Anda di halaman 1dari 20

GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia


dengan Dosen Pengampu Fitrie Arianti, S.E., M.Si.

Disusun oleh :

1. Elfride H Simanjuntak 12030115120012


2. Yunike Nadya PS 12030115120050
3. Wibowati Sektiyani 12030115120061
4. Mia Maharta 12030115120062
5. Lidya Puji Dwi L 12030115120093
6. Sutimah 12030115130189
7. Rima Ramadhani 12030115130217
8. Daisy Meirisa Tarigan 12030115140101

PROGRAM SARJANA
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara


secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu
perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Pertumbuhan
ekonomi sering disama artikan dengan pembangunan ekonomi, tetapi pada dasar nya dua hal
itu berbeda pengertiannya. Dengan ada nya pertumbuhan ekonomi maka akan ada
pembangunan ekonomi dimana dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri akan memuncul kan
pembangunan pembangunan ekonomi. Banyak faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan
ekonomi Indonesia,baik faktor pendorong maupun faktor penghambat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah arti penting Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi?
2. Apakah Perbedaan dari Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi?
3. Apakah faktor pendukung dan penghambat pertumbuhan ekonomi?
4. Bagaimana sejarah perkembangan ekonomi Indonesia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui arti penting Pertumbuhan ekonomi dan Pembangunan ekonomi
2. Untuk mengetahui perbedaan Prtumbuhan ekonomi dan Pembangunan ekonomi
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat Pertumbuhan ekonomi
4. Untuk mengetahui perkembangan ekonomi di Indonesia
BAB II

Pembahasan

A. Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) adalah perkembangan kegiatan dalam


perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat
bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat
dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Perkembangan
kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi
pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang sama
besarnya.

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses
perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan
yang lebih baik selama periode tertentu.

B. Perbedaan dan Persamaan Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas


produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Sedangkan pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikkan pendapatan total dan
pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai
dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan
pendapatan bagi penduduk suatu negara.

Pembangunan ekonomi tidak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan


ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya pertumbuhan ekonomi
memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Perbedaan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi yaitu :

No PERTUMBUHAN EKONOMI PEMBANGUNAN EKONOMI


1 Merupakan proses naiknya produk per Merupakan proses perubahan yang terus
kapita dalam jangka panjang. menerus menuju perbaikan termasuk usaha
meningkatkan produk per kapita.
2 Tidak memperhatikan pemerataan Memperhatikan pemerataan pendapatan
pendapatan. termasuk pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya.
3 Tidak memperhatikan pertambahan Memperhatikan pertambahan penduduk.
penduduk.
4 Belum tentu dapat meningkatkan taraf Memperhatikan pertambahan penduduk.
hidup masyarakat.
5 Pertumbuhan ekonomi belum tentu Pembangunan ekonomi selalu dibarengi
disertai dengan pembangunan ekonomi. dengan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi memiliki persamaan yaitu :

1. Kedua-duanya merupakan kecenderungan di bidang ekonomi.


2. Pokok permasalahan akhir adalah besarnya pendapatan per kapita.
3. Kedua-duanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan memerlukan
dukungan rakyat.
4. Kedua-duanya berdampak pada kesejahteraan rakyat.

C. Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah:

1.Faktor Sumber Daya Manusia

Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh
SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat
lambatnya proses pembangunan tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya
selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses
pembangunan.
2. Faktor Sumber Daya Alam

Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan
proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam saja tidak menjamin
keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber
daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang
dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan
dan kekayaan laut.

3. Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong adanya
percepatan proses pembangunan, pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan
manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas
dan kuantitas serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya
berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.

4. Faktor Budaya

Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi yang


dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong proses
pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang dapat
mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan
sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap
anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.

5. Sumber Daya Modal

Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan meningkatkan kualitas
IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan
dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat
meningkatkan produktivitas.

Faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah :

1. Korupsi

Korupsi akan mempersulit pembangunan karena akan membuat kekacauan dan


ketidakefisienan dalam pembelanjaan.
2. Laju inflasi

Inflasi akan berdampak pada menurunnya indeks kepercayaan konsumen karena masyarakat
cenderung mengurangi belanja karena berhati-hati terhadap resiko kenaikkan harga tinggi.

