Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Transfusi darah adalah pemindahan darah atau komponen darah dari


pendonor ke peredaran darah penerima (resipien). Transfusi darah bertujuan untuk
pengobatan pada pasien yang memgalami perdarahan hebat dan pengobatan pada
pasien yang mengalami keganasan sitemik seperti leukemia.Transfusi darah ini
perlu adanya startegi untuk menjamin tersedianya darah bagi pasien. Menurut
WHO penyediaan darah yang aman meliputi Komitmen dan dukungan
pemerintah, donasi sukarela tanpa pamrih, Uji saring terhadap semua kantong
darah, Produksi komponen darah dan Penggunaan darah yg tepat dan atas indikasi
klinis. Pelayanan darah sebagai salah satu upaya kesehatan dalam rangka
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan sangat membutuhkan
ketersediaan darah atau komponen darah yang cukup, aman, bermanfaat, mudah
diakses dan terjangkau oleh masyarakat.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI DARAH

Darah berasal dari bahasa Yunani haima yang artinya darah. Dalam darah
terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Hemoglobin
merupakan protein pengangkut oksigen 1 .

II.2 KOMPONEN DARAH

Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45%


bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel
darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55%
yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang
disebut plasma darah.

Korpuskula darah terdiri dari 1,4 :

1. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).

Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap
sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan
mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam
penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita
penyakit anemia. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan
pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Kadar Hb inilah yang dijadikan
patokan dalam menentukan penyakit Anemia. Eritrosit berusia sekitar 120
hari.

2
2. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)

Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Normal


berkisar antara 200.000-300.000 keping/mm³

3. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)

Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh,
misal virus atau bakteri. Fungsi utama dari leukosit tersebut adalah untuk
Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya infeksi. Orang yang
kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang
kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia. Jumlah sel pada orang
dewasa berkisar antara 6000 – 9000 sel/cc darah. Plasma darah adalah
bagian yang tidak mengandung sel darah. Komposisi plasma darah :

1. Air

2. Protein

Protein plasma terdiri dari :

1. Albumin ( 57% ) -Menjaga tekanan osmotik koloid

2. Globulin ( 40% )

- Terdiri dari α1, α 2, ß , γ globulin.

- Berperan dlm kekebalan tubuh.

- Tiap antibodi bersifat spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacam-


macam:

3
1. Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen (Presipitin)

2. Antibodi yang dapat menguraikan antigen (Lisin)

3. Antibodi yang dapat menawarkan racun (Antitoksin)

3. Fibrinogen ( 3% )

-Mengandung faktor-faktor koagulasi

Serum adalah cairan berwarna kuning supernatan yg terdapat pada darah


yg mengalami koagulasi. Serum tidak mengandung fibrinogen, faktor
koagulasi ( f. II, f.V , f. VIII ).

II.3 TRANSFUSI DARAH

Transfusi darah adalah tindakan memindahkan darah atau komponennya


ke dalam sistim pembuluh darah seseorang. Komponen darah yang biasa
ditransfusikan ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah, trombosit,
plasma, sel darah putih. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan
menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam
jumlah yang tidak mencukupi.

Transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan utama


berdasarkan sumbernya,yaitu transfusi allogenic dan transfusi autologus.
Transfusi allogenic adalah darah yang disimpan untuk transfusi berasal dari tubuh
orang lain. Sedangkan transfusi autologus adalah darah yang disimpan berasal
dari tubuh donor sendiri yang diambil 3 unit beberapa hari sebelumnya, dan
setelah 3 hari ditransferkan kembali ke pasien 1,4 .

4
II.4 TUJUAN TRANSFUSI DARAH

Tujuan dari transfusi darah atara lain 4 :

1. Meningkatkan volume darah sirkulasi (setelah pembedahan, trauma).

2. Meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar


hemoglobin pada klien anemia.

3. Memberikan komponen seluler tertentu sebagai terapi (misalnya: faktor


pembekuan untuk membantu mengontrol perdarahan pada pasien hemofilia).

