Anda di halaman 1dari 19

PEMBUATAN MEDIUM BIAKAN DAN STERILISASI

==

Nama : Maria Pricilia Gita Permana Putri


NIM : B1A015068
Kelompok :1
Rombongan :I
Asisten : Iis Imroatun Sholihah

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisme hidup memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Subtansi


kimia organik dan inorganik diperoleh dari lingkungan dalam berbagai macam
bentuk. Nutrien diambil dari lingkungan kemudian ditransformasikan melalui
membran plasma menuju sel. Beberapa nutrisi di dalam sel diolah
menghasilkan energi yang digunakan dalam proses seluler (Lim & Hastowo,
1998). Jamur atau fungi dalam medium juga memerlukan makanan untuk
pertumbuhannya (Volk & Wheeler, 1993).
Media merupakan tempat tumbuh dan sumber nutrisi bagi mikroorganisme.
Setiap mikroorganisme memiliki syarat yang berbeda-beda untuk tumbuh. Kita
harus mengerti jenis-jenis nutrien yang diinginkan oleh mikroorganisme dan
juga jenis lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi
pertumbuhannya, oleh karena itu, praktikan pun harus mengetahui
macam-macam media, cara pembuatan media, sekaligus mengetahui
bahan-bahan dan komposisi yang digunakan serta fungsi dari masing-masing
bahan dalam membantu pertumbuhan mikroorganisme tersebut (Pratiwi, 2008).
Sterilisasi merupakan kondisi yang wajib terpenuhi saat bekerja di
laboratorium. Kegiatan sterilisasi diperlukan untuk meminimalisir dan
menghilangkan kemungkinan kontaminasi oleh mikroorganisme yang tidak
diinginkan. Kontaminan tersebut dapat berasal dari alat ataupun bahan yang
digunakan dalam percobaan bahkan dapat pula berasal dari lingkungan tempat
percobaan dilakukan. Kontaminan yang timbul dari mikroorganisme yang tidak
diharapkan dapat mengganggu aktivitas dari mikroorganisme yang sedang
ditumbuhkan atau dapat pula membahayakan keselamatan pekerja laboratorium.
Praktikan harus mengetahui teknik sterilisasi yang benar karena sterilisasi yang
dilakukan dengan teknik tidak benar tetap dapat menimbulkan kontaminan yang
tidak diinginkan (Pratiwi, 2008).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum pembuatan medium biakan dan sterilisasi adalah


untuk mengetahui cara pembuatan medium jamur dan macam-macam sterilisasi.
II. TELAAH PUSTAKA

Jamur dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut
medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan
mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis
mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik
pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik
ditambah sumber karbon organik seperti gula. Adapun mikroorganime lainnya
memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium yang
ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Hadioetomo, 1993).
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi macam
ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel
tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta
untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan
agar-agar, gelatin atau gel silika. Bahan agar yang utama adalah galaktan (komplek
karbohidrat yang diekstrak dari alga genus Gelidium). Agar akan larut atau cair pada
suhu hampir 100oC dan akan cair apabila kurang lebih 43oC (Hadioetomo, 1993).
Agar merupakan media tumbuh yang ideal yang diperkenalkan melalui metode
bacteriaological (Schlegel, 1993).
Alat dan bahan yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum
harus disterilisasi terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan
tersebut dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk
mematikan semua organisme yang teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi
dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara
panas); penyaringan; penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat,
formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Pelczar, 1986).
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik
yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen / non patogen (tidak
menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak)
maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis, tidak dapat berkembang biak,
tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat). Sterilisasi adalah suatu
proses untuk membuat ruang / benda menjadi steril, sedangkan sanitasi adalah suatu
proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat (Schlegel, 1993). Sterilisasi yaitu
proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk
kehidupan. Sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang dipakai maupun
media. Misalnya dalam penanaman material dalam media, dimana cawan petri, ose
maupun media yang digunakan tidak steril, maka sangat tidak mungkin untuk
membedakan apakah bakteri atau jamur berhasil diisolasi tersebut berasal dari alat
atau media yang digunakan. Suatu alat atau bahan dikatakan steril bila alat atau
bahan tersebut bebas dari mikroba, baik dalam bentuk vegetatif maupun spora,
sedangkan tindakan untuk membebaskan alat atau media dan jasad renik disebut
dengan sterilisasi (Bhima, 2010). Sterilisasi adalah salah satu metode pemanasan
yang dapat membunuh mikroba dalam produk pangan karena menggunakan suhu
lebih tinggi dibandingkan metode pemanasan lainnya (misal pasteurisasi) (Haryati et
al., 2015).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah beaker glass,
hotplate, stirrer, gelas ukur, timbangan analitik, Erlenmeyer, indikator pH,
saringan, dan autoklaf.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah medium PDA
(Potato Dextrose Agar) racikan 1 resep (kentang 200 gram, dextrose 20 gram,
agar 15 gram, akuades 1 liter, dan chloramphenicol), medium PDA instan 1
resep (PDA instan 39 gram dan akuades 1 liter), dan medium YMM (Yeast Malt
Medium) 1 resep (glukosa 10 gram, pepton 5 gram, ekstrak malt 3 gram, ekstrak
yeast 5 gram, dan akuades 1 liter).

