Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM PENGENDALIAN PROSES


PENGOPERASIAN MENARA PENDINGIN

Disusun Oleh :

KELOMPOK I
Bella Anggraini (0613 3040 0291)
Deka Pitaloka (0613 3040 0293)
Diah Lestari (0613 3040 0294)
Dorie Kartika (0613 3040 0295)
Dwi Sandy Wahyudi (0613 3040 0297)
R A Rifka Fadillah (0613 3040 0308)

Kelas : V KA

Instruktur : Anerasari M., B.Eng., M.Si.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015
EFEK PERUBAHAN INPUT BERULANG

I. Tujuan Percobaan
a. Mengetahui efek perubahan input berulang pada kestabilan proses tiga tangki.
b. Menggambartkan kurva perubahan respon konsentrasi tangki bersusun.
c. Menjelaskan akibat perubahan input berulang pada kestabilan proses.

II. Alat dan Bahan


A. Alat yang digunakan :
 Tangki berpengaduk bersusun seri : 1 set
 Konduktometer : 1 buah
 Stop Watch : 1 buah
 Gelas Kimia 1000 ml, 100 ml : 1/1 buah
 Labu takar 100 ml : 1 buah
 Spatula : 1 buah
 Neraca Analitik : 1 buah
 Kaca Arloji : 1 buah
 Botol Aquades : 1 buah

B. Bahan yang digunakan:


 Air
 KCl 0,1M
 KCl 0,03 M

III. Dasar Teori


Reaktor adalah suatu tempat terjadinya reaksi kimia untuk mengubah suatu
bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.Continous
Stirred Tank Reactor (CSTR) merupakan suatu tangki berpengaduk yang
digunakan untuk mencampur dua atau lebih bahan kimia dalam bentuk cairan.
Salah satu hal penting dari CSTR di dalam penggunaannya adalah :
1. Mempunyai bentuk yang ada pada umunya digunakan yang berbentuk
silinder dan bagian bawahnya cekung.
2. Dapat dilihat dari ukurannya yaitu diameter Sn tinggi tangki
3. Kelengkapan dari suatu bejana yaitu :
a. Ada satu bufle yang berpengaruh pada aliran di dalam tangki
b. Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu
c. Tutup tangki
4. Pengaduk, biasanya alat zat cair diaduk di dalam suatu bejana yang
bagian atasnya bisa terbuka saja ke udara atau dapat pula tertutup

Pada tangki berpengaduk, terjadinya pengadukan merupakan hal penting, karena


dengan pengadukan menyebabkan reaksi menjadi homogen sehingga terdapat
umpan masuk dan terbentuk produk yang keluar selama proses berlangsung.
Pengadukan zat cair dilakukan untuk berbagai keperluan tergantung dari tujuan
langkah pengolahan itu sendiri. Tujuan dari pengadukan antara lain:
1. Untuk mencampur dua macam zat cair yang mampu campur
2. Melarutkan padatan seperti garam dalam air
3. Untuk medispersikan gas dalam zat cair yang menjadi gelembung-gelembung
halus dalam suspensi atau mikroorganisme untuk fermentasi atau untuk
proses kerja lumpur dalam proses pengolahan limbah
4. Untuk suspensi padatan halus dalam zat cair seperti dalam hidrogenasi
katalitik, dimana gas-gas hidrogen didispersikan melalui zat cair dimana
terdapat partikel-partikel katalis padat dalam keadaan suspensi di dalam
bejana hidrogenasi
5. Mempercepat proses perpindahan panas antara zat cair dengan kumparan atau
mantel kalor dalam dinding bejana.

Alat ini terdiri dari tiga buah tangki berpengaduk utama yang dihubungkan secara
seri, tangki I dan tangki II dihubungkan langsung oleh pipa di bagian bawah
tangki tersebut seperti bejana berhubungan, sehingga saat tangki I berisi suatu
larutan, maka tangki II juga akan langsung berisi larutan dengan tinggi dan
volume yang sama seperti tangki I. Tangki III berhubungan dengan tangki II
dengan jarak tertentu. Jarak antara tangki dibuat sedemikian rupa sehingga walau
tangki bersebelahan dengan tangki II, proses pengisisan tangki III adalah setelah
tangki III terisi pada ketinggian maksimum. Setelah tangki II mencapai
maksimum, cairan ditangki II akan masuk ke dalam pipa yang dipasang berisi di
dalam tangki II, cairan lalu turun dan masuk ke dalam tangki III melalui bagian
bawah tangki III. Jarak yang berbeda antara tangki I, II, III memungkinkan untuk
mempelajari efek jarak terhadap pengukuran dan pengendalian.

Tangki berpengaduk adalah alat simulasi pengadukan yang bertujuan untuk


menjelaskan simulasi penting dari suatu sistem pengadukan untuk tangki-tangki
berpengaduk yang disusun secara seri

Tiga buah tangki yang bersusun seri dapat diketahui waktu konstantanyua
dimana suatu proses menjadi konstanta setelah input diubah setelah periode waktu
tertentu.
Namun, apabila input mengalami perubahan secara berulang maka sulit
untuk membentuk waktu konstanta dan karenanya proses akan sulit menjadi stabil
dan dapat mengakibatkan proses menjadi tak terkendali. Praktikum DS3
menstibulasikan suatu keadaan dimana proses di ketiga tangki mencapai
kestabilan, namun kemudian terjadi perubahan input pada salah satu tangki
sehingga kestabilan tangki terganggu.

