Anda di halaman 1dari 15

BAB II

KONSEP DASAR

A. Definisi
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). Dorlan (2002), AIDS
adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV,
yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan
mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual,
penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah
lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.
Menurut Center for Disease Control and Prevention, AIDS merupakan bentuk
paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda
dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai
infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang
terjadi.
B. Etiologi
WHO (2003), Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di
antaranya ;
1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual).
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
3. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin
dengan orang yang terinfeksi HIV.
5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti
setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik
yang terkontaminasi.
C. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Manifestasi Klinis Mayor
a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus
c. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan
d. TBC
2. Manifestasi Klinis Minor
a. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
b. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
c. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
d. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh

D. Patofisiologi
HIV merupakan retrovirus yang ditransmisikan dalam darah, sperma, cairan
vagina, dan ASI. Cara penularan telah dikenal sejak 1980-an dan tidak berubah yaitu
secara; seksual hubungan seksual, kontak dengan darah atau produk darah, eksposur
perinatal, dan menyusui. HIV muncul sebagai epidemic global pada akhir tahun 1970.
Pada tahun 2007 diperkirakan 33 juta orang diseluruh dunia hidup dengan HIV, 2 juta
orang meninggal dari komplikasi AIDS, dan 15 juta anak-anak menjadi yatim piatu
akibat kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka karena AID (Bradly, 2011)
Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit
yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan, tempat keluar
kuman dan tempat masuk kuman (port’d entrée) ( Siregar, 2004).
Begitu HIV memasuki tubuh, serum HIV menjadi positif dalam 10 minggu
pertama pemaparan. Walaupun perubahan serum secara total asimptomatik, perubahan
ini disertai viremia, respons tipe-influenza terhadap infeksi HIV awal. Gejala meliputi
demam, malaise, mialgia, mual, diare, nyeri tenggorok, dan ruam dan dapat menetap
selama dua sampai tiga minggu ( Bradly,2011).
Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak
sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai
vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang
lain adalah berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya
semen, cairan vagina atau servik dan darah penderita( Siregar, 2004).
HIV yang masuk ke dalam tubuh dapat menginfeksi sel yang mempunyai
molekul CD4 ( limfosit T4, monosit, sel dendrit, sel langerhans) kemudian mengikatnya
dan menghancurkannya, sehingga daya tahan tubuh turun dan menyebabkan infeksi
oportunistik. Dari infeksi oportunistik inilah berbagai sistem dalam tubuh terganggu.
Diantaranya pada sistem pernapasan terjadinya peradangan pada jaringan paru yang di
tandai dengan sesak napas dan demam dimungkinkan batuk juga menyebabkan gangguan
pertukaran gak yang tidak efektif dan bersihan jalan nafasnyapun ikut terganggu. Pada
sistem pencernaan, jamur yang menyebabkan peradangan pada mulut serta infeksi pada
usus mengakibatkan gangguan pada peristaltik usus kemungkinan pada penderita sering
dijumpai kesulitan menelan, gangguan nutrisi diare kronis yang mengakibatkan
kekurangan volume cairan pada penderita. Pada sistem neurologis virus yang masuk
menginfeksi SSP dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita, kejang dan nyeri kepala
sering dijumpai.
E. Cara Penularan Dari Ibu-Anak
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS
sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang
terjadi pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari
suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti
pasangan dan gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:
1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini
disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu
sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus
plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV.
Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta
selama kehamilan.
b. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat
itu.
c. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
d. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi
untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.
2. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika
dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau
kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal
saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko
penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan
section caesaria.
Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama
proses persalinan adalah:Lama robeknya membran.
a. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya)
b. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu
misalnya, episiotomi.
c. Anak pertama dalam kelahiran kembar
3. Periode postpartum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI.
Berdasarkan data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui
bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang
tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
a. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang
berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
b. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan
infeksi payudara lainnya.
c. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
d. Status gizi ibu yang buruk
F. Faktor Resiko
Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV sebagai berikut :
1. Janin dengan ibu yang terjangkit HIV
2. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
3. Pekerja seks komersial
4. Pasangan yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin
G. Pemeriksaan Penunjang
1. VCT (Voluntary Counseling Testing)
VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus
antara konselor dan kliennya untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan
moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga , dan
lingkungannya. Tujuan VCT :
a. Upaya pencegahan HIV/AIDS.
b. Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka
tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV.
c. Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan
mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi
antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat.
2. Pemerikasaan Laboratorium
a. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi
HIV.
b. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi
HIV dan memastikan seropositifitas HIV.
c. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk
memastikan seropositifitas.
d. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
e. Pendeteksian HIV
f. Pemeriksaan histologis, sitologis urin ,darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi.
g. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
h. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV
tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal
pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy; branskokopi.
i. Pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk mengevaluasi efek
anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus (viral
burden).
H. Pathway
Etiologi
 Darah
 Seks HIV masuk ke dlm tubuh
 Odha
 transfusi Menginfeksi sel yang mempunyai moleku;l CD4
(limfosit T4, monosit, sel dendrit, sel langerhans)