3. Tingkat suku bunga

Tingkat suku bungan akan mempengaruhi investasi.

5. Situasi keamanan yang tidak kondusif

Ada beberapa pandangan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang kokoh dibutuhkan
stabilitas politik dan keamanan. Investor yang pada saat ini dianggap sebagai salah satu yang
berperan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak akan mau menanamkan modalnya
(investasi jangka pendek maupun jangka panjang) jika keamanan tidak stabil.

D. Faktor Eksternal Pertumbuhan Ekonomi


1. Perkembangan teknologi
Teknologi merupakan alat yang digunakan manusia untuk mengolah sumber daya
alam yang dimilikinya secara produktif, efektif, dan efisien. Tanpa perkembangan
teknologi, pembangunan ekonomi akan terhambat karena proses produksi dalam
menghasilkan barang dan jasa menjadi boros. Oleh karena itu, faktor ini juga
termasuk faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi suatu negara.
2. Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian negara memegang peranan penting bagi pertumbuhan laju
ekonomi suatu negara. Dengan kondisi perekonomian yang baik , maka akan terjadi
pertumbuhan kegiatan-kegiatan ekonomi baru dan baik di negara tersebut.
3. Kondisi politik
Keadaan politik termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi pembangunan
ekonomi di suatu negara. Bila kondisi politik suatu negara tidak stabil dengan adanya
bongkar pasang peraturan, maka akan semakin sulit masuknya modal ke negara
tersebut. Dengan sulitnya modal masuk, maka kegiatan produksi tidak akan
berkembang dengan baik.
4. Keamanan global
Keamanan global dalam hal ini bukan semata-mata mengenai pendekatan militeristik
melainkan sekaligus keamanan mengenai kemiskinan, pengangguran, kesenjangan
sosial, ketidakadilan sosial, pelanggaran HAM dan kekurangan gizi
E. Sejarah Ekonomi Indonesia

1. Masa Orde Lama (1945-1966)


Perekonomian kurang menggembirakan karena pemerintah belum berkesempatan
melaksanakan pembangunan bidang ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang
menjadi tujuan bangsa dan Negara, masih sibuk dengan masalah politik. Akibat politik
kabinet jatuh bangun, pemberontakan terjadi karena kurang berhasil dalam konsolidasi
ideologi nasional. Masa ini dibagi menjadi 3 periode :
a. Periode 1945-1950 (periode revolusi)
b. Periode 1950-1959 (periode parlementer atau demokrasi liberal)
c. Periode 1959-1965 (periode ekonomi terpimpin)

Gejolak situasi politik


Mengingat kebijakan-kebijakan makroekonomi tak luput dari keputusan-keputusan politik,
maka relevan mengawali bahasan keadaan ekonomi pada masa sebelum orde baru dengan
merujuk sepintas gejolak-gejolak politik yang berlangsung selama masa itu. Secara politis,
kurun waktu sejak kemerdekaan hingga tahun 1965 dapat diplih menjadi tiga periode yaitu:
1. Periode 1945-1950
2. Periode demokrasi parlementer (1950-1959) juga dikenal sebagai periode demokrasi
liberal dan berakhir tanggal 5 juli 1959
3. Periode demokrasi terpimpin yang dikenal dengan periode orde lama. Sepanjang kurun
1945-1965 keadaan politik sangat labil.
a. Kabinet Hatta (Desember 1949-September 1950)
Kabinet ini merupakan masa menyatukan rakyat Indonesia ke dalam Rakyat Indonesia
Serikat dan memberikan perhatian kepada bidang ekonomi. Kabinet Hatta melakukan
devaluasi mata uang (Gulden Indonesia) digunting nilainya menjadi setengah nilai
sebelumnya, kerugiannya diganti dengan obligasi jangka panjang pemerintah.
b. Kabinet Natsir (September 1950-Maret 1951)
Kabinet ini berhasil menciptakan neraca pembayaran internasional yang surplus,
Indonesia baru tiga kali mengalami surplus :
(1) Kabinet Natsir, dengan meningkatnya harga karet
(2) Perang Teluk, dengan meningkatnya harga minyak
(3) Masa pemerintahan Gusdur, karena sulitnya membuka LC untuk mengimpor yang
disebabkan oleh hilangnya kepercayaan bank-bank internasional kepada
perbankan Indonesia

