Anda di halaman 1dari 13

SMOKE POINT (TITIK ASAP)

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa mampu :

1. Menjelaskan pengertian dan peranan titik asap (smoke point) solar dan
minyak tanah.
2. Menentukan Titik asap yang dimiliki oleh solar dan minyak tanah.

II. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan :
- Satu Set Smoke Point Apparatus
- Gelas kimia 50 mL

Bahan yang digunakan :


- Kerosene 200 mL
- Solar 200 mL

III. TEORI

Titik asap adalah temperatur ketika minyak atua lemak pada kondisi
tertentu menguapkan sejumlah senyawa volatil yang memberikan penampakan
asap yang jelas. Istilah ini biasanya digunakan dalam bidang kuliner untuk
menentukan jenis minyak yang tepat untuk proses tertentu. Konsentrasi senyawa
volatil dalam minyak mencakup air, asam lemak bebas, dan produk hasil
degradasi oksidasi. Temperatur yang menyebabkan minyak terdekomposisi tidak
termasuk titik asap. Lebih tinggi dari titik asap akan menuju ketitik nyala di mana
uap dari minyak akan bercampur dengan udara dan membentuk api.

Titik asap (smoke point) adalah temperatur dimana sampel mulai berasap
ketika berada di bawah kondisi spesifik. Cup di isi dengan minyak atau lemak
yang mendidih dan dipanaskan di kontainer yang menyala. Titik asap (smoke
point) pada temperatur yang rendah, diteruskan secara tajam oleh bluish
smoke dan menjadi menurun. Tes ini memberikan reflek material organik yang
volatil pada minyak dan lemak, terutama asam amino bebas dan sisa ekstraksi
pelarut. Minyak penggorengan dan minyak olahan harus memiliki titik asap
sekitar 2000C dan 3000C (Nielsen, 1998). Bila suatu lemak dipanaskan, pada suhu
tertentuk timbul asap tipis kebiruan. Titik ini disebut titik asap (smoke point). Bila
pemanasan diteruskan akan tercapai flash point, yaitu minyak mulai terbakar
(terlihat nyala). Jika minyak sudah terbakar secara tetap disebut fire point. Suhu
terjadinya smoke point ini bervariasi dan dipengaruhi oleh jumlah asam lemak
bebas. Jika asam lemak bebas banyak, ketiga suhu tersebut akan turun. Demikian
juga bila berat molekul rendah, ketiga suhu itu lebih rendah (Winarno, 1997).

Titik asap dari satu jenis minyak dapat bervariasi tergantung asal bahan
dan derajat kemurniannya. Titik asap cenderung meningkat ketika kadar asam
lemak bebas berkurang dan derajat kemurnian bertambah.[2][3] Memanaskan
minyak akan menghasilkan asam lemak bebas dan seiring waktu pemanasan
jumlah asam lemak bebas akan terus bertambah. Asam lemak bebas di dalam
tubuh hanya mampu terikat dan ditransportasikan dalam darah
oleh protein albumin dalam darah sehingga metabolismenya amat tergantung pada
kadar albumin dalam darah. aktivitas menggoreng berkali-kali dengan minyak
yang sama dapat mempercepat kerusakan minyak goreng, sehingga minyak
goreng disarankan untuk tidak digunakan lebih dari dua kali.

Ttitik asap (smoke point) didefinisikan sebagai tinggi nyala maksimum


dalam millimeter di mana kerosin terbakar tanpa timbul asap apabila ditentukan
dalam alat uji baku pada kondisi tertentu (IP 57). Disamping dikenakan kepada
kerosin, uji titik asap juga dikenakan kepada bahan bakar jet (ASTM D 1322-90).
Titik asap ditentukan dengan cara membakar contoh kerosin atau bahan bakar jet
dalam lampu titik asap. Nyala dibesarkan dengan jalan menaikkan sumbu sampai
timbul asap, kemudian nyala dikecilkan sampai asap tepat hilang. Tinggi nyala
dalam keadaan terakhir ini dalam millimeter adalah titik asap contoh. Asap
terutama disebabkan oleh adanya senyawa aromat dalam bahan minyak.
Kepentingan smoke point dalam praktek ialah untuk menentukan kualitas
kerosin yang penggunaan utamanya ialah sebagai bahan bakar lampu penerangan.
Kerosin yang baik harus mempunyai titik asap yang tinggi, sehingga nyala api
bahan bakar kerosin ini dapat dibesarkan dengan kecenderungan untuk
memberikan asap yang kecil.