4. Meningkatkan oksigenasi jaringan.

5. Memperbaiki fungsi Hemostatis.

II.5 INDIKASI TRANSFUSI

1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume


dengan cairan.

2. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain.

3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen.

4. Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma
substitute atau larutan albumin

5
II.6 KOMPONEN DARAH UNTUK TRANSFUSI

Untuk kepentingan tranfusi, tersedia berbagai produk darah, seperti yang


tercantum dalam tabel

Tabel : Karakteristik darah dan komponen-komponen darah

6
7
8
9
10
11
1. Tranfusi Packed Red Cell

Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran plasma secara
tertutup atau septik sehingga hematokrit menjadi 70-80%. Volume tergantung
kantong darah yang dipakai yaitu 150-300 ml. Lama simpan darah 24 jam dengan
sistem terbuka.

Packed cells merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah
dipekatkan dengan memisahkan komponen-komponen yang lain. Packed cells
banyak dipakai dalam pengobatan anemia terutama talasemia, anemia aplastik,
leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Pemberian transfusi bertujuan
untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan alat-alat tubuh. Biasanya tercapai bila
kadar Hb sudah di atas 8 g%.

Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan PRC 4 ml/kgBB


atau 1 unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Diberikan selama 2 sampai
4 jam dengan kecepatan 1-2 mL/menit, dengan golongan darah ABO dan Rh yang
diketahui 4 .

Rumus kebutuhan darah (ml) :

3 x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB


Ket :

- Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal

- Hb pasien : Hb pasien saat ini

Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan


volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan
darah jenuh adalah:

1. Mengurangi kemungkinan penularan penyakit

2. Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis

12
3. Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan
overload berkurang

4. Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.

Indikasi: :

1. Kehilangan darah >20% dan kehilangan volume darah lebih


dari 1000 ml.

2. Hemoglobin <8 gr/dl.

3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama :


(misalnya empisema, atau penyakit jantung iskemik)

4. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator.

2. Transfusi Suspensi Trombosit

Suspensi trombosit dapat diperoleh dari 1 unit darah lengkap segar donor
tunggal, atau dari darah donor dengan cara/ melalui tromboferesis. Komponen ini
masih mengandung sedikit sel darah merah, leukosit, dan plasma. Komponen ini
ditransfusikan dengan tujuan menghentikan perdarahan karena trombositopenia,
atau untuk mencegah perdarahan yang berlebihan pada pasien dengan
trombositopenia yang akan mendapatkan tindakan invasive.

Indikasi transfusi trombosit pada anak, remaja dan bayi

Anak-anak dan remaja

 Trombosit <10x109/L dan perdarahan

 Trombosit <10x109/L dan prosedur invasif

 Trombosit <20x109/L dan kegagalan sumsum tulang dengan faktor risiko


perdarahan tambahan

13
 Defek trombosit kumulatif dan perdarahan atau prosedur invasive

Bayi berusia < 4 bulan

 Trombosit <100x109/L dan perdarahan

 Trombosit <50x109/L dan prosedur invasif

 Trombosit <20x109/L dan secara klinis stabil

 Trombosit <100x109/L dan secara klinis tidak stabil

Pemberian trombosit seringkali diperlukan pada kasus perdarahan yang


disebabkan oleh kekurangan trombosit. Pemberian trombosit yang berulang-ulang
dapat menyebabkan pembentukan thrombocyte antibody pada penderita.

Transfusi trombosit terbukti bermanfaat menghentikan perdarahan karena


trombositopenia. Komponen trombosit mempunyai masa simpan sampai dengan 3
hari 1,4 .

Indikasi pemberian komponen trombosit ialah 1 :

1. Setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar dengan jumlah


trombositnya kurang dari 50.000/mm3. Misalnya perdarahan pada
trombocytopenic purpura, leukemia, anemia aplastik, demam berdarah, DIC
dan aplasia sumsum tulang karena pemberian sitostatika terhadap tumor
ganas.

2. Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun hipertensi


portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.

Rumus Transfusi Trombosit

14
BB x 1/13 x 0.3

3. Tranfusi Plasma Segar Beku (fresh frozen plasma)

Plasma segar beku adalah bagian cair dari darah lengkap yang dipisahkan
kemudian dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan darah. Hingga
sekarang, komponen ini masih diberikan untuk defisiensi berbagai factor
pembekuan. (Bila ada/ tersedia, harus diberikan factor pembekuan yang
spesifik sesuai dengan defisiensinya).

Plasma beku segar ditransfusikan untuk mengganti kekurangan protein


plasma yang secara klinis nyata, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X dan
XI. Kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi tergantung dari faktor spesifik
yang akan diganti.

Komponen ini dapat diberikan pada trauma dengan perdarahan hebat atau
renjatan (syok), penyakit hati berat, imunodefisiensi tanpa ketersediaan preparat
khusus, dan pada bayi dengan enteropati disertai kehilangan protein (protein
losing enteropathy). Meskipun demikian, penggunaan komponen ini sekarang
semakin berkurang. Dan bila diperlukan, maka dosisnya 20-40 ml/ kgBB/hari.

Indikasi lain transfusi plasma beku segar adalah sebagai cairan pengganti
selama penggantian plasma pada penderita dengan purpura trombotik
trombositopenik atau keadaan lain dimana plasma beku segar diharapkan
bermanfaat, misalnya tukar plasma pada penderita dengan perdarahan dan
koagulopati berat. Transfusi plasma beku segar tidak lagi dianjurkan untuk
penderita dengan hemofilia A atau B yang berat, karena sudah tersedia konsentrat
faktor VIII dan IX yang lebih aman. Plasma beku segar tidak dianjurkan untuk
koreksi hipovolemia atau sebagai terapi pengganti imunoglobulin karena ada
alternatif yang lebih aman, seperti larutan albumin atau imunoglobulin intravena 2.

4. Cryopresipitate

15
Komponen utama yang terdapat di dalamnya faktor VIII, faktor pembekuan
XIII, faktor Von Willbrand dan fibrinogen. Penggunaannya ialah untuk
menghentikan perdarahan karena kurangnya faktor VIII di dalam darah penderita
hemofili A.

Cara pemberian ialah dengan menyuntikkan intravena langsung, tidak


melalui tetesan infus, pemberian segera setelah komponen mencair, sebab
komponen ini tidak tahan pada suhu kamar.

Suhu simpan -18°C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun,
ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah dicairkan. Efek sampingnya berupa
demam dan alergi. Satu kantong (30 ml) mengadung 75-80 unit faktor VIII, 150-
200 mg fibrinogen, faktor von wilebrand, dan faktor XIII 4 .

Indikasi :

- Hemophilia A

- Perdarahan akibat gangguan faktor koagulasi

- Penyakit von wilebrand

Rumus Kebutuhan Cryopresipitate :

0.5x ∆Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB

5. Albumin

Dibuat dari plasma, setelah gamma globulin, AHF dan fibrinogen


dipisahkan dari plasma. Kemurnian 96-98%. Dalam pemakaian diencerkan
sampai menjadi cairan 5% atau 20%. Pada 100 ml albumin 20% mempunyai
tekanan osmotik sama dengan 400 ml plasma biasa.

Rumus Kebutuhan Albumin

16
∆ albumin x BB x 0.4

6. Kompleks faktor IX

Komponen ini disebut juga kompleks protrombin, mengandung factor


pembekuan yang tergantung vitamin K, yang disintesis di hati, seperti factor VII,
IX, X, serta protrombin. Sebagian ada pula yang mengandung protein C.
Komponen ini biasanya digunakan untuk pengobatan hemofilia B. Kadang
diberikan pada hemofilia yang mengandung inhibitor factor VIII dan pada
beberapa kasus defisiensi factor VII dan X. Dosis yang dianjurkan adalah 80-100
unit/kgBB setiap 24 jam 1 .

