32
dapat diperjelas dengan pemahaman terhadap empat komponen pembentukan

bahasa:

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
1. Bahwa adanya dunia dengan entitas nyata seperti pohon, bintang, dan

orang.
2. Adanya manusia yang memiliki kemampuan untuk menghubungkan

dirinya dengan entitas nyata tadi.


3. Adanya lambang dalam arti suara dan tanda ,yang menjadi kulit bahasa itu

sendiri.
4. Adanya sekumpulan ide yang memberikan makna terhadap lambang

bahasa.
 Pendidikan dan keutamaan dari makna.

Keutamaan makna dalam bahasa memiliki konsekuensi terhadap

pengajaran bahasa yang tidak hanya mengajarkan kata-kata saja, melainkan juga

lambang-lambang yang memiliki maknapun harus dipelajari. Untuk mengenal

kata-kata dan berbicara atau menulis tidaklah diperlukan bahasa. Segala sesuatu

hal tergantung pada makna. Seorang guru bahasa hanya akan berhasil jika

siswanya mengerti akan makna, ide, konsep yang akan digunakannya untak

berekpresi.

Bab III
Pembahasan Masalah

32
III.1. Hubungan Filsafat dan Pendidikan

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika,

yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis

dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan

interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan

pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

Dalam berbagai bidang ilmu sering kita dengar istilah vertikal dan

horisontal. Istilah ini juga akan terdengar pada cabang filsafat bahkan filsafat

pendidikan. Antara filsafat dan pendidikan terdapat hubungan horisontal, meluas

kesamping yaitu hubungan antara cabang disiplin ilmu yang satu dengan yang lain

yang berbeda-beda, sehingga merupakan synthesa yang merupakan terapan ilmu

pada bidang kehidupan yaitu ilmu filsafat pada penyesuaian problema-problema

pendidikan dan pengajaran. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan pola-

pola pemikiran atau pendekatan filosofis terhadap permasalahan bidang

pendidikan dan pengajaran.

Adapun filsafat pendidikan menunjukkan hubungan vertikal, naik ke atas

atau turun ke bawah dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain, seperti

pengantar pendidikan, sejarah pendidikan, teori pendidikan, perbandingan

pendidikan dan puncaknya filsafat pendidikan. Hubungan vertikal antara disiplin

ilmu tertentu adalah hubungan tingkat penguasaan atau keahlian dan pendalaman

atas rumpun ilmu pengetahuan yang sejenis.

Maka dari itu, filsafat pendidikan sebagai salah satu bukan satu-satunya
32
ilmu terapan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya

pada penerapan pendekatan filosofis pada bidang pendidikan dalam rangka

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan

manusia yang berpredikat pendidik atau guru pada khususnya.

Dalam buku filsafat pendidikan karangan Prof. Jalaludin dan Drs.

Abdullah Idi mengemukakan bahwa Jhon S. Brubachen mengatakan hubungan

antara filsafat dan pendidikan sangat erat sekali antara yang satu dengan yang

lainnya. Kuatnya hubungan tersebut disebabkan karena kedua disiplin tersebut

menghadapi problema-problema filsafat secara bersama-sama.

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara

mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Ada sejumlah filsafat

pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia, namun demikian semua

filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut:

1) Apakah pendidikan itu?

2) Apa yang hendak dicapai?

3) Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan itu?

Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai

pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain :

1) Bagaimana sifat pendidikan itu?

2) Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi?

3) Apakah pendidikan itu sebagai pengembangan individu?

4) Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu ?

5) Apakah pendidikan itu berperan penting dalam


32
membinaperkembangan atau mengarahkan perkembangan siswa?

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
6) Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan

praktek?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai

oleh pendidikan, antara lain :

1) Beberapa proporsi pendidikan yang bersifat umum?

2) Beberapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan

dengankebutuhan masing-masing individu?

3) Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas?

4) Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu?

5) Bagaimana sifat manusia?

6) Dapatkah manusia diperbaiki?

7) Apakah manusia itu sama atau unik?

8) Apakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era

globalisasi?

9) Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada

perkembangan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan cara terbaik merealiasi

tujuan pendidikan, antara lain ?

1) Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau peserta

didik?

2) Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan


32
bebas?

3) Ataukah peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri?

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
4) Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif?

5) Apakah proses pendidikan berbaur pada masyarakat yang sedang

berubah cepat?

6) Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina

perkembangan anak?

7) Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak?

8) Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan?

9) Apakah dperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan?

10) Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitif, atau

demokratis?

11) Belajar menekan prestasi atau terpusat pada pengembangan cara

belajar dan kepuasan akan hasil belajar?

Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut.

1) Menginspirasikan

2) Menganalisis

3) Mempreskriptifkan

4) Menginvestigasi

Maksud menginsparasikan adalah memberin insparasi kepada para pendidik

untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang

pendidikan, filosof memaparkan idennya bagaimana pendidika itu, kemana

diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan
32
bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan,

dan negara.

Sementara itu yang dimaksud dengan menganalisis dalam filsafat pendidikan

adalah memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara

jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep

pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang

simpang siur. Dengan demkian ide-ide yang komplek bisa dijernihkan terlebih

dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat ditentukan

dengan tepat.

Francis Bacon dalam bukunya The Advencement of Leraning mengemukakan

tesis bahwa kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung

unsur-unsur valitditas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan sehari-

hari, bila pengetahuan itu berisikan dari salah satu konsep yang telah berlangsung

selama bertahun-tahun. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknik krisis

atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui

pengalaman secara kritis dengan logika induktif akan dapat ditemukan konsep-

konsep pendidikan

Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya mejelaskan atau

memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan

bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek

peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-
32
batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-

batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas , target-target pendidikan

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan

kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.

Johann Herbart dalam bukunya Scence of education menginginkan agar guru

mempunyai informasi yang dapat dihandalkan mengenai tujuan pendidikan yang

dapat dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas. Pondasi

pendidikan yang dikontruksi di atas asumsi yang disangsikan kebenarannya atau

di atas tradisi yang masih kabur perlu segera diganti dengan informasi-informasi

yang valid. Suatu informasi yang direkonstruksi dari atau secara ilmiah.

Yang dimaksud menginvestigasi dalam filsafat pendidikan adalah untuk

memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak

dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk

dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep

pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian. Untuk sementara

filsafat pendidikan bisa dipakai latar pengetahuan saja. Selanjutnya setelah

pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan

untuk mengevaluasinya, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai

bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.

John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyatakan bahwa

pengelaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka memandang pengalaman

sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai komitmen

terhadap inquiry atau penyelidik. Filosfo berfungsi memilih pengalaman-


32
pengalaman yang cocok untuk memanjukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan

berusaha menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
dan kemudian memberi komentar tentang nilai atau kemanfaatannya. Filsafat

pendidikan mencari konsekuensi proses belajar mengajar, apa yang telah

dilakukan, apa kelemahannya, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan itu.

Para filosof, melalui filsafat pendidikannya, berusaha menggali ide-ide

baru tentang pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari

kewajaran keberadaan peserta didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar

gografis, sosologis, dan budaya suatu bangsa. Dari sudut pandang keberadaan

manusia akan menimbulkan aliran Perennialis, Realis, Empiris, Naturalis, dan

Eksistensialis. Sedangkan dari sudut geografis, sosiologis, dan budaya akan

menimbulkan aliran Esensialis, Tradisionalis, Progresivis, dan Rekontruksionis.

Berbagai aliran filafat pendidikan tersebut di atas, memberikan dampak

terciptanya konsep-konsep atau teori-teori pendidikan yang beragam. Masing-

masing konsep akan mendukung filsafat pendidikan itu. Dalam membangun teori-

teori pendidikan, filsafat pendidikan juga mengingatkan agar teori-teori itu

diwujudkan diatas ebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata

lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian

ilmiah.

Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia adalah sebagai

berikut :

1) Essentialism

Filsafat pendidikan Esensialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti
32
berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah

kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial itu adalah kebudayaan klasik

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis

dengan bahasa latin dikenal dengan nama Great Book.

Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.

Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa

latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terarah dengan baik dan

logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat

berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang

diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif,

pengajaran terpusat pada guru.

2) Perenialis

Filsafat pendidikan Perenialis bahwa kebenaran pada wahyu Tuhan.

Tentang bagaimana cara menumbuhkan kebenaran itu pada diri peserta didik

dalam proses belajar mengajar tidaklah jauh berbeda antara esensialis dengan

peenialis. Proses pendidikan meraka sama-sama tradisional.

3) Progresivis

Filsafat pendidikan Progresivis mempunyai jiwa perubahan, relativitas,

kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada

tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan

kebenaran itu bersifat relatif, apa yang sekarang dipandang benar karena dituju

dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaan

adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini.


32
Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam

pendidikan adalah mengembangan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa tercapai melalui metode belajar

pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu

pendidikan menjadi pusat pada anak. Untuk mempercepat proses perkembangan

mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan

demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan

dalam pendidikan.

4) Rekonstruksionis

Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakanvariasi dari

Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus

diperbaiki (Callahan, 1983). Meraka bercita-cita mengkonstuksi kembali

kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat

baru aliran yang ektrim. Ini berupaya merombak tata susunan kehidupan

masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sekali, melalui

lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian

dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran Progresivis.

5) Eksistensialis

Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau

kebenaran adala eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya

manusia didunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena

ada manusia. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh

keputusan komitmennya sendiri. (Callahan, 1983)


32
Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran

individu, memberikesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
pengembangkan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan

mengembangkan komitmen diri sendiri. Materi pelajaran harus

memberikesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik

dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan

kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta didik perlu

mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka.

Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.

Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika,

yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis

dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan

interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan

pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

III.2. Masalah Kosa Kata Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Telah disebutkan diatas bahwa fokus yang akan dibahas oleh penulis

dalam makalah ini adalah mengenai persoalan pengajaran kosa kota dalam bahasa

inggris, karena persoalan kosa kata sangatlah luas cakupannya, maka penulis

membatasi pada persoalan sebagai berikut:

1. Kosa kata bermakna Arbiter,


2. Kosa Kota bermakna Ambigu dan
3. Kosa kata bermakna polysemy

Untuk memperoleh pemahaman lebih dalam maka penulis mengutip definisi yang
32
didapat dari penyataan para ahli sehubungan dengan ketiga pokok bahasa diatas

sebagai berikut:

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
1. Kosa Kata Arbiter

a. Saussure: Language is a convention and the nature of the sign that is

agreed upon does not matter ... Because the sign is arbitrary, it follows

no law other than that of tradition, and because it is based upon

tradition, it is arbitrary. 'Arbitrary' ... should not imply that the choice

of the signifier is left entirely to the speaker ... I mean that it is

unmotivated i.e. arbitrary in that it actually has no natural connection

with the signified. Only differences that make it possible to distinguish

this word from all others ... carry significance .. since one vocal image

is no better suited than the next for what it is commissioned to express.

... 'Arbitrary' and 'differential' are two correlative qualities ...

Language is a system of interdependent terms in which the value of

each term results solely from the simultaneous presence of the

others. ... The arbitrary nature of the sign explains in turn why the

social fact alone can create a linguistic system - by himself the

individual is incapable of fixing a single value. ... A particular

language-state is always the product of historical forces and these

forces explain why the sign is unchangeable i.e. why it resists any

arbitrary substitution. ... The community itself cannot control as much

as a single word; it is bound to the existing language. ... No longer can

language be identified with a contract pure and simple.


32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Saussure: Bahasa adalah konvensi dan sifat tanda yang disepakati ,…

Karena tanda sewenang-wenang, maka tidak ada hukum selain yang

disebut dalam tradisi, dan karena didasarkan tradisi, ia sewenang-wenang.

