Anda di halaman 1dari 11

JURNAL

TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP PENANGANAN AWAL


(PRAHOSPITAL) PADA PASIEN STROKE AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP
RSU AISYIYAH PONOROGO

Oleh :
MUHAMAD IKHSAN SANTOSO
NIM 1611A0447

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2017
TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP PENANGANAN AWAL
(PRAHOSPITAL) PADA PASIEN STROKE AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP
RSU AISYIYAH PONOROGO

(Level of Family Knowledge on Preliminary Handling (Prahospital) on Acute Stroke


Patients in Interview Installation Aisyiyah Ponorogo Hospital)

Muhamad Ikhsan Santoso¹- Novita Ana Anggraini ², Nur Yeny H ²


¹Mahasiswa Stikes Surya Mitra Husada Kediri
²Dosen Stikes Surya Mitra Husada Kediri

ABSTRAK

Stroke merupakan penyakit tidak menular dan merupakan peringkat atas penyebab kematian
di dunia. Menurut data WHO (2012) sekitar 28,5% penderita stroke meninggal dunia,
selebihnyalumpuh sebagian atau bahkan lumpuh total, dan isanya 15% dapat sembuh total.
Keluarga dapat lebih mengetahui dan mengenali adanya tanda dan gejala gangguan pada otot
wajah, kelemahan anggota gerak dan adanya gangguan bicara, memberikan informasi cara
pengenalan gejala awal Stroke yang mudah dimengerti dan mudah diaplikasikan pada anggota
keluarga. Penanganan awal (Prahospital) merupakan salah satu tindakan yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien stroke dengan meminimalkan
kelumpuhan,menurunkan angka kecacatan dan kematian. Tujuan penelitian ini untuk
hubungan antara pengetahuan keluarga dengan penanganan awal pada pasien stroke akut.
Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan jumlah populasi 198 dan
jumlah sampel 67 keluarga yang mempunyai anggota keluarga menderita stroke akut pada
bulan april-juni 2017. Metode penelitian ini menggunakan purposive sampling, pengumpulan
data menggunakan kuisioner dan perhitungan menggunak ananalisis Uji Rank spearman
dengn SPSS 17.0 kesalahan α 0,05.
Hasil penelitian ini didapatkan Tingkat pengetahuan keluarga dengan intensitas cukup
sebanyak 43 responden (64,2 %), penanganan awal prahospital pasien stroke dengan
intensitas cukup yaitu 34 responden (50,7%). Hasil penelitian nilai p-value = 0,000, syarat Ha
diterima dan Ho ditolak bila nilai p < α (0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan keluarga dengan penanganan awal pada stroke akut di
Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah Ponorogo Tahun 2017.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah responden dalam tingkat pengetahuan dalam
kategori cukup mengenai gejala awal stroke, faktor resiko dan cara penanganan stroke akut
sudah benar yaitu dengan cara metode FAST ,hanya pengaplikasian penanganan awal stroke
akut masih kurang diterapkan oleh masyarakat.

Kata Kunci : Stroke Akut, penanganan awal (prahospital), pengetahuan stroke


ABSTRACT

Stroke is a non-communicable disease and is ranked top cause of death in the world.
According to WHO (2012) data about 28.5% of stroke patients died, moreover partial or even
total paralysis, and 15% of it can be totally cured. Families can better identify and recognize
signs and symptoms of facial muscle disorders, limb weakness and speech impairment,
providing information on early recognition of symptoms that are easy to understand and easy
to apply to family members. Initial treatment (Prahospital) is one of the measures aimed at
improving the quality of life of stroke patients by minimizing paralysis, reducing disability
and death rates. The aim of this study was to establish the relationship between family
knowledge and early treatment in acute stroke patients.
This research design is descriptive correlation with population number 198 and sample
number 67 family having family member suffering from acute stroke in april-juni 2017. This
research method using purposive sampling, collecting data using questionnaire and
calculation using ananalysis Rank Spearman test dengn SPSS 17.0 Error α 0.05.
The result of this research got the level of knowledge of the family with enough intensity
as much as 43 respondents (64,2%), initial handling of pre-hospital patient of stroke with
enough intensity that is 34 respondent (50,7%). The results of the p-value = 0,000, the
acceptable Ha and Ho are rejected when the value of p <α (0.05). This means there is a
significant relationship between family knowledge with the initial treatment of acute stroke at
Inpatient Installation RS RS Aisyiyah Ponorogo Year 2017.
The conclusions of this study are the respondents in the level of knowledge in sufficient
categories about the early symptoms of stroke, risk factors and the way penangananyang
done is correct that is by FAST method and only the application of the initial handling is still
less applied by the community

