Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II


PENGAMATAN SEL KELAMIN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan dan Manusia
yang Dibimbing oleh Ibu Dr. Umie Lestari, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 1
1. Dinda Aprilia (150342602371)
2. Dyan Listiana (150342602064)
3. Dyta Adilya (150342602105)
4. Ike Anggraini (150342601952)
5. Muhammad Nurhasan (150342605661)

Offering G

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
September 2016
Pengamatan Sel Kelamin

A. Tujuan
1. Mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur beberapa hewan
vertebrata.
2. Mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian
sistem reproduksi yang berbeda.

B. Dasar Teori
Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang “terperas”, sangat
sedikit sekali kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa memiliki organel-organel
yang sangat sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki
ribosom, retikulum endoplasmik dan golgi. Sebaliknya spermatozoa memiliki
banyak sekali mitokondria yang letaknya sangat strategis untuk pengefisiensian
energi yang diperlukan. Secara struktur ada dua bagian yaitu kepala dan ekor.
Spermatatozoa diproduksi di dalam tubulus semininerus testis. (Patihardjo, 2001).
Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor
(flagelata). Kepala sperma mengandung nucleus. Bagian ujung kepala ini
mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus
lapisan-lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung
mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energi untuk pergerakan
sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak (Kastawi, 2003).
Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi yaitu dari bulat pipih sampai
panjang lancip. Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik)
haploid yang berupa kantong berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Spermatozoa
yang kontak dengan telur, isi akrosomnya dikeluarkan secara eksositosis yang
disebut dengan reaksi akrosom (Patihardjo, 2001). Ekor sperma terdiri atas tiga
bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk
pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada pusatnya sama seperti
flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri atas mikrotubul pusat dikelilingi
oleh Sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya.
Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan baling-baling dan
memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Keberadan mesin pendorong ini
tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling produktif yaitu gula fruktosa
yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma (Patihardjo,
2001).
Pada hewan-hewan yang tidak memiliki epididimis, testis menjadi tempat
perkembangan serta maturasi sperma. Jadi pada hewan-hewan tersebut sperma
yang dikeluarkan dari testis merupakan sperma yang matang, mempunyai
motilitas dan mempunyai kemampuan untuk membuahi sel telur. Pada hewan–
hewan yang memiliki epididimis, sperma yang berada di dalam tubulus
seminiferus atau yang dikeluarkan dari testis belum motil, motilitasnya baru
diperoleh setelah mengalami aktivasin atau pematangan fisiologia di dalam
epididimis. Spermatozoa dapat disimpan dalam epididimis dan vasdeverens
selama beberapa hari sampai beberapa bulan (Yatim, 2001).
Sistem reproduksi pada katak jantan (Ranna sp.) dimulai dari testis, didalam
testis dibentuklah sel-sel spermatozoa didalam lobus-lobus pada tubulus
seminiferus, pembentukan testis ini dibantu oleh hormon testosteron yang
disekresikan oleh sel-sel leydig diantara lobus-lobus tersebut. Selanjutnya sperma
dikeluarkan dari testis menuju saluran reproduksi katak jantan (Ranna sp.) yakni
ductus wolfii menuju vesikula seminalis dan selanjutnya dikeluarkan menuju
kloaka (Gwatkin, 2000). Sistem reproduksi katak jantan (Ranna sp.)
tersusun atas kelenjar gonad (testis), saluran reproduksi (ductus wolfii atau
mesonephridicus), vesikulaseminalis, serta ditemukan pula badan lemak (korpus
adiposum) dalam sistem reproduksi katak jantan (Ranna sp.). Testis pada katak
jantan (Ranna sp.) berbentuk silindris kecil berjumlah sepasang berwarna
kekuning-kuningan dan terletak pada daerah abdomen (Gwatkin, 2000).
Sistem reproduksi pada burung merpati jantan (Columba livia) tersusun atas
sepasang testis yang berwarna putih, epididimis, vas deferens, kloaka dan berakhir
pada penis. Sel kelamin burung merpati jantan (Columba livia) memiliki kepala
lancip berbentuk bulan sabit dengan ekor yang panjang dan tipis (Rugh,R., 2004).
Sel telur diproduksi di dalam ovarium. Perkembangan sel telur terjadi di
dalam folikel-folikel telur. Folikel telur yang matang akan mengalami ofulasi, sel
telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke dalam oviduk. Seperti sel yang
lain, sel telur dilengkapi dengan membrane sel yang disebut plasmalemma atau
oolema. Untuk melindungi sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel dalam sel.
Disamping oolema, kebanyakan sel telur dikelilingi oleh membran-membran
telur. Membrane telur yang disekresi oleh sel telur sendiri, disebut membrane
telur primer. Membrane vitelin yang mengelilingi oolema termasuk membrane
telur primer. Membrane telur yang disekresi oleh sel-el folikel disebut membrane
telur sekunder, misalnya zona pelusida yang terletak disebelah luar membrane
vitelin. Membran telur yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar oviduk dan uterus
disebut membrane sel tersier, misalnya, membrane cangkang dan cangkang kapur
pada telur reptile dan aves) (Guyton, 2006).
Sistem reproduksi katak betina (Ranna sp.) tersusun atas kelenjar gonad,
yakni ovarium serta saluran reproduksi betina yakni oviduk yang kemudian
bermuara pada kloaka. Pada sistem reproduksi katak betina (Ranna sp.)
ditemukan adanya korpus adiposum di dekat ovarium. Ovum berbentuk bulat
kecil-kecil dengan berbagai warna yang menunjukkan tingkat perkembangan
ovum tersebut. Pada ovum yang masih muda bulat kecil-kecil berwarna putih,
selanjutnya ovum tersebut mangalami perubahan baik ukuran maupun warna dari
ovum seiring berjalannya waktu. Sel telur pada katak betina (Ranna sp.) ini
termasuk dalam tipe sel telur telolesital, dimana ovum memiliki banyak yolk yang
tersebar tak merata dan banyak tertimbun pada kutub vegetal (Gwatkin, 2000).
Sistem reproduksi merpati betina (Columba livia) hanya berkembang pada
satu sisi saja, yakni sisi kiri yang tersusun atas ovarium, oviduct, uterus,
infundibulum, kloaka, dan vagina dengan sel kelamin yang berupa folikel-folikel
telur (Rugh,R., 2004).

