Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIK REFLEKTIF DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS

TUGAS MATA KULIAH :


Perkembangan Ilmu Keperawatan & Issue Terkini Dalam Keperawatan (PIK)

DOSEN : HENNY SUSANA MEDIANI, SKP., MN., Ph.D

OLEH :
PEMINATAN KOMUNITAS

IHDA AL ADAWIYAH MZ (NPM 220120170009)


JAJANG GANJAR WALUYA (NPM 220120170013)
NUR MAZIYYA (NPM 220120170022)
EVA NURLAELA (NPM 220120170037)
ITA VUSFITA (NPM 220120170042)
HASAN NURDIN (NPM 220120170056)
FITRI WIDANENGSIH (NPM 220120160024)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017

A. PENDAHULUAN

Praktek reflektif adalah kemampuan untuk melihat suatu peristiwa sebagai suatu proses
disertai dengan pembelajaran yang berkelanjutan (Schön, D., 1983). Praktek reflektif dipandang
sebagai strategi penting untuk tenaga kesehatan profesional yang menerapkan pembelajaran
seumur hidup (Hendricks, Mooney, & Berry, 1996). Tenaga kesehatan profesional khususnya
perawat dapat menggunakan praktek reflektif untuk mengidentifikasi kebenaran dari apa yang
mereka kerjakan, sehingga mereka tidak terjerumus pada kegiatan yang bersifat rutinitas saat
memberikan pelayanan keperawatan (Taylor, B. J., 2010).
Refleksi adalah atribut penting untuk pengembangan praktisi otonom, kritis, dan maju
(Mantzoukas & Jasper, 2004). Menurut Chong (2009), "Praktik reflektif harus menjadi siklus
terus menerus di mana pengalaman dan refleksi pengalaman saling terkait". Studi telah
menunjukkan bahwa perawat yang meluangkan waktu untuk merenungkan pengalaman sehari-
hari mereka memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik, memiliki pemahaman yang lebih
baik tentang tindakan mereka, yang kemudian mengembangkan keterampilan profesional mereka
(Hansebo & Kihlgren, 2001).
Praktik reflektif adalah kemampuan untuk memeriksa tindakan dan pengalaman dengan
hasil pengembangan praktik mereka dan meningkatkan pengetahuan klinis. Praktik reflektif
mempengaruhi semua tingkat keperawatan, dari siswa, hingga praktik keperawatan lanjutan,
serta melatih perawat. Praktik reflektif merupakan komponen penting dalam kurikulum
keperawatan. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara perawat siswa dan mentor mereka
sangat penting. Agar refleksi menjadi keterbukaan pikiran yang efektif, keberanian, dan kemauan
untuk menerima, dan bertindak terus, kritik harus hadir (Bulmam, Lathlean, & Gobbi, 2012).
Glaze (2013) mengeksplorasi 14 pengalaman praktisi perawat lanjut (ANPs) tentang
refleksi. Metodologi kualitatif digunakan untuk mengumpulkan data dengan melakukan
wawancara dan menggunakan kontrak pembelajaran refleksi. Peneliti menemukan semua kecuali
satu dari empat belas siswa menemukan refleksi dalam praktik keperawatan yang positif. Siswa
menggambarkan diri mereka lebih sadar, realistis, terbuka dan percaya diri dan juga melaporkan
adanya apresiasi yang meningkat untuk keperawatan. Pengembangan praktik keperawatan
mereka dipandang sebagai siswa ANP yang merasa terbebaskan dan lebih sadar secara politis
dari refleksi. Siswa ANP menyadari bahwa penting untuk dididik secara politis. Mereka
menyadari pentingnya terlibat dalam agenda praktisi, agensi, dan organisasi lainnya untuk
memasukkan agenda keperawatan dan untuk mendorong praktik keperawatan (Glaze, 2013).
Gustafsson & Fagerberg (2004) meneliti pengalaman refleksi perawat dalam kaitannya
dengan banyak situasi asuhan keperawatan sehari-hari. Penelitian kualitatif dilakukan dengan
mewawancarai empat perawat terdaftar. Gustadsson & Fagerberg (2004) menemukan banyak
keuntungan dari refleksi dalam pengembangan asuhan keperawatan. Refleksi adalah alat yang
digunakan untuk mempromosikan keberanian, untuk memenuhi kebutuhan pasien yang unik, dan
untuk membantu memberdayakan perawat (Gustafsson & Fagerberg, 2004). Perawat
berpengalaman dalam penelitian ini merasa bahwa refleksi berguna untuk "berkembang dan
berkembang secara profesional" (Gustafsson & Fagerberg, 2004, hal 278). Selama bertahun-
tahun berlatih dan memanfaatkan refleksi diri, perawat mendapati bahwa mereka tidak hanya
bisa belajar dari prestasi mereka dalam perawatan, namun mereka juga merasa kompeten untuk
mendidik perawat lain (Gustafsson & Fagerberg, 2004).
Cirocco (2007) juga memeriksa penggunaan refleksi perawat dalam praktik dan hasilnya.
Dengan menggunakan survei kualitatif, dia menemukan praktik reflektif membantu memperbaiki
praktik perawat dengan mengidentifikasi area kekuatan dan area yang perlu diperbaiki. Studi ini
menunjukkan bahwa refleksi memiliki potensi untuk meningkatkan perkembangan praktik
keperawatan.
Keperawatan komunitas adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) melalui dukungan peran
serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif. Klien dalam
keperawatan komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai
kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi
kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak,
dkk., 2006). Dalam pelaksanaan tugasnya perawat komunitas perlu melakukan praktek refleksi
guna meningkatkan ketrampilan profesional dan evaluasi diri mengenai kinerja yang dilakukan
selama bertugas. Makalah ini akan membahas praktik reflektif dan implikasi saat ini yang
berkaitan dengan keperawatan komunitas di Puskesmas.
B. Gibbs 'reflektif siklus
Siklus reflektif Gibbs adalah sebuah proses yang melibatkan enam langkah:
1. Deskripsi ==➔ Apa yang terjadi?
2. Perasaan ==➔Apa yang Anda pikirkan dan rasakan tentang
hal itu?
3. Evaluasi ==➔Apa sisi positif dan negatif?
4. Analisis ==➔Apa arti anda lakukan itu?
5. Kesimpulan ==➔Apa lagi yang bisa Anda lakukan?
6. Rencana Aksi ==➔Apa yang akan Anda lakukan waktu
berikutnya?
Ini adalah 'siklus' karena tindakan yang dilakukan dalam tahap akhir akan kembali ke tahap
pertama.
C. Peran dan Fungsi Perawat di Puskesmas
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas. Untuk melaksanakan upaya kesehatan Puskemas harus menyelenggarakan:
a. Manajemen Puskesmas
b. Pelayanan Kefarmasian
c. Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
d. Pelayanan Laboratorium
Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat dilakukan oleh perawat komunitas yang
merupakan peran dan fungsi perawat di puskemas. Upaya kesehatan yang dilakukan oleh
Puskesmas terdiri dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM). UKM dibagi menjadi 2 yaitu UKM essensial dan UKM Pengembangan.
Menurut Pasal 36 ayat 2 Upaya Kesehatan Masyarakat esensial meliputi:
a. Pelayanan promosi kesehatan
b. Pelayanan kesehatan lingkungan
c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana
d. Pelayanan gizi
Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang
kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/ataubersifat ekstensifikasi dan
intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah
kerja dapotensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.