Mengikat molekul CD4

Memiliki sel target dan memproduksi virus

Sel T hancur & imunitas

Infeksi oportunistik

s.pernapasan s. Pencernaan s. Integumen s. neurologi

perdngan paru infeksi jamur peristaltik m infeksi o/ herpes infeksi SSP

sesak, demam peradgn mulut diare kronis gatal& nanah p ksdran, kejang, nyeri kpl

sulit menelan, mual cairan output>> gg. integritas klt Perubahan


gg pertukaran gas

intake kurang bibir kering, turgor << proses pikir

Gg. perubahan nurtisi Kek. Cairan & gg. rasa nyaman


elektrolit
( nyeri)
Gg eliminasi
I. Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu :
1. Pengendalian infeksi oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti,
nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di lingkungan
perawatan yang kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV denngan menghambat enzim pembalik
transcriptase.
3. Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas system immune dengan menghambat replikasi virus
atau memutuskan rantai reproduksi virus padan proses nya.obat- obat ini adalah :
didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
4. Vaksin dan rekonstruksi virus
Vaksin yang digunakan adalah interveron.
5. Menghindari infeksi lain
Infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi HIV.
6. Rehabilitasi
Bertujuan untuk memberi dukungan mantal-psikologis, membantu mengubah perilaku
risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara
hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh sehat.
7. Pendidikan Kesehatan
Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari
stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imunne. Edukasi ini
juga bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan
ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.
J. Pencegahan
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan
bisa dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara
tersebut yaitu:
1. Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi
yang baru dilahirkan.
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga
jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk
menularkan HIV. Resiko penularan akan sangat rendah (1-2%) apabila terapi ARV
ini dipakai. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan,
ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini. AZT dan 3TC dipakai
selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir.
Satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi
diberi pada bayi 2–3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama
persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi
terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai
satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai
kemudian oleh ibu. Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui.
Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.
2. Penanganan obstetrik selama persalinan
Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena
metode ini terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%.
Apabila pembedahan ini disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka
resiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian, pembedahan ini juga
mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa memperlambat
penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus
dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
3. Penatalaksanaan selama menyusui
Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan
ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa ± 14
% bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS PADA IBU HAMIL

A. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan secara
keseluruhan. Pengkajian terdiri dari tiga tahapan yaitu pengumpulan data,
pengelompakan data atau analisa data dan perumusan diagnose keperawatan (Depkes
RI, 1991 ).
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun imformasi (data-data)
dari klien. Data yang dapat dikumpulkan pada klien yaitu data sebelum dan selama
kehamilan yaitu:
a. Identitas pasien
b. Riwayat Kesehatan
1) Masa lalu
Riwayat menggunakan obat-obatan, jarum suntik, riwayat perilaku beresiko
tinggi, riwayat transfusi darah,
2) Sekarang
Tes HIV (+).
3) Reproduksi
Riwayat pernikahan.
c. Keluhan Utama: nyeri, demam
d. Data Psikologi
Kondisi ibu hamil dengan HIV /AIDS takut akan penularan pada bayi yang
dikandungnya. Bagi keluarga pasien cenderung untuk menjauh sehingga akan
menambah tekanan psikologis pasien.
e. Pemeriksaan fisik
1) Breathing
Kaji pernafasan bumil, apabila ibu telah terinfeksi sistem pernafasan maka
sepanjang jalur pernafasan akan mengalami gangguan. Misal, RR meningkat,
kebersihan jalan nafas.
2) Blood
Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan virus HIV/AIDS. Penurunan sel T
limfosit; jumlah sel T4 helper; jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan
sel T4; peningkatan nilai kuantitatif P24 (protein pembungkus HIV);
peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase untuk
mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer
monoseluler; serta tes PHS (pembungkus hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV
mungkin positif).
3) Brain
Tingkat kesadaran bumil dengan HIV/AIDS terkadang mengalami penurunan
karena proses penyakit. Hal itu dapat disebabkan oleh gangguan imunitas pada
bumil.
4) Bowel
Keadaan sisitem pencernaan pada bumil akan mengalami gangguan.
Kebanyakan gangguan tersebut adalah diare yang lama. Hal itu disebabkan
oleh penurunan sistem imun yang berada di tubuh sehingga bakteri yang ada di
saluran pencernaan akan mengalami gangguan. Hal itu dapat menyebabkan
infeksi saluran pencernaan.
5) Bladder
Kaji tingkat urin klien apakah ada kondisi patologis seperti perubahan warna
urin, jumlah dan bau. Hal itu dapan mengidentifikasikan bahwa ada gangguan
pada sistem perkemian. Biasanya saat imunitas menurun resiko infeksi pada
uretra klien.
6) Bone
Kaji respon klien, apakah mengalami kesulitan bergerak,reflek pergerakan.
pada ibu hamil kebutuhan akan kalsium meningkat,periksa apabila ada resiko
osteoporosis. Hal itu dapat memburuk dengan bumil HIV/AIDS.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b.d diare berat
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan (
muntah dan diare berat )
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup
yang beresiko.
4. Nyeri b.d infeksi
5. Kerusakan integritas kulit b.d diare berat
C. Intervensi
1. Kekurangan volume cairan b.d diare berat
Tujuan : Mempertahankan hidrasi
Intervensi Rasional
Pantau tanda-tanda vital, termasuk CVP Pantau tanda-tanda vital, termasuk
bila terpasang. Catat hipertensi, termasuk CVP bila terpasang. Catat hipertensi,
perubahan postural. termasuk perubahan postural.
Catat peningkatan suhu andurasi demam. Meningkatkan kebutuhan metabolism
Berikan kompres hangat sesuai indikasi. dan diaphoresis yang berlebihan yang
Pertahankan pakaian tetap kering. dihubungkan dengan demam dalam
Pertahankan kenyamanan suhu meningkatkan kehilangan cairan
lingkungan.
Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan Indikator tidak langsung dari status
rasa haus. cairan
Ukur haluan urine dan berat jenis urine. Peningkatan berat jenis
Ukur/kaji jumlah kehilangan diare. Catat urin/penurunan haluaran urin
kehilangan kasat mata menunjukkan perubahan perfusi
ginjal/volume sirkulasi. Catatan :
pemantauan keseimbangan sulit
karena kehilangan melalui
gastrointestinal/ tak kasat mata.
Timbang berat badan sesuai indikasi Meskipun kehilangan berat badan
dapat menunjukkanpenggunaan otot,
fluktuasi tibatiba menunjukkan status
hidrasi. Kehilangan cairan berkenaan
dengan diare dapat dengan cepat
menyebabkan krisis dan mengancam
hidup.
Pantau pemeriksaan oral dan memasukan Mempertahankan keseimbangan
cairan sedikitnya 2500ml/hari cairan, mengurangi rasa haus, dan
melembabkan membrane mukosa
Hilangkan yang potensial menyebabkan Mungkin dapat mengurangi diare.
diare, yakni yang pedas/makanan
berkadar lemak tinggi, kacang, kubis,
susu. Mengatur kecepatan/konsentrasi
yang diberikan perselang, jika diperlukan.
Buat cairan mudah diberikan pada pasien; Meningkatkan pemasukan. Cairan
gunakan cairan yang mudah ditoleransi tertentu mungkin ter rlalu
oleh pasien dan yang mengandung menimbulkan nyeri untuk dikonsumsi
elektrolit yang dibutuhkan, mis., (misal, jeruk asam) karena lesi pada
Gatorade, air daging mulut.

2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan (
muntah dan diare berat.
Tujuan:
a. mempertahankan massa otot yang adekuat
b. mempertahankan berat antara 0,9-1,35 kg dari berat sebelum sakit
Intervensi Rasional
Tentukan berat badan umum sebelum Penurunan berat badan dini bukan
pasien didiagnosa HIV ketentuan pasti grafik berat badan
dan tinggi badan normal. Karenanya
penentuan berat badan terakhir
dalam hubungannya berat badan dan
pra-diagnosa lebih bermanfaat.
Buat ukuran antropometri terbaru. Membantu memantau penurunan
dan menentukan kebutuhan nutrisi
sesuai dengan perubahan penyakit.
Diskusikan/catat efek-efek samping Identifikasi dari faktor-faktor ini
obat-obatan terhadap nutrisi. dapat membantu merencanakan
kebutuhan individu. Pasien dengan
infeksi HIV menunjukkan deficit
mineral renik zinc, magnesium,
selenium. Penyalahgunaan alcohol
dan obat-obatan dapat mengganggu
asupan adekuat.
Sediakan informasi ,mengenai nutrisi Umunya obat-obatan yang
dengan kandungan kalori, vitamin, digunakan menyebabkan anoreksia
protein, dan mineral tinggi. Bantu dan mual/muntah; beberapa
pasien merencanakan cara untuk mempengaruhi produksi SDM
mempertahankan/menentukan sumsum tulang.
masukan.
Tekankan pentingnya Memiliki informasi ini dapat
mempertahankan membantu pasien memahami
keseimbangan/pemasukan nutrisi pentingnya diet seimbang.
adekuat. Sebagaian pasien mungkin akan
mencoba diet makrobiotik maupun
diet jenis lain.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup
yang beresiko.
Intervensi Rasional
1. Monitor tanda-tanda infeksi baru. Pemantauan lebih awal dapat mencegah
infeksi
2. gunakan teknik aseptik pada setiap Mengurangi resiko infeksi
tindakan invasif. Cuci tangan sebelum
meberikan tindakan.

