Anda di halaman 1dari 7

Sabtu, 07 September 2013

Tia (Transient Ischemic Attack)

MAKALAH

SISTEM NEUROBEHAVIOR
Tia (Transient Ischemic Attack)

Disusun Oleh Kelompok 5:

1. Diana Lia Puspita Sari (A6.12.11)


2. Diana Palupiningrum (A6.12.12)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS.BAPTIS KEDIRI
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2013/2014

BAB I
Tinjauan Teori

1.1 Definisi
TIA didefinisikan secara patofisiologis, sebagai kematian jaringan otak karena pasokan darah
yang tidak adekuat. Definisi klinis stroke iskemik ialah deficit neurologis fokal yang timbul akut
dan berlangsung lebih lama dari 24 jam dan tidak disebabkan oleh perdarahan.
TIA dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
- Faktor pembuluh darah
- Faktor susunan darah
- Faktor aliran darah (CBF)

1.2 Etiologi
Penyebab TIA sama dengan stroke penyumbatan, yaitu karena adanya penimbunan kolesterol di
dinding pembuluh darah otak atau adanya gumpalan darah dalam aliran darah ke otak dari bagian
tubuh lain, seringkali berasal dari jantung, yang antara lain dapat berupa:
1. Trombosis.: proses koagulasi dalam pembuluh darah yang berlebihan sehingga menghambat
aliran darah dalam sistem kardiovaskuler.
2. Embolisme : penyumbatan pembuluh darah yang terjadi di berbagai bagian tubuh oleh
embolus (zat asing) yang bergerak melalui aliran darah dan kemudian bersarang di dalamnya.
3. Perdarahan serebri : perdarahan otak

1.3 Tanda dan Gejala


Gejala Transient Ischemic Attack mirip dengan stroke biasa. Berikut adalah beberapa
gejalanya, tergantung bagian mana dari sistem peredaran darah dan otak yang terkena:
a. Masalah penglihatan di salah satu atau kedua mata, termasuk penglihatan ganda dan kebutaan
sementara.
b. Pusing, bingung, dan lemah.
c. Kesulitan berbicara, termasuk berbicara dengan intonasi kacau.
d. Tidak dapat berjalan (ataxia)
e. Kehilangan ingatan atau kesadaran secara tiba-tiba.
f. Kesulitan koordinasi tangan dan lengan.
g. Lemah atau lumpuh di satu sisi tubuh.

Tanda-tandanya:
a. Salah satu sisi tubuh terasa kebas (mati rasa) dan berat.
b. Kesulitan menggerakkan lengan, leher, wajah hanya pada satu sisi tubuh.
c. Pandangan kabur dan suram, atau segala sesuatu tampak dobel bahkan tak bisa melihat sama
sekali.
d. Susah bicara, huruf atau kata yang diucapkan berantakan.
e. Sulit mengerti suatu susunan huruf.
f. Merasa sulit berdiri tegak dan berjalan lurus, pusing, atau jadi ceroboh.

1.4 Fisiologis
Stroke sementara ini disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah,
sumbatan dan penyempitan atau pecahnya pembuluh darah bahkan kelainan jantung, semua ini
menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai. Sehingga dapat menyebabkan
kerusakan/kematian sel saraf otak. Akibatnya sistem saraf terganggu.

1.5 Patofisiologis
1.6 Manifestasi Klinis

a) Defisit motorik yang umum


1. Hemiparesis (kekuatan otot yang berkurang pada separuh tubuh) atau hemiplegia (kelumpuhan
yang dialami oleh satu sisi dari bagian tubuh)
2. Disartria (gangguan bicara yang diakibatkan cidera neuromuscular).
3. Disfagia (kesulitan menelan)
b) Defisit sensori yang umum
1. Defisit visual
2. Hilang respon terhadap sensasi superfisial
3. Hilang respon terhadap propriresepsi (kemampuan mengontrol gerakan dan posisi tubuh).
4. Defisit perceptual.
c) Defisit bahasa
d) Defisit Intelektual
e) Defisit Emosional
f) Disfungsi kandung kemih
g) Disfungsi usus

1.7 Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan CT (Computed Tomography)


2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
3. MRA (Magnetic Resonance Angiography)
4. Ultrasonografi Doppler transkranial dapat dipakai untuk mendiagnosis oklusi atau stenosis arteri
intrakranial besar. Gelombang intrakranial yang abnormal dan pola aliran kolateral dapat juga
dipakai untuk menentukan apakah suatu stenosis pada leher menimbulkan gangguan
hemodinamik yang bermakna.
1.8 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan:
a. Membatasi atau memulihkan iskemia akut yang sedang berlangsung (3-6 jam
pertama) menggunakan trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen
activator). Pengobatan ini hanya boleh diberikan pada stroke iskemik d engan waktu
onset < 3 jam dan hasil CT Scannormal. Obat ini sangat mahal dan hanya dapat
dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap.
b. Pertimbangkan pemantauan irama jantung untuk pasien dengan aritmia jantung
atau iskemia miokard. Bila terdapat fibrilasi atrium respons cepat maka dapat diberikan
digoksin 0,125-0,5 mg intravena atau verapamil 5-10 mg intravena atau amiodaron 200
mg drips dalam 12 jam.
c. Tekanan darah yang tinggi pada stroke iskemik tidak boleh terlalu cepat
diturunkan.Akibat penurunan tekanan darah yang terlalu agresif pada stroke iskemik
akut dapat memperluas infark dan perburukan neurologis.