B. Metode

1. Pembuatan Medium PDA Racikan 1 Resep

Kentang 200 gram Kentang direbus dengan Disaring ekstrak


dipotong dadu 500 ml akuades hingga kentangnya
diperoleh ekstrak

Chloramphenicol Agar Dextrose

Disterilisasi dengan Dimasukkan ke Ekstrak kentang


autoklaf pada suhu Erlenmeyer, lalu ditambahkan dextrose 20
121oC 2 atm ditambahkan gram, agar 15 gram, dan
chloramphenicol akuades hingga 1 liter,
kemudian dihomogenkan
2. Pembuatan Medium PDA Instan 1 Resep
PDA instan

Akuades sebanyak 1000 Dihomogenkan PDA instan sebanyak 39


mL disiapkan gram dimasukkan dan
dihomogenkan

Disterilisasi dengan Dimasukkan ke


autoklaf pada suhu Erlenmeyer
121oC 2 atm

3. Pembuatan Medium YMM 1 Resep


Ekstrak yeast Pepton

Ekstrak malt Glukosa

Akuades sebanyak 1000 Akuades sebanyak Ditambahkan ekstrak


mL disiapkan 800 mL yeast 5 gram, ekstrak malt
dihomogenkan 3 gram, pepton 5 gram,
glukosa 10 gram, lalu
ditambahkan lagi akuades
sebanyak 200 mL, dan
dihomogenkan sampai
mencapai pH 5-6
Disterilisasi dengan Dimasukkan ke
autoklaf pada suhu Erlenmeyer
121oC 2 atm
B. Pembahasan