KEROSIN
Kerosin (minyak tanah) adalah bahan bakar kompor minyak. Avtur adalah
bahan bakar pesawat terbang bermesin jet. Kerosin dan avtur dihasilkan dari
pemanasan minyak bumi pada suhu antara 170-250 oC. Kerosin dan avtur tidak
dapat menguap pada suhu tersebut dan bagian minyak bumi lainnya akan terbawa
ke atas untuk diolah kembali.
Kerosin adalah cairan hidrokarbon yang tidak berwarna dan mudah
terbakar. Kerosin yang digunakan sebagai bahan bakar kompor minyak disebut
minyak tanah, sedangkan untuk bahan bakar pesawat disebut avtur.
Karena kerosin terutama digunakan sebagai bahan bakar lampu untuk
penerangan, maka salah satu sifat yang terpenting bagi kerosin ialah bahwa
kerosin harus dapat memberikan intensitas terang nyala yang tinggi dan sedikit
mungkin memberikan asap yang dapat mengganggu lingkungan. Uji baku yang
berkaitan dengan ini ialah uji titik asap (ASTM D 1322; IP 57) dan uji kualitas
pembakaran (P 10).
Titik asap ialah tinngi nyala maksimum dalam milimeter dimana kerosin
yang dibakar dengan menggunakan lampu uji baku tidak memberikan asap,.
Makin tinggi titik asap, makin baik mutu kerosin. Asap yang timbul pada
pembakaran kerosin disebabkan oleh senyawa aromat. Dewasa ini kerosin
diindonesia menurut spesifikasi pemasaran mempunyai titik asap minimum 16
mm, apabila ditentuksn dengan metode IP 57, atau minimum 15 mm apabila
ditentukan dengan metode ASTM D 1322.
Pada pengujian kualitas pembakaran kerosin, kerosin dibakar dalam lampu
baku selama 24 jam. Selama ini perlu diamati bentuk nyala api dan pada akhir
pengujian diamati adanya asap yang menempel pada cerobong lampu, berat
kerosin yang terbakar dan berat arang yang terbentuk. Yang disebut dengan nilai
arang (charvalue) ialah berat arang dalam mg dalam setiap kg kerosin yang
terbakar. Makin kecil nilai arang, makin baik kualitas kerosin. Menurut spesifikasi
pemasaran kerosin Indonesia, kerosin mempunyai nilai arang maksimum 40
mg/kg.
Sifat lain yang perlu diperhatikan ialah titik nyala, warna, korosi dan kadar
belerang. Titik nyala yang berkaitan dengan kemanan dalam menangani kerosin,
ditetapkan minimum 1000 F untuk titik nyala Abel (IP 170), dan minimum 105 0 F
untuk titik nyala Tag (ASTM D 56). Kerosin harus berwarna jernih seperti air
(Water white), sehingga kerosin juga disebut water white distilate. Warna saybolt
(ASTM D 130), 500 selama 3 jam, hasilnya maksimum 1. Kadar belerang yang
ditentukan dengan metode lampu (ASTM D 1266) menurut spesifikasi maksimum
ditetapkan 0,2% berat. Indonesia hanya memproduksi satu jenis kerosin.
Minyak tanah (bahasa Inggris: kerosene atau paraffin) adalah cairan
hidrokarbon yang tak berwarna dan mudah terbakar. Dia diperoleh dengan cara
distilasi fraksional dari petroleum pada 150°C and 275°C (rantai karbon dari C12
sampai C15). Pada suatu waktu dia banyak digunakan dalam lampu minyak tanah
tetapi sekarang utamanya digunakan sebagai bahan bakar mesin jet (lebih teknikal
Avtur, Jet-A, Jet-B, JP-4 atau JP-8). Sebuah bentuk dari minyak tanah dikenal
sebagai RP-1 dibakar dengan oksigen cair sebagai bahan bakar roket. Nama
kerosene diturunkan dari bahasa Yunani keros (κερωσ, malam).
Biasanya, minyak tanah didistilasi langsung dari minyak mentah
membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah unit Merox atau hidrotreater,
untuk mengurangi kadar belerang dan pengaratannya. Minyak tanah dapat juga
diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk memperbaiki kualitas bagian
dari minyak mentah yang akan bagus untuk bahan bakar minyak.
Penggunaanya sebagai bahan bakar untuk memasak terbatas di negara
berkembang, setelah melalui proses penyulingan seperlunya dan masih tidak
murni dan bahkan memilki pengotor (debris).
Di Indonesia, minyak tanah digunakan untuk mengusir koloni serangga
sosial, seperti semut, atau mengusir kecoa. Selain itu, beberapa pembasmi
serangga bermerek juga menggunakan minyak tanah sebagai komponennya.

