Anda di halaman 1dari 20

PENGENALAN JAMUR MAKROSKOPIS, MIKROSKOPIS,

DAN JEJAK SPORA

==

Nama : Maria Pricilia Gita Permana Putri


NIM : B1A015068
Kelompok :1
Rombongan :I
Asisten : Iis Imroatun Sholihah

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fungi (jamur) merupakan organisme tidak berklorofil yang mempunyai


empat sifat yaitu, heterotrof, saprofit, mutualistik, dan parasit (Suparti et al.,
2016). Beberapa fungi khusus bersel tunggal, namun sebagian besar memiliki
tubuh multiseluler yang kompleks, yang banyak kasus mencakup struktur-
struktur yang kita kenal. Kebanyakan ahli Mikologi mengakui lima filum fungi,
yaitu Kitrid, Zygomycetes (1.000 spesies), Glomeromycetes (160 spesies),
Ascomycetes (65.000 spesies), dan Basidiomycetes (30.000 spesies).
Basidiomycetes meliputi anggota dari cendawan, puffball, dan shel fungi
(Campbell et al., 2008).
Jamur tidak mempunyai batang, daun, dan akar serta tidak mempunyai
sistem pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Jamur umumnya
berbentuk seperti benang, bersel banyak, dan semua dari jamur mempunyai
potensi untuk tumbuh, karena tidak mempunyai klorofil yang berarti tidak dapat
memasak makanannya sendiri. Sehingga, jamur memanfaatkan sisa-sisa bahan
organik dari makhluk hidup yang telah mati atau disebut dengan organisme
saprofit maupun yang masih hidup atau yang disebut dengan organisme parasit
(Pracaya, 2007).
Jamur pada dasarnya bersifat heterotrof. Sifat ini yang membuat jamur
dapat menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miselium untuk
memperoleh makanannya dan kemudian menyimpannya dalam bentuk
glikogen. Semua zat seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia
lainnya diperoleh dari lingkungannya (Deacon, 1997).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum pengenalan jamur makroskopis, mikroskopis, dan jejak


spora adalah :
1. Mengetahui berbagai macam jamur makroskopis dan mikroskopis agar
mendapat gambaran keduanya.
2. Mengetahui jejak spora dan dan cara pembuatannya.
II. TELAAH PUSTAKA

Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti
tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki
tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan. Setiap jamur
tercakup di dalam salah satu dari kategori taksonomi, dibedakan atas dasar tipe
spora, morfologi hifa, dan siklus seksualnya. Kelompok-kelompok tersebut ialah
Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes.
Terkecuali untuk Deuteromycetes, semua jamur menghasilkan spora seksual yang
spesifik (Kane, 1996).
Jamur secara morfologi dibagi menjadi dua jenis, yaitu jamur makroskopis dan
jamur mikroskopis. Jamur makroskopis adalah sekelompok jamur yang mempunyai
tubuh buah berukuran besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat
dipetik oleh tangan, berada diatas tanah (epigean) atau didalam tanah (hypogean),
tidak selalu berdaging, tidak selalu dapat dimakan (edible), dan tidak hanya
termasuk ke dalam Basidiomycetes tetapi ada juga yang Ascomycetes (Gunawan,
2005). Sedangkana jamur mikroskopis merupakan jamur yang tidak dapat dilihat
oleh mata telanjang sehingga membutuhkan bantuan mikroskop (Hendritomo,
2010).
Habitat jamur makroskopis secara umum terdapat di darat dan di tempat yang
lembab. Tubuhnya terdiri atas bagian yang tegak yang berfungsi sebagai penyangga
dan tudung. Tudung berbentuk mendatar atau membulat. Morfologi jamur bervariasi
didasarkan pada bentuk tudungnya. Jamur makroskopis digolongkan menjadi 4
kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu jamur yang dapat dikonsumsi (edible
mushroom), jamur yang berkhasiat obat (medicinal mushroom), jamur beracun
(poisonous mushroom ) serta jamur yang belum diketahui khasiatnya (miscellaneous
mushroom). Contoh jamur yang termasuk edible mushroom seperti Hypsizygus
ulmarius (jamur tiram putih). Contoh dari jamur yang berkhasiat sebagai obat seperti
Ganoderma lucidum (jamur Ling-zhi) (Chang & Miles, 1989).
Hifa merupakan suatu struktur berbentuk tabung menyerupai seuntai benang
panjang, ada yang tidak bersekat dan ada yang bersekat dan merupakan bagian
penting tubuh jamur. Hifa dapat tumbuh bercabang-cabang sehingga membentuk
jaring-jaring, bentuk ini dinamakan miselium. Koloni jamur dapat terdiri dari hifa
yang menjalar dan hifa yang menegak. Biasanya hifa yang menegak ini
menghasilkan alat-alat pembiak yang disebut spora, sedangkan hifa yang menjalar
berfungsi untuk menyerap nutrien dari substrat dan menyangga alat-alat reproduksi.
Hifa yang menjalar disebut hifa vegetatif dan hifa yang tegak disebut hifa fertil.
Pertumbuhan hifa berlangsung terus-menerus di bagian apikal, sehingga panjangnya
tidak dapat ditentukan secara pasti. Diameter hifa umumnya berkisar 3-30 μm. Jenis
jamur yang berbeda memiliki diameter hifa yang berbeda pula dan ukuran diameter
itu dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan (Carlile & Watkinson, 1994).
Jamur berkembang biak dengan spora dan umumnya secara seksual ataupun
aseksual. Semula jamur dianggap sebagai tumbuhan. Klasifikasi yang memasuki
fungi kedalam dunia karena beralasan karena keasaman dalam hidupnya, habitat
hidupnya pada umumnya di tanah. Fungi yang mengahasilkan tubuh buah seperti
lumut (Subandi, 2010).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, cawan
petri, nampan, kamera, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kertas karbon
hitam, Pleurotus ostreatus, Trametes versicolor, Ganoderma lucidum,
Auricularia auricula, Hypsizygus tesselatus, Fusarium sp., Puccinia graminis,
Pyricularia sp., Aspergillus sp., dan Phytophtora infestans.