Pradhika (2008) menyatakan bahwa medium pertumbuhan mikroorganisme


adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang
diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme
memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk
menyusun komponen sel. Media pertumbuhan dapat dilakukan isolat
mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media
pertumbuhannya. Mengkultur jamur di laboratorium dapat dilakukan dengan
menambahkan suplemen berupan elemen dan komponen esensial yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan proses metabolisme jamur pada media
tersebut (Padmaja et al., 2015).
Medium biasanya digunakan untuk pertumbuhan jamur (fungi). Medium
akan mempengaruhi morfologi dan warna dari koloni, terbentuknya struktur
tertentu, dan dapat tumbuh atau tidaknya jamur. Semua jamur memerlukan
elemen yang spesifik untuk melangsungkan pertumbuhan dan reproduksinya.
Medium umumnya mengandung sumber nitrogen (N), karbon (C), dan vitamin.
Dekstrosa/glukosa merupakan sumber karbon yang paling banyak digunakan
dalam media pertumbuhan mikroorganisme. Fruktosa dan manosa adalah jenis
gula lain yang sering digunakan dan ditemukan di media dari sumber-sumber di
alam. Sukrosa juga dapat digunakan pada beberapa media. Sumber nitrogen
meliputi pepton, ekstrak yeast, ekstrak malt, asam amino dan senyawa amonium
nitrat (Hadioetomo, 1993). Jenis-jenis medium berdasarkan sifat fisiknya
menurut McKane & Kandel (1996), yaitu :
1. Medium padat, mengandung agar sebanyak 15% sehingga memiliki tekstur
yang ketika dingin menjadi padat. Medium padat umumnya digunakan
untuk mengamati morfologi koloni atau untuk isolasi biakan murni,
menumbuhkan bakteri, yeast, jamur, dan terkadang digunakan untuk
menumbuhkan mikroalga terutama dalam peremajaan dan pemeliharaan
kultur murni dalam bentuk agar miring. Contohnya Nutrient Agar dan
Potato Dextrose Agar.
2. Medium semi padat, mengandung agar 0,3-0,4% sehingga memiliki tekstur
yang sedikit kenyal, tidak padat dan tidak cair. Medium ini dibuat untuk
menumbuhkan mikroba agar dapat menyebar keseluruh medium, tetapi
tidak mengalami percampuran. Umumnya digunakan untuk pertumbuhan
mikroba yang memerlukan kandungan air yang tinggi dan hidup anaerobik
atau fakultatif. Contohnya medium Nitrogen Free Bromthymol Blue (NFB).
3. Medium cair, tidak mengandung agar sama sekali. Medium ini biasanya
digunakan untuk pembiakan mikroba dalam jumlah yang besar, penelaahan
fermentasi, dan berbagai macam uji. Selain itu, medium cair digunakan
untuk menumbuhkan mikroalga, bakteri, dan yeast. Contohnya medium
Nutrient Broth.
Sedangkan berdasarkan komposisinya, medium pertumbuhan dibagi
menjadi tiga, yaitu :
1. Medium sintetis, memiliki kandungan senyawa organik dan anorganik yang
diketahui kandungan pembentuknya, medium ini digunakan untuk
mempelajari sifat dan genetika mikroba. Contohnya adalah Contohnya
adalah media untuk pertumbuhan Clostridium, Saboroud Agar dan
Czapek’s Dox Agar (Lay, 1994).
2. Medium semi sintetis, terdiri atas bahan-bahan alami dan bahan-bahan
sintetis, medium ini memiliki kandungan pembentuk yang hanya diketahui
sebagian, dan sebagian lagi tidak diketahui. Contohnya adalah Potato
Dextrose Agar (Suriawiria, 2005).
3. Medium nonsintetis (alami), terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari
alam, sehingga bersifat alami dan umumnya atidak diketahui secara
spesifik kandungan pembentukannya. Bahan makanan merupakan medium
alami karena mikroba dapat tumbuh pada bahan makanan dan tidak
diketahui seberapa kadar C, H, O, N, dan lain-lain. Tersusun atas
bahan-bahan alami seperti kentang, tepung, daging, telur, ikan, umbi
(paling banyak dipergunakan, yaitu dalam bentuk kultur jaringan tanaman
ataupun hewan). Contohnya adalah telur untuk pertumbuhan virus dan air
kaldu (Lay, 1994).
Menurut Suriawiria (2005), medium berdasarkan fungsinya dapat
dibedakan menjadi lima, yaitu :
1. Medium Umum
Merupakan medium yang dapat ditumbuhi oleh semua jenis
mikroorganisme secara umum. Contohnya adalah NA (Nutrient Agar)
untuk bakteri, dan PDA (Potato Dextrose Agar) untuk jamur.
2. Medium Diperkaya
Merupakan medium yang mengandung nutrient tertentu sehingga dapat
mempercepat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Contohnya adalah
medium tetrationat untuk memisahkan Salmonella typhi dari feses manusia,
Serum Agar, Bile Agar, dan Blood Tellutie Agar.
3. Medium Selektif
Medium yang hanya ditumbuhi oleh jenis mikroorganisme tertentu.