SOLAR
Solar adalah bahan bakar mesin diesel. Solar adalah hasil dari pemanasan
minyak bumi antara 250-340oC. Solar tidak dapat menguap pada suhu tersebut
dan bagian minyak bumi lainnya akan terbawa ke atas untuk diolah kembali.
Umumnya, solar mengandung belerang dengan kadar yang cukup tinggi.
Kualitas minyak solar dinyatakan dengan bilangan setana. Angka setana adalah
tolak ukur kemudahan menyala atau terbakarnya suatu bahan bakar di dalam
mesin diesel. Saat ini, Pertamina telah memproduksi bahan bakar solar ramah
lingkungan dengan merek dagang Pertamina DEX © (Diesel Environment Extra).
Angka setana DEX dirancang memiliki angka setana minimal 53 sementara
produk solar yang ada di pasaran adalah 48. Bahan bakar ramah lingkungan
tersebut memiliki kandungan sulfur maksimum 300 ppm atau jauh lebih rendah
dibandingkan solar di pasaran yang kandungan sulfur maksimumnya mencapai
5.000 ppm.
Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan
yang jernih. Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar
pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang
juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam
dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak
solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.

1. Sumber Panas Api


Panas adalah salah satu penyebab timbulnya kebakaran. Dengan adanya panas
maka suatu bahan akan mengalami perubahan temperatur, sehingga akhirnya
mencapai titik nyala. Bahan yang telah mencapai titik nyala akan mudah
sekali terbakar.
Sumber-sumber panas antara lain :
Sinar matahari
Listrik
Energi mekanik
Reaksi kimia
Kompresi udara
Api terbuka
Gesekan
Petir
Nuklir
Pemampatan/Kompresi
Panas yang berasal dari sumber-sumber panas di atas, dapat berpindah
melalui empat cara, antara lain :
Radiasi : perpindahan panas dengan cara memancar / pancaran.
Konduksi : perpindahan panas melalui benda (perantara).
Konveksi : perpindahan panas melalui udara.
Loncatan bunga api : perpindahan panas akibat reaksi energi panas
dengan udara (oksigen).

2. Oksigen (O2)
Oksigen (O2) terdapat di udara bebas. Dalam keadaan normal, prosentase
oksigen di udara bebas adalah 21%. Karena oksigen adalah suatu gas
pembakar, maka keberadaan oksigen akan sangat menentukan keaktifan
pembakaran. Suatu tempat dinyatakan masih mempunyai keaktifan
pembakaran, bila kadar oksigennya lebih dari 15 %. Sedangkan pembakaran
tidak akan terjadi bila kadar oksigen di udara kurang dari 12 %. Oleh karena
itu salah satu teknik pemadaman api yaitu dengan cara menurunkan kadar
oksigen di sekitar daerah pembakaran menjadi kurang dari 12 % .
- Sinar matahari
- Listrik
- Energi mekanik
- Reaksi kimia
- Kompresi udara
- Api terbuka
- Gesekan
- Petir
- Nuklir
Hal tersebut di atas digunakan sebagai patokan dalam tehnik pemadaman
kebakaran, yang sering disebut sebagai tehnik Isolasi. Tehnik Isolasi ini pada
prinsipnya adalah mencegah nyala api bereaksi dengan oksigen atau berusaha
menurunkan kadar keaktifan pembakaran. Banyak contoh-contohnya, antara lain
pemadaman kompor yang terbakar dengan cara menutupi kompor tersebut dengan
karung / handuk bekas yang sudah dibasahi air. Pemadaman minyak terbakar
dengan air, namun air semprotan dibuat sedemikian rupa sehingga pancaran air
jatuh seperti air hujan dan mengurung tempat penampungan minyak yang
terbakar. Dengan ‘ dikurung ‘ oleh ‘ air hujan maka nyala api makin lama akan
makin mengecil, dan akhirnya padam, karena terisolasi dari udara bebas /
oksigen.
Pemadaman dengan cara isolasi disiapkan dalam bentuk alat-alat
pemadam kebakaran, antara lain yang banyak digunakan ialah alat pemadam Busa
dan alat pemadam Bubuk Kimia Kering ( Dry Powder ). Fungsi busa maupun
bubuk kimia kering pada dasarnya adalah untuk mengisolasi benda / sumber
kebakaran agar tidak bereaksi dengan oksigen.