Menurut Pasal 35 ayat 1 Upaya kesehatan dilaksanakan dalam bentuk:

a. Pelayanan rawat jalan


b. Pelayanan gawat darurat
c. Pelayanan satu hari (one day care)
d. Home care
e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Dari uraian diatas, dapat diketahui setiap profesi kesehatan baik itu dokter, perawat, bidan,
apoteker, atau sanitarian telah memiliki peran dan fungsi masing-masing. Perawat di puskesmas
melaksanakan peran dan fungsinya pada Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya
Kesehatan Masyarakat (UKM) yang dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur
dan standar pelayanan.
Fenomena saat ini
Pada era pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) seperti saat ini tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu semakin meningkat. Meningkatnya
kunjungan rawat jalan maupun rawat inap dan tuntutan mutu pelayanan meningkatkan pula
beban kerja perawat. Perawat dalam menjalankan tugas sehari-hari di puskesmas sangat
kompleks, dari pekerjaan yang memang sudah menjadi tupoksinya sampai dengan tugas
tambahan. Tugas-tugas rutin dan situasional yang bersifat administratif, advokasi, pelimpahan
wewenang, piket dan lain-lain. Tugas sebagai bendahara, kepala tata usaha, operator komputer
dan teknologi informasi, pengelola program, bahkan merangkap sebagai supir ambulan dijalani
perawat di puskesmas. Fakta-fakta dilapangan memperlihatkan perawat adalah profesi yang
harus serba bisa.
Peran pengganti dokter yang menjalankan fungsi delegasi di rawat jalan, UGD dan rawat
inap sudah biasa dilakukan. Kadang-kadang dengan mekanisme pelimpahan wewenang dan
mekanisme konsul yang tidak jelas. Tidak ada surat pelimpahan wewenang, dokter susah
dihubungi, tidak ada SOP (Standar Operasional Prosedur) dan ketidaksesuaian diagnosis dan
penanganan. Kekurangan tenaga dokter menjadikan perawat menjadi ujung tombak dalam
pelayanan di puskesmas terutama kuratif.
Tugas lain yang dijalankan perawat Puskesmas adalah sebagai pemegang program, baik
yang berhubungan langsung dengan praktik keperawatan komunitas seperti program Perawat
Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) maupun program lain seperti Pencegahan Penyakit Menular
dan Tidak Menular, Koordinator Imunisasi, Promosi Kesehatan, dan Surveilance. Bahkan
program yang seharusnya dijalankan oleh profesi lain sering dilimphakan kepada perawat seperti
hal nya Gizi masyarakat, pengelola obat dan laboratorium. Keterlibatan perawat dalam program-
program tersebut sejatinya menjadi lahan praktik keperawatan komunitas.
Kompleksnya tugas perawat di puskesmas menimbulkan implikasi yang berdampak pada
pengembangan karir perawat di puskesmas. Contoh kasus:
Seorang perawat puskesmas perawatan mendapat tugas sebagai bendahara Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN). Tugas sebagai bendahara menuntut perawat bersangkutan
meninggalkan tugas-tugas lainnya termasuk tugas pokok sebagai perawat. Tugas jaga di
UGD dan ruang perwatan baik jaga pagi,sore maupun malam harus dilepaskan termasuk
pelayanan di rawat jalan. Setiap tahun, sebagai pegawai negeri sipil dengan jabatan
fungsional perawat harus membuat rencana Satuan Kerja Pegawai yang berisi rincian
kegiatan dan target pencapaian disesuaikan dengan tingkatan jabatannya. SKP tersebut
merupakan penilaian kinerja pegawai oleh atasan langsung dan pimpinan institusi. SKP
ini juga menjadi syarat kenaikan pangkat perawat bersangkutan.
Pada saat penilaian akreditasi kenaikan pangkat, perawat tersebut akan kesulitan
memenuhi unsur utama dan unsur penunjang pelaksanaan kredit poin perawat. hal
tersebut karena laporan pelaksanaan tugasnya bukan merupakan tugas pokok perawat
seperti melakukan pengkajian, menetapkan diagnosis keperawatan dan lain-lain. Tidak