Biasanya digunakan untuk mengisolasi jenis mikroorganisme tertentu.
Contohnya adalah medium Salmonella Shigella Agar (SSA) yang hanya
bisa ditumbuhi oleh Salmonella dan Shigella, atau media WB yang hanya
dapat ditumbuhi oleh Wismuth dan Blair.
4. Medium Diferensial
Hampir sama dengan medium selektif, namun medium jenis ini dapat
ditumbuhi dengan beberapa mikroorganisme. Tetapi salah satu dari
mikroorganisme tersebut dapat memberikan ciri khas penentuan
sifat-sifatnya yang membedakan dengan yang lain sehingga dapat
diidentifikasikan. Contohnya adalah EMBA (Eosin Methylen Blue Agar)
yang dapat memberi ciri khas pada E. coli yang tumbuh yaitu berwarna
hijau mengkilap. Selain itu, contoh lainnya adalah medium Triple Sugar
Iron Agar (TSIA).
5. Medium Penguji
Merupakan medium yang dipergunakan untuk pengujian senyawa atau
benda tertentu dengan bantuan mikroorganisme. Selain tersusun oleh
senyawa dasar untuk kepentingan pertumbuhan mikroorganisme,
ditambahkan juga sejumlah senyawa yang akan diuji. Contohnya adalah
media penguji vitamin, asam amino, antibiotik, residu pestisida atau
detergen.
6. Medium Enumerasi
Merupakan medium yang digunakan untuk menghitung jumlah
mikroorganisme yang terdapat pada suatu bahan. Medium enumerasi dapat
berbentuk medium umum, selektif, penguji ataupun medium diferensial.
Sedangkan menurut Schegel (1993), berdasarkan bentuknya medium dibagi
menjadi tiga, yaitu :
1. Medium tegak, fungsinya untuk uji biokimiawi atau motilitas volumenya
6-8 mL.
2. Medium miring, fungsinya untuk stok isolat volumenya 3-5 mL.
3. Medium cawan, fungsinya untuk kultivasi juga isolasi, volumenya 8-10
mL.
Menurut Pelczar (1986), supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu
media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat, antara lain :
1. Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba.
2. Harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang
sesuai dengan kebutuhan mikroba yang akan ditumbuhkan.
3. Tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.
4. Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang
di tumbuhkan dapat tumbuh dengan baik.
Nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme untuk pertumbuhan
meliputi karbon, nitrogen, unsur non logam seperti sulfur dan fosfor, unsur
logam seperti Ca, Zn, Na, K, Cu, Mn, Mg, dan Fe, vitamin, air, dan energi.
PDA (Potato Dextrose Agar) adalah medium yang umum untuk pertumbuhan
jamur di laboratorium karena memiliki pH yang rendah (pH 4,5 sampai 5,6)
sehingga menghambat pertumbuhan bakteri yang membutuhkan lingkungan
yang netral dengan pH 7,0, dan suhu optimum untuk pertumbuhan antara
25-30oC (Cappuccino & Sherman, 2014)
Menurut Kusnadi (2003), bahan-bahan media pertumbuhan mikroba
meliputi :
a. Bahan dasar
1. Air (H2O) sebagai pelarut.
2. Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit
didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada
suhu 45oC.
3. Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah
polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya
adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya
dibanding agar.
4. Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya
juga sebagai pemadat media. Silika gel khusus digunakan untuk
memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.
b. Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme
sel yaitu berupa unsur makro seperti Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen
(O), Nitrogen (N), Phospor (P), dan unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur
pelikan/trace element. Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh
berupa senyawa organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya.
Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari
karbohidrat, lemak, protein, dan asam organik. Sumber nitrogen mencakup
asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain. Sejumlah mikroba
dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea.
c. Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan
tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan
untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik hasil
metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan
mikroba non-target/kontaminan.
Medium yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah PDA (Potato
Dextrose Agar) dan YMM (Yeast Malt Medium). PDA (Potato Dextrose Agar)
merupakan media komplek dan media diferensiasi untuk pertumbuhan jamur