Keywords: Acute Stroke, early handling (prahospital), knowledge of stroke


PENDAHULUAN menyempitnya pembuluh arteri disebabkan
Penyakit stroke merupakan salah lemak yang menempel pada dinding arteri.
satu masalah kesehatan yang paling Para ahli menganggap bahwa aterosklerosis
banyak terjadi dalam kehidupan modern. merupakan penyebab utama stroke pada
Stroke adalah penyakit neurologis umumnya (Batticaca, F.B. 2008).
terbanyak yang dapat mengakibatkan Gejala-gejala ringan stroke dapat
masalah kesehatan yang serius dan dikenali seperti seringnya kesemutan ringan
berdampak pada disfungsi motorik dan tanpa sebab, sakit kepala atau vertigo ringan,
sensorik. Kelemahan fungsi motorik yang tiba-tiba sulit menggerakkan mulut dan sulit
dapat terjadi antara lain: kelemahan berbicara, lumpuh sebelah serta mendadak
menggerakkan kaki, kelemahan pikun dan cadel. Bagi mereka yang pernah
menggerakkan tangan, kelemahan untuk mengalami serangan stroke lalu dikemudian
bangun dari tempat tidur, kelemahan untuk hari terkena serangan stroke yang kedua,
duduk, kelemahan untuk aktifitas sehari- maka serangan stroke ulangan ini lebih
hari, ketidakmampuan bicara, dan berbahaya dan dapat menyebabkan kematian
ketidakmampuan fungsi motorik lainnya (Sutrisno, 2007). Menurut Narakusuma (2012
(Carpenito et al, 2007). Setelah stroke langkah awal yang harus keluarga ketahui
yang pertama, umumnya stroke bisa terjadi dari serangan stroke ini adalah deteksi dan
lagi dengan kondisi yang sudah parah ini pengenalan cepat terhadap tanda – tanda
terjadi pada penderita yang kurang kontrol Stroke dan TIA. Selain itu keluarga juga harus
diri atau sudah merasa puas setelah mengetahui kelompok resiko ( hipertensi,
mengalami penyembuhan (pasca stroke diabetes dll) Sehingga perlu adanya
yang pertama), sehingga tidak lagi penanganan yang tepat terkait serangan stroke
memeriksakan diri. Padahal jika stroke ini baik di rumah maupun di rumah sakit.
sampai berulang artinya terjadi pendarahan Pencegahan yang dilakukan dalam
yang lebih luas akan menyebabkan penelitian ini dengan pengenalan gejala awal
prognosa yang lebih parah dari serangan stroke yang bertujuan untuk dapat diberikan
pertama (Stein, et al., 2009). penanganan secara tepat dam cepat. Berkaitan
Menurut taksiran World Health dengan time window yang bertujuan untuk
Organization (WHO) tahun 2012, stroke pengobatan stroke adalah tiga jam,maka
menempati Posisi ketiga sebagai penyakit pengenalan sedini mungkin gejala stroke
utama penyebab kematian di dunia. kepada masyarakat sangat penting karena
Diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 pengobatan sedini mungkin akan sangat
penduduk terkena serangan stroke, sekitar memberikan hasil yang paling optimal
2,5 % atau 125.000 orang meninggal sehingga dapat menurunkan angka kematian
(Anderson, 2008).. Di Indonesia, insiden serta mengurangi kecacatan yang akan terjadi
dan prevalensi stroke belum diketahui (Purwanto, 2008). Keluarga atau masyarakat
secara pasti. Diperkirakan 500.000 harus mengetahui tentang tanda gejala dari
penduduk terkena stroke setiap tahunnya, serangan stroke ini agar terhindar dari
sekitar 2,5% atau 125.000 orang kesalahan dalam penanganannya. Selain itu
meninggal (Depkes, 2013). Berdasarkan juga dampak negatif jika keluarga tidak
data hasil dari Riskesdas (Riset Kesehatan mengetahui cara penanganan stroke pra
Dasar) Pravelensi penderita stroke di Jawa hospital dirumah adalah meningkatnya angka
Timur sebanyak 9,1% (Kemenkes, 2013). kematian dan kecacatan pada penderita
Sedangan pravelensi penderita Stroke di stroke. Maka perlu ditekankan pada keluarga
RSU Aisyiyah Ponorogo pada bulan bahwa prinsip yang harus dipegang adalah
Januari sampai Oktober 2016 sebanyak time is brain dan the golden hour
600 pasien. (narakusuma, 2012)
Penyebab utama stroke diantaranya Untuk mencapai itu, pendidikan dan
pasien stroke yang terbiasa mengkonsumsi penyuluhan perlu diupayakan terhadap