'Sewenang-wenang' ... tidak harus berarti bahwa pilihan penanda

sepenuhnya diserahkan pada pembicara ... Maksud saya itu tidak

termotivasi yaitu sewenang-wenang dalam hal ini sebenarnya tidak

memiliki hubungan yang alami dengan yang ditandakan. Hanya perbedaan

yang memungkinkan untuk membedakan kata yang dimaksud itu dengan

kata lainnya ... menggambarkan makna khususnya .. karena bentuk vokal

tidak ada yang lebih baik yang bertugas dalam pengungkapan arti....

'Sewenang-wenang' dan 'diferensial' adalah dua kualitas korelatif... Bahasa

adalah sistem istilah yang saling tergantung, dimana nilai setiap istilah

semata-mata adalah hasil dari kehadiran simultan yang lain. ...

Sewenang-wenang adalah sifat tanda, yang pada gilirannya nanti

menjelaskan, mengapa fakta sosial saja dapat menciptakan sistem

linguistik – sendiri, mengapa individu tidak mampu memperbaiki satu

nilaipun,...

Keadaan sebuah bahasa tertentu adalah merupakan selalu produk dari

kekuatan-kekuatan sejarah dan kekuatan-kekuatan ini menjelaskan


32
mengapa tanda tak dapat diubah, contoh: kenapa dia menolak setiap

substitusi yang arbiter?...

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Masyarakat sendiri hanya dapat mengontrol sebanyak satu kata, itu pasti,

karna terikat pada bahasa yang ada... bahasa tak dapat lagi diidentifikasi

seperti sebuah kontrak yang murni dan sederhana

b. Hockett: Arbitrariness The relation between a meaningful element in

language and its denotation is independent of any physical and

geometrical resemblance between the two ... or, as we say, the

semantic relation is arbitrary rather than iconic.

Kesewenang-wenangan hubungan antara elemen yang mimiliki arti dalam

bahasa dan denotasinya adalah kemandirian dari setiap kemiripan fisik dan

geometris diantara keduanya ... atau, istilah kami, hubungan semantik itu

adalah sewenang-wenang ketimbang ikonik.

c. Englefield: The fact that languages are arbitrary is sufficient evidence

that they were invented. In any language there are conventional ways

of combining words to express the relations between ideas. There is no

systematic correspondence between the forms of language and its

meanings.

3. Englefield: Fakta bahwa semua bahasa adalah sewenang-wenang dan

hal ini memiliki bukti yang memadai karena bahasa-bahasa itu diciptakan.

Dalam bahasa apapun ada cara-cara konvensional yang menggabungkan


32
kata-kata untuk mengungkapkan hubungan antar gagasan. Tidak ada

korespondensi yang sistematis antara bentuk bahasa dan maknanya.

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Dari beberapa pendapat ahli-ahli diatas dapat ditarik satu batasan mengenai

arbitrariness atau kesewang-wenangan dalam bahasa adalah sebagai berikut:

1. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa bukanlah

sebuah hukum melainkan hanya tradisi.


2. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa tidak

sepenuhnya makna literal diserahkan kepada pembicara, karena makna

tidak memiliki hubungan alami dengan kata yang diucapkan

pembicara.
3. Arbitrariness bisa disebabkan karena keunikan atau kespesialan

individu dalam memproduksi kata melalui vocal cords-nya atau alat

ujarnya yang memang tidak akan menghasilkan bunyi yang sama persis.
4. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa dan perbedaan-

perbedaan yang ditimbukalkannya adalah dua kualitas yang saling

terhubung, karena makna adalah suatu sistem yang saling tergantung,

makna tidak akan ber-arti tanpa kehadiran simultan yang lainnya.


5. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa adalah sifat dari

tanda yang akan memiliki peran dalam menjelaskan fakta sosial.

6. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa tidak memiliki

korespondensi yang sistematis antara bentuk bahasa dan maknanya.

7. Arbitrariness atau kesewenang-wenangan dalam bahasa atau hubungan

semantic yang dimilikinya adalah cenderung semantic ketimbang

ikonis.