B. Metode

1. Pengamatan Jamur Makroskopis

Jamur makroskopis Bagian-bagiannya diamati Jamur difoto, lalu digambar


secara langsung dan diberi keterangan

2. Pengamatan Jamur Mikroskopis

Jamur mikroskopis Diamati dibawah Jamur difoto, lalu


mikroskop digambar dan diberi
keterangan

3. Pembuatan Jejak Spora

Dibungkus dan
diinkubasi 1x24
jam, lalu diamati
sporanya
Cawan petri disiapkan, Jamur Pleurotus ostreatus
lalu dialasi bagian diletakkan di dalam cawan
dalamnya menggunakan petri dengan posisi dorsal
kertas karbon menghadap ke atas
B. Pembahasan

Praktikum kali ini menggunakan 10 jenis jamur, 5 jamur makroskopis dan


5 jamur mikroskopis. Jamur makroskopis yang digunakan antara lain Pleurotus
ostreatus, Trametes versicolor, Ganoderma lucidum, Auricularia auricula, dan
Hypsizygus tesselatus. Sedangkan jamur mikroskopis yang digunakan antara
lain Fusarium sp., Puccinia graminis, Pyricularia sp., Aspergillus sp., dan
Phytophtora infestans. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) memiliki tudung
dengan diameter 4-15 cm atau lebih, bentuk seperti tiram, cembung kemudian
menjadi rata atau kadang-kadang membentuk corong. Permukaannya licin, agak
berminyak ketika lembab, tetapi tidak lengket. Warnanya bervariasi dari putih
sampai abu-abu, cokelat, atau cokelat tua (kadang-kadang kekuningan pada
jamur dewasa) (Gunawan, 2005).
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) memiliki tepi menggulung ke
dalam, pada jamur muda seringkali bergelombang atau bercuping. Daging
jamur tiram tebal, berwarna putih, kokoh, tetapi lunak pada bagian yang
berdekatan dengan tangkai. Jamur tiram memiliki bau dan rasa tidak
merangsang. Jamur tiram memiliki bilah cukup berdekatan, lebar, warna putih
atau keabuan dan sering kali berubah menjadi kekuningan ketika dewasa.
Tangkai jamur tiram tidak ada atau jika ada biasanya pendek, kokoh, dan tidak
di pusat atau lateral (tetapi kadang-kadang di pusat), panjang 0.5-4.0 cm, gemuk
padat, kuat, kering, umumnya berambut atau berbulu kapas paling sedikit di
dasar. Jejak spora putih sampai ungu muda atau abu-abu keunguan, berukuran
7-9 X 3-4 mikron, bentuk lonjong sampai jorong, licin, nonamiloid (Gunawan,
2005).
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan kedua
yang paling banyak dibudidayakan di dunia setelah Agaricus bisporus. Jamur
ini memiliki nilai ekonomis dan ekologi serta dapat dijadikan sebagai obat. P.
ostreatus memiliki waktu tumbuh paling pendek jika dibandingkan dengan
jamur lain. Jamur tiram atau oystermushroom mempunyai bentuk tudung agak
membulat, lonjong, dan melengkung seperti cangkang tiram. Jamur tiram putih
merupakan salah satu jenis jamur kayu dari famili Agaricaceae yang relatif
mudah dibudidayakan karena daya adaptasinya yang cukup baik terhadap
lingkungan. Budidaya jamur tiram merupakan alternatif terbaik untuk produksi
jamur dibandingkan dengan jamur lain. Jamur tiram mengandung protein,
karbohidrat, mineral (kalsium, fosfor, dan besi), dan vitamin (thiamin,
riboflavin, dan niasin) dalam jumlah yang tinggi. P. Ostreatus mengandung
protein sebesar 27%, lemak 1,6%, karbohidrat 58%, serat 11,5%, abu 9,3% dan
kalori 265 kkal (A’yunin et al., 2016).
Pleurotus sp. mengandung β-(1,3)- dan β-(1,6)-glucan yang memiliki peran
penting karena sifatnya yang dapat dijadikan sebagai obat. Jamur tiram juga
memiliki aktifitas hipoglisemik, antitrombotik, antitumor, antiinflamasi, dan
antimikroba, mampu mengatur sistem imun, menurunkan tekanan darah dan
kolesterol. Tubuh buah dan miselium jamur mengandung senyawa dengan
tingkat aktivitas antimikroba yang tinggi. Jamur tiram kaya akan sumber
antibiotik alami, dimana glucan dinding sel diketahui memiliki sifat pengatur
imun, dan banyak metabolit sekunder yang mampu melawan bakteri, fungi
(jamur), dan virus, oleh sebab itu, jamur tiram putih memiliki peran penting
dalam memenuhi kebutuhan gizi dan obat bagi masyarakat (A’yunin et al.,
2016).
Klasifikasi P. ostreatus menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Fillum : Basidiomycota
Kelas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Tricholomataceae
Genus : Pleurotus
Spesies : Pleurotus ostreatus
Trametes versicolor atau jamur ‘ekor kalkun’ ini merupakan salah satu
jenis jamur makroskopis yang dari filum Basidiomycota. Menurut Gandjar et al.
(2006), tubuh buah jamur Trametes versicolor mirip dengan Ganoderma sp.
namun lebih kecil dan kusam. Morfologi dari jamur ini yaitu tidak memiliki
tangkai, langsung melekat pada kayu, teksturnya menyerupai kulit, badan jamur
terlihat zonasi pertumbuhan jamur. Tubuh buah pilleusnya berada pada posisi
sessile, permukaan badan buah bergaris-garis dengan tekstur keras yang
menyerupai kulit, pada badan buah terlihat zonasi pertumbuhan jamur,
pemukaan bawah badan buah berbentuk seperti kipas, tubuh buah berwarna
coklat atau hitam pada tepi dalam dan tepi luar dengan garis putih, tidak
