Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berfikir sistem adalah suatu proses untuk memahami suatu
fenomena dengan tidak hanya memandang dari satu atau dua sisi
tertentu. Dalam berfikir sistem ini, juga dapat dilihat adanya satu
kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen seperti atasan,
bawahan, klega, dan pihak terkait lainnya. Masing-masing komponen
ini memiliki kontribusi terhadap tujuan sistem. Namun perlu disadari
bahwa satu bagian komponen tidak akan dapat berdiri sendiri dalam
mencapai tujuan organisasi. Dalam hal ini, interaksi, kerja sama, dan
komunikasi yang baik antarkomponen, antarpimpinan, bawahan,
kolega, dan yang lainnya, mutlak dibutuhkan.
Dilihat dari manfaat pemikiran sistemik, pemikiran sistemik sangat
penting untuk diterapkan dalam dunia kesehatan. Masukan (input)
dalam pelayanan kesehatan adalah masyarakat yang membutuhkan
pelayanan kesehatan. Dalam proses pelayanan kesehatan erat
kaitannya dengan pemerintah, sistem kesehatan, infrastruktur
kesehatan, peratuaran dan panduan, dan sebagainya. Hasil
pelayanan kesehatan mencakup status kesehatan masyarakat dan
ketersediaan pelayanan kesehatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang di maksud dengan berfikir sistem ?
2. Bagaimana cara pengaplikasikan berfikir system ?
C. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami apa itu berfikir sistem
2. Mengetahui, memahami dan mengaplikasikan cara berfikir
sistem

1
BAB II

PEMBAHASAN

Menurut Ludwig von Bertalanfy, penggagas General System


Theory, menyatakan “system is an entity that maintains its existence
through the mutual interaction of its parts to achieve”. Secara bebas dapat
diartikan sistem adalah suatu entitas yang berusaha menjaga
keberadaannya dengan melakukan hubungan yang menguntungkan
dengan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan. Bertalanfy
mendefinisikan sistem dengan berfokus pada entitas, yaitu suatu obyek
atau benda (hidup atau mati), eksistensi, dan tujuan. Sistem pelayanan
kesehatan di klinik berusaha mencapai tujuan yaitu mencapai efisiensi
yang optimal dengan melakukan koordinasi antar bagian dari pelayanan di
klinik seperti poli dokter umum, radiologi, laboratorium klinik, keuangan,
administrasi, dan pemasaran (Battle-Fisher, 2015).
Definisi sistem menurut World Health Organization (WHO)
menekankan pada suatu pendekatan dalam memecahkan masalah.
Dalam laporan tentang aplikasi Berfikir Sistem dalam sistem kesehatan,
WHO (2009) mendefinisikan sistem sebagai berikut: “an approach to
problem solving that views "problems" as part of a wider, dynamic
system”. Terjemahan secara bebas definisi tersebut adalah sistem
merupakan suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dengan
“masalah” sebagai bagian dari masalah yang lebih luas yang besifat
dinamis. Misalnya masalah kepatuhan ibu hamil dalam menjalankan
pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care/ANC) merupakan bagian dari
masalah sosial dan budaya yang ada di keluarga dan wilayahnya. Artinya
masalah kepatuhan itu bukan hanya dilekatkan pada si ibu hamil sendiri.
Penyebaran penyakit leptospirosa merupakan masalah yang diturunkan
dari masalah lingkungan dan ekologis yang lebih luas seperti kebiasaan
buang sampah, banjir, lingkungan kumuh dan sebagainya.

