Anda di halaman 1dari 5

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2005

SILASE TANAMAN JAGUNG SEBAGAI PENGEMBANGAN


SUMBER PAKAN TERNAK

BAMBANG KUSHARTONO DAN NANI IRIANI


Balai Penelitian Ternak Po Box 221 Bogor 16002

RINGKASAN

Pengembangan silase tanaman jagung sebagai alternatif sumber pakan ternak telah diamati pada kurun waktu 3
bulan (April - Juli 2005) . Proses pembuatan silase dengan menggunakan berbagai bahan tambahnan antara lain dedak,
molases, buah nanas, EM 4, dan sebagai kontrol silase tanpa starter. Hasil pengamatan menunjukkan penambahan starter
dapat mempercepat proses pembuatan silase 7 - 15 hari lebih cepat dibandingkan kontrol . Pengamatan secara
organoleptik menunjukkan pada umumnya dari 8 perlakuan kualitas silase cukup baik yang ditandai bau asam yang khas
dan warna kehijauan . Dengan penambahan starter daya simpan lebih lama dibandingkan kontrol . Silase dapat dibuat
dengan teknologi sederhana, sangat mudah dilaksanakan, dapat meningkatkan protein kasar hingga 15 %, dan
memperpanjang daya simpan lebih dari 3 bulan sehingga mengurangi limbah yang terbuang . Dengan demikian silase
tanaman jagung sangat tepat bila digunakan sebagai alternatif pengembangan surnber pakan ternak .
Kata kunci : silase jagung

PENDAHULUAN

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam pemeliharaan ternak, keterbatasan pakan dapat
menyebabkan populasi ternak pada suatu daerah menurun . Oleh karena itu, kemampuan peternak dalam
menyediakan pakan akan menentukan jumlah ternak yang mampu dipelihara (Winugroho, 1991) . Kebutuhan
pakan hijauan makin meningkat sebagai akibat bermunculannya peternakan sapi di beberapa daerah . Pangsa
pengembangan tanaman jagung sebagai alternatif pakan ternak semakin terbuka . Melihat kenyataan di atas,
pengembangan usahatani jagung merupakan bidang yang masih memberikan kemungkinan cukup terbuka
bagi peningkatan produksi ternak .
Luas tanaman jagung di Indonesia 3 .500 .000 ha pada tahun 2004 dengan jumlah produksi 11 .354 .856
ton (Statistik Pertanian, 2004) . Dari luasan tersebut berpotensi menghasilkan hijauan 70 .000 .000 ton / tahun
dengan asumsi ditanam satu kali per tahun dengan hasil rata-rata 20 ton / Ha . Di Indonesia pada umumnya
tanaman jagung dipanen buahnya dan pohon jagung merupakan hasil ikutan untuk hijauan pakan ternak .
Apabila potensi tanaman jagung yang tinggi tersebut dimanfaatkan secara maksimal mampu memenuhi
kebutuhan pakan kurang lebih 7 juta ekor sapi / tahun dengan pemberian pakan rata-rata 30 kg / ekor / hari .
Petani tradisional pada umumnya memanfaatkan limbah tanaman jagung ini tanpa melalui
pengolahan terlebih dahulu sehingga sulit untuk meningkatkan kualitas dan daya simpannya akibatnya
banyak hijauan yang terbuang . Kondisi tersebut sangat kontra diktif dengan kesulitan dalam upaya
penyediaan hijauan pakan . Dengan keadaan demikian maka perlu adanya penerapan suatu teknologi tepat
guna .Untuk meningkatan kualitas dan daya simpan hijauan hasil ikutan tanaman jagung yaitu dengan
pembuatan silase . Pembuatan silase dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara . Salah satu cara yang
dapat dilakukan yaitu menggunakan kantong plastik . Metode pembuatan silase dengan menggunakan
kantong plastik adalah teknologi silase yang dapat dilakukan dan diaplikasikan oleh para petani kecil di
pedesaan .
Pengembangan silase sebagai pakan ternak perlu di dukung oleh budidaya yang intensif dan teknologi
yang tepat dalam pembuatannya . Ini ditinjau dari beberapa segi bahwa peternak pedesaan kebanyakan
mengharapkan suatu teknologi yang mudah, praktis dan tanpa biaya atau biaya seminimal mungkin tetapi
tetap menguntungkan . Untuk hal tersebut penulis membuat percobaan beberapa media fermentasi sebagai
gambaran langkah-langkah efisiensi . Yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan silase adalah
konsistensi, ketersediaan bahan dan harga . Media fermentasi dalam pembuatan silase merupakan faktor
penentu yang paling penting untuk pertumbuhan mikroba . Media fermentasi merupakan starter penentu
cepat lambatnya proses fermentasi . Semakin cepat fermentasi terjadi semakin cepat pekerjaan tersebut
selesai .
Penulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang silase tanaman jagung sebagai pakan
ternak, cara pembuatannya serta beberapa media yang dapat dipergunakan sebagai starter dalam pembuatan
silase tersebut .
122
Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2005