C. Alat dan Bahan


Alat :
1. Alat seksi
2. Papan seksi
3. Gelas arloji
4. Gelas kimia 50 ml
5. Pengaduk
6. Pipet
7. Mikroskop
8. Kaca benda
9. Kaca penutup
Bahan :
1. Katak (Ranna sp.) jantan dan betina
2. Merpati (Columba livia) jantan dan betina
3. Akuades
4. NaCl

D. Cara Kerja
1. Pengamatan spermatozoid pada merpati (Columba livia) jantan

Disiapkan burung merpati (Columba livia) jantan

Dimatikannya brurung merpati (Columba livia) dengan cara disembelih

Dibersihkan dari bulu-bulu yang terdapat dibagian yang akan dibedah

Dilakukan pembedahan pada bagian ventralnya

Diamati alat-alat reproduksi pada burung merpati (Columba livia) jantan

Diambil bagian testisnya

Dicucilah testis dengan garam fisiologi (NaCl 0,9%)

Diletakkan testis pada kaca arloji

Ditambahkan garam fisiologi (NaCl 0,9%) secukupnya

Diiris-iris testis sehalus mungkin, ditambahkan garam fisiologi bila perlu,


sampai terbentuk suspense

Diletakkan beberapa tetes suspens testis diatas kaca benda, ditutup dengan
kaca penutup, lalu diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40x10