Jenis-jenis Api
Api dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung dari bahan-bahan yang
terbakar. Penggolongan api tersebut bertujuan untuk memilih alat pemadam yang
tepat, karena tidak sembarang api dapat dipadamkan dengan alat pemadam yang
sama.
Sebagai contoh, untuk pemadaman di gudang tempat penyimpanan bahan-
bahan logam, penggunaan air yang disemprotkan bisa sangat berbahaya. Karena
ada sejenis logam dalam bentuknya sebagai bubuk kering, bila bereaksi dengan
air dapat menimbulkan ledakan yang dahsyat, lebih dahsyat dari ledakan TNT.
Jenis-jenis api tersebut ada 4 macam, yaitu :
- Api Klas A : Adalah api yang berasal dari bahan-bahan mudah terbakar
seperti Kayu, Kertas, Tekstil, Plastik, dan Karet.
- Api Klas B : Adalah api yang berasal dari bahan minyak seperti Bensin,
Minyak Tanah, Solar, dan sebagainya.
- Api Klas C : Adalah api yang berasal dari peralatan listrik (kortsleting).
- Api Klas D : Adalah api yang berasal dari bahan logam seperti
Titanium dan Sodium.

a. Titik Nyala (Flash Temperature)


Titik nyala adalah temperatur terendah di mana uap-uap yang terbentuk
dari suatu bahan bakar dapat terbakar apabila diberi sumber panas tanpa bahan
tersebut sendiri terbakar (terbakar sesaat).
b. Titik Bakar (Combustion / fire point temperature)
Titik bakar adalah temperatur di mana bahan yang dinyalakan akan
terbakar terus menerus apabila diberi sumber panas (biasanya kira-kira 30 – 40 °C
lebih tinggi dari titik nyala).
c. Titik Sulut (Auto Ignition temperature)
Apabila campuran bahan bakar dimasukkan kedalam ruang bakar dan
secara bertahap dipanasi, maka akan terbakar dengan sendirinya pada suhu
tertentu, suhu ini disebut “self ignition temperature “ atau titik sulut. Titik sulut
adalah suhu terendah di mana bahan dapat terbakar dengan sendirinya. Biasanya
"temperatur operasi" lebih rendah dari titik sulut suatu bahan yang mudah terbakar
. Contoh : gas alam sekitar 595 ºC.
d. Viskositas
Viskositas merupakan sifat bahan bakar (fuel oil) yang sangat penting
yaitu memungkinkan bahan bakar tersebut dapat dipompakan atau tidak
(pumpable) dan mudah dinyalakan atau tidak (flamable).
e. Sulfur content
Di dalam bahan bakar terdapat sulfur yang ikut bereaksi pada proses
pembakaran dengan reaksi sebagai berikut :
S + O2 ---> SO2
2 SO2 + O2 ---> 2 SO3
Selanjutnya SO2 dan SO3 bereaksi dengan uap air (H2O) yang berasal dari udara
pembakaran maupun dari bahan bakarnya sendiri, dengan reaksi sebagai berikut :
SO2 + H2O ---> H2SO3
2 SO2 + O2 ---> 2 SO3
Hasil reaksi tersebut di atas terikut dalam flue gas hasil pembakaran sehingga
mempunyai sifat korosi asam. Namun tingkat korosi flue gas tersebut tergantung
dari :
- Konsentrasi SO3 dan H2O
- Temperatur flue gas di stack, selalu dijaga lebih tinggi dari dew point