Dari kesimpulan diatas penulis membuatnya menjadi mengkerucut sebagai


32
berikut:

1. Arbitrariness adalah makna yang mandiri karena tradisi


Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
2. Arbitrariness adalah makna akibat keunikan vocal
3. Arbitrariness adalah makna yang berbasis sosial
4. Arbitrariness tidak tunduk pada bentuk bahasa dan maknanya
5. Arbitrariness adalah semantic bukan ikonis

Berangkat dari sini penulis mencoba melakukan pencarian jejak-jejak makna

Seperti yang dikerucutkan penulis melalui contoh-contoh bahasa yang masih

kerap digunakan baik verbal maupun non-verbal.

Contoh Kosa Kata Arbiter

Yang dimaksud dengan istilah srbitrer adalah tidak adanya hubungan yang wajib

antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian

yang dimaksud oleh lambang tersebut. Umpamanya, antara (kuda) dengan yang

dilambangkan, yaitu ”sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. Kita

tidak menjelaskan mengapa binatangn tersebut dilambangkan dengan bunyi

(kuda) Andaikata ada hubungan wajib antara lambang dengan yang

dilambangkannya, tentu lambang yang dalam bahasa Indonesia berbunyi (kuda)

akan disebut juga (kuda) oleh orang Lampung, dan bukannya (horse); lalu

andaikata ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya,

maka di muka bumi ini tidak akan ada bermacam-macam bahasa. Tentu hanya ada

satu bahasa yang meskipun mungkin berbeda, tetapi perbedaanya tidaklah terlalu

banyak.

2. Kosa Kota Ambigu

Perhatikan kalimat berikut yang dikutip dari contoh sambutan 32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
“Kami berharap agar hadirin menyukseskan kegiatan yang telah memakan

dana ratusanribu ini.”

Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas merupakan salah satu contoh

frasa ambigu. Ambigu adalah kata, frasa, atau kalimat yang mempunyai arti lebih

dari satu atau bermakna ganda. Ambigu secara struktural atau ketatabahasaan

sudah tepat, tetapi artinya menimbulkan makna ganda.

Dalam bahasa lisan, penafsiran ambigu tidak akan terjadi karena ada pembedaan

cara mengucapkannya. Akan tetapi, dalam bahasa tulis penafsiran ganda ini dapat

saja terjadi jika penanda-penanda ejaan tidak lengkap.

Frasa ratusan ribu mempunyai dua arti.

1. Ratusan/ribu = seratus lembar ribuan.

2. Ratusan ribu = satu lembar uang seratus ribu.

Untuk menghindari keambiguan atau kesalahan penafsiran, sebaiknya kalimat

tersebut dilengkapi dengan tanda hubung (-). Fungsi tanda hubung dalam

penulisan kata-kata untuk menandai pembacaan frasa agar tidak menimbulkan

keambiguan. Fungsi tanda hubung ini sama dengan fungsi garis miring (/) dalam

penulisan kalimatnya. Tanda hubung diletakkan di antara kata yang dibaca dengan

jeda.

Contoh:

“Kami berharap agar hadirin menyukseskan kegiatan yang telah memakan

dana ratusan-ribu ini”, atau 32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
“Kami berharap agar hadirin menyukseskan kegiatan yang telah memakan

dana ratusan ribu ini”.

Agar lebih jelas, perhatikan contoh kalimat ambigu berikut ini!

Mainan teman baru itu berwarna kuning.

Kalimat tersebut menimbulkan makna ganda pada frasa mainan teman baru.

1. mainan/teman baru = yang baru adalah teman.

2. mainan teman/baru = yang baru adalah mainan.

Agar tidak menimbulkan makna ganda, kalimat di atas dapat diubah

menjadi kalimat berikut.

1. Mainan-teman baru itu berwarna kuning.

2. Mainan teman-baru itu berwarna kuning.

Cara membaca kalimat nomor 1 tersebut adalah setelah kata mainan diberi jeda.