2
Berpikir sistem (sistem thinking) merupakan disiplin dan
keterampilan yang menjadi landasan konseptual bagi membangun
organisasi pembelajaran dan menghadapi kerumitan dinamis yang
semakin meningkat.
Untuk bisa berpikir sistem perlu diingat sedikitnya delapan hal
berikut :
1. Setiap sistem mempunyai tujuan yang jelas.
2. Sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari komponen-
komponen.
3. Masing-masing komponen berkontribusi pada tujuan sistem, namun
satu bagian tidak dapat secara mandiri mencapai tujuan sistem.
4. Masing-masing bagian mempunyai tujuan yang berbeda, tetapi
ketika berhubungan dengan seluruh sistem, bagian-bagian tersebut
saling tergantung.
5. Kita dapat mengerti suatu bagian dengan melihat bagaimana
bagian tersebut berperan dalam sistem-kita tidak dapat mengerti
sistem dengan mengidentifikasi setiap bagian atau hanya dengan
mengumpulkan saja bagian-bagian tersebut
6. Melihat interaksi di antara bagian-bagian tersebut dapat membantu
kita untuk mengerti bagaimana sistem bekerja
7. Untuk mengerti sistem kita harus mengerti tujuannya, interaksi
yang terjadi dan kesalingtergantungan di antara bagian-bagiannya,
serta ketergantungannya pada sistem yang lain
Berfikir sistem (system thinking) mulai dikembangkan pada awal
abad 20 dan pertama kali diaplikasikan pada bidang Teknik, Ekonomi, dan
Ekologi. Masalah pada bidang kesehatan lambat laun disadari memiliki
karakteristik yang kompleks dan seperti fenomena gunung es. Akhirnya
berfikir sistem baru diterapkan awal tahun 2000an yaitu diaplikasikan pada
masalah- masalah kesehatan seperti tobacco control, obesitas, dan TBC.
Berfikir sistem bukanlah metode yang harus dijalani secara runut
dan baku, namun merupakan sebuah karakter atau perilaku yang

3
mencerminkan pemecahan masalah secara menyeluruh. Manurut Battle-
Fisher (2015) dalam bukunya yang berjudul Application of System
Thinking to Health Policy and Public Health Ethics menyatakan ada
delapan karakteristik berfikir sistem yaitu:
1. Memandang masalah secara keseluruhan;
2. Cenderung mendorong pada kemajuan;
3. Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;
4. Lebih memperhatikan jangka panjang;
5. Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;
6. Sebelum membuat keputusan, kadang menyertakan atau
mempertimbangkan sesuatu yang paradoks (tidak biasa);
7. Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem
8. Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem.
Sementara itu WHO dalam laporannya yang berjudul Systems
Thinking for Health Systems Strengthening, membanding dua pendekatan
antara pendekatan umum (usual approach) dengan pendekatan berfikir
sistem (system thinking approach). Lihat tabel 1 berikut.

Tabel 1. Perbandingan Usual Approach dan Systems Thinking Approach

USUAL APPROACH SYSTEMS THINKING APPROACH


 Static thinking: hanya
 Dynamic thinking: melihat masalah sebagai
fokus pada sebagian
akibat dari pola perilaku sepanjang masa
masalah
 Systems-as-effect
thinking: melihat perilaku  Systems-as-cause thinking: berupaya agar
yang terjadi dalam sistem perilaku dalam sistem memberikan pengaruh
merupakan akibat dari positif bagi lingkungan
lingkungan
 Tree-by-tree thinking:
 Forestthingking:meyakinibahwauntuk
meyakini bahwa untuk
memahami sesuatu adalah dengan
memahami sesuatu adalah
memahami konteks masalah secara
dengan mengetahui setiap
keseluruhan
detail dari masalah
 Factors thinking:  Operational thinking: berfokus pada akibat
mengidentifikasi faktor- dari masalah dan memahami bagaimana hal
faktor yang mempengaruhi tersebut bisa terjadi

4
dan berhubungan dengan
suatu masalah
 Straight-line thinking:
memandang sebab- akibat
 Loop thinking: memandang sebab-akibat
terjadi dalam satu arah,
terjadi dalam proses yang selalu berjalan
tanpa memperhatikan
ketergantungan antar faktor

Terdapat dua piranti untuk berpikir sistemis, yaitu sebagai berikut :