terpenuhinya angka kredit mengakibatkan proses kenaikan pangkat tidak akan tepat
waktu dan mengakibatkan karir perawat bersangkutan menjadi terhambat.

Bagaiman perasaan perawat?


Sebagai perawat komunitas yang bekerja di puskesmas, hal tersebut menjadi sebuah
dilema. Satu sisi, sebagai perawat profesional ada tanggung jawab moral untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat dan menjalankan tugas pokok perawat sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Satu sisi, sebagai pegawai negeri sipil harus patuh dan loyal pada pimpinan. Sisi
lain ketidakpastian jenjang karir perawat di puskesmas.

Evaluasi (Sisi positif dan negatif)


Peran perawat di puskesmas yang begitu kompleks mengandung sisi positif dan sisi negatif
diantaranya:
Sisi positif:
1. Peran yang sangat dibutuhkan
2. Peran serba bisa dapat mengangkat citra perawat.
3. Dapat diandalkan
Sisi negatif:
1. Kesejahteraan perawat kurang mendapat perhatian
2. Tugas pokok dan fungsi perawat sering terabaikan
3. Jenjang karir perawat di puskesmas tidak jelas.
Analisis
Menurut Effendi (1997) perawatan kesehatan masyarakat memberikan pelayanan dengan
menekankan kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap berbagai gangguan
kesehatan dan keperawatan dengan tidak meninggalkan upaya kuratit dan rehabilitatif. Perawat
menjadi lini pertama dalam tatanan pelayanan kesehatan, melaksanakan fungsi-fungsi yang
sangat relevan dengan kebutuhan individu, kelompok, keluarga dan masyarakat.
Secara umum kegiatan perawat Puskesmas yang menjadi bagian dari perawat kesehatan
masyarakat adalah :
1. Memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga, kelompok-
kelompok khusus baik di rumah, sekolah, posyandu, polindes, dan daerah binaan
kesehatan masyarakat.
2. Penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah prilaku individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
3. Konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi.
4. Bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang hadapi.
5. Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
6. Penemuan kasus pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masayarakat.
7. Sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan.
8. Melaksanakan asuhan keperawatan komunitas, melalui pengenalan masalah kesehatan
masyarakat, perencanaan kesehatan,pelaksanaan dan penilaian kegiatan menggunakan
proses keperawatan sebagai suatu pendekatan ilmiah keperawatan.
9. Mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan komunitas.
10. Mengadakan kerjsama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi terkait.
11. Memberikan ketauladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan dan kesehatan.
12. Ikut serta dalam penelitian untuk mengembangkan perawatan kesehatan masyarakat
sesuai dengan tingkat pelayanan dan pendidikan yang dimiliki.
Kekurangan Sumber Daya Manusia Kesehatan maupun non kesehatan menjadi salah satu
alasan perawat diberi tanggung jawab pekerjaan diluar tupoksi perawat. Kebutuhan Sumber
Daya Manusia di Puskesmas dihitung berdasarkan analisis beban kerja baik jumlah maupun jenis
ketenagaan dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, jumlah
penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan
fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu
kerja.
Jenis tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas paling sedikit terdiri atas dokter atau dokter
pelayanan primer, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan
masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknolog laboratorium medik, tenaga gizi, dan
tenaga kefarmasian. Adapun tenaga non kesehatan Puskesmas harus mendukung kegiatan
ketatausahaan, administrasi keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di
Puskesmas (Permenkes RI No 75 Tahun 2014).