Program yang dijalankan:


 Eksport diperkuat
 Kebijakan fiskal yang ketat
c. Kabinet Sukiman (April 1951-Feb1952)
Kabinet ini Menasionalisasi De Javasche Bank menjadi BI, namun mengalami defisit
APBN karena ekspor menurun dan dihapuskannya sistem kurs berganda.
d. Kabinet wilopo (April 1952-Juni 1953)

Program yang dijalankan:


 Memperkenalkan sistem anggaran APBN yang berimbang
 Memperketat prosedur impor
 Rasionalisasi anggaran belanja Negara
 Melaksanakan RUP kabinet Natsir
 Melaksanakan program banteng yang mencabut lisensi impor dari tangan importir
pribumi
 Deskriminatif raisal di bidang ekonomi
e. Kabinet Ali Sastroamidjojo I (Agustus 1953-Juli 1955)
Kabinet ini mengalami deficit APBN dan neraca perdagangan luar negeri. Namun cabinet
ini berhasil meningkatkan jumlah importer pribumi dari 700 perusahaan menjadi 4300
perusahaan, namun mengalami kegoncangan politik karena kegagalan fiskalnya dan
miningkatnya inflasi.
f. Kabinet Burhanuddin Harahab (Agustus 1955-Maret 1956)
Kabinet ini meliberalisasi impor dengan keharusan pembayaran di muka dan berhasil
mengendalikan uang yang beredar dan inflasi, kurs rupiah naik 8% terhadap harga emas dan
membatalkan secara sepihak hasil Konferensi Meja Bundar yang menguntungkan Belanda.
g. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (April 1956-Maret 1957)
Kabinet pertama hasil pemilihan umum Indonesia (1955), nyaris tidak dapat berbuat apa-
apa dalam bidang perekonomian karena disibukan oleh usaha memadamkan pemberontakan.
Program Benteng diberhentikan oleh Bung Karno tahun 1957
Program yang dijalankan:
 Pemilu pertama
 57 program benteng dihentikan Soekarno
 Konsep RLT mulai di perkenalkan oleh Dr. juanda kartawijaya
h. Kabinet Juanda (Maret 1957-Agustus1958)
Diangkat langsung oleh Bung Karno dan dinamakan cabinet kerja. Ekspor impor
dikendalikan secara ketat dengan diterbitkannya Sertifikat Pendorong Ekspor (SPE) yang
disederhanakan menjadi Bukti Ekspor (BE)
Program yang dijalankan:
 Eksport ditingkatkan
 Nasionalisasi perusahaan asing
 Perang merebut Irian Barat
 Presiden sekaligus sebagai perdana mentri (sosialisme ala indonesia)
Produksi dan Pendapatan
Selama satu setengah dasawarsa (1951-1966), pereonomian Indonesia tumbuh relatif
lamban. Sebagai mana yang telah diamati persentasi ekonomi per kapita hanya tumbuh
setingkat 2,7% rata-rata pertahun. Pertumbuhan tertinggi persentase ekonomi per kapita
terjadi pada tahun 1953, yakni sebesar 22,1% yang tak lain adalah rezeki Perang Korea.
Perang tersebut telah membuat perekonomian Indonesia meningkat pesat.
Angkatan kerja, pekerjaan, dan upah
Menurut sensus, pada tahun 1961 terdapat hampir 64 juta jiwa penduduk berusia 10 tahun
atau lebih. Tetapi yang tergolong sebagi angkatan kerja hanya 34,7 juta jiwa. Selebihnya
(sekitar 29,5 juta jiwa) tidak digolongkan sebagai angkata kerja. Mereka ini adalah para
pelajar dan mahasiswa, pekerja atau pelaksana kegiatan produktif dirumah sendiri dan orang-
orang lain yng tidak diketahui aktivitas ekonominya.
Neraca-neraca ekonomi nasional
Keprihatinan situasi perekonomian Indonesia selam era sebelum orde baru dapat pula
dilihat dari beberapa neraca ekonomi nasional, yakni neraca pendapatan dan belanja negaram
neraca perdagangan, dan neraca pembayaran luar negeri.

