Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

FRAUD PRINCIPLES
ANALISIS KASUS MALINDA DEE

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Akuntansi Forensik
Dosen Pengampu: Anis Chariri, S.E., M.Com., Akt., Ph.D.

Disusun oleh:

Kelompok I
1. Citrawati Baby Litone (12030117420080)
2. Desy Wulandari (12030117420094)

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


JURUSAN MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2018

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul...................................................................................................................... i
Kata Pengantar..................................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................................ iii

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang............................................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah....................................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penulisan Makalah............................................................................................ 5
1.4 Manfaat Penulisan Makalah.......................................................................................... 5
1.5 Metode Pengumpulan Data........................................................................................... 6

BAB II Pembahasan
2.1 Unsur – Unsur Fraud..................................................................................................... 7
2.2 Skema Fraud Triangle................................................................................................... 7
2.3 Ciri – Ciri Pelaku Kecurangan...................................................................................... 8
2.4 Pihak yang Dirugikan oleh Pelaku Kecurangan............................................................ 10
2.5 Pengklasifikasian Fraud................................................................................................. 10
2.6 Skema Fraud Tree.......................................................................................................... 11

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 13
3.2 Saran.............................................................................................................................. 14

Daftar Pustaka...................................................................................................................... 15

ii
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadiran Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.
Dalam makalah ini kami membahas “Analisis Kasus Malinda Dee”, suatu permasalahan
mengenai pembobolan dana nasabah Citibank oleh Malinda Dee yang menjabat Relationship
Manager Citigold.

Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam prinsip – prinsip kecurangan (fraud
prnciples) dalam kasus Malinda Dee dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas
mahasiswa yang mengikuti mata kuliah “Akuntansi Forensik.”

Dalam proses pendalaman materi Fraud Principles ini, tentunya kami mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu, rasa terima kasih kami sampaikan kepada
Bapak Anis Chariri, Se, M.Com. Akt, Ph.D, selaku dosen mata kuliah “Akuntansi Forensik”
yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.

Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat.

Semarang, 04 April 2018

iii
ANALISA KASUS MELINDA DEE
MANTAN SENIOR RELATION MANAGER CITIBANK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG KASUS


Citibank merupakan bank multinasional yang beroperasi di Indonesia. Citibank
merupakan bagian dari perusahaan Citigroup yang sahamnya terdaftar di New York Stock
Exchange (NYSE). Sejak Agustus 1989, Malinda Dee tercatat sebagai karyawan di Citibank.
Sejak diterima, ia dikenal sebagai anak emas. Kemampuannya membawa nasabah kelas
kakap, membuatnya diberi keleluasaan dalam mencari nasabahnya sendiri. Menurut
pernyataan salah satu karyawan yang bekerja disana, Melinda Dee merupakan seorang
karyawati Citibank Senior yang sudah menangani nasabah kurang lebih 15 tahun. Melinda
Dee dikenal sebagai karyawati yang piawai dalam mengelola hubungan dengan pada
nasabah, sehingga ia mendapat kepercayaan khusus untuk menangani para nasabah yang
memiliki deposito di atas Rp500 juta. Untuk mendapatkan kepercayaan dari para nasabahnya,
Melinda Dee melayani mereka secara istimewa. Hal ini tidak dilakukannya dalam waktu
singkat, tetapi dalam waktu lama dan terus menerus sampai mendapat kepercayaan dari
nasabah.
Kasus pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp 40 Miliar oleh Inong Melinda
alias Melinda Dee yang menjabat sebagai Relation Manager Citigold di bank itu merupakan
salah satu kasus hukum paling bnyak menyita perhatian di tahun 2011. Selain nilai kejahatan
yang fantastis kasus ini merembet ke masalah privat karena gaya hidup mewahnya bersama
suaminya yang juga artis Andhika Gumilang. Dalam melakukan aksinya, ia dibantu oleh
suami, adiknya yang bernama Visca Lovitasari, suami dari adiknya yang bernama ismail,
beberapa bawahannya, dan pimpinan perusahaan yang didirikannya.
Kasus ini bermula ketika pihak Citibank mendapat aduan dari tiga nasabahnya terkait
dengan dana nasabah yang ada di tabungan menghilang, pihak Citibank melaporkan kejadian
tersebut kepada pihak polisi. Setelah dilakukan penyelidikan ternyata terdapat pembobolan
dana nasabah yang dilakukan oleh karyawan senior yang menjabat sebagai vice president di
bank tersebut yang bernama Melinda Dee. Pembobolan dana tersebut juga melibatkan
karyawan Citibank yang bertugas sebagai teller. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen

1
Anton Bachrul Alam, terdapat dua orang head teller bank tersebut yang diketahui menyetujui
transfer dana nasabah, mereka secara prosedural telah membantu kejahatan tersangka utama
kasus ini, kedua karyawan tersebut mentransfer dana nasabah tanpa mempertimbangkan
prosedur yang ada. Sehingga kasus ini terdapat penyimpangan terhadap SOP yang ada. Selain
pembobolan dana nasabah, tersangka juga melakukan pencucian uang. Dana nasabah di
transfer ke sejumlah rekening perusahaan yang sifatnya fiktif, hal ini dilakukan agar tidak
terlihat mencurigakan.
Pembobolan simpanan nasabah oleh Melinda Dee selama kurang lebih tiga tahun
berakhir di 23 Maret 2011. Setelah delapan bulan penyidik dari Direktorat Ekonomi dan
Badan Kriminal Markas Besar Polri menangkap Melinda di Apartemennya. Dalam
keterangan saksi di pengadilan modus yang digunakan Melinda yakni dengan menyalah
gunakan kepercayaan para nasabah terhadap dirinya. Oleh Melinda para nasabah dikelabui
dengan pemberian blangko kosong untuk ditandatangani agar mudah bertransaksi. Namun
ternyata Melinda mencuri uang itu sedikit demi sedikit tanpa disadari pemilik rekening
melalui persekongkolan jahat dengan bawahannya, Dwi Herawati, Novianty Iriane dan
Betharia Panjaitan selaku Head Teller Citibank. Melinda juga menggunakan surat kuasa dari
nasabah, sehingga nasabah seolah-olah datang ke bank untuk melakukan transaksi.
Jaksa penunutut umum mendakwa Melinda melakukan pencucian uang dan
penggelapan dalam kurun waktu 22 Januari 2007 hingga Februari 2011 melalui 117 transaksi,
dimana 64 transaksi di antaranya dalam bentuk pecahan rupiah senilai Rp27,36 miliar dan 53
transaksi senilai 2,08 juta dolar AS. Berdasarkan kesaksian mantan citigold Executive Head
di Citibank Indonesia, Reniawati Hamid, Melinda mengalirkan dana nasabah ke empat
perusahaan miliknya yaitu PT Sarwahita Global Manajemen, PT Porta Axel Amitte, PT
Qodeeera Agilo Resouses dan PT.Axom Intoteco Centro. Hal tersebut dilakukan Melinda
untuk mengaburkan bukti kejahatan. Melinda membuat perusahaan pribadinya yang dialiri
dana nasabah Citibank atas nama orang lain. Dari keempat perusahaan ini Melinda kembali
menarik uangnya untuk kepentingan pribadinya.
Andhika Gumilang yang merupakan suami muda Melinda pun ikut terseret ke muka
pengadilan, Andhika didakwa melanggar pasal 6 ayat (1) huruf a,b,d, f UU Tindak Pencucian
Uang Juncto pasal 65 ayat (1) KUHP dan pasal 5 ayat (1) UU pencegahan dan
Pemeberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Juncto pasal 263 dengan ancaman maksimal
hukuman penjara selama 15 tahun. Sementara itu, jaksa menjerat Melinda dengan pasal
berlapis yaitu pasal pencucian uang. Pertama dia dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun
1992 sebagaimana diubah dengan UU no.10 tahun 1998 tentang Perbankan juncto pasal 55
2
ayat 1 dan 65 KUHP. Kedua, pasal 3 ayat 1 UU no.15 2002 sebagaimana diubah dengan
Undang-Undang no 25 tahun 2003 tentang pidana pencucian uang juncto pasal 63 KUHP.
Ketiga pasal 3, Undang-Undang no 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang juncto pasal 65 ayat 1 KUHP.
Fakta lain yang cukup menarik adalah keterlibatan wakil Gubernur Lembaga
Ketahanan Nasional (LemHaNas) Marsekal Madya TNI Rio Mendung Thalieb. Dia menjadi
komisaris utama PT.Sarwita Group Manajemen. Terkait kasus ini Bank Indonesia
menyatakan menghentikan untuk sementara (Suspend) penghimpunan nasabah baru di
segmen prioritas Citibank Indonesia ( Citi Indonesia), yaitu Citigold Wealth Management
Banking (Citigold). Hal itu dilakukan sebagai sanksi administrative atas kasus pembobolan
nasabah. Pihak Citi Indonesia pun telah mengakuinya, pihaknya memang sudah
menghentikan penghimpunan nasabah baru citigold sesuai permintaan BI. Selain karena
adanya praktek kolusi untuk membobol dana nasabah, sanksi tersebut juga diberikan atas
kelalaian Citi Indonesia melakukan rotasi secara berkala untuk menghindarkan potensi fravol.
Saat ditangkap polisi, Malinda menduduki jabatan Relationship Manager Citibank di
Kantor Cabang Citibank Landmark, Jakarta Selatan, dengan pangkat Vice President. Ini
pangkat tertinggi untuk karyawan Citibank.