IV. PROSEDUR KERJA


1. Menuangkan sampel solar dan kerosin yang akan dianalisa sebanyak 20 ml
2. Merendam sumbu di dalam sampel selama 5 menit
3. Mengangkat sumbu dan memasang ketabung sumbu
4. Mengukur jarak ketinggian sumbu dengan permukaan tabung sumbu 1 cm
5. Menuangkan sampel ke dalam tabung sumbu dan meratakan permukaan
sumbu dengan menggunakan cutter
6. Memasang tabung sumbu ke alat smoke poin
7. Mengatur tabung sumbu sampai mendapatkan rata permukaan sumbu pada
alat
8. Menyalakan sumbu dan mendiamkan selama 5 menit
9. Mengatur nyala api dengan memutar knock ke arah jarum jam dan
memperhatikan nyala api sampai mengeluarkan asap/jelaga
10. Menghitung ketinggian api pada skala yang ada di dalam alat
V. DATA PENGAMATAN
Sampel Tinggi Titik 1 (mm) Tinggi Titik 2 (mm)
Kerosin 20 15
Solar 40 20

VI. PERHITUNGAN
1.1. Titik Asap Kerosin
Titik Asap = Tinggi Titik 1 + Tinggi Titik 2 / 2
= (20+15)mm/2
= 17,5 mm
1.2. Titik Asap Solar
Titik Solar = Tinggi Titik 1 + Tinggi Titik 2 / 2
= (40+20)mm / 2
= 30 mm
VII. ANALISA PERCOBAAN
Titik asap didefinisikan sebagai tinggi nyala maksimum dalam
milimeter yang dapat dihasilkan oleh lampu standar tanpa terjadi jelaga, yang
ditentukan dalam alat uji baku pada kondisi tertentu. Titik asap ini diperlukan
dalam spesifikasi minyak-minyak bakar. Pengukuran titik asap ini pada
umumnya dilakukan dengan cara membakar bahan bakar pada lampu khusus
dimana ketinggian api dinaikkan secara perlahan-lahan sampai mulai terbentuk
asap. Semakin tinggi titik asap, maka kecenderungan bahan akar untuk
menghasilkan asap semakin rendah.
Kerosin dan solar merupakan hidrokarbon jenis bahan bakar motor.
Kerosin umunya digunakan sebagai minyak tanah, lampu penerang dan bahan
bakar jet, sedangkan solar digunakan sebagai bahan bakar motor dan mesin
diesel. Salah satu tolak ukur penting dalam pengujian mutu, pembakaran
kerosin maupun solar, ialah titik asap (smoke point).
Secara teori, titik asap kerosin didapatkan pada literatur 15 mm. Faktor
yang paling berpengaruh pada titik asap bahan bakar yaitu kadar hidrogen di
dalam bahan bakar tersebut. Pada literatur lain juga disebutkan, asap yang
timbul pada pembakaran kerosin disebabkan oleh senyawa aromatik. Semakin
tinggi kadar hidrogen dalam bahan bakar, maka titik asap bahan bakar itu
semakin tinggi, maka kualitasnya juga semakin baik. Titik asap pada kerosin
yang didapatkan yaitu 17,5 mm, dimana kerosin memiliki kadar senyawa
aromatik yang tinggi pada fraksinya sehingga memiliki titik api yang rendah.
Sedangkan untuk solar memiliki smoke point sebesar 30 mm. Dapat diketahui
titik asapnya semakin tinggi dibandingkan dengan kerosin dikarenakan fraksi
dan jumlah atom karbonnya lebih tinggi dan kadar hidrogennya pun makin
tinggi. Sehingga dapat diketahui bahwa senyawa aromatik pada senyawa solar
lebih rendah yang menyebabkan smoke pointnya tinggi. Dan juga disebabkan
perbedaan rantai karbon, untuk kerosin memiliki rantai karbon dengan rentang
C11-C13 dan untuk solar memiliki rantai karbon dengan rentang C13-C17.
Dimana semakin panjang rantai karbon, maka jumlah hidrogenyya semakin
tinggi. Solar merupakan bahan bakar yang lebih baik kualitasnya dibandingkan
kerosin.
VIII. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Titik asap merupakan temperatur dimana sampel mulai berasap dalam mm,
yang dihasilkan oleh bahan bakar.
2. Titik asap digunakan untuk mengetahui kualitas dari suatu bahana bakar
minyak.
3. Smoke point kerosin : 17,5 mm
Smoke poin solar : 30 mm

IX. DAFTAR PUSTAKA


Tim Laboratorium Hidrokarbon. 2015. Penuntun Praktikum Hidrokarbon.
Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya
X. GAMBAR ALAT

Smoke Point Apparatus Wick Tube

Candle Wicks

Anda mungkin juga menyukai