1. Causal loop diagram
Berpikir sistem dinamis, dasarnya adalah berpikir sebab
akibat. Akibat yang ditimbulkan bias positif dan bias negative. Untuk
menyeimbangkan akibat negative perlu ada penguatan
(reinforcement) dan penyeimbangan (balancing). Timbulnya akibat,
bias terjadi ketertundan (delay) yang diberi symbol dua garis
sejajar.
Berpikir sistemis mengikuti beberapa perpaduan
berpikir,antara lain sebagai berikut :
a. Focus pada hubunga-hubungan antarbagian daripada bagan-
bagian iu sendiri
b. Mengunakan kausalitas melingkar karena kausalitas jarang
sekali yang satu arah
c. Melihat pola, bukan melihat kejadian ataupun peristiwa
d. Melihat keseluruhan atau holistic
2. Stock dan flow diagram (diagram level and rate)
Dalam diagram stock and flow ini hanya terdapat dua
macam variable dalam suatu sistem. Artinya, melihat satu variable
dalam sistem berarti melihat segala sesuatu dari salah satu variable
tersebut. Dalam manajemen, unsur utama yang memerlukan
perhatian adalah sumber daya, tindakan, motivasi dan keadaan.
Sumber daya sebagai akumulasi (level,stock) , tindakan sebagi
rate/flow, dan keadaan sebagai pengaruh.
Dalam berpikir sistemis ,terdapat suatu pola dasar sistem

5
(Iarchetype). Tujuannya pola dasar ini adalah menemukan struktur
dan pengungkit yang terjadi dalam sistem. Jika pola dasar diketahui
akan menunjukkan wilayah pengungkit perubahan baik yang tinggi
maupun rendah. Pola dasar ini terbentuk dari bangunan dasar
sistem (sistem building blocks), yaitu proses penguatan, proses
penyeimbangan, dan keterlambatan atau penundaan.
Dalam proses pelayanan kesehatan erat kaitannya dengan
pemerintah, sistem kesehatan, infrastruktur kesehatan, peratuaran dan
panduan, dan sebagainya. Hasil pelayanan kesehatan mencakup status
kesehatan masyarakat dan ketersediaan pelayanan kesehatan.
1. Elemen Pelayanan Kesehatan
Yaitu masyarakat (penerima pelayananan kesehatan) dan
pemerintah (penyedia pelayanann kesehatan) yang saling
berinteraksi. Dari elemen pemerintah dapat dijabarkan yaitu
kewenangan, fungsi, keahlian, kemampuan, minat, dsb.
Masyarakat yaitu kebutuhannya, tingkat kemampuannya, aspirasi,
dsb. Elemen interaksi yaitu isi interaksi, apa yang diberikan
pemerintah dan masyarakat, alat-alat yang dipakai, metode yang
dipakai, status kesehatan masyarakat sebagai hasil interaksi, dsb.
2. Saling hubungan antar elemen
Pelayanan kesehatan dapat terjadi apabila elemen-elemen
yang ada dalam usaha pelayanan kesehatan saling bergerak dan
saling berkaitan secara fungsional yang merupakan suatu kesatuan
organisasi.
3. Pencapaian tujuan yang diinginkan
Keberadaan sistem kesehatan adalah untuk mencapai
tujuan sistem kesehatan secara efektif dan efisien.
4. Sistem kesehatan dalam kerangka yang lebih luas
Sistem kesehatan sebagai suatu sistem dapat ditinjau
secara mikro yaitu pelayanan kesehatan merupakan sistem yang
menyangkut tenaga medis dan pasien yang terikat dalam hubungan

6
dokter dan pasien dan secara makro yaitu sistem kesehatan
menyangkut berbagai hal selain masyarakat (penerima pelayanan
kesehatan), pemerintah (penyedia pelayanan kesehatan), dan
interaksi antar keduanya, juga melibatkan sistem politik, sistem
ekonomi, sistem pendidikan, dan sistem – sistem lainnya.

