Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

KEARIFAN LOKAL KOTA TARAKAN


A. Potensi Wilayah Pesisir di Kalimanatan Utara
Wilayah Provinsi Kalimantan Utara yang sangat luas menyebabkan semua
karakteristik wilayah terdapat di daerah ini, mulai kawasan perbatasan
Kalimantan Utara pedalaman, terpencil, pegunungan, pesisir, dan kepulauan.
Wilayah Kalimantan Utara yang memiliki pantai sepanjang 1.185 KM
mempunyai kawasan pesisir yang sangat luas, merupakan kota yang terletak
di pesisir pantai Kalimantan Utara. (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan
Utara, 2016 BAB II).
Pesisir

1. UPACARA ADAT IRAW TENGKAYU

UPACARA adat Iraw Tengkayu mempakan upacara ritual penyerahan sesaji ke


laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil yang didapat dari laut, karena
masyarakat pada umumnya hidup sebagai nelayan. Upacara adat ini sering
dikonotasikan sebagai pesta laut. Upacara adat ini disebutjugapakan, yang berarti
menghaturkan sesaji berupa makanan dan lainlain.

Acara inti pada upacara adat Iraw Tengkayu adalah penurunan Padaw Tuju
Dulung. Padaw Tuju Dulung adalah sebuah perahu dengan bentuk yang khas. Bagian
atasnya merupakan tempat untuk sesaji yang dihaturkan. Bentuk haluan perahu
bercabang tiga. Haluan bagian tengah bersusun tiga, haluan kanan dan kiri masing-
masing bersusun dua, sehingga jika dijumlahkan, terdapat tujuh haluan yang
menunjukkan jumlah hari dalam seminggu di mana kehidupan manusia berlangsung
dari hari ke hari dan seterusnya.
Warna perahu tcrdiri aims kuning, hijau, dun merah. Halunn perahu teratas (di
tengah) dan perlengkapan lainnya di atas perahu berwaarna kuning. Wama kuning
menurut tradisi budaya Suku Tiduug adalah perlambang suatu kehormatan atau suatu
yang ditinggikan dan dimuliakan. Kemudian di atas perahu terdapat lima buah tiang
yang melambangkan shalat lima waktu yang merupukan tiang agama Islam

Guna tiang-tiang tersebut adalah tempat mengikat atap dari kain berwarna
kuning yang disebut Pari-Pari. Pada tiang knnan dopan terpasang kain kuning ke
haluan kmnm. demikian pula pada tiang kiri dcpun tcrpusang kain kuning memanjang
turun kc haluan kiri.

Di atas Padaw Tuju Dulung dibuut bentuk seperti rumah dengan atap bersusun
tigu yang disebut meligay, yang pada keemput dindingnya masing-masing terdapat
satu pintu. Di dalum meligay tersebutlah diletakkau sesaji berupa makanan. Makanan
yang dijadikun sosaji antara lain nasi ketan bersantzm empat warna (kuning, merah,
putih, hitam), ayam panggang. telur ayam, pisang hijau satu sisir (berjumluh gnnjil).
dan lain-lain.

2. TARI-TARIAN
a. Tari Jepen/Japen/Zapin/Jepin
Jepen merupakan seni tari rakyat yang bemafaskan Islam. Penari tarian ini
adalah muda-mudi yang menggerakkan kedua anggota badan dengan gerakan
saling-silang dan gerakannya lebih banyak menggunakan kaki. Jepen berasal dari
Timur Tengah (Arab) yang dibawa oleh para penyebar Agama Islam sehingga
lagu-lagu pengiring dan syair-syairnya lebih bernuansa islami.
Penari Jepen pria bercelana panjang, berbaju teluk belanga (lengan panjang),
dan bersarung. Sedangkan penari wanitanya bersarung dan berkebaya dengan
model/ciri khas daerah masing-masing. Alat pengiringnya berupa gambus,
ketipung, biola, dan syair pantun.
Tarian Jepen ini dipopulerkan pada 1960 di Desa Tanjung Redeb Ilir,
Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Penciptanya seorang tokoh
masyarakat dan ditarikan secara bersama-sama antara 10 hingga 15 orang dengan
berpakaian seragam menyala. Biasanya tarian ini di tampilkan dalam rangka
mema peringati hari-hari besar.
b. Tari Embaul
Tari Embaul dipopulerkan pada 1950 di Desa Sembakung, Kecamatan
Sembakung, Kabupaten Bulungan. Pencipta tarian ini adalah seorang tokoh
masyarakat dari Suku Tidung. Tari Embaul ditarikan secara berpasangan,
sebanyak 3 pasangan dengan berpakaian seragam yang dibedakan antara pria dan
wanita. Dalam menarikan tari embaul biasanya diiringi dengan Iagu syair/pantun.