Dilakukan prosedur yang sama seperti diatas dengan menggunakan suspense


vas deverens

Digambar atau difoto sperma yang terlihat


2. Pengamatan spermatozoid pada katak (Ranna sp.) jantan

Disiapkan katak (Ranna sp.) jantan

Dilakukan single pith

Dilakukan pembedahan pada bagian ventralnya

Diamati alat-alat reproduksi pada katak (Ranna sp.) jantan

Diambil bagian testisnya

Dicucilah testis dengan garam fisiologi (NaCl 0,9%)

Diletakkan testis pada kaca arloji

Ditambahkan garam fisiologi (NaCl 0,9%) secukupnya

Diiris-iris testis sehalus mungkin, ditambahkan garam fisiologi bila perlu,


sampai terbentuk suspense

Diletakkan beberapa tetes suspens testis diatas kaca benda, ditutup dengan
kaca penutup, lalu diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40x10

Dilakukan prosedur yang sama seperti diatas dengan menggunakan suspense


vas deverens

Digambar atau difoto sperma yang terlihat


3. Pengamatan sel telur pada katak (Ranna sp.) betina

Disiapkan katak (Ranna sp.) betina

Dilakukan single pith

Dilakukan pembedahan pada bagian ventralnya

Diamati alat-alat reproduksi pada katak (Ranna sp.) betina

Diambil bagian ovariumnya

Dicucilah ovarium dengan garam fisiologi (NaCl 0,9%)

Diletakkan ovarium pada kaca arloji

Ditambahkan garam fisiologi (NaCl 0,9%) secukupnya

Ovarium dipotong-potong dan ditambahkan garam fisiologi bila perlu, sampai


terbentuk suspense

Diletakkan beberapa tetes suspens folikel diatas kaca benda, ditutup dengan
kaca penutup, lalu diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40x10

Digambar atau difoto folikel (oosit) yang terlihat


E. Hasil Pengamatan
Setelah melakukan pengamatan, kelompok kami mendapatkan gambar atau
foto dalam pengamatan tersebut. Adapun gambar yang telah kami peroleh sebagai
berikut :

1. Gambar pengamatan testis pada burung merpati (Columba livia) dan sistem
reproduksinya

Testis

Vas deferens

Ginjal

Kloaka

Secara ringkas, sperma dari testis disalurkan melalui saluran reproduksi


dengan lintasan sebagai berikut
Aves : testisdukstusefferens epididImis duktus deferens kloaka
2. Gambar pengamatan sperma burung merpati (Columba livia) dengan
perbesaran 4 x 10

Spermatooa Aves
burung merpati
(Columba livia)