3. Anjurkan pasien metoda mencegah Mengurangi resiko infeksi


terpapar terhadap lingkungan yang
patogen.

4. Atur pemberian antiinfeksi sesuai Meningkatkan daya tahan tubuh


order

4. Nyeri b.d infeksi


Tujuan: Pasien bisa mengontrol nyeri/rasa sakit
Intervensi Rasional
Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, Mengindikasikan kebutuhan untuk
intensitas (skala 1-10), frekuensi, dan intervensi dan juga. Tanda-tanda
waktu. Menandai gejala nonverbal misal perkembangan/ resolusi komplikasi.
gelisah, takikardia, meringitas. Catatan: sakit yang kronis tidak
menimbulkan perubahan autonomik.
Dorong pengungkapan perasaan. Dapat mengurangi ansietas dan rasa
takut, sehingga mengurangi persepsi
akan intensitas rasasakit.
Berikan aktivitas hiburan, mis., membaca, Memfokuskan kembali perhatian;
berkunjung, dan menonton televisi. mungkin dapat meningkatkan
kemampuan untuk menanggulangi.
Lakukan tindakan paliatif, mis., Meningkatkan relaksasi/menurunkan
pengubahan posisi, masase, rentang gerak tegangan otot.
pada sendi yang sakit.
Berikan kompres hangat/lembab pada sisi Injeksi ini diketahui sebagai penyebab
injeksi pentamidin/IV selama 20 menit rasa sakit dan abses steril.
setelah pemberian.
Instruksikan pasien/dorong untuk Meningkatkan relaksasi dan perasaan
menggunakan visualisasi/bimbingan sehat. Dapat menurunkan kebutuhan
imajinasi, relaksasi progresif, teknik napas narkotik analgesik (depresan SSP)
dalam. dimana telah terjadi proses degenaratif
neuro/motor. Mungkin tidak berhasil jika
muncul demensia, meskipun minor.
Berikan perawatan oral. Ulserasi/lesi oral mungkin menyebabkan
ketidak nyamanan yang sangat.

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan diare berat.


Tujuan: Pasien menunjukkan perbaikan integritas kulit
Intervensi Rasional
Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor,
Menentukan garis dasar diamana
sirkulasi, dan sensasi. lambarkan lesi danperubahan pada status dapat
amati perubahan. dibandingkan dan melakukan intervensi
yang tepat.
Secara teratur ubah posisi, ganti seprei Mengurangi stress pada titik tekannan,
sesuai kebutuhan. Dorongn pemindahan meningkatkan aliran darah ke jaringan
berat badan secara periodik. Lindungi dan meningkatkan proses kesembuhan.
penonjolan tulang dengan bantal, bantalan
tumit/siku, kulit domba.
Pertahankan seprei bersih, kering, dan Fiksasi kulit disebabkan oleh kain yang
tidak berkerut berkerut dan basah yang menyebabkan
iritasi dan potensial terhadap infeksi.

Gunting kuku secara teratur. Kuku yang panjang/kasar meningkatkan


risiko kerusakan dermal.

D. Evaluasi
1. Pasien menunjukkan tingkah laku/teknik untuk mencegah kerusakan
kulit/meningkatkan kesembuhan.
2. Menunjukkan kemajuan pada luka/penyembuhan lesi.
3. Keluhan hilangnya/terkontrolnya rasa sakit
4. Menunjukkan posisi/ekspresi wajah rileks
5. Dapat tidur/beristirahat adekuat
6. Membran mukosa pasien lembab, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, haluaran
urine adekuat
7. menunjukkan nilai laboratorium dalam batas normal
8. melaporkan perbaikan tingkat energy
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2007. Rencana Nasional Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia 2007-2010. Jakarta:


Komisi Penanggulangan AIDS di unduh pada tanggal 25 november 2013

Bradley-Springer L, Lyn S, Adele W. Every Nurse Is an HIV Nurse. AJN 2010;110(3):33-39. Di


unduh pada tanggal 25 novenber 2013

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta. EGC.

Hartati N, Suratiah, Iga OM. Ibu hamil dengan HIV-AIDS. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan.
2009:2:1.

Siregar FA. Pengenalan dan Pencegahan HIV-AIDS. Medan. Universitas Sumatera Utara, 2004.

Nursalam dan dwi,Ninuk. 2008. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta:
Salemba medika.

Yasmine Flores, Swabina.2007. Anak dan HIV/AIDS. Jakarta