dan yeast sehingga sering digunakan sebagai uji untuk menentukan jumlah
jamur dan yeast dengan menumbuhkan mikroba pada permukaan sehingga akan
membentuk koloni yang dapat diikat dan dihitung. Selain itu, PDA juga
digunakan untuk pertumbuhan, isolasi, dan enumerasi dari kapang serta khamir
pada bahan makanan dan bahan lainnya (Fardiaz, 1993).
Medium ini dapat digunakan untuk kultivasi berbagai jenis jamur biasa
digunakan juga untuk melakukan Total Plate Count metode untuk makanan dan
produk susu. Medium ini tersusun atas ekstrak kentang, dextrose, akuades, dan
agar. Bahan pembuatan PDA yaitu kentang 200 gram berfungsi sebagai sumber
karbon (karbohidrat), vitamin dan energi; dextrose 20 gram berfungsi sebagai
sumber gula dan energi, agar 15 gram berfungsi sebagai pemadat dan akuades
sebagai pelarut (Volk & Wheeler, 1993). PDA merupakan salah satu media
kultur yang paling umum digunakan karena formulasinya yang sederhana dan
merupakan media terbaik karena kemampuanya dalam mendukung
pertumbuhan pada berbagai jamur (Saha et al., 2008). Kandungan dextrose dan
karbohidrat yang cukup tinggi pada media PDA (20 gram) sangat berperan
penting dalam proses metabolisme jamur (Taurisia et al., 2015).
YMM (Yeast Malt Medium) merupakan medium untuk kultivasi dari jamur,
termasuk yeast dan mikroorganisme dari aciduric, seperti spesies Actinoplanes,
spesies Streptomyces, spesies Streptoverticillium dan spesies Nocardia.
Komposisi dari YMM adalah agar sebanyak 20 gram, glukosa sebanyak 10
gram, pepton sebanyak 5 gram, ekstrak yeast sebanyak 3 gram dan ekstrak malt
sebanyak 3 gram (Listiandini, 2011).
Pembuatan YMM diawali dengan melarutkan yeast extract 3 gram, malt
extract 3 gram, agar 15 gram, pepton 5 gram, glukosa 10 gram, dengan akuades
hingga volume akhir mencapai 1 liter. Medium kemudian dipanaskan dengan
penangas air hingga mendidih. Selanjutnya medium disterilkan menggunakan
autoklaf selama 15 menit dengan suhu 121°C dan tekanan 2 atm. Medium yang
telah steril disimpan pada suhu ruang hingga mengeras. Meat extract
mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta, dan daging sapi.
Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap dan vitamin B kompleks.
Jenis karbohidrat yang digunakan pada praktikum ini adalah glukosa.
Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas
dari karbohidrat (Fardiaz, 1993).
Selain glukosa, media tumbuh harus mengandung protein untuk
pembentukan spora, hifa apikal dan organe. Cabang hifa tersebut akan menjauhi
hifa induk agar nutrien di lingkungan dapat terjangkau sejauh mungkin.
Pembentukan miselium terjadi karena anastomosis pada titik temu pada cabang
– cabang hifa. Anastomosis ini memperluas hifa menjadi suatu jaringan (jala)
yang disebut dengan miselium, menjadikan penyerapan nutrien dari subtrat
lebih efektif (Garraway & Evans, 1984).
Media alternatif memiliki nutrisi yang lebih kompleks sehingga
pertumbuhan jamur belum seoptimal media PDA. Kandungan kompleks dalam
media menyebabkan jamur uji membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menguraikan menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh
sel yang digunakan untuk sintesis sel dan energi. media pertumbuhan yang
mengandung karbohidrat, jamur akan mengekskresikan enzim α-amilase untuk
mengubah amilum menjadi glukosa, senyawa glukosa tersebut kemudian diserap
oleh jamur. Nutrien-nutrien tersebut baru dapat dimanfaatkan sesudah jamur
mengekskresikan enzim-enzim ekstraseluler yang dapat mengurai senyawa
kompleks dari substrat menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana
(Jiwintarum et al., 2017).
Sterilisasi adalah proses atau kerja untuk membebaskan suatu bahan seperti
medium pertumbuhan mikroba atau peralatan laboratorium dari semua bentuk
kehidupan. Proses sterilisasi dapat dibedakan menurut teknik pengerjaannya,
yaitu sterilisasi dengan penyaringan, khususnya untuk bahan cair yang bersifat
termolabil, seperti ekstrak enzim, serum, toksin bakteri, dan medium
pertumbuhan, sterilisas dengan pemanasan melalui teknik pemijaran, udara
panas, uap air panas maupun uap air panas bertekanan, sterilisasi dengan
senyawa kimia, seperti etilen oksida, maupun beta propiolacton dan sterilisasi
melalui medium UV (Bhima, 2010).
Sebuah studi menunjukkan, bahwa serbuk multilayer ZrO2 dan membran
keramik anorthite memiliki kinerja yang baik dalam penyaringan cairan dan
efisiensi dalam mencegah lewatnya mikroorganisme selama filtrasi sterilisasi.