1) 25 Maret 2011, Mabes Polri mengungkap kasus penggelapan dana nasabah di


Citibank atas laporan nasabah. Polisi menangkap Malinda dan turut menyita sejumlah
barang bukti, antara lain dokumen-dokumen transaksi dan 1 unit mobil merek
Hummer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditaksir seharga Rp 3,4 miliar.
2) Diduga Malinda sudah melakukan aksinya dalam tiga tahun terakhir sejak 2009 lalu.
Setidaknya dari tiga perusahaan yang menjadi nasabah Citibank, Linda mengantongi
hingga Rp17 miliar.
3) Modus yang dilakukan dengan meminta teller Citibank bernama Dwi membantu
melakukan pencatatan palsu beberapa transfer uang. Nilainya antara Rp1 miliar
hingga Rp2 miliar. Catatan ini merupakan manipulasi transfer uang dari rekening
nasabah ke rekening beberapa perusahaan milik Malinda di dalam dan di luar
Citibank.
4) 28 Maret 2011, Citibank buru-buru mengeluarkan rilis. Seperti diungkapkan Director
Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya, Citibank
berkomitmen melindungi kepentingan nasabah. Termasuk secepatnya mengembalikan

3
kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam
rekening mereka secara adil dan tepat waktu.
5) Sejak 29 Maret 2011, nama Malinda Dee ramai dibicarakan masyarakat. Terutama di
dunia maya. Tidak saja terkait aksinya, namun juga lebih kepada penampilannya yang
cukup seksi. Bahkan kemudian beredar sejumlah foto-foto pribadi miliknya. Serta
juga hubungannya dengan artis muda Andhika Gumilang.
6) 14 April 2011, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
menyatakan ada dugaan 50 orang pejabat negara yang menjadi nasabah Malinda dan
diduga berasal dari pencucian uang hasil korupsi. Indonesian Corruption Watch
(ICW) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyelidikan
terhadap para pejabat negara tersebut.
7) 7 Juli 2011, Malinda jalani operasi payudara tahap kedua di Rumah Sakit Siloam.
Operasi tahap pertama dilakukan sekitar 14 Juni 2011
8) 18 Agustus 2011, Malinda kembali meringkuk dalam Rumah Tahanan Bareskrim
Mabes Polri setelah menjalani perawatan selama tiga bulan di rumah sakit. - 26
Agustus 2011, Jaksa Penuntut Umum menyatakan berkas perkara Malinda Dee
lengkap (P21).
9) 19 September 2011, Andhika yang disebut sebagai suami siri Malinda, menjalani
siding perdana. JPU mengungkapkan, setidaknya Andhika menerima setoran tunai
dari Malinda Dee dalam 24 kali transaksi.
10) 8 Nopember 2011, Terdakwa pembobol dana nasabah Citibank Inong Malinda Dee
menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Agenda sidang
pembacaan dakwaan oleh jaksa.
11) 7 Maret 2012, Malinda dijatuhi hukuman pidana kepada terdakwa Inong Malinda
Dee binti Siswo Wiratmo hukuman penjara selama delapan tahun dan denda sebesar
10 miliar rupiah.
12) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyampaikan apresiasi
terhadap Jaksa dan Hakim dalam kasus penggelapan dana nasabah Citibank yang
dilakukan Malinda Dee. Hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar diharapkan
bisa menjadi efek jera bagi masyarakat.