Diharapkan dengan diketahuinya media yang sesuai, pembuatan dan pemanfaatan silase bisa
disebarluaskan sehingga dapat menunjang persediaan hijauan yang berkualitas, dan pada akhirnya dapat
membantu meringankan beban pekerjaan peternak di daerah tersebut .

BAHAN DAN CARA KERJA

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor selama 3 bulan dari bulan April
2005 sampai dengan bulan Juli 2005 .

Bahan

Bahan yang digunakan dalam pembuatan silase yaitu

- Tanaman jagung utuh (tanaman + buah)


- Limbah tanaman jagung (setelah buahnya dipanen)
- Bahan stater antara lain : dedak, molases, buah nanas dan EM 4 .

Peralatan

Peralatan yang dipergunakan dalam pembuatan silase yaitu mesin pencacah rumput (chopper),
timbangan, karung plastik, kantong plastik, tali rafia dan mesin vakum .

Cara kerja

Pembuatan Silase

Tanaman jagung segar umur 80 hari baik secara utuh maupun limbahnya setelah dipanen
dilayukan terlebih dahulu selama I hari untuk mengurangi kadar air . Kemudian dicacah dengan mesin
pencacah rumput (chopper) dengan hasil potongan 2-4 cm . Setelah itu dicampur beberapa perlakuan antara
lain
1 . Tanaman jagung utuh + molases I % + dedak 3 %. (T1)
2 . Tanaman jagung utuh + EM 4 . (T2)
3 . Tanaman jagung utuh + buah nanas + EM 4 . (T3 )
4 . Tanaman jagung utuh + molases 1 % + dedak 3 % + EM 4 . (T4 )
5 . Tanaman jagung utuh + molases I % . (T 5 )
6 . Limbah tanaman jagung + molases I % + dedak 3 % + EM 4 . (T 6 )
7 . Buah jagung muda + EM 4 . (T 7 )
8 . Tanaman jagung utuh tanpa perlakuan sebagai kontrol . (T8)

Setelah cacahan tanaman jagung dicampur satu per satu, masing - masing campuran dimasukan
ke dalam karung plastik yang berukuran 40 x 60 cm dengan kapasitas 30 - 40 kg, kemudian
dipadatkan dengan cara diinjak-injak . Untuk memastikan tidak terdapat udara di dalam timbunan tanaman
jagung dalam karung plastik, maka cacahan tanaman jagung tersebut ditekan dengan cara diinjak-injak
hingga isi karung menjadi cukup padat, langkah selanjutnya kantong yang berisi hijauan jagung
diikat dengan menggunakan tali rafia . Untuk menjaga agar selalu kedap udara, maka karung plastik yang
sudah berisi campuran tanaman jagung tersebut dimasukan lagi ke dalam kantong plastik dan
selanjutnya diikat rapat . Pengamatan dan analisis kimia dilakukan dengan membuka kantong plastik
setiap bulan pada setiap perlakuan .
Evaluasl Silase
Evaluasi silase dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan pada setiap perlakuan . Di
dalam proses pembuatan silase biasanya terjadi penimbunan gas yang ditandai dengan menggembungnya
kantong plastik .