c. Tari Jingga-jingga
Tari Jingga-jingga dipopulerkan pada 1950 di Desa Sesayap, Kecamatan
Sesayap, Kabupaten Bulungan. Pencipta tarian ini adalah seorang tokoh
masyarakat Suku Tidung. Tari Jinggajingga ditarikan oleh 7 orang putri dengan
berpakaian warna kuning dengan gerak tangan yang lemah gemulai dengan
diiringi lagu-lagu syair yang isinya merayu seorang pria.

d. Tari Dendang Taka


Tari Dendeng Taka dipopulerkan pada 1950 di Desa Nunukan, Kecamatan
Nunukan, Kabupaten Nunukan. Tarian ini diciptakan oleh seorang tokoh
masyarakat Suku Tidung. Tarian ini ditarikan oleh gadis-gadjs yang berjumlah 6
hingga 12 orang dengan berpakajan seragam kuning dengan gerak tari secara
lemah gemulai.

Tradisi Acara Pernikahan


TRADISI yang berlaku dalam pelaksanaan pernikahan adalah bedulug (antar jujuran),
tukar pupur, mengarak pengantin, bebantang (bersanding), naik pelaminan, menjiu
(mandimandi), dan besembalei (silaturahim).

Tradisi dalam Acara Selamatan

YANG MERUPAKAN acara selamatan di Suku Tidung adalah berua (tahlilan), haul,
naik ayun, betimbang untuk bayi yang lahir pada bulan Safar, acara tolak bala,
membaca kitab berjanji, selamatan khitanan, betamet (khataman).

3. Permainan
Di Tarakan terdapat ragam permainan, di antaranya adalah asin naga, gasing, kaki
tunjang, marak (layang-layang), dan lugu (logo). Berikut adalah penjelasan dari tiga
permainan.
a. Asin Naga
Asin Naga adalah permainan yang dilakukan secara berkelompok, setiap
kelompok terdiri atas 3 sampai 6 orang. Apabila dilakukan oleh 3 orang, dibuatlah
3 kotak di atas tanah. Setiap kotak diberi batas dengan sebuah garis. Kelompok
yang kalah berjaga-jaga di setiap garis, sementara lawannya berusaha masuk ke
setiap kotak hingga sampai pada kotak (penjaga terakhir) untuk selanjutnya
kembali lagi keluar kotak di garis panama. Apabila kelompok yang mcndapatkan
giliran bermain salah seorang anggotanya tertangkap oleh lawannya yang berjnga,
kclompok tersebut dinyatakan kalah. Kelompnk yang kalah kembali berjaga-jaga
menggantikan kclompok yang menang.

b. Gasing
Gasing adalah sebuah alat yang digunakan dalam pcrmainan yang biasanya
dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7-15 tahun. Ia berbentuk lancet menyerupai
kerucut. Gasing yang baik terbuat dari kayu Ulin atau kayu Benggeris. Pemain
mengikat (menggulung) tali di pentil gasing dan memutarnya ke permukaan tanah.
Pemain yang berhasil memutar gasing paling lama dinyatakan sebagai
pemenangnya. Sementara pemain yang kalah memutar gasingnya untuk dihantam
oleh gasing pemenang. Apabila gasing yang dihantam oleh gasing pemenang
dapat berputar lebih lama, maka ia akan menjadi pemenang baru.

c. Belugu
Permainan anak laki-laki ini menggunakan alat yang terdiri atas beberapa buah
tempurung yang dibentuk menyerupai segi tiga. Pada bagian bawah lancip dan
membesar di bagian atasnya. Tingginya sekitar 10 cm dan lebar 6-8 cm. Dapat
dimainkan oleh beberapa orang secara ber~ gantian. Setiap pemain membawa 3
sampai 4 buah belugu yang ditancapkan di tanah. Antara belugu satu dan belugu
lainnya berjarak 2 sampai 3 meter. Pemain yang menang menggunakan sebuah
kayu kecil untuk mendorong belugunya ke arah belugu lawan yang tertancap.

4. Lagu Daerah
BANYAK terdapat lagu daerah yang pada umumnya menggunakan bahasa Tidung.
Di antaranya adalah:
a. Jamila, ciptaan H. Ismail &Amir Ahim;
b. SuaraSiam,ciptaanTahirIlyas;
c. Pamusian, ciptaan Abdul Latief;
d. YakiBentawol, ciptaan Abdul Latief;
e. Pantun PR1, ciptaan Tahir Ilyas;
f. BerlayarKunun, ciptaan Abdul Latief;
g. Dindang Tidung, ciptaan Tahir Ilyas;
h. Jauh Malam, ciptaan Abdul Latief;
i. Saidah Semandak Pagun, ciptaan Allen; dan
j. Bebalon, ciptaan Datu N oerbeck.