Kesimpulan dan Rencana aksi


Beban kerja perawat diluar tugas pokok dan fungsi yang menghambat pelayanan
keperawatan hendaknya menjadi evaluasi bersama antara perawat yang bersangkutan, teman
sejawat satu profesi maupun profesi lain, beserta atasan langsung. Dalam hal kekurangan SDM
ada sistem pelaporan tentang kebutuhan SDM melalui penghitungan analisis beban kerja melalui
bagian administrasi umum dan kepegawaian yang akan disampaikan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/kota. Analisis beban kerja menjadi usulan resmi untuk pengadaan SDM Puskesmas
baik tenaga kesehatan maupun non kesehatan.
Perawat tetap bertanggung jawab dalam pelayanan keperawatan meskipun dibebani
pekerjaan lain diluar tupoksi. Pembagian jadwal pelayanan menjadi salahsatu solusi sehingga
semua perawat dapat melaksanakan pelayanan kepada individu, keluarga, kelompok maupun
masyarakat. Komitmen bersama diantara perawat sangat diperlukan, sehingga seluruh perawat
dapat melaksankan tugas pelayanan sesuai dalam rencana kerja yang disusun dalam SKP.
Jenjang karir perawat di pelayanan primer sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Tahun 40 tahun 2017 tentang Pengembangan Jenjang Karir Perawat Profesional Klinis
harus disosialisasikan untuk menjadi acuan penyusunan rencana kerja dan pengembangan karir.
DAFTAR PUSTAKA

Bulman, C. Lathlean, J. Gobbi, M. (2012). The concept of reflection in nursing: qualitative


findings on student and teacher perspectives. Nurse Educ Today. Jul 32 (5). doi:
10.1016/j.nedt.2011.10.007.
Caldwell, L. B. (2013). The importance of reflective practice in nursing. International Journal of
Caring Sciences, 6(3), 319-326. Retrieved from
https://search.proquest.com/docview/1445366551?accountid=257
Chong, M.C. (2009). Is reflective practice a useful task for student nurses?. Asian Nurs Res
(Korean Soc Nurs Sci). Sep 3 (3). hal. 11-120. DOI: 10.1016/S1976-1317(09)60022-0.
Cirocco, M. (2007). How reflective practice improves nurses' critical thinking ability.
Gastroenterol Nurs. Edisi Nov-Dec 30(6). hal. 405-413.
Effendi, Nasrul (1997). Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Glaze, Jane. E. (2013). Reflection as a transforming process: student advanced nurse
practitioners’ experiences of developing reflective skills as part of an MSc programme.
International Journal of Caring Sciences. Vo. 6 Issue. 3. hal. 319-326. DOI:
10.1046/j.1365-2648.2001.01793.x
Gustafsson, C. Fagerberg, I. (2004). Reflection, the way to professional development?. J Clin
Nurs. Mar. Ed. 13 Issue. 3. hal 271-280
Hansebo, G. Kihlgren, M. (2001). Carers' reflections about their video-recorded interactions with
patients suffering from severe dementia. J Clin Nurs. Nov 10. Ed. 6. hal: 737-747
Hendricks, J., Mooney, D., & Berry, C. (1996). A practical strategy approach to use of reflective
practice in critical care nursing. Intensive & Critical Care Nursing, 12(I 996), 97–101.
Retrieved from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8845631
Mantzoukas, S. Jasper, M.A. (2004). Reflective practice and daily ward reality: a covert power
game. J Clin Nurs. Nov. Ed. 13 (8). hal. 925-933
Mubarak, W. I., santoso, B. A., Rosikin, K. & Patonah, S. (2006). Buku Ajar Ilmu keperawatan
Komunitas 2 Teori & Aplikasi dalam Praktik dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan
Komunitas, Gerontik dan Keluarga. Yogjakarta: Sagung Seto.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas. 17
Oktober 2014. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 nomor 1676. Jakarta.
Schön, Donald A. (1983). The reflective practitioner: how professionals think in action. New
York: Basic Books. ISBN 046506874X. OCLC 8709452.
Taylor, B.J. (2010). Reflective Practice for Healthcare Professionals. Bell & Bain Ltd. United
Kingdom.