Dalam bukunya Peter M. Senge, learning organization,


Fokus perhatian sesuai dengan judul bukunya adalah the fifth
disipline atau disiplin ke lima, yaitu berfikir sistemik (systems
thinking), merupakan fundamen utama dari proses learning
organization. Disiplin ini juga merupakan dasar dari bekerjanya ke-
4 disiplin lainnya bagi terbangunnya learning organization. Menurut
Senge system thinking is the discipline that integrates the
discipline, fusing them into a coherent body of theory and practice.
Konsep tentang disiplin sebagaimana dikemukakan Peter M.
Senge tidak mengenal istilah arrive, setiap waktu sesungguhnya
adalah tahap-tahap dalam suatu proses perubahan menuju kondisi
lebih baik atau lebih buruk. Perubahan ke arah lebih baik hanya
dapat terjadi, jika kemampuan kolektif SDM organisasi lebih tinggi
dari kemampuan individu, atau gabungan individu-individu.
Kemampuan kolektif ini dibangun melalui dialog, yaitu proses
saling belajar di antara anggota-anggota organisasi.
Peter Sange mengidtrodusir 11 HUKUM dasar dalam
berfikir sistem, yaitu:
1. Today’s problems come from yesterday’s “solutions”.
Solusi cenderung dirancang dari pemahaman secara parsial
dan konsekuensinya tindakan pemecahannya pun bersifat
parsial. Berfikir sistem adalah berfikir waspada bahwa seringkali
tidak disadari bahwa tindakan yang kita ambil acapkali hanyalah
sekedar solusi memindahkan masalah dari satu bagian ke
bagian lain dalam suatu sistem. Tidak tertutup kemungkinan

7
bahwa solusi ini justru menjadi problem kelak di kemudian hari.
Masalahnya menjadi rumit karena boleh jadi orang yang
mengambil keputusan pertama berbeda dengan orang yang
memecahkan berikutnya.
2. The harder you push the system, the harder the system pushes
back.
Dalam systems thinking sering dijumpai fenomena
“compensating feedback, yakni situasi dimana intervensi
apapun yang diarahkan pada suatu sistem akan mengundang
respon dari sistem tersebut, yang justru akan mengurangi
makna intervensi itu sendiri. Bahkan tidak mustahil bila lebih
banyak upaya kita untuk memperbaiki suatu keadaan, justru
akan dibutuhkan lebih banyak usaha lagi.
3. Behavior grows better before it grows worse.
Perilaku cenderung membaik dahulu sebelum kemudian
memburuk. Bekerjanya sistem seringkali ditandai oleh apa yang
disebut “penundaan” (delay), yakni jurang antara keuntungan
jangka pendek dengan keuntungan jangka panjang. Solusi
tertentu sepertinya bagus, tetapi sebenarnya ini hanyalah
menyentuh kejadian-kejadian yang tampak. Boleh jadi hal yang
membaik dalam jangka pendek ini justru memicu problem baru
di masa mendatang. Inilah sulitnya memahami perilaku sistem.
4. The easy way out usually leads back in.
Jalan keluar yang cepat biasanya menceburkan kembali kita
ke masalah yang utama. Kaidah ini mengingatkan kita bahwa
solusi yang sepertinya baik dan mudah dikenali bisa jadi
menjumpai masalah fundamental yang tetap belum
terpecahkan.
5. The cure can be worse than the disease.
Penyembuhan boleh jadi lebih memperburuk keadaan
dibanding penyakitnya sendiri. Inilah kaidah yang umum.

8
Apapun tindakan kita tentu saja mempunyai dampak. Bila
ternyata tindakan kita tidak menyentuh akar masalah, boleh jadi
akar masalah ini justru lebih memperburuk akibat tindakan kita
tersebut.
6. Faster is slower.
Lebih cepat justru lebih lambat. Sistem memang mempunyai
karater unik seperti ini. Bagaimana pun ada batas-batas
pertumbuhan dari mekanisme suatu sistem. Manakala
pertumbuhan dalam sistem tersebut berlebihan, sistem itu
sendiri akan melakukan koreksi dengan menumbuhkan cara-
cara yang memperlambat pertumbuhan itu sendiri.
7. Cause and effect are closely related in time and space.
Antara sebab dan akibat seringkali tidak langsung
berhubungan pada konteks ruang dan waktu tertentu. Sering
kita berfikir bahwa tindakan terbaik menghadapi kurang pangan
adalah menambah supply pangan, tindakan terbaik menghadapi
kurang rumah adalah membangun lebih banyak rumah, dst.
Dalam berfikir sistem kita harus berfikir apa yang menjadi
penyebab mendasar adanya selisih antara kebutuhan pangan
dengan ketersediaan pangan, apakah laju pertumbuhan
penduduk ataukah sikap mental budaya yang menomorsatukan
jumlah anak, ataukah pergeseran pola makan dan berbagai
alternatif jawaban lainnya.
8. Small changes can produce big results but the areas of highest
leverage are often the least obvious.
Perubahan kecil sering mempunyai hasil yang besar, tetapi
daya ungkit yang terbesar acapkali tidak mudah dikenali.
Karakter sistem seringkali memang terasa aneh terutama
karena kita sudah terbiasa berfikir liniear. Solusi yang baik
jangka pendek seringkali mengundang masalah dalam jangka
panjang, tetapi tindakan kecil justru sering mempunyai andil