123

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2005

Timbunan gas yang terbentuk dikeluarkan secara hati-hati beberapa kali dan selanjutnya divakum .
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses silase yaitu selama 15-21 hari tergantung starter yang
dipergunakan . Sedangkan tingkat keasaman (pH) silase dipertahankan di bawah 4 . Apabila proses silase
betul-betul telah selesai yang ditandai tidak terbentuknya gas maka silase tersebut siap disimpan .Evaluasi
silase dilakukan dengan cara
1 . Evaluasi proses
2 . Berhasil tidaknya proses silase biasanya ditandai dengan terjadinya penimbunan gas pengamatan pada
evaluasi ini dilakukan selama I -- 21 hari .
3 . Evaluasi daya simpan .
4 . Evaluasi ini ditujukan untuk mengetahui perubahan bentuk silase dan keamanan
5 . Penyimpanan . Evaluasi ini dilakukan setelah proses silase selesai (I - 3 bulan) .
6 . Analisis proksimat
7 . Evaluasi ini untuk mengetahui peningkatan nilai gizi silase .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam pengambilan keputusan untuk memilih komoditi tanaman jagung yang akan diusahakan,
seorang petani perlu mempertimbangkan banyak hal . Pertimbangan - pertimbangan tersebut antara lain :
meliputi ketersediaan sumberdaya, pilihan teknologi, kendala yang dihadapi dan harapan harga dari setiap
komoditi tanaman jagung tersebut . Pilihan itu selanjutnya berpengaruh terhadap pola tanam dan teknologi
yang akan dikembangkan serta alokasinya pada berbagai tipe lahan yang dikuasai .
Peningkatan produksi jagung merupakan bagian dari usaha diversifikasi usahatani . Dalam usaha
diversifikasi ini salah satu faktor yang menentukan adalah imbangan harga dengan padi dan palawija lainnya .
Data yang diperoleh dari lapangan menunjukkan bahwa harga jagung yang sangat fluktuatif dan ratio harga
jagung terhadap padi dan palawija lainnya menunjukkan perkembangan yang menurun . Hal ini tentunya tidak
menguntungkan terhadap usaha-usaha diversifikasi pengembangan tanaman jagung tersebut . Namun apabila
tanaman jagung tersebut diusahakan sebagai sumber pakan ternak masih memberikan kemungkinan cukup
terbuka bagi peningkatan produksi yang ditujukan minimal untuk kebutuhan pakan ternak dengan hasil
produksi sekitar 60-70 ton / Ha / panen (Kushartono,2003) . Untuk meningkatkan daya guna secara maksimal
dan daya simpan maka tanaman jagung tersebut sebaiknya difermentasikan menjadi silase .

a . Evaluasi proses silase

Dari beberapa perlakuan percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa tanaman jagung sangat baik
bila dibuat silase . Dipilihnya tanaman jagung sebagai sumber pakan ternak adalah karena bahan ini sangat
mudah didapat terutama pada saat musim panen dan harganya murah . Teknik pengawetan yang mudah
diadopsi dan diterapkan oleh petani peternak sebagai alternatif yang dapat dilakukan adalah menggunakan
kantong plastik . Metode pembuatan silase dengan menggunakan kantong plastik ganda ini cukup
memberikan hasil yang memuaskan .
Hasil pengamatan dari beberapa media yang yang dipergunakan sebagai starter menunjukkan hasil
yang balk yang ditandai beberapa kreteria sebagai berikut : tercium bau asam, warna daun masih
kehijauan .Evaluasi terhadap proses silase dari beberapa stater yang dipergunakan dilakukan dengan
mengamati setiap perubahan yang terjadi pada setiap perlakuan dan terlihat pada Tabel 1 .
Tabel 1 . Evaluasi Proses Silase
Jenis Pengamatan/hari ke
No Perlakuan 9 10 11 12 13 14 15
I 2 3 4 6 7 8