Pada kalimat nomor 2 jeda pembacaan dilakukan setelah kata baru. Jadi, frasa

yang tidak ambigu pada kalimat nomor 1 adalah teman baru. Selanjutnya, pada

kalimat nomor 2 frasa yang tidak ambigu adalah mainan teman.

Selain terjadi di dalam kalimat, ambiguitas dapat pula terjadi antar kalimat.

Contoh:

1. Ali bersahabat dengan Amin.

2. Dia sangat menyayangi adiknya.


32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Contoh di atas tidak diketahui secara jelas siapa menyayangi adik siapa sehingga

kalimat tersebut mengandung ambiguitas. Tidak jelas siapa yang dimaksud

dengan dia dan adiknya dalam kalimat Dia sangat menyayangi adiknya. Kalimat

di atas akan menjadi jelas jika diubah menjadi seperti berikut.

Ali bersahabat dengan Amin.

Ali sangat menyayangi adik Amin.

3. Kosa Kata polysemi Dalam Bahasa Inggris

Examples

1. Man

The human species (i.e., man vs. animal)

Males of the human species (i.e., man vs. woman)

Adult males of the human species (i.e., man vs. boy)

This example shows the specific polysemy where the same word is used at

different levels of a taxonomy. Example 1 contains 2, and 2 contains 3.

2. Mole

a small burrowing mammal, Spy, Infiltrator, Secret Agent, etc

consequently, there are several different entities called moles


32
Mole (animal) or "true mole", many of the mammals in the family Talpidae, found

in Eurasia and North America


Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Golden moles, southern African mammals, similar to but unrelated to Talpidae

moles

Marsupial moles, Australian mammals, similar to but unrelated to Talpidae moles

Other common meanings

Mole (unit), the SI unit (symbol mol) used in chemistry for the amount of a

substance

Mole or melanocytic nevus, a benign tumor on human skin, usually with darker

pigment

Mole (sauce), a Mexican sauce made from chili peppers, other spices, and

chocolate

Mole (espionage), a spy who has worked his or her way into an organization or

country

Mole (architecture), a pier, jetty, breakwater, or junction between places separated

by water

Variant spelling of Moll (slang) in Australian

Places

Africa

32
Mole River (Ghana), a tributary of the White Volta in Ghana

Mole National Park, Ghana, named after the Mole River


Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Bank

A financial institution

The building where a financial institution offers services

A synonym for 'rely upon' (e.g. "I'm your friend, you can bank on me"). It is

different, but related, as it derives from the theme of security initiated by 1

However: a river bank is a homonym to 1 and 2, as they do not share etymologies.

It is a completely different meaning. River bed, though, is polysemous with

the beds on which people sleep.

Book

A bound collection of pages

A text reproduced and distributed (thus, someone who has read the same text on a

computer has read the same book as someone who had the actual paper volume)

to make an action or event a matter of record (e.g. "Unable to book a hotel room,

a man sneaked into a nearby private residence where police arrested him and later

booked him for unlawful entry.")

Milk

The verb milk (e.g. "he's milking it for all he can get") derives from the process

of obtaining milk. 32

Wood

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
A piece of a tree

A geographical area with many trees

Cranea bird

A type of construction equipment

To strain out one's neck

IV. Solusi Dan Kesimpulan

Dari berbagai contoh diatas maka sebaiknya pengajaran kosa kata bahasa Inggris

yang memiliki ambiguitas tinggi serta sifat bahasa yang arbiter, belum lagi

permasalahan pada kata – kata yang mengandung banyak makna, maka penulis

menyarankan untuk mengajarkan :

kosa kata bahasa inggris pada pembelajar berpedoman pada ke-4 hal filsafat

mengenai kebenaran; Teori kebenaran itu selalu pararel dengan teori pengetahuan

yang dibangunnya. Teori-teori pengetahuan itu terdiri atas:

 Teori Kebenaran Korespondensi (berhubungan)


- menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang 32

dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
- berupa kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksudkan

oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sugguh merupakan fakta-

faktanya.