memiliki tangkai buah stipe smoth melekat pada substrat dan tipe akar semu
rhizoid. Jamu ini tumbuh berkoloni di pada batang kayu lapuk (Tambaru et al.,
2016).
T. versicolor adalah white rot fungi yang mampu mendegradasi dan / atau
mineralisasi berbagai polutan yang tahan terhadap mikroorganisme lain, seperti
pewarna, polychlorobiphenyls (PCB), hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH),
pestisida, pentachlorophenols dan endokrin. T. versicolor mengobati mengobati
vinasse, untuk aplikasi industri perlu mengevaluasi kinerja degradasi vinasse
bioreaktor. Borras et al., dalam Espana-Gamboa, et al. (2017), mengembangkan
suatu proses secara terus menerus untuk menurunkan Gris Lanaset G (pewarna
tekstil nyata) dan penelitiannya telah berpengalaman dalam mendegradasi jenis
lain dari polutan, seperti endokrin, obat-obatan, air limbah perkotaan dan air
limbah rumah sakit menggunakan T. versicolor dalam bentuk pelet di tempat
tidur bioreaktor fluidized (Espana-Gamboa, et al., 2017).
Klasifikasinya menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Hymenomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Agaricaceae
Genus : Trametes
Spesies : Trametes versicolor
Ganoderma lucidum banyak digunakan untuk beberapa keuntungan
pharmacological, termasuk immuno-modulating, antiinflammatory, antikanker,
antidiabetes, anti oksidatif dan radical-scavenging, serta anti aging. Potensi
dari G. lucidum dikarenakan kandungan kimianya, triterpena dan
polysaccharida membentuk tubuh tubuh buah, miselium dan spora. Kandungan
kimia tersebut merupakan senyawa anti kanker yang sudah banyak
didemonstrasikan di berbagai sel kanker manusia dan tikus. Bentuknya seperti
sinduk atau alat untuk mengambil sayur. Jenis jamur ini memiliki tangkai yang
menancap ke dalam media atau substrat dengan ukuran panjang antara 3-10 cm.
Selain itu, di ujung tangkai terdapat tubuh buah berbentuk seperti setengah
lingkaran yang melebar dengan garis tengah antara 10-20 cm. Tubuh buah
mula-mula berwarna kekuning-kuningan saat masih muda, yaitu pada umur 1-2
bulan, kemudian berubah menjadi merah atau cokelat tua. Tubuh buah inilah
yang kemudian dipanen untuk dijadikan bahan baku pembuat obat-obatan,
termasuk jamur (Hendritomo, 2010).
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Agargeomycetes
Ordo : Polyporales
Famili : Ganodermataceae
Genus : Ganoderma
Spesies : Ganoderma lucidum
Auricularia auricula (jamur kuping hitam), memiliki tubuh buah kenyal
atau seperti gelatin jika dalam keadaan segar dan menjadi keras seperti tulang
jika kering, berbentuk mangkuk atau kadang-kadang seperti kuping yang
berasal dari titik pusat perlekatan, tipis bergading, dan kenyal. Permukaan luar
steril, sering kali berurat, berbulu sangat kecil atau berambut, cokelat muda
sampai cokelat, menjadi kehitaman jika mengering. Permukaan dalam fertil,
licin sampai agak berkerut, bergelatin jika basah, berwarna kuning cokelat,
cokelat keabu-abuan, cokelat, ungu, dan menjadi hitam jika kering. Spora putih;
spora berada di permukaan dan biasanya pada permukaan bagian bawah,
berukuran 12-8 x 4-8 mikron, berbentuk sosis, licin. Basidium mempunyai
sekat melintang sebanyak tiga buah (Hendritomo, 2010).
Jamur ini lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan harus direndam
dalam air sebelum dimasak. Jamur yang telah dimasak mempunyai tekstur
garing dan tidak mempunyai rasa. Jamur kuping hitam juga sering digunakan
sebagai bahan obat tradisional karena diketahui mempunyai sifat antikoagulan
(Hendritomo, 2010).
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Agarimycetes
Ordo : Auriculariales
Famili : Auriculariaceae
Genus : Auricularia
Spesies : Auricularia auricula
Jamur buni Shimeji atau Hypsizygus tesselatus memiliki miselia berwarna
putih dengan bentuk bulu kecil, tidak ada hifa udara yang tebal, tidak ada cairan
kuning eksudasi, dan tidak ada mantel. Miselia putih selama pembiakannya
dapat menghasilkan arthrospora dan klamidospora. Hypsizygus tesselatus
memiliki resistensi yang relatif lebih kuat terhadap lingkungan yang buruk.
Jamur ini merupakan jamur busuk kayu tipe suhu rendah. Kisaran suhu untuk
pertumbuhan miseliumnya yaitu 9-30°C dan suhu optimumnya 22-24°C.
Kelembaban substrat harus disesuaikan hingga sekitar 65%. Substrat kultur
secara bertahap akan kering untuk periode yang panjang spawn-running,
sehingga memerlukan tambahan air untuk membuat kelembaban mencapai 70-
75% sebelum berbuah, dan ketika tubuh buah berkembang, nilainya harus 90-
95%.Tidak ada cahaya yang diperlukan untuk pertumbuhan miselia, namun
tubuh buah memiliki fototropisme ketika tumbuh. Nilai pH optimum selama
pertumbuhan miseliumnya adalah 6,5-7,5. Periode pembiakan membutuhkan
30-45 hari, 30-60 hari diperlukan untuk pematangan miselia dengan
kemampuan berbuah, 7-12 hari diperlukan untuk diferensiasi, dan 5-7 hari