IV. Langkah Kerjaa


A. Prosedur Kalibrasi
1. Membuat larutanm KCl 0,1 M sebanyak 100 ml
2. Mengukur temperatur, diatur 250C.
3. Mencelupkan elektroda ke dalam larutan, kemudian menekan tombol cond.
Apabila pembacaannya kuraang atau lebih dari 12,88 maka harga
pembacaan dibagi dengan 12,88.
4. Mengukur pembacaan dengan menekan tombol sesuai dengan
pengendaliannya. Misalnya, pembacaan pada display 12,91 maka dibagi
dengan 12,88 menjadi 1,00 pengalinya 1x denganpembacaan 0,01.
5. Apabila kalibrasi telah selesai dilakukan, tombol stand by ditekan dan
konduktometer siap digunakan.

B. Prosedur Pengukuran Efek Berulang


1. Mengkalibrasi konduktometer yang akan digunakan sesuai prosedur
kalibrasi.
2. Menyiapkan larutan KCl 0,3 M dalam wadah 3000 ml dan akuades pada
tangki penampung di bagian belakang.
3. Mengisi ketiga tangki berpengaduk di bagian depan dengan larutan KCl
0,03 M. Isi juga sebuah gelas kimia 1000 ml dengan larutan KCl. Selang
dihubungkan ke bagian pengeluaran tangki 3 ke wadah penampung.
4. Menghidupkan pengaduk dan mengatur laju pengadukan pada kecepatan
medium. Konduktivitas ketiga tangki diukur. Pastikan nilai konduktivitas
harus sama (Matikan pengaduk saat mengukur konduktivitas).
5. Menghidupkan pompa dan mengalirkan aquades dari penampung ke gelas
ukur 100 ml, laju alir ke tangki berpengaduk ditentukan dengan stopwatch.
(Volume air tertampung/waktu, 100 ml 10-15 detik).
6. Memasukkan selang berisi aquades ke tangki berpengaduk 1 dan mencatat
waktu sebagai t = 0 menit
7. Mengukur konduktivitas di tangki I, II, III bergantian setiap 1 menit selama
10 menit pertama.
8. Setelah 10 menit, 30 ml larutan KCl dimasukkan dari gelas kimia 1000 ml
ke tangki 1. Pengamatan dilanjutkan setiap 1 menit hingga 10 menit.
Langkah 8 diulangi hingga terjadi penambahan 3x 30 ml larutan KCl ke
tangki bersusun.
9. Setelah selesai, tangki dikosongkan dan dicuci bersih untuk menghindari
korosi.

C. Keselamatan Kerja
Pastikan area lingkungan praktikum selalu kering, bersihkan setiap tumpahan
karena larutan garam walaupun berkonsentrasi rendahmerupakan konduktor
listrik yang baik. Lantai harus kerinng, gunakan alas kaki bila perlu. Peralatan
yang telahsrelesai digunakan harus dibilas dengan air. Garam tersisa bersifat
korosif dan dapat merusak peralatan.
V. Data Pengamatan
Waktu (menit) Tangki 1 Tangki 2 Tangki 3 Keterangan
0 4,81 4,81 4,82
1 2,42 3,95 4,56
2 1,246 2,67 3,81
3 0,677 1,697 2,9
4 0,384 1,009 2,01
5 0,264 0,629 1,314
6 0,197 0,411 0,869
7 0,1644 0,285 0,586
8 0,1489 0,212 0,398
9 0,1442 0,182 0,289
10 0,1395 0,1567 0,224
Penambahan 30 ml
11 0,405 0,345 0,24
KCl 0,1M
12 0,282 0,333 0,289
13 0,23 0,301 0,3
14 0,1906 0,248 0,283
15 0,176 0,214 0,255
16 0,1695 0,1898 0,226
17 0,1662 0,1766 0,1977
18 0,1653 0,1704 0,1842
19 0,16567 0,1678 0,1752
20 0,1642 0,1652 0,1698
Penambahan 30 ml
21 0,437 0,383 0,263
KCl 0,1 M
22 0,301 0,361 0,326
23 0,233 0,3 0,326
24 0,216 0,263 0,306
25 0,208 0,24 0,272
26 0,205 0,225 0,258
27 0,1975 0,214 0,238
28 0,1967 0,209 0,226
29 0,196 0,205 0,217
30 0,196 0,1983 0,21
Penambahan 30 ml
31 0,503 0,396 0,278
KCl 0,1 M
32 0,368 0,399 0,333
33 0,292 0,357 0,352
34 0,253 0,321 0,346
35 0,22 0,279 0,325
36 0,218 0,263 0,306
37 0,218 0,241 0,278
38 0,221 0,232 0,258
39 0,217 0,226 0,245
40 0,217 0,222 0,234
Tangki 1
5.5
5
4.5
4
Konduktivitas mS/cm-1