makanan yang mengandung lemak jenuh anggota keluarga. Pengetahuan seseorang erat
yang menimbulkan aterosklerosis, yaitu kaitannya dengan perilaku yang akan
diambilnya, karena dengan pengetahuan stroke maka harus dilakukan pengecekan
tersebut ia memiliki alasan dan landasan sederhana yang disingkat FAST (Face, Arms,
untuk menentukan suatu pilihan ( Nuartha, Speech, Time) sehingga anggota keluarga
2008). pertolongan pertama yang baik dan mengetahui bahwa pasien mengalami
tepat pada pasien stroke oleh keluarga di serangan stroke dan segera membawa ke
rumah (prahospital), membutuhkan suatu tenaga kesehatan untuk mendapatkan
pengetahuan dan pemahaman anggota tindakan medis yang tepat (Sakti dan
keluarga akan hal -hal yang perlu flrentianus ,2013). Sebagai tenaga kesehatan
dilakukan dan tidak boleh dilakukan terutama perawat agar selalu memberikan
kepada pasien. pendidikan kesehatan setiap saat tentang
Di masyarakat sekitar kita, masih deteksi dini penangan Stroke akut pada
banyak anggota keluarga yang tidak masyarakat di sekitar tempat tinggal terutama
mengetahui atau kurang memahami pada kelompok resiko tinggi penderita stroke,
tentang gejala – gejala awal serangan dan menganjurkan mereka untuk rutin
stroke sehingga berakibat kematian dan memeriksakan kondisinya ke pelayanan
kecacatan saat sudah di bawa ke RS. kesehatan terdekat agar terhindar dari
Untuk itu perlu adanya pengetahuan yang kesalahan dalam penanganan Stroke pra
baik tentang pengenalan awal serangan hospital di Rumah (Anderson, 2008).
stroke dan penanganannya sehingga Berdasarkan fenomena di atas, maka
golden periode stroke tersebut dapat peneliti tertarik untuk meneliti tentang tingkat
tercapai dan pasien yang terkena serangan pengetahuan keluarga terhadap penangananan
stroke dapat terhindar dari kematian dan awal (prahospital) pada pasien stroke akut di
kecacatan yang lebih parah (Batubara, S.O Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah
& Florentianus Tat 2015). Ponorogo.
Irdawati (2009) dalam penelitiannya,
terdapat hubungan antara pengetahuan METODE PENELITIAN
keluarga penderita stroke terhadap tingkat Jenis penelitian yang digunakan adalah
kesehatan penderita stroke itu sendiri. penelitian kuantitatif dengan rancangan
Rendahnya tingkat pengetahuan keluarga deskriptif korelasi, Pada penelitian ini peneliti
tentang stroke dapat meningkatnya tingkat mencari hubungan antara variabel bebas
keparahan terutama dalam penanganan (pengetahuan keluarga) dengan variabel
pertolongan pertama pada serangan stroke terikat (penangganan awal (prahospital) pada
di Rumah oleh anggota keluarga pasien stroke akut) selama 4 bulan di RSU
bersangkutan (Potter, 2007). Aisyiyah Ponorogo pada tahun 2017.
Menurut jurnal penelitian yang Rancangan penelitian menggunakan
disusun oleh Wirawan Narakusuma & Ida pendekatan Cross Sectional. Penelitian Cross
Bagus (2012) yang berjudul manajemen Sectional adalah jenis penelitian yang
pre hospital pada stroke akut diperoleh menekankan waktu pengukuran/ observasi
hasil dengan menggunakan metode FAST data variabel independen dan dependen hanya
yaitu mengetahui dan mengenali adanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2008). Jadi
tanda dan gejala gangguan pada otot data yang menyangkut variabel bebas atau
wajah, kelemahan anggota gerak dan resiko dan variabel terikat atau variabel
adanya gangguan bicara, memberikan akibat, akan dikumpulkan dalam waktu yang
informasi cara pengenalan gejala awal bersamaan (Notoatmojo, 2012).
Stroke yang mudah dimengerti dan mudah
diaplikasikan pada anggota keluarga HASIL
(Masyarakat). Karakteristik Responden
Golden time ( waktu emas) Diagram 1 Karakteristik Responden
penanganan pasien stroke, terutama stroke berdasarkan umur
iskemik adalah 3 jam sejak terjadi
serangan. Dengan demikian ketika
seseorang diduga mengalami serangan
Diagram 5 Karakteristik Responden
berdasarkan Penghasilan perbulan