7. Imunoglobulin

Komponen ini merupakan konsentrat larutan materi zat anti dari plasma, dan
yang baku diperoleh dari kumpulan sejumlah besar plasma. Komponen yang
hiperimun didapat dari donor dengan titer tinggi terhadap penyakit seperti
varisela, rubella, hepatitis B, atau rhesus. Biasanya diberikan untuk mengatasi
imunodefisiensi, pengobatan infeksi virus tertentu, atau infeksi bakteri yang tidak
dapat diatasi hanya dengan antibiotika dan lain-lain. Dosis yang digunakan adalah
1-3 ml/kgBB.

8. Transfusi darah autologus

Transfusi jenis ini menggunakan darah pasien sendiri, yang dikumpulkan


terlebih dahulu, untuk kemudian ditransfusikan lagi. Hal ini sebagai pilihan jika

17
pasien memiliki zat anti dan tak ada satu pun golongan darah yang cocok, juga
jika pasien berkeberatan menerima donor orang lain. Meski demikian, tetap saja
bisa terdapat efek samping dan reaksi transfusi seperti terjadinya infeksi 3 .

II.7 KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH

1. Reaksi transfusi darah secara umum

Tidak semua reaksi transfusi dapat dicegah. Ada langkah-langkah tertentu


yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi, walaupun
demikian tetap diperlukan kewaspadaan dan kesiapan untuk mengatasi setiap
reaksi transfusi yang mungkin terjadi. Ada beberapa jenis reaksi transfusi dan
gejalanya bermacam-macam serta dapat saling tumpang tindih. Oleh karena itu,
apabila terjadi reaksi transfusi, maka langkah umum yang pertama kali dilakukan
adalah menghentikan transfusi, tetap memasang infus untuk pemberian cairan
NaCl 0,9% dan segera memberitahu dokter jaga dan bank darah.1,4

2. Reaksi Transfusi Hemolitik Akut

Reaksi transfusi hemolitik akut (RTHA) terjadi hampir selalu karena


ketidakcocokan golongan darah ABO (antibodi jenis IgM yang beredar) dan
sekitar 90%-nya terjadi karena kesalahan dalam mencatat identifikasi pasien atau
unit darah yang akan diberikan 1,2 .

Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHA adalah demam dengan atau

tanpa menggigil, mual, sakit punggung atau dada, sesak napas, urine
berkurang, hemoglobinuria, dan hipotensi. Pada keadaan yang lebih berat dapat

18
terjadi renjatan (shock), koagulasi intravaskuler diseminata (KID), dan/atau gagal
ginjal akut yang dapat berakibat kematian 1,2 .

Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan tindakan sebagai berikut:

(a) meningkatkan perfusi ginjal,

(b) mempertahankan volume intravaskuler,

(c) mencegah timbulnya DIC.

3. Reaksi Transfusi Hemolitik Lambat

Reaksi transfusi hemolitik lambat (RTHL) biasanya disebabkan oleh adanya


antibodi yang beredar yang tidak dapat dideteksi sebelum transfusi dilakukan
karena titernya rendah. Reaksi yang lambat menunjukkan adanya selang waktu
untuk meningkatkan produksi antibodi tersebut. Hemolisis yang terjadi biasanya
ekstravaskuler.

Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam, pucat,
ikterus, dan kadang-kadang hemoglobinuria. Biasanya tidak terjadi hal yang perlu
dikuatirkan karena hemolisis berjalan lambat dan terjadi ekstravaskuler, tetapi
dapat pula terjadi seperti pada RTHA. Apabila gejalanya ringan, biasanya tanpa
pengobatan. Bila terjadi hipotensi, renjatan, dan gagal ginjal, penatalaksanaannya
sama seperti pada RTHA.1,4

4. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik

a. Demam

Demam merupakn lebih dari 90% gejala reaksi transfusi. Umumnya ringan
dan hilang dengan sendirinya. Dapat terjadi karena antibodi resipien bereaksi
dengan leukosit donor. Demam timbul akibat aktivasi komplemen dan lisisnya
sebagian sel dengan melepaskan pirogen endogen yang kemudian merangsang

19
sintesis prostaglandin dan pelepasan serotonin dalam hipotalamus. Dapat pula
terjadi demam akibat peranan sitokin (IL-1b dan IL-6). Umumnya reaksi demam
tergolong ringan dan akan hilang dengan sendirinya.

b. Reaksi alergi

Reaksi alergi (urtikaria) merupakan bentuk yang paling sering muncul, yang
tidak disertai gejala lainnya. Bila hal ini terjadi, tidak perlu sampai harus
menghentikan transfusi. Reaksi alergi ini diduga terjadi akibat adanya bahan
terlarut di dalam plasma donor yang bereaksi dengan antibodi IgE resipien di
permukaan sel-sel mast dan eosinofil, dan menyebabkan pelepasan histamin.
Reaksi alergi ini tidak berbahaya, tetapi mengakibatkan rasa tidak nyaman dan
menimbulkan ketakutan pada pasien sehingga dapat menunda transfusi.
Pemberian antihistamin dapat menghentikan reaksi tersebut.

c. Reaksi anafilaktik

Reaksi yang berat ini dapat mengancam jiwa, terutama bila timbul pada
pasien dengan defisiensi antibodi IgA atau yang mempunyai IgG anti IgA dengan
titer tinggi. Reaksinya terjadi dengan cepat, hanya beberapa menit setelah
transfusi dimulai. Aktivasi komplemen dan mediator kimia lainnya meningkatkan
permeabilitas vaskuler dan konstriksi otot polos terutama pada saluran napas yang
dapat berakibat fatal. Gejala dan tanda reaksi anafilaktik biasanya adalah
angioedema, muka merah (flushing), urtikaria, gawat pernapasan, hipotensi, dan
renjatan.

Penatalaksanaannya adalah :

(1) menghentikan transfusi dengan segera,

(2) tetap infus dengan NaCl 0,9% atau kristaoid,

(3) berikan antihistamin dan epinefrin.

20
Pemberian dopamin dan kortikosteroid perlu dipertimbangkan. Apabila terjadi
hipoksia, berikan oksigen dengan kateter hidung atau masker atau bila perlu
melalui intubasi 1,2 .

BAB III

KESIMPULAN

Transfusi darah merupakan bentuk terapi yang dapat menyelamatkan jiwa.


Berbagai bentuk upaya telah dan hampir dapat dipastikan akan dilaksanakan, agar
transfusi menjadi makin aman, dengan resiko yang makin kecil. Meskipun
demikian, transfusi darah belumdapat menghilangkan secara mutlak resiko dan
efek sampingnya. Untuk itulah indikasi transfusi haruslah ditegakkan dengan
sangat hati- hati, karena setiap transfusi yang tanpa indikasi adalah suatu
kontraindikasi. Maka untuk memutuskan apakah seorang pasien memerlukan
transfusi atau tidak, harus mempertimbangkan keadaan pasien menyeluruh. Pada
pemberian transfusi sebaiknya diberikan komponen yang diperlukan secara
spesifik untuk mengurangi resiko terjadinya reaksi transfusi. Indikasi untuk
pelaksanaan transfuse didasari oleh penilaian secara klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Cachlan MR. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi
Edisi Kedua, Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.

2. Ramelan S, Gatot D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan
Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics. 2005.
Jakarta, IDAI cabang Jakarta.

3. Sudarmanto B, Mudrik T, AG Sumantri, Transfusi Darah dan Transplantasi


dalam Buku Ajar Hematologi- Onkologi Anak. 2005. Jakarta, Balai Penerbit
IDAI.

4. Sudoyo AW, Setiohadi B. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi
Keempat. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

22