3. Gambar pengamatan sistem reproduksi dan sel kelamin pada katak (Ranna sp.)
betina
F. Analisis Data
Pada praktikum kali ini mengenai sel kelamin pada amphibi dan aves
digunakan dua bahan berupa katak hijau (Ranna sp.) dan burung merpati
(Columba livia). Masing-masing bahan tersebut terdapat hewan jantan dan hewan
betina. Praktikum sel kelamin pada katak(Ranna sp.) dan burung merpati
(Columba livia) ini dilakukan secara terpisah (selama 2 kali pertemuan pada
minggu yang berbeda). Pada pertemuan pertama, yang diamati yaitu sel kelamin
pada katak (Ranna sp.). Pada pengamatan katak (Ranna sp.) ini dari kelima katak
(Ranna sp.) hanya satu yang berkelamin jantan dan sisa empat kata yang lain
berkelamin betina. Namun ternyata pada katak (Ranna sp.) jantan bagian testisnya
belum terlihat. Hal ini mungkin dikarenakan usia katak (Ranna sp.)yang masih
muda sehingga testisnya belum berkembang dan tidak bisa dilihat. Setelah
mengetahui bahwa testis katak (Ranna sp.) belum dapat dilihat akhirnya fokus
pada sel kelamin katak (Ranna sp.) betina.
Pada pengamatan ini, sebelum melakukan pemencetan atau pengeluaran
oosit dengan secara mekanik atau dipaksa, yang perlu diperhatikan adalah bagian-
bagian dari alat kelamin (gonad) dari katak (Ranna sp.) betina tersebut. Pada
katak (Ranna sp.) betina, telur disimpan dalam kantung telur. Kantung telur ini
dapat menampung folikel-folikel telur dalam jumlah banyak. Kemudian setelah
itu disamping dari kantung telur tersebut terdapat slauran berwarna putih yang
bermuara pada kloaka yang disebut sebagai oviduck. Setelah mengetahui bagian-
bagian kelamin (gonad) pada katak (Ranna sp.) betina, selanjutnya folikel-folikel
yang berada dalam kantung telur tersebut dikeluarkan lalu folikel tersebut ditekan
sampai folikel tersebut pecah. Kemudian diamati dibawah mikroskop cahaya dan
hasilnya sangat sulit sekali menemukan oosit yang berada di dalam folikel
tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya sel-sel folikel yang menutupi oosit
tersebut sehingga tidak nampak hanya terlihat bundaran yang robek pada bagian
pusat dan transparan atau terlihat warna hitam pekat yang menyebar merata (sel
folikel).
Pada minggu selanjutnya dilanjutkan dengan pengamatan sel kelamin pada
katak (Ranna sp.) jantan, merpati (Columba livia) jantan dan merpati (Columba
livia) betina. Namun, pada praktikum ini juga tidak ditemukan lagi adanya testis
pada katak (Ranna sp.) jantan dan ovarium pada merpati (Columba livia) betina.
Sehingga pada pertemuan ini hanya dilakukan pengamatan sel kelamin merpati
(Columba livia) jantan. Pengamatan sel kelamin merpati (Columba livia) jantan
juga lumayan sulit, hal ini karena pada bebrapa kelompok testis dari burung
merpati (Columba livia) ini masih sangat kecil bahkan ada yang belum terlihat
dikarenakan usinya yang masih sangat muda. Akibatnya pada praktikum ini
kelompok yang tidak melihat adanya testis pada burung merpati (Columba livia)
harus meminta suspensi testis burung (Columba livia) merpati pada kelompok
lain. Selain pada testis, pengamatan sel kelamin pada merpati (Columba livia)
jantan juga dapat diamati menggunakan epididimis dan vas deferens. Hal ini
karena pematangan sperma juga terjadi pada epididimis dan kemudian setelah
sperma mendapatkan motilitas maka akan disalurkan ke vas deferens untuk
kemudian disalurkan ke lubang urogenital pada saat kopulasi. Jadi tidak menutup
kemungkinan bahwa sperma akan berada pada epididimis dan vas deferens. Selain
itu pada praktikum ini juga digunakan larutan NaCl 0,9 % hal ini bertujuan agar
sel sperma msih tetap hidup dan testis tetap segar.
Setelah memperoleh suspensi dari testis dengan cara menghancurkan testis
pada larutan NaCl 0,9%, selanjutnya diamati di bawah mikroskop. Pada
pengamatan pertama belum nampak adanya sel sperma dari burung merpati
tersebut. Kemudian diguanakanlah preparat yang baru, dan hasilnya ada sel
sperma buurng merpati dengan jumlah banyak dalam preparat tersebut meskipun
rata-rata sel sperma tersebut dalam keadaan mati. Kemudian saat tuas mikroskop
tersebut digeser didapati adanya sel sperma dari burung merpati tersebut yang
masih hidup. Sel sperma tersebut bergerak dengan cepat seperti gerak ikan. Sel
sperma tersebut berwarna hitam pekat pada bagian kepala dan berwarna hitam
transparan pada bagian ekor.