4
1.2 Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, maka
permasalahan dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja unsur-unsur fraud dalam kasus pembobolan dana nasabah Citibank?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Melinda Dee dalam melakukan
kecurangan bila dihubungkan dengan teori fraud triangle?
3. Apa saja ciri-ciri pelaku kecurangan dalam fenomena kasus Melinda Dee?
4. Siapa saja pihak yang dirugikan oleh pelaku kecurangan dalam kasus pembobolan
dana nassabah Citibank oleh Melinda Dee?
5. Sebutkan jenis kecurangan yang terjadi pada fenomenan kasus Melinda Dee?
6. Bagaimana skema fraud tree pada fenoemena kasus Melinda Dee?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan
dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui unsur-unsur fraud dalam kasus pembobolan dana nasabah
Citibank
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Melinda Dee dalam
melakukan kecurangan bila dihubungkan dengan teori fraud triangle
3. Untuk mengetahui ciri-ciri pelaku kecurangan dalam fenomena kasus Melinda
Dee
4. Untuk mengetahui siapa saja pihak yang dirugikan oleh pelaku kecurangan dalam
kasus pembobolan dana nassabah Citibank oleh Melinda Dee
5. Untuk mengetahui pengklasifikasian kecurangan yang terjadi pada fenomenan
kasus Melinda Dee
6. Untuk mengetahui skema fraud tree pada fenoemena kasus Melinda Dee

1.4 Manfaat Penulisan Makalah


Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan
sebelumnya, maka manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai
prinsip-prinsip kecurangan (fraud principles)
2. Diharapkan dapat memberi informasi bagi kita semua sehingga dapat
memperkaya bahan kajian tentang Akuntansi Forensik.
5
1.5 Metode Pengumpulan Data
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode
kepustakaan, yaitu dengan mencari literatur yang berhubungan dengan bahasan
makalah kami.

6
ANALISA KASUS MELINDA DEE
MANTAN SENIOR RELATION MANAGER CITIBANK

BAB II
PEMBAHASAN KASUS

2.1 Fraud
Perbuatan Melinda Dee termasuk kategori fraud karena memenuhi unsur-unsur fraud
sebagai berikut:
- Terdapat salah saji (misrepresentation)
- Masa lampau (past) atau sekarang (present)
- Fakta bersifat material (material fact)
- Kesengajaan atau tanpa perhitungan (make-knowingly or recklessly)
- Dengan maksud (intent) menimbulkan reaksi dari suatu pihak.
- Adanya pihak yang dirugikan terhadap salah saji tersebut
- Menimbulkan kerugian

2.2 Segita Fraud


Segitiga fraud pada kasus Melinda dee yaitu:
a. Tekanan (Pressure)
Gaya hidup (life style) super mewah Melinda Dee dari status sosial hingga
kepemilikan asset-asset berharga seperti beberapa mobil mewah, tempat tinggal
mewah, dan benda-benda/perhiasan mewah sehingga diperlukan sumber daya (uang)
lebih untuk memenuhinya.
b. Rasionalisasi
Melinda Dee merasa posisinya sebagai Relationship Manager Citigold dengan
nasabah-nasabah besar patut mendapat penghargaan yang setimpal atas jasa yang
diberikan kepada client (nasabah) tersebut dengan cara mencuri uang sedikit-demi
sedikit tanpa disadari pemilik rekening melalui persekongkolan jahat dengan
bawahannya, Dwi Herawati, Novianty Iriane dan Betharia Panjaitan selaku Head
Teller Citibank (merasa bahwa perbuatan fraud nya tidak dilakukan sendirian atau
bersama-sama).
c. Kesempatan