Pembangunan Ekonomi pada Masa Orde Lama

Pada masa orde lama, orientasi pembangunan ekonomi Indonesia adalah


pembangunan ekonomi yang berorientasi ke dalam, yang merupakan usaha stablisasi
ekonomi dengan memperkuat usaha-usaha dalam negeri. Pada masa ini, pembangunan
ekonomi Indonesia haruslah dilakukan oleh Indonesia sendiri. Semangat nasionalisme
Soekarno menjadi pemicu sikapnya yang tidak menginginkan pihak asing ikut campur dalam
pembangungan ekonomi Indonesia. Padahal saat itu di awal kemerdekaannya Indonesia
membutuhkan pondasi yang kuat dalam pilar ekonomi.

Sikap Soekarno yang anti bantuan asing pada akhirnya membawa konsekuensi
tersendiri yaitu terjadinya kekacauan ekonomi di Indonesia. Soekarno cenderung
mengabaikan permasalahan mengenai ekonomi negara, pengeluaran besar-besaran yang
terjadi bukan ditujukan terhadap pembangunan, melainkan untuk kebutuhan militer, proyek
mercusuar, dan dana-dana politik lainnya. Soekarno juga cenderung menutup Indonesia
terhadap dunia luar terutama negara-negara barat. Hal itu diperkeruh dengan terjadinya inflasi
hingga 600% per tahun pada 1966 yang pada akhirnya mengakibatkan kekacauan ekonomi
bagi Indonesia. Kepercayaan masyarakat pada era Orde Lama kemudian menurun karena
rakyat tidak mendapatkan kesejahteraan dalam bidang ekonomi.

Sejak tahun 1955, pembangunan ekonomi mulai merambah ke proyek-proyek besar. Hal ini
dikuatkan dengan keluarnya kebijakan Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun
(1961). Kebijakan ini berisi rencana pendirian proyek-proyek besar dan beberapa proyek
kecil untuk mendukung proyek besar tersebut. Rencana ini mencakup sektor-sektor penting
dan menggunakan perhitungan modern. Namun sayangnya Rencana Pembangunan Semesta
Delapan Tahun ini tidak berjalan atau dapat dikatakan gagal karena beberapa sebab seperti
adanya kekurangan devisa untuk menyuplai modal serta kurangnya tenaga ahli.

Perekonomian Indonesia pada masa ini mengalami penurunan atau memburuk. Terjadinya
pengeluaran besar-besaran yang bukan ditujukan untuk pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi melainkan berupa pengeluaran militer untuk biaya konfrontasi Irian Barat, Impor
beras, proyek mercusuar, dan dana bebas (dana revolusi) untuk membalas jasa teman-teman
dekat dari rezim yang berkuasa.

MASA ORDE BARU (1966-1998)


Dimulai sejak Maret 1966, Indonesia memasuki pemerintahan orde baru. Orde baru
hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang terjadi pada mada orde lama.
Upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru,
pemerintah menempuh cara sebagai berikut :
1) Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi

Keadaan ekonomi yang kacau sebagai peninggalan masa Demokrasi Terpimpin, pemerintah
menempuh cara :

Mengeluarkan Ketetapan MPRS No.XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaruan


Kebijakan ekonomi, keuangan dan pembangunan. MPRS mengeluarkan garis program
pembangunan, yakni program penyelamatan, program stabilitas dan rehabilitasi, serta
program pembangunan.

Program pemerintah diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional terutama


stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Stabilisasi berarti mengendalikan inflasi agar harga
barang-barang tidak melonjak terus. Sedangkan rehabilitasi adalah perbaikan secara fisik
sarana dan prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi
berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2) Kerja Sama Luar Negeri