untuk perkembangan tubuh buah (Gandjar et al., 2006).
Beberapa manfaat dari jamur ini adalah untuk mengobati penyakit asma
dan tumor. Jamur Shimeji mampu memperlambat dan menghancurkan sel
tumor yang tumbuh di tubuh, sekaligus mencegah kanker, karena memiliki
kandungan yang disebut β-glukan yang berfungsi memodifikasi dan
memberikan respon biologis kepada tubuh untuk mengaktifkan sistem imunitas.
Selain itu, β-glukan juga bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah,
sehingga dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner (Hendritomo,
2010).
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Tricholomataceae
Genus : Hypsizygus
Spesies : Hypsizygus tesselatus
Cendawan Fusarium sp. merupakan salah satu patogen penting pada
tanaman tomat. Keberadaan cendawan Fusarium sp. pada tanaman tomat bisa
menyebabkan tanaman tomat mengalami kerusakan dan kerugian secara
ekonomi yang besar (Soekarno et al., 2012). Gejala pertama dari penyakit
Fusarium sp. adalah tulang daun memucat terutama daun-daun sebelah atas,
kadang-kadang daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dengan tangkai
merunduk dan akhirnya layu keseluruhan, jika tanaman dipotong dekat pangkal
batang akan terlihat suatu cincin cokelat dari berkas pembuluh (Susanna &
Pratama, 2010). Pengelolaan dari penyakit yang disebabkan oleh Fusarium sp.
yaitu dengan melakukan penanaman varietas yang tahan terhadap serangan
Fusarium sp., pemakaian fungisida, mencegah infeksi tanah, pelakuan tanah
dan mengendalikan populasi nematoda (Sastrahidayat, 1990). Sebuah hasil uji
patogenisitas menunjukkan bahwa Fusarium oxysporum yang diisolasi secara
umum pada 2008 dan 2009 di ladang kacang Dakota Utara, isolat spesies ini
tidak efektif menyebabkan akar busuk yang signifikan. Namun, isolat ini
berpotensi hadir sebagai bagian dari busuk akar yang kompleks, dan berfungsi
sebagai penyumbang keparahan penyakit (Chittem et al., 2015).
Salah satu pengendalian penyakit layu bakteri yang aman bagi lingkungan
adalah dengan penggunaan mikroba antagonis. Beberapa mikroba antagonis
yang telah banyak diteliti adalah Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens
dan Trichoderma harzianum (Hersanti et al., 2009). Menurut Semangun (1996),
cendawan Fusarium akan membentuk konidium pada suatu badan yang disebut
sporodokium yang dibentuk pada permukaan tangkai atau daun sakit pada
tangkai yang sudah tua. Konidiofor bercabang dan rata-rata mempunyai panjang
70 µm, cabang-cabang samping biasanya bersel satu, panjang sampai 14 µm,
konidium terbentuk pada ujung cabang utama dan samping. Mikronidium bersel
satu atau dua, hialin jorong atau agak memanjang dengan ukuran 5 -7 x 2,5-3
µm. Makrokonidium berbentuk sabit, bertangkai kecil, kebanyakan bersel 4,
berukuran 22- 36 x 4,5 µm. Klamidospora bersel satu, jorong atau bulat
berukuran 7-13 x 7-8 µm terbentuk di tengah hifa atau pada makrokonidium,
seringkali berpasangan. Konidia biasanya mempunyai 3-5 septa dan sel apikal
yang tipis serta dasarnya yang berbentuk kaki. Klamidosporanya dapat
terbentuk tunggal dan berpasangan (Ploetz, 1994).
Klasifikasi Fusarium sp. menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Deuteromycota
Kelas : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Tuberculariaceae
Genus : Fusarium
Spesies : Fusarium sp.
Puccinia graminis merupakan patogen yang menyebabkan penyakit karat
batang terutama pada tumbuhan serellia.P. graminis adalah fungi dari filum
Basidiomycota. Fungi ini dicirikan dengan warna seperti karat logam pada daun
dan batang tumbuhan. Puccinia graminis merupakan penyebab penyakit karat
daun pada tanaman serealia. Gejalanya ditunjukkan dengan adanya bercak
kuning kemerahan. Bercak-bercak berwarna kuning dilingkari warna merah di
sebelah bawah permukaan daun yang sakit. Puccinia graminis mempunyai
beberapa fase dalam pertumbuhannya yaitu fase (0) atau picnia, dimana spora
masih jauh dari permukaan daun, fase (I) atau aecia, spora sudah dekat
permukaan daun tapi masih tertutup, fase (II) atau uredia yaitu spora sudah
terbuka tapi belum keluar dan fase (III) atau telia, dimana spora sudah terbuka
dan sudah keluar. Picnia berbentuk botol atau cakram, badan buah ini sebagai
pembawa alat kelamin jamur yaitu spermatium (alat kelamin jantan) dan hifa
(alat kelamin betina). Aecia berbentuk seperti mangkuk atau cawan yang
menembus dinding epidermis daun. Uredia merupakan badan buah yang sel-
selnya membentuk urediospora di bawah epidermis yang kemudian mendesak
epidermis hingga rusak. Telia adalah sekelompok sel berinti dua yang
membentuk teliospora (Semangun, 1996).
Klasifikasi P. graminis menurut Alexopoulos et al., (1996) adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Pucciniomycetes
Ordo : Pucciniales
Famili : Pucciniaceae
Genus : Puccinia
Spesies : Puccinia graminis