Prosedur fisik untuk menghancurkan semua kehidupan mikroba. Filtrasi
membran dapat menjadi metode alternatif yang baik untuk sterilisasi media dari
bakteri dan pelestarian kualitas zat termolabil. Filtrasi ini merupakan cara
terbaik untuk mensterilkan larutan dengan cepat tanpa pemanasan (Medjemem
et al., 2015).
Menurut Suriawiria (2005), sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa :
1. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek
yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak
akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Alatnya
berupa oven yang digunakan dengan temperatur 170oC– 180oC dan waktu
yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas.
2. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin).
3. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat
pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya
adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain
adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal
ini adalah mikroba).
Sterilisasi secara fisik menurut Fardiaz (1993), yaitu :
1. Pemanasan basah
Pemanasan basah terdiri dari perebusan, pemanasan dengan tekanan,
tindalisasi, dan pasteurisasi. Pemanasan dengan tekanan dapat dilakukan
dengan menggunakan autoklaf yaitu untuk membunuh spora bakteri yang
paling tahan panas, yang akan mati pada suhu 121oC selama 15 menit.
2. Pemanasan kering
Pemanasan kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan
dengan pemanasan basah. Hal tersebut dikarenakan dapat menyebabkan
dehidrasi sel, sedangkan pemanasan basah dapat menyebabkan denaturasi
protein.
3. Radiasi
Sinar ultraviolet yang dipancarkan secara langsung pada sel vegetatif
mikroba dapat menyebabkan kematian pada sel tersebut, akan tetapi
sporanya lebih tahan. Radiasi ultraviolet menyebabkan kesalahan dalam
replikasi DNA dan mempunyai aktivitas mutagenik pada sel yang masih
hidup.
4. Penyaringan
Penyaringan yang biasa dilakukan untuk bakteri tidak dapat menahan atau
menyaring virus/mikoplasma.
Terdapat empat hal utama yang harus diperhatikan apabila melakukan
sterilisasi panas lembab menurut Hadioetomo (1993), yaitu :
1. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan
betul-betul dari ruang sterilisator.
2. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkena uap. Oleh karena
itu, tabung dan labu kosong harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara
tidak terperangkap di dasarnya.
3. Bahan-bahan yang berpori atau yang berbentuk cair harus permeabel
terhadap uap.
4. Suhu sebagaimana yang terukur oleh termometer harus mencapai 121ºC
dan di pertahankan suhunya selama 15 menit.
Sterilisasi dilakukan menggunakan autoklaf dengan tekanan uap air hingga
suhu mencapai 121oC dan tekanan 1 atm selama ± 15 menit. Hal ini bertujuan
agar dapat meminimalisasi tumbuhnya mikroba pencemar. Untuk
menumbuhkan kultur dalam suatu media. Pembakaran merupakan salah satu
cara yang dapat digunakan untuk sterilisasi peralatan dan media namun
pembakaran yang terlalu lama dapat merusak media maupun peralatan yang
digunakan. Keadaan yang tidak steril dapat menyebabkan terjadinya
kontaminan karena tumbuhnya mikroorganisme pencemar. Waktu yang
diperlukan untuk sterilisasi tergantung dari besarnya wadah dan kecepatan
perambatan panas dari makanan tersebut. Setelah sterilisasi selesai, harus segera
didinginkan untuk mencegah pertumbuhan kembali mikroorganisme. Sterilisasi
harus dapat membunuh mikroba yang paling tahan panas yaitu spora bakteri.
(Frazier & Westhoff, 1994).
Pemilihan cara sterilisasi, menurut Adji et al. (2007), harus
mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut :
1. Stabilitas, meliputi sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, struktur bahan
obat tidak boleh mengalami perubahan setelah proses sterilisasi.
2. Efektivitas, merupakan cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan hasil
maksimal dengan proses yang sederhana, cepat dan biaya murah.
3. Waktu, meliputi lamanya penyeterilan ditentukan oleh bentuk zat, jenis zat,
sifat zat dan kecepatan tercapainya suhu penyeterilan yang merata.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Cara pembuatan medium biakan dapat dilakukan sesuai dengan jenis media
umumnya yaitu dengan mencampurkan nutrisi seperti sumber N, sumber C
dan dan campuran nutrisi lainnya serta agar sebagai pemadat.
2. Sterilisasi alat atau bahan dapat dilakukan secara fisik, mekanik, maupun
kimiawi.