Keadaan ekonomi Indonesia pasca Orde Lama sangat parah, hutangnya mencapai 2,3-
2,7 miliar sehingga pemerintah Indonesia meminta negara-negara kreditor untuk dapat
menunda pembayaran kembali utang Indonesia.
Pemerintah mengikuti perundingan dengan negara-negara kreditor di Tokyo Jepang
pada 19-20 September 1966 yang menanggapi baik usaha pemerintah Indonesia bahwa
devisa ekspornya akan digunakan untuk pembayaran utang yang selanjutnya akan dipakai
untuk mengimpor bahan-bahan baku. Perundingan dilanjutkan di Paris, Perancis dan dicapai
kesepakatan sebagai berikut.
Utang-utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya
hingga tahun 1972-1979. Utang-utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan
1970 dipertimbangkan untuk ditunda juga pembayarannya.
Perundingan dilanjutkan di Amsterdam, Belanda pada tanggal 23-24 Februari 1967.
Perundingan itu bertujuan membicarakan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta
kemungkinan pemberian bantuan dengan syarat lunak yang selanjutnya dikenal dengan IGGI
(Inter Governmental Group for Indonesia).
Melalui pertemuan itu pemerintah Indonesia berhasil mengusahakan bantuan luar
negeri. Indonesia mendapatkan penangguhan dan keringanan syarat-syarat pembayaran
utangnya.

3) Pembangunan Nasional
Pelaksanaan Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru berpedoman
pada Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur Pemerataan. Inti dari kedua pedoman tersebut
adalah kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang
stabil. Isi Trilogi Pembangunan adalah :

• Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial


bagi seluruh rakyat
• Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

• Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis

Pelaksanaannya pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu :

1) Jangka panjang mencakup periode 25 sampai 30 tahun

2) Jangka pendek mencakup periode 5 tahun (Pelita/Pembangunan Lima Tahun), merupakan


jabaran lebih rinci dari pembangunan jangka panjang sehingga tiap pelita akan selalu saling
berkaitan/berkesinambungan.

Dampak Kebijakan Ekonomi masa Orde Baru

Dampak Positif Kebijakan ekonomi Orde Baru :


 Pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena setiap program pembangunan pemerintah
terencana dengan baik dan hasilnyapun dapat terlihat secara konkrit.
 Indonesia mengubah status dari negara pengimpor beras terbesar menjadi bangsa yang
memenuhi kebutuhan beras sendiri (swasembada beras).
 Penurunan angka kemiskinan yang diikuti dengan perbaikan kesejahteraan rakyat.
 Penurunan angka kematian bayi dan angka partisipasi pendidikan dasar yang semakin
meningkat.

Dampak Negatif Kebijakan Ekonomi Orde Baru :


 Kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber daya alam
 Perbedaan ekonomi antardaerah, antargolongan pekerjaan, antarkelompok dalam
masyarakat terasa semakin tajam.
 Terciptalah kelompok yang terpinggirkan (Marginalisasi sosial)
 Menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang erat dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme)
 Pembagunan yang dilakukan hasilnya hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil
kalangan masyarakat, pembangunan cenderung terpusat dan tidak merata.
 Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi
kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang demokratis dan berkeadilan.
 Meskipun pertumbuhan ekonomi meningkat tapi secara fundamental pembangunan
ekonomi sangat rapuh.
 Pembagunan tidak merata tampak dengan adanya kemiskinan di sejumlah wilayah
yang justru menjadi penyumbang devisa terbesar seperti Riau, Kalimantan Timur, dan
Irian. Faktor inilahh yang selantunya ikut menjadi penyebab terpuruknya
perekonomian nasional Indonesia menjelang akhir tahun 1997.

ERA PEMBANGUNAN MASA ORDE BARU


Setelah berhasil memulihkan stabilitas pereknomian dalam waktu relatif singkat, dilancarkan
kebijakan pembangunan jangka panjang yang dimulai sejak 1 April 1969. Program
pembangunan jangka panjang ini dibagi-bagi menjadi tahapan-tahapan Rencana
Pembangunan Lima Tahun. Sampai dengan pelaksanaan enam tahapan Repelita ini,
pelaksanaan pembangunan senantiasa diarahkan pada pencapaian tiga sasaran pembangunan;
meskipun prioritasnya berubah-ubah sesuai dengan masalah dan situasi yang dihadapi.