G. Pembahasan
Secara struktur spermatozoa dicirikan sebagai sel yang “terperas”, sangat
sedikit sekali kandungan sitoplasmanya. Spermatozoa memiliki organel-organel
yang sangat sedikit dibandingkan sel lainnya. Spermatozoa tidak memiliki
ribosom, retikulum endoplasmik dan golgi. Sebaliknya spermatozoa memiliki
banyak sekali mitokondria yang letaknya sangat strategis untuk pengefisiensian
energi yang diperlukan. Secara struktur ada dua bagian yaitu kepala dan ekor.
Spermatatozoa diproduksi di dalam tubulus semininerus testis. (Patihardjo, 2001).
Sementara itu, sel telur diproduksi di dalam ovarium. Perkembangan sel
telur terjadi di dalam folikel-folikel telur. Folikel telur yang matang akan
mengalami ofulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk ke dalam
oviduk. Seperti sel yang lain, sel telur dilengkapi dengan membrane sel yang
disebut plasmalemma atau oolema. Untuk melindungi sitoplasma, inti, yolk, dan
organel-organel dalam sel. Disamping oolema, kebanyakan sel telur dikelilingi
oleh membran-membran telur. Membrane telur yang disekresi oleh sel telur
sendiri, disebut membrane telur primer. Membrane vitelin yang mengelilingi
oolema termasuk membrane telur primer. Membrane telur yang disekresi oleh sel-
sel folikel disebut membrane telur sekunder, misalnya zona pelusida yang terletak
disebelah luar membrane vitelin. Membran telur yang disekresi oleh kelenjar-
kelenjar oviduk dan uterus disebut membrane sel tersier, misalnya, membrane
cangkang dan cangkang kapur pada telur reptile dan aves (Guyton, 2006).
Pada praktikum struktur perkembangan hewan ini kami melakukan
pengamatan tehadap organ reproduksi katak (Ranna sp.) dan burung merpati
(Columba livia) yang kami lakukan selama dua kali pertemuan pada minggu yang
berbeda. Pada pertemuan pertama kami mengamati sel kelamin katak (Ranna sp.)
baik katak (Ranna sp.) jantan maupun katak (Ranna sp.) betina. Namun dari
kelima katak (Ranna sp.) hanya satu yang berkelamin jantan dan empat sisanya
berkelamin betina. Praktikum yang pertama kami melakukan pengamatan pada
organ reproduksi katak (Ranna sp.) jantan. Pada katak (Ranna sp.) jantan yang
kami amati ternyata testis dari katak (Ranna sp.) tersebut belum dapat terlihat
secara morfologis. Hal ini disebabkan karena usia katak (Ranna sp.) jantan yang
kami gunakan yang masih sangat muda sehingga testisnya masih sangat kecil
karena belum berkembang dengan baik.
Menurut Gwatkin (2000), organ reproduksi pada katak jantan (Ranna sp.)
tersebut dimulai dari testis, yang mana didalam testis tersebut dibentuklah sel-sel
spermatozoa didalam lobus-lobus pada tubulus seminiferus, pembentukan testis
ini dibantu oleh hormone testosteron yang disekresikan oleh sel-sel
leydig diantara lobus-lobus tersebut. Selanjutnya sperma dikeluarkan dari testis
menuju saluran reproduksi katak jantan (Ranna sp.) yakni ductus wolfii menuju
vesikula seminalis dan selanjutnya dikeluarkan menuju kloaka. Organ reproduksi
katak jantan (Ranna sp.) tersusun atas kelenjar gonad (testis), saluran reproduksi
(ductus wolfii atau mesonephridicus), vesikulaseminalis, serta ditemukan pula
badan lemak (korpus adiposum) dalam organ reproduksi katak jantan (Ranna sp.).
Testis pada katak jantan (Ranna sp.) berbentuk silindris kecil berjumlah sepasang
berwarna kekuning-kuningan dan terletak pada daerah abdomen. Namun karena
katak (Ranna sp.) yang kami amati masih terlalu muda sehingga perkembangan
testis dari katak (Ranna sp.) tersebut tidak sesuai dengan teori yang ada sebab
testis katak (Ranna sp.) yang kami gunakan dalam praktikum ini belum dapat
terlihat dan teramati dengan baik.
Pengamatan berikutnya kami menggunakan katak (Ranna sp.) betina
sebagai obyek pengamatan organ reproduksi betina. Pengamatan organ-organ
reproduksi pada katak (Ranna sp.) betina ini, kami menggunakan katak (Ranna
sp.) betina dari kelompok lain sebab katak (Ranna sp.) yang kami peroleh hanya
katak (Ranna sp.) jantan saja. Sebelum melakukan pemencetan atau pengeluaran
oosit secara mekanik atau dipaksa, yang perlu kami amati terlebih dahulu adalah
bagian-bagian dari sel kelamin (gonad) dari katak (Ranna sp.) betina tersebut.
Telur katak (Ranna sp.) betina disimpan dalam kantung telur. Kantung telur ini
dapat menampung folikel-folikel telur dalam jumlah banyak. Di samping kantung
telur tersebut terdapat saluran berwarna putih yang bermuara pada kloaka yang
disebut sebagai oviduk. Hasil pengamatan bagian-bagian organ reproduksi katak
(Ranna sp.) betina ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa organ
reproduksi katak betina (Ranna sp.) tersusun atas kelenjar gonad, yakni ovarium
serta saluran reproduksi betina yakni oviduk yang kemudian bermuara pada
kloaka (Gwatkin, 2000).
Setelah itu, kami mengamati folikel-folikel yang berada dalam kantung telur
tersebut yang mana suspensi folikel tersebut kami ambil pula dari folikel katak
(Ranna sp.) betina kelompok lain. Pengamatan oosit pada folikel katak (Ranna
sp.) betina kami lakukan dengan cara menekan folikel tersebut hingga pecah. Pada