3.5
3
2.5
Tangki 1
2
1.5
1
0.5
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42
waktu (menit)

Tangki 2
5.5
5
4.5
Konduktivitas mS/cm-1

4
3.5
3
2.5
Tangki 2
2
1.5
1
0.5
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44
Waktu (menit)
VI. Perhitungan
1. Pembuatan Larutan
a. KCl 0,1 M 100 ml (untuk kalibrasi)
Gr = M . V.BM
= 0,1 M . 0,1 L. 74,55 gr/mol
=0,7455 gr

b. KCl 0,03 M 3000 ml (untuk pengukuran konduktivitas)


Gr = M . V . BM
= 0,03 M . 3 L . 74,55 gr/mol
= 6,7095 gr

2. Pengukuran Laju Alir


Volume air tertampung = 100 ml
Waktu = 12 s
𝑉 100 𝑚𝑙
Q =𝑡= = 8,3 ml/s
12 𝑠
VII. Analisis Percobaan
Setelah dilakukan praktikum, dapat dianalisa bahwa percobaan ini bertujuan
menunjukkan adanya perubahan input secara berulang. Yang membedakan
praktikum sebelumnya adalah penambahan KCl 30 ml setiap 10 menit sebanyak 3
kali. Penambhan KCl ini dapat menganggu kestabilan proses menjadi tidak
terkendali jika dilakukan terus-menerus.
Penambahan KCl dapat menyebabkan konduktivitas larutan naik dari
sebelumnya. Pada tangki I, perubahan tersebut dapat dirasakan langsung setelah
penambahan. Misalnya penambahan KCl pada 10 menit pertama menyebabkan
konduktivitas larutan pada tangki I naik dari 0,1395 mS/oC menjadi 0,405 mS/oC.
Walaupun perubahan tersebut tidak terlalu besar. Penambahan KCl pada 10 menit
kedua memberikan efek perubahan yang sedikit lebih besar yaitu 0,1642 mS/oC
menjadi 0,437 mS/oC . sementara perubahan konduktivitas terbesar terjadi pada 10
menit ketiga, yaitu dari 0,196 mS/oC menjadi 0,503 mS/oC . hal ini terjadi karena
pada menit penghujung, konduktivitas sudah menurun cukup jauh dan adanya
penambahan KCl menyebabkan kenaikan konduktivitas yang lebih tinggi,
sehingga selisihnya pun menjadi lebih besar.
Pada tangki 2, perubahan tersebut tidak terasa secara langsung. Dari grafik
efek perubahan input berulang dapat dilihat adanya titik yang agak mencolok pada
menit ke-28. Walaupun tidak terjadi peningkatan konduktivitas, pada menit ke-28
terjadi penurunan konduktivitas yang tergolong kecil yaitu dari 0,209 mS/ oC
menjadi 0,205 mS/oC . setelah itu pres melakukan regulasi diri untuk mencapai
konduktivitas baru. Dengan demikian, perubahan tersebut dapat dianggap sebagai
efek penambahan KCl setelah 10 menit pertama.
Pada tangki 3, peningkatan konduktivitas tidak secepat pada tangki 1 maupun
tangki 2, hal ini dipengaruhi oleh jarak. Semakin jauh jarak tangki terhadap adanya
gangguan, maka ketidakstabilanproses akan terasa sangat lama pula. Hal ini dapat
juga disebut sebagai proses lak yaitu kelambatan proses karena adanya jarak.
Penambahan KCl tersebut mengakibatkan proses menjadi tidak terkendali,
dimana ketika tangki tersebut akan berusaha stabil pada harga sekian, namun
terganggu akibat penambahan secara langsung. Hal ini menyebabkan proses
menjadi tidak stabil. Untuk membuat proses menjadi stabil, maka pengukuran
konduktivitas harus dilakukan dalam waktu lebih lama lebih dari 40 menit tanpa
melakukan penambahan KCl sehingga dapat diperoleh konduktivitas larutan yang
sama untuk ketiga tangki.
VIII. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
 Penambahan input pada salah satu tangki dapat menyebabkan kestabilan
terganggu dan [proses menjadi tidak stabil.
 Penambahan input secara berulang dapat dirasakan secara langsung tangki
1 dan terasa dalam selang waktu tertentu (lebih lama) oleh tangki 2 dan 3
akibat adanya jarak.
 Perubahan input berulang akan mengganggu proses yang telah stabil,dan
untuk menstabilakannya dibutuhkan waktu yang lebih lama, hingga
mencapai harga konstan dengan harga input yang baru.

IX. Daftar Pustaka


Tim Laboratorium Pengendalian Proes. 2015. Petunjuk Praktikum Pengendalian
Proses. Palembang : Politeknik Negeri Sriwijaya.
X. Gambar Alat

Labu Ukur Gelas Ukur Gelas Kimia

Spatula Konduktometer Kaca Arloji

Dinamic Behaviour of Stired Tank Stopwatch