5. Seni Bela iri Kuntau


KUNTAU merupakan seni silat mempertahankan diri yang diwarisi turun
temurun sejak zaman penjajahan Belanda. Seni bela diri yang bernafaskan Islam dan
bernuansa Melayu ini secara prinsip lebih mementingkan pertahanandiri.
SEKILAS KONDISI WILAYAH PESISIR

Jumlah penduduk yang meningkat secara cepat dari waktu ke waktu disertai dengan
intensitas pembangunan yang terus meru'ngkat dimana sumberdaya alam di daratan
sudah mulai menipis dan dengan kenyataan bahwa sebagian besar dari penduduk
dianggap tinggal di daerah pesisir, tidak mengherankan bahwa lingkungan pesisir dan
laut menjadi pusat pemanfaatan sekaligus pengrusakan yang tingkatnya sudah cukup
parah di beberapa daerah tertentu.

Pemusatan wilayah pemukiman yang tumbuh di daerah pesisir menjadikan suatu


persoalan yang menyebabkan tidak optimalnya pembangunan berkelanjutan dalam
mengelolaan lingkungan wilayah pesisir. Hal ini juga dikarenakan kurangnya
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan yang
selama ini dijalankan bersifat sektoral dan terpilah-pilah. Padahal karakteristik dan
alamiah ekosistem pesisir dan lautan yang secara ekologis saling terkait satu sama lain
termasuk dengan ekosistem lahan wilayah daratan.

Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara optimal dan berkelanjutan
hanya dapat djwujudkan melalui pendekatan terpadu dan holistik Pengembangan areal
pemukiman di daerah pesisir panbai pulau Tarakan akan terns berkembang sejalan
dengan perkembangan penduduk jlka tidak dilakukan pengaturan. Sebagai contoh
rumah-rumah yang dibangun untuk tempat pembelian ikan, udang dan tempat menjual
bahan bakar untuk kapal. Posisinyafelah jauh dari pantai dan jauh dari perumahan
penduduk. Ilka penduduk berkembang dan mulai mendekat dengan rumah-rumah
tersebut, maka mereka akan menjual lahan tersebut dan akan membuat lagi rumah ke
arah laut yang agak jauh dari masyarakat.

Upaya pengaturan wilayah pemukiman penduduk di daerah pesisir sebaiknya sudah


hams dimulai sebelum indikasi kerusakan yang parah menimpa Kota Tarakan.
Indikasinya yang dimaksud antara lain menurunnya daya dukung (potensi lestarz) dari
ekosistem pesisir dan lautan, penceniaran, degradasi fisik habitat pesisir, abrasi pantaj,
dan meningkatnya kejahatan.

Pertambahan penduduk yang cepat dan untuk pemenuhan kebutuhannya ditambah


pula dengan perluasan pemuldman, kegiatan-kegiatan industri, pariwisata,
tran5portasi dan berbagai kegiatan lainnya menyebabkan pulau ini mendapat tekanan
yang cukup berat akibat berbagai kegiatan tersebut serta pengeksploitasian
sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya. Permasalahan yang
sering muncul di T arakan dari segi keterbatasan sumberdaya alam antara lain :

Degradasi Mangrove; Ekosistem pesisir merupakan wilayah yang rentan. Salah satu
ekosistem spesifik wilayah pesisir adalah keberadaan vegetasi Mangrove. Ekosistem
mangrove, yang pada mulanya merupakan ekosistem dominan wilayah Pesisir Kota
Tarakan, beberapa tahun terakhir mengalami konversi menjadi tambak serta bentuk
aktifitas manusia yang lainnya. Hal ini terjadi terutama sejak tahun 1998, yang
menyebabkan texjadinya perubahan keseimbangan lingkungan pesisir secara
menyeluruh, sehingga penurunan kualitas ekosistem secara global merupakan hal
yang tidak dapat dihindari. Disamping itu, pertumbuhan industri, pemukiman dan
pertanian pada daerah hulu juga telah menyebabkan degradasi ckosistem alami, bajk
dj wilayah hulu maupun di wilayah pesisir di bagian hilirnya.

Penurunan kualitas perairan ; Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya


makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh
kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/ atau fungsinya
(DKP R1, 2002). Masalah pencemaran ini disobabkan oleh aktivitas manusia seperti
pembukaan lahan untuk pertanian, pengembangan kota dan industri, penebangan kayu
dan penambangan di Daerah Aljran Sungai (DAS) serta limbah rumah tangga yang
tinggal di daerah pesisir.

Pembukaan Iahan di wilayah daratan sebagai bagian dari kegiatan pertanian telah
meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun cajr yang masuk ke perairan
pesisir dan laut melalui aliran sungai. Pengembangan kota dan industri merupakan
sumber bahan sedimen dan pencemaran perairan pesisir dan laut. Pesatnya
perkembangan pemukiman dan kota telah meningkatkan jumlah sampan baik padat
maupun cajr yang mempakan sumber pencemaran pesisir dan laut yang sulit
djkontrol.