Potret Kronologis per Pelita

 Pelita I (1969-1974) prioritasnya pada sektor pertanian serta industri yang mendukung
sektor pertanian.
 Dalam Pelita II (1974-1979) prioritasnya pada sektor pertanian menuju swasembada
pangan serta meningkatkan industri yang mengelola bahan mentah menjadi bahan
baku.
 Pelita III (1979-1984) prioritasnya pada sektor pertanian menuju swasembada pangan
dan industri yang mengelola bahan baku ke barang jadi.
 Pelita IV (1984-1989) prioritasnya sektor pertanian dengan industri yang bisa
menghasilkan mesin industri sendiri dan melanjutkan swasembada pangan.
 Pelita V (1989-1994) prioritasnya sektor industri terutama memenuhi kebutuhan
seimbang antara sektor industri dan sektor pertanian.
 Pelita VI (1994-1999) prioritasnya pencapaian keseimbangan dari seluruh
pembangunan sebagai landasan untuk pencapaian masyarakat adil dan makmur.
Adapun kelemahan pembangunan pada masa orde baru adalah sebagai berikut:

1. Mengandalkan utang luar negeri untuk membiayai pembangunan dan menutup defisit
anggaran.
2. Akumulasi bunga utang luar negeri yang terus berkembang dan memberatkan
pemerintah.
3. Banyak industri yang bahan dasarnya dari luar negeri sehingga tidak memiliki daya
jual tinggi karena terlalu mahal hingga mengakibatkan bangkrutnya industri tersebut.
4. Pembangunan yang kurang merata sehigga timbul kesenjangan antara daerah satu
dengan daerah yang lain.
5. Banyak muncul lembaga-lembaga keuangan yang kuat basis dananya dan merugikan
Bank Indonesia.
MASA PEMERINTAH TRANSISI
Lahirnya Pemerintahan Masa Transisi

Perekonomian Indonesia Pada Masa Transisi

Pada tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS
mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan ‘jual’
karena mereka para investor asing tidak percaya lagi terhadap prospek perekonomian negara
tersebut, paling tidak untuk jangka pendek. Pemerintan Thailand meminta bantuan IMF.
Pengumuman itu mendepresiasikan nilai baht sekitar 15% hingga 20% hingga mencapai nilai
terendah, yakni 28,20 baht per dolar AS.
Apa yang terjadi di Thailand akhirnya merebet ke Indonesia dan beberapa negara Asia
lainnya. Rupiah Indonesia mulai merendah sekitar pada bulan Juli 1997, dari Rp 2.500
menjadi Rp 2.950 per dolar AS. Nilai rupiah dalam dolar mulai tertekan terus dan pada
tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah, yakni Rp 2.682 per dolar AS
sebelum akhirnya ditutup Rp 2.655 per dolar AS. Pada tahun 1998, antara bulan Januaru-
Februari sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS dan pada bulan Maret nilai rupiah
mencapai Rp 10.550 untuk satu dolar AS.
Nilai tukar rupiah terus melemah, pemerintah Orde Baru mengambil beberapa
langkah konkret, antaranya menunda proyek-proyek senilai Rp 39 Triliun dalam upaya
mengimbangi keterbatasan anggaran belanja. Pada tanggal 8 Oktober 1997, pemerintah
Indonesia akhirnya menyatakan secara resmi akan meminta bantuan keuangan dari IMF.
Pada Oktober 1997, lembaga keuangan internasional itu mengumumkan paket
bantuan keuangan pada Indonesia yang mencapai 40 miliar dolar AS. Pemerintah juga
mengumumkan pencabutan izin usaha 16 bank swasta yang dinilai tidak sehat sehinnga hal
itu menjadi awal dari kehancuran perekonomian Indonesia.
Krisis rupiah yang akhirnya menjelma menjadi krisis ekonomi memunculkan suatu
krisis politik. Pada awalnya, pemerintahan yang dipimpin Presiden Soeharto akhirnya
digantikan oleh wakilnya, yakni B.J. Habibie. Walaupun, Soeharto sudah turun dari
jabatannya tetap saja tidak terjadi perubahan-perubahan nyata karena masih adanya
korupsi,kolusi dan nepotisme (KKN) sehingga pada masa Presiden Habibie masyarakat
menyebutnya pemerintahan transisi.
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki
karakteristik sebagai berikut:
 Kegoncangan terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp
2500 menjadi Rp 2650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak
stabil.
 Krisis rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisis ekonomi yang
kemudian memuncuilkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
 Pada awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi.
Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya,
sehingga kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi karena
KKN semakin menjadi, banyak kerusuhan.