B. Saran
Sebaiknya, pembuatan medium tidak dilakukan dengan demo saja, tetapi
praktikan ikut terlibat dalam proses pembuatannya agar pemahaman praktikan
tentang pembuatan media bertambah.
DAFTAR REFERENSI

Adji, D., Zuliyanti & Herny L, 2007. Perbandingan Efektivitas Sterilisasi Alkohol
70%, Inframerah, Otoklaf dan Ozon terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus
subtilis. J. Sain VeL, 25(1), pp.17-24.
Bhima, 2010. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah.
Cappuccino, J.G. & Sherman N., 2014. Manual Laboratorium Biologi. Jakarta:
EGC.
Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Frazier, W.C. & Westhoff, D.C., 1994. Food Microbiology 4th Edition. Singapore:
McGraw Hill Book Company.
Garraway, M.O. & Evans, R.C., 1984. Fungal Nutrition and Physiology. New
York:J ohn Wiley and Sons.
Hadioetomo, R., 1993. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi.
Jakarta: Gramedia.
Haryati, T. E., Heppy, F. & Ahmadi, K., 2015. Pendugaan Umur Simpan
Menggunakan Metode Accelerated Shelf-Life Testing (Aslt) dengan Pendekatan
Arrhenius pada Produk Tape Ketan Hitam Khas Mojokerto Hasil Sterilisasi.
Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(1), pp.156-165.
Jiwintarum, Y., Urip, Wijaya, A.F. & Diarti, M.W., 2017. Media Alami Untuk
Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Penyebab Kandidiasis Dari Tepung Biji
Kluwih (Artocarpus communis). Jurnal Kesehatan Prima, 11(2), pp.158-170.
Kusnadi, 2003. Mikrobiologi. Malang: JICA,
Lay, B.W., 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Lim, B.W. & Hastowo, 1998. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Graffindo
Persada.
Listiandiani, K., 2011. Identifikasi Kapang Endofit Es1, Es2, Es3, dan Es4 dari
Broussonetia Papyrifera Vent. dan Pengujian Aktivitas Antimikroba. Skripsi
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam: Universitas Indonesia.
McKane, L. & Kandel, J., 1996. Microbiology, Essential, and Application. New
York: McGraw Hill Company.
Medjemem, N., Harabi, A., Bouzerara, F., Foughali, L., Boudaira, B., Guechi, A. &
Brihi, N., 2015. Elaboration and characterization of lowcost ceramics
microfiltration membranes applied to the sterilization of plant tissue culture
media. Journal of the Taiwan Institute of Chemical Engineers, 59, pp.79-85.
Padmaja, G., Devi, G.U., Mahalakshmi, B.K. & Sridevi, D., 2015. Evaluation of
Culture Media for Mycelial and Sporangial Production of Phytophtora
Colocasiae. International Journal of Applied Biology and Pharmaceutical
Technology, 6(1), pp.144-147.
Pelczar, M., 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Pradhika, 2008. Validation of Pharmaceutical Processes (electronic version). USA:
Informa Healthcare Inc.
Pratiwi, S.T., 2008. Mikrobiologi Farmasi. Bandung: Erlangga.
Saha, A., Mandal, P., Dasgupta, S. & Saha, D., 2008. Influence of Culture Media
and Environmental Factors on Mycelia Growth and Sporulation of
Lasiopdiploda theobromae (Pat.) Griffon and Maubl. Journal of Enviromental
Biology, 29(3), pp.407- 410.
Schegel, G.H., 1993. General Microbiologi 7th Edition. Cambridge: Cambridge
University Press.
Suriawiria, U., 2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
Taurisia, P.P., Proborini, M.W. & Nuhantoro, I., 2015. Pengaruh Media Terhadap
Pertumbuhan Dan Biomassa Cendawan Alternaria alternata (Fries) Keissler .
Jurnal Biologi, 19(1), pp.30-33.
Volk, W.A. & Wheeler, M.F., 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.