BAB II
Asuhan Keperawatan Pada PasienTIA
(Transient Ischemic Attack)
2.1 Pengkajian
Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan stroke infark perlu dilakukan
pengkajian yang lebih menyeluruh dan mendalam dari berbagai aspek yang ada sehingga dapat
ditemukan masalah-masalah yang ada pada klien dengan stroke infark.
1. Aktivitas atau istirahat
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas ataupun
istirahat, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : merasa kesulitan dalam melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralisis ( hemiplegi ), merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat.
Tanda : gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), kelemahan umum, gangguan penglihatan
dan gangguan tingkatan kesadaran.
2. Sirkulasi
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami perubahan dalam sistem sirkulasi, hal ini
dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : adanya penyakit jantung, polisitemia
Tanda : hipertensi arterial, frekuensi nadi dapat bervariasi, distrimia, perubahan EKG
3. Integritas Ego
Pada klien dengan stroke infark akan merasakan suatu perubahan keadaan emosional dalam
dirinya, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : perasaan tidak berdaya dan putus asa.
Tanda : emosi yang labil, ketidaksiapan untuk marah , sedih, gembira dan kesulitan untuk
mengekspresikan diri.
4. Eliminasi
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami perubahan dalam kebutuhan eliminasinya,
baik kebutuhan bak maupun bab, hal ini dapat diketahui melalui gejala sebagai berikut :
Gejala : perubahan pola kemih, distensi abdomen, bising usus negatif.
5. Makan / Minum
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
makan dan minum, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : nafsu makan hilang, mual muntah, kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan
tenggorokan, disfagia, ada riwayat diabetes mellitus, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda : kesulitan menelan, obesitas.
6. Neurosensori
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami gangguan pada sistem neurosensorinya, hal
ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : pusing, sakit kepala, kelemahan atau kesemutan, kebas, penglihatan menurun,
penglihatan ganda, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda : gangguan fungsi kognitif, kelemahanatau paralisis, afasia, kehilangan kemampuan
untuk mengenali atau menghayati rangsangan visual, pendengaran, kekakuan muka dan kejang.
7. Nyeri atau Kenyamanan
Pada klien dengan stroke infark akan merasakan suatu keadaan ketidaknyamanan, hal ini dapat
diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : sakit kepala
Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot
8. Pernafasan
Pada klien dengan stroke infark biasanya akan mengalami masalah dalam sistem
pernafasannya, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : merokok
Tanda : ketidak mampuan menelan , batuk ataupun tambatan jalan nafas, pernafasan sulit,
suara nafas terdengar ronkhi.
9. Keamanan
Pada klien dengan stroke infark akan sangat rentan terhadap faktor keamanan, hal ini dapat
diketahui melalui tanda sebagai berikut :
Tanda : masalah dengan penglihatan, tidak mampu mengenali objek, gangguan regulasi suhu
tubuh, kesulitan dalam menelan, perhatian sedikit terhadap keamanan.
10. Interaksi sosial.
Pada klien dengan stroke infark biasanya akan mengalami kesulitan dalam melakukan sosial
dengan lingkungan sekitarnya, hal ini dapat diketahui melalui tanda sebagai berikut :
Tanda : masalah bicara, ketidak mampuan untuk berkomunikasi
11. Penyuluhan atau Pembelajaran
Pada klien dengan stroke infark sangat diperlukan penyuluhan / pembelajaran untuk
mencegah masalah lebih lanjut, hal ini dapat diketahui melalui gejala sebagai berikut :
Gejala : adanya riwayat hipertensi pada keluarga dan stroke
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien stroke untuk mengetahui penyebab dan
daerah yang terkena menurut Doenges (1999) adalah sebagai berikut :
1.Angiografi Serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik.
2.CT Scan : memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan infark.
3.Pungsi lumbal : menunjukan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis emboli serebral
dan TIA.
4.MRI : menunjukan adanya daerah yang mengalami infark, haemoragik, malformasi arteriovena.
5.Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasikan penyakit arterivena.
6.EEG : mengidentifikasi masalah yang didasarkan pada gelombang otak dan mungkin
memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
7.Sinar X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan
dari massa yang meluas, klasifikasi karotis interna dan parsial dinding aneurisma