Pyricularia sp. memiliki konidia berbentuk bulat, lonjong, tembus cahaya,
dan bersekat dua (3 ruangan). Pyricularia spp. termasuk spesies yang bersifat
patogen pada berbagai tanaman monokotil (Campbell et al., 2008). Misalnya,
Pyricularia grisea adalah salah satu spesies dari genus Pyricularia yang
merupakan patogen penyebab penyakit blas padi dan merupakan penyakit yang
paling penting dari beras dan menyebabkan kerugian parah di sebagian besar
wilayah tanam padi. Jamur ini menghasilkan bintik-bintik atau lesi pada daun,
nodus, malai, dan pada ujung daun. Lesi pada daun berbentuk memanjang dan
meruncing. Bagian tengahnya biasanya berwarna abu-abu dengan tepi coklat
atau coklat kemerahan. Blas pada padi merupakan salah satu kendala utama
intensifikasi untuk meningkatkan produksi beras (Gad et al., 2013).
Jamur Pyricularia sp. merupakan penyebab penyakit bercak daun pada
daun jagung. Gejala dapat ditunjukkan dari bercak coklat tua mengering.
Bercak daun mempunyai tepi yang jelas, bergelang, berwarna coklat muda
kekuningan, agak basah, lalu mengering menjadi berwarna coklat keputihan dan
berbintik hitam. Serangan parah penyakit ini menyebabkan kerobohan tanaman
(Semangun, 2001).
Klasifikasi menurut Alexopoulus et al. (1996), adalah :
Kingdom : Fungi
Filum : Amastigomycota
Kelas : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Moniliaceae
Genus : Pyricularia
Spesies : Pyricularia sp.
Aspergillus sp. merupakan jamur mikroskopis yang masuk ke dalam divisi
Ascomycotina di mana memiliki ciri-ciri yaitu terdiri dari satu lapisan konidifor
yang panjang-panjang yang berbaur dengan miselia serial, kepala konidia
berbentuk bulat, berwarna hijau pucat agak kekuningan dan bila tua menjadi
cokelat redup. Konidiofor umumnya berdinding kasar, vesikula berbentuk semi
bulat dan berdiameter 40-80 mm, berwarna hijau dan berdinding halus (Gandjar
et al., 2006).
Jamur ini tumbuh secara cepat, menghasilkan hifa aerial dengan panjang
ciri struktur konidia yang khas, konidiofora panjang dengan vesikel terminal
yang fialidnya menghasilkan rantai konidia yang bertumbuh secara basipetal.
Kondisi iklim tropis sangat sesuai dengan pertumbuhan kapang khususnya
Aspergillus flavus atau Aspergillus parasiticus yaitu dua jenis kapang yang
memproduksi berbagai jenis aflatoksin. Aflatoksin dapat mengakibatkan
kerusakan hati, organ tubuh yang sangat penting dan juga berperan dalam
detotsikasi aflatoksin itu sendiri. Apabila aflatoksin dikonsumsi dalam jumlah
yang kecil tetapi terus menerus maka dapat menyebabkan kanker hati.
Kemampuan aflatoksin untuk menginduksi kanker hati diduga karena aflatoksin
dapat terikat oleh makro molekul dari jaringan hati. Enzim yang berperan dalam
perusakan aflatoksin dalam hati adalah enzim dari jenis oksidoreduktase.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, berbagai jenis kapang dapat
menimbulkan penyakit atau gangguan bagi kesehatan manusia dan hewan
ternak. Penyakit yang disebabkan oleh kapang dapat dibedakan atas infeksi dan
mikosis, alergi dan mikotoksikosis atau intoksikasi (Syarief et al., 2003).
Klasifikasi Aspergillus sp. menurut Alexopoulos et al., (1996) adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Ascomycetes
Ordo : Eurotiales
Famili : Trichocomaceae
Genus : Aspergillus
Spesies : Aspergillus sp.
Phytophthora infestans memiliki karakter, seperti konidiofor yang keluar
dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai
bengkakan yang khas. Konidium berbentuk buah pir, 22-32 x 16-24 µm, berinti
banyak 7-32. Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk
hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora
kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium.
Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang. Cendawan
Phytophthora infestans menyebar melalui udara dan air (Semangun, 1996).
Jamur ini merupakan patogen tanaman terkenal yang menyebabkan
penyakit pada tanaman kentang, pertumbuhan Phytophthora infestans
Didukung adanya musim panceklik (Goss et al., 2014). Menurut Semangun
(1996), busuk daun kentang (late blight) yang sering juga disebut sebagai
”hawar daun” adalah penyakit yang terpenting pada tanaman kentang. Ciri yang
khas untuk mengenal sebagian besar Phycomycetes ialah miselliumnya yang
tidak bersekat–sekat. Warna misellium putih, jika tua mungkin agak coklat
kekuning–kuningan; kebanyakan sporangium berwarna kehitam–hitaman.
Hifanya berkembang sempurna. Phytopthora memiliki sporangium yang
berbentuk bulat telur. Phytophthora infestans memproduksi spora aseksual yang
disebut sporangia. Patogen ini umumnya berkembang biak secara aseksual
dengan zoospora, tetapi dapat juga berkembang biak secara seksual dengan
oospora. Jamur ini bersifat heterolik, artinya perkembangbiakannya secara
seksual atau pembentukan oosporanya hanya terjadi apabila ada perkawinan