9
yang besar bila memang ditempuh pada waktu dan tempat yang
tepat. Inilah yang disebut daya ungkit (leverage). Yang sulit
memang menemukan daya ungkit ini.
9. You can have your cake and eat it too but not at once.
Kita bisa memperoleh kue dan dapat menikmatinya, tetapi
tidak sekaligus. Kaidah ini mengingatkan kita bahwa sering kita
memandang sesuatu sebagai dilemma. Tetapi sebenarnya hal
ini bukanlah dilema yang sesungguhnya. Hal ini mungkin
disebabkan karena kita terpaku pada gejolak sesaat bukannya
melihat pada proses perilaku dalam kerangka bentangan waktu
tertentu. Bila kita dapat mengamati proses perubahan secara
seksama, kita akan dapat mengidentifikasi masalah yang
sesungguhnya; dengan demikian kita dapat merancang
tindakan yang tepat.
10. Dividing an elephent in half does not produce two small
elephants.
Membagi gajah menjadi dua tidak akan menghasilkan dua
gajah kecil. Kaidah ini mengingatkan kita bahwa memahami
sistem haruslah memahami keseluruhan. Memang memahami
keseluruhan gajah tidak harus memahami semua isu organisasi
gajah. Yang harus menjadi perhatian kita adalah interaksi atas
faktor-faktor kunci yang terjadi secara sistemik. Dengan
demikian memang kita perlu mempunyai pembatasan interkasi
apa saja yang harus dianalisis. Karena itulah ada pembatasan
(system boundary).
11. There is no blame.
Tidak ada gunanya menyalahkan. Kaidah ini mengingatkan
kita untuk tidak mudah mencari kambing hitam. System thinking
mengingatkan bahwa tidak ada orang luar bahwa kita dan
penyebab problem kita, ada dalam satu jalinan sistem.

10
Disipilin-Disiplin Yang Mendasari System Thinking

1. Disiplin kesatu, Personal Mastery.

Personal Mastery merupakan disiplin pertama dari learning

organization.Learning organization hanya terjadi apabila anggota-

anggota organisasi terus menerus belajar, mengembangkan

keterampilan dan kompetensinya. Memang dengan adanya

anggota organisasi yang belajar, belum tentu secara otomatis akan

terjadi learning organization. Namun tanpa anggota organisasi yang

belajar tidak akan terjadi learning organization. Karena itu,

organisasi perlu menciptakan iklim mendorong anggota-

anggotanya untuk selalu belajar dan mengembangkan diri

Mastery berarti suatu kepribadian dari seorang individu yang

proaktif, bukan reaktif.Individu proaktif pada umumnya mempunyai

mempunyai visi pribadi.Tindakan yang dia lakukan tidak mengikuti

arus atau semata-mata didikte oleh lingkungan luar, tetapi memiliki

kebebasan untuk bertindak berdasarkan pengetahuan dan

keyakinannya sendiri. Namun pada saat bersamaan, terjadi

ketegangan untuk mencapai visi pribadi tersebut. Ada perasaan

tidak berdaya ketika akan berkerja menuju visi pribadi. Personal

mastery adalah individu yang mampu mengelola ketegangan

secara kreatif (creative tension) antara keinginan untuk mencapai

visi pribadi terhadap hambatan perasaan tidak mampu/tidak

berdaya.Individu dituntut untuk secara terus menerus belajar untuk

11
mengelola creative tension. Proses belajar ini tidak mengenal istilah

arrive. Menurut Senge: personal mastery is not something you

possess. It is a process. It is lifelong discipline.

2. Disiplin kedua, Mental Model.

Integritas individu akan menetukan tigkatan mental model

seseorang. Tingkatan integritas individu terus berkembang sejalan

dengan kemampuan dia dalam memahami dunia (world view).