pengamatan oosit ini, kami menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 kali.
Oosit tersebut sulit teramati sebab banyaknya sel-sel folikel yang menutupi oosit
sehingga hanya terlihat sebuah bundaran yang robek pada bagian pusat dan
transparan dengan warna hitam pekat yang menyebar merata (sel folikel).
Penekanan folikel yang kurang sempurna, dapat menjadi faktor lain yang
mempengaruhi oosit yang terdapat dalam foikel tidak dapat keluar dari
folikelnya. Selain itu , pengaruh sel telur katak (Ranna sp.) betina ini yang
termasuk dalam tipe sel telur telolesital, dimana ovum memiliki banyak yolk yang
tersebar tak merata dan banyak tertimbun pada kutub vegetal (Gwatkin, 2000), hal
ini juga dapat menjadi faktor susahnya pengamatan kami utnutk mengamati
perkembangan oosit dalam folikel katak (Ranna sp.) betina tersebut.
Pada minggu selanjutnya, kami melakukan pengamatan sel kelamin pada
katak (Ranna sp.) jantan, burung merpati (Columba livia) jantan, dan burung
merpati (Columba livia) betina. Menurut Gwatkin (2000), testis pada katak
(Ranna sp.) jantan berbentuk silindris kecil berjumlah sepasang berwarna
kekuning-kuningan dan terletak pada daerah abdomen. Namun pada praktikum
pengamatan organ reproduksi katak (Ranna sp.) jantan, secara morfologis kami
tidak menemukan lagi adanya testis pada katak (Ranna sp.) seperti teori yang
telah dipaparkan sebelumnya. Pengaruh ada tidak adanya testis pada pengamatan
katak (Ranna sp.) jantan ini disebabkan karena usia katak (Ranna sp.) jantan yang
kami gunakan yang masih sangat muda sehingga testisnya masih sangat kecil
karena belum berkembang dengan baik.
Kemudian kami mengamati organ reproduksi dan sel kelamin dari burung
merpati (Columba livia) betina dan burung merpati (Columba livia) jantan. Pada
pengamatan organ reproduksi burung merpati (Columba livia), kelompok kami
mendapatkan burung merpati (Columba livia) jantan. Namun setelah kami
melakukan penyembelihan dan pembedahan kami tidak menemukan lagi testis
pada burung merpati (Columba livia) jantan begitu pula pada burung merpati
(Columba livia) betina tidak ditemukan pula ovarium pada organ reproduksinya.
Hal ini disebabkan karena usianya yang masih sangat muda sehingga testis dan
ovarium dari burung merpati (Columba livia) ini belum dapat teramati. Akibatnya
pada praktikum ini kelompok tidak dapat mngetahui bagian ovarium dari burung
merpati (Columba livia) betina, sebab hanya satu kelompok yang mendapatkan
burung merpati (Columba livia) betina. Untuk pengamatan organ reproduksi dan
sel kelamin pada burung merpati (Columba livia) jantan kami akhirnya meminta
suspensi testis burung merpati (Columba livia) dari kelompok lain.
Pada organ reproduksi burung merpati (Columba livia) jantan yang telah
kami amati, kami menemukan organ-organ reproduksi seperti epididimis, testis,
vas deferens, kloaka, dan penis. Bagian-bagian organ reproduksi yang kami
temukan sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sistem reproduksi pada
burung merpati (Columba livia) jantan tersusun atas sepasang testis yang
berwarna putih, epididimis, vas deferens, kloaka dan berakhir pada penis (Rugh,
R., 2004). Selanjutnya kami mengamati sel kelamin (sperma) pada merpati
(Columba livia) jantan. Selain menggunakan testis, pengamatan sel kelamin pada
merpati (Columba livia) jantan dapat menggunakan epididimis dan vas deferens.
Hal ini karena pada hewan-hewan yang memiliki epididimis seperti merpati
(Columba livia) jantan ini, sperma yang berada di dalam tubulus seminiferus atau
yang dikeluarkan dari testis belum motil, motilitasnya baru diperoleh setelah
mengalami aktivasin atau pematangan fisiologia di dalam epididimis.
Spermatozoa dapat disimpan dalam epididimis dan vas deverens selama beberapa
hari sampai beberapa bulan (Yatim, 2001). Jadi tidak menutup kemungkinan
bahwa sperma akan berada pada epididimis dan vas deferens.
Untuk menjaga agar sel sperma masih tetap hidup dan testis tetap segar
maka kami menggunakan larutan NaCl 0,9% untuk mengahancurkan testis
setelah memperoleh suspensi testis burung merpati (Columba livia) jantan yang
kemudian kami amati di bawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran 40
kali. Pada pengamatan pertama belum nampak adanya sel sperma dari burung
merpati (Columba livia) tersebut. Kemudian kami membuat preparat yang baru,
dan hasilnya ada sel sperma burung merpati (Columba livia) dengan jumlah
banyak dalam preparat tersebut meskipun rata-rata sel sperma tersebut dalam
keadaan mati. Kemudian saat tuas mikroskop tersebut digeser terlihat adanya sel
sperma dari burung merpati (Columba livia) yang masih hidup. Sel sperma
tersebut bergerak dengan cepat seperti gerak ikan. Sel sperma tersebut berwarna
hitam pekat pada bagian kepala dengan bentuk seperti bulan sabit dan berwarna
hitam transparan pada bagian ekor. Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan
bahwa sel kelamin merpati (Columba livia) jantan memiliki kepala lancip
berbentuk bulan sabit dengan ekor yang panjang dan tipis (Rugh,R., 2004).