7
Sistem keamanan bank masih terlau lemah. Karena kasus seperti ini biasanya banyak
melibatkan pihak internal yang mengetahui celah-celah keamanan bank, tetapi tidak
menutup kemungkinan adanya pihak eksternal. Tiga standar operasional yang tidak
diterapkan oleh Citibank yaitu:
1. Tidak ada supervisi oleh atas terhadap Malinda Dee
2. Ada dugaan penyalagunaan blanko yang seharusnya tidak boleh
ditandatangani dulu oleh nasabah
3. Adanya penyetoran uang yang dilakukan nasabah melalui Malinda yang
seharusnya dilakukan melalui Teller
Selain itu, adanya layanan private banking dimana karyawan bank memberikan
pelayanan berlebihan kepada nasabah kelas atas sehingga menimbulkan kepercayaan
berlebihan pula kepada karyawan bank. Telah memberikan kesempatan yang besar
kepada karyawan bank untuk melakukan fraud serta lemahnya pengawasan
manajemen dalam memantau kinerja para anggotanya hal ini dibuktikan dengan baru
terungkapnya kasus tersebut yang telah berjalan 3 tahun.

2.3 Ciri-ciri Pelaku Kecurangan


Fenomena Melinda Dee sesuai dengan ciri-ciri pelaku kecurangan berdasarkan:
1. Pendapat Gwynn Nettler (Lying, Cheating, and Stealing), pelaku kecurangan dan
penipuan adalah sebagai berikut:
- Semakin mudah untuk melakukan kecurangan dan pencurian, semakin banyak
orang yang akan melakukannya
Dari kasus Melinda Dee yang dapat berlangsung selama tiga tahun tanpa
terdeteksi mengindikasikan kurang efektifnya kegiatan supervisi atasan, tidak
terdapat rotasi karyawan, pengendalian atas kas belum sesuai prosedur, dan
kurangnya komunikasi antar pihak terkait di dalam Citibank maupun kepada
nasabah sehingga memudahkan Melinda Dee untuk melakukan kecurangan yang
dibantu oleh bawahannya.
- Masing-masing orang memiliki tingkat kebutuhan berbeda yang akan mendorong
untuk berbohong, berbuat curang, atau mencuri.
Hal ini berkaitan dengan gaya hidup mewah Melinda Dee sehingga untuk
memenuhi kebutuhannya diperlukan biaya yang tinggi dengan cara menarik dana
nasabah melalui blanko kosong yang sudah ditandatangani nasabah dengan
meminta bantuan salah satu bawahannya untuk menstransfer uang tersebut ke
8
empat perusahaannya atau menyimpan semua uang itu dengan membuka
rekening menggunakan identitas berbeda dan KTP palsu.

2. Perbuatan kebohongan, kecurangan, dan pencurian di tempat kerja dalam berbagai


situasi diikuti dengan:
a. Variabel Personal
- Bakat/kemampuan
Melinda Dee merupakan seorang karyawati Citibank Senior yang sudah
menangani nasabah kurang lebih 15 tahun. Melinda Dee dikenal sebagai
karyawati yang piawai dalam mengelola hubungan dengan pada nasabah,
sehingga ia mendapat kepercayaan khusus untuk menangani para nasabah
yang memiliki deposito di atas Rp500 juta. Untuk mendapatkan kepercayaan
dari para nasabahnya, Melinda Dee melayani mereka secara istimewa. Hal ini
tidak dilakukannya dalam waktu singkat, tetapi dalam waktu lama dan terus
menerus sampai mendapat kepercayaan dari nasabah. Melinda Dee sangat
pintar dalam melihat pola transaksi para nasabahnya, hal tersebut dijadikan
Melinda Dee sebagai peluang dalam melakukan kecurangan dengan
menyodorkan blangko kosong untuk ditandatangani nasabah yang kemudian
dipakai untuk menarik dana. Untuk mengaburkan bukti kejahatan, Melinda
Dee membuat perusahaan pribadinya yang dialiri dana nasabah Citibank atas
nama orang lain.
b. Variabel Organisasi
- Posisi SKAI masih berada dibawah kewenangan langsung pihak top
manajemen dan tidak memiliki hubungan langsung dengan komite audit. Hal
ini dapat menjadi salah satu kelemahan apabila top manajemen melakukan
fraud.
- Gagalnya pengendalian pokok terhadap kegiatan operasional bank terkait
otorisasi dan verifikasi serta kaji ulang atas risk exposure.
- Fungsi audit internal kurang efektif dalam menjalankan tugasnya.
- Tidak ada rotasi selama 15 tahun atas posisi pekerjaan Melinda Dee