Teori ini menuntut pengajar ketika mengajarkan vocabulary atau kosa kata

hanya berbatas pada kosa kata yang berhubungan dengan kenyataan yang

dikenal subyek, kata-kata yang tidak sesuai kognitif dan pengalaman empiris

siswa sebaiknya ditunda diajarkan, lebih pada penekanan kata yang dikenal

pembelajar dalam kenyataan hidup siswa, singkatnya kosa kata yang diajarkan

walau memiliki tingkat arbiter dan ambigu tetapi diarahkan pada pengalaman

pembelajar yang telah berlangsung atau yang sedang berlangsung. Teori ini

sesuai dengan semboyan “Learning by Doing”.

 Teori kebenaran Koherensi

Teori kebenaran koherensi ini biasa disebut juga dengan teori konsitensi.

Pengertian dari teori kebenaran koherensi ini adalah teori kebenaran yangØ

medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan

pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan

diakui kebenarannya.

Teori ini menghendaki pengajar dalam mengajar hanya mengajarkan kosa kata

yang dipahami pembelajar sebagai sesuatu yang diketahui dan paham akan nilai

yang terkandung didalamnya; maka dalam mengajarkan kosa kata Bahasa Inggris

Pengajar harus dan hanya mengajarkan kata-kata yang dipahami siswa nilai-
32
nilainya dalam bahasa ibunya kemudian ditrensfer kedalam bahasa inggris, juga

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
memungkin makna dari teori ini mengajarkan kosa kata yang berkolokasi dengan

kata yang dimaksud.

 Teori Kebenaran Pragmatik

Suatu proposisi bernilai benar bila proposisi ini mempunyai

konsekuensi-konsekuensi praktis seperti yang terdapat secara inheren dalam

pernyataan itu sendiri.


Teori ini menginginkan pengajar mengajarkan kosa kata yang bernilai

praktis saja, atau kosa kata yang memiliki nilai-nilai praktis dalam kehidupan

praktis, digunakan dalam kehidupan real sehari-hari, yang menyangkut pada hal-

hal istilah-istilah akademis, misalnya ditunda pengajarannya karena tidak bersifat

praktis untuk kebutuhan komunikasi yang berlaku setiap saat disekililing

pembelajar.
Kesimpulan:

Pembelajaran Kosa kata Bahasa Inggris harus bersifat:

1. Sesuai tingkat kognitif pembelajar.


2. Terhubung langsung dengan pengalaman empiris Pembelajar
3. “Learning by Doing”.
4. Dipahami pembelajar sebagai sesuatu yang diketahui dan paham akan nilai

yang terkandung didalamnya


5. Kosa kata yang berkolokasi dengan kata yang dimaksud.
6. Kosa kata yang bernilai praktis
7. Istilah-istilah akademis ditunda pengajarannya

32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
DAFTAR PUSTAKA

Aitchison, Jean. 1972. General Linguistics. London: The English Universities

Press Ltd

Alieva, N.F. dkk. 1991. Bahasa Indonesia: Deskripsi dan Teori. Yogyakarta:

Kanisius

Al-Kasimi, Ali M. 1997. Linguistic and Bilingual Dictionary, Leiden: E.J. Brill

Allan, Keith. 1986. Linguistic Meaning. Jilid I dan II. London: Routledge and

Kegan Paul

Barber, C.L. 1972. The Story of Language. London: The Causer Press

Bolinger, Dwight L. 1975. Aspects of Language. New York: Harcourt, Brace and

Word Inc 32

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary
Chomsky, Noam (1956). "Three Models for the Description of Language". IRE

Transactions on Information Theory

Chomsky, Noam (1957). Syntactic Structures. The Hague: Mouton

Englefield, Ronald (as by Frederick Ronald), Songs of Defiance, Erskine

Macdonald, London, 1917

32

Paper Group: Hubungan Filsafat Ilmu dalam Pemecahan Masalah Pengajaran Bahasa
Inggris Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris | Universitas Mulawarman
Kelompok 3 : Jepri Nainggolan, Wilda Almar, Sulaiman, Deasy Zauhary