Sektor industri dan pertambangan yang menghasilkan limbah kimia (berupa sianida,
timah, nikel, khrom, clan lain~lain) yang dibuang dalam jumlah besar ke ah'ran sungai
sangat potensial mencemari perajran pesisir dan Iaut, terlebih bahan siam'da yang
terkenal dengan racun yang sangat berbahaya. Banyaknya rumah yang tumbuh di
daerah pesisir pulau Tarakan menjadikan suatu persoalan yang menyebabkan tidak
optimal pembangunan berkelanjutan dalam mengelola wilayah pesisir untuk
masyarakat di daerah tersebut Wilayah pesisir Pulau Tarakan banyak didiami oleh
pendatang dari luar pulau, Rumah-rumah di wilayah ini kondisinya sangat padat dan
rapat sehingga Iingkungannya terkesan agak kumuh dan yang bermukim disana tidak
saja masyarakat nelayan tetapi juga masyarakat yang berstatus non nelayan.

Penambahan bahan-bahan polutan ini menyebabkan menurunnya kualitas dan


kuantitas keanekaragaman hayati di wilayah pesisir. Penurunan produktifitas tambak
merupakan sebuah indikasi terhadap terjadinya fenomena tersebut.
Meningkatnya bahan sedimen; Peningkatan bahan sedimen terutama disebabkan oleh
meningkatnya erosi pada Daerah Aliran Sungai sebagaj akibat dari pembukaan dan
eksploitasi hum. Hal ini telah menyebabkan terjadinya pendangkalan laut dan
pcrubahan garis pantai scrta tekanan terhadap pertumbuhan hayati di perairan seperti
ikan, padang lamun, terumbu karang dan lainnya.

Pembangunan infrastruktur; Hingga kini telah banyak dilakukan pekerjaan


pcmbangunan infrastruktur yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan daerah
perkolaan. Pembangunan infrastruktur yang semakin intensif pada wilayah pesisir ini
berdampak pada lingkungan di wilayah pesisir itu sendiri maupun wilayah
perairannya.

Abrasi Pantai; Terdapat 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi panmj, yaitu 2
1) proses alam (karena gerakan gelombang pada pantai terbuka), 2) aktivitas manusia.
Kegiatan manusia tetsebut misalnya kegiatan eksploitasi tutupan Iahan hutan atau
pertanian di lahan daratan yang tidak mengindahkan konsep konservasi telah
menyebabkan erosi tanah dan kemudian sedimen tersebut dibawa ke aljran sungai
serta diendapkan di kawasan pesisir. Aktivitas manusia lainya adalah menebang atau
merusak ekosistem mangrove di garis pantai baik untuk keperluan kayu, bahan baku
arang, maupun dalam rangka pembuatan tambak. Padahal menurut Bengen (2001)
hutan magrove tersebut secara ekologis dapat berfungsi : 1) sebagai peredam
gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur, dan
penangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan; 2) penghasil detritus
(bahan makanan bagi udang, kepiting, dan lain-lain) dan mineral-mineral yang dapat
menyuburkan perairan; 3) Sebagai daerah nurshcry ground, feeding ground dan
spawing ground bermacam biota perairan.

Terbatas atau tidak ter Sedianya data spasial; Keterbatasan data dan informasi spasial
yang akurat dan dapat dipercaya merupakan salah satu masalah yang dihadapi
berbagai wilayah di Indonesia. Data dan informasi spasial ini diperlukan sebagai salah
satu masukan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disuatu wilayah.
Kepemilikan data spasial bagi instansi Dinas Perikanan dan Kelautan mempakan
sebunh kcharusan dalam menialankan fungsi teknis Dinas Pcrikanan dan Kelautan
Kota Tarakan dalam menialankan fungsi perencanaan, monitoring dan pengendalian
lingkungan pcsisir.

Tarbatasnya Penerapan hukum dun peruturan mengenai konservasi lingkungan


,Lcmahnya pemerintah dalam Peuerapan hukum yang ada telah menyebabkan
teriadinya eksploitasi berlebihan mnpa adanya sanksi yang tegas herhadap berbagai
pelanggaran yang terjadi. Terbangunnya Rencana Detil Tam Ruang dan perangkat
hukum yang mangatumya mewpakan salah satu upaya yang dapat ditempuh oleh
pemerintah untuk mampu menerapkan konsep Reward and Punishment terhadap
pelaku pemanfaatan kawasan.

Bappeda. 2010. Profil Seni dan Budaya Kota Tarakani. Badan Pusat Statistik:
Tarakan