silang antara dua isolat P. infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda
(Padri et al., 2015).
Klasifikasi Phytopthora infestans menurut Alexopoulos et al., (1996)
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycetes
Kelas : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytopthora
Spesies : Phytopthora infestans
Ahli Mikologi dapat menggunakan spora atau lebih tepatnya jejak spora
yang dapat membantunya untuk mengidentifikasi ribuan spesies jamur yang
memiliki tudung. Jejak spora merupakan kumpulan spora dalam jumlah besar.
Pembuatan jejak spora dapat dilakukan dengan meletakkan tubuh jamur dengan
himenium menghadap ke bawah yang dialasi kertas atau kaca. Lapisan spora
akan terkumpul setelah beberapa jam. Warna spora terbagi ke dalam 4 atau 5
tipe umum yaitu, putih, merah muda, kuning tanah dan ungu kehitaman, namun
kelompok terakhir dapat dibedakan lagi menjadi ungu dan hitam. Warna spora
kadang-kadang dapat dilihat secara visual dengan melihat lamela pada jamur
dewasa. Jejak spora umumnya menggunakan jamur dewasa supaya dapat
memproduksi spora, sedangkan apabila jamur yang digunakan masih muda
maka belum meproduksi spora (Syamsuri, 2007).
Ada dua tipe basidium yang dikenal, yaitu tipe holobasidium dan tipe
fragmobasidium. Holobasidium adalah basidium bersel satu yang membesar,
berbentuk semi bulat dengan bagian atas agak lebar, dapat berbentuk seperti
gada atau garpu. Fragmobasidium adalah basidium yang mempunyai septaa
transversal, umumnya dengan sterigmata yang panjang. Jumlah sterigmata
dapat dua, dapat juga empat Pembentukan basidiospora disebut
basidiosporogenesis. Umumnya bentuk basidium pada pada tipe holobasidium
seperti gada dan terbentuk pada ujung hifa yang dikariotik, sedangkan pada
heterobasidium dihasilkan teliospora yang terminal atau interkalar. Suatu
septum pada holobasidium memisahkan sel basidium terminal tersebut dari sel
hifa yang lain. Sel terminal ini yang semula sempit dan panjang kemudian
melebar atau membesar. Selama proses pelebaran berlangsung kedua nukleus
mengalami kariogenesis. Nukleus zigot yang terbentuk mengalami
meiosisdengan menghasilkan empat anak nukleus. Sementara itu pada ujung
basidium muncul empat tonjolan yang kemudian memanjang yang disebut
sterigmata. Vakuola yang terdapat pada bagian bawah basidium membesar dan
seakan-akan mendorong masing-masing anak nukleus untuk masuk ke dalam
sterigmata. Basidium yang sempurna mempunyai 4 basidiospora (Gandjar et al.,
2006).
Menurut Alexopoulos et al. (1996), jamur tersusun atas tubuh buah atau
yang disebut askokarp. Ada empat macam tipe askokarp, yaitu :
1. Apotesium
Askokarp seperti cawan atau mangkok yang terbuka, kadang hanya satu
tubuh buah atau membentuk koloni. Askus-askus dibentuk di atas (apo)
dasar tubuh buah. Tipe ini banyak di temukan pada fungi Ascomycetes.
Contohnya adalah pada Morachella sp., Helvella sp. dan Gyromitrasp.
2. Peritesium
Tipe ini juga disebut pirenokarp. Askokarp seperti periuk, boto, latau
berbentuk seperti termos berleher sempit atau laboratorium beaker, dengan
mulut termos (atau bagian atas ketel) yang membuka ke arah udara dan
menonjol sedikit dari ascocarp. Baris kamar-kamar permukaan sehingga
askokarp permukaan tubuh menonjol, masing-masing dengan lubang
(mengarah ke kamar) di tengah. Lubang ini dikenal sebagai ostiole, yang
merupakan tempat keluarnya spora. Dinding tubuh buah seolah-olah di tepi
(perifer) askus-askus. Tipe ini memiliki pori-pori kecil dan spora
dilepaskan satu demi satu ketika masak (berbeda dengan apothecia yang
dilepaskan bersama-sama). Tipe ini ditemukan misalnya pada Xylaria sp.
dan Nectria sp.
3. Kleistotesium
Askokarp seperti bola, askus-askus tertutup (kleistos) oleh dinding tubuh
buah. dalam hal ini ascocarp bulat dengan hymenium tertutup, sehingga
spora tidak secara otomatis terbentuk, dan jamur dengan cleistothecia harus
cara lain untuk untuk menyebarkan spora mereka. Cleistothecia banyak
ditemukan di jamur yang memiliki ruang kecil yang tersedia untuk
ascocarps mereka, seperti pada Arthroderma sp. dan Tuber melanosporum.
4. Tidak mempunyai Askokarp (Askostroma)
Tipe ini banyak ditemukan pada jamur-jamur mikroskopis. Tidak ada
bentuk nyata dari adanya akskokarp, namun tetap dapat melakukan
repsroduksi. Contohnya pada Aspergillus sp. dan Neorospora crassa.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Beberapa jamur makroskopis antara lain Pleurotus ostreatus, Trametes
versicolor, Ganoderma lucidum, Auricularia auricula, dan Hypsizygus
tesselatus. Sedangkan jamur mikroskopisnya yaitu Fusarium sp., Puccinia
graminis, Pyricularia sp., Aspergillus sp., dan Phytophtora infestans.
2. Jejak spora adalah kumpulan spora dalam jumlah besar. Hal ini bisa
diperoleh dengan meletakkan tudung dengan himenium menghadap ke
bawah pada selembar kertas putih atau sepotong kaca, lalu diinkubasi
selama 1x24 jam untuk mendapatkan sporanya.