H. Diskusi
1. Apakah sel telur semua hewan vertebrata memiliki sel folikel ?
Jawab : Semua hewan vertebrata (betina) ovarium, di dalam ovarium
terdapat sel-sel folikel dan tiap folikel dari hewan vertebrata
tersebut terdapat satu sel telur. Jadi, semua sel telur pada hewan
vertebrata memiliki sel folikel karena sel folikel yang ada
berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi sel telur serta sebagai
pelindung pada perkembangan sel telur.
2. Dapatkah sperma mencit yang diambil dari testis digunakan untuk
membuahi sel telur secara in vitro ?
Jawab : Sel sperma mencit yang telah diambil dari testis tidak dapat
digunakan untuk membuahi sel telur, karena sel sperma dari testis
masih dalam keadaan pasif, sel sperma akan aktif apabila telah
masuk ke dalam duktus epidimis. Jadi sel sperma pada mencit
hanya bisa membuahi sel telur apabila sel sperma itu diambil dari
duktur epididimis.
3. Mengapa sebelum dioviposisikan sel telur aves harus dilengkapi dengan
selaput cangkang dan cangkang kapur ?
Jawab : sel telur pada aves sebelum dioviposisikan harus dilengkapi
dengan selaput cangkang dan cangkang kapur karena dengan
adanya selaput cangkang dan cangkang kapur pada sel telur aves
berguna sebagai pelindung embrio serta pertukaran zat.