3. Association of Certified Fraud Examiner (ACFE) dalam Report To The Nation


(RTTN) ciri-ciri pelaku kecurangan yang didasarkan dalam segi biaya dan kehilangan
antara lain:
9
- Telah lama bekerja di perusahaan
- Memiliki penghasilan yang tinggi
- Berpendidikan tinggi
- Tidak bekerja sendiri, dan
- Tidak memiliki catatan kriminal.

2.4 Pihak yang Dirugikan oleh Pelaku Kecurangan


Dari kasus yang dilakukan oleh Malinda Dee ini banyak pihak yang dirugikan,
diantaranya citra Citibank itu sendiri di mata masyarakat apalagi dalam perekonomian
secara keseluruhan permasalahan dari satu bank pasti akan merembet pada bank lain,
karena pada dasarnya hal utama yang harus dijaga oleh bank adalah tingkat
kepercayaan para nasabahnya. Kasus Citibank mengakibatkan tingkat kepercayaan
nasabah menurun (bonafiditas) sehingga para nasabah menarik dananya dari bank
tersebut atau menurunkan tingkat saving di bank yang berimbas pada pendapatannya
(rentabilitas). Kasus ini menimbulkan kerugian dan dampak buruk bagi Citibank
khususnya pada manajemen likuiditasnya. Lalu, nasabah Citibank yang dananya
digelapkan oleh Malinda Dee akan diganti oleh Citibank akibat tindak dugaan
penggelapan uang yang dilakukan oleh Melinda Dee sebagai mantan karyawan bank
tersebut. Kasus ini tidak hanya merugikan banyak pihak, tetapi juga menjadi
gambaran buat pemerintah, Lembaga Penjamin Simpanan, Bank Indonesia dan pihak-
pihak berkepentingan lainnya untuk mengambil langkah selanjutnya tentang
perbankan agar tidak terdapat lagi celah untuk melakukan kecurangan seperti ini.
Dalam. Kasus Citibank membuat nasabah

2.5 Pengklasifikasian Fraud


Pada kasus diatas diklasifikasikan sebagai internal fraud karena dilakukan oleh orang
dalam perusahaan yaitu:
1. Penyimpangan kas dan pencurian
Pada kasus penyimpangan kas, Melinda Dee melakukan pembobolan dana
nasabah sedikit demi sedikit agar tidak diketahui oleh nasabahnya serta
melakukan pencucian uang.
2. Penyalagunaan blangko kosong

10
Melinda Dee memanfaatkan kepercayaan nasabahnya untuk melakukan fraud.
Para nasabah dikelabui dengan pemberian blangko kosong untuk ditandatangani
agar mudah bertransaksi.
3. Money Laundry
Dalam aksinya melakukan pencucian uang, Melinda Dee bekerja sama dengan
bagian Teller. Hasil uang yang didapatkannya ini kemudian ditransfer ke
beberapa perusahaan yang dimilikinya dengan partner-nya yang lain.