B. Saran
Sebaiknya, pembuatan jejak spora dilakukan oleh praktikan agar praktikan
lebih memahami cara pembuatannya. Selain itu, jamur makroskopis dan
mikroskopis yang digunakan lebih bervariasi lagi.
DAFTAR REFERENSI

A’yunin, A.Q., Nawfa, R., & Purnomo, A.S., 2016. Pengaruh Tongkol Jagung
sebagai Media Pertumbuhan Alternatif Jamur Tiram Putih(Pleurotus ostreatus)
terhadap Aktivitas Antimikroba. Jurnal SAINS DAN SENI ITS, 5(1), pp.57-60.
Alexopoulos, C.J., Mims, C.W. & Blackwell M., 1996. Introductory Mycology 4th
Edition. New York: John Willey and Sons Inc.
Campbell, N.A., Reece, J.B., Urry, L.S., Cain, M.L., Wasserman, S.A., Minorsky,
P.V. & Jackson, R.B., 2008. Biologi: Edisi Ke-8 Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Carlile, M.J. & Watkinson, C.S., 1994. The Fungi. USA: Academic Press Limited.
Chang, S.T. & Miles, P.H., 1989. Edible Mushroom and The Cultivation. Florida:
CRC Press Boca Ratoon.
Chittem, K., Mathew, F.M., Gregoire, M., Lamppa, R.S., Chang, Y.W., Markell,
S.G., Bradley, C.A., Barasubiye, T. & Goswami, R.S., 2015. Identification and
characterization of Fusarium spp. associated with root rots of field pea in North
Dakota. European Journal of Plant Pathology, 143(4), pp.641–649.
Deacon, T., 1997. The Symbolic Species. London: Penguin Press.
Espana-Gamboa, E, Vicent, T., Font, X., Dominguez-Maldonado, J., Canto-Canche,
B. & Alzate-Gaviria, L., 2017. Pretreatment of vinasse from the sugar refinery
industry under non-sterile conditions by Trametes versicolor in a fluidized bed
bioreactor and its effect when coupled to an UASB reactor. Journal Biological
Engineering, 11(6), pp.1-11.
Gad, M.A., Ibrahim, N.A. & Bora, T.C., 2013. Molecular Biodiversity in
Phytopathogenic Fungi, Pyricularia spp. J. Biol. Chem. Research, 30(1),
pp.216-226.
Gandjar, I., Wellyzar, S. & Ariyanti, O., 2006. Mikologi Dasar dan Terapan.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Jakarta.
Goss, E.M., Tabima, J.F., Cooke, D.E.L., William, S.R., Gregory, A.F.,Valerie, J.F.,
Martha, C. & Niklaus, J., 2014. The Irish Potato Famine Pathogen Phytophthora
Infestans Originated In Central Mexico Rather Than the Andes. PNAS, 111(24),
pp.8791 – 8796.