Keterangan : Proses Silase


1 24

Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2005

Pada tanaman jagung tanpa perlakuan menunjukkan proses silase berjalan lambat, baru mulai
terbentuk pada hari ke 7 s/d hari ke 15 . Sedangkan dengan penambahan starter proses silase mulai terjadi
pada hari ke 2 . Dengan demikian dalam proses silase yang terpenting dan harus diperhatikan yaitu pada
prinsipnya silase tersebut harus selalu kedap udara .

b . Evaluasi daya simpan silase dengan organoleptik

Pengujian kualitas silase dilakukan dengan cara pengambilan contoh pada setiap kantong silase yang
diamati pada setiap bulan . Pengujian silase tersebut dilakukan secara orgonoleptik dan kimiawi . Pengujian
organoleptik dilakukan dengan cara sebagai berikut : pertama dengan melihat perubahan yang terjadi secara
umum seperti perubahan warna, tumbuhnya jamur dan lainnya, kedua dengan cara mencium silase . Silase
yang baik ditandai dengan bau asam yang khas . Pengujian oganoleptik terhadap perubahan silase tanaman
jagung dilakukan setiap bulan selama tiga bulan penyimpanan terlihat pada Tabel 3 .
Tabel 2 . Hasil Pengujian Organoleptik

Jenis Warna Kontaminasi Bau


No .
Perlakuan Jamur
1 2 3 1 2 3 1 2 3
I T, HS HS HS S S S
2 T2 HS HS HS X S S S
3 T, HS HS HS X S S S
4 T4 HS HS HS X X S S S
5 T5 HS HS HS X S S S
6 T6 HS HS HS S S S
7 T7 PS PS PS X X S SM SM
8 T8 HS HS HS X S S SM
Keterangan :
HS : Kehijauan segar
PS : Putih segar
X : Ada jamur
S : Segar
SM : Segar menyengat

Pada pengamatan organoleptik bulan pertama diperoleh silase yang bersih tanpa jamur, berbau harum
dan warna tanaman jagung masih segar . Akan tetapi pada pengamatan kedua setelah silase dilakukan
penyimpanan 2 bulan mulai nampak kontaminasi jamur yang terus meningkat sampai bulan ketiga. Pada
umumnya kontaminasi jamur terjadi dibagian atas dan samping sedangkan pada bagian dalam (tengah) masih
segar . Hal ini kemungkinan disebabkan pengaruh dari pengambilan sampel pada setiap pengamatan . Selain
itu karena pada bagian atas mudah kontak dengan udara luar bila dibandingkan dengan bagian dalam
sehingga tumbuh jamur. Dalam pengamatan jamur yang terbentuk berwarna putih namun tidak diidentifikasi
lebih lanjut .
c . Analisis proksimat

Pengujian kualitas silase secara kimiawi sangat penting untuk mengetahui kandungan nutrisi silase .
Untuk pengujian secara kimiawi dilakukan di Laboratorium Proksimat Balai Penelitian Ternak dengan dua
kali pengambilan contoh . Pengambilan contoh pertama dilakukan sebelum tanaman jagung dibuat silase dan
pengambilan yang kedua dilakukan setelah tanaman jagung dibuat silase dan telah disimpan selama 2 bulan
hasilnya terlihat pada Tabel 3 .
Tabel 3 . Hasil Analisis Kandungan Protein (%)