Sumber : Hasil Analisa Data


Diagram 2 Karakteristik Responden Sumber : Hasil Analisa Data
berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik Variabel
Tabel 1 karakteristik responden berdasarkan
pengetahuan keluarga seperti yang tercantum
dalam tabel dibawah ini :
Dukungan keluarga F Presentas
e
Baik 20 29,9%
Cukup 43 64,2%
Kurang 4 6%
Sumber : Hasil Analisa Data Jumlah 67 100 %
Diagram 3 Karakteristik Responden Sumber : Hasil Analisa Data
berdasarkan Tingkat pendidikan Tabel 2 karakteristik responden berdasarkan
penanganan awal seperti yang tercantum
dalam tabel dibawah ini :
Penanganan awal F Presentase
pra hospital
Baik 10 14,9%
Cukup baik 34 50,7%
Kurang baik 23 34,3%
Jumlah 67 100%
Sumber : Hasil Analisa Data
Sumber : Hasil Analisa Data
Hasil Uji Statistik
Diagram 4 Karakteristik Responden
Tabel 3 uji korelasi Rank Spearman
berdasarkan Pekerjaan
untuk mengetahui hubungan pengetahuan
keluarga dengan penanganan awal pada stroke
akut di RSU Aisyiyah Ponorogo.

Sumber : Hasil Analisa Data


Pengetahuan keluarga Penanganan awal
Spearman's Pengetahuan Correlation 1.000 .785
rho keluarga Coefficient
Sig. (2-tailed) . .000
N 67 67
Penanganan Correlation .785 1.000
awal Coefficient
Sig. (2-tailed) .000 .
N 67 67
Sumber : Analisis korelasi Rank Spearman