Gunawan, A.W. 2005., Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya.


Hendritomo, H.I., 2010. Biologi Jamur Pangan. Jakarta: Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Bio Industri.
Hersanti, R.T., Rupendi, A.P., Hanudin, B.M. & Gunawan, O.S., 2009. Penampisan
Fluorensens, Bacillus subtilis dan Trichorderma harzianum yang Bersifat
Antagonik terhadap Rolstonia solanacearum pada Tanaman Kentang. Jurnal
Agrikultural, 20(9), pp.98-203.
Kane, M. 1996. Pathology. USA: University of Florida.
Padri, M., Burhanudin & Ratna, H., 2015. Keberadaan Mikoriza Arbuskula pada
Jabon Putih di Lahan Gambut. Jurnal Hutan Lestari, 3(3), pp.401-410.
Ploetz, R.C., 1994. Banana: Campedium of Tropical Fruits Disease. Minnesota: The
American Phytopathology Society Press.
Pracaya, 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sastrahidayat, I.R., 1989. Penyakit-penyakit Tanaman Holtikultura di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semangun, H., 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Semangun, H., 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Soekarno, B.P.W., Surono & Marhaenis, E. 2012. Potensi Ekstrak Kangkung
sebagai Biofungisida untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Buah Fusarium
pada Tomat. Jurnal Fitopatologi Indonesia,8(5), pp.121-127.

Subandi, 2010. Mikrobiologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suparti, K.A.A. & Ernawati, D., 2016. Pengaruh Penambahan Leri dan Enceng
Gondok, Klaras, Serta Kardus Terhadap Produktivitas Jamur Merang
(Volvariella volvacea) pada Media Baglog. Bioeksperimen, 2(2), pp.130-139.

Susanna, T.C. & Pratama, A., 2010. Dosis dan Frekuensi Kascing untuk
Pengendalian Layu Fusarium pada Tanaman Tomat. Jurnal Floratek, 5, pp.152-
163.
Syamsuri, 2007. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Syarief, R., Ega, L. & Nurwitri, C., 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor: IPB
Press.
Tambaru, E., Abdullah, A. & Alam, N., 2016. Jenis-Jenis Jamur Basidiomycetes
Familia Polyporaceae di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin Bengo-
Bengo Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Jurnal Biologi Makassar, 1(1),
pp.31-38.