Seorang individu akan memiliki pemahaman yang berbeda

terhadap suatu peristiwa yang sama. Kemampuan seseorang

dalam memahami esensi suatu peristiwa secara akurat dan

mendasar berkaitan erat dengan kemampuannya (jam terbang)

untuk secara terus menerus melakukan refleksi, klarifikasi dan

penyempurnaan dalam pandangan kita terhadap dunia (world

wiew).Dia semakin menyadari bagaimana dunia itu mempengaruhi

tindakan dan keputusan-keputusan yang dia ambil.Jadi, mental

model adalah kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan

dan tindakan dengan mendasarkan diri pada pemahamannya

terhadap dunia, yang selalu disempurnakan secara terus menerus.

3. Disiplin ketiga, Shared Vision.

Proses belajar individu tidak akan secara otomatis menjamin

terjadinya organisasi belajar, jika tidak ada komitmen bersama

tentang masa depan yang ingin dicapai bersama. Mereka harus

sadar bahwa tanpa ada organisasi (tindakan kolektif – bersinergi) ,

12
pencapaian visi atau perjuangan pribadi sulit untuk dicapai. Melalui

tindakan kolektif visi pribadi tersebut lebih realistis untuk

dicapai.Misalnya, perjuangan buruh pimpinan SPARTACUS.Ketika

tentara Romawi mencari Spartacus, secara sukarela para buruh

mempertaruhkan keselamatan jiwanya dengan mengaku sebagai

Spartakus.Mereka sadar bahwa gerakan pembabasan buruh dapat

diwujudkan melalui tindakan kolektif. Intinya shared vison adalah

terbangunnya komitmen anggota organisasi untuk

mengembangkan visi bersama, serta sama-sama merumuskan

strategi untuk mewujudkan visi tersebut.

4. Disiplin keempat, Team Learning.

Terdapat dua aspek utama yang menjadi syarat terbangunya team

learning, yaitu; kesadaran masing-masing individu untuk terus

belajar meningkat kemampuan dan bakat masing-masing, serta

komitmen bersama untuk mewujudkan visi bersama.Stephen

Covey (1991) mengintrodusir tiga kondisi bagi terbangunnya team

learning, yaitu berfikir win-win, membangun sinergi, dan

mengembangkan sikap emphaty. Team learning akan menjadikan

kemampuan kelompok jauh lebih tinggi dari gabungan kemampuan

individual, karena terbangun sinergitas potensi individu. Team

learning dapat dicapai melalui DIALOG.

13
5. Disiplin kelima, System Thinking.

System thinking merupakan disiplin yang menjadi landasan

bagi keempat disiplin sebelumnya dalam mewujudkan terbentuknya

learning organization.Dengan demikian, untuk membentuk suatu

organisasi yang terus menerus belajar dibutuhkan kemampuan

untuk mengembangkan keseluruhan disiplin sebagai satu kesatuan

yang utuh.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berfikir system berarti memikirkan seluruh komponen yang

memperhatikan peran masing-masing komponen, dan bagaimana

mereka berinteraksi satu sama lain untuk satu tujuan yang telah

ditetapkan sebelumnya oleh pemimpin. Interaksi yang harmonis atau

tidak harmonis antara komponen yang satu dengan komponen yang

lain, antarindividu dalam satu departemen dan individu dalam

departemen yang lain, antara kolega, dan antara atasan dan

bawahan, akan mempengaruhi hasil keluaran (output) dan berdampak

pada tercapai atau tidak tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

B. Saran

Sekiranya bisa menambah pengetahuan


mengenaibagaimana cara berfikir sistem dengan baikuntuk
memecahkan masalah pada kesehatan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Batle-Fisher, Michele. 2015. Application of System Thinking to Health


Policy & Public Health Ethics Public Health and Private Illness,
Switzerland: Springer Internation

World Health Organization. 2009. Systems Thinking for Health Systems


Strengthening, Geneva: WHO Press

https://siraitrina.wordpress.com/2010/10/27/modul-iv-berpikir-sistemik/

http://budihartono.wordpress.com/2008/02/06/iceberg/

https://ardydii.wordpress.com/tag/berpikir-sistem/

16