Berdasarkan hasil uji korelasi Rank sebanyak 24 orang (33,3%), dan baik
Spearman pada tabel 4.14 diperoleh sebanyak 22 responden (30,6%). Menurut
koefisien korelasi (r) adalah 0,785 yang Notoatmojo (2010), pengetahuan diperlukan
berarti bahwa kekuatan hubungan antara sebagai dukungan sikap dan perilaku,
dua variabel adalah Kuat (Sugiyono, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan
2010). Arah hubungan adalah Positif merupakan domain yang sangat penting untuk
karena semakin meningkat pengetahuan terbentuknya tindakan. Selain itu, parameter
keluarga yang diberikan maka semakin untuk penelitian ini menurut Nursalam &
positif (searah) penanganan awal pada Pariani (2001) tingkat pengetahuan dapat
pasien stroke akut. Sedangkan nilai p- dikatakan baik jika sesorang mempunyai 76-
value = 0,000, syarat Ha diterima dan Ho 100% pengetahuan, dapat dikatakan sedang
ditolak bila nilai p < α (0,05). Hal ini karena jika sesorang mempunyai 56-75%
berarti terdapat hubungan yang signifikan pengetahuan, tingkat pengetahuan dikatakan
antara pengetahuan keluarga dengan kurang jika seseorang mempunyai <56%
penanganan awal pada stroke akut di pengetahuan.
Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah Menurut WHO (1978) dalam buku
Ponorogo Tahun 2017. Risca (2014), fungsi keluarga yaitu salah
satunya fungsi edukasi yaitu fungsi untuk
PEMBAHASAN mengajarkan ketrampilan, sikap dan
Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang pengetahuan. Sehingga pengetahuan keluarga
Penanganan Awal (Prahospital) Pada dapat dibentuk sejak seorang anggota
Pasien Stroke Akut keluarga tersebut lahir, tumbuh dan
Dari hasil penelitian yang dilakukan berkembang di suatu lingkungan keluarga.
oleh peneliti didapatkan hasil bahwa Pengetahuan keluarga tentang penanganan
pengetahuan keluarga pasien stroke akut awal stroke akut ini diperoleh keluarga dari
menunjukkan bahwa sebagian besar buku – buku tentang penyakit, internet, dan
responden pengetahuan keluarganya cukup bisa juga didapatkan dari pengalaman
sebanyak 43 responden (64,2 %). Hal ini tetangga maupun orang lain, sehingga
sejalan dengan penelitian Abu Syairi yang pengetahuan keluarga tentang penanganan
berjudul Tingkat pengetahuan keluarga awal stroke tersebut bisa terserap dengan baik
tentang self care pada anggota keluarga jika keluarga tersebut mampu memahami hal
yang mengalami stroke di RSU – hal apa saja yang harus diketahui oleh
Tanggerang (2013) tentang pengetahuan keluarga terkait dengan penanganan awal
keluarga tentang self care diperoleh hasil stroke akut. Sehingga diperoleh tingkat
bahwa pengetahuan responden tentang self pengetahuan yang berbeda – beda antara
care dalam kategori kurang baik sebanyak pengetahuan keluarga yang satu dengan yang
26 orang (36,1%), kategori cukup lainnya karena setiap orang (anggota
keluarga) pasti memiliki tingkat kesulitan melihat pada satu atau kedua mata,
pemahaman yang berbeda – beda. Selain bingung mendadak, tersandung selagi
itu, menurut Notoatmojo (2010), berjalan, pusing bergoyang, hilangnya
pengetahuan keluarga dapat diperoleh dari keseimbangan atau koordinasi, dan nyeri
pendidikan formal dan informal, semakin kepala mendadak tanpa kausa yang jelas
terdidik seseorang semakin baik pula (Mansjoer & Arif, 2009). Luasnya kerusakan
pengetahuannya. Oleh sebab itu, sebuah neurologis atau komplikasi penyakit sangat di
keluarga yang memiliki anggota keluarga tentukan juga oleh penanganan awal di
yang rata – rata pendidikan yang tinggi rumah. Upaya pencegahan dan menurunkan
maka, pengetahuan akan suatu hal insiden penyakit. Pengenalan lebih awal tanda
terutama terkait penyakit akan juga tinggi. dan gejala stroke akan memudahkan
Sehingga diharapkan dengan pengetahuan pencegahan penyakit atau komplikasi. Tanda
yang tinggi pada suatu keluarga maka dan gejala awal serangan juga menentukan
dapat menurunkan pravelensi mortalitas jenis stroke dan luasnya gangguan neurologis
dan morbiditas pasien yang mengalami (Mansjoer & Arif, 2009).
serangan stroke akut. Stroke yang disebabkan oleh thrombosis
Keluarga juga harus mengetahui otak biasanya datang secara bertahap, stroke
tanda – tanda apa saja yang harus yang disebabkan karena perdarahan biasanya
diwaspadai ketika terjadi stroke di rumah datang secara cepat. Jika didahului oleh sakit
sehingga keluarga harus bisa memutuskan kepala yang hebat, mual dan pingsan si
hal apa saja yang dilakukan ketika terjadi penderita harus segera di bawa ke rumah sakit