I. Tugas atau Evalusi


1. Tempat penyimpanan sperma sebelum dikeluarkan pada tubuh :
a. Katak : Didalam testiss
b. Merpati : Didalam testis
c. Mencit : Didalam vas deferens dan epididimis
2. Gambar sperma pada manusia dan bagiannya

3. Perbedaan sel telur aves pada saat di ovulasikan dan pada saat
diovoposisikan yaitu pada saat diovulasikan sel telur yang dihasilkan
belum memiliki membran pelindung berupa selaput cangkang yang terbuat
dari bahan zat kapur, sedangkan pada saat dioviposisikan sel telur sudah
terbentuk cangkang dan membran.

J. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dijelaskan dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Struktur morfologi pada katak (Rana sp.), Burung merpati (Columba livia)
sama seperti sel sperma pada umumnya.
- Sel sperma pada burung merpati (Columba livia) berbentuk runcing panjang
dan berflagel, memiliki bagian kepala, leher dan ekor. Bagian kepala sel
sperma burung merpati (Columba livia) berbentuk runcing seperti kail
dengan ukuran yang panjang dan sangat kecil, berwarna hitam dengan
warna hitam lebih gelap dibagian kepala dibadingkan pada bagian ekor. Sel
sperma pada katak (Rana sp.) juga sama seperti sel sperma pada umumnya
yaitu memiliki bagian kepala, leher dan ekor. Bagian kepala pada sel sperma
katak berbentuk lonjong dengan ujung tumpul. Dengan ekor yang lebih
panjang dibandingkan ekor pada sel sperma hewan vertebrata lainnya.
Berwarna hitam.
- Sel telur pada katak berbentuk bundar, terdapat suatu celah di bawah bidang
equator pada daerah kelabu Notocord yang terbentuk dari mesoderm dorsal
di atas arkenteron. Sedangkan sel telur pada aves berbetuk bundar dengan
kandungan yolk yang sangat banyak dan tersebar merata.
2. Sistem reproduksi pada katak (Ranna sp.) jantan dimulai dari testis, didalam
testis dibentuklah sel-sel spermatozoa didalam lobus-lobus pada tubulus
seminiferus, pembentukan testis ini dibantu oleh hormon testosteron yang
disekresikan oleh sel-sel leydig diantara lobus-lobus tersebut. perma
dikeluarkan dari testis menuju saluran reproduksi katak jantan (Ranna sp.)
yakni ductus wolfii menuju vesikula seminalis dan selanjutnya dikeluarkan
menuju kloaka
Lampiran

1. Proses single pith katak (Ranna sp.)

2. Pembedahan

3. Organ viseral katak (Ranna sp.) sebelum dikeluarkan


4. Proses pengeluaran sel telur katak (Ranna sp.)

5. Hasil pengamatan sel telur katak (Ranna sp.) dengan mikroskop perbesaran
40X10

6. Testis pada burung merpati (Columba livia)

Testis
7. Hasil pengamatan bentuk sperma dari burung merpati (Culumba livia) dengan
perbesaran 40X10

Sel sperma yang


telah mati
DAFTAR PUSTAKA

Guyton & Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia : Elsevier


Saunders.
Gwatkin. R.B.L. 2000. Gene In Mammalian Reproduction. Ohio : Wiley-Lissa
Publication.
Kastawi, Yusuf.dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Malang : Jica.
Patihardjo. 2001. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
Rugh,R. 2004. A Gide to Vertebrate Development. Ed.6. Minneapolis : Burgess
Publishing.
Yatim, Wildan. 2001. Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Penerbit Tarsito.