No . Jenis Sampel Segar Silase


1 T4 10,86 10,21
2 T6 11,33 13,04
3 T7 9,79 9,69

1 25
Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2005

Dari Tabel di atas tidak terlihat perubahan kandungan protein secara nyata . Pada tanaman jagung utuh
(T4) tidak terjadi kenaikan kadar protein demikian juga pada tongkol jagung muda (T6 ) . Sedangkan pada
limbah tanaman jagung (T O ) terjadi kenaikan kadar protein 15 % dari 11,33 % menjadi 13,04 % . Dari hasil
analisis tersebut menunjukkan bahwa pembuatan silase sebagai alternatif cara penyimpanan pakan hijauan
sangat tepat karena tidak terjadi penurunan nalai gizinya . Ciri lainnya dari keberhasilan pembuatan silase
adalah mengandung asam asetat 2 % dengan tingkat keasaman (pH) dibawah 4,2 . Menurut hasil pengamatan
Mathius dkk, (1977) komposisi nutrien silase menunjukkan bahwa kandungan energi silase menurun
sedangkan kendungan protein kasar meningkat . Hal ini dimungkinkan karena kurangnya kandungan SDN
(serat deterjen netral) .
Komposisi kimia tanaman jagung pada pemanenan 70 -80 hari menunjukkan kandungan nutrisi cukup
baik , bahkan kandungan protein, lemak, energi lebih tinggi dari rumput raja, sedangkan kandungan serat
kasarnya lebih rendah terlihat pada Tabel 4 . Dengan adanya hasil demikian tanaman jagung sangat baik bila
dimanfaatkan sebagai pakan ternak .
Tabel 4 . Komposisi Tanaman Jagung dan Rumput Raja (dalam %)

Jenis tanaman Protein Lemak Serat Abu Karbo Energi


K astir Kasar H idrat
Tanaman Jagung 12,57 3,31 23,30 6,33 30,80 34,87
Rumput Raja 10,62 2,64 30,40 9,23 33,73 13,60
Surnber . I'T Family Sejahtera 2002

Uji coba terhadap tingkat kesenangan ternak khususnya ternak domba dan kambing cukup
memuaskan . Menurut Budiarsana (komunikasi langsung) bahwa perubahan pemberian pola pakan dari
hijauan segar ke silase memerlukan beberapa hari untuk beradaptasi . Selanjutnya dikatakan bahwa setelah
ternak beradaptasi konsumsi pakan (silase tanaman jagung) selalu meningkat . Selain itu dengan
meningkatnya konsumsi terlihat perubahan dari penampilan ternak tampak lebih baik dan sehat dengan
penambahan berat badan 160 gram per hari . Dengan kenyataan demikian tentunya silase tanaman jagung
sangat baik bila dipergunakan sebagai alternatif pengembangan sumber pakan ternak .

KESIMPULAN

I. Silase tanaman jagung dapat dibuat dengan teknologi sederhana dan mudah dilaksanakan .
2. Penambahan starter mempercepat proses pembuatan silase .
3. Proses silase dapat meningkatan kualitas kadar protein (15%) limbah tanaman dengan penambahan
molases, dedak dan EM 4 (T6) .
4. Pembuatan silase dapat memperpanjang daya simpan lebih dari 3 bulan sehingga dapat menanggulangi
limbah yang terbuang . .
5. Silase tanaman jagung dapat digunakan sebagai alternatif pengembangan sumber pakan ternak .

DAFTAR BACAAN

PT . Family Sejahtera,2002 . Komunikasi langsung


Kushartono,B . 2003 . Prospek pengembangan tanamnan jagung sebagai sumber hijauan pakan ternak .
Prosiding Temu Teknis Funfsional Non Peneliti . Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak .
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian H : 26-3 1 .
Mathius, IW, D . Lubis, E . Wina, D .P . Nurhayati, IGM . Budiarsana 1977 . Penambahan kalsium karbonat dan
konsentrat domba yang mendapatkan silase rumput raja sebagai pakan ternak dasar . Jurnal Ilmu
Ternak dan Veteriner . 2(3) : 164-169 .
Statistik Pertanian (Agricultural Statistics) .2004 Departemen Pertanian
Winugoho, M . 1991 . Pedoman cara pemanfaata jerami pada pakan ruminasia . Balai Penelitian Ternak . H
32-38 .

1 26