Biaya Sosial Pada Masa Transisi


Biaya sosial yang didapat rakyat semakin besar jika masa transisi semakin lama. Pada
saat ini saja sudah dapat disaksikan betapa besarnya penderitaan rakyat akibat berbagai
kebijakan ekonomi yang dihasilkan di masa transisi. Keluarga yang mendaftarkan diri
sebagai keluarga miskin bertambah menjadi 10 juta keluarga. Setelah melalui verifikasi
pemerintah, hanya 2,5 juta keluarga yang berhak menerima bantuan langsung tunai (BLT).
Sebelumnya sudah ada 15 juta keluarga yang menerima BLT. Dengan demikian total
keluarga yang akan mendapat BLT adalah 17,5 juta. Jika yang 15 juta ditambahkan dengan
10 juta keluarga yang mengusulkan mendapat BLT maka akan ada 25 juta keluarga miskin di
Indonesia. Jika diasumsikan setiap keluarga terdiri dari 4 orang maka jumlah orang miskin
adalah sebesar 100 juta jiwa.
Sementara jumlah keluarga yang berada di atas kriteria keluarga miskin jumlahnya
juga tidak sedikit. Disamping itu kriteria keluarga miskin juga masih bisa diperdebatkan
mengingat selama ini pengertian miskin oleh pemerintah belum sesuai dengan realitas di
masyarakat. Keluarga miskin dicirikan dengan rumah kayu atau non tembok dan tidak
memiliki televisi. Padahal keluarga yang rumahnya tembok dan memiliki televisi banyak juga
yang tergolong miskin karena mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya dan sulit
memenuhi biaya kesehatan serta sulit memnuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Paradoks antara perkembangan demokrasi dan peningkatan jumlah penduduk
miskin adalah hasil dari semakin panjangnya masa transisi yang harus dilalui bangsa
Indonesia. Tidak pernah terpikirkan kapan bisa berakhir. Hal ini juga sangat
tergantung kepada pemerintah karena konsekuensi dari pemilihan periden langsung
adalah timbulnya hak presiden menjabarkan visi pemerintahannya. Jika pemerintah
terjebak kepada dinamika politik yang berkembang, maka bisa diramalkan transisi
akan lebih panjang. Ini mengakibatkan tumpulnya kepekaan terhadap kesulitan
ekonomi rakyat.
Memburuknya kinerja ekonomi, suburnya praktik korupsi, dan suasana politik
yang centang perenang selama 10 tahun reformasi memaksa rakyat kembali berpaling
pada Soeharto. Baik tidak baik, Soeharto lebih baik. Semiskin-miskinya era soeharto,
rakyat tidak pernah antre minyak tanah dan minyak goreng serta kesulitan membeli
tahu dan tempe.
Soeharto berhasil membangun pertanian dan manufaktur. Ia mampu
membalikan posisi Indonesia sebagai Importir beras terbesar di dunia menjadi
eksportir beras. Pembangunan sistematis terarah lewat pelita demi pelita berhasil
menurunkan angka kemiskinan, buta, kematian dan laju pertumbuhan penduduk.

Masa Reformasi (1998 - Sekarang)

a. Presiden B.J.Habibie

Pada tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS
mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan ‘jual’
karena mereka para investor asing tidak percaya lagi terhadap prospek perekonomian negara
tersebut, paling tidak untuk jangka pendek. Pemerintan Thailand meminta bantuan IMF.
Pengumuman itu mendepresiasikan nilai baht sekitar 15% hingga 20% hingga mencapai nilai
terendah, yakni 28,20 baht per dolar AS.
Apa yang terjadi di Thailand akhirnya merebet ke Indonesia dan beberapa negara Asia
lainnya. Rupiah Indonesia mulai merendah sekitar pada bulan Juli 1997, dari Rp 2.500
menjadi Rp 2.950 per dolar AS. Nilai rupiah dalam dolar mulai tertekan terus dan pada
tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah, yakni Rp 2.682 per dolar AS
sebelum akhirnya ditutup Rp 2.655 per dolar AS. Pada tahun 1998, antara bulan Januaru-
Februari sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS dan pada bulan Maret nilai rupiah
mencapai Rp 10.550 untuk satu dolar AS.

Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik
sebagai berikut:
• Kegoncangan terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp 2500
menjadi Rp 2650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak stabil.
• Krisis rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisis ekonomi yang kemudian
memuncuilkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
• Pada awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi.
Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sehingga
kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi karena KKN semakin
menjadi, banyak kerusuhan.

Yang dilakukan habibie untuk memperbaiki perekonomian indonesia :


1. Merekapitulasi perbankan dan menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus
mengurusi perekonomian.
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independent berdasarkan UU No. 30 Tahun
1999 Tentang Bank Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang
merupakan 3 (tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :

• Menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter


• Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
• Mengatur dan mengawasi Bank

2. Melikuidasi beberapa bank bermasalah.


Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban
atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya. Banyaknya utang perusahaan
swasta yang jatuh tempo dan tak mampu membayarnya dan pada akhirnya pemerintah
mengambil alih bank-bank yang bermasalah dengan tujuan menjaga kestabilan ekonomi
Indonesia yang pada masa itu masih rapuh.

3. Menaikan nilai tukar rupiah


Selama lima bulan pertama tahun 1998, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berfluktuasi.
Selama triwulan pertama, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai sekitar Rp9200,- dan
selanjutnya menurun menjadi sekitar Rp8000 dalam bulan April hingga pertengahan Mei.
Nilai tukar rupiah cenderung di atas Rp10.000,- sejak minggu ketiga bulan Mei.
Kecenderungan meningkatnya nilai tukar rupiah sejak bulan Mei 1998 terkait dengan kondisi
sosial politik yang bergejolak. nilai tukar rupiah menguat hingga Rp. 6500 per dollar AS di
akhir masa pemerintahnnya.

4. Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

b. Presiden Abdurahman wahid


Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia mulai
mengarah pada perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif, laju inflasi dan
tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam negeri juga sudah mulai
stabil.
Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik,
yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank
Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri)
dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.
Politik dan sosial yang tidak stabil semakin parah yang membuat investor asing menjadi
enggan untuk menanamkan modal di Indonesia.
Makin rumitnya persoalan ekonomi ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) yang cenderung negatif, bahkan merosot hingga 300 poin, dikarenakan
lebih banyaknya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham
di dalam negeri.
Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang
cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai
persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN
(Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi,
dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang
menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat.

c. Presiden Megawati Soekarnoputri


Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara
lain:
1. Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris
Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
2. Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam
periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan
politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena
BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
3. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi
belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi
membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan
mengganggu jalannya pembangunan nasional.

d. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono


Pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kebijakan yang dilakukan adalah
mengurangi subsidi Negara Indonesia atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM),
kebijakan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut di
berhentikan sampai pada tangan rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan
menyalurkan bantuan dana BOS kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia.
Akan tetapi pada pemerintahan SBY dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam
kasus bank century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan
biaya 93 miliar untuk menyelesaikan kasus bank century ini. Kondisi perekonomian pada
masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global
yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6 - 6,5
persen pada 2011. Dengan demikian, prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari
perkiraan semula. Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap
perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia
yang pada triwulan IV - 2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17
persen dan masih berlanjut pada Januari 2010. Salah satu penyebab utama kesuksesan
perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin
fiskal yang tinggi dan pengurangan utang negara. Masalah-masalah besar lain pun masih
tetap ada. Pertama, pertumbuhan makro ekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh
lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas
ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan
ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
BAB III

PENUTUP

Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah permasalahan setiap negara.


Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu faktor yang menentukan pembangunan ekonomi
baik dinegara maju maupun berkembang. Semakin baik pertumbuhan ekonomi suatu negara
maka semakin baik pula pembangunan ekonomi di negara tersebut. Adanya pertumbuhan
ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Terdapat banyak faktor
yang mendorong dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Diperlukan usaha untuk dapat
mengoptimalkan pengelolaan sumber-sumber daya di Indonesia untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia agar dapat melangsungkan kesejahteraan suatu masyarakat.