2.6 Fraud Tree


Pada kasus diatas sudah dapat dilihat banyak kecurangan yang dilakukan oleh
Malinda Dee di Citibank. Malinda memanfaatkan posisinya untuk melakukan kecurangan
yang dibantu oleh dua orang head teller. Kecurangan yang dilakukan oleh Malinda dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Fraud Terhadap Aset (Asset Misappropriation)
Penyalahgunaan aset perusahaan yang digunakan untuk keperluan pribadi (tanpa
ijin dari perusahaan). Seperti kita ketahui, aset perusahaan bisa berbentuk kas
(uang tunai) dan non-kas. Dalam kasus ini, Malinda melakukan penyelewengan
terhadap asset yang berupa kas yaitu dana nasabahnya.
2. Fraud Terhadap Laporan Keuangan (Fraudulent Statements)
Kecurangan ini dilakukan untuk membuat Laporan Keuangan menjadi tidak seperti
yang seharusnya (tidak mewakili kenyataan). Pada kasus ini, 2 orang head teller
yang membantu Malinda untuk memindahkan dana nasabah untuk kepentingan
pribadinya berkaitan dengan transaksi yang nantinya dilaporkan dalam laporan
keuangan. Tindakan ini tentu saja harus didukung oleh tindakan-tindakan seperti
memalsukan bukti transaksi, mengakui suatu transaksi lebih besar atau lebih kecil
dari yang seharusnya, menerapkan metode akuntansi tertentu secara tidak
konsisten untuk menaikan atau menurunkan laba, menerapkan metode pangakuan
liabilitas sedemikian rupa sehingga liabiliats menjadi nampak lebih kecil
dibandingkan yang seharusnya.
3. Korupsi
Bentuk korupsi yang dilakukan oleh Melinda Dee adalah korupsi upeti,
dikarenakan Melinda Dee menjabat Relationship Manager Citigold di bank.
Jabatan Melinda dee merupakan jabatan yang sangat strategis dan memiliki banyak
peluang di Citibank, dimana dalam pekerjaannya Melinda Dee sering bertemu
11
dengan klien-klien dari berbagai perusahaan hingga rektorat pemerintahan
sehingga peluang untuk melakukan kejahatan korupsi sangat mudah. Selain itu,
sitem yang baik sekalipun tidak dapat berjalan bilamana sekelompok pegawai
berkolusi atau bekerjasama untuk melanggar sistem. Dengan kolusi, akan terlihat
di permukaan seolah sistem dipatuhi tetapi pada hakekatnya dilanggar, antara lain
dengan menggunakan dokumen fiktif dan prosedur yang direkayasa. Prosedur dan
proses penyetoran dana nasabah terlihat benar, tapi sebenarnya direkayasa seperti
blanko kosong yang ditandatangani dipicu oleh adanya layanan private banking
dimana karyawan bank memberikan pelayanan berlebihan kepada nasabah kelas
atas.

12
ANALISA KASUS MELINDA DEE
MANTAN SENIOR RELATION MANAGER CITIBANK

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kasus Citibank merupakan salah satu kasus penyelewangan dana dan
penggelapan dana yang menghebohkan Indonesia. Gaya hidup mewah sserta sistem
pengawasan yang rendah menjadi pemicu tindakan tersebut. Akibat dari kasus
penggelapan dana ini. Citibank kehilangan sebagian besar nasabahnya sehingga
menurunkan pendapatan perusahaan. Hal ini diakibatkan menurunkannya
kepercayaaan nasabah akan kinerja Citibank. Oleh karena itu, kecurangan (fraud)
bukan saja berakibat berkurangnya aset organisasi tetapi dapat juga mengurangi
reputasi. Tindakan fraud dapat dikurangi melalui langkah-langkah pencegahan atau
penangkalan, pendeteksian, dan investigasi. Langkah pencegahan terhadap fraud
tidaklah mudah. Fraud sulit terdeteksi karena pada hakekatnya fraud tersembunyi dan
pelakunya pada umumnya cerdas, pekerja keras, dan mempunyai profil seperi orang
jujur.
Untuk mencegah, mendeteksi, dan mengivestigasi fraud harus meningkatkan
pemahaman dan mempelajari terlebih dahulu tentang teori dan pengertian fraud antara
lain mengenai jenis, bentuk faktor-faktor pendorong dan penyebab fraud. Disamping
itu, perlu pemahaman tentang ciri-ciri tipikal dan karakteristik pelaku potensial dan
tanda-tanda fraud seperti yang terjadi pada kasus Citibank Melinda Dee sehingga dari
sini kita bisa mengidentifikasi poin-poin apa saja yang perlu dipahami dalam upaya
pencegahan, pendeteksian dan investigasi fraud.