serangan stroke akut di rumah. Semua ini untuk pelayanan darurat (Leila Henderson,
berhubungan erat dengan pengetahuan 2007). Luasnya kerusakan neurologis atau
keluarga terkait penanganan awal stroke di komplikasi penyakit sangat di tentukan juga
rumah. oleh penanganan awal di rumah. Upaya
pencegahan dan menurunkan insiden
Kemampuan Keluarga Dalam penyakit. Pengenalan lebih awal tanda dan
Penanganan Awal (Prahospital) Pada gejala stroke akan memudahkan pencegahan
Pasien Stroke Akut penyakit atau komplikasi. Tanda dan gejala
Berdasarkan gambaran pengetahuan awal serangan juga menentukan jenis stroke
awal prahospital didapatkan data bahwa dan luasnya gangguan neurologis (Mansjoer
sebagian besar penanganan awal & Arif, 2009). Di masyarakat kita, masih
prahospital pasien stroke adalah cukup sangat banyak kesalahan – kesalahan yang
yaitu 34 responden (50,7%). Hal ini terjadi dalam penanganan awal stroke akut
senada dengan penelitian Sakti Oktaria pra hospital, hal utama yang mempengaruhi
(2015) yang berjudul Hubungan hal tersebut adalah kurangnya pengetahuan
penanganan awal dan kerusakan keluarga dalam penanganan awalnya.
Neurologis pasien Stroke di RSUD Kebanyakan pada saat terjadi serangan,
Kupang diperoleh hasil bahwa penanganan keluarga kurang bisa mengetahui tanda dan
awal di rumah yang kurang baik sebanyak gejala awal yang khas dari serangan tersebut
19 responden (63,3%), dan penanganan sehingga keluarga kurang peka dan cenderung
awal yang baik ada 11 orang (36,7%). lamban dalam membawa klien ke Rumah
Stroke adalah sindroma klinis yang awal sakit dan akhirnya terlambat dalam menolong
timbulnya mendadak, progresif cepat klien sehingga klien mendapatkan kecacatan
berupa deficit neurologis fokal dan atau yang lebih parah dan bahkan sampai
global yang berlangsung 24 jam atau lebih kematian. Hal ini sejalan dengan penelitian
atau langsung menimbulkan kematian Sakti Oktaria (2015) yang berjudul Hubungan
(Mansjoer & Arif, 2009). Gejala awal penanganan awal dan kerusakan Neurologis
umumnya berupa baal atau lemas pasien stroke. Untuk itu perlu edukasi deteksi
mendadak di wajah, lengan atau tungkai, dini / penanganan awal (prahospital) dengan
terutama di salah satu sisi tubuh, gangguan metode FAST, pngendalian faktor resiko dan
penglihatan seperti penglihatan ganda atau modifikasi gaya hidup, sehingga pasien
dengan gejal stroke segera ditangani, value test chi-square lebih besar dari 0,05,
derajat kecacatan dapat ditekanserendah kecuali pada variabel kekakuan (p= 0,042).
mungkin, dan kualitas hidup dapat Selain itu, ini juga sejalan dengan penelitian
ditingkatkan. Metode Fast merupakan Sudarminta (2009) yang mengambil sampel
salah satu identifikasi termudah mengenal sejumlah 250.000 orang secara acak, Sebesar
tanda dan gejala awal. FAST merupakan 90,1% pada kategori tidak baik dalam
singkatan dari istilah Face, Arms, Speech, pengenalan gejala awal stroke. Sisanya
dan Time yang dapat dinilai dari sebesar 9,9% pada kategori baik dalam
kesimetrisan wajah, kelumpuhan anggota pengenalan gejala awal stroke.
gerak, bica tidak lancar, bila didapatkan Pada penelitian ini menggunakan
tanda seperti itusegera bawa pasien ke metode FAST yang merupakan singkatan dari
rumah sakit terdekat. Stroke. Hal ini Facial Weakness (kelemahan wajah), Arm
berarti bahwa perasaan baal atau lemah Weakness (kelemahan lengan), Speech
mendadak dirasakan oleh pasien pada awal Disturbances (kesulitan bicara). Hal ini sesuai
serangan.Waktu gold period untuk teori konsep time is brain berarti pengobatan
penanganan awal stroke akut 3 jam dan stroke merupakan gawat darurat. Jadi,
time is brain, oleh karena ini keluarga keterlambatan pertolongan pada fase
ataupun pasien itu sendiri harus menyadari prahospital harus dihindari dengan
gejala ini untuk menghindari cedera yang pengenalan keluhan dan gejala stroke bagi
lebih lanjut. Dengan demikian setiap pasien dan orang terdekat. Cara penanganan
orang khusunya anggota keluarga yang stroke yang tepat yaitu dengan membawa
memiliki faktor risiko terkena serangan penderita ke rumah sakit yang memiliki
stroke harusnya benar-benar peka terhadap fasilitas yang memadai dalam jangka waktu
tanda dan gejala ini. kurang dari 3 jam. Penderita stroke harus
segera dirujuk ke rumah sakit yang
Hubungan Tingkat Pengetahuan mempunyai fasilitas dan adanya unit stroke
Keluarga Terhadap Penanganan Awal sesudah dilaksanakan penanganan dasar dan
(Prahospital) Pada Pasien Stroke Akut stabilisasi fungsi vital. Pada setiap
Berdasarkan hasil uji korelasi Rank kesempatan, pengetahuan mengenai keluhan
Spearman pada tabel 4.9 diperoleh stroke, terutama pada kelompok resiko tinggi
koefisien korelasi (r) adalah 0,785 yang (hipertensi, atrial fibrilasi, kejadian vaskuler
berarti bahwa kekuatan hubungan antara lain dan diabetes) perlu disebarluaskan.
dua variabel adalah Kuat (Sugiyono, Keterlambatan manajemen stroke akut dapat
2010). Arah hubungan adalah Positif terjadi pada beberapa tingkat. Pada tingkat
karena semakin meningkat pengetahuan populasi, hal ini dapat terjadi karena
keluarga yang diberikan maka semakin ketidaktahuan keluhan stroke dan kontak
positif (searah) penanganan awal pada pelayanan gawat darurat (Wirawan
pasien stroke akut. Sedangkan nilai p- Narakusuma & Ida Bagus. 2012).
value = 0,000, syarat Ha diterima dan Ho Masyarakat luas harus dapat mengenali
ditolak bila nilai p< α (0,05). Hal ini dengan cepat reaksi terhadap tanda-tanda
berarti terdapat hubungan yang signifikan stroke dan TIA. Keluhan pertama kebanyakan
antara pengetahuan keluarga dengan pasien (95%) mulai sejak di rumah (diluar
penanganan awal pada stroke akut di rumah sakit). Hal ini penting bagi masyarakat
Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah luas (termasuk pasien dan keluarga) dan
Ponorogo Tahun 2017. Hal ini sejalan petugas kesehatan profesional ( dokter dan
dengan penelitian penanganan awal dan resepsionisnya, perawat yang menerima
kerusakan Neurologis pasien Stroke di telepon, atau petugas gawat darurat) untuk
RSUD Kupang Hasil penelitian mengenal stroke dan tindakan atau perawatan
menunjukan bahwa variabel penanganan kedaruratan. Hal ini penting agar tidak terjadi
di rumah dengan kerusakan neurologis keterlambatan dalam penanganan awal stroke
sebagian besar tidak menunjukan adanya prahospital. Untuk dapat berjalan dengan
hubungan ditunjukkan dengan nilai p baik maka pengetahuan tentang deteksi dini
penanganan awal stroke akut prahospital meningkatkan intensitas hidup pada pasien
ini harus di maksimalkan terutama bagi stroke seperti membaca buku tentang
semua masyarakat yang difokuskan pada penanganan awal stroke akut di rumah,
keluarga. Oleh sebab itu, pengetahuan mengikuti pelatihan bagi orang masyarakat
masing – masing keluarga agar tentang penanganan awal stroke sehingga
ditingkatkan yang akhirnya dapat meningkatkan intensitas hidup pada pasien
meningkatkan deteksi dini penanganan stroke.
awal stroke akut. Jika keluarga tersebut Diharapkan dapat memberikan masukan
pengetahuannya baik maka akan baik juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
penanganan awalnya ketika terjadi khususnya ilmu keperawatan khususnya
serangan stroke begitupun sebaliknya. keperawatan keluarga maupun keperawatan
neurologis dalam pengetahuan penanganan
SIMPULAN DAN SARAN awal (prahospital) pada pasien stroke akut.
Simpulan Hasil dari penelitian ini dapat
Beradasarkan hasil penelitian yang digunakan sebagai dasar untuk penelitian
telah dilakukan peneliti akan selanjutnya yang terkait dengan faktor –
menyimpulkan beberapa hal berdasarkan faktor lain yang mempengaruhi penanganan
tujuan yang hendak dicapai yaitu sebagai awal (prahospital) pada pasien stroke akut.
berikut Tingkat pengetahuan keluarga Peneliti menyarankan kepada peneliti lain
dengan intensitas cukup sebanyak 43 untuk mengeksplore lagi hal – hal yang
responden (64,2 %). berhubungan dengan penanganan awal stroke
Penanganan awal pra hospital pasien akut prahospital dengan menggunakan
stroke dengan intensitas cukup yaitu 34 pengukuran skala selain skala likert.
responden (50,7%) dan Hasil penelitian
nilai p-value = 0,000, syarat Ha diterima KEPUSTAKAAN
dan Ho ditolak bila nilai p < α (0,05). Hal American Heart Association (AHA)
ini berarti terdapat hubungan yang Guidelines. 2015. Heart Disease
signifikan antara pengetahuan keluarga Andarmoyo, Sulistyo. (2012). Keperawatan
dengan penanganan awal pada stroke akut Keluarga : konsep teori, proses dan
di Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah praktik keperawatan. Yogyakarta : Graha
Ponorogo Tahun 2017. ilmu
Anderson. (2008). Gejala Stroke dan cara
Saran Pencegahannya. Jakarta and Stroke
Saran yang dapat disampaikan oleh Statistik 2015 update. : EGC
penulis sehubungan dengan hubungan Batubara, S.O & Florentianus Tat. 2015.
antara pengetahuan keluarga dengan Hubungan Antara Penanganan Awal Dan
penanganan awal pada stroke akut adalah: Kerusakan Neurologis Pasien Stroke Di
Bagi pihak Rumah Sakit agar dapat RSUD Kupang. Kupang. The journal of
meningkatkan pelayanan kesehatan nursing volume 10 november 2015.
khususnya pada pasien stroke akut maupun Cleese, John. 2010. Merawat Pasien Stroke.
keluarga dalam penanganan awal Yogyakarta: Citra Aji Pratama.
(prahospital) pada pasien stroke akut Depkes, RI. 2009. Profil Kesehatan
seperti mengadakan pelatihan bagi Indonesia. Jakarta : Departemen
keluarga terkait penanganan awal Republik Indonesia.
stroke akut pra hospital di rumah, Elizabeth J, Corwin. (2009). Buku Saku
sehingga keluarga dapat menolong Patofisiologi. Jakarta : EGC
pasien, jika mengalami serangan stroke Friedman, Marilyn M. (2010). Buku Ajar
di rumah. Keperawatan Keluarga : Riset, Teori,
Bagi Keluarga dan masyarakat dan Praktek. Jakarta : EGC
disarankan untuk lebih meningkatkan Henderson, Leila. 2007. Stroke Panduan
pengetahuan dalam penanganan awal Perawat. Jakarta: Arcan (judul asli stroke
(prahospital) pada pasien stroke akut guna
survival guide diterjemahkan oleh Pre-Hospital Stroke Guidelines Group-
Indriani). Recognitions of stroke. Developed by
Hidayat, A.A.A. (2007). Metode penelitian prehospital stroke guidelines group and
keperawatan dan teknik analisis data. the intercollegiate stroke. 2006.
Jakarta : Salemba medika Risca, Anggraini. (2014). Perilaku Keluarga
Husna, Nurlailatur. 2013. Hubungan Dalam Perawatan Fisik Pasien Pasca
Antara Body Image Dengan Stroke Di Poli Saraf RSUD Dr. Hardjono
Perilaku Diet Pada Wanita di Ponorogo. KTI tidak diterbitkan.
Sanggar Senam Tari Rita, diakses 20 Ponorogo. Program Studi D III Fakultas
Agustus 2016, dari Ilmu Kesehatan UNMUH PONOROGO.
http://lib.unes.ac.id/ Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar :
Kartini, et al. (2013). dukungan keluarga Riskesdas 2013. Jakarta : Badan
terhadap perubahan konsep diri pada Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
pasien pasca stroke di Poliklinik Saraf RI
Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Robbert Buckman & Jenny Sutcliffe. (2010).
Sulawesi Selatan tahun 2013. 3, 107- Apa yang anda ketahui tentang merawat
113 pasien Stroke. Yogyakarta : PT Citra Aji
Keliat, Budi Anna. (2008). Perawatan Pratama
Kesehatan Jiwa. Jakarta : Erlangga Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G.
ww.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed (2008). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Lanny Sustrani, Syamsir Alam, Iwan bedah Edisi 8 Volume 3. Jakarta : EGC
Hadibroto. (2006). Stroke. Jakarta : Sugiyono. (2010). Metode Penelitian
PT Gramedia Putaka Utama Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung
Mulyatsih, E. (2008). Petunjuk perawatan : Alfabeta
pasien pasca stroke di rumah. Jakarta: Sunaryo. (2009). Psikologi untuk
Balai penerbit FKUI keperawatan. Jakarta : EGC
Nasional Clinical Guideline for diagnosis Sutrisno, Alfred. (2007). Stroke : You Must
and initial for Management of Acute Know Before You Get. Jakarta : PT
Stroke and Transient Ischemic Attact. Gramedia
RoyalCollege of Physicians. London. Stein, J.,Harvey, RL., Macko RF., Winstein,
2008 CJ., Zorowitz, RD. 2009. Stroke
Nuartha. 2008. Penanganan Terkini Stroke Recovery and Rehabilitation. USA :
. Laboratorium Neurologi Fakultas Demosmedpud. Jurnal Ners Vol.7,(I) :
Kedokteran Universitas Udayana. 13.
Denpasar. Syairi Abu. 2013. Tingkat pengetahuan
Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan keluarga tentang self care pada anggota
metodologi penelitian ilmu keluarga yang mengalami stroke di RSU
keperawatan, Edisi 2 pedoman Tanggerang. Jakarta. UIN Syarif
Skripsi, Tesis, dan Instrumen Hidayatullah.
Penelitian Keperawatan. Jakarta : Valery. (2006). Stroke, panduan bergambar
Salemba Medika. tentang pencegahan dan pemulihan
Purwanto. 2008. “Faktor-Faktor Yang Stroke. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer
Berhubungan Dengan Keterlambatan Wiratna. (2015). SPSS untuk penelitian.
Penderita Serangan Stroke Datang Ke Yogyakarta : Pustaka Baru
Rumah Sakit”. SKRIPSI. Wirawan Narakusuma & Ida Bagus. 2012.
UNIVERSITAS AIRLANGGA. Manajemen Prehospital Pada Stroke
Surabaya. Akut. Denpasar. UNIVERSITAS FK
Potter, P.A, Perry, A.G. (2005). Buku Ajar UDAYA.
Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik edisi 4 Volume 2.
Jakarta : EGC