3.2 SARAN
Menciptakan sistem whistle blower dimana manajemen mendorong karyawan
Citibank untuk mengungkapkan kecurangan-kecurangan yang terjadi dilingkungan
internal bank. Salah satu cara yang dapat dipakai dengan membuat website khusus
untuk menunjang sistem whistle blower tersebut dimana identitas karyawan yang
melaporkan fraud akan dirahasikan. Kemudian beranjak dari informasi yang
diberikan oleh whistle blower tersebut, SKAI dapat melakukan penelurusan lebih

13
lanjut. Tentunya terdapat kriteria-kriteria pelaporan yang akan ditindaklanjuti agar
dapat dipertanggungjawabkan. Meningkatkan pengendalian inernal dengan
mengadakan rotasi secara rutin, memperketat pengawasan, dan menciptkan
komunikasi yang efektif antar bagian internal Citibank. Namun, yang perlu
ditekankan disini adalah tidak ada kontrol internal yang kebal terhadap fraud. Sistem
kontrol internal hanyalah suatu program pencegahan yang komprehensif. Selanjutnya,
menciptakan ekspektasi atas hukuman. Hukuman untuk pelaku fraud harus tegas dan
membuat pelaku fraud yang lain ketakutan. Sering kali, investigasi terhadap fraud
dilakukan setelah ada korban, yang artinya bersifat reaktif. Audit yang bersifat
proaktif diharapkan akan membangun kesadaran para personel bahwa apa yang
mereka lakukan setiap saat bisa saja “di-review”. Sehingga pelaku ketakutan untuk
melakukan fraud.
Selain cara-cara di atas, fraud di perbankan kita diharapkan bisa dikurangi dan
dicegah melalui penciptaan budaya kejujuran, keterbukaan, program bantuan kepada
personel, dan usaha-usaha menghilangkan kesempatan para personel melakukan
fraud. Tahap pencegahan menjadi tanggung jawab manajemen. Pimpinan
bertanggung jawab membangun sistem dan nilai-nilai budaya yang diperlukan, dan
bersama dengan jajaran pejabar sampai tingkat terbawah bertanggung jawab
memelihara, menjaga dan menerapkannyadi lingkungan masing-masing. Audior
internal senantiasa mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian internal dan
memberikan rekomendasi perbaikan jika ditemukan kelemahan-kelemahan. Namun
demikian, sebagai aparat pengawasan fungsional, auditor internal dituntut juga untuk
dapat mendeteksi fraud dan melakukan investigasi bilamana fraud diyakini sedang
atau telah terjadi.
Kita semua berharap, fraud pada sistem perbankan kita setidaknya berkurang.
Sebab, tidak mungkin fraud bisa hilang. Namun, harapan berkurangnya fraud ini
sangat bergantung pada kesiapan masing-masing bank untuk mencegahnya. Untuk itu,
jelas, perlu aksi bukan hanya bicara saja.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://ikatanbankir.com/ibi/content.php?id=4&top=3

http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1224/1/Si.Cantik.Pembobol.Bank

http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1381232/aksi-tipu-tipu-melinda-dee

http://tv.okezone.com/play/10160/kasus-melinda-dee-mulai-menyeret-citibank

http://www.bamsoetnews.com/berita/berita9063-Kronologis-Kasus-Malinda-Dee.html

http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/kode-etik-pegawai/Contents/Default.aspx

https://www.lintas.me/article/id.berita.yahoo.com/inilah-kronologi-inong-alias-melinda-dee-
si-pembobol-citibank/1

http://www.tempo.co/read/news/2011/11/16/063366926/Kasus-Citibank-Malinda-Suka-
Tebar-Uang-ke-Teller

http://www.tempo.co/topik/tokoh/585/Inong-Malinda-Dee

http://www.tribunnews.com/topics/si-seksi-pembobol-citibank

Singleton, Tommie dan Aaron J. Singleton.2010. Fraud Auditing and Forensic Accounting 4th ed.
New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

